Gaya Hidup Crazy Rich Pengusaha Muda

 Profil Pengusaha Tom Thurlow

 
crazyrich.png
 
Gaya hidup crazy pengusaha muda Tom Thurlow. Lihatlah betapa glamornya kehidupannya sekarang. Ia hanyalah remaja biasa dulu. Remaja gila yang berbisnis "cerdas" sejak kecil. Tom Pernah mendapat gelar sebagai 5 pengusaha muda terbaik di UK. 
 
Bernama asli Thomas Michael Thurlow terlahir pada tanggal 11 Desember 1989. Ia dikenal sebagai seorang pengusaha muda, presenter TV, dan juga selebriti. Tom pernah muncul di acara realiti show pengusaha bertajuk Tycoon; dia menjadi peserta pertama yang gagal di awal acara.
 

Jadi Pengusaha


Usaha pertama yang paling dikenal ialah perusahaan buku anak- anak, OBS Books, perusahaan yang fokus pada buku anak- anak bertanda tangan penulis aslinya. Fokus usahanya pada buku terbitan pertama yang telah terlebih dahulu dibubuhi tanda tangan. 
 
Buku- buku yang kelak mungkin jadi best seller. Dia bersekolah di  Cheltenham Bournside School and Six Form.

Dan, di umurnya ke 13 tahun itulah sebuah cerita menghantarkan dirinya menjadi seorang pengusaha muda. Waktu itu, saudara perempuannya tidak bisa datang ke acara penandatanganan buku- buku larya J.K. Rowling. Tom dimintanya menggantikan pergi ke Chepstow. 
 
Dari acara tersebut ia kemudian membeli 10 eksemplar buku Harry Potter. Tom memiliki ide untuk ikut mengantri berulang- ulang. Jadilan ke 10 buku tersebut sukses ditanda tangani. Saat tiba di rumah, Tom hanya memberikan satu buku ke saudarinya. Sisanya justru dia gunakan sebagai modal bisnis.

Dia lantas melakukan sebuah pencarian di situs lelang ebay, dan menemukan bahwa satu eksemplar buku Harry Potter dengan tandatangan asli Rowling dihargai sebesar 400 pounds. Bukan jumlah yang sedikit. 
 
Ia kemudian meminjam £.110 dari ayahnya, mendirikan perusahaan bukunya sendiri secara online, Epic- Culture, fokusnya menjual buku anak- anak edisi pertama yang sudah ditanda tangani. Tom Thurlow mendadak menjadi salah satu pengusaha muda terkenal di Inggris.


Di tahun 2009, namanya masuk dalam daftar Top 5 UK Young Entrepreneurs. Sayang, berjalannya waktu bisnis miliknya tak seindah yang dibayangkan.

Pada bulan Desember 2007 Tom Thurlow terjebak dalam kehebohan dari film The Golden Compass. Dia mengklaim menerima ancaman pembunuhan dari ekstremis Katolik Amerika karena telah menjual buku- buku milik Philip Pullman melalui perusahaan bukunya. 
 
Ia kembali menjadi sorotan ketika mengikuti acara reality show bisnis (seperti acara Berani Jadi Miliarder, Metro TV) bernama Tycoon di tahun 2007. 

Tak seperti yang diharapkan Tom justru menjadi peserta pertama yang disingkirkan. Apa yang salah?
Di acara yang berkonsep mirip "the Apprentice" milik televisi Amerika ini. 
 
Program besutan Pater Jones, yakni pengusaha yang dikenal sebagai "Dragon Den", yang fokus mengumpulkan para pengusaha muda untuk mencoba menawarkan ide bisnisnya. Sayangnya, ide Tom tentang surat kabar gratis untuk remaja tidak menempatkan dia ke tiga semi- finalis, juga tidak membuatnya sekejap menjadi "bintang reality TV".

Tapi, acara itu telah menempatkannya di jalan menuju ketenaran TV digital.

Tom sekarang memiliki perusahaan produksi sendiri, Star Teen Inc, yang ia gunakan untuk menampung segala acara dan hak-haknya, termasuk 'The Freshers'.

"Saya gembira menjadi film seri saya sendiri untuk tahun ketiga, dan bahkan lebih sehingga memiliki rumah baru di MTV," terangnya.

"Ketika saya mengkonsep formatnya, itu adalah pertunjukan pertama yang merekam para mahasiswa dan menggali sisi buruk siswa - mengungkapkan hal- hal yang setiap remaja ingin mendengar tentang, tetapi tidak setiap ibu."

Acara serial ini berpindah dari Bebo ke MTV menjadi transisi yang benar- benar menarik bagi Tom. "Tidak ada batas, tidak ada batas - tapi pasti banyak kata-kata kotor," katanya. 
 
"Ini rangkaian 'The Freshers' telah masuk ke sisi terluar dan tekotor dari kehudupan para  mahasiswa, yang saya pikir sangat sempurna untuk dinikmati penonton mtv.co.uk."

Tanpa tedeng aling- aling menunjukan apa adanya. Acara serial ini akan menunjukan setiap sisi universitas ke prespektif umumnya. 
 
Dan Patton, Direktur Digital Media, MTV Networks UK & Ireland mengatakan: "Tom adalah personifikasi dukungan MTVN Inggris dari dan untuk para talent, bergabung dengan MTVN Inggris menjadi produser muda yang pernah ada." 
 
The Fresher disebutnya sebagai fakta hari ini, inspiratif dan program original yang lebih ke sosial media bukan sekedar siaran tradisional.  Situs jajaring sosial memang telah melahirkan generasi orang- orang berbakat dan kreatif. 
 
Anak muda berbakat yang pernah membuat diri mereka didengar dan populer secara online. MTVN UK tengah mengidentifikasi bakat muda paling menjanjikan dan mendukungnya untuk membuat ide baru, konten premium dimana penonton akan menghargai.
 
Diadaptasi dari acara Bebo -nya 'Meet the Freshers', gaya aneh dan ceplas- ceplos Tom telah memenangi para penggemar di kalangan masyarakat online di Inggris

Jika anda pernah mendengar tentang 'Carry on Camping'? Nah, acara ini lebih 'Carry di Kampus', seperti ketika Tom memunculkan berbagai gestur agak nakal dan, terus terang, tanpa basa- basi memberikan pertanyaan untuk komunitas universitas dan mahasiswa di UK. 
 
Lupakan belajar, lupakan tentang kuliah, Tom menemukan bahwa yang pertama dan terutama dalam pikiran rata- rata para mahasiswa adalah bagaimana untuk memiliki waktu bersenang- senang.

Bisnis nakal


Situs kencan kasual menjadi deman kala itu. Bahkan telah merembet ke urusan sexual. Itulah kisah nyata dari seorang Tom, pendiri DateAtUni.com dan kemudian situs ShagAtUni.com.
 
Berbeda dengan situs saudarinya, Date At Uni, ShagAtUni memilik target bagi mereka para mahasiswa atau mahasiswi yang berminat pada hubungan tanpa ikatan. Hanya sebuah kencan atau seks singkat.

"Saya pikir mungkin ada pasar untuk siswa yang hanya ingin hubungan seksual," kata pengusaha muda ini menjelaskan. "Dan setelah persiapan besar saya telah masuk ke sukses besar setelah dua bulan diluncurkan, saya pastikan ada pasar disana."

Meskipun situs memiliki anggota lebih banyak laki- laki daripada perempuan (60-40), di halaman selamat datang hanya akan menampilkan profil para perempuan. 
 
Tapi Tom menegaskan: "Sangat penting bagi kita untuk menunjukkan pengguna laki-laki (pendengar kita yang lebih besar) yang ada di situs kami.

Lebih dari 700 perempuan dari Oxford University telah mendaftar ke situs sejak pertama kali diluncurkan, sementara saingannya, Cambridge, menjadi pemilik akun dengan jumlah terendah dari seluruh negeri.

"Aku tidak terkejut," kata Thurlow Daily Mail. "Ketika saya tur negara syuting MTV Freshers siswa Oxford selalu yang paling liar."

"Mereka selalu tegang di siang hari tapi pada malam hari mereka selalu paling gila itu. Itu tidak mengejutkan saya mereka memiliki proporsi tertinggi wanita mencari seks." 
 
Situs Shag At Uni memang menyatakan menjadi satu- satunya tujuan adalah untuk "membantu siswa bertemu untuk seks".

Biaya keanggotaannya berkisar £ 5 untuk laki-laki dan gratis untuk perempuan. Shagatuni.com didirikan pada September 2012 untuk membantu para mahasiswa untuk memenuhi hasrat seks mereka, tetapi pendiri Tom Thurlow, 23, kini mendorong dosen untuk bergabung. 
 
Situs ini bahkan menawarkan mereka keanggotaan gratis selama setahun. Namun, situsnya tersebut kemudian dikritik karena "mendorong dosen untuk menyalahgunakan posisi mereka kekuasaan".

"Kami baru- baru mensurvei 1.773 dari anggota kami dan lebih dari setengah dari mereka (54%) mengaku telah tertarik secara seksual kepada dosen mereka. Dan ini siswa horny, tiga-perlima (61%) mengaku terlibat dalam perilaku genit 'dengan dosen yang bersangkutan."

Sebuah kontroversi mengingat posisi para dosen sebagai pendidik. Tapi, nyatanya banyak dari member yang merasa mereka yang berdiri didepan papan tulis itu seksi. Dan, ShagAtUni mencoba untuk mengakomodasi hal itu. Bahkan situs ini memberikan saran untuk berkencan disini. 
 
"Mencoba dan menghindari memiliki hubungan dengan siswa yang anda ajar untuk menghindari perbedaan atas hasil ujian atau nilai gelar. " 
 
Hubungan antara dosen dan mahasiswa tidak ilegal, tetapi banyak universitas yang memiliki kode etik yang mencegah staf dari memiliki hubungan romantis dengan siswa. 
 
Seorang juru bicara University of Gloucestershire mengatakan: "The University of Gloucestershire, seperti universitas atau bisnis lainnya, memiliki kode etik yang stafnya harus menjunjung tinggi.

"Ini termasuk kewajiban untuk mengungkapkan hubungan dengan mahasiswa sehingga kita dapat mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi integritas dari mengajar dan belajar."

Pengusaha Usia 10 Tahun Bisnis Kue Coklat

Profil Pengusaha Cory Nieves

  
pengusahakecil.png
 
Pengusaha usia 10 tahun bernama Cory Nieves. Dia bisnis kue coklat pantang menyerah. Usianya baru enam tahun ketika memulai bisnis ini. Dia membuat kue- kue coklat buatannya sendiri, menjualnya beserta minuman coklat hangat dan jus lemon. 
 
Tujuan bocah tersebut kala itu hanya satu, yakni membantu sang ibu membeli mobil baru. Bukan apa mereka hidup di pinggiran kota, membuat sebuah kendaraan akan sangat berarti.  

Nieves dan ibunya, Lisa Howard, awalnya tinggal di New York City, di mana kelimpahan transportasi umum memudahkan untuk hidup tanpa mobil disana. Ketika dua pindah ke Englewood pada tahun 2009, semuanya harus berbeda untuk pergi sekedar mencari kebutuhan sehari- hari.
 

Bisnis Kue Coklat


Nieves menjadi salah satu pengusaha terkenal di Englewood. Bahkan dia lebih terkenal karena baru berumur 6 tahun ketika memulai bisnis. Sebagai warga baru di kota, Howard tidak punya teman untuk menumpang, sementara tarif taksi terlalu mahal untuk mendapatkan tumpangan ke supermarket lokal.  
 
Suatu hari, setelah absen 166 NJ Transit bus di Grand Avenue lagi, Nieves merasa hal ini sudah cukup dan butuh perbaikan. "Dia berkata 'Mom, aku tidak tahan lagi," kata Howard meniru ucapan putranya kala itu." "Saya pikir saya ingin sebuah mobil." ucapnya lagi.


Ketika Howard bertanya bagaimana mereka bisa mengumpulkan uang untuk membeli mobil, satu ide datang ke pikiran Nieves: menjual kue. Ini adalah hal yang luar biasa bahwa ketika ia memiliki pertunjukan di mana ia dapat menjual bisnisnya dan mencintai untuk menjual. 
 
Nieves yang pemalu telah tumbuh. Menjual kue- kue itu didepan rumahnya dan penginapan khas Roma disekitar. Gayanya yang keren membuatnya mudah untuk menjual dimana pun. 

Usut punya usut, ini bukan yang pertama, Nieves pernah berjualan kue sama ketika di Manhattan. "Itu sangat menyenangkan," ucapnya. "Disana banyak orang yang membeli".

Tak berjalan sesuai harapan. Ada seseorang yang melaporkan bisnis kecil ini ke Departemen Kesehatan, memaksanya untuk menutup bisnisnya. Nieves membutuhkan bantuan untuk membuat bisnisnya legal. 
 
Ya, seorang anak kecil tetaplah anak kecil yang membutuhkan bantuan. Bantuan itu akhirnya akan datang yaitu dari sosok Tod Wilson, pemilik Barat Hudson Street "Mr Tod Pie Factory", dimana Nieves telah kenal baik dengannya.
 

Perkenalan Wilson dengan Nieves untuk pertama kalinya, Wilson bercanda dengan "Mr Cory" bahwa blok (tempat berjualan) mereka tidak cukup besar untuk mereka dua. Ia menambahkan bagaimana reaksi bocah kecil itu. 
 
"Kau tahu apa yang dia katakan? saya ada di sini pertama," kata Wilson sambil tertawa terbahak, menirukan reaksi Nieves pertama kali. "Saat itulah saya pertama kali tahu saya berada disana untuk sesuatu."

Penasaran dengan pertemuan pertama mereka, Wilson membantu menunjukkan dia bagaimana menjalankan dan mempromosikan bisnis sendiri, memberinya tips pemasaran, membantu menciptakan logo dan menunjukkan kepadanya bagaimana benar harga produknya. 
 
"Dia memiliki keinginan untuk ingin menjadi baik, " kata Wilson. "Anak itu berbakat, bekerja keras, dan memiliki kepribadian yang tak mudah jatuh. Saya berharap hal- hal besar dari Cory "

Nieves sering menjual kue nya di Mr. Tod Pie Factory, atau juga di pasar petani Englewood, dan pasar petani Closter. Ke depan, Nieves berencana untuk menjual kue di pasar petani Cape May sebulan sekali. 
 
Sementara Nieves yang awalnya memulai bisnis untuk membeli ibunya mobil, Mr Cory Cookies telah mengambil tujuan baru dari waktu ke waktu.

"Saya bilang saya akan melakukannya (untuk mengumpulkan uang) untuk kuliah dan (untuk belajar bagaimana) menjalankan bisnis," kata Nieves.

Tidak hanya Nieves telah belajar berbicara seperti orang bisnis, tetapi juga cara berpakaiaanya. Nieves mampu membuat gaya pakaian sendiri dari majalah fashion ibunya seperti seorang pebisnis, dengan itu mempromosikan bisnisnya, termasuk koleksi kebesaran, gelas plastik ikonik nya. 
 
Mr Cory Cookies - yang memiliki 11 varietas yang berbeda - adalah "50 persen organik dan 100 persen alami," itu sangatlah penting bagi Nieves, untuk menjual kue bebas dari bahan pengawet.

Selebgram Faiz Saddad Ahli Photoshop dan Pengusaha

Profil Pengusaha Faiz Saddad

 

faizsaddad.png
 

Selebgram Faiz Saddad ahli Photoshop dan pengusaha juga. Dia sebenarnya mempunya usaha unik, dan layak kalian contoh kembangkan. Faiz memiliki usaha boneka kayu Bokumi. Usahanya terkenal ketika ia belum menjadi selebgram.


Belum mengedit- edit foto sudah bekerja keras. Faiz berwirausaha pertama kali dikala kuliah. Dikala Semester 6, dia mengerjakan usaha bokumi berbahan kayu bekas. Dia mengandalkan keahlian melukis karakter.


Faiz tidak menghabiskan waktu berfoya- foya. Dia bekerja keras. Menyalurkan hobi sekaligus menjualnya sampai hasilkan fulus. Usaha dijalankan di 2012, Faiz mangatakan bahwa idenya dimulai sejak 2008. Dia baru mewujudkan bersama ayahnya pada 2012 itu.

 

Photoshop dan Pengusaha


Faiz merasa bosan akan masa remajanya. "Tahun 2008, saya merasa bosan gambar di atas kerta. Iseng- iseng mau ngubah budaya bikin tantangan baru, jadi gambar ada medianya (kayu)," terangnya kepada Merdeka.com


Modal usahanya Rp.15 juta demi membeli bahan bayau. Faiz juga membeli mesin potong kayu. Bahan baku kayu dari limbah kayu yang diolah. Boneka Bokumi dibuat dari limbah palet kayu. Bahannya itu digunakan untuk alas pengiriman televisi, kulkas, dan lain.


Kayunya dipakai kembali buat dibentuk model kayu. Prinsipnya mengolah limbah kayu tidak dipakai. Usaha Bokumi kemudian dilepaskan khusus buat Faiz. Ayanya berhenti meminta Faiz meneruskan. Dan ternyata, anaknya memiliki kemampuan memproduksi hingga jualan.


Tidak mudah dia menjalankan. Sempat berhenti sejenak karena kesibukan kuliah. Faiz memang sangat menuruni keahlian ayahnya. "Buah jatuh tidak jauh dari batangnya," ujar sang pengusaha muda, yang memegang total sendirian di 2015 silam.


Usianya masih 19 tahun tetapi memiliki usaha sendiri. Usaha makin berkembang dikelola 2 tahun, ia sudah menghasilkan omzet Rp.10 jutaan. Namun kuliah cukup membuat keuntungan naik turun. Faiz tetap mencoba produksi dalam kesibukan berkuliah.


Keuntungan bersih bisa Rp.5 juta sampai Rp.8 jutaan. Kalau bagus dia sampai mendapatkan untung bersih 10 jutaan lebih. Usaha Faiz memang tidak semudah membalik telapak tangan. Sempat tutup, pada 2014 silam, dilanjutkan di 2015 dan terus menghasilkan.


Apakah segampang itu berjualan produk Bokumi? Ternyata tidak, Selebgram Faiz Saddad memberi penjelasan, Bokumi merupakan produk baru belum dikenal masyarakat luas. Alhasil Faiz diwajibkan memberikan edukasi mengenai produk ini.

 

Bokumi dikenal memba namanya dipanggil stasiun televisi. Namun Faiz belum dikenal sebagai ahli Photoshop loh. Dia masih dikenal sebagai pengusaha muda. Faiz diundang pula menjadi narasumber buat acara kewirausahan.

 

Faiz bermimpi produk Bokumi akan diekpor. Ke depan akan dikeluarkan produk baru, dan diharapkan akan menjadi produk dunia. Rencana ekspor Faiz sudah ditangan tinggal mewujudkan. Apresiasi dari pasar diharapkan besar banget, apalagi produknya dikenal memanfaatkan limbah kayu.

 

Bokumi diancang- ancang tidak sekedar menjadi hiasan. Bokumi diharapkan kelak menjadi kurikulum. Kelak akan diajarkan ke anak- anak agar meningkatkan kreatifitas. "Saya ingin Bokumi bisa masuk kurikulum pendidikan atau jadi ekstrakulikuler sekolah. Toh, ini juga produk asli Indonesia," tutupnya.


Pengusaha Faiz Saddad bisnis sukses tetapi masih terus berkarya. Dia juga dikenal sebagai selebgram dan menerima endors dong. Semua berkat kreatifitas yang terasah semenjak kecil. Selain ahli membuat kerajinan kayu, Faiz ternyata jago mengolah foto.


Pemuda kelahiran Jakarta, 12 Agustus 1996, yang berhasil "hangout" bersama seleb Hollywood. Tak nyata melainkan editan Photoshop yang rapih. Saking rapihnya sampai dikiran beneran dan membuat jagat maya ramai.


Keviralan editan tersebut menambah keterkenalan Faiz. Dulu dia cuma beberapa kali masuk berita, kini dia sering bahkan sudah punya channel Instagram sendiri. Namanya juga sudah terverifikasi alias sudah Selebgram. 


"Awalnya belajar Photoshop untuk keperluan bisnis Bokumi, bikin desain, bikin konten Instagram, poster.dll," jelasnya kepada idntimes.com

 

"Eh terus iseng2 bikin photo manipulation sama artis2.. Terus senang saja liat temen2 pada ketawa liatnya.. Eh lama kelamaan saya nemu beberapa refrensi orang yang bikin photo manipulation juga," ia melanjutkan.

Bule Italia Tak Malu Jualan Gorengan Wirausaha

Profil Pengusaha Fabrizio Urso

 
jualangorengan.png
 
Yuk wirausaha sepertik kisah bule bernama Fabrizio Urso ini. Bule Italia tak malu jualan gorengan di tengah malam. Sukses usaha tidak sekedar rasa dan kebersihannya. Pria 39 tahun asal Italia ini memberikan pembeda hingga laris manis. 
 
Logat bulenya jadi penarik bagi pejalan untuk melirik. Niat pertama para pejalan pastilah meneliti asal suara "lucu" itu. "OTE-ote, tahu isi, silakan beli..." begitu suaranya. Eh ketika dilihat, ternyata seorang bule, lantas, apa yang dijualnya di sana, pastilah jadi hal kedua setelahnya. 
 
Barulah para pejalan membeli untuk sekedar mencicipi dan merasakan bedanya. Tak tersa hampir setahun, seorang Fabriz telah menjalani usaha gorengan di pinggiran jalan Manyarkertoarjo, Surabaya.
 

Wirausaha Gorengan


Tak hanya gorengan. Andalan lapak kecil ini juga kopi robusta dan arabika racikannya sendiri. Pembelinya pun kebanyakan datang dari kalangan atas. Fabriz total menggunakan pengalamannya sebagai GM sebuah restoran untuk memberikan produk segar. 
 
Gorengannya jadi lebih renyah, empuk, dan tidak terasa gatal di tenggorokan. Penggunaan bahan- bahan berkualitas membuatnya jadi produk gorengan premium. Ia pun bersyukur kini usaha bersama sang istri bisa laris manis.

Usaha itu baru dibuka Maret tahun lalu. "Saya melihat pasar Indonesia. Apa yang laku saya jual," katanya.

Semasa muda, ia memang gemar memasak hingga sekarang. Masakan khasnya tentu apa lagi kalau bukan pizza dan pasta. Bukannya memilih menjual makanan Itali tersebut; ia memilih berjualan gorengan. Ada dua hal yang membuatnya memilih gorengan. 
 
Pertama, murah produksinya, lebih murah dari membuat makanan pizza tentunya. Kedua, ya, karena gorengan telah menjadi tradisi makanan orang Indonesia. Dinikmati siapa saja baik untuk lauk atau cemilan.

Dia memilih berjualan gorengan ote- ote, tempe goreng dan tahu isi. Beruntung istri dan keluarganya gemar makan gorengan. Istrinya yang asli Indonesia inilah yang mengajarinya resep gorengan. Perlahan tapi pasti, dia mempelajari bagaimana membuat gorengan renyah dan nikmat. 
 
Dia belajar layaknya orang lokal saja. Pekerjaanya sebagai GM restoran terbawa, menerapkan sistem kelas resto di dapur rumahnya. Misalnya, dapur harus bersih, makanan higienis, dan peralatan yang bersih.

Memang, jika dilihat- lihat lagi, lapak yang dimiliki Fabriz berbeda dengan milik pedagang lain. Lapak Fabriz bersih dari minyak maupun kotoran apapun. Pembeli pun merasa nyaman dan tidak merasa jijik, bahkan mau saja menunggu. 
 
"Itu salah satu sistem yang saya terapkan," ujar penggemar Francesco Totti tersebut. Selain tempat memasak yang higienis, bahan juga harus higienis begitulah bule itu membagi rahasianya. Dia lantas membatasi jumlah minyak goreng yang digunakan. 
 
Yang biasanya penjual gorengan akan memasak dengan jumlah minyak berlebihan, ia menyebut justru itu sebuah kesalaha. Kadar minyak jenuh dalam gorengan tersebut sangat tinggi jika minyak digunakan secara berlebihan dan berulang- ulang. Sistem yang memang boros minyak. 
 
Akhirnya, biaya pembelian minyak pun membengkak. Tapi, Fabriz tidak peduli, di pikirannya adalah bagaimana melayani konsumen. "Pelanggan juga semakin bertambah," jelasnya.

Awalnya hanya ada 3 jenis gorengan. Ia membatasi jumlahnya cuma 25 biji setiap produknya. Ini bertujuan untuk mengedukasi pasar agar pasar kenal dulu. Hasilnya, beberapa hari gorengan terus habis, barulah ada rencana untuk menambah jumlahnya. 
 
Fabriz kemudian menambah jumlah gorengan bertahap. Kini, hasilnya jumlahnya bisa lebih dari 150 biji untuk setiap gorengan. Untuk mendukung gorengan adanya produk kopi digunakan Fabriz untuk mengisi waktu para pembeli. 

Kopi digunakannya sebagai teman makan gorengan. Selain itu, ia akan menawarkan mereka yang menunggu gorengan matang. Caranya itu terbukti ampuh. Ini membuat gorenganya tetap segar karena baru digoreng, tidak digoreng dan didiamkan. 
 
Ketika berjualan gorengan, Fabriz selalu ditemani istri, Novita, keduanya bekerja sama mengerjakan bisnis ini. Baginya pekerjaan ini penuh kratifitas, tidak monoton seperti apa yang dikerjakannya dulu.

Orang tua dari Fransesco Alesandro itu kemudian menceritakan awal mula masuk ke Indonesia. Tepatnya pada 2014 ketika dia bertemu sang pujaan hati di Singaraja. Mereka menjalin hubungan yang berlanjut ke pernikahan pada 2011. 
 
Pada 2013, dia mendapat pekerjaan di Surabaya. Yakni, GM sebuah restoran di Jalan Imam Bonjol. Bagi dia, posisi sebagai GM di rumah makan bukan pengalaman baru. Ketika berada di Roma, Fabriz pernah bekerja di beberapa hotel terkenal di negara itu. 
 
"Saya nyaman dengan pekerjaan GM rumah makan," katanya. Namun,bekerja kepada seseorang tidak memberikan kebebasan waktu. Bule Italia pun tak malu jualan gorengan.
 
Dia mulai berpikir berwirausaha. Memang karena kebulean -nya lah yang membuat lapaknya ramai dikunjungi. Namun, perlu diketahui, ada peran cita rasa restoran yang disuguhkan dari proses pembuatan dan penjualan. 
 
Mereka yang datang kesana tidak hanya mendengar dari orang tentang bule yang berjualan saja. Mereka datang karena tau bagaimana ia menerapkan standarisasi untuk bisnisnya. Hasilnya, gorengan kelas premium yang selalu laris manis menyasar mereka dari berbagai kalangan.

Pendiri Hijab Elzatta 24 Tahun Berbisnis Hijab

Profil Pengusaha Elidawati

 
pendirielzatta.png
 
Sosok pendiri hijab Elzatta telah berbisnis hijab lama. Nama Elidawati mungkin asing bagi kamu, tapi wanita 50 tahun ini adalah sosok dibalik brand kenamaan Elzatta. Dia lah pemilik Elzatta produsen berbagai produk hijab bercorak, spesiknya diproduksi di negara Turki. 
 
Dimana toko terakhir di Indonesia, didirikan di Mal Fx, menjadi toko ke-50 yang bersanding dengan Dauky, perlengkapan casual busana muslim. Menurutnya berbicara busana muslim brand -nya memiliki strategi yang berbeda dengan produk lain sejenis.
 
Kisah perjalanannya pun unik menunjukan bagaimana sebuah brand kuat seharusnya dipasarkan.  Diawal berdiri, 3 bulan setelah berdiri, Elidawati pun mendapatkan hambatan pertama. Ia sempat digugat oleh sebuah lini pakaian ZARA.
 

Awal Berbisnis Hijab


"Awalnya brand yang saya dirikan bernama "Zatta", yang diambil dari nama putri saya. Namun tiga bulan setelan brand itu dipublikasikan pihak ZARA berkeberatan. Secara tidak sengaja saya menambahkan nama saya pada brand sehingga menjadi "Elzatta Hijab"," kata Elidawati.

Akan tetapi dari situ, ia malah tersadar tentang arti pentingnya nama atau brand. Sejumlah perubahan  pun segera dilakukan oleh perempuan yang mengambil jurusan sejarah saat masih duduk di bangku kuliah ini. 

"Selain mengubah nama brand, saya mengambil langkah perubahan lainnya. Bila umumnya toko yang menjual jilbab hanya memajang produk, saya mengubah interior dan display produk Elzatta Hijab agar menciptakan kelas produk yang saya jual. 
 
Termasuk mengeluarkan ikon baru dalam produk Elzatta Hijab," kata Elidawati. Elzatta Hijab telah berdiri selama 24 tahun, berkecimpung lama di dunia fashion hijab sebelum tren hijab ini menggema. Bisa dibilang sosoknya menjadi salah satu pioner dalam dunia fashion hijab. 
 
Ia telah memulai usaha sejak 1989. Awal karir di industri hijab dan busana muslim dimulai dari pergaulan Elidawati ketika remaja di Masjid Salman di kawasan Institut Teknologi Bandung (ITB).

"Dulu yang pakai hijab hanya kalangan tertentu, ibu- ibu pejabat banyaknya," ujar wanita 51 tahun itu saat berbincang dengan Wolipop di kantor Elzatta di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, belum lama ini.

Suatu hari, rekannya di Masjid Salman, Fenny Mustafa memiliki ide ingin membuat brand muslim dengan produk yang lebih fashionable. Fenny meminta bantuan El, sapaan akrab Elidawati, untuk membantunya dalam mengembangkan brand-nya tersebut. 
 
El yang sebenarnya tidak terlalu mengerti dunia fashion, kala itu sempat merasa ragu untuk ikut terjun di bisnis busana muslim. Namun akhirnya wanita lulusan Pendidikan Sejarah Universitas Padjajaran (UNPAD) itu bergabung.

Fenny lalu meminta El untuk memperluas bisnisnya hingga membuka toko busana muslim di Jakarta. Toko yang jug ditempatinya dan suaminya sebagai rumah. "Bentuknya rumah biasa yang dijadikan toko. Nggak terlalu besar, di belakangnya saya jadikan tempat tinggal," kenang El.

Hijab 90 -an


El mengaku tahun 90 -an sulit untuk memasarkan hijab, tidak seperti sekarang. Hanya orang- orang tertentu yang memakai jilbab. Dan, ada pula pandangan bahwa mereka yang memakai jilbab hanya orang tua atau akan terlihat tua di zamannya.

"Saya mengenalkan hijab dengan ikut ke komunitas pengajian. Ada ibu- ibu pengajian jalan- jalan aku ikut. Kita benar-benar dari nol sampai akhirnya bisa masuk ke Sarinah Thamrin," kenang El.

Di 2012 El memutuskan keluar dari pekerjaannya dan membentuk brand hijab sendiri bernama Elzatta Hijab dibawah PT Zatta Mulya. "Keluar karena adanya regenerasi supaya perusahaan semakin maju," jelas El.

El memulai Elzatta hanya dengan 17 pekerja hingga kini sudah lebih dari 500 karyawan. Pada enam bulan pertama, wanita yang hobi travelling itu tidak menyangka bahwa produknya semakin dikenal masyarakat. 
 
Salah satu strategi agar dikenal orang adalah mensponsori hijab di sinetron 'Tukang Bubur Naik Haji'. Dari situ, semakin banyak mitra yang membuka toko. Setiap brand baginya memang memiliki strategi berbeda- beda terangnya. 
 
"Kami mengembangkan dengan cara berbeda dan fokus," katanya. Perjalanan dan pengalaman kerja sebagai manager marketing, direktur marketing dan marketing direktur operasional di PT. Shafira memberi andil bagi dirinya.

Kini Elzatta telah memiliki lebih dari 60 toko; 40 toko mitra dan 23 toko resmi. Elzatta sendiri lebih fokus berjualan kerudung. Hijab yang mengambil bahan dan diproduksi di Turki tersebut memiliki motif warna cerah dari bahan yang lembut dan glossy. 
 
Meski 70 persen memproduksi hijab, namun 30 persennya tetap ada koleksi busana muslim. Produk yang dijual oleh Elzatta berkisar dari harga Rp 60 ribuan sampai Rp 150 ribuan.

"Corak dan motifnya dari Turki, dikerjakan di pabrik Turki," kata Elida, lulusan jurusan Sejarah Universitas Padjajaran pada 1988.

Inspirasi hijabnya ini dari kerudung bahan paris polos yang dipakai mulai dari kelas bawah hingga sekelas ibu menteri. Ia mencari bahan yang pas hingga ke Turki dan akhirnya menemukan model scarf bercorak warna warni yang mempercantik kaum wanita. 
 
Target konsumen untuk usia 23 tahun hingga 35 tahun. "Tahun ini kami akan melebarkan sayap ke Sumatera seperti Pekan Baru, Aceh sampai Papua. Fokus kami di luar Jawa," katanya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba