Prospek Usaha Keripik Tempe Kisah Wirausaha

Profil Pengusaha Sukini

 
usahakeripiktempe.png

Banyak sudah kisah wirausaha kita sampaikan. Berikut gambaran prospek usaha keripik tempe. Berkat kondisi yang "kepepet", terdesak akan kebutuhan ekonomi mampu membuat orang berpikir kreatif, bahkan tanpa pengalaman sekalipun.

Dia memanfaatkan satu ruangan gubuk di pinggiran sawah, yang lebarnya cuma 3x4 meter. Dia, Sukini (44), seorang wanita warga Desa Gumiwang, Kecamatan Purwonegoro mengawali usaha rumahannya sendirian. 
 
Tepatnya kira- kira enam tahun silam di tahun 2007 -an, usaha rumahan itu dimulai memanfaatkan peralatan sederhana. Bisnisnya ialah mengolah seriping pisang. Lalu bisnis rumahan itu tumbuh dimana bisnis core -nya adalah pengolahan keripik tempe bermerek Suka Nicky.
 

Menjajal Usaha


Bu Sukini menjelaskan proses panjang sejak dari nol bisnisnya dijalankan. Usaha rumahan yang diawali dari desakan. Kira- kira di tahun 1988, usai melepaskan masa lajang, ia tak memiliki pekerjaan tetap. Dia hanya seorang ibu rumah tangga yang menggarap urusan- urusan rumahan.

Hingga akhirnya di tahun  1990 dia dikarunia anak pertama. "Begitu lahir Galih Widodo, anak pertama kami, saya merasa kebutuhan rumah tangga semakin bertambah, sementara suamiku cuma bekerja serabutan. Paling sering kerja proyek. Tidak ada pemasukan yang lain," katanya saat ditemui Derap Serayu di rumahnya, RT 3 RW X, kompleks belakang Pasar Gumiwang, Banjarnegara.

Keinginan itu semakin kuat, keinginan untuk membantu sang suami berusaha. Kian menyadari kebutuhan akan hidup itu semakin mendesak, pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan sang suami. 
 
Jadilah Sukini bertekat untuk berusaha apalagi anak pertamanya punya kebutuhan sendiri. Meski sang suami, Siswanto (48), telah berusaha apapun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Itu masih lah kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.

Sukini berusaha keras membantu setidaknya mengurangi beban itu sedikit.

"Kondisi terdesak itulah yang menuntun saya untuk berani lebih maju. Seperti umumnya wanita, keahlian yang saya miliki adalah memasak. Karena itu saya mencoba untuk membuat seriping pisang, ia menjelaskan.
 
"Waktu itu, karena tidak memiliki ruang cukup, awalnya kami memindah gubuk 3x4 meter dari sawah ke dekat rumah. Pisang dikupas di luar, baru kemudian digoreng di dalam gubuk," kenangnya haru.

Usahanya macam- macam jajanan. Tidak hanya keripik pisang ia juga membuat sale (pisang manis yang dikeringkan) atau juga kacang kulit. Secara umum memang usaha keripik pisang anak bungsu dari delapan bersaudara itu menghasilkan. Meski pemasaran produknya masih tradisional.

"Saya ingat betul, menjalani  marketing secara tradisional sendiri. Dengan berjalan kaki saya memikul seriping pisang buatan istri ke pasar," ucap Siswanto suami Sukini.
 
Dia tidak meragukan Sukini. Suami membantu sampai akhirnya sedikit demi sedikit untung. Mereka bertahap menabung buat  membeli motor. Siswanto lantas mengantarkan keripik- keripik itu memakai motor ke pasar.
 
"Sampai akhirnya sedikit demi sedikit keuntungan yang kami dapat ditabung untuk membeli motor. Akhirnya saya pun bisa mengantar barang menggunakan motor ke pasar," jelasnya.

Kendala bisnis keripik pisangnya selain marketing adalah bahan baku yang tersendat. Untuk mencari bahan itu memang susah. Diakuinya, ini sangatlah merepotkan, dan wajar jika usaha yang satu ini akhirnya berhenti di tengah jalan.

"Akhirnya saya memutuskan untuk ganti produksi keripik tempe yang bahan bakunya lebih mudah dan selalu ada di pasar. Padahal, kami ini tidak ada keturunan perajin tempe. Semua dilakukan dengan belajar sendiri," katanya. 
 
Sukini mengaku meminta bantuan tetangga untuk mengajari membuat tempe. Pada awalnya ia gagal, bahkan satu kwintal tempe harus terbuang sia- sia dari percobaan pertama. Namun, dengan sabar telaten, Sukini tetap berusaha untuk menghasilkan keripik tempe yang enak.

"Pernah membuat tempe 50 kilogram kedelai, malah tidak jadi. Ya sudah, akhirnya dibuat pakan ikan. Kebetulan saya punya kolam ikan juga," kata Siswanto. 
 
Awalnya Sukini mempekerjakan 3 orang untuk membantu dalam usahanya, tapi kini usahanya bisa menyerap tenaga kerja lokal (tetangganya) hingga sebanyak 25 orang. "Bahkan ketika permintaan pasar membludak, seperti pada saat lebaran, pekerja pun saya tambah sampai 30 orang," ungkapnya.

Kini, tiap harinya Sukini mengaku menghasilkan setidaknya 3 kwintal keripik tempe dari  1,5 Kwintal kedelai yang dibeli dan diolahnya sendiri menjadi tempe. 
 
Melalui penerapan teknologi pengolahan hasil pertanian yang digunakan seperti Spinner (alat peniris minyak), Sliccer (alat pemotong tempe), Handsealler(alat bantu pengemas), dan lain sebagainya, ia dan seluruh karyawan mampu menghasilkan produk keripik tempe berkualitas. 
 
Produk mereka digemari masyarakat Banyumas. "Tadinya tempat produksi kami terbatas, tempat mengolah kedelai menjadi tempe, menggorengnya menjadi keripik dan mengepaknya dalam kemasan di satu lokasi yang sempit.," ujar Sukini.

Pengusaha sederhana inipun telah memiliki tempat khusus. Ruangan berukuran 3X10 meter untuk penggorengan, kurang lebih 18 orang yang menggoreng keripik tempe, dan jumlah tungku yang sama yaitu 18 tungku.

Diyakini Sukini dan Siswanto, bahwa jumlah produksi yang sekarang masih bisa bertambah. Padahal untuk pemasaran masih berkisar lokalan saja di eks karsidenan Banyumas. Mereka kirim sekitar eks kerisedenan, ada yang langsung beli, ada yang masuk grosir.

Lewat grosir inilah banyak produk mereka menyebar keluar kota. Diam- diam produk mereka sampai ke Cirebon. "Meski kadang sudah dengan mereka berbeda," aku Sukini.
 

Ekspansi Usaha


Menjadi prestasi membanggakan ketika produknya diam- diam masuk pasar Purwokerto. Padahal kota ini telah lebih dulu disebut kota keripik. Lantas apa yang membuat usaha Sukini ini berbeda dari yang lain? Apa yang menyebabkan keripik tempenya ini digemari dari keripik buatan lokal.

"Makanan itu biasanya diingat atau dikenang karena bentuk dan kualitas rasa," ujar sang pengusaha. Ia melanjutkan bentuk tempe mereka dibuat unik, yakni bulatan- bulatan kecil. Sukini terjun langsung sampai detik ini. Ia ingin kualitas produk selalu terkontrol. 
 
"Karena hampir semua proses dilakukan di satu lokasi, satu kontrol, dan satu pengawasan, maka usaha kami bisa dikategorikan sebagai produksi tempe keripik terpadu," terangnya.

Tidak adonanan keripik yang mencoba dipaten- patenkan. Semua tersentral pada Sukini bahwa usahanya ini berjalan berdasarkan instruksinya. Sebelum disubkan ke rumah warga atau pegawainya, dialah sendiri yang memastikan adonan dan pencampuran keripik sebelum digoreng. 
 
Produk keripik tempe Suka Nicky memang harus selalu fresh. Kedelai sebanyak 1,5 Kwintal setiap harinya langsung diolah menjadi tempe dan dibuat keripik. Atau, secara jalasnya tempe itu dibuat sendiri bukan langsung matang lalu digoreng.

Selanjutnya keripik tempe yang sudah jadi juga langsung di kemas (packing), dan siap untuk dipasarkan. 
 
"Sangat jarang kita mempunyai tendon melimpah, pasti armada kami langsung distribusi. Sisa di rumah hanya diperuntukkan untuk pembeli atau pelanggan yang tiba-tiba saja datang ke rumah," ujar Siswanto yang kemudian merangkap peran sebagai koordinator marketing.

Tak pungkiri keduanya kini punya impian- impian untuk usahanya kini. Dia juga mendapatkan bantuan dari mereka pemerintah dinas terkait yang disukurinya. Baik juga bantuan berupa modal atau alat untuk merehab tempat produksinya. 
 
Ada pula bantuan pendidikan bagi Sukini terutama menyangkut limbah produksi. Mereka masih punya kendala mengolah limbah tempe. Bagaimana diolah dan dimanfaatkan kembali lebih optimal. Maka ia berharap mendapatkan pendampingan akan ini.

Beryukur kalau mereka diajari cara pengolahan limbah baik dan tempat.  Terkait modal, saat ini diakui Sukini, ia dan suaminya masih sekedar memutarkan omset yang ada. Menurutnya potensi pasar sangat terbuka dan masih luas, tapi dia tidak mau gegabah dengan menambah modal lewat hutang.

Berkat usaha Suka Nicky mereka mampu membantu ibu- ibu di sekitar rumah. Mereka lebih produktif dan menghasilkan uang. Berbekal Suka Nicky, salama kurang lebih 3 tahun, suaminya tidak perlu lagi kerja serabutan. Bahkan kedua anaknya melanjutkan sekolah sampai bangkut kuliah.

Inilah kisah wirausaha keripik tempe Suka Nicky. Kami berharap prospek usaha keripik tempe dapat kamu mulai.

Pembuat Cover Album Maroon 5 Seniman Jogja

Profil Pengusaha Bayu Santoso

 
ceritainspirasi.png
 
Seniman Jogja berikut mengguncang dunia. Dia menang pembuat cover album Maroon 5 atau Maroon five. Tempat lahirnya merupakan sumber orang- orang kreatif, seperti Bayu Santoso atau Bayo Gale sapaanya. 
 
Anak muda ini menjadi sorotan nasional dan dunia tahun tersebut, dia smenjadi pemenang perlombaan unik kelas duni. Ia memenangkan lomba cover altenatif untuk album Maroon Five, membuat sosoknya mendadak terkenal. 
 
Bayu sendiri mengaku mengaku coba- coba ketika memasukan karyanya di lomba. Dia memenangkan kontes membuat desain alternatif artwork album kelima dari band pop rock kenamaan dari Los Angeles, Maroon 5, bertajuk 'V'. 
 
Tertulis di halaman resmi Maroon Five, "Congratulations to Bayo Gale on the winning artwork in our Creative Allies contest to design an alternate cover for V," Karyanya tidak hanya bagus tapi memasukan unsur Indonesia yaitu ukiran Jepara.

Desain unik milik Bayo itu bergambar muka harimau dengan paduan desain kreatif yang tegas namun tetap artistik. Bayo juga dengan cerdik menyisipkan logo 'V' yang notabene adalah tajuk album kelima Maroon 5 di antara hidung si harimau tersebut.

Siapa Bayu Santoso? Di dunia desain grafis namanya belum setenar kini. Dia hanyalah mahasiswa semester 3 Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa. 
 
Tapi berkat memenangi kontes, pemuda kelahiran asli Sleman dan bungsu dari 5 bersaudara mendadak terkenal. Perasaanya memangkan kontes tersebut, "senang dan kaget," kata pemuda kelahiran 16 September itu.

Bayu mengetahui kontes setelah membuka Facebook resmi milik Maroon 5, lalu membuka website untuk kejelasan informasi. Setelah mengetahui sisi-sisi album band asal California itu, mahasiswa yang kos di sekitar kampusnya ini membuat coretan di kertas sebagai awalan. 
 
"Mengalir saja. Saya ambil sosok harimau karena kesannya misterius," jelasnya.

Proses desain dilakukan selama 7 bulan. Finishing selama 7 hari. Terciptalah gambar wajah harimau bak ukiran dengan dominasi warna putih dipadu abu-abu dan cokelat. Di albumnya itu memang Maroon 5 memang mengandalkan lagu 'Animals' sehingga cocok jika desain covernya berupa binatang. 
 
"Memang niat untuk ikut lomba, tapi tidak menyangka untuk juara dan menang," kata Bayu merendah.

Padahal, 4 Juli 2014 lalu, Bayu juga memenangi kontes yang diselenggarakan musisi AS, Billy Joel. Dalam desainnya, Bayu menggambar sosok Billy Joel dan istana Kremlin dengan warna merah, hitam, dan krem. 
 
Apa rahasia sukses Bayu menjuarai kontes dan mengukir prestasi membanggakan? "Kesempatan jangan ditutup. Yang penting nyoba dulu, karena kita nggak tahu akan menang atau kalah," kata pemuda berkulit kuning langsat ini.

Memang jika kita tak pernah mencoba maka tak akan tau hasilnya; gagal atau sukses.

Gibran Anak Jokowi Pengusaha Katering Sukses

Profil Pengusaha Gibran Rakabumi Raka

 
gibrankatering.png
 
Gibran anak Jokowi tidak mengandalkan orang tua. Dia bernama lengkap Gibran Rakabuming Raka, yang merintis menjadi pengusaha katering sukses. Awal- awal dia sempat tidak nyaman disorot media masa. Kini profilnya dimana- mana disebutkan sebagai pengusaha sukses.
 
 
Dia bukanlah seorang penggaguran, yang akan selalu mengikuti ke mana saja ayahnya pergi. Memiliki bisnis stabil dia mampu membiayai keluarga kecilnya. Gibran juga mengikuti jejak sang ayah. Tanpa ragu dirinya terjun ke dunia politik bermodal wirausaha.

Dia memiliki bisnis serius dibidang kuliner yang mulai berkembang pesat. Bisnisnya bisa jadi motifasi bagi kita karena dia memulai semuanya dari nol.

Bisnis keluarga


Pagi itu, Senin 20 Oktober, pemuda bernama lengkap Gibran Rakabuming Raka itu diperkenalkan di depan awak media oleh Jokowi. Selain anak tertua itu, Jokowi juga memperkenalkan istrinya, iriana, serta dua anak lainnya, Kahiyang Ayu dan Kaesang Pangarep. 
 
Gibran memang jarang bersama ayahnya. Dia memilih sibuk bekerja dibalik usaha kateringnya. Lalu bagaimana dengan usaha keluarga?

Jokowi ingin anaknya melanjutkan bisnis keluarga. Itulah pasti yang dirasakan para pengusaha ketika masa jaya telah didapat, dan sang penerus telah mantap. Pemuda kelahiran Solo, 1 Oktober 1988 itu, malah sibuk mengurusi bisnis kateringnya, Chilli Pari Catering Service. 
 
Jokowi pun dikabarkan marah besar disaat putra sulungnya itu memilih membuka bisnis sendiri, " lha terus sing ngelanjutke sopo? Kalau saya jadi wali kota, siapa yang ngelanjutin? Kamu nggak nurut sama orangtua!" kata Jokowi.

Sejak lulus sekolah dasar, Gibran memang sudah hidup terpisah dari orangtuanya. Sejak SMP, dia tinggal di Singapura. Dia menempuh pendidikan setingkat SMA di Orchid Park Secondary School, Singapura, pada tahun 2002. 
 
Dia kemudian melanjutkan pendidikan di Management Development Institute of Singapore (MDIS). Setelah lulus pada 2007, dia pindah ke Australia untuk belajar di University of Technology Insearch, Sydney, Australia.

Saat kuliah lah Gibran menyebut waktu dimana dirinya tertarik di bisnis kuliner. Meski dipaksa- paksa untuk melanjutkan bisnis keluarga, ia tak bergeming. Dia melihat potensi bisnis kuliner khas Solo meski tak punya pegangan di bisnis tata boga. 
 
Satu yang dia pegang adalah prospek bisnis yang cerah, mengikuti intuisinya. Setelah lulus kuliah di 2010, dia nekat membuka katering kecil-kecilan. Gudang mebel sang ayah disulapnya menjadi kantor dan dapur.

Berdirilah usaha bernama Chilli Pari Catering Service itu. Meski sudah berjalan Jokowi katanya bersi keras tak mau mengeluarkan modal untuknya. Nama bukanlah asal dipilih. Gibran mempertimbangkan nama itu secara filosofi. 
 
Chilli yang berarti cabai. Warna merahnya menggambarkan keberaniannya. Sementara Pari yang dalam bahasa Indonesia yang berarti padi menggambarkan kemakmuran. Bermodal proposal, dia menyusuri tujuh bank untuk memberikan sokongan dana.

Akhirnya ada satu bank yang setuju untuk memberikan pinjaman modal. Usaha yang dimodali sekitar 1 miliar itu resmi berdiri pada Desember 2010, menggarap order kecil- kecilan di Solo.

Meski berkecukupan ia tak lantas merengek meminta bantuan modal. Dia konsisten dengan pilihannya atas intuisinya. Awalnya, Gibran hanya mempekerjakan belasan orang sajak. Namun sejak di bulan Januari 2011, perusahaan katering ini sudah memakai tenaga ratusan orang. 
 
Melihat perkembangan usaha anaknya yang maju akhirnya Jokowi luluh juga. Tahun 2011 Jokowi mengizinkan anaknya mengelola Catering wedding di gedung pertemuan Graha Saba milik Jokowi. 

Sekarang bisnisnya selain rutin mengelola catering di Graha Saba juga melayani katering berbagai event baik nasional maupun internasional. Catering Chili Pari milik putra sulung Jokowi ini sangatlah berbeda dengan catering lainnya di Solo. 
 
Katering di Solo hanya menyajikan menu-menu yang standar, seperti kroket, sup matahari, atau lauk sambal goreng hati. Di Chili Pari banyak disajikan menu-menu baru yang belum lazim di Solo, namun  penyajiannya tetap dengan ala "piring terbang" yang menjadi khas Solo.

Katering Chili Pari mengerti sekali karakteristik masyarakat Solo pada umunya. Kalau tamu nggak dilayani, itu nggak sopan namanya. Makannya dengan sistem "piring terbang" tidak bisa ditinggalkan dalam setiap event baik pernikahan, pertemuan dan lain sebagainya di Solo. 
 
Namun bagi sebagian anak-anak muda Solo yang sudah terbuka dan modern biasanya ada juga yang memilih sistem buffet. Anak sulung Jokowi memang tidak mematuhi orang tua tapi punya cara untuk meluluhkan mereka; dengan bekerja keras.

Bisnis katering ini dengan cepat tumbuh. Sebuah terobosan dia lakukan. Tak melulu menyediakan menu makanan khas Solo. Menu-menu andalan dari Jawa, Jepang, dan bahkan dari negara Barat, dia sajikan. Nama Chilli Pari pun semakin berkibar. 
 
Dan kini, Gibran tercatat sebagai Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia . Lalu bagaimana dengan bisnis mabel keluarga? Gibran pun mengatakan: "Saya nggak tahu nanti adik- adik saya apakah mau melanjutkan usaha Bapak atau tidak. Kalau saya, jelas sudah tidak mau," tegasnya.
 

Pengusaha Berhutang

 
Pengusaha katering sukses ternyata pernah berhutang. Menurut ceritanya dia sempat membuat usaha kertas. Dia tidak punya pengalaman. Melainkan bermodal kertas proposal mengajukan pinjaman. Tentu dia ditolak hampir semua bank. Dia masih bau kencur belum berpengalaman berbisnis.

Cuma satu bank setuju memberikan pinjaman Gibran. Itupun uang dikeluarkan tidak utus sesuai apa isi proposal. Pertama kali membangun bisnis dia tidak menyiapkan dapur. Malah menyulap kantornya jadi semacam restoran mini. 

"Pertama kali yang paling penting kantor depan dulu haru bagus. Dibelakang dulu belum ada apa- apa, cuma ada satu kompor," jelasnya di halaman situs Chili Pari.

Ternyata terdapat tujuan merubah kantor menjadi restoran mini. Disinilah orang akan datang mencicipi makanan kateringnya. Mereka tidak perlu tau bahwa di dalam cuma punya sekompor. Penampilan muka sangat meyakinkan pemesan katering.

Menjadi pemula bisnis katering tentu tidak mudah. Awal Chili Pari ditolak lantaran belum memiliki nama. Pernah dibatalkan karena pihak konsumen tidak mempercayai. Gibran memutar otak. Datanglah dia ke rumah konsumen yang membatalkan.

Tujuannya tidak lain bersilaturahmi baik- baik. Dia membawa sendiri katalog makanan. Bahkan dia membawa sample buat dicoba. Ditambah iming- iming bonus apabila melanjutkan pesanan. Dari Chili Pari, kateringnya merambah wedding organizer, souvenir, undangan bahkan foto pre- wedding.

Lewat bisnis kuliner Chili Pari muncul martabak manis besar Markobar, pasta bakar Pasta Buntel, Goola minuman tradisional modern, Ternakopi untuk kopi, dan Mangkoku buat makanan dalam mangkok aneka topping.

Tempe Organik Pengusaha Senior Agus Priyanto

Profil Pengusaha Agus Priyanto

 

tempeorganik.png
 

Pengusaha senior Agus Priyanto dikenal Agus Tempe. Dia penggagas bisnis tempe organik. Pria 65 tahun tersebut memakai kacang koro menjadi pengganti kedelai. Sejak 2012, dia juga memanfaatkan kacang kedelai lokal, yang dianggap tidak enak tetapi sama bernutrisi.


Agus menjelaskan kacang koro pedang cocok. Lebih lanjut bahwa tempe sebenarnya memakai kacang- kacangan. Tidak harus memakai kedelai. "Tempe itu awalnya kacang- kacangan. Tidak identik memakai kedelai. Tanaman koro pedang ini bagus dijadikan tempe," ujarnya.


Tempe produksinya kemudian dilabeli organik. Kecintaan akan tanaman organik sudah tidak diragukan. Ia juga merupakan pendampi para petani Majalengka, Jawa Barat, terutama untuk mengembangkan hasil pertanian kacang koro.


Bisnis Organik


Kacang koro banyak tetapi dibutuhkan nilai tambah. Ada Added Value demi menaikan harga jual. Ini termasuk membuatnya menjadi tempe. "...awalnya banyak trial and error," celetuknya. Agus coba- coba sampai hasilkan tempe.


Mengenal pertanian organik ketika bertemu komunitasnya. Pengusaha senior ini memupuk kecintaan akan organik. Lewat komunitas, dia mulai memproduksi dan memasarkan, dan bahkan ditawari ikutan pameran organik. Agus sempat tidak percaya diri akan produknya.


Begitu ditawari Agus tidak langsung mengiyakan. "Saya masih ragu. Tempe koro ini akan laku atau tidak. Bisa diterima atau tidak. Begitu pikir saya kala itu," ia menjelaskan. Namun mereka meyakinkan Agus hingga ikut pameran.


Selepas pameran, maka mengalirlah pesanan sampai dua tahun berjalan aman. Agus lalu memproduksi tempe koro disesuaikan pesanan pelanggan. Ia berinovasi. Hasilnya Agus menciptakan varian tempe lain berbahan kacang hijau, kedelai kuning, dan kedelai hitam.


Agus sendiri tidak mematok mendapat untung berapa. Bahkan ia mau memberikan bantuan buat para pemula atau non- profit oriented. Selama dua tahun itu, Agus tidak pernah menaikan harga, padahal makanan organik tengah naik daun.


Ia justru meyakinkan masyarakat akan dampak kesehatan. Bahwa tempe organiknya sehat walaupun berharga murah. Sehat tidak harus mahal. "Saya ingin berbagi sehat, karena tempe ini sebagai super food. Bahkan diluar negeri, harga tempe bisa lebih mahal daripada daging," ujar Agus.


Dibutuhkan waktu sampai mampu menjual tempe koro. "Saya awalnya memakai koro, tapi ternyata tidak mudah mengubah kebiasaan dari kedelai ke koro," jelas Agus. Tempe mengandung prebiotik dan probiotik. 

 

Tempe organik buatanya rata- rata dibeli mereka penderita auto- imun dan penderita lupus. Nama Agus Tempe bukan cuma julukan tetapi dijadikan branding. Ia memproduksi hanya 200- 300 potong. Agus cuma memanfaatkan penggiling kacang dan peralatan sederhana.


Tempe dibuat tradisional. Respon pasar sejujurnya sangat baik. "Saya sering kwalahan tenaga, karena kekurangan SDM yang baik," Agus menjelaskan. Kemampuan produksinya lumayan dan pengiriman dilakukan sendiri bahkan keluar Jabodetabek.


Beberapa reseller mengajukan diri ke Agus. Toko organik baik online dan offline meminta dikirimi. Dari penjualan tersebut Agus Tempe menyebar keseluruh Indonesia. Harga tempenya itu dibandrol Rp.4500- 7000. Agus ditanya soal bahan baku dan memang berlimpah.

Keris Warisan Leluhur Seni dan Bisnis

Artikel Bisnis Desa Keris Aeng Tongtong

 
 
pembuatkeris.png

Keris warisan leluhur antara seni dan bisnis. Siapa sangka kerajinan keris mampu menembus ke pasar internasional berkat ketekunan. Mereka bukan satu atau dua orang pengusaha tapi satu desa. Warga Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. 
 
Setiap daerah punya ciri khas tersendiri dalam pembuatan keris begitu juga desa ini. Keris khas yang dikerjakan oleh sebagian warga desa menghasilkan 4 juta hingga 10 juta rupiah per- keris saja.

Dari pemasarannya warga Desa Aeng Tongtong memasarkannya hingga ke luar pulau Madura seperti Surabaya, Blitar, Malang dll,bahkan hasil seninya sampai ke manca Negara seperti Malaysia, Singapur dll.
 

Perjalanan Menyusuri


Berdasar data dari Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Sumenep, sedikitnya terdapat 554 perajin keris di Kota Sumekar. Mereka lantas tersebar di tiga kecamatan, yakni Lenteng, Bluto, dan Saronggi. 
 
Desa Aeng menjadi sentranya keris terpopular. Kerajinan pembuatan keris di desa tersebut juga diketahui sebagai warisan dari leluhur. Sehingga tidak heran bila keris Desa Aeng Tontong sudah menembus pasar internasional.

Menurut Kepala Desa (Kades) Aeng Tongtong, Taufik Rahman, usaha daerahnya sebagai sentra kerajinan keris sudah ditekuni warga sejak tahun 1970-an. Saat ini terdapat sekitar 350 perajin keris di Desa Aeng Tongtong. 
 
Dalam sehari, mereka menghasilkan sekitar 300 keris yang jika satu buahnya 4 juta rupiah bisa mencapai nilai 400 juta. Jenisnya bervariasi. Ada keris pamor blarak sleret, pamor malate sato’or, dan ojan mas. Ada juga jenis keris nogo sosro, lawi saokel, dan bulu ayam.

"Para perajin di Desa Aeng Tongtong juga ahli membuat keris jenis kulit semongko, brasuta, genggeng ranyut, dan junjung drajat," tutur Taufik kepada jppn.com.

Dia menjelaskan, harga per- keris buatan para perajin di Desa Aeng Tongtong bervariasi. Ada yang dijual mulai dari ratusan ribu rupiah. Ada pula yang mencapai ratusan juta rupiah tergantung jenisnya. 
 
"Harga bergantung jenis dan kualitas keris," jelasnya. Kerajinan keris di Desa Aeng Tongtong relatif maju. Meski begitu, bukan berarti tidak ada kendala. 
 
Mudahwi, 30, salah seorang perajin setempat, mengungkapkan bahwa kendala terbesar terkait dengan perizinan. "Keris masuk kategori senjata tajam sehingga perlu izin untuk memilikinya," katanya.

Aeng Tongtong dalam bahasa Madura berasal dari kata "aeng" sementara "tong –tong" adalah bejana yang dibawa dengan cara dijinjing. 
 
Mengapa diberi nama demikian, alasannya karena letak geografis Desa Aeng Tongtong yang ada di lereng bukit dan berbatu-batu, menyebabkan warga harus membawa semacam gentong untuk mendapatkan air di mata air yang terletak di bagian barat Desa Aeng Tongtong. 
 
Di desa ini konon para raja di Kraton Sumenep mempercayakan penduduk untuk membuat keris. Maka secara tidak langsung seluruh warga di desa tersebut menyandang gelar Mpu (sebutan untuk pembuat keris). 
 

Antara Seni dan Binis

 
Konon keahlian itu merupakan hasil warisan dari Pangeran Bukabu, beliau merupakan guru para raja yang ada di Sumenep. Keahlian itu pun terpelihara hingga sekarang sebagai tradisi warisan budaya. 
 
Murka yang kini berusia 70 tahun, suami Amsiyani (65), dia lah salah satu maestro keris yang dimiliki oleh Desa Aeng Tongtong yang masih hidup.

Beberapa kali pertanyaan wartawan tidak ditangkap dengan baik oleh Pak Murka. Larip bercerita bahwa pendengaran ayahnya sudah berkurang. Sejak terjatuh di rumahnya sekira enam bulan lalu, kehidupan Murka' sebagai pembuat keris memang mulai berubah. 
 
Usianya yang telah tua, menyebabkan sakitnya tak lekas enyah. Itulah sebabnya bapak dua anak ini memerlukan bantuan anak-anak dan menantunya untuk berjalan atau ketika menerima tetamu di rumahnya.

"Tapi belakangan beliau sudah mulai berkarya kembali, tentu saja untuk pekerjaan yang ringan. Misalnya, mendesain keris," tutur Larip mengenai kondisi sang ayah.

Murka telah mengenal keris sejak tujuh tahun. Memang desa Aeng Tongtong adalah desa keris bahkan dari jaman penjajahan Belanda. Banyak keris buatan desa ini diboyong ke Belanda sebagai oleh- oleh. 
 
Setelah akrab dengan keris, Murka pun mulai mendalami keris. Saat usianya menginjak 20 tahun, ia telah berani mengerjakan perbaikan keris-keris yang rusak. Dari waktu ke waktu, Murka' yang memang berbakat juga pada bidang senirupa, mulai memberanikan diri membuat keris sendiri.

Hasilnya, sungguh menakjubkan, selain berkharisma, keris bikinan tangan Murka' lebih indah karena disertai sentuhan seni rupa yang dimiliki oleh Murka. Pesanan pun datang silih berganti. 
 
Selain melayani pembeli yang menginginkan sebagai koleksi saja, Murka juga melayani pembuatan untuk oleh-oleh. Untuk yang hiasan atau oleh-oleh,  pamor dan ukirannya dibuat lebih sederhana. 
 
Pamor sendiri adalah ukiran yang terdapat dibatang keris biasanya mengkilat karena pamor itu berasal dari batu meteor yang jatuh dari langit. Untuk yang bertuah biasanya mendapat perlakuan khusus yaitu ritual lelaku si Mpu membuat keris dengan berpuasa selama 3-7 hari tergantung tingkat kesulitannya. 
 
Setelah itu baru dibuat dan selama proses pembuatan si Mpu tidak boleh bicara sedikitpun tetapi harus konsentrasi dalam pembuatan keris bertuah tersebut.

Sampai saat ini jumlah penduduk yang membuat keris di Aeng Tongtong mencapai 90% dan sisanya adalah petani. Pesanan tidak pernah sepi setiap harinya. Bila kamu berkunjung kesana pasti akan mendengar bunyi dentingan besi ditempa dan mesin gerinda berdering yang menghiasi sudut desa. 
 
Murka sendiri merupakan satu dari beberapa maestro yang tersisa di desa tersebut. Dia menjadi salah satu Mpu yang menghasilkan karya menakjubkan.

Di bawah generasinya, boleh dibilang masih banyak, tapi untuk mereka yang segenerasi dengan sang maestro sendiri bisa dihitung. Generasi di bawah Murka', jika dikumpulkan semua, maka jumlah empu di Sumenep sungguh menakjubkan banyaknya.

Ada 554 empu keris yang tersebar di tiga kecamatan, atau di sepuluh desa. Kecamatan Bluto tercatat 300 orang pengrajin keris yang tersebar di enam desa, Desa Palongan (150 orang), Aeng Baje (40 orang) Kandangan (35 orang) Gingging (25 orang), Sera Timur (30 orang), Karang Campaka (20 orang). 
 
Kecamatan Saronggi, ada 204 pengrajin yang tersebar di tiga desa, yakni Desa Aeng Tongtong (150 orang), Talang (29 orang), Juluk (25 orang), sementara di Kecamatan Lenteng ada 50 orang yang tersebar di tiga desa, yakni Desa Lenteng Barat (40 orang), Lembung Barat (7 orang), Lembung Timur (3 orang).

Dari 554 empu keris, mampu mengekspolrasi 450 bentuk dan nama keris dari zaman ke zaman. Sehingga keris buatan empu Sumenep terus di minati oleh kolektor keris dari berbagai belahan dunia. Di usianya yang telah senja, Murka' tetap bersemangat untuk berkarya. 
 
Terbukti, meski dalam kondisi sakit, kakek empat cucu ini sudah mulai mengawasi Larip (putranya) bekerja membuat keris. Jika ada yang berubah dari keris, kini peralatan untuk membuat keris lebih modern.

Dulu, agar bisa diukir dan dibentuk pamornya, keris dibakar di paron (besi landasan tempa), tapi sekarang cukup dengan api las. Sementara untuk menajamkan sisi keris, dulu empu sering menggunakan kikir. 
 
Tapi sekarang banyak yang pakai beji. Untuk kegiatan puasa atau tirakat juga semakin hilang. Masih ada beberepa yang melakukan satu kegiatan puasa untuk keris buatannya, tapi kini kian memudar. 
 
Tradisi membuat keris yang dimulai dari tirakat memang masih berlangsung di Aeng Tongtong, namun jumlahnya kian sedikit. Biasanya, untuk keris 'bertuah', empu itu berpuasa tiga hari sebelum mulai membuat keris pusaka.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba