Masih Kuliah Mempunyai Usaha Bengkel Bercabang

Profil Pengusaha Elwin Halawa

 

usahabengkel.png
 

Bayangkan punya usaha bengkel dimasa masih kuliah. Dialah Elwin Halawa, pengusaha muda yang mulai merintis usaha sejak dini. Siapa tidak suka menjadi mahasiswa mandiri. Membayar uang kos- kosan sendiri, uang makan sehari- hari, tagihan listrik, dan memiliki kendaraan bermotor.


Usaha tidak akan menghianati hasil. Tetapi menjadi wirausaha muda tidak mudah. Ketika kuliah dia sudah sibuk mengurusi bisnis, sembari mengurus tugas kuliah. Waktu terbuang bermanfaat sampai hasilkan omzet ratusan juta.

 

Usaha Bengkel


Tidak pernah terbayang dipikiran Elwin. Dia yang masih muda menghasilkan ratusan juta. Apalagi dia mengerjakan bisnisnya sebagai hobi. Tidak memberatkan. Kini ia mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STIMK) Nusa Mandiri.


Otomatis Elwin tidak akan menganggur selepas lulus. Dia sudah merintis semenjak masuk semester awal. Bisnis mandiri tersebut memang jauh dari latar Jurusan Ilmu Komputer (IT). Elwin berkata tak menghabiskan modal banyak.


"Bermodalkan kepercayaan diri dan modal seadanya," jelas Elwin kepada Republika.co.id. Mempunyai usaha bengkel bermula kecil. Elwin membuka bengkel depan rumah. Ia membuka jasa tambal ban, ganti oil dan servis.


Bermula hobi usahanya berkembang ketika tahun kedua. Dia mulai mempekerjakan dua karyawan baru. Dua orang karyawannya membantu Elwin bertransformasi. Bengkel tersebut dibiki menjadi bengkel modern bernama Zona Ban.


Brand Zona Ban bertranformasi mengurusi juga ganti sparepart, oli, accu, dan barang fast moving lain. Dia memberikan saran bahwa anak muda merupakan potensi. Bila anak muda mau terjun ke dunia wirausaha maka kebabasan finansial menanti.


Menjadi mahasiswa bukan dicetak menjadi pegawai. Karena kamu juga bisa menjadi wirausaha, sebab menjadi pekerja atau karyawan butuh bekerja keras. Dia menambahkan menjadi pegawai akan digaji terbatas dibanding pengusaha, tak terbatas.


Zona Ban memiliki tiga gerai berpegawai 10 orang. Memiliki admin dua orang melayani lebih dari 5000 pelanggan. Konsumen telah menjadi pelanggan tetap. "Dengan tekad dan motivasi yang tinggi saya berhasil melewatinya," ia menuturkan.


Omzet didapat Rp.180 juta dengan keuntungan bersih 30- 45 juta. Ia berpesan kita harus bertekad meraih mimpi dan cita. Berkomitmen menjadi pengusaha muda harus berani. Kamu harus fokus akan tujuan mu menjadi wirausaha.

Usaha Bengkel Gaya Mandiri Setelah Ditipu Berulang Kali

Profil Pengusaha Dudi Purwanto

 
usahabengkel.png
 
Pengusaha setelah ditipu berulang kali tetap semangat. Usaha bengkel mandiri bermula pemiliknya sering ditipu. Belum menjadi pengusaha kalau belum ngalamin. Tapi tidak semua pernah ditipu bila kamu baca artikel disini. Tapi sudah pasti menjadi wirausaha pernah gagal dan kehilangan uang.
 
 
Pengusaha adalah orang yang lolos dari kegetiran apa itu hidup. Memang tidak mudah memulai bisnis dari nol. Setiap orang punya kisahnya sendiri. Yang mana, ini kisah Dudi Purwanto, yang jadi pengusaha sukses setelah sering ditipu.
 

Selalu Wirausaha


Pria kelahiran Jakarta, sukses membuka bengkel vespa di JL. Kayu Manis Timur 11, Jakarta Timur, yang mulai dibangun selama bertahun- tahun. Bermula dari hasratnya yang kuat menjadi pengusaha bengkel. 
 
Sejak itu pula, ya, satu- satunya usaha yang dilakukannya adalah berbisnis. Sebelum berbengkel Doyok begitu lah sapaan akrabnya telah berkali- kali berusaha. Berkali- kali pula dirinya kena tipu rekan bisnisnya. Padahal ia selalu menganggap mereka serius untuk sukses bersama.

Kisah sukses membuka bengkel vespa Gaya Mandiri (GM) dimulai dari pekerjaannya. Dia pernah bekerja di sebuah perusahaan swasta tapi tak berpuas diri. Baginya, menjadi karyawan tidak lah ada masa depan di hari tua, untuk itulah ia ngotot berbisnis. 
 
Tidak ada kesejahteraan bagi seorang karyawan menurutnya. Begitu kiranya apa yang ia sampaikan ketika ditemui di bengkelnya.

Pemikirannya langsung mengarah memiliki bengkel sendiri. Pertama kali, usahanya langsung ke bengkel, saat itu ia memulai sebuah bisnis bengkel motor Jepang mengikuti tren. Tapi sayangnya, baru berjalan beberapa hari, ia sudah ditipu oleh rekan bisnisnya sendiri.

"Waktu itu saya hanya kuat berbisnis dengan teman selama enam bulan, saya ditipu," kenangnya di masa- masa pahitnya.

Dia kehilangan segalanya termasuk percaya diri. Semua modal uang ludes dibawa kabur oleh rekan kerjanya. Kegagalan pertama tak membuatnya menyarah. Sekali lagi pria berkacamata tersebut sekali lagi bekerja sama dengan orang lain. 
 
Waktu itu sekali lagi dirinya harus berkorban sampai pinjam- pinjam uang. Namun, usahanya kembali runtuh dan sekali lagi ditipu oleh rekan bisnisnya.

Agaknya trauma kali ini terasa lebih dalam. Tapi beberapa teman dekat menyarankan dirinya untuk bangkit kembali. Kali ini mereka menyarankan untuk tak membuka bengkel motor Jepang kembali. Dan sebagai gantinya Doyok disarankan membuka bengkel vespa. 
 
Hal itu diamininya hingga jadilah satu bengkel kecil bermodal beranda depan rumah orang tuanya. Ujian kembali datang dalam hidupnya, ketika itu bengkel yang sudah tiga bulan berjalan, tak tampak satupun orang datang memperbaiki vespa. 
 
"Kalau diingat- ingat, tiga bulan pertama buka bengkel, tidak ada satu pun pelanggan yang masuk," kenangnya.

Namun, ia masih tetap bertahan, hingga pada bulan ke empat barulah seorang pelanggan datang. "Ada satu vespa yang masuk, rasanya saya senang sekali. Vespa itu akhirnya saya pinjam dan saya pelajari  detailnya," ungkap rahasia bisnisnya, sejak saat itu pula keberuntungan mulai nampak. 
 
Sejak saat itu pula mulai banyak vespa- vaspa yang keluar masuk bengkelnya. Mulai dari yang memeriksakan mesinnya disana. Sampai yang mau mengecat warna- warni vespanya. Sejak itu pula dirinya mulai kualahan menangani banyaknya pengunjung. 
 
Gagal berbisnis bersama ternyata sukses itu ada justru ketika dirinya berbisnis sendiri. Doyok merupakan tipe yang selalu belajar. Termasuk juga soal mesin vespa yang dulunya tak terlalu dikuasainya.

"Bagi kami kepuasan pelanggan itu nomor satu," pungkasnya.

Oleh karena itulah Doyok selalu memberikan pelayanan berkualitas. Tak hanya itu berkat pengalaman tertipu membuatnya lebih percaya diri. Dia jadi lebih yakin harus bisa karena dia sekarang sendiri. Doyok tak mau tanggung- tanggung. 
 
Untuk itulah, demi kepuasan pelanggan, ia tak segan ikut nimbrung. Meski sekarang bengkel vespa Gaya Mandiri sudahlah punya tiga orang karyawan. "Jangan mentang- mentang sudah bos, anak buah disuruh kerja sendiri," katanya.

Berkat ketelatenan itulah ia kini punya banyak pelanggan ratusan. Bahkan keluarganya sendiri kini juga ikut memakai vespa yang selalu diserviskan di tempatnya. Sukses berbisnis bengkel Gaya Mandiri Doyok bisa mengantongi 500 ribu per- minggu.

Usaha Singkong Fermentasi Nata Decasava

Profil Pengusaha Warsinah

 
natadecasava.png
 
Bisnis Nata Decasava jarang dibikin orang. Usaha singkong difermentasi menjadi alternatif bisnis. Ya selain kelapa ada lago yang bisa difermentasi. Ternyata, eh ternyata, selain buah kelapa yang bisa difermentasi adalah ubi- ubian. 
 
Dalam hal ini cassava atau singkong ternyata bisa diolah menjadi apa yang namanya nata de cassava. Ialah dia seorang ibu yang sukses 'menemukan' potensi bisnis ini. Sebuah kudapan hasil olahan dari ampas atau olahan limbah tepung tapioka. 
 
Pernah mencobanya? Mungkin belum sama halnya dengan penulis.
 

Usaha Singkong Fermentasi


Terbuat dari singkong, dari tekstur dan bentuknya, nanti mirip dengan nata de coco; putih dan kenyal gitu. Hanya saja tentu rasanya bukan rasa kelapa tapi rasa singkong. Panganan ini terbuat dari limbah pembuatan tepung tapioka yang diberi fermentasi mikroba acetobacter xylinum.

Warsinah sendiri adalah pengusaha tepung tapioka asal Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, yang mana dikembangkanya sejak Mei 2009. Semuanya berkat bantuan sekelompok mahasiswa asal Universitas Gajah Mada (UGM), mereka yang mengadakan praktik kerja nyata atau KKN di daerahnya. 
 
Pada suatu hari, para mahasiswa KKN tersebut mengajarinya bagaimana mengolah limbah produksi tepungnya. Bagaimana merubahnya menjadi sesuatu yang berguna.

Padahal biasanya limbah itu saya buang begitu saja ungkap Warsinah. Ya, dibuang karena baunya yang tidak sedap dan tidak bisa diapa- apakan lagi, hingga, akhirnya pengusaha generasi ketiga ini menemukan apa yang diberinya nama nata de cassava. 
 
Ini menjadi pemasukan tambahan untuk usaha utama keluarganya. Ia mengaku bisa mengantongi omzet Rp.150.000 per- hari atau sekitar Rp.4,5 juta sebulan.

Disisi lain untuk usaha utamanya menjual tepung menghasilkan Rp.6 juta. Dimana harga jual per- kilo tepung tapiokanya dijual Rp.5.000 per- kg. Lantas bagaimana cara pengolahannya? Cara pembuatan produk ini sebenarnya sangatlah mudah. 
 
Hanya saja, waktu pembuatannya bisa dibilang cukup lama, yaitu butuh waktu selama enam hari. Di hari pertama, limbah cairan tapioka direbus bersama ampas singkong. Hari kedua rebusan itu disaring dan dimasukan kedalam nampan. 
 
Pada hari berikutnya atau hari ketiga masukan bibit ke dalam air ampas. Cairan tersebut maka akan berubah menjadi nata setelah hari ke lima atau enam. Karena bisnis utama Warsinah mengolah tepung. Maka usaha pembuatan nata de cassava dilakukanya setiap hari.
 
Setiap hari 250 liter air limbah tapioka akan diubah menjadi 150 lembar nata yang kemudian disimpan di nampan khusus. Harga jualnya tegolong miring yaitu Rp.1.000 per- nampan. "Saya jual ke seorang penadah di Bantul," pungkasnya. Kisah nenek 63 tahun ini patutlah kita contoh apalagi bagi kita yang tengah menggapai pangkat pengusaha.

Respon pasarnya positif tak jarang membuatnya kualahan. Pesanan penadah tersebut terkadang lebih besar dari apa yang bisa dihasilkannya. Warsinah mengaku modal yang dikeluarkan cuma Rp.35 juta. Dana ini ia gunakan untuk membeli 30 lusin nampan dan peralatan lain. 
 
"Uangnya dari uang tabungan dan dari pinjaman bank," tuturnya.

Sebagai tambahan untuk penyajian hendaknya direbus dua kali. Selepas Warsinah memotong- motong kecil natanya lantas direbusnya dua kali dengan air berbeda. Tujuannya agar nata benar- benar bersih dan bau bibit natanya hilang. 
 
Setelah itu kamu cukup merebusnya dengan air gula merah ataupun air sirup. Warsinah sendiri mengaku tidak takut kekurangan bahan baku. Pasalnya di daerahnya tersebut merupakan sentral penghasil singkong. Untuk harga singkongnya dijual Rp.700 per- kilogram. 
 
Tentu saja ini patut diperhitungkan dalam rencana bisnis kamu. Kendala utamanya ada pada musim hujan. Dimana jika kamu tak telaten menyelimuti proses fermentasinya maka akan tumbuh jamur merusak. Disarankan oleh ibu tiga anak ini bahwa baiknya disimpan di suhu 30- 31 derajat celcius.

Jualan Kata- Kata Lucu Pengusaha Roy Christian

Profil Pengusaha Roy Christian 

 
jualankata.png
 
Dia cuma jualan kata- kata lucu. Pengusaha Roy Christian kreatif dan mampu mengemasnya dalam sebuah keunikan. Tak disangka dari hal- hal sepele seperti souvenir bisa jadi untung. Kisah kali ini datang dari seorang pria bernama Roy Christian asal Bali. 
 
Dia memulai dari bisnis souvenir biasa di Pulau Dewata. Lambat laun arahnya berubah menjadi aneka souvenir yang bertuliskan aneka kata- kata menarik. Sebuah bisnis yang dikenal sebagai vintage art dimana melalui media papan kayu Roy akan menulis kata.
 

Bisnis Kata- Kata


Bukan cuma kata- kata bijak tapi kata- kata seperti meme. Dipilihnya pulau Bali karena pasarnya yang luas dari lokal sampai internasional. Apalagi bisnisny tersebut masih awam buat masyarakat Indonesia sendiri. Justru jadi berbeda ketika dipasarkan kepada turis- turis asing. Hasilnya?

Menurut pengakuan Roy dirinya mampu menjual hingga ke luar negeri. Pasarnya 100% ekspor dimana kamu akan menemukan banyak kata- kata berbahasa Inggris. Isinya dari mengkiritisi gaya hidup orang barat juga sampai ke gaya hidup orang Indonesia sendiri. 
 
Kesemuanya bersifat vintage dimana ditulis dan dilukis tangan saja. 

"Kita ekspor ke Eropa, Jerman, Italia, Afrika, Korsel sama AS. Semua vintage. Bahkan sebelum krisis ekonomi Eropa, pasar kita 100% ekspor," kata Roy kepada Detik.com.

Adapun kata- katanya seperti Shopping is Cheaper than Therapy atau Work Hard Stay Humble, yang mana jika diartikan bukan sekedar kata- kata. Penggunaan bentuk huruf pun diperhatikan betul. Seperti layaknya tulisan diatas Microsoft Office ada berbentu tulisan Inggris kuno.dll. 
 
Setiap tulisanya selain lucu juga punya nilai- nilai moral. Tak cuma berbahasa Inggris ada pula kata Senggol Bacok atau Kalem Wae Aku Rakpopo. Untuk tiap kata bisa dijual Rp.20.000 sampai Rp.200.000.

Bermodal koneksi internet penjualan usaha bernama Baliluna bisa menyebar. Omzetnya sendiri berbeda- beda tiap bulannya. Tapi Roy sendiri sudah mampu mempekerjakan 60 karyawan. Menurut Maxmanroe itu bisa menghasilkan omzet 200 juta. 
 
Soal pengalaman buruk seperti apa sepanjang perjalanan bisnis. Roy mengaku pernah ditipu adapula masa sepi order.

Sayangnya, krisis ekonomi di Eropa sedikit merubah arah bisnisnya. Disebutkan sebelum kritis omzetnya bisa tembuh ke puncak tertinggi tapi kini... Ia pun segera banting stir menyasar pasar lokal melalui aneka kata- kata lucu dan unik berbahasa lokal atau daerah. 
 
Bahkan targetnya adalah 60% untuk pasar lokal untuk sekarang ini. Ketergantungan akan satu importir asal Eropa nampaknya perlu kamu perhatiakan. Jika kamu mau berbisnis semacam ini bisa menjadi catatan tersendiri.

Kunci sukses Roy adalah bisnis berani ambil resiko. Berani untuk mencoba dan menjadi berbeda. Penulis sendiri mengartikan tersebut bahwa mungkin akan dianggap gila. Dia juga mengumpamakan dari kata- kata seorang bule. 
 
Jika dia menjual yang itu, maka si bule, tak akan mau menjual yang sama. Menunjukan bahwa originalitas sangat diperlukan dalam berbisnis. Menjadi satu yang berbeda akan menghantarkan kamu ke pasar khusus.

Penyandang Disabilitas Usaha Miniatur Kapal

Profil Pengusaha Sukses Rianto

 

penyandangdisabilitas.png
 

Penyandang disabilitas memang serba susah mencari rejeki. Tetapi ia membuktikan mampu usaha minatur kapal, dan sukses. Kisah pria bernama Rianto tidak mau berputus asa. Rianto tidak pula mau mengharap belas kasih. 

 

M. Rianto, 28 tahun, mengalami kekurangan pada kaki hingga dibantu tongkat penyangga. Rianto membuktikan bahwa kita bisa berkarya. Pengusah asal Keluarahan Kalianyar, Kecamatan Bangil, yang memulai kesuksesan berkat ketrampilan. Berkat kreatifitas serta kerja keras membangun usaha. 

 

Pengusaha Mandiri

 

Dia merintis usaha semenjak setahun silam. Sudah dilirik pasar karya- karyanya mulai diminati masyarakat. Dia mendapat banyak pesanan. Pesanan dari Surabaya, kemudian datang dari Jember, Bali, Tangerang dan Jakarta. Bahan usaha miniatur kapal terbuat dari kayu waru diamplas.


Ide kreatif datang ketika Rianto nonton televisi. Tertarik melihat kapal- kapal besar di layar televisi. Ia menjadikan itu kapal kecil. Puluhan kali dia gagal membuat tetapi tidak putus asa. Rianto bangkit dan mampu membuat miniatur. 

 

"Awalnya hanya untuk pajangan di rumah," tutur pria yang pernah bekerja di pabrik roti. Lambat laun, karyanya dilirik orang, karyanya diminati sampai dipesan orang. Kemudian makin banyak orang yang membeli. Usaha miniatur kapal Rianto berkembang semenjak tersebut.


Penyandang disabilitas harus memakai tongkat ketika berjalan. Namun tangannya terampil mulai dari memotong kayu, mengamplas, sampai mengecat. Dia lakukan sendiri. Bisnis kerajinan mengalirkan rejeki diluar dugaan.


Tahap begini bukanlah perkara mudah digapai. Kini dia mungkin memiliki omzet jutaan rupiah. Tapi dia dulu pernah gagal bikin miniatur rumah. Kemudian Rianto memulai usaha miniatur kapal. Uang modalnya Rp.1,5 jutaan, pertama kali dia membuat cuma 2 kapal.


"Alhamdulillah keduanya laku hingga saya semakin bersemangat," tuturnya. Semenjak tersebut, Rianto makin bersemangat membuat banyak kapal. Dicarinya bahan kayu bekas atau limbah disulap menjadi bagian- bagian kapal.


Nanti miniaturnya dijual antara Rp.200- 700 ribu. Kini Rianto mempekerjakan dua karyawan. Hebat pengusaha disabilitas membuka lapangan pekerjaan. Kedepan dia akan terus kembangkan usaha ini hingga sampai keluar negeri, dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.


"Saya punya tekad membuka lapangan pekerjaan yang luas," ia bercerita kepada Detik.com. Ada keterbatasan alat membuatnya sulit. Tapi ia berjanji akan tetap semangat.


Awal kenapa dia penyandang disabilitas bermula ketika sekolah dasar. Bahwa ketika kelas 1 SD, dia menderita demam tinggi, hingga orang tuanya membawa ke mantri di Sidoarjo. Bukannya sembuh kaki Rianto malah mengempis tidak tumbuh. "Katanya saya menderita polio," ujarnya.


Ia mengenang semenjak kecil dia senang berkarya. Rianto senang mengerjakan sesuatu orang tidak bisa. Kerajinan minatur kapal seperti kapal Pinisi Dewa Ruci tidak ada. Bisa dibilang Rianto menjadi satu- satunya pengrajin di Blitar.


Memiliki nilai seni tinggi membuat miniatur kapal Rianto diburu. Bahkan dikirim sampai ke Jerman dan hasilkan banyak uang. Rianto bisa membangun rumah sampai menguliahkan anak. Itu dikarenakan memang sukar jarang ditekuni.


Dia kagum melihat kemegahan kapal berjajar ditepi. Bertambah ketika Rianto berkunjung ke Nusa Tenggara. Dia kagum melihat kapal Pinisi berlabuh di dermaga. 

 

"Lalu saya berpikir nanti di rumah saya harus membuat kapal seperti itu. Kalau tidak bisa minimal miniaturnya," ujarnya kepada Jatimtimes.com. Dia mengenang waktu pertama kali, dirinya masih di rumah kecil lamanya dan harus mengalah ketika membuat miniatur.


Dia terpaksa membuat miniatur di depan rumah. Tetapi justru dilirik orang ingin membeli kapal buatan Rianto. Rumah kecil tersebut suatu ketika dikunjungi pria bule asal Jerman. Ia ingin oleh- oleh. Dan dia melihat bahwa Rianto mampu membuat miniatur Pinisi.


Katanya sih dia memiliki nenek moyang pembuat kapal tersebut. Dia lantas memesan 100 buah. Ini menjadi cikal usaha miniatur kapalnya berkembang. Berkat pesanan sampai ke Jerman membuatnya mampu membangun rumah.


Dia mampu membangun galeri. Rianto membeli mesin bubut kayu dan peralatan kerajinan. Menurut Rianto memang proses pembuatan miniatur kapal susah. Proses pembuatan membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Sebab namanya miniatur harus sama dengan aslinya kan.


Miniatur lengkap dengan layar, tali- talinya, detail kapal, dan masin- mesinya harus persis asli. "Sulit buatnya terutama bagian layar. Bagian lainnya saya suruhkan pekerja saya tapi khusus layarnya saya yang buat," lanjut Rianto. Dan bila kualitas menurun tidak sempurna maka akan mengurangi pasaran.


Harga dipatok antara Rp.500- Rp.800.000 tergantung bahan. Bahkan dia menjualnya sampai Rp.5 juta dengan kedetailan kapal mirip asli. Rianto cukup menjualnya di rumah. Atau dia berjualan melalui sosial media. Kalau senggang ia tak segan menawarkan langsung produknya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba