Sejarah Aqua Pengusaha Tirto Utomo Dianggap Gila

Biografi Pengusaha Tirto Utomo

 

tirtoutomo.png
 

Dulu pengusaha Tirto Utomo dianggap gila. Sekarang, dalam sejarah Aqua, menjadi yang pertama dalam bisnis air minum dalam kemasan ( AMDK). Kalau orang mau membeli minuman kemasan, maka nama pertama kali muncul adalah Aqua, apapun mereknya orang bahkan menyebut nama Aqua.


Tirto merupakan warga Wonosobo, pernah menjadi pegawai di perusahaan plat merah. Dia dulu bekerja di Pertamina. Awal tahun 1970 -an, Tirto diberikan tugas menyuguh tamu delegasi dari perusahaan besar asal Amerika Serikat.


Delegasi perusahaan asing yang membawa lengkap istrinya. Mereka dijamu makanan, juga minuman termasuk minum air putih rebusan. Ternyata istri delegasi malah menderita diare setelah kunjungan karena bakteri. Usut- punya usut orang asing tidak terbiasan minum air rebusan.


Air Minum Kemasan

 

Mereka sudah terbiasa minum air sterilisasi. Jamannya memang minuman steril belum diadaptasi di Indonesia. Ia kemudian menemukan ide bisnis AMDK. Dia lantas mengajak saudara- saudaranya bergabung. Tirto memulai langkah lewat mengirim saudaranya sampai Thailand.


Di Thailand, terdapat perusahaan minuman kemasan yang berdiri sejak 16 tahun. Adiknya, Slamet Utomo diminta bekerja di Polaris. Bisa dibilang Aqua "meniru" produk asing bernama Polaris asal Thailand tersebut. 

 

Dari kemasan bening, kemasan berbahan kaca, sampai desain warna menyerupai. Tidak cuma segi desain tetapi pengolahan air, sterilisasi air, kesemuanya "meniru" Polaris. Tujuan adiknya masuk ialah mempalajari semua proses produksi sampai pengemasan.


Dari sebuah ruang tamu sederhana yang memiliki tiga lemari kayu. Di sana terdapat berbagai macam produk awal Aqua. Terdapat meja bundar kecil untuk rapat, dan meja kerja sederhana, yang merupakan tempat pengusaha Tirto Utomo memimpin lahirnya Aqua pada 1973.


"Meja ini merupakan meja yang digunakan pendiri," terang Willy Sidharta, Direktur Utama PT. Aqua Golden Missisippi Tbk.

 

Tirto menemukan cara kerja pembuatan air minum kemasan. Selepasnya dia membangun pabrik di kawasan Pondok Ungu, Bekasi, dan menamainya Golden Missisippi. Pabrik sebesar enam juta liter per- tahun. Target pasarnya ialah dia menjual ke ekspatriat alias orang asing yang disini.


Bagi orang Indonesia namanya Golden Missisippi terdengar asing. Konsultan bisnisnya, Eulindra Lim, yang manamai nama Aqua buat produk minuman ini. Namanya dianggap sesuai atas image minuman tengah dibangun. Nama enak dilafal dibanding nama sebelumnya Puriritas milik Tirto.


Mengapa pengusaha Tirto Utomo dianggap gila. Lantaran sejarahnya Aqua pertama kali dijual seharga Rp.75. Dan harganya dua kali lipat harga bensi dijaman tersebut Rp.25. Gila masyarakat disuruh buat membeli air putih botolan ukuran 950 ml segitu, dibandingkan 1000 ml bensin.


Air minum kemasan dimasa Tirto belum ada. Hingga ia meyakini minumannya akan mudah laku. Dia nekat keluar dari pekerjaanya di Pertamina, pada 1982. Di tahun sama, Tirto merubah sumber airnya dari mata air bor ke air pegunungan yang mengalir sendiri (self- flowing spring).


Tirto menyadari bahwa air pegunungan mengandung nutrisi seperti kalsium, magensiun, potasium, zat besi, dan sodhium. Dia dibantu orang hebat bernama Willy Sidharta, teknisi yang menciptakan mesin pabrik pertama Aqua, sembari memperbaiki sistem distribusi.


Tirto nekat membangun bisnis air minum kemasan. Idenya dianggap gila menjual air putih lebih mahal dari bensin. Pada Oktober 1977, dia mengumpulkan seluruh pegawai Golden Missisippi, sejak pertama kali jualan air di 1 Oktober 1974, usahanya tidak kunjung untung.


Dia mengajak mereka ke Restoran Oasis miliknya, di kawasan Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat. Saat itu karyawan pertamanya, Willy Sidharta, menceritakan bagaimana keputusan sulit buat melanjutkan usaha. Willy mengatakan bahwa Tirto sudah banyak "menalangi" usaha ini.


"Sekitar Rp.5- 6 juta tiap bulan," Willy menyebut angka Tirto keluarga. Uang tersebut digunakan buat produksi sampai gaji. Sembari Tirto menjelaskan keadaan keuangan Aqua. Ia juga mengajak karyawan lebih giat menjual Aqua.


Bagi Willy pabrik Aqua sudah menjadi rumah sendiri. Dia memboyong anak- istri buat tinggal di sekitaran pabrik Aqua. Willy juga bekerja siang- malam ingin berjuang. Bahkan disaat itu, mesin- mesin Aqua menganggur, sudah banyak air diproduksi namun belum menghasilkan penjualan.


Maka Willy turun ikut membantu Tirto berjualan air. Menyitiri sendiri mobil Mitsubishi milik Aqua, ia dan Tirto Utomo menawarkan air dari kampung ke kampung. Semula Willy tak percaya kalau orang Jakarta tak mau membeli.


Bahkan buat membuktikan dia memberikan gratis. "Kami berikan contoh gratis untuk orang mencoba pun orang- orang tetap tak mau," terangnya kepada Detik.com.


Menurut Salim, pegawai produksi yang sekarang Supervisor water treatment, merasakan betul tak ada orang membeli Aqua. Pembeli adalah orang asing, bahkan masyarakat kelas menengah juga tak mau membeli air putih dikemas ini.


Salim yang bekerja di produksi sampai merangkap penjualan. Tak ada warga Jakarta terbiasa dan mau membeli "air putih". "Waktu itu kan air dari sumur masih bagus," terang Salim. Ia yang mebawa 75 krat cuma laku 5 krat seharian.

 

Pembeli masih dilingkungan orang asing dan orang kaya Jakarta. "Orang- orang belum percaya pada Aqua," kenang Salim. Walau pegawai Aqua gagal, mereka tidak mampu memenuhi keinginan sang pendiri; mereka belum menyerah.


Tirto memang bukan tipikal pengusaha. Dia turun sendiri menjual Aqua. Maka ketika gagal, ia lebih memilih mendiskusikan kembali mau bagaimana. Tirto kemudian mematik cerutunya. Asapnya lalu mengepul memenuhi ruangan mereka berdiskusi.


Prinsipnya adalah kalau jualan terlalu murah malah curiga. Pembeli malah mencurigai kualitas isi air kemasan. Kalau dibanding produk sejenis diluar negeri harganya jauh lebih mahal. Air botolan 950 ml dijual Rp.350 dibanding Aqua Rp.75.


Keputusan menaikan harga menyentuh harga pasarannya malah bagus. Kepercayaan masyarakat malah meningkat. Aneh memang. Keputusan Desember 1977, menaikan harga tiga kali lipat, malah membuat pendapatan meningkat bahkan grafiknya makin naik.


Pasarnya menyebar sampai ekspatriat Jepang. Pada 1970- an, Aqua dibeli orang lokal, dan pada tahun 1980 -an, Aqua telah membukukan untung bahkan penjualan diatas ekspatriat. Ini sejalan dengan mulai memburuknya kualitas air Ibu Kota.


Era 1975, kebutuhan air minum rumah tangga meningkat, maka Aqua menyuguhkan konsep air galon pertama kalinya. Belum punya galon tetapi memakai tabung mirip es putar. Air pun dikirimkan lewat truk air langsung ke pelanggan buat isi ulang.


Tabung air dingin tersebut sempat mengalami kendala. Yakni salah satunya tabung yang dipasang di Citibank dikrumuni semut. Maka Aqua berinisiatif mengganti bukan plastik tapi kaca. Dulu belum ada tabung plastik, tetapi ada tabung kaca bekas cuka yang tutupnya cari sendiri.

 

Willy mengingat mereka membersihkan tabung kaca sendiri. Manual mereka pakai air panas buat mengocok tabung sampai bersih. Mereka membeli tabung cuka bekas di pasar loak. Willy dan kawan berkeliling sampai ke pasar Glodok Lama.

 

Ternyata mengerjakan galon gelas sangat sulit dicuci. Willy mengenang dirinya pernah mengantar 200 galon kaca ke Cilegon, sekarang Provinsi Banten. Dan ternyata, air sebanyak itu malah akan digunakan buat mengisi kolam renang. 

 

Di tahun 1980, Aqua beralih galon plastik walau merelakan impor dari luar negeri. Hingga di tahun 1984, perusahaan memilih memproduksi galon plastik sendiri di Bekasi, dan merupakan satu- satunya perusahaan galon air. Persaiangan pertama datang ketika PT. Santa Rosa Indonesia pada 1984. 

 

Walau sekarang sudah banyak merek pesaing Aqua berjaya. Pada tahun 2014, Aqua memproduksi 11 miliar liter air yang merupakan merek terbesar diantara milik Danone, dimana perusahaan Prancis tersebut menguasai mayoritas saham sejak 2011.

 

 

Aqua menjadi satu- satunya produsen memenuhi kebutuhan pasar. Mereka ditunjuk menjadi penyedia air minum kelas menengah atas, baik dari rumah tangga, perkantoran dan restoran. Pada 1981, Aqua telah memiliki kemasan plastik sendiri aneka bentuk dan ukuran.


Tetapi mereka masih memakai bahan tidak ramah lingkungan PVC. Sejalannya waktu memakai bahan plastik PET. Aneka kemasan plastik dan ukuran membuat rantai distribusi lebih mudah. Plastik juga membantu Aqua menyesuaikan harga lebih baik.


Pabrik Aqua menjadi satu- satunya penyedia produksi in line. Dari pemrosesan air sampai kemasan dilakukan bersama di Mekarsari. Begitu pula mengembangkan proses isi ulang, pembersihan botol dilakukan sendiri, dan ujungnya produksi menjadi higenis.


"Dulu bukan main sulitnya. Dikasih saja orang tidak mau. Untuk apa minum air mentah," ucap Willy, menceritakan kenapa pengusaha Tirto Utomo dianggap gila.


Orang masih kepikiran prosesnya layaknya memasukan air keran. Aqua menurut mereka tinggal stel air keran ke dalam botol. Padahal banyak tantangan mulai dari menciptakan air terbaik. Memastikan kemasan terbaik dan menyampaikannya ke konsumen.


Sejarah Aqua


Dibesarkan orang tua yang pengusaha susu sapi, pedagang, dan peternak, Tirto merupakan anak biasa kelahiran Wonosobo, 8 Maret 1930, Jawa Tengah. Dalam biografi Tirto Utomo, ketika masih anak harus berangkat sekolah jauh ke Magelang atau 60 km, karena di Wonosobo tak ada SMP.


Perjalanan sekolah ditempuhnya memakai sepeda. Ketika SMA, Tirto masuk ke HBS atau setingkat SMA di jaman Hindia Belanda di Semarang kemudian Malang. Masa remajanya dihabiskan di Malang dan betemu Lisa atau Kienke (Kwee Gwat Kien), yang kelak jadi istrinya.


Tirto habiskan waktu kuliah dengan menjadi wartawan Jawa Pos. Ia dikhusukan memberitakan berita dari peradilan. Kemudian Tirto pindah ke Jakarta, dirinya bekerja buat Majalah Sin Podan dan Majalah Pantja Warna.


Tahun 1995, dia yang sudah menikah diperhentikan redaksi Mahalah Sin Po. Dia kehilangan sumber pendapatan. Maka istrinya Lisa membantu kebutuhan keluarga lewat bekerja. Lisa menjadi pengajar dan membuka katering.


Tirto lantas ikut membantu istrinya bukan bekerja. Kedaan tersebut berlangsung sampai Tirto lulus dari Universitas Indonesia. Tirto merupakan Sarjana Hukum UI. Hingga Oktober 1960, berbekal ijasah hukumnya, Tirto Utomo mendapat pekerjaan di Pertamina itu.


Kemampuan Tirto diakui sampai menjadi Deputy Head Legal and Foreign Marketing. Alhasil dia banyak bekerja keluar negeri. Berkat keluar negeri pandangnya sangat luas. Puncaknya, ketika dia memilih berhenti bekerja dan menjadi pengusaha.


Usut- punya usut bahwa Aqua bukanlah usaha tunggal. Tirto juga merupakan pemilik PT. Baja Putih dan Restoran Oasis. Namun ia nampaknya lebih bersemangat membangun Aqua. Tirto merupakan sosok murah senyum, ramah, cerdas, dan berpenampilan sederhana.


Aqua yang sukses membangun kemasan makin moncer. Mereka sampai melayani pengiriman keluar negeri. Aqua sudah ekspor sampai Singapura, Malaysia, Australia, Maldives, Fuji, Timur Tengah, dan Afrika.


Pada tahun 1998, usahanya ketat dan muncul persaingan- persaingan baru. Lisa Tirto, merupakan putri Almarhum Tirto Utomo, pemilik Aqua Golden Missisipi memilih melepaskan saham. Lisa menjual saham mayoritasnya kepada Danone pada 4 September 1998.


Ini dianggap keputusan tepat olah pengamat buat pengembangan. Mereka anggap Aqua tidak akan selamat menghadapi pesaing baru. Berkat Danone maka kualitas Aqua menjadi meningkat. Mereka sudah memiliki pengalaman menangani perusahaan AMDK.


Tahun 2000, ketika pergantian milenia, mereka mengeluarkan produk Danone- Aqua. Dan sampai sekarang perusahaan Aqua menjadi terbesar se- Indonesia. Mereka merupakan produsen air minum tertua sekaligus terbesar.


Nama Tirto Utomo mendapat penghargaan Hall of Fame Pencetus Air Minum Kemasan. Menurut survei Zenith International, bahwa Aqua menjadi produsen air minum terbesar se- Asia Pasific, dan menjadi nomor dua sedunia.

Franchise Toko Elektronik Pengusaha Tan Eliezar

Profil Pengusaha Tan Eliezer

 
 
Pernah mendengar franchise toko elektroni. Inilah kisah pengusaha Tan Eliezer menemukan kunci. Ia menemukan bahwa bisnis properti tak ada matinya. Meski kedaan ekonomi tengah tak menentu, ya properti masih akan terus diminati. 
 
Pertumbuhan properti sejalan dengan penggunaan alat- alat elektronik. Itulah apa yang tengah dibidik seorang Tan Eliezar, pengusaha sukses dibidang elektrik, anek produk elektronik. Melalui bendera usaha PT. Cakrasemesta Abadi Sejahtera, menawarkan konsep bisnis baru bisnis waralaba elektrik.
 

Rahasia Pengusaha


Dia menawarkan waralaba atau franchise aneka produk elektrik. Konsepnya sih one stop shoping, dimana ada Toserba Elektrik yang kita jalankan. Nanti franchisor, kita akan disuplai aneka kebutuhan elektrik dari pusatnya. Bedanya PT. Cakrasemesta merupakan suplier besar. 
 
Jadilah jika kita jadi bagian didalamnya kita bisa mengakomodir permintaan besar sekalipun. Praktis tinggal kita menyiapkan diri bagiamana kita untuk mempromosikan. Ternyata mengembangkan bisnis franchise toko elektronik memungkinkan.


Tan juga menjelaskan fokusnya tidak hanya meretail pada pewaralaba. Ia juga fokus memperkenalkan pada para kontraktor besar dan memberikan fasilitas suplier- kontraktor. Seperti dikutip dari profilnya di halaman ciputraentrepreneurship.com, dengan kekuatan jaringan perusahaan miliknya. 
 
Maka tidak hanya promosi ke pelanggan tapi juga menjemput bola ke para kontraktor. Fakta bahwa kebutuhan aneka produk elektrik memang tinggi. Pemenuhan kebutuhan bisa saja kita semua lakukan tanpa ribet mencari suplier. Kira- kira begitu konsep Toserba Elektrik sebenarnya. 
 
Perlu diketahui jika franchise unik satu ini tidak hanya menjual lampu loh. Adanya produk elektronik lengkap setidaknya bisa mendukung kualitas para franchisor. Sebut saja adanya produk listrik umum, lightning, perlengkapan, pompa, stabilizer USP, ganset bahkan CCTV!

Tan memang menyebutnya toko serba ada dan memang itulah adanya. Toko kelontong elektronik yang terus mendapatkan suport, menjadikan usaha kita lengkap. Dia kemudian menjelaskan tak hanya produk lokal tapi juga produk impor. 
 
Toserba Elektrik menjual perangkat dari China, Jerman, Italia, Amerika. Bahkan, kata Tan, pembeli ditempat kita bisa memesan khusus produk dari mana. Toserba Elektrik akan menawarkan apa saja termasuk instalasi litrik dan perakitan panel listrik.

Kisah awalnya bisnis ini dikelalo Tan pada 1995. Sebuah perusahaan dagang, dimana dijalannya ia sadar ada satu usaha yang berumur panjang, yaitu bisnis elektrik. Tentu dibanding dengan bisnis kuliner dimana banyak kuliner baru bermunculan. 
 
Dan beruntungnya Tan punya berbackground karyawan perusahaan suplier elektronik. Dia mepunyai banyak relasi kontraktor maupun penyalur elektronik lain. Ia pun tak segan berbagai bagaimana sukses bisnisnya. 
 
Dia menyebut hal pertama yang dilakukannya ialah membangun kepercayaan dan brand image. Semuanya, Tan melanjutkan, tidak hanya kepada para kontraktor tapi juga mitranya. Dia juga harus membangun kepercayaan diri dan brand itu dalam dirinya sendiri. 
 
Dia juga memberikan beragam kemudahan, tentu itu semua agar mereka percaya kepadanya.

"Mulai dari soal kemudahan pembayaran, hingga soal kwalitas barang elektronik yang saya suplai bagi mitra atau konsumen saya," ungkapnya.

Program franchise dimulai tepat di 1 Februari 2011. Tan mengaku optimis tentang usaha franchise unik ini. Ia yakin Toserba Elektrik akan dilirik orang. Adanya tiga paket investasi yang perlu diketahui menurutnya. Yaitu pertama, dia menawarkan paket silver investasinya Rp 200 juta. 
 
Kedua, paket Gold total investasi Rp 250 juta; dan ketiga, yang terakhir paket Diamond investasinya Rp 350 juta. Selain ketiga paket tersebut, Toserba Elektronik juga coba menawarkan bentuk investasi yang terbaru yaitu bernilai Rp 23 juta.

Toserba Elektronik merangkul calon- calon pebisnis baru yang tertarik. Dan hebatnya, dengan berani ia dan Toserba Elektronik miliknya menjanjikan mitra bisa balik modal selama dua bulan. Nah, disinilah ada kelebihan, dimana Toserba Elektrik akan memperkenalkan mitra dengan pihak kotrakator. 
 
Itunganya, misalnya, ada 25 kotraktor mekanikal, dan juga ada 25 kotraktor sipil. Ia menjelaskan satu kotraktor bisa saja belanja 5 juta perbulan, itu belum ditambah penjualan retailnya. 
 
"Jika setiap bulan satu kontraktor belanja Rp 5 juta saja, itu ditambah dengan penjualan retail, kami bisa perkirakan keuntungan yang bisa didapat Rp 280 juta. 
 
"Itupun jika kita pakai perkiraan pembelian kontraktor tidak besar, karena biasanya satu kontraktor saja bisa belanja hingga puluhan juta rupiah," ujar Tan Eliezar lagi.

Sukses franchise unik Toserba Elektrik sukses dari Jakarta, Riau, hingga ke Papua. Targetnya menjadikan bisnisnya sukses merangkul 100 orang mitra. Sebagai seorang entrepreneur, Tan Eliezar sadar, bisnisnya ini tergolong baru di Indonesia. 
 
Namun jika dilihat punya nilai dimana uniknya itu bisa dijadikan franchise. Tan sangat optimis bisa membantu banyak pebisnis. Dia berharap usahanya kian berkembang dan bisa dijadikan pilihan bisnis jangka panjang.

Kisah Korban Tsunami Bangkit Wirausaha Roti

Profil Pengusaha Nelly Nurila

 
korbantsunami.png
 
Kisah korban tsunami ini bangkit wirausaha roti. Nelly memang pengusaha kecil tangguh. Kisahnya menghadapi terjangan Tsunami Aceh patut diapresiasi. Dia tak punya modal apapun. Pengusaha butuh modal besar katanya. 
 
Tapi, Nelly Nurila mampu bangkit hanya bermodal satu mixer. Dia dan mixer itu punya kisah. Kisah pengusaha kecil asal Aceh yang sukses melalui bantuan LSM.

Sepuluh tahun silam, Nelly nyaris menjual satu- satunya mixer besi miliknya selepas tsunami menerjang. Mixer berharga itu menjadi teman, keluarga, dan penolong sekaligus. Namun, dia membataklan niatnya untuk menjual mixer itu. 
 

Korban Tsunami Sukses

 
Sang suami meyakinkan Nelly mixer kecil itu bisa berarti kelak. Mixer itu akan digunakan sebagai bukti untuk mendapatkan bantuan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Ucapan sang suamia terbukti benar. 
 
Waktu itu ada tim dari Bogasari, yang kemudian membantu usaha roti dan kuenya bangkit. Nelly menunjukan mixer itu dan jadilah ia salah satu yang menerima program bantuan.
 
Kisah pun berlanjut, dia mendapatkan bantua dari sejumlah LSM lain pasca tsunami, seperti dari Terres Des Hommes dan CARE. Melalui mereka Nelly mengumpulkan modal membeli alat lain, yaitu oven dan loyang.

Tahun 2007, akhirnya, Nelly berhasil mengumpulkan uang untuk membeli tanah 400 meter. Dan, dibangunlah satu pabrik kecil disana. Awalnya cuma 6 karyawan kala itu kenangnya. Enam pegawai kemudian berubah jadi 70 orang dan menghasilkan 60.000 roti per- hari. 
 
Usaha yang kemudian dikenal dengan nama pabrik roti Nusa Indah. Memiliki pabrik 1.000 meter- persegi setelah sepuluh tahun tsunami. Wirausaha roti bernama Roti Nusa Indah, adalah sebuah pabrik roti yang berproduksi di wilayah Gampong Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Aceh. 
 
Dan, pemiliknya pengusaha bernama Nelly Nurila, perempuan kelahiran 39 tahun silam suka bangkit pasca tsunami memporak-porandakan Aceh, 26 Desember 2004 silam. Dia berkisah, sejak tahun 2001, ia dan suaminya memang memang sudah membuka usaha roti. 
 
Hingga tahun 2003, total ada empat orang karyawan dan berkembang walau keterbatasan. Rotinya kemudian pasarkan di sekitar kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh.
 
 
Namun nasib berkata lain. Kala itu, ketika terjadi tsunami, semua hartanya hilang cuma ada satu mixer itu. Untunglah dia, sang suami dan anaknya selamat, dan mere ereka pun harus tinggal di tenda untuk waktu yang cukup lama. 
 
Setelah lima bulan tsunami dia dan suaminya, Muchlis Ismail (43), mencoba bangkit dengan berjualan nasi Lhoknga Aceh. Ia menjual nasi untuk dijadikan modal membuka usaha roti.

Uang bantuan dari LSM ditambah uang berjualan nasi dikumpulkan. Pada Oktober 2005, Nelly sudah mulai membuat roti sendiri. Saat itu, ia berkisah hanya membuat 2 kilogram tepung. Segalanya serba terbatas tak terbatas pada perlatan tapi juga bahan. 
 
Adanya Bogasari membantunya dengan kebutuhan akan bahan baku roti. Nelly sendiri mengaku tak begitu handal membuat kue, meski bisa.

Dia berkisah di 2001, belajar dari program memasak TVRI. Semuanya dilakukan secara otodidak. Awal- awal tentu ia membuat rotinya tak berbentuk tapi akhirnya bisa. Dan pristiwa tsunami itu datang ketika ia tengah berusaha mandiri. 
 
Awalnya dibagikan gratis ke tetangga, ketika respon positif, ia barulah menjual roti miliknya. Meski baru belajar membuat roti barat, dia sudah dikenal pandai membuat roti basah sekitar 14 tahun. Tapi kisah indah tersebut tak berlaku pada pengusaha lain.

Sebut saja kisah Bakhtiar, seorang penjahit, tidak mendapatkan bantuan apapun! Dia dulu dikenal pernah membuka usaha jahit dimana pendapatannya 70.000 per- hari. Bantuan rehabilitasi yang berupa uang tunai diyakini tidak begitu membantu. 
 
Khususnya untuk Bakhtiar dan beberapa orang lain. Dalam jangka pendek mungkin baik, namun tak akan membantu untuk jangka panjang. Menjadi pengusaha itu berarti akan selalu  fokus pada usahanya dengan segala kreatifitas.

Membuka Usaha Laundry Kiloan di Kampung

Profil Pengusaha Ismail Satriyanto

 
usahalaundry.png
 
Bayangkan membuka usaha laundry kiloann di kampung. Kinibisnis laundry tak hanya menyentuh kota- kota besar. Itulah kenapa kamu perlu berpikir untuk memulai sati usaha ini. Tidak hanya ada di Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau Surabaya, kota kecil seperti Garut, Jawa Barat ada bisnis laundry. 
 
Sebut saja usaha laundry bernama Qu Cuci, yang berbisnis di kota kecil, yang letaknya sekitar 64 km dari Kota Bandung. Jasa laundry kiloan Qu Cuci menjadi pionir Kota Dodol tersebut. Pengusaha itu namanya Ismail Satriyanto, berkisah bahwa Qu Cuci saat itu sangatlah susah.
 

Merintis Usaha Laundry

 
Memulai semuanya dari nol Ismail bersusah payah untuk meyakinkan investor. Dia lantas berkata, menirukan gaya bicara si investor itu, "Mohon maaf Pak Ismail, Garut belum baik untuk berinvestasi, karena usaha- usaha di Garut belum baik." 
 
Tapi nampaknya itu justru menjadi satu motivasi tersendiri bagi Ismail. Kebetulan dia bertemu sosok Ir. Rahman, salah satu pengusaha laundry asal Bandung. Dia akhirnya bisa membangun usaha sendiri. Bisnis yang kemudian diberi nama Qu Cuci. 
 
Kisahnya berlanjut, bisnis yang telah didirikan pada 18 Juli 2006 ini, cuma bermodal mesin cuci rumah seadanya. Adapula motor bekas yang baru lunas, ditambah tiga orang karyawan, semuanya dari nol. Dan, begitu bisnis Qu Cuci dibuka, hasilnya?

Usahanya tak laku. Alias sepi pas hari pertama dibuka. Tak patas semangat, Ismail percaya semua pasti ada jalan keluarnya. Sedikit informasi Qu Cuci berasal dari dua kata "Quality" dan "Utama". Yang artinya bahwa ia sebagai pengusaha laundry harus mengedepankan kualitas.

Pionir usaha laundry asal Garut ini begitu beratnya untuk mempromosikan bisnisnya. Sang pemilik selalu terus mencari cara untuk bisa mempromosikan brand -nya. Semua guna menarik perhatian masyarakat agar ikut mencoba mencucui ditempatnya. 
 
Salah satu yang unik ketika Ismail menggunakan isu politik ke dalam kampanye bisnis. Saat ramai pemilihan bupati, ia ikut menyebarkan foto dirinya tengah bergaya sebagai calon bupati.

Foto- foto tersebut disebarnya, ditempel disetiap penjuru kota dan kecamatan. Dalam fotonya ada tagline yang mengocok perut, "Pendukung Politik Bersih". Namun, jika kamu perhatikan lebih dalam, maka semua foto tersebut adalah iklan bisnis miliknya yaitu Qu Cuci. 
 
Modalnya cuma kertas fotokopian yang lantas diberi tulisan berbau politik. Tidak hanya menjual brand -nya.  Ismail menambahkan sindiran- sindiran intelektual serta mencoba memberikan solusi dengan caranya sendiri. 
 
Tentu ia telah mempertimbakan cara apa bisnisnya bisa dimajukan. Jelas pertama apa yang tengah ia jadikan target merupakan kaum intelek dan orang- orang sukses. Berang tentu mereka yang jadi targetnya. Kalau bukan mereka, siapa mau repot- repot mencuci di laundry begitu kiranya. 
 
Dia menyebut pasarnya kala itu tengah membutuhkan hiburan kritis. Menurutnya lagi cara tersebut disebutnya merupakan cara terunik. Pas momentumnya serta memang sebagai pionir perlu agar diperhatikan banyak orang. 
 
Dan hasilnya, Qu Cuci memiliki branding yang kuat dari segala usahanya diatas. Sampai- samapai ketika Ismail dipanggil untuk menghadiri suatu acara, ada saja orang yang meneriaki taglinenya. "Hidup pendukung politik bersih," begiut kiranya teriakan itu berkumandang.

Jadilah jika masyarakat Garut mengenal politik bersih maka itulah Qu Cuci. Ismail sambil bercanda lantas berka, "Beberapa orang baik di perkotaan atau di kecamatan- kecamatan berdatangan meminta saya mencalonkan diri menjadi Bupati Garut."
 

Strategi Bisnis

 
Loh, bagaimana dengan bisnis Qu Cuci? Apakah membuka usaha laundry kiloan di kampung untung?

Cara branding

Melalui cara tersebut lambat laun usaha miliknya muali dikenal. Dia lantas membuat rencana agar usahanya itu semakin mapan. Saat itu, ia menjelaskan ada 4 strategi yaitu:

1. Memperkuat finansial.

Dia menyebut keuangan lah leadernya, dimana jalannya perusahaan bukan oleh dia sebagai pemilik. Dia menjalaskan semua tentang keuangan lah yang menjadi penentu. Keputusan akan itu ia berani serahkan kepada karyawannya. Tentu dengan pengawasannya. 
 
Ukuran kinerja ia letakan pada bagian bagaimana mempercepat pendapatan bruto atau kotor. Ini cara agar mempercepat pendapatan dengan memaksimalkan aset- aset miliknya.

2. Perkuat pelanggan

Ismail menyebut pelanggan sebagai ujung tombak. Pada bagian ini, karyawan penjualan harus bisa merubah satu jadi dua, dua jadi tiga dan seterusnya. Mereka harus melayani secara memuaskan. Bagian penjualan ini ia pastikan harus membangun opini melalui berbagai cara. 
 
Mereka harus menempelkan leflet hingga 8.000 per- bulan di dinding- dinding. Begitu pula di mobil- mobil. Melalui leflet tersebut Qu Cuci menaruh tagline miliknya "Pendukung Politik Bersih". Adapula kendaraan dengan leflet yang akan berkeliling di Kota Garut.

3. Perkuat produksi

Pada bagian ini kecepatan dan kebersihan cucian harus memuaskan pelanggan. Paket yang ditawarkan tidak berbeda dengan laundry kiloan lain, yaitu: pencucian ekspres dan biasa, adapula Qu Cuci yang menawarkan program pengantaran barang. 
 
Perkilonya setiap cucian dikenakan biaya 7000 plus jasa setrika. Adapula ia menawarkan jasa membersihkan karpet berbiaya 5000 per- meter. Serta adapula untuk jasa bed cover atau selimut seharga 8000 per- satuan.

4. Peketat standarisasi karyawan

Ismail akan melakukan seleksi dan pelatihan salama 3 bulan. Pelatihan itu dilakukan satu kali dalam seminggu yang berupa rapat kordinasi. Setiap rabu akan ada rapat kordinasi setiap staf pimpinan. Setiap jum'at nanti ada kordinasi rapat staf bagian produksi dan admin. Lalu setiap seminggu sekali ada rapat untuk staf bagian pemasaran dan anggotanya untuk program promosi.

Ismail tak segan mengajak mereka berekreasi jika omzetnya bertambah.

Setelah bersabar dan menggunakan cara seunik mungkin untuk berpromosi, akhirnya, Ismail mereguk kata sukses itu sendiri. 
 
Dia lah pengusaha sukses bisnis laundry, menghasilkan 10 cabang yang telah tersebar di Kabupaten Garut, antaranya ada yang di  Ciledug, Kerkop, Pasawahan, Leles, Kadungora, Karangpawitan, Cibatu, Banyuresmi, Bayongbong dan di Cikajang. 
 
Dari kesemua cabangnya plus pusatnya yang ada di Jalan Purnawarman No.37, Ismail mengantongi omzet 40- 50 juta.

Pengusaha Ina Cookies Biografi Ina Wiyandini

Biografi Pengusaha Ina Wiyandini

 

inacookies.png
 
Pengusaha Ina Cookies bukan usaha musiman.  Biografi Ina Wiyandini, wanita berhijab asal Bojong Koneng Atas, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini, memang dikenal akan sifatnya yang ramah. Senang berbagi kisah suksesnya kepada orang banyak. 
 
Ditemui di rumahnya, Hj. Rr. Ina Wiyandini, bersemangat ketika menemui rombongan asal Malaysia di tempat usahanya. Segala pengalaman dia beberkan tanpa ditutupi.

Mulai begaimana wanita ini memulai bisnis dari angka nol. Sempai pada kiat menghadapi persoalan bisnis. Dia adalah pemilik kue kering Ina Cookies. Sebuah perusahaan kue keringa terkenal. Pengusaha wanita kelahiran Jakarta, 24 Juli 1963, sudahlah mendapatkan banyak penghargaan.
 

Bisnis Musiman

 
Pada tahun 1992, Ina sudahlah memulai kerajaan bisnisnya dengan Ina Cookies. Pengalaman jatuh bangun bisnis telah dilaluinya, dari usaha berjualan jahe gajah, usaha perkebunan vanili, hingga jual beli rumah.

Namun, pada bisnis kulinerlah, usahanya kini berkembang dan bercabang tidak hanya di bisnis kue kering. Ia memang memiliki banyak energi tak terbatas untuk berbisnis. Layaknya pengusaha lain, ia selalu berinovasi dengan bisnis miliknya. 
 
Ina mampu menciptakan produk dari tahu, tempe, rosella, green tea, jamur, tepung ubi, singkong, tapung ganyong, dan tepung pisang. Kesemuanya dapat diolahnya jadi aneka kue kering. Menakjubkan.

Ina mampu mengkreasikan olahan murah meriah jadi kaya rasa. Semuanya Ina lakukan guna membantu para petani. Usahanya berbasis bahan pertanian lokal. Dia menyebut bahwasanya bangsa Indonesia itu punya masalah. 
 
Masalahnya ialah pada bahan pangan, dimana para petani selalu mengeluh. Suatu hari Ina ketika jadi pembicara di sebuah seminar, ada seorang ibu petani datang. Ia lantas mengeluh kepada Ina tentang harga tepung ubi singkong. Ia lantas membantunya membuat produk kue enak.

Eh, ternyata kue itu laris- manis hingga banyak ibu tani berdatangan. Dari pristiwa diatas produk kue Ina menjadi semacam problem solving. Tak hanya mengambil untung, Ina tetap foku bagaimana agar produk lokal berjaya. Khususnya apa yang dihasilkan para petani. 
 
Oleh karena Kepedulian itulah ia mendapatkan penghargaan dari Menteri Perdagangan RI saat itu. Ibu Menteri Mari Elka Pangestu lantas memberinya penghargaan Pangan Award 2010. Ina dianggap mengembalikan kejayaan para petani melalui aneka kue kering buatannya.

Tangan Ina yang mampu mengolah anek kue kering. Dari usahanya tersebut mampu memberikan optimis para petani. Produk olahan yang berkualitas miliknya menghasilkan nilai ekonomis tinggi. 
 
Selain itu, ia juga tercatat mendapatkan penghargaan Best Women Entrepreneur 2008 dari Ikatan Pembauran dan Pengusaha Indonesia (IPPI) yang diberikan langsung oleh istri Wakil Presiden Indonesia saat itu, Hj. Mufidah Jusuf Kalla, dihadapan ribuan pengusaha lain.

Penghargaan diatas ditujukan bagi pengusaha yang sudah berbisnis lebih dari 10 tahun. Usahanya itu haruslah dimulai dari nol, memiliki lebih dari 100 karyawan, kreatif dan berinovasi tinggi, memiliki kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat baik. 
 
Serta barulah sering menjadi pembicara di berbagai seminar. Itu semuanya ada pada sosok Ina Wiyandini. "Wah saya waktu itu tidak percaya. Perasaan saya kan biasa-biasa saja," Ina benar- benar tak percaya.

Penghargaan lainnya pun menyusul pengusaha wanita ini. Seperti salah satunya penghargaan dari MarkPluc. Inc, Herman Kartajaya, dengan Marketers Women 2010. Tiga penghargaan itu pun ternyata masih tidaklah cukup. 
 
Ada penghargaan lain seperti penghargaan Pretty Women dari ASTRA Internasional, Dewi Sartika Muda 2009, Pengusaha Kreatif IWAPI 2009, Perempuan Pengusaha Berprestasi IWAPI 2009, IWAPI Wanita Pemgusaha Kreatif 2010 dan lain- lain.

Dia pernah bangkrut saat mengelola perkebunan jahe gajah. Ina juga pernah bangkrut usaha manisan jahe yang sempat diekspor hingga Jepang. Pengusaha wanita ini menyebut usaha kue kering bukanlah jadi cita- citanya. Bahkan menjadi pengusaha bukanlah cita- citanya, apapun bisnisnya. 
 
Dia memilih menjadi dokter sebagaimana ayahnya sebagai cita- citanya. Tapi, ternyata takdir berkata lain, dia memilih jadi pegawai lalu menjadi pengusaha.

Pengusaha Ina Cookies


Lulus dari Jurusan Bahasa Jepang di Akademi Bahasa Asing, Ina muda diterima menjadi sekertaris bagian penjualan Astra di Bandung. Disinilah mungkin pemahaman akan marketing itu tumbuh. Bertahan cuma dua tahun, Ina meninggalkan Astra untuk menikah. 
 
Dia menikah dengan Rakhmat Basuki, pria yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum dan ditugaskan ke Aceh Tenggara. Suatu ketika, di tahun 1989, suaminya pensiun dini dari Dinas PU dan memboyongnya ke Cirebon. 
 
Mereka lalu bersama membuka bisnis perkebunan jahe gajah.Idenya datang dari kakak ipar Ina sendiri. Awalnya, ia sukses ekspor hingga Jepang, dan memiliki 500 orang pegawai. Sayangnya, batu sandungan besar menghadang langkah bisnis jahenya. 
 
Yaitu ketika adanya pristiwa panen raya di Thailand dimana harga jahenya jatuh murah. Putri dari pasangan Wiyono Kartodirekso (almarhum) dan Toeti Ferliani akhirnya bangkrut.

Seperti sudah diduga, pembeli asal Jepang itu lebih memilih impor jahe dari Negeri Gajah Putih tersebut. Padahal, ia lantas menjelaskan lagi, perkebunannya sudah menanamkan modal 14 hektar kebun jahe di kawasan Plumbon. Dia memang belum lama berbisnis ekspor. 
 
Semua modal telah dipertaruhkan di bisnis perkebunan jahe, yang kemudian tak laku. Ironisnya disaat yang sama Ina harus melahirkan anak kedua. Bahkan untuk persalinan saja tidak ada uang lagi.

Pertolongan Tuhan datang ketika suaminya diterima kerja di IPTN. Sementara itu Ina belajar membuat lima kue kering yang laku di pasaran. Yaitu kue putri salju, nastar, sagu, cokelat mede, dan corn flake. Sembari mempelajarinya, ia mencoba memasarkan kuenya dari pintu ke pintu. 
 
Dia mulai menjualnya ke para tetangga, teman arisan dan pengajian. Waktu itu ia masih menjualkan kue- kue milik kakaknya karena dia belum bisa membuat kue sendiri. Kue buatan kakaknya yang seharga Rp.25.000 dijualnya Rp.35.000/toples. 
 
Hasilnya lumayan dimana setiap hari setidaknya laku enam toples. Kala itu Ina belum membuat kue sendiri. Meski sering mendapat cemooh seorang eksportir jahe sekarang berjualan kue kering, Ina tetap berlalu. 
 
Baginya, usaha dari keringatnya sendiri itu sangatlah menyenangkan meski untungnya kecil. Dia pun disarankan sang kakak ipar mulai memproduksi kue sendiri. Semuanya agar margin untungnya lebih besar. Benar saja, dengan menjual produk sendiri, hasil keuntungan Ina bisa separuh harga jual.

Bisnis rumahan


Ina yang menuruti saran kakanya mulai membuat aneka kue kering. Dimulai dari membuat enam toples kue per- harinya. Respon pasar ternyata baik, Ina bahkan bisa merekrut lima orang karyawan. Perkembangan usahanya terus lah meningkat. 
 
Hingga, Ina memiliki total 50 orang pegawai dimana pasarnya kelas menengah atas. Bisnis kue kering yang sudah dimulai sejak 1992 mampu menjual kue biasa seharga Rp.15.000 jadi Rp.25.000.

Semua berkat branding dan kualitas kue kering yang terjaga. Sistem pembelian menggunakan sistem beli- putus. Maksudnya agar pembeli setelah membeli selesai tak ada kue kembali. Ia beralasan karena untungnya pun sedikit. 
 
Tapi dari sini, karena kue buatannya enak, kue itu jutru diburu ulang untuk dinikmati. Bahkan mulai menyebar dari mulut ke mulut. Kuenya terjuang hingga ke luar Cirebon, seperti Tasikmalaya.

Wanita yang sudah hobi memasak sejak SD ini semakin dicari oleh para penikmat kue. Semuanya cuma melalui promosi dari mulut ke mulut. Setelah pindah ke Bandung, Ina semakin bertekat agar bisnisnya semakin besar. 
 
Tahun 1994, bisnis kuenya dilanjutkan dengan memboyong tiga karyawan inti dari Cirebon. Sang suami lantas memilih keluar dari IPTN dimana pesangonnya digunakan untuk modal Ina. Semuanya sudah dipikirkan matang- matang oleh anak kedua dari lima bersaudara ini.

Hasilnya, ternyata diluar dugaan, bisnis rumahannya berkembang sangat pesat bahkan menambah 100 orang karyawan. Tahun 1994, total karyawannya mencapai 500 orang dimana 150 karyawan inti. 
 
Maksudnya dari 150 orang, sisanya diperuntukan jika ada order yang tak bisa ditangani sendiri. Kebanyakan karyawan didatangkan dari kampunya dimana sisanya dari warga sekitar. Pesanan kue terbanyak jika menyambut momen tertentu.

Tapi jangan salah sangka, dihari biasa juga banyak permintaan. Khusus dihari Lebaran, Natal, Tahun Baru, Imlek dan Valentine’s Day, produksi kue keringnya bisa mencapai 21 ribu lusin per hari. Padahal menurutnya di hari biasa cuma kurang lebih lima lusin (sekitar 20 resep). 
 
Sebagai wujud syukurnya maka Ina pun memberangkatkan umroh karyawan terbaiknya. Ada empat faktor yang menjadikan kue keringnya laku keras disegala musim.

Ina menjelaskan empat faktor itu: pertama, kehalalan produknya. Kedua, adanya kualitas bahan dengan standarisasi. Ketiga, bagaimana penyimpanan. Kue dipastikan tetap terjaga kualitasnya saat penyimpanan. 
 
Keempat, harus jeli pada apa yang ada di sekitar kita. Nah, yang keempat inilah yang jadi faktor utama. Ina Cookies selalu punya inovasi dalam resep kuenya. Dia bercerita jika di satu daerah ada produk terkenal bisa dibuatkan kue keringnya.

Misalnya, ada daerah yang dikenal dengan  peuyeum (tape singkong), akhirnya dia pun membuat kue dari peuyeum. Dengan cara begini, Ina Cookies bisa mengumpulkan 114 macam kue. Ini sesuai dengan slogan perusahaan kecilnya "The Most Creative Cookies". 
 
Bagaimana bisa sebanyak itu resep Ina Cookies. Kami menyadari ialah sang pemilik selalu belajar dan berkreasi. Ia pernah bercerita mendapatkan kesempatan menimba ilmu gratis ke berbagai negara. Pengalaman itu digunakannya untuk belajar bikin kue.

Sebuah brand keju langganan lah yang mendorongnya. Dia bisa studi gratis dari Taiwan, Filipina, Cina, Singapura, Malaysia dan Jepang. Dalam segi kemasan, Ina Cookies juga mengandalkan keunika. Selain rasa sudah ditanggung sedap, bisnis rumahan ini menggunakan aneka kemasan tidak umum. 
 
Ada kemasan daur ulang yang terbuat dari kemasan daur ulang mie instan, bungkus kopi dirajut, atau plastik bekas coklat. Sejak 2007, limbah plastik dari Ina Cookies dimanfaatkan sebagai aneka kerjinan tangan.

Selain dijadikan wadah roti, ada yang dijadikan tas cantik, tempat pensil, sajadah, celemek dan sandal. Bahkan ada produk aneka topi unik dari jerami, yang kemudian mencuri perhatian pembeli asal Belanda dan Jerman. Dari sekedar cuma daur ulang, Ina Cookies bisa membuat bisnis lain. 
 
Banyak agen berminat memasarkan Ina Cookies. Alasanya karena diatas: produk berkualitas dari bahan- bahan unggulan, aneka kue unik, dan kemampuan Ina Cookies membuat aneka kerajinan.

Total sudah ada ratusan agen dimana jumlahnya berfariasi tiap kota. Di Jakarta sendiri, ada 150 agen dimana menjadikan Ina Cookies pamain besar bisnis kue kering Jakarta. Tamy Bambang, salah satu agen dari Bintaro, mengaku berhasil menjual sekitar 5.000 lusin saat Lebaran.
 
Menurutnya kue yang laris kue biasa seperti putri salju, nastar, sagu keju serta cheese kress.

"Tahun pertama saya jadi agen di Kemang Pratama Bekasi menjual 500 lusin dan tahun kedua saat pindah ke Bintaro bisa memasarkan 1.500 lusin," ucap Tamy yang menjadi agen sejak 1998.

Ribuan Agen Reseller


Mula- mula Ina menjelaskan agennya di Bandung ada 20 titik. Suatu hari di tahun 2009, ketika ia sedang menjadi pembicara tentang kisah sukses Ina Cookies dihadapan 1.000 ibu- ibu pengajian. Tak disangka dari sana, para ibu- ibu meminta menjadi agen kesuksesan Ina Cookies. 
 
Semua dilakukannya tanpa memaksa atau tanpa iming- iming untung. Untuk agen, Ina memilih fleksibel, terlihat dari ada dua cara pembayaran yaitu beli- putus atau beli dapat barang, down payment untuk pembelian besar, dimana bayar 50% dulu. 
 
Walaupun sukses ternyata bisnis Ina Cookies juga punya masalah loh. Diawal sudah ada kendala modal awal. Seperti dikisahkan diatas Ina sampai menggunakan uang suaminya. Itupun masih kurang, dimana butuh modal hingga 200 juta untuk pengembangan.

Tepatnya itu di tahun 1995, dimana Ina Cookies mendapatkan banyak order hingga butuh ratusan juta. Alhasil, ia meminta pinjaman ke bank, dimana cuma 75 juta disanggupi. Sisanya, ya, ia harus cari dari sanak famili. Semua karena bank belum percaya. 
 
Pas Bank mulai percaya akan bisnisnya, malah giliran masalah dari pemasok bahan baku kontinu. Umpamanya ada permintaan kue banyak, para petani justru tak menyanggupi untuk memasok. Tapi semuanya itu dilalui dengan penuh usaha tanpa kenal menyerah.

Di Kota Kembang Bandung, tercatat lokasi agennya tersebar di gerai D’Risole, Bandung Supermall, Branded Factory Outlet, Kayoe Manis, Rumah Brownies Kukus, Kedaung Showroom, Maskumambang, Citarum 31 serta Rumah Baju Anak. 
 
Sukses berbisnis kue, kini, Ina Wiyandini juga merambah usaha lain yang masih dibidang kuliner. Salah satu usaha lainnya yaitu Cafe De Tuik, berlokasi di kampung Haur Manggung, dimana jaraknya tidak jauh dari Ina Cookies.

Kafe yang baru dirikan tahun 2004, dimana merupakan restoran keluarga khas Sunda. Selain itu, disana, juga ada berbagai sarana rekreasi seperti camping ground dan super kids camp. Tak berhenti di tahun 2007, ada bisnis daur ulang limbah plastik dan Ran Toy’s dari limbah kayu. 
 
Untuk usaha daur ulang ini, bisnis Ina menghasilkan aneka barang seperti tas, dompet, tempat HP, baju boneka, tempat pensil, sajadah, celemek, sandal dan aneka kemasan kue. 
 
Sedangkan bisnis Ran Toy’s akan menghasilkan beragam kerajinan tangan seperti aneka mobil- mobilan, motor, perahu, dan lain-lain yang bisa dicopot dan dibentuk ulang. Setahun kemudain Ina masuk ke bisnis kue pastry dengan nama Inara Pastry and Bakery. 
 
Bisnisnya kali ini fokus pada snack box baik untuk pernikahan, seminar dan lain- lain. Ada pula pusat pelatihan motivasi dinamai Merhid (Menggapai Ridho Ilahi), bisnis bandeng keju, dan kursus menghias kue.

Belum lama ini, ia telah membuka kafe kue yang diberi nama Mr. Komot kafe coklat dan keju.

"Kita harus menjadi manusia yang bisa berbagi kepada lingkungan sekitar sebelum kepada yang jauh. Percuma kita maju tapi lingkungan kita masih terpuruk," jelasnya.

Untuk regenerasi bisnis nampaknya tak terlalu dipikirkan Ina. Ketiga anaknya memang sudah memiliki kecendrungan membantu bisnis keluarga. Putra sulungnya, Afiandini Nur Sadrina, telah mulai membantu mengurus bisnis kue. 
 
Afiandini ikut aktif membantu membuat resep- resep baru. Anak keduanya, Voula Nur Rakhmaniar, baru saja tamat sekolah dan ikut mengelola kafe miliknya. Sedangkan anak ketiga, Fakhri Saefullah Nur Rahman, masihlah bersekolah.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba