Ibu Muda Iseng Berbisnis Jilbab Bayi Kisah Pengusaha

Profil Pengusaha Sukses Dzuatqya

 
berbisnishijab.png

Kisah pengusaha berikut layak dicontoh ibu rumah tangga. Dia ibu muda iseng berbisnis jilbab bayi. Berawal dari usaha dropship Anaya Hijab berkembang.  Pemiliknya seorang ibu muda 25 tahun, yang memulai semuanya bermodal seadanya, dalam perjalanan waktu bisnisnya berkembang pesat.
 
Dia bahkan mampu memproduksi produk sendiri. Awalnya, Dzuatqya memulai bisnisnya cuma iseng- iseng saja berbisnis memanfaatkan sistem dropship. Lama- lama hasratnya pingin menjual produks sendiri. Mulailah ia mencari bagaimana caranya bisa mendesain sendiri.

"Ingin bikin model dan milih warna sendiri," jelasnya kepada Detik.com
 

Berbisnis Jilbab Bayi


Dalam 11 bulan semenjak resmi diluncurkan. Ia mengaku mampu meraup omzet puluhan juta rupiah. Baru 11 bulan dirinya sudah menghasilkan omzet puluhan juta rupiah. Fokusnya pada jilbab bayi yang sedang tren di pasaran Indonesia.

Pengalaman menjual secara reseller dan dropship, membawanya percaya diri untuk memasarkan produknya sendiri. Dia merasa menjadi reseller membuatnya tak bisa berkreasi. Dia juga harus menanggung rugi biaya karena barang terlambat. 
 
Modal awalnya 5 juta rupiah bersumber dari tabungan sendiri. Semuanya itu habis untuk membeli bahan, biaya jahit, biaya kemasan, untungnya, ia bisa membawa pulang modal tersebut balik dalam beberapa bulan saja.

Satu bulan saja sudah balik modal. Dzuatqya menjelaskan kunci suksesnya ada pada produknya. Di awal, ia memproduksi 100 hijab khusus bayi. Ide datang dari putrinya sendiri yang masih bayi. Modal lain suksesnya adalah mesin jahit di tempat kakaknya. 
 
Sang kakak sendiri punya bisnis konveksi. Setelah memproduksi ia lantas memfoto produknya untuk dipasarkan di sosial media. Hasilnya banyak yang suka dan minta untuk dibuatkan.

Produk awal cuma jilbab anak dan terus berkembang ke jilbab dewasa. Pemilihan produk unggulan di jilbab anak tampaknya tak sia- sia. Dari satu model berkembang jadi lima model. Alasan kenapa memilih jilbab bayi dijelaskannya ini pangsa pasarnya bagus. 
 
Soal model atau desainnya cukup meniru jilbab dewasa yang kemudian diaplikasikan ke bayi. Dibuat lebih mungil tentu dengan aksen berbeda tentunya. "Gamis bayi kan jarang juga yang mengerjakan.

Ia mengerjakan gamis buat bayi umur 0- 6 tahun. Sebelas bulan telah berlalu, kini, usahanya sudah punya banyak reseller berbagai kota, mulai dari Aceh, Lampung, Pekanbaru, Jakarta, dan Surabaya. Wanita ini dulunya pernah menjadi pegawai di instansi milik negara. 
 
Disebutkan dirinya pernah bekerja sebagai penyuluh di kementerian UKM. Seringnya memotivasi orang justru termotivasi membuat usaha sendiri. Ia malah keenakan berusaha sendiri. Dzuatqya mengaku keenakan berwiraswasta. Dia mengaku tiap bulannya mampu menjual 1000 lebih. 
 
Di setiap minggu Anaya Hijab memproduksi 200- 300 hijab. Harga jilbab miliknya dipatok 45.000 sampai 55.000. Dia juga siap melaunching produk barunya yakni baju gamis. Harganya bervariasi dari 85.000 sampai yang satu setnya sehara Rp.125.000. 
 
Pemilihan bahan juga menjadi kunci suksesnya yakni menggunakan bahan jersey premium. Bahan tersebut dipilihnya karena sejuk buat bayi. Ia tau betul anak- anak terutama bayi gampang gerah. Itu disesuaikan dengan warna- warna pastel. Untuk produksinya ia dibantu oleh dua orang penjahit. 
 
Soal cara penjualan ia memanfaatkan sistem yang dulu dimanfaatnya. Yaitu sistem reseller dan dropship yang terbukti mampu menaikan penjualan. Diberinya bonus diskon 10%- 15% kepada para reseller dan dropship.

"Omzet per- bulan udah Rp.60 juta. Masih muter terus, buat ngeluarin model baru. Inovasi terus karena pasar cepet bosen. Keluar model baru ada yang ngikutin atau terinspirasi," ujarnya.

Kamu bisa mengunjungi tempat penjualannya di JL. Letda Nasir No.28, Bojongkulur, Jatiasih, Bekasi. Ia sendiri sangat berharap produk hijab bayinya bisa menasional. Permintaan datang lebih banyak ketika ada event yakni baby shop di Tangerang. 
 
Harapan lainnya dari Dzuatqya ialah memiliki toko sendiri baik itu di mal maupun di tempat strategis lainnya. Ibu muda ini juga ingin membuka reseller ke seluruh dunia. Iseng berbisnis jilbab sekarang usahanya menasional.

Peternak Bebek Pengusaha Muda Dewa Duwe Duck Bali

Profil Pengusaha Dewa Gede Putra


peternakbebek.png
 
Dialah pemilik peternakan Dewa Duwe Duck Bali. Peternak bebek pengusaha muda kebanggan Pulau Dewata. Ada gak anak muda berminat menjadi peternak? Jawabanya ada, dari beternak lele kemudian ada pula yang beternak bebek seperti sosok anak muda ini. 
 
Salah satu pengusaha peternak bebek unik. Adalah sosok Dewa Gede Putra Darmawan, anak muda asli Bali, yang memilih "pekerjaan orang tua". Bermodal inovasi dan kreatifitas hasilnya ternyata cukup mengejutkan loh. 
 
Dikutip dari laman Bisnisbali.com, Putra sendiri merupakan putra asli daerah Br. Pabean Ketewel, Sukawati, Gianyar, sukses bermodal minim.
 

Menjadi Peternak Bebek


Kelahiran 21 September 1984, anak muda ini memulai sebuah peternakan bebek sejak 2009 -an lalu. Dewo begitu panggilan akrabnya, mengatakan, untuk sukses berbisnis bebek tidak lah sesukar dibayangkan. Sayangnya, anak muda jaman sekarang enggan berkotor- kotor. 
 
Jelasnya lagi peternak harus terlebih dahulu senang atas apa yang dikerjakannya. Kalau kamu suka lele maka beternak lah lele, kalau suka ayam maka beternak lah ayam, dan lain- lainnnya.

Ketertarikan menjadi peternak sejak lama. Semuanya karena kampungnya sendiri juga sentra unggas. Orang tuanya juga seorang pengusaha pemotongan unggas. Passion -nya beternak membawa dirinya berkuliah di jurusan peternakan.

Sejak awal usahanya berkat ketertarikannya kepada unggas. Utamanya ketertarikan akan unggas, khususnya unggas bebek, dibawah benderanya bernama Dewa Duwe Duck. Artinya juga bisa berarti Dewa punya bebek yang diambil dari namanya sendiri. 
 
Sukses Dewo mampu menjadi suplier tetap bebek untuk kawasan Gianyar, Bali.

"Sejak awal saya memang senang dengan bebek, saya selalu senang melihat bebek," ungkapnya kepada pewarta Detik.com, ketertarikannya akan ternak yang terbawa hingga kampus, kemudian diaplikasikan dalam sebuah kerja praktik lapangan.

Mahasiswa Universitas Warmadewa ini lantas memberanikan diri membuka peternakan sendiri. Semua itu setelah kunjungan praktikumnya ke daerah Mengwi, ke sebuah peternakan unggas khususnya bebek. Dewo memang dari keluarga pengusaha pemotongan unggas. 
 
Tapi soal memelihara unggas lain lagi ceritanya. Ini dia pengalamannya memulai beternak bebek: Awalnya, dia membeli 10 ekor bebek anakan, iseng- iseng saja dengan modal cuma Rp.30.000.

Anak bebek atau DOD -nya kemudian diberi pakan ternak berupa konsentrat. Itu dibelinya cuma seharga Rp.20.000 saja. Jadi total modal awal seorang Dewo cukuplah Rp.50.000 untuk berbisnis bebek. Hasilnya tak disangka karena bebeknya tumbuh pesat. 
 
Dalam tempo 2 bulan saja, dirinya sudah mampu memetik hasil jerih payahnya, menghasilkan Rp.500.000 atau naik 10 kali lipat. Semenjak kesuksesan pertama itulah ia makin bertekat berbisnis. Dia memutar kembali modalnya adalah salah satu cara yang diamini Dewo. 
 
Dia memutar uangnya membeli lebih banyak DOD. Kali ini, ia membeli 100 ekor langsung, berharap uang yang diputarnya semakin besar. Namun di pertengahan 2010 -an, usahanya memutar uang dengan 100 ekor nyaris bangkrut. Dalam beritanya dia menyebutkan 40% hasilnya mati. 
 
Ia pun berpikir apa penyebab bebek- bebeknya mati. Apakah penyebab kematian bebek tersebut. Dia mulai membaca aneka buku berternak. Ia mencari- cari kunci jawaban kenapa bebeknya banyak yang mati. Hingga Dewo mengadakan penelitian langsung. 
 
Fungsinya untuk memastikan apa yang dibuku benar adanya. Melalui pengamatan langsung lah dirinya menemukan penyebab.Menjadi pengusaha muda memang tidaklah mudah apalagi peternak

Peternak Muda


Berdasarkan pengamatan jawabannya ada pada kebersihan kandang. Menurut Dewo penyebab matinya sejumlah bebek karena kabanyakan populasi. Kondisi kandang sempit tak sanggup manampung jumlah lebih banyak bebek. Semenjak hal itu pula fokusnya kemudian adalah menambah jumlah kandang. 
 
Ia bahkan rela merogoh kocek 8 juta untuk kandang saja. Kandang permanen tersebut kemudian dikembangkan lagi. Hasil pengembangannya sudah ada tiga kandang siap pakai.

Kandang pun ada pembagiannya sendiri- sendiri. Yakni satu kandang digunakannya untuk bebek berumur kurang dari dua bulan. Satu kandang lagi digunakan untuk bebek berumur diatas dua bulan. 
 
Kadang yang berisi DOD atau kurang dari dua bulan berisi 300 ekor, kandang kedua dan ketiga isinya 500 ekor, dan dalam sebulan sudah panen 300 ekor. Sukses Dewo mampu menyuplai kebutuhan bebek di sejumlah daerah di Pulau Bali, khususnya untuk kawasan Gianyar, Bali.

"Margin bisnis bebek itu bisa berkali- kali lipat," ungkapnya.

Dia kini memiliki empat kandang bebek berukuran 4x6 meter. Disetiap kandang sudah bisa menampung 500 ekor bebek. Setiap dua minggu sekali Dewa Duwe Duck mendatangkan bibit baru dari Badung Bali. Dewo bisa memanen bebek setiap seminggu sekali. 
 
Untuk kandang ada satu tips lucu darinya, yakni buatlah sebuah kolam kecil di areal kadang, disana bebek- bebek akan bermain air. Ini akan membantu bebek- bebek itu jadi tetap bersih dan tak berbau.

Untuk bau pada kadangnya, Dewo punya cara sendiri, yakni ketika akan memberi pakan di pagi dan sore, ia mencampurkan daun pepaya di pakan ternak. Fungsinya itu untuk membuat kotoran bebek jadi tak berbau. Daun pepeya juga punya khasiat lain loh. 
 
Menurutnya bebek yang diberi makan daun pepaya akan lebih empuk jika dimasak. Namun, ia mengingatkan agar porsinya jangan terlalu banyak, untuk bahan pakan lain kamu bisa memanfaatkan nasi sisa.

Pakan utama tersebut didapatkannya dari restoran- restoran sekitar. Jadi modal pakannya bisa dibilang gratis kecuali tambahannya. Yakni tambahan berupa aneka sayuran sisa yang diperolehnya dari pasar. Soal jenis sayurnya itu terserah yang penting harus ada sayurnya. 
 
Plus, dia menambahkan, campuran gedebog pisang yang dicacah, yang sudah direbus terlebih dahulu. Menurutnya bebek adalah binatang tahan penyakit. Dari pengalamannya tingkat kematiannya dibawah 10%.

Soal kesehatan terutama mengatasi penyakit flu. Dewo juga punya tips sendiri yakni memberikan campuran daun mengkudu dicampur adonan pakan bebek. Biaya produksinya dari pakan sampai perawatan dalam hitungannya tak mencapai Rp.14.000. 
 
Soal bibit di Bali sendiri, banyak sudah orang beternak bebek, beda dengan dirinya mereka masih menjadikan itu bisni sambilan. Sedangkan Dewo memilih untuk beternak bebek secara total. Dia tak melepaskan bebek tapi menempatkannya di kandang- kandang.

Fokusnya adalah membesarkan bebek. Lantas setelah besar, ia memasarkan sendiri hasilnya ke restoran- restoran, pecel lele, rumah makan, pendeta dan lain- lain. Dibanding beternak unggas ayam, berdasarkan pengalamannya, harga bebek hampir tidak pernah turun. 
 
Harga jualnya cenderung lebih bagus. Harga bebek dibawah 1 kg berusia kurang dari satu bulan, akan dijualnya seharga Rp.35.000 per- ekor, untuk yang usia 3 bulan dijual Rp.60.000.

"Terus terang saja, saya merasakan kewalahan meladeni permintaan, di wilayah Ubud saja permintaan pasar 1.000 ekor per- hari. Saya baru suplai 100," kata pemuda lulusan S-1 Jurusan Peternakan, Universitas Marwadewa ini.

Berkat keuletan itulah ia pernah menjadi salah satu wirausahawan muda besutan Mandiri. Untuk bisnisnya itu sudah habis 14 juta sudah, cuma untuk membangun kandang bebek bermodal pekarngan rumah. Dewo juga punya mobil pick up sendiri untuk berbisnis. 
 
Inti artikel ini adalah beternak bebek tidaklah susah. Soal modal beternak bebek dibuktikan bisa seminimal mungkin asal ada tekat. Bahkan bermodal pangan sampah sudah bisa jalan bisnisnya. Beternak tak selamanya butuh dana besar jelasnya. 
 
Pasar pun tidak cuma Bali saja, di pulau Jawa juga bisa jika kamu mencarinya. Khusus Bali ada perbedaan yakni adanya pariwisata membuat permintaan jadi lebih mudah, ditambah tradisi umat Hindu yang menggunakan bebek. 
 
Mereka menggunakan unggas bebek untuk menggantikan angsa dalam ritual ibadah. Terutamanya bebek putih yang melambangkan kesucian terkait Dewa Brahma. Putra dari pasangan Dewa Putu Oka dan Desak Putu Swasti ini tak ada matinya.

Alamat:

Jl. Ida Bagus Mantra, Br. Pabean, Sukawati, Gianyar, Bali.

Mengolah Bawang Menjadi Bisnis Menjanjikan Pengusaha

Profil Pengusaha Andrew

 

mentegabawang.png
 

Mengolah bawang menjadi bisnis menjanjikan. Pengusaha ini berpikir diluar kebiasaan mengolah bahan satu ini. Biasanya bawang cukup digoreng dijajakan ke orang- orang. Namun Andrew memiliki ide lain mengenai bawang ini.

 

Bawang bukan rahasia merupakan bahan penyedap alami. Kebutuhan bawang sudah tidak dipungkiri. Itu bahkan sudah menjadi langganan impor. Dia menggeluti bisnis mentega bawang atau garlic butter. Usaha miliknya bernama Work&Pan Japanese, membuat bahan penyedap anake masakan.


Bisnis Bawang


Garlic butter dapat digunakan buat memasak menumis ataupun memanggang. Kebutuhan masyarakat akan bawang besar sampai hasilkan cuan. "Biasanya untuk menumis- numis makanan, untuk seafood, steak ayam, bisa untuk salad juga," ujarnya kepada Detik.com

 

Keunggulan dibanding produk lain ialah awet sampai setahun. Kenapa begitu ternyata garlic butter nya tidak diberi daun- daun. Ditambahkannya kenapa tidak sama dengan produk sejenis, ia mengatakan resepnya didapat dari bekerja di Japanese Steak House di Amerika. 


"Garlic butter saya ini memang saya dapat resepnya dari Japanese Steakhouse di Amerika karena saya kerja di Amerika tahun 2018," tuturnya. Usaha tersebut dimulai pada Februari 2020. Modal dikucurkan sekala rumahan Rp.15 juta.


Awalnya usaha tersebut dilakukan kecil- kecilan. Awal ia menitipkan ke supermarket- supermarket di Surabaya. Baru beberapa supermarket memajang garlic butter miliknya. Dalam sebulan Andrew bisa memproduksi tidak kurang 200 botol yang dikerjakan 3 orang.


Olahan tersebut baru dia bikin satu varian. Harga per- supermarket memang beda- beda. Pasalnya ia memberikan kebebasan bagi distributor. Ada supermarket menjual Rp.84.900, ada dijual Rp.82.000, terus ada yang jual Rp.80.000.


Pembelian masyarakat diluar Surabaya melalui toko online. Kamu bisa membeli lewat Tokopedia di Wok&Pan, dan Shopee di toko wokpan. Dari usaha seumur jagung dia mampu mengantongi omzet sampai Rp.40 juta.

Pengusaha ini Melanggar Hak Paten Evrawood

Profil Wahyu Adji Evrawood


evrawood.png

Pengalaman pengusaha ini melanggar hak paten begitu berkesar. Pendiri Evrawood hanyalah anak dari keluarga biasa bercita- cita sukses. Dia ingin menjadi pengusaha. Baru sukses setelah melewati aneka masalah. Ketika dewasa dia dikenal sebagai pemilik Evrawood.
 
 
Tiap orang memiliki fase dalam kewirausahaan. Beda- beda adapula orang tidak memulai dari nol. Ada yang memulai dari nol tetapi jauh sebelum dewasa. Kisah kali ini ada seorang Wahyu Adji Setiawan. Sejak SMU sudah berbisnis sendiri, aneka usaha telah dilakoninya sejak masa- masa itu. 
 

Menjadi Pengusaha

 
Prinsip awalnya yakni menjual barang untuk menambah uang saku. Dia mulai berjualan barang- barang mode, seperti jualan kaus, celana ataupun tas. Bisnisnya berlanjut hingga dirinya masuk ke Universitas Negeri Surabaya. 
 
Dalam catatan Detik.com, Adji ternyata pernah "mencoba" jadi pegawai. Kenyataanya itu tak berhasil, toh, memang lah hasratnya ada di kewirausahaan. Berjualan stiker, kaus, bahkan juga pernah berjualan pecel dan crepes. Kisah pun berlanjut bahwa dia juga pernah ditawari menjual 400 tas oleh dosennya.

"Saya terima saja, ketika pulang baru mikir dari mana tasnya," ujarnya kepada CNN Indonesia.

Jiwa pengusaha sudah terbentuk sejak dini. Masalah apapun dihadapinya tanpa ragu. Apapun kesempatan usaha selalu dijalaninya. Ia pernah tercatat sebagai pengelola toko Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya. 
 
Di toko tersebut Adji menjual aneka barang seperti aksesoris HP, kaos, stiker, dan minuman ringan. Setiap ada peluang selalu siap sedia dilakoninya penuh semangat.



Yang terbesar dia pernah menyanggupi mengadakan barang buat kampusnya. Pengadaan atau pun tander kaus untuk mahasiswa baru. Dia pun berhasi memenangkan tender senilai 1.200 kaus. Caranya memenangkan tender terbilang unik. 
 
Karena sebagai mahasiswa, dia sama sekali tak memiliki pabrik sendiri, cuma bermodalkan pesan ke konveksi yang dikenalnya. Sayangnya, usahanya tak berjalan sesuai rencananya.

"Uang muka tak cukup karena pabrik minta uang 50%, sementara dari kampus hanya cukup membayar 30% uang muka," jelasnya kepada wartawan.

Disanalah ia belajar tentang 'apa itu negosiasi', dari sanalah cuma bermodal KTP, akhirnya ia sukses untuk memenuhi permintaan pihak konveksi. Ya, Adji tak punya uang sama sekali, satu- satunya cara ialah ia meninggalkan kartu tanda penduduknya. 
 
Sukses terbayar semuanya lantas disusul banyaknya pesananan lain berdatangan kepadanya. Kerja keras Adji tercium oleh dosen dikampusnya. Dia ditantang untuk masuk ke bisnis tas, yang mana seperti penulis ceritakan diatas.

Tahun 2006, seorang dosen menawari pria asli Kebumen, 10 Maret 1986, ada orderan tas yang perlu ia penuhi. Adji sama sekali tak menolak tantangan tersebut. Tanpa pikir panjang disanggupinya, kemudian ia memesan tas dari Tanggulangin, sentra produksi tas di Sidoardjo, Jawa Timur. 
 
Mulailah pengalamannya masuk ke bisnis tas semakin dalam. Semakin dalam masuk membuat itu menjadi passion -nya hingga sukses seperti sekarang.

Lebih mudah


Ada perbedaan antara berbisnis tas dibanding kaus jelasnya. Terutama jika berbicara tentang ukuran kaus yang harus pihak konveksi produksi. Sering akan terjadi revisi disoalan ukuran pesannan. Akhirnya, Adji memilih fokus pada satu bisnisnya, yakni memproduksi berbagai macam tas.

Memulai usaha sejak dini membuatnya mudah beradaptasi. Hanya ingin punya tambahan uang saja, awalnya, ia pun lantas memilih fokus pada usahanya sendiri. Berbeda dengan teman- temanya dimana selepas kuliah jadi pegawai. Sebetulnya ia sendiri pernah melamar kerja loh. 
 
Pernah terpikir untuk kerja sambilan saja dibanding kesana- sini mencari orderan. Total 5 buah lamaran sudah dikirimnya. "Untung gak diterima, kalau diterima saya enggak mungkin seperti ini," selorohnya.

Pria plontos ini memang lebih senang berjualan. Faktor efisiensi seperti soal ukuran menjadi alasan memilih berbisnis tas. Tak perlu memproduksi ukuran S, M, L, XL dan sebagainya. Tas itu enggak ada ukurannya, ujar Adji. 
 
Kelebihannya yang lain dari pengalamannya adalah segi bahan mudah dihitung. Soal penjualan, ia menjelaskan itu lebih mudah terjual, kalau pakaian kan soal ukuran. Jika ukurannya tak sesuai, bisa saja tak laku terjual.

Selepas kuliah langsung lah Adji mengajak temannya serius berbisnis. Langkahnya tersebut berbekal sudah berbekal pengalaman panjang. Sayangnya, ketika sukses punya usaha sendiri, bernama Ortiz, disaat itupula serbuan produk asing melanda. 
 
Ada merek- merek seperti Adidas, Nike, dan lain- lain sudah merajai pasar lokal kita. Tak pantang menyerah, Adji optimis kepada bisnis lokalnya, selain bersaing dengan merek- merek itu. Adapula merek- merek lokal mesti dihadapinya.

"Kelemahan waktu itu branding -nya. Waktu itu orang pikirannya merek itu nomor satu. Adidas bikin kantung  plastik pun laku mahal dijual. Beda dengan lokal meskipun produknya berkualitas," ujarnya lagi, menambahkan realita kewirausahaan sekarang.

Fokusnya adalah menyasar perusahaan- perusahaan. Gunanya adalah memenuhi permintaan mereka, yang rata- rata, ada untuk kebutuhan pegawainya. Sebut saja ada sebuah perusahaan Surabaya yang memasan tas darinya, untuk tas bepergian ataupu buat umroh dan haji. 
 
Seiring waktu semakin banyak pesanan datang ke padanya. Adji sebagai pemilik merek mulai kesulita ketika berhubungan dengan pengrajin. Ya, susahnya untuk mengatur mereka karena bukan pegawainya.

Hal- hal seperti keterlambatan memenuhi pesanan mulai terjadi. Untuk mendapatkan industri yang mau kerja untuk mereknya juga gampang- gampang susah. Mereka akan memilih mendahulukan pesanan besar, dan masalahnya ialah kala itu Adji baru saja memulai. 
 
Untuk itulah ia menerapkan konsep perjanjian dimuka, agar mereka mengerjakan pesanan miliknya tepat waktu.

"Salah satu pasalnya, jika terjadi keterlambatan, kami akan mengutip denda," terang Adji.

Dari sekedar membuatkan tas travel atau memenuhi kebutuha perusahaan, Adji ingin punya brand sendiri, akhirnya, ia punya brand fashion -nya sendiri yakni Ortiz. Merupakan tas kasual bagi kamu yang mana pasar produknya manyasar Malaysia dan Singapura. 
 
Sebagai pengusaha pemikirannya berkembang, kesemua itu demi keberlangsungan usahanya. "Idealisme saya sangat tinggi saat itu, ingin punya merek dengan desain sendiri," ungkapnya. Jiwanya merasa tertantang untuk membangun brand -nya sendiri. 
 
Karena memang dirinya merasa senang untuk membuat desainnya sendiri. Tidak monoton seperti apa yang dipesannya dari konveksinya. Awal 2010 barulah merek Ortiz dipasarkan. Sebelum satu tahun berjalan bisnis barunya. 
 
Ada masalah, yakni masalah pelanggaran hak paten, pasalnya merek dagang Ortiz sudah dipatenkan. Yakni oleh perusahaan asal Spanyol dimana memberinya somasi langsung. Dalam pasalnya disebut bahwa ia wajib menarik semua produk bermerek Ortiz dari pasaran. 
 
Jika tidak dilakukannya segera, bukan main akibatnya, yaitu dalam dua bulan jika tidak ditarik maka: Adji akan dituntut sebesar Rp.7 miliar. Padahal ketika itu dirinya sudah mendapatk kontrak 6.000 tas selama setahun. Dia pun menark kesemua produknya. 
 
Sebagai efeknya, Adji harus menanggung kerugian, yaitu kerugian dari kontrak itu sebesar Rp.600 juta. Mungkin karena fokus Adji pada pasaran asing, makanya produknya itu menjadi sorotan pemilik brand. Di penelusurannya, dia menemukan bahwa mematenkan brand itu penting. 
 
Dalam hal ini jikalau kamu mau membuat paten Internasional maka di Singapura lah jalannya. Kembali ke bisnisnya, fokus pada pasar di luar negeri, Adji memandang di luar pemikiran orang Indonesia. Faktanya orang Indonesia memang selalu melihat merek bukan kualitas.

"Jadi, standar kualitasnya internasional," kata Adji.

Berkat kasus pelanggaran hak paten, Adji baru tau "dari situ baru saya tau, pendaftaran paten yang diakui secara internasional harus di Singapura." Akibat pristiwa tuntutan tersebut makalah ia harus membatalkan nilai kontrak vendor. Adji terpaksa berhenti berproduksi selama dua bulan. 
 
Banyak tagihan vendor dan juga pemasok barang banyak tak terbayar kenangnya. Tak mau terpuruk lama makalah ia mengunjungi pihak- pihak terkait.

"Kalau bahasa bisnisnya itu potential loss. Saya harus bayar ke mereka Rp.600 juta karena saya gagal untuk memenuhi target 5.000 tas yang mereka pesan," jelasnya.

Dia meminta tenggang waktu kepada vendor. Meminta untuk bisa membayar mundur. Modalnya hanyalah satu yakni kepercayaan diri yang tinggi. Selain itu karena selama berbisnis tidak ada masalah. Adji yang juga menjaga kepercayaan mereka. 
 
Jadilah ia dibolehkan membayar mundur. Bahkan, tidak hanya itu, ia diberi modal berupa pinjaman bahan baku untuk memproduksi kembali. Untuk kali ini, awal 2011, pengusaha muda yang satu ini memulai kembali.

Dari nol usahanya punya brand terbaru yakni Evrawood. Bahkan untuk menanggulangi hal- hal sebelumnya, maka, ia langsung bergegas mendaftarkan paten ke Singapura. Dia lantas merekrut orang- orang baru. Dia fokus pada kualitas bahan serta cara pembuatannya. 
 
Bahkan agar semakin cepat laris produk Evrawood membari garansi tiga tahun, ujar pengusaha 29 tahun tersebut. Selain di Indonesia, tas kasual urban ini, telah dipasarkan ke Jerman, Belanda, Singapura, dan Malaysia.

Kapasitas produksinya mencapai 1.000 item, jikalau di dalam dijual dikisaran 400.000, maka pasaran di luar negeri akan mencapai Rp.1,8 juta- Rp.2,5 juta.

Bunda Yeni My Darling Bisnis Sampah Plastik

Profil Pengusaha Yeni Mulyani Rondonuwu Hidayat

 
bundayeni.png
 
Bunda Yeni My Darling bukanlah pengusaha sembarangan. Yeni bisnis sampah plastik yang identik menjadi masalah. Kini bukan lagi identik sebagai masalah melainkan peluang. Ini menjadi peluang bagi masyarakat, dan bisa mencapai angka miliaran rupiah loh.
 
Untuk kali ini, dikisahkan seorang wanita 32 tahun, yang bernama lengkap Yeni Mulyani Rondonuwu Hidayat, A.Md. Merupakan pendiri dan sekaligus penggagas usaha yang berbasis sosial, My Darling. Yang jika dipanjangkan berarti Masyarakat Sadar Lingkungan. 
 
Sebuah usaha yang bermodal sampah dari masyarakat luas, Jawa Barat khususnya. Menurut sumber Detik.com, kisahnya bermula, ketika puncak kekesalannya akan sampah. Dia melihat ada sampah berserakan dimana- mana. Perasaan kesal bergumam dalam hatinya. 
 

Pengusaha Sosial

 
Hingga, mendorong Yeni untuk mengumpulkan sampah- sampah tersebut. Mulai dari sampah botol plastik, botol minuman ringan, koran bekas dan segalanya. Itu  kemudian dijadikan satu entah apa yang akan dilakukannya.

"Awalnya dari kesal melihat sampah, gemes melihat sampah di jalanan, jadi saya di mana pun, ke mana pun, kalau melihat sampah pasti saya pungut," ungkapnya.

Tentu hal tersebut dipandang aneh oleh orang sekitarnya. Kegiatan mengumpulkan sampah wanita nyentrik ini jadi sindiran bahkan hinaan "gila". Bahkan beberapa orang memanggilnya pemulung. Tapi justru itu malah membuat Bunda Yeni menjadi bangga. 
 
Tumpukan sampah tersebut benar membuatnya "gila". Wanita asal Cianjur, Jawa Barat, ini kemudian menemukan ide menyulap sampah. Menyulapnya menjadi aneka produk seperti bros, tas, tikar, topi, jam dinding, tempat pensil.dll.

Perlahan tapi pasti apa yang dibuatnya menarik hati masyarakat. Bermodal mulut ke mulut dijualah produk- produk unik tersebut. Sejak memulai usaha tersebut sudah ada 4 orang ikut membantu wanita, yang jika kami amati, sekilas nyentrik seperti Menteri Susi.

Perusahaan sampah


Didirikanlah sebuah perusahaan kecil- kecilan di kawasan Halimun, Setiabudi, Jakarta Selata, yang ia lantas namakan Bank Sampah My Darling. Tepatnya berada di Jalan Sultan Agung No.20 RT. 001/01 Kalurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan. 
 
Telah diresmikan oleh Walikota -nya sendiri pada 14 September 2012. Namanya Bank tugasnya memang mengumpulkan. Bedanya jika Bank Sampah adalah yang mengumpulkan sampah.

Sampah tersebut diolah menjadi bahan baku aneka produk kreatif. Akhirnya bisa diolah menjadi tas- tas unik yang tak bisa kamu temui di toko- toko biasa. Yeni sendiri bertuga menjadi Direktur di Bank miliknya sendiri.

Dibantu oleh 4 rekannya, yang masing- masing kebagian menjadi Sekertaris, Manager Keuangan, Bagian Penimbangan, dan Pengepakan. "Saya sarjana Perbanas. Cita- cita saya tercapai beneran jadi direktur tapi jadi direktur Bank Sampah," kata Yeni sambil tertawa kecil.

Produk yang dihasilkan dijual dengan aneka kisaran harga. Misalnya ada bros dari botol air mineral yang ia jual seharga Rp.5000, kalung dari koran bekas yang dibandrol harga Rp.50.000. 
 
Kemudian ada pula tempat pensil dari koran bekas seharga Rp.17.000, namun ada pula yang seharga Rp.35.000. Kemudian ada tempat tisu yang seharga Rp.95.000, mengejutkan bukan? 

Yang paling menarik ialah tikar dari plastik kopi, yang mana panjangnya mencapai 1 meter. Tikar itu terbuat dari 1.963 bungkus kopi yang mana dipatok harga Rp.200.000. Adapula tas dari botol minuman dibandrol sama. Untuk tas dari bekas botol minuman dibutuhkan 200 helas minuman kemasan. 
 
Tas tersebut bisa lantas dijual seharga Rp.300.000- 400.000. Berbicara soal omzet, Yeni menuturkan, dirinya dan kawan- kawan bisa meraup omzet Rp.15 juta per- bulan. 
 
Pasarnya dijual hingga ke luar negeri yakni Darwin, Australia, Belanda, Amerika Serikat, Inggris, Singapura, Malaysia bahkan Nigeria. Moto Yeni sendiri adalah bagaimana merubah sampah menjadi gaya hidup. Yakni kita harus bersahabat dengan sampah karena itulah solusi sampah.

Produk unik


Jangan salah terbuat dari sampah bukan berarti menafikan keindaha. Bunda Yeni memang punya jiwa seni yang mana terpancar dari karya- karyanya. Awalnya, dia cuma memakainya sendiri, membawa tas terbuat dari plastik bekas itu kemana- mana. 
 
Hingga tiba- tiba ada seorang bule Prancis mendekatinya. Ketika itu, dalam tulisan sebuah blog nurulhoeda.blogdetik.com, sang Bunda Yeni sempat kepedean karena memang si bule ganteng. Sempat merasa mau didekati, eh ternyata, ia cuma tertarik dengan tas plastik tentengannya. 
 
Langsung saja, si Bule itu menyebut How much? Berapa harganya itu kiranya apa yang coba ia lontarkan. Karena memang tak berniat menjual, ia nyeletuk sedanya, "seven hundred thousand rupiah" jawabnya. Tujuanya sih agar si bule tak berani membayarnya. 
 
Ternyata malah kebalikannya yaitu langsung keluar kontan; tanpa menawar lagi. Si bule sendiri sadar bahwa tasnya terbuat dari sampah kertas. Menurut penjelasannya itu merupakan bentuk apresiasi akan konsep green. 
 
Dia mengimplentasi apa yang disebut re- use. Ternyata diluar dugaan, di luar negeri, justru produk- produk seperti ini sangat diapresiasi. Ia cumalah ibu rumah tangga biasa. Cuma ada mimpinya untuk menjadi direktur yang belum tercapai. 
 
Itu adalah obsesinya yang terbawa hingga My Darling berdiri. Sebuah kepedulian akan lingkungan yang mana nilai tambahnya adalah uang. Tujuan utamanya adalah mengolah sampah sehari- hari. 
 
Di belakang rumah, di garasi rumahnya, Manggarai Jakarta Selatan, dia mengumpulkan sampah- sampah plastik. Sampah- sampah itu dihargainya uang, dimana sampahnya akan diolah kembali.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba