Gak Yakin Jualan Online Shop Pengusaha Friska

Profil Pengusaha Friska Mulya Kharisma 


jualanonline.png

Pengusaha Friska gak yakin jualan online shop. Berawal dia itu hobi belanja online. Kemudian Friska Mulya Kharisman mulai berjualan. Gadis asal Padang, lantas menjajal berjualan online sendiri. Dan menariknya dia berbisnis bermodal Rp.70 ribu.
 
Ia sempat diremehkan. Bisnis online -nya sempat dibilang bisnis iseng. Namun dia yakin mampu membuktikan bahwa ada kesuksesan itu. Mulailah Friska mencari niche barang apa dia akan jual. Tak mudah tetapi dia sudah bertekat bukan sekedar iseng.
 

Online Shop Pengusaha

 
Lewat sosial media, terutama Instagram, bisnis online dianggap hobi bagi dia. Bedanya meskipun hobi ia cermat menganalisa kebutuhan pasar. Selain itu dia menjual apa orang jarang pikirkan. Bisnis Friska adalah jualan aksesoris khusus rambut. 
 
Nah disanalah dia mendapatkan prospek Rp.1 juta per- hari. "...asyik juga nih kalau aku buka online shop juga, kan enggak butuh biaya banyak," ia berujar.

Anak kelima pasangan H. Jhony M Noer dan Ismulyati, kemudian mendalami bisnis online tersebut. Dan memang hasilnya menjanjikan. Bisnis bernama Jedai semakin hari semakin berkembang. 
 
Semenjak kali pertama buka Friska menaruh dedikasinya disini. Hobi bukan lagi sekedar hobi tetapi bisnis nyata!

Manfaat sosial media dia mampu menjual tidak cuma di Padang. Bisnis aksesoris Friska merebak sampai ke penjuru Indonesia. Bahkan nih dia sudah punya reseller sendiri. Cabang usahanya sampai ke Pekanbaru dan Jambi. Kemudian konsumen mulai dari ibu- ibu, pelajar SMP, bahkan mahasiswa.

Dia bercerita bukan mudah. Ada halangan juga dalam berbisnis online. Ia sempat diremehkan karena jualan begitu. Untung kan sedikit mungkin pikir orang. Banyak orang tidak percaya kalau omzetnya bisa jadi saban hari sejuta. 
 
Masih banyak orang tidak percaya kalau omzet dihasilan Friska segitu. Tapi Alhamdulillah... dia bersyukur karena sekarang sudah punya deposito. Dari usahanya jualan jepitan rambut kemudian berkembang ke clothing dan usaha makanan. 
 
Biarin orang mau bilang apa. Friska sudah capek mendengar sindiran orang. Capek mendengarkan pikiran negatif tentang kita. Terus berkarya sebagai pengusaha muda Indonesia. Perempuan yang juga punya karir dokte koas ini. 
 
Mengaku bahwa bisnis dijalankan sekarang bervariasi. Dia juga mau mengajak sang adik ikutan membuka bisnis kafe misal. Kafe dijalankan dia dan adik bernama Opung Waffle. Mereka berjualan aneka varian waffle dan menu lain. Kalau clothing bernama Hello Monday. 
 
Kafe sendiri sudah berdiri di GOR H Agus Salim, Jalan Rokan No. 6. Ia merenovasi tempat agar nyaman. Gadis cantik 25 tahun, kelahiran 10 Oktober 1992, menyasar kalangan anak muda hobi nongkrong. 
 
Adapula konsep dia inginkan sambil nongkrong, makan, dan pilih baju di clothing miliknya. Kafe Friska akan baru buka pukul 3 sore sampai malam.

Kenapa tidak pagi padahal sudah banyak pelanggan. Banyak costumer mau mereka buka pagi hari. Tetapi kedua pengusaha muda tersebut sepakat. Mereka meyakini kuliah masih menjadi prioritas dulu. Terutama buat si adik yang tengah mengejar gelar. 
 
Memang jadi dokter koas masih butuh banyak waktu tersita ya. Prinsip membagi waktu diterapkan Friska. Kedisiplinan terlihat jelas karena semua bisnis dijalankan bisa sukses. Pokoknya dibuat enjoy soal melakukan sesuatu. 
 
Memiliki visi ke depan memang penting, tetapi bukan terus kerja keras tanpa pikir panjang. Jangan melupakan kewajiban untuk diselesaikan jelas Friska. Ia memberi pesan penutup, "mental pedagang harus tahan banting. 
 
Yang penting usaha, asal mau usaha dan optimis pasti akan menghasilkan." Ia mengajak anak muda lain agar bisa bersama membangun Padang, dengan kegiatan positif tentu.

Usaha Sepatu Kulit Motif Batik Trevon Footware

Profil Pengusaha Jevon Wirianto.dkk


usahasepatu.png

Usaha sepatu kulit motif batik Travon Footware berbeda. Sebab berbisnis bersama teman sangatlah mengasikan. Selain banyak terinspirasi kamu juga lebih mudah buat kumpul modalnya. Akan tetapi tak mudahnya yaitu menyatukan diri di dalam sebuah visi- misi korporasi. 
 
Mereka berempat lebih kuat berkat rasa persahabatan. Berbisnis bersama yang mereka sukai yakni bisnis fashion. Jevon Wirianto, pemuda 22 tahun, berkuliah di Universitas Prastya Mulya Jakarta, berbisnis dan berkuliah bersama tiga temannya, Rizky Akbar Lubis, Yudha Leonardi, dan juga Agnes.
 

Mengembangkan Usaha


Mereka menggarap pasar batik. Eit, bukan batik biasa loh, karena mereka menggarap sepatu kulit bertema batik. Mereka tengah fokus menjadi ikon fashion anak- anak muda di Indonesia. Mereka menciptakan beraneka sepatu trendy, kasual, dan juga nyaman. 
 
Produk tersebut diberi mereka nama Trove Footware. Bicara tentang omzet menurut Detik.com, omzetnya bisa mencapai Rp.35- 40 juta.

"Batik itu kesannya tua nah kita aplikasikan di sepatu. Sehingga bisa lebih terlihat kasual," jelas Jevon, ketika ditemui di acara entrepreneurship.

Dimulai dari kampus, mengambil jurusan bisnis, tentu hidup berempat adalah tentang bisnis. Setiap harinya di perkuliahan para dosen menggembleng mereka. Seolah tiada hari tanpa sesi motivasi agar mereka semua para mahasiswa bisa jadi pengusaha sendiri. 
 
Mereka diajarkan harus berani mengambil resiko jelasnya lagi, dalam sebuah wawancara bersama Mediabisnisonline.com. Mereka diharuskan berpikir di luar kotak. Dituntut untuk menciptakan produk maupun jasa berbeda. 
 
Setelah berkuliah cukup lama berulah mereka dituntut lebih. Singkat cerita di Semester 3, mereka dituntut punya satu bisnis mapan sendiri, sebuah mata kuliah mengharuskan mereka berbisnis beneran. Dari mereka berempat satu gagas bisnis muncul. 
 
Bagaimana jika mereka membuat sepatu kulit bertema batik. Diatasnya nanti diberi akses batik; jadilah Trove Footware!


Dimulai sejak 2011, bisnis berkembang cukup pesat karena idenya masih segar. Berempat mereka diawal sudah sukses menjual banyak. Meski harga yang dibandrol tidaklah murah. Jevon menjelaskan bahwa target pasarnya mereka berumur 15- 22 tahun. 
 
Harga sepatunya dipatok berkisar Rp.360.000 sampai termahal Rp.550.000. Jevon menjelaskan modal awalnya cuma Rp.20 juta. Siapa sangka jika sampai artikelnya terbit brand mereka sudah punya pelanggan tetap.

Mereka mampu mempekerjakan 8 orang bagian produksi. Meski masih baru, ia mengaku, untuk pasarnya yaitu Jakarta dan Bandung, mereka memproduksi 4-5 lusin. Yang menjadi senjata utama bisnisnya adalah yah apalagi kalau bukan online. 
 
Ia pun menjelaskan kenapa kita mesti berbisnis sepatu. Pertumbuhannya itu 8,3%/tahun. Ada 250 juta penduduk Indonesia meminati sepatu baik untuk gaya hidup ataupun kebutuhan. Itu pasaran potensial, jikalau dihitung pasar onlinenya, maka senilai Rp.21 triliun/tahun.
 

Pengusaha Bersama


"Kekuatan apa yang kita miliki? Kita tembus nilai hak paten, situs resmi dengan costumer service," jelasnya.

Sejak mulai menjual sepatu ini, mereka fokus pada sosial media populer, mulai dari Kaskus, Facebook, Twitter, dan situs sendiri. Adapula konsep direct marketing ataupun penjualan secara langsung. Mereka ikut membuka stand di event- event diselenggarakan di Jakarta. 
 
Meski sukses mereka mengaku melakukan satu pengorbanan besar. Mereka harus membagi antara bisnis, kuliah, dan fakta bahwa modal mereka itu tipis.

"Dalam Aktivitas kami sehari-hari juga terkadang mengalami kesulitan dalam membagi waktu, sehingga kami  terkadang harus pintar dalam mengusahakan waktu kerja yang terbaik," jelasnya.

Mereka harus mengakali waktu mereka. Juga, mereka harus mengakali uang mereka. Sebisa mungkin modal diputarnya kembali melalui penjualan.

Trove sendiri bukan seperti sepatu kulit biasanya. Karena ada tiga tema diambil dalam sepatu buatanya. Ini antara lain kulit, denim, dan ukiran batik. Kejenuhan akan sepatu kulit mendorong mereka menggunakan satu bahan lain yakni denim. 
 
Namun, juga satu kenyataan bahwa, bahan denim mulai sering digunakan jadi satu pembeda dalam bisnis anak muda. Jadilah mereka mengambil tema lain. Yakni menggabungkan keduanya di satu tema batik.

Sukses Trove terbukti ketika memenangi ajang Indonesia Creative Award 2013. Mereka bahkan sukses bisa tembuh London, Inggris. Menjadi salah satu produk yang mewakili Indonesia diajang bernama Palapa Network di London, tahun 2013 silam. 
 
Pengalam paling berkesan ditambahnya yakni ketika diliput oleh pihak Trans 7 untuk acara bernama Brownies Trans 7. Tantang terbesar bisnis mereka adalah masih adanya tanggapan dari masyarakat bahwa batik itu kuno, kampungan, tidak modern.

Biografi Aditya Caesarico Aero Street Berbisnis Sejak Kecil

Biografi Pengusaha Aditya Caesarico

 

adityacaesarico.png
 

Pemilik Aero Street memiliki jiwa wirausaha berbisnis sejak kecil. Biografi Aditya Caesarico hanyalah putra pegawai pabrik. Rico begitu orang akrab memanggilnya, mengaku merupakan anak pegawai pabrik percetakan buku. Dimulailah, ia berjualan buku- buku yang diproduksi pabrik ayahnya bekerja.


Sederhana dia berjualan ke pasar- pasar sepulang sekolah. Ia sempat berjualan stiker, kaos, sampai jualan aksesoris motor. Semangat wirausaha diwarisinya dari sang ibu, yang dulu merupakan pengusaha bidang distribusi sepatu AP Boot dan sandal Melly.


Pemilik Aerostreet

 

Terus berbisnis sampai kesempatan besar dihadapan Rico. Tepatnya ketika dia diberi kesempatan garap buku tahunan sekolah pada 2002- 2004. Selama setahun dia berhasil mengerjakan buat 68 sekolah di area Jakarta, Surabaya, dan kota- kota lain.


Buat mengerjakannya Rico menyewa tiga kamar indekos. Itu kemudian disulap, satu dijadikan kamar, dan kedua lainnya disulap menjadi kantor. Dari kamar- kamar tersebut disiapkan komputer dan rekrut teman- teman yang mendesain buku, edit foto, dan lainnya.


"Dari situ ternyata bisnis itu asyik ya, saya dapat ratusan juta, Satu proyek Rp.10- 20 juta persekolah. Duit Rp.500 juta waktu itu luar biasa," kenang Rico Pengusaha alumnus SMA De Brito Jogja, yang terus mengerjakan bisnisnya.

 

Dia lantas menjual motor kesayangan buat beli pickup. Selain pickup buat berbisnis, ia bisa pakai buat sekolah sampai kuliah ke Jogja, di Jurusan Manajemen Universitas Atma Jaya, walau cuma tahan 2 Semester. Rico menyadari passion -nya berwirausaha. 

 

"Liver saya kena karena jadwal terlalu padat," ia menjelaskan. Sibuk menjadi pengusaha sekaligus dia berkuliah menyita waktu. Rico lebih memilih wirausaha. Keliatan Rico begitu menikmati ini menjadi "jalan mulus" tetapi salah; Rico pernah mengalami masalah.


Berbisnis Sejak Kecil


Sudah memiliki banyak usaha semenjak kecil hingga remaja. Usianya 19 tahun, masih SMA pada saat bersamaan bisnis ibunya mengalami masalah. Bisnis ibu krisis sampai bangkrut. Usaha distribusi sepatu dan sandalnya bangkrut sebab sales nakal.


Wilayah distribusinya luas kemudian menyisakan wilayah Solo. Ibu membutuhkan bantuan, maka Rico memutuskan masuk ke bisnis ibu pada Februari 2006. Agar fokus, ia rela membubarkan semua usaha rintisannya ketika masih sekolah. Rico kemudian "ketiban" semua usaha milik ayah dan ibunya.


Rico diserahi semua bisnis distribusi. Dia kemudian kembangkan, enam tahun kemudian, perusahaan sudah besar memiliki lebih banyak produk. Dia menjual banyak merek, dari New Era, Ando, ATT, Swallow, dan lainnya. Rico berhasil menguasai pasaran seluruh Pulau Jawa.


Volume distribusinya besar dari 1 truk menjadi 20 truk. Berkat inilah Rico bertemu sesama pengusaha buat mengembangkan ide. Dia berniat membikin sepatu buatan sendiri. Melalui rasan- rasan curhatlah Rico sampai menjadi kenyataan. 

 

Sembari berkeliling 27 provinsi, Rico menanyakan pendapat seluruh ditributornya mengenai sepatu buatannya. Dia sudah membuat sendiri namun belum sempurna. Masih cut, make, trim ke pabrik milik orang bukan buatan sendiri.


Ia mendapatkan masukan, meyakini bahwa sepatu buatan sendiri sudah bagus. Tetapi dia mendapatkan fakta bahwa detailnya selalu tidak pas. "Ndak pernah pas. Detil- detilnya enggak pas. Proyek tadi berhenti sementara," sambung pengusaha muda ini.


Biografi Aditya Caesarico menjawab kekurangan sepatu bikinan dia. Rico lantas terbang ke China buat belajar membuat sepatu. Pertama ia menyambangi pameran industri di Ghuangzhou. Rico tertarika akan membuat sepatu tanpa lem.


Teknologi tersebut tergolong baru di Indonesia. Ia membawa mesin tersebut ke rumah. Rico belajar cara membuat sepatu di rumah sewa. Mulai dari belajar pattern, inject, dan lain- lain. Industri kelas menangah di China saja sudah canggih. Dia menyewa dari Rp.10- 20 juta perbulan.


Ini lebih efektif dibanding dia kembali ke Indonesia. Pasalnya industri China lebih efektif, mesinya lebih bagus. Tidak lama kemudian lahirlah Aero Street, brand bikinannya lahir pada 2013, dibutuhkan separuh lebih gudangnya disulap menjadi pabrik.

 

Ia memproduksi 800- 1000 pasang perhari memakai tenaga kerja 30- 40 orang. Darimana ide membuat sepatu ternyata bersumber pengalaman menjual sepatu sekolah. Rico menyadari sepatu masih menjadi kebutuhan skunder masyarakat.


Segmentasi sepatu Rico adalah sepatu pria memiliki banyak variasi. Rico tidak cuma membuat sepatu kasual, tetapi juga sepatu olahraga dan formal. Slogan Aerostreet dibuatnya menarik "Not Everyone Can Buy a Good Shoes". Harapannya semua orang dapat membeli sepatu bagus berharga terjangkau.


Sepanjang perjalanan dia menjual sepatu melalui jaringan offline. Rico mulai merambah jaringan online. Dari semua platform, pilihannya jatuh kepada platform Shopee, ditengah maraknya platforum eCommerce di Indonesia.


Shopee banyak membantu pengembangan bisnis Aerostreet. Rico jujur tidak paham. Bertahap dirinya belajar mengenai efisiensi dan efektifitas bisnis ini. Puluhan ribu sepatu dijual melalui satu platform marketplace ini.


Pada awalnya dia ditawari progam ekspor Shopee. Lewat ini bisnisnya merambah pasar global. Sepatu bikinannya dapat dibeli lewat situs tersebut beroprasi. Utamanya Singapura dan Malaysia sepatunya dapat dibeli lewat situ.

Pengusaha Mambantu Warga Dolly Setelah Ditutup

Profil Pengusaha Dalu Nuzlul Kiram


pengusahabaik.png

Pengusaha baik membantu warga Dolly setelah ditutup. Lokalisasi yang dulnya dikenal  terbesar Asia Tenggara, kini nasibnya berubah menjadi perkampungan biasa. Warga Dolly mulai berbenah menjadi masyarakat biasa sautuhnya.
 
Wirausaha digabungkan kegiatan sosial bukan perkara mudah.. Satu pemuda ini sukses menolong warga Dolly, ialah Dalu Nuzlul Kiram, tak tanggung dia tidak cuma bersosial. Dia mampu merubah lokalisasi Dolly jadi tampak tak sesuram penghuninya. 
 
Tak cuma menyasar mereka yang menetap disana. Ia juga telah punya segudang rencana lain.
 

Pengusaha Sosial


Nilai bisnis berhasil jika bermanfaat bagi orang disekitar. Itulah moto seorang Dalu yang tak mengukur nilai omzet dihasilkannya. Ini bukan sekedar mencari untung semata. Pemuda 26 tahun aktif mendorong mereka warga biasa yang tinggal di kawasan Dolly. 
 
Ia Mencoba membangkitkan ekonomi masyarakat pasca ditutupnya lokalisasi Dolly. Idenya adalah memberdayakan mereka. Mencoba menciptakan sumber pendapatan baru bagi mereka.

Berkat kegigihannya tersebut, ia pernah diganjar penghargaan Kreatif Wirausahawan Mandiri 2015. Ia fokus memberdayakan masyarakat Dolly mengembangkan aneka bisnis. 
 
Awalnya cuma, berkonsep usaha berbasis wisata kuliner dan edukasi, kini, ia juga merambah mengajak mereka menjadi pengusaha batik. 

"Jadi masyarakat tidak bertumpu pada bisnis itu (seks komersil) tetapi pada bisnis ini (UMKM)" teranya kepada Detik.com

Dolly sebagai tempat prostitusi tengah diubah citranya. Bersama wadah Tim Melukis Harapan. Dalu sebagai pemimpin memimpin 80 orang anggota. Ia kemudian dijuluki Dalu Dolly. 
 
Suksesnya tidak begitu mudahnya, itu semua berkat kerja kerasnya. Dia bersama kawanya tak menjanjikan keuntungan. Namun, mereka janji bahawa akan ada perubahan pada jejak masa lalu mereka.

Melatih PSK

 
Awalnya, mereka bersama fokus pada mambantu para PSK. Mengajari mereka agar bisa lepas dari dunia kelamnya. Kemudian fokus pada membeperbaiki kehidupan masyarakat. Ada total sekitar 4 rukun tetangga termasuk orang dewasa, ibu- ibu, dan anak- anaknya. 
 
Untuk eks- PSK baru cuma 5 orang saja baru mau diajak, tapi tetap, dirinya optimis akan jumlahnya. Cuma bermodal kepercayaan dirinya mampu menjalankan bisnis sosial tersebut. 
 
Soal modal perlatan dan lain- lainnya, mereka memanfaatkan donasi, ditambah ada dukungan fasiliasi dari Pemerintahan Daerah Surabaya. Bu Risma selaku Walikota sangat mendukung kerjanya. Apalagi semenjak ditertibkannya lokalisasi Dolly. 
 
"Kami juga mengajak mucikari," jelas Dalu. Fokus usahanya ini menghasilkan aneka usaha seperti batik, pembuatan kue, telur asin, nugget, sabun, dan makanan- makanan umum lainnya. Meski telah terlihat arahnya ia mengaku tak semudah itu.

Tak mudah, karena nilai uang berputar dalam bisnis tersebut mencapai miliaran rupiah. Sebelum ditutup nilai uangnya mencapai Rp.1,2 miliar- Rp.2 miliar. Bisnisnya meliputi pegawai PSK sejumlah 1.500, narkoba, karaoke, tukang parkir, laundry, warkop, dan sebagainya. 
 
Tentu sulit untuk mengajak mereka yang terlibat apalagi dengan keuntungan tak menentu. Penawaran Dalu tak bisa bermodal kata keuntungan menggiurkan. Ia cuma menekankan sumber pendapatan lebih baik.

Aktif mendorong mereka berjualan. Tugas Tim Melukis Harapan tak berhenti disitu. Dia bersama juga aktif membantu mempromosikan. Membantu mengemaskan produk- produk buatan mereka. Tuganya kemudian adalah untuk meningkatkan ketertarikan pembeli. 
 
Berbekal donasi serta kemampuan marketing modern telah membawa pengusaha lokal menghasilkan 5 juta per- bulan. Hasil penjualan oleh tim -nya akan dikembalikan kepada masyarakat.

"Belum besar, tetapi itu masih bisa meningkat lebih besar lagi, bila kita konsisten memberi motivasi," jelasnya.

Kurang lebih 10 bulanan hal ini dikerjakan dia bersama tim -nya. Aneka penghargaan telah dihasilkan oleh pemuda satu ini. Ia bahkan mendapatkan modal langsung oleh Presiden Joko Widodo. Uang sebesar 100 juta diberikan karena usahanya mampu merubah kehidupan masyarakat banyak. 
 
Meski sukses membawa 200 juta dari acara Wirausaha Mandiri oleh Bank Mandiri. Itu dianggapnya sebagai amanah. Dirinya yakin yang terutama adalah kepercayaan masyarakat bukan uang.

"Karena, berkat kemenangan ini kepercayaan berbagai pihak kepada kami pun semakin meningkat," ujarnya dengan suara serak karena menahan haru.

Uang tersebut ia kembalikan lagi ke masyarakat. Digunakan untuk apa? Tentu untuk modal kembali guna menjalankan roda bisnis di kampung Dolly. Ia mengharapkan lompatan. Bagi penduduk disana agar tidak cuma mengandalkan bantuan. 
 
Dia berharap mereka bisa lebih profesional dan mandiri lagi. Visi kedepannya adalah mengembangkan kawasan Dolly menjadi pusat industri wisata. Kesemuanya akan terintegrasi apik menjadikan Dolly sebagai wisata sejarah.

Pemerintah Surabaya membantunya menggapai ini. Yakni dengan menyediakan 12 titik bekas lokalisasi yang akan disulapnya menjadi sesuatu. Ini akan dijadikan wahana belajar sejarah, semacam meseum, serta juga tempat berwisata kuliner dan oleh- oleh, tegasnya. 
 
Adapula keinginan merambah industri jasa tapi bukan jasa seperti dulu loh. Dalam benaknya yakni dibidang transportasi, yang mana dalam bayanganya mendatang akan terintegrasi dengan kota wisata edukasi.

Pemilik Apotek K- 24 Biografi Gideon Hartono

Biografi Pengusaha Gideon Hartono


apotek24.png
 
Biografi Gideon Hartono pemilik Apotek K- 24 apotik 24 jam. Terlahir sebagai keturunan Tionghoa, tetapi tidak terlahir dari keluarga berada di jamannya. Dia cuma anak biasa lahir di keluarga biasa. Jadi perbedaan fakta bahwa keluarganya adalah seorang penganut entrepreneurship kuat. 
 
Jiwa kewiruasahaan itu tumbuh dalam tubuh kecil Gideon; disadari ataupun tidak, kala itu. Dia terlahir dari keluarga pembuat kue tradisional khas China. Dia mepunyai satu mimpi yakni jadi dokter khususnya dokter mata.
 

Bisnis Sendiri


Hal tersebut diwujudkannya melalui pendidikan dokter. Biografi Gideon Hartono lulus sebagai dokter mata seperti mimpinya. Meski begitu sebelum masuk bukanlah perkara mudah. Statusnya sebagai warga keturunan mengunci pintu memasuki pendidikan kedokteran lebih tinggi. 
 
Kala itu, di Era Orde Baru, baginya sulit bagai warga biasa bisa masuk ke kuliah kedokteran umum. Apalagi ketika dia mencoba mendapatkan gelar spesialisnya. Untuk masuk ke kampus saja sudah susah.

Indonesia, di awal 1980 -an, menjadi masa terberat bagi sebagian masyarakat Tionghoa. Meski sudah bisa lulus dan menjadi dokter, ia masih dikecilkan, pilihannya tak lain cuma bekerja di sebuah Puskesmas di daerah Yogyakarta. 
 
Seperti dilansir laman The Jakarta Globe, jiwa entrepreneurship -nya tak pernah hilang, justru tumbuh seiring keterpaksaan (kepepet), diantara kegetirannya sebagai dokter mata jadi dokter umum PNS; dia berusaha.

Berkat hobinya fotografi membawanya mulai berpikir ke arah sana. Bisnis pertama Gideon adalah sebuah studio foto bernama Agatha Foto. Guna menjalankan usahanya diajaklah sang adik bersama, Tulus Benyamin, jadi salah satu patner bisnisnya. 
 
Usaha itu berjalan cukup prospektif dari pendapatan. Sukses Gideon memilih agar usahanya dikerjakan total oleh adiknya. Sementara dia? Dia kembali menjadi dokter. Dalam perjalanan pemikirannya tentang obat murah- mudah timbul.

Di benaknya terpikir tentang kebutuhan masyarakat. Bisnis keduanya adalah bagaimana mendapat obat jadi lebih murah. Kemudian berkembang tepikirkan bagaimana lebih maju. Gideon lantas juga mengamati satu kesulitan lagi yang jarang terpikirkan. 
 
Sulitnya mendapatkan obat di Sabtu atau Minggu ada dalam teropong bisnis keduanya. Ia pun mulai mengkonsep sistem bisnis apotik 24 jam. Ide bisnis ini tanpa ada perencanaan khusus; mengalir apa adanya.

Tak ada dalam benaknya akan mewaralabakan. Gideon cuma fokus membangun brand image. Sementara itu ia aktif dalam promosi dan marketingnya langsung. Bak "pucuk dicinta, ulam pun tiba" itulah istilah sukses yang bisa menggambarkan bisnisnya. 
 
Tanpa ada analisis pasar cuma bukan satu apotik saja. Cuma saja jalan bisnisnya tak semudah itu pada masanya. Ada kewajiban mendapatkan lisensi dari asosiasi apoteker atau kita kenal Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI).

Salah satu anggota ISFI sadar akan niatan Gideon Hartono. Sosok itulah menjadi penghalang utama bagi lahirnya Apotek K- 24. Ia pun tak segan menantang langsung ISFI. Dia mengajukan laporan hukum atas hal- hal tidak menyenangkan tersebut. 
 
Sebuah langkah tak perlu, karena pada akhirnya, lisensi itu berhasil turun dan berada ditangannya. Modal membangun apotek adalah 400 juta. Dibukalah satu apotik pertama di Jalan Magelang, Yogyakarta, tahun 2002.

Awal berbisnis tentu sepi- sepi saja begitulah adanya. Apalagi nama apotik miliknya masih terbilang baru. Dia tak pantang menyerah. Berbulan- bulan dilalui hingga orang- orang mulai sadar satu hal; apotik miliknya itu tidak pernah tutup. 
 

Pemilik Apotek K- 24

 
Dalam tiga bulan itu orang sudah sadar bahwa apotiknya selalu buka -bahkan di Hari Raya seperti Idul Fitri, Natal, atau bahkan di tahun baru. Begitu pula pada hari Sabtu malam dimana di tengah malam pun masih buka.

Perjalanan waktu membawa lebih banyak orang bedatangan. Responnya terlalu sangat positif hingga mampu membawa nama Gideon naik. Kurang dari satu tahun, ia sudah mampu membuka satu apotik lagi, yaitu di Jl. Gejayan Yogyakarta. 
 
Meski sudah jadi Pegawai Negeri Sipil, hasratnya telah bertemu hal lain, mimpinya sudah terpenuhi (sebagai dokter) kini giliran menjadi wiraswasta. Jadilah dia memutuskan berhenti dari pekerjaannya.

Butuh waktu sembilan tahun sebelum memutuskan waralaba. Bisnis franchise digulirkan setelah ia matang membangun konsep Apotek K- 24. Setiap apotik miliknya memiliki dua orang ahli farmasi. 
 
Dimana merujuk peraturan negara bahwa mereka bisa mengganti sesuai kebutuhan dokter atau pasien. Ini dimaksud bahwa Apotek K- 24 juga menjangkau kebutuha masyarakat kelas menengah- bawah. Intinya bekerja di sini berarti seorang farmasi tidak cuma harus profesional.

"Caranya? Mudah! Tawarkan mereka obat generik, yang biasanya 15% murah dari produksi bermerek. Ini akan mengurangi biaya pengeluaran modal juga, disisi lain akan menaikan nilai dimata mereka bagaimana kita melayani mereka. Ini adalah cara terbaik beriklan," jelas pihak Apotek K- 24.

Konsep franchisenya dijelaskan mencangkup angka 800 juta modal. Pembayaran sistem royalti 1,8% dari nilai keuntungan kamu tiap bulan, soal obat sudah disuport oleh Apotek K- 24, juga termasuk biaya sewa di lokasi selama dua tahun. 
 
Menjadi tantangan sendiri bagi para pewaralaba adalah bahwa kita harus tau betul komposisi gaji. Karena membayar listrik dan gaji ada pada tanggungan kita. Apalagi ditambah apotik harus bukan 24 jam selama 7 hari.

Logo Apotek K- 24 sendiri punya filosofi dari warna hijau, merah, kuning, dan putih. Sebuah konsep yang berarti pluralisme. Dimana menurut Gideon harus dijalankan pula para pewaralaba. Yaitu bahwa pewaralaba dalam mencari pekerja harus tanpa pandang bulu etnis, agama, atau diskriminasi apapun. 
 
Dalam perjalanan bisnis, ia memastikan, perusahaan akan mensuport perihal pelatihan tiga bulan dan jikalau pewaralaba itu jau maka ada pelatihan berupa video.
 
Kapan Apotek K- 24 pertama kali didirikan adalah tanggal 24 Oktober 2002. Dia sama sekali melakukan riset pasar. Dalam benaknya yakin bahwa konsep apotik 24 jam pasti akan sukses. Pada tiga bulan pertama berdiri seperti diceritakan diatas; sepi, lesu pembeli. 
 
Namun, semakin lama, apotik 24 jam -nya semakin lah ramai. Ternyata intuisi bapak dua anak ini terbukti benar. Mungkin terdengar aneh tapi agaknya Gideon selalu percaya angka 24 merupakan pembawa keberuntungan.

Tidak cuma membuka apotike pertama, dalam perjalanannya, ia selalu membuka pada tanggal 24. Angka tersebut juga termasuk soal membayar gajian pegawai. 
 
"Setiap membuka outlet baru, saya memang memilih angka 24, demikian pula pembayaran gaji karyawan, kalau tanggal 24 jatuh pada hari minggu gajiannya dimajukan bukan dimundurkan. Tapi semua itu tidak ada hubungan dengan hongsui karena saya tidak percaya hong sui," tegasnya.

Meski jadi apotik 24 jam tidak berarti harga akan berbeda di siang atau malam. Dirinya meyakinkan bahwa ada misi mulai dibalik berdirinya apotik tersebut. Bukan soal keuntungan dari 365 hari, tapi ada nilai ingin membantu masyarakat, membantu mendapatkan akses obat mudah. 
 
Gideon mengaku tak mengambil untung dari obat dijualnya. Melainkan mengambil untung dari omzet penjualan saja. Padahal jikalau mau, ia bisa saja mendapatkan margin obat 20- 40 persen.

Berpendapatan margin untung saja, dijelaskannya, tidak 100% diambil semua. "Saya hanya mengambil 17 sampai 25 persen saja, sisanya biar konsumen menikmati," jelasnya kembali dalam biografi Gideon Hartono.

Sejak dibuka Apotek K- 24 telah buka selama 24 jam, 365 hari penuh, bahkan di hari- hari libur nasional, ini lantas membawa nama perusahaanya masuk rekor MURI. "Sejak buka sampai sekarang, kami tidak pernah tutup," paparnya, Gideo merasa bangga atas penghargaan tersebut. 
 
Hasrat lain yang belum tuntas yakni bagaimana agar bisnisnya menyebar di Pulau Jawa. Maka, dipilihlah konsep waralaba, Ia sendiri selalu melakukan seleksi ketat untuk patner pengusahanya.

Banyak tawaran tapi beberapa saja benar- benar bisa bukan. Dalam setahun, tiap outlet, tercatat berhasil membukukan transaksi antara 350- 500 item, nila penjualan Rp.250- 300 juta. Ia sendiri mengisaratkan tak mau mencari investor pasif. Termasuk harus ada survei kelayakan lokasi. 
 
"Kalau lokasinya bagus, kami baru bisa memutuskan oke," kata lelaki hobi membaca ini. Untuk mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan dirinya, kamu harus merogoh kocek antara Rp.300- 600 juta.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba