Biografi Sharp Tokuji Hayakawa Sejarah Pengusaha

Profil Pengusaha Tokuji Hayakawa

 

biografisharp.png

Sejarah pengusaha Tokuji Hayakawa berikut biografi Sharp. Hayakawa kelahiran 1893 asal Tokyo, dan keluarganya memiliki masalah domestik. Alhasil Hayakawa kecil diambil asuh keluarga Ideno. Dia telah diadopsi. Hayakawa disekolahkan tetapi cuma mencapai sekolah menengah atas.


Kemudian ia keluar karena memang tidak punya biaya. Keluarganya merupakan pangrajin besi, namun dikhususkan membuat ornamen besi tidak lebih. Mereka hidup miskin. Hayakawa kepikiran membuat sabuk khusus.


Penemuanya beruapa kepala sabuk yang mampu mengikat kuat. Desainnya dipetenkan berupa besi tusuk buat dicantolkan dalam lubang. Inilah cikal sabuk modern yang dinamai "Tokubijo". Begitu ia luncurkan pada 1912, produk yang telah dipatenkan tersebut menarik perhatian masyarakat luas.


Terutama masyarakat Eropa tertarik menerapkan tersebut ke Western Style. Total permintaai sampai 33 grosesses atau 4.752 total. Hayakawa ingin membuka usaha pembuatan independen. Maka ia pun pergi meminjam uang buat mendirikan perusahaan.


Modalnya dibikinkan pabrik pembuatan khusus pada September 1912. Kemudian pabrikannya tumbuh bagus sampai mengekspansi. Ia pada 1913 mendapatkan paten keran air canggih. Kemudian Hayakawa membuat prototip pensil pencet, yang juga bernama Sharp.


Dia kemudian membuat tape rekorder, radio dan televisis. Hayakawa meninggal diusia 86 tahun di tahun 1980. Itulah biografi Sharp Tokuji Hayakawa.


Dulu perusahaan Hayakawa bernama Hayakawa Metal Works di 1924, Tanabe- Cho, Osaka. Di 1942 namanya berganti Hayakawa Electric Industry Company. Jadi perusahaan mereka memang membuat aneka produk elektronik.


Dari membuat televisi sampai membuat kalkulatro. Nah kalkulator inilah menjadi cikal perkembangan perusahaan. Kalkulator mereka terkecil sampai membuat oven microwave pertama. Nama perusahaan berubah menjadi Sharp Corporation pada 1970.

 

Mengapa dinamai Sharp ternyata berasal nama produk pensil. Penemuan pensil mekanikal tersebut yang membuat namanya melambung. Sayang pensil tersebut mengalami masa surut sampai harus bisa membuat lain. Hayakawa memaksakan perusahaan membuat sesuatu tidak pernah dilakukan.

 

Sharp menjadi perusahaan fokus mengerjakan elektronik. Hayakawa menyadari bahwa Jepang sangat ahli meniru. Ketika perusahaanya membuat pensil maka orang lain meniru. Dia tidak masalah. Bahkan ia melakukannya juga termasuk dalam membuat televisi.


"jika Anda selalu berusaha keluar dengan produk unggulan yang akan meniru pesaing, dan perusahaan akan terus berkembang. Imitasi mengarah pada persaingan, meningkatkan tingkat teknologi dan membawa kemajuan dalam masyarakat," jelasnya. 

 

"Namun, perusahaan selalu mengejar produk turunannya, sehingga harus memikirkan produk apa selanjutnya dan penelitian lanjutan," jelas sang pengusaha.


Industri bisa tidak terdapat orginalitas karena semua saling meniru. Bisnis etik buruk tetapi terbukti industri Jepang berkembang pesat. Persaingan membuat produk tiruan namun lebih baik. Hayakawa menyadari bahwa mereka harus lebih terdepan, lebih berkualitas, dan lebih disukai masyarakat.

Usaha Membuat Bumerang Sangat Mengejutkan

Profil Pengusaha Listyo Bramantyo


usahabumerang.png
 
Pengusaha berikut mempopulerkan usaha membuat bumerang. Sangat mengejutkan berawal karya seni menjadi bisnis sendiri. Seni mengandung kenikmatan dalam pembuatan. Harga berapapun nampaknya pantas bila ia tawarkan.
 
Ini kisah Listyo Bramantyo, dimana karya bumerang buatanya ditaksir seharga Rp.1,4 juta. Berkat kejelian pria asal Yogyakarta ini mampu mengenali kualitas kayu. Bumerang buatannya memiliki serat dan lekukan alami dibuat sempurna. 
 
Jatuh cinta pada pandangan pertama Listyo kepada bumerang. Semua karena dia (bumerang) memiliki gaya tarik unik -jika dilempar kembali lagi.

Kerajinan Bumerang

 
Mungkin jika ibaratnya manusia maka bumerang bisa jadi wanita yang setia. Di kediaman Listyo di 
pojokan dekat bentang peninggalan kerajaan Mataram. Ditemui tim Jawa Post, rumah asri miliknya telah dikenal lama menghasilkan bumerang- bumerang. 
 
Waktu kecil katanya dia sudah tertarik akan sosoknya. Sayang, Lis cuma bisa melihat dari gambar saja, setelah besar barulah ia semakin ingin tau. Belajar dan mencari tau, Listyo kini tidak hanya ahli dalam melempar bumerang.

Dia juga bersemangat untuk memproduksi bumerang sendiri. Kan pada awal tahun 1990-an masih jarang orang menjual atau memproduksi bumerang di Indonesia. Jadi ini bisa jadi usaha menguntungkan. 
 
Dia sendiri, kala itu, sudah dikenal sebagai ketua Komunitas Bumerang Jogja dan akhirnya, Listyo mulai membuat bumerang sendiri. Memulai dengan fase coba-coba dan gagal, hingga menemukan formulasi dan bahan yang pas.

Saat itu, tidak banyak sumber bisa dijadikan referensi tidak seperti sekarang yang banyak di Internet. Listyo cuma berbekal mengikuti naluri dan teori. Setelah berbulan-bulan ia bisa membuat boomerang sendiri.

Bumerang buatannya baru berbentuk dan bermodal cuma bisa terbang. Soal kualitas kayu untuk bahan baku, ia mengaku masih banyak belajar. "karena kontur kayu jadi dasar pembuatan bumerang. Jadi paling tidak kita harus tahu karakter tanaman," paparnya. 
 
Sebagai tambahan kolektor tidak hanya memburu bumerang dari bahan pabrikan yang terbuat dari bahan lain, tapi juga berbahan baku alami dari kayu. Hanya saja tidak semua jenis kayu bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan bumerang.

Bahannya bisa kayu kemuning, akasia, sawo, walikukun, sono-keling, dan beberapa jenis pohon lain. Yang pasti baik akar maupun batang bercabangnya bisa digunakan sebagai bahan baku. Kayu solid seperti jati pun bisa. 
 
Namun, hanya akarnya yang mumpuni untuk digunakan, dia menambahkan pohon yang tumbuh lambat sulit dijadikan bahan baku.

Kalo untuk produk bumerang dari kayu jati cuma buat fun saja imbuhnya. Sedangkan umumnya sebagai bahan baku ia menggunakan pohon akasia. Namun bila anda mau yang profesional, yang lemparannya kuat. 
 
Listyo lebih menyarankan untuk menggunakan bahan sonokeling ataupun walikukun.

"Karakter dan serat kayu sam-pai sekarang saya pelajari. Untungnya di Jogja tidak sulit menemukan bahan. Saya juga sudah memiliki kenalan di daerah Dlingo, Bantul, yang mau mencarikan kayu. Kalau cocok, ya saya beli untuk produksi," ujar salah seorang pencetus Asosiasi Bumerang Indonesia ini.

Ditemui di rumahnya di Dalem RT 42 RW 10 Kota Gede, Yogyakarta, dia mulai intens membuat produk dari tahun 2008. Setidaknya dia bisa membuat 16 bumerang dalam satu bulan. Sebagai tambahan dia juga bisa membuat produk pabrikan. 
 
Jika hand made dari kayu hanya bisa membuat 16 bumerang, jika dari produksi pabrikannya bisa menghasilkan puluhan, sehari bisa 5 buah. Namun, menurutnya membuat bumerang dari bahan kayu itu lebih menantang.

Ada nilai seni dari kesabaran membentuk bahan kayunya. Dia harus menunggu hingga dua bulan agar kayu yang dibentuknya kering. Selain itu adanya serat pada kayu menambah seninya. Seolah seperti ukiran alami Listyo rela harus menunggu lama. 
 
Bumerang berbahan kayu yang lekukannya alami bisa memiliki nilai jual yang tinggi tambahnya. Bumerang buatannya dijual dari 400 ribu, dan termahal 1,4 juta dimana bahan kayu, serat, dan lekukannya alami.

Listyo mengaku semakin mencintai bumerang ini. Apalagi, setelah banyak orang dari negara lain yang melirik bumerang buatannya. Belum lama ini dia telah mengirim bumerang pesanan ke kenalannya yang ada di Jerman, serta negara lain seperti Jepang, Brazil, dan bahkan dari negeri asalnya, Australia. 
 
Soal pengiriman ke luar negeri memang agak sulit, terkait pajak. Makanya dia selalu menuliskan di pengirimannya kalau ini handycraft, karena pada kenyataannya ini buat mainan dan koleksi. Usaha membuat bumerang menaikan nama pengusaha Listyo.

Menurutnya bumerang sekarang diminati untuk sekedar koleksi atau hobi. Dia bersama komunitasnya tengah mengupayakan agar bumerang diakui sebagai olah raga.

Kisah Pengusaha Usaha Rumahan Untung 3 Juta

Profil Pengusaha Farah Maulida

 
usaharumahan.png
 
Usaha sambal makin bergairah di Indonesia. Kisah pengusaha tidak cuma berbisnis besar. Kini, usaha rumahan juga siap untuk memanjakan lidah kita. Pedasnya sambal ternyata meledak seperti bisnisnya. Berbagai jenis sambal ada di Indonesia. 
 
Dan kabar baiknya, tidak semua sambal berhasil dikemaskan. Bermula dari kegemaran keluarga akan sambal. Farah Maulida memutuskan memproduksi sambal buatannya sendiri.
 

Rahasia Usaha Rumahan

 
Ditemui tim Harian Yogya, di rumahnya di RT01 Dusun Banyutemumpang, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, ibu satu anak itu tengah bersantai. Sambil menunggu beberapa tetangga, dia mulai bercerita usaha yang kini dilakoninya dibantu para tetangga sekitar rumahnya. 
 
"Biasanya kami mulai memproduksi sambal pagi atau sore hari," tutur Farah berlanjut.

Usaha sambal kemasan yang diberinya merek Sambal Biyung. Usaha rumahan yang telah dilakoninya sejak tahun 2012. Dia menceritakan: meski usahanya terbilang baru, tapi membuat sambal sudah jadi rutinitas. Dia sudah terbiasa membuat sambal di rumah, ceritanya lagi. 
 
Kenapa lantas diberi nama Sambal Biyung karena memang dibuat atas kasih ibu. Kiranya itulah jawaban Laire Siwi Mentari, anak Farah menjawab pertanyaan pewarta.

Variasi sambal ini ada tiga: sambal teri, orginal, dan peda. Ditiap varian terbagi antara merah dan hijau. Jadi anda akan disuguhi sambal teri merah atau hijau dan seterunya. Laire kemudian menyebut mereka juga sudah membuat varian dari cumi dan belut. 
 
"Setiap produksi, kami bisa menghasilkan lima kilogram sambal, baik untuk sambal merah ataupun hijau. Kami tidak membuat sambal setiap hari, tapi biasanya tiga hari sekali," terang Farah.

Farah biasanya membutuhkan lebih dari lima kilogram cabai untuk lima kilogram sambal. Dia mendapatkan pasokan cabai dan bahan- bahan lainnya dari supplier langganannya yang biasa berjualan di Pasar Niten.

Cara dan bahannya sama dengan pembuatan sambal pada umumnya. Ada bahan bawang, gula, terasi, dan minyak nabati. Sambalnya tidak menggunakan bahan pengawet. Untuk mengawetkan Farah menggunakan gula sebagai gantinya.
 
Memang tak tahan hingga berbulan- bulan, tapi ini lebih baik dari sambal kontongan di warung- warung. Farah menambahkan sambalnya bisa tahan enam hari jika disimpan di luar kulkas dan satu bulan jika disimpan di kulkas.

Sedangkan harga cabai yang naik turun dianggap bukanlah penghalang. Jutru yang sulit adalah ketika ia harus mencari peda. "Banyak orang Jogja yang tidak tahu ikan peda, termasuk penjual ikan di pasar," kata Farah. 
 
Peda dan teri pun harus dipilih dengan cermat agar tidak menurunkan kualitas produknya, karena memang diketahui banyak penjual yang sudah mencampur ikan- ikan itu dengan formalin.

Prospek bisnis


Ia mempekerjakan empat hingga lima orang. Mereka akan bekerja sama dengan cobek masing- masing yang berdiameter 45 sentimeter. Farah memproduksi sambalnya cukup di teras rumah. Setiap lima kilogram dari sambal buatannya akan langsung habis. 
 
Semua karena reseller yang sudah menunggu mengantri pasokan. Satu reseller bisa memesan 50 botol dan mereka tersebar di berbagai kawasan di wilayah Indonesia.

Satu botol akan berisi 200 gram dimana setiap botolnya itu seharga 13 ribu. Seharga itu Farah sendiri sukses mengantongi Rp.4000- Rp.5000 dari tiap botolnya. Jika dihitung- hitung ia bisa mengantongi Rp.3 juta per- bulan. Produnya dipasarkan melalui sosial media Twitter. 
 
Dalam satu bulan ia bisa menjual 500 botol ungkap Laire, yang berperan sebagai admin akun Sambal Biyung. Laire, anak Farah, juga mengurusi kemasan juga pengiriman kepada para pemesan.

Pesanan tidak hanya dari Jogja, Sambal Biyung merambah hingga Jakarta, Balikpapan, Aceh. Bahkan juga dari mereka para TKW dari Hong Kong. Beberapa teman, kerabat yang tinggal di Jerman dan Kanada juga ikut memesan Sambal Biyung. 
 
Namun, ada beberapa pembeli yang merasa pedasnya dari Sambal Biyung ternyata masih dirasa kurang oleh beberapa orang. "Ada yang bilang rasanya masih kurang pedas, padahal rasanya sudah pedas banget untuk orang lain," kata Laire sambil tertawa.

Farah bercerita bahwa sebagian besar pria di daerahnya bekerja sebagai buruh tani, buruh bangunan, atau pengangkut batu, dengan upah Rp30.000-Rp40.000 sehari. Sedangkan, para istri biasanya tidak bekerja. 
 
Dengan mengajak ibu-ibu di sekitar rumahnya, Farah berharap dapat ikut membantu meningkatkan kualitas kehidupan mereka.

"Saya belum berani memproduksi lebih banyak, karena masih banyak yang harus disempurnakan. Salah satunya kemasan," tutur Farah melanjutkan. Untuk kemasan saat ini dinilainya masih belum cukup rapat, ini membuat minyak dari sambal masih sering meresap.
 
"Mudah-mudahan dalam waktu dekat masalah kemasan sudah beres, sehingga bisa lebih fokus di produksi," tutup Laire.

Bisnis Animasi Jadi pengusaha Karena Cinta

Profil Pengusaha Marlin Sugama


bisnisanimasi.png

Mereka jadi pengusaha karena cinta. Kisah seorang wanita kelahiran 20 Maret 1980 pecinta game dan animasi, namanya Marlin Sugama memulai bisnis animasi. Dia merupakan sedikit dari orang yang sukses berjuang di bisnis non- mainstream. 
 
Dia mengaku hanya menjalani hidupnya sebagai seorang hobi bermain game dan pecinta buku fantasi akut. Tapi, ia mengaku tidak begitu suka buku komik.

"Hobi saya adalah alasan terbesar untuk memasuki industri game, animasi dan komik. Hingga sekarang saya masih seorang avid gamer, moviegoer, dan suka baca buku apa pun, termasuk komik," ujarnya.

Bisnis Animasi


Hobi bermain game merupakan alasan terbesar dirinya masuk ke dunia game, komik, dan animasi. Dia memulai semuanya di tahun 2003 silam. Waktu itu, Marlin bersama beberapa teman mengikuti sebuah lomba game. 
 
Mereka bersama mengerjakan sebuah game untuk diikut sertakan dalam lomba tersebut, itu adalah sebuah lomba game tingkat nasional yang diadakan sebuah majalah game. Singkat cerita mereka menang. Dan, berkat usaha mereka banyak investor berdatangan.

"Sejak kecil saya ingin menjadi storyteller dan walaupun latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan profesi saya sekarang, saya tetap menjadi storyteller melalui produk animasi dan komik yang saya tulis," Marlin melanjutkan.

Tahun 2003, Marlin bertemu seseorang yang punya kegemaran yang sama. Mereka saling bertukar pikiran tentang apa yang akan mereka lakukan. Dialah, Andi Martin, sosok yang kemudian akan menjadi suaminya kelak. Mereka berencana membangun studio game sendiri. 
 
Mereka bersama seorang teman bernama Ardiansyah akhirnya membuka satu studio sendiri. Usaha mereka diberi nama Altermyth. Hanya bertahan tiga tahun saja, dan akhirnya kolaps. Meski gagal, ini tidak membuat mereka berhenti. Mereka membuka usaha lagi serupa yang diberi nama Main Studio. 
 
Apa yang menjadi modal ialah pengalaman buruk mereka. Mereka belajar banyak dari kegagalan bisnis milik Altermyth. Usaha ini bukan usaha mudah loh. Mereka mengucurkan dana 100 juta sebagai modal awal.

Bicara soal pasar, pada jamannya, dunia game dan animasi belum terlalu berkembang. Mereka tak mudah untuk menemukan konsumen. Modal untuk promosi jadi paling banyak. Di saat yang sama ada kesempatan untuk mereka. Sebuah lomba INA ICT Award di tahun 2007. 
 
Marlin membidik acara itu dengan berharap mereka bisa membantu portfolio bisnisnya. Disini lahirlah tokoh Si Hebring yang memenangkan award bergensi tersebut.

"Jadi, Si Hebring ini,  konsepnya universal  agar  bisa diterima  seluruh  lapisan masyarakat," kata Marlin menjelaskan. Lebih lanjut, Si Hebring hanyalah super hero yang baru memiliki kekuatan dari luar. Dia tak tau cara untuk mempergunakannya.

Kisah tokoh Si Hebring jadi sebuah batu loncatan bagi Main Studio. Berbagai usaha dijalankan berdasarkan brand ini. Dari berbisnis game, aksesoris, film animasi, semua usaha komersial telah dilakoni. 
 
Melalui tokoh tersebut Main Studio dilirik banyak pihak dari luar negeri. Kebanyakan konsumen dari negara Amerika Serikat, Inggris dan india. Nama- nama perusahaan besar semacam Nokia, Miniclip.com, Games2 Win dan sebagainya, 
 
Mereka tercatat menjadi pelanggan tetap jasa animasi dan game dari Main Studio. Usaha Marlin akhirnya tercatat sukses membukukan 500 juta per- bulan. Tak berhenti disitu. Marlin juga tercatat menulis beberapa buku.

Profil pengusaha


Marlin mengaku sudah menyukai dunia anak- anak ini sejak kecil. Sejak balita bahkan, tambahnya, bahwa dia selalu menikmati acara kartun anak- anak. Itulah mengapa dia memiliki imajinasi tinggi tentang animasi dan buku fiksi. 
 
Sedangkan untuk game dia baru menyadari di tahun 1988 ketika ia dibelikan console game pertama berupa console Atari. Dia menyukai game yang punya alur cerita sebagai medianya bermain game tersebut.

"Saya suka games yang memakai "alur cerita" sebagai medium koneksi dengan pemainnya dan games "problem solving". Sejauh ini games favorit saya adalah Final Fantasy 7, Heavy Rain, Diablo 3, Sim City dan Roler Coaster Tycoon," ujar Marlin.

Sebagai seorang ibu yang punya anak, ia masih lah sama. Marlin masih hidup di dunia game. Kecintaan sang suami, dirinya, dan anak- anak akhirnya menjadi kelucuan. Ketika mereka berebut untuk bermain game satu sama lain. 
 
"Setiap hari kami rebutan games, tapi akhirnya kami bagi-bagi untuk menyiasatinya, iPad, iPhone dan console serta TV-nya jadi milik anak-anak. Saya dan suami main di PC dan laptop," ujar Marlin sambil tertawa ringan.

Awalnya karena prihatin melihat televisi yang isinya animasi luar yang tak cocok dengan budaya sendiri. Dia bersama sang suami mulai membuat tokoh Hebring. Apalagi lagu cinta- cintaan yang sangat masif di televisi membuatnya semakin membuatnya bersemangat. 
 
Di pertengahan 2000 -an tidak adanya super hero lokal lah yang menjadi pasar mereka. Mereka pun mencoba dari sebuah animasi pendek di You Tube.

Di Main Studio lah tokoh- tokoh seperti Hebring lahir. Banyak usaha coba diraih studio animasi ini. Tidak hanya berhenti pada film animasi atau game. Ada produk mainan yang akan menjadi sasaran juga. Disini, Merlin bekerja sebagai penulis naskah. 
 
Sedangkan sang suami akan memvisualkan tulisan menjadi karakter 3D. Ia merasa apa yang dilakukannya merupakan panggilan hidupnya.

Marlin memilih strategi yang berbeda- beda pada setiap produk. Ada cara berupa web-comic yang bisa dibaca gratis. Dimana, Hebring di distribusikan sebagai konten salah satu provider internet, komik cetak Hebring di distribusikan oleh Gramedia, dan animasi didistribusikan indie di Youtube. 
 
Hingga saat ini, Marlin mengaku tengah mencari investor yang tepat untuk mengangkat Hebring menjadi serial cerita animasi TV. Untuk masa depan bisnisnya, Marlin berharap Main Studio yang dibangunnya akan menjadi seperti halnya Disneyland atau Ghibli Museum.

Tukang Bakso Jadi Kaya Kisah Sukses Pengusaha

Profil Pengusaha  H. Mudo Sartono

 
baksotriman.png
 
Kisah sukses pengusaha tukang bakso jadi kaya. Kata siapa menjadi tukang bakso bukanlah usaha yang menguntungkan. Usaha kecil bisa jadi besar berkat waralaba. Kisah ini, kisah kewirausahawanan bakso Ojo Lali Mas Triman milik H. Mudo Sartono. 
 
Wirausahawan yang sudah berbisnis sejak tahun 1978. Meski persaingan di dunia bakso semakin ketat, berkat ciri khasnya serta merek dagang Ojo Lali, Pak Sartono sukses bertahan puluhan tahun.
 

Tukang Bakso


Pria 56 tahun yang mengawali semuanya dari berjualan bakso keliling. Karena keterbatasan modal apa yang dipikulnya kala itu bukan miliknya. Sudah lama ia berkeliling, berjualan dan menjajakan baksonya di Muara Angke Tangerang, hingga keinginan memiliki tempat sendiri timbul. 
 
Namun semua harus dimulai dari nol. Ia berkisah bagaimana dari bakso pikul jadi bakso grobak. Sartono akhirnya punya grobak bakso sendiri yang digunakannya berkeliling kawasan Grogol Jakarta Barat.

Tahun- tahun itu kawasan Grogol dikenal sebagai kawasan tak ramah. Ia pun sering mendapatkan masalah. Dari kawasan Grogol, Sartono pindah rute berkeliling Pondok Kopi Jakarta Timur, sekitar tahun 1990. Dia tak ngotot untuk punya tempat sendiri. 
 
Justru suatu hari ada pelanggan yang menawarinya. Dia menawari Pak Sartono sebidang tanah untuk disewa di kawasan Pondok Kopi kawasan Jalan Robusta. Lokasi yang cukup strategis untuk mengkal grobak bakso.

Tak berpikir panjang tawaran itu diambil, daripada berkeliling toh tempat itu memang jadi favoritnya. Apalagi si empunya memberikan keringan di satu bulan pertama.

Allah membukakan pintu suksesnya sejak itu. Sejak tahun 1990, seorang Haji memberinya kesempatan untuk berusaha di tempatnya itu. Di Pondok Kopi lah bisnis kecil jadi besar. Nama Ojo Lali sendiri diambil dari bahasa Jawa yang artinya "jangan lupa". 
 
Maksudnya mungkin agar kita tak lupa akan enaknya bakso ini.

"Alhamdulillah bakso saya laris, sampai ada penyanyi ngasih nama Mas Triman," ujar Mudo atau Triman, suami dari Srini ini.

Memang tak memakan waktu lama bagi Triman untuk mengangkat baksonya. Ia mengutamakan rasa serta untungnya karena mendapat tempat strategis. Barokah jalan kakinya menyusuri rel Angke- Tangerang telah terbayar. Prinsipnya menjaga kualitas. 
 
Pada 2004, pria asal Sukoarjo ini akhirnya membuka cabangnya di Ruko Bekasi Timur Regency, lalu membuka lagi di Centra Bumyagara tahun 2006 dan di jalan Mutiara Gading setahun kemarin. 

Triman mengutamakan citarasa dan layanan. Ia selalu menjaga kualitas memilih daging hanya kualitas utama. "Rasa enak bakso karena daging sapinya bagus, tambahan tepung tapiokanya sedikit saja," bocor Triman. 
 
Selain sedap, bakso dan mie ojolali lumayan murah. Seporsi bakso atau pun mie ayam bakso dipatok antara Rp. 8 ribu - 12 ribu. Jika dulu, Pak Triman hanya bisa menghabiskan 2,5 kilogram daging sehari, kini bisa laku 60 Kg-1 kwintal daging.

Cabang Bakso OJOLALI :


1.  Jl. Raya Robusta Blok Q7/3, Depan Kolam Renang HS. Agung, Pondok Kopi
2. Perumahan Bekasi Timur Regency, Bekasi
3. Perumahan Bumyagara Blok D5/7, Bekasi
4. Perumahan Mutiara Gading Timur Blok R, Bekasi
5. Jl. Raya Pengasinan, Depan Ruko Rafflesia, Bekasi
6. Jl. Irian no.6, Nusantara Raya, Depok

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba