Cerita Pengorbanan Ibu Rela Miskin Demi Usaha

Profil Pengusaha Natalia Soetrisna

 
pengorbananibu.png
 
Perempuan mandiri yang rela miskin demi usaha menyembuhkan putrinya. Cerita pengorbanan ibu, seorang pebisnis, dan suatu pristiwa merubahnya. Perempuan mandiri dan percaya diri. Dia dikenal sebagai business women, yang lekan urusan duniawi.

Sejak lulus SMA Loyola, Semarang, Natalia Soetrisna Tjahya langsung mengambil kuliah di fakultas teknik sipil Universitas Parahyangan, Bandung.

Lulus kuliah, dia langsung menjadi konsultan di berbagai perusahaan, setelah sempat bekerja di sebuah bank di Semarang. Hingga akhirnya, Natalia mendirikan perusahaan travel bernama Excalibur di tahun 1999, yang mengantarkannya pada misi perdagangan Indonesia di manca negara.
 

Cobaan Hidup

 
"Apa yang barangkalai orang lain tak bisa kerjakan, saya mampu menuntaskan dengan baik," katanya mengenang. 
 
Kepercayaan diri itu kian membumbung tinggi lantaran orang-orang disekitarnya mempercayainya, lalu semuanya berbalik. Inilah cerita pengorbanan ibu rela miskin demi sang anak.


Maria Monique adalah putri semata wayang miliknya. Lebih berharga dari karir yang cemerlang serta bisnis yang mentereng. "Bagi saya, itu merupakan beautiful jurney," katanya. Putri semata wayangnya itu kini telah tiada, ia meninggal dunia pada 27 Maret 2006. 
 
Ada bakteri mematikan yang bersarang di katup jantungnya. Bakteri itu menyebar menggerogoti otak dan paru-parunya. Monique mengalami fase hidup-mati sampai tiga kali. Secara klinis, dokter telah menyatakannya meninggal tapi berulangkali dia kembali sadar.

Di tahun 2005 Monique terserang panas tinggi. Jumlah trombositnya turun drastis hingga tinggal 40 ribu. Lalu dokter mencurigainya menderita leukimia atau kanker darah.  
 
Gadis kecil itu harus mendapat perawatan berupa suntikan imunoglobin sebanyak tiga kali sehari. Sekali suntik, Rp 5 juta. Hasil pemeriksaan dokter di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, sebelumnya justru tak mengindikasikan Monique terserang leukemia.

Penyakit apa ini? Kondisi Monique kecil semakin parah, alternatifnya, Natalia harus membawanya ke Singapura untuk sedot tulang sum- sum belakang. Belum sempat mengambil sikap, detak jantung Monique keburu berhenti. 
 
Dokter menyatakan secara klinis Monique meninggal saat itu sebelum diterbangkan ke Singapura. Itulah pertama kali Monique dinyatakan meninggal. Namun beberapa menit kemudian jantungnya kembali berdetak. 
 
Hasil pemeriksaan dokter internis, diketahui ada bakteri bersarang di katup jantungnya. Pada hari 19 Februari 2006, Natalia memboyong Monique ke Singapura. Natalia sampai menyewa pesawat carter, mengingat tubuh Monique penuh dengan alat bantu. 
 
Tiba di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Monique langsung ditangani. Dokter mendiagnosis, bakteri di jantungnya itu sudah menyebar ke paru-paru. Dengan berbagai peralatan Monique dirawat secara intensif. Namun Monique kembali kolaps. Detak jantungnya kembali terhenti.

Kematian kedua pun terjadi, dan ajaibnya, lima menit berselang jantungnya kembali berdetak kembali. Kejadian tersebut berulang bahkan detak jantungnya sempat terhenti selama satu jam. Tm dokter RS Mount Elizabeth angkat tangan. 
 
Apalagi ketika itu sudah terjadi kerusakan otak. Setelah serangkaian operasi yang dilakukan, Monique menghembuskan napas terakhir. Natalia sudah habis- habisan. Hartanya ludes untuk segala daya upaya. Rumahnya dijual, perusahaannya pun di lego. 
 
Meskipun demikian, dia tak bisa mempertahankan putrinya. "Saya benar-benar dilumpuhkan. Akhirnya hanya kepada Tuhan saya berpasrah diri." Katanya. Biaya pengobatannya mencapai lebih dari 3 Miliar. Padahal uang Natalia yang tersisa hanya 8 juta.

Keajaiban kembali hadir, kasus Monique menuai simpati masyarakat Singapura setelah harian The Straits Time mengulas keajaiban kasus Monique dan kegigihan Natalia. Simpati terus berdatangan bahkan para narapidana turut mendoakan Monique. 
 
Sang dokter bahkan rela tak dibayar bahkan Natalia yang mendapat uang 2,5 Miliar dari para donatur, sehingga soal biaya teratasi. Hingga terbayang olehnya "Monique Monique" yang lain. Ia ingin memberikan sesuatu agar anak-anak itu bahagia.

Apalagi itu adalah permintaan terakhir Monique agar anak- anak sebayanya yang kurang beruntung. Ia kemudian mendirikan Maria Monique- Last Wish Foundation, dia mendedikasikan diri sepenuhnya untuk aktivitas sosial itu.

"Tujuan hidup saya adalah membuat anak-anak berpenyakit kritis tersenyum bahagia," katanya. Pengalaman selama 40 hari menunggui Maria Monique di Mount Elizabeth Hospital Singapura, yang membuat pandangan hidupnya berubah.

Mereka berasal dari mana saja, dari Banjarnegara, Kebumen, purwokerto, Pekalongan, Brebes, Tegal, dan Yogyakarta serta daerah lain di luar pulau Jawa. Wujud pemberian wish bermacam-macam tergantung permintaan si anak sendiri. Seperti  aneka mainan, sepeda, kursi roda dan kaki palsu. 
 
Ada pula yang ingin dipertemukan dengan tokoh idolanya. Untuk anak-anak korban bencana alam, Natalia langsung memberikan sesuatu yang menurutnya menjadi kebutuhan mereka. Intinya apa saja untuk mewujudkan keinginan sang anak yang mungkin bisa jadi yang terakhir. 
 
Selain itu ia juga aktif membuat program- program spesifik untuk membantu anak- anak. Melalui program kursi roda bernama Cahaya Hidupku, Natalia telah menyalurkan 1000 kursi roda dan kini meningkat menjadi 10 ribu program kursi roda.
 

Pengusaha Sosial

 
Kegiatan yayasan pun tak melulu di dalam negeri. Kiprahnya terus merambah ke berbagai negara seperti Cina, dia memberikan bantuan aneka mainan dan alat musik. Di Vietnam, ada 800 anak-anak cacat korban Agent Orange Victim mendapat bantuan serupa. Begitupun untuk 300 anak di Mumbai, India. Pada tahun 2008, Natalia bertandang ke Afrika Selatan.

Dia pernah menyulap perpustakaan di Nkosi Johnson hostage, Afrika Selatan, menjadi hunian bagi orang tua dan anak-anak yang terinfeksi HIV AIDS, menjadi Maria Monique Happy Room. Di "Ruang Kebahagiaan" itu tersedia aneka macam kebutuhan anak- anak. 
 
Ada mainan playstation, custom player, musik, komputer, buku-buku, sepeda, seruling dan gitar. "Ada ribuan item, yang terbanyak custom player, dan itu disukai anak-anak," katanya.

Aktivitasnya mendapatkan perhatian dunia melalui siaran CNN dengan program Impact World. Mereka rela menayangkan  kegiatan yayasan selama seminggu berturut-turut pada pembukaan tahun baru 2010. 
 
"Yang bisa mengalahkan rating acara itu Cuma bencana di Haiti," katany. Toh, Natalia tak merasakan itu sebagai sebuah kesuksesan. "Ini adalah amanat Tuhan, bukan sebuah prestasi," kilahnya.

Semuanya adalah keajaiban, ia tak membangun yayasan ini sendirian. Jika ada permintaan akan ada saja yang membantunya. 
 
Seperti saat ada permintaan di Nias 12 kursi roda, pas ia buka e-mail ada donatur yang juga mau menyumbangkan, dan saat ditanya berapa kursi roda yang mau disumbangkan ternyata sang donatur menjawab 12, "Kok pas banget ya," kata Natalia.

Saat bencana gempa Haiti, Natalia bertandang ke negara tersebut dan memberi kebahagiaan kepada anak-anak korban bencana alam. Dia membuat kegiatan bertajuk "Maria Monique Compassion to Haiti", itu mendapat dukungan pribadi-pribadi dan lembaga- lembaga di Indonesia serta luar negeri. 
 
Penyanyi Titiek Puspa secara khusus menciptakan lagu berjudul "I’m Your Maria Monique", yang nanti akan dinyanyikan saat di Haiti. Aktor Mike Lewis dan Tamara Blezinski mendukung dengan menyerahkan dana hasil penjualan foto pernikahan dan wawancara eksklusif pernikahan mereka senilai sekitar 100 juta pada yayasan. 
 
Tak ketinggalan dukungan dari CNN Impact Your World, Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta dan Tim Oprah Winfrey, World Vision Germany dan Central International School dan Singapore Press Holding, dan lain- lain.

Perusahan Rambu Keselamatan Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Doni Tirtana

 
 
rambukeselamatan.png
 
Yuk mengenal pengusaha muda bernama Doni Tirtana. Dia ini pemilik perusahaan rambu keselamatan. Perusahaan yang bertanggung jawab atas keselamatan. Perusahaannya yang pembuat safety banner atau membuminya kampanye keselamatan dan kesehatan kerja (k3).
 
Biasanya sih kamu akan menemukan di sekitar area industri atau pabrik- pabrik besar berada. Kenapa Doni Tirtana? Dia, melalui perusahaan CV. Lorco Menara Multimedia, Doni dan timnya merancang berbagai karya kreatif untuk menyampaikan pesan keselamatan. 
 
Pesan tersebut ditujukan bagi karyawan perusahaan yang menjadi kliennya. Pesan- pesannya tampil unik, mengena tapi masih ada unsur jenaka yang didukung oleh konsep animasi. Hasilnya kata- kata itu akan terbenam dalam alam bawah sadar masyarakat.
 

Bisnis Unik

 
Ketika melihat gambar helm di kawasan industri misal, secara spontan saja karyawan itupun pasti akan memeriksa apakah kepalanya sudah memakai helm, atau belum sambil dipakaikan helm. Perusahaan berjualan berbentuk banner, masih ada bentukan lain seperti safety poster, bahkan ada video animasi.

Lorco Menara Multimedia menjadi satu- satunya yang serius menggarap pasar ini. Lorco ini didirikan oleh Doni Tirtana sejak 2006 di Bandung, modalnya Rp 15 juta. Awalnya, fokus usahanya adalah jasa dan produksi media cetak (desain grafis), audio dan produksi video khusus. 
 
Ini standar perusahaan multimedia banget. Setelah menyelesaikan kuliah Teknik Fisika Institut Teknik Bandung, Doni mulai berwirausaha dengan membuat CD interaktif dan videografi.

"Di Indonesia pelaku bisnis seperti ini belum ada. Sementara kebutuhan kampanye keselamatan kerja telah menjadi kebutuhan utama. Jadi menurut saya bisnis ini punya peluang besar," jelas Doni.

Titik balik pria kelahiran Malang, 29 Juli 1980, ini ketika di 2007 salah satu seniornya di Unilever meminta mengerjakan video safety induction. 
 
"Sebenarnya, mulanya saya tidak mengerti apa itu safety induction. Bahkan, setelah dijelaskan pun, masih belum ngeh. Tapi tawaran itu saya terima saja," ujar Doni sambil tertawa.

Kala itu, ia menilai proyek untuk pembuatan video safety induction ini cukup besar, yakni Rp 130 juta. Tak mau gagal untuk proyek perdananya tersebut, Doni pun mengajak senior lainnya yang bekerja sebagai process safety engineer untuk turut menggarapnya bersama. 
 
Hasilnya, pihak Unilever cukup puas atas video buatannya. Dia pun bersemangat atas keberhasilannya. Para seniornya pun ikut mendukung, menyarankan agar fokus pada safety campaign design, yang kala itu belum ada di Indonesia. Di luar negeri sendiri sudah banyak pemain safety campaign design. 
 
Tapi di Indonesia belum ada. "Saya pikir ini peluang," terang Doni.
 
Strategi jitu dipilih Doni untuk memasarkan layanan safety campaign design ini, yaitu ikut bergabung di mailing list khusus untuk bidang health, safety and environment (HSE) dan kesehatan, keselamatan, keamanan kerja & lingkungan hidup (K3LH). 
 
Sebab, melalui milis- milis tersebut, ia bisa melihat dan tahu kebutuhan apa saja yang diinginkan suatu perusahaan untuk mengampanyekan K3. Selain maling list, melalui situs Lorco, perusahaan kecilnya mencoba menembus pasar melalui dunia internet. Ternyata ini cukup manjur. 
 
Ditambah tenaga ahli yang ikut membantu mendongkrak SEO dari situsnya. Ini dimaksudkan agar situsnya selalu menjadi yang pertama di mesin pencari Google. Lainnya ia juga beriklan melalui program Google Adword, melalu Google banyak pesanan mengalir. 
 
Di 2009, Doni membangun satu perusahaan baru PT. Safety Sign, fokusnya pada pembuatan rambu- rambu keselamatan. Sekarang namanya Group Lorco terdiri dari berbagai perusahaan. Fokusnya tidak hanya safety banner atau video tapi berbagai rambu- rambu keselamatan dalam berbagai media. 
 
Produk animasi K3 Lorco pun mulai banyak digunakan pihak korporasi besar. Pada tahun 2010, Lorco membuat enam klip untuk Pertamina. Selain Unilever dan Pertamina, perusahaan lain yang menjadi pelanggan loyal Lorco adalah Conoco Philips Indonesia.

Diungkapkan Doni, salah satu proyek besar yang diterimanya adalah membuat safety sign untuk rig offshore PT. Gunanusa Utama Fabricator di Thailand, yakni sebesar US$ 50.000. Pria yang hobi traveling dan snorkling ini mengaku usahanya tak semulus yang terlihat. 
 
Dia pernah ditipu salah satu kliennya. Awalnya, ia dijanjikan untuk bekerja sama sebagai produsen dalam membuat safety sign yang akan diedarkan ke seluruh Indonesia. Ternyata, yang dibeli adalah desainnya saja, dengan janji tidak akan diperjualbelikan.

Namun, setelah 3-4 bulan berlalu, temannya menelepon memberitahukan bahwa desainnya diperjualbelikan dan diedarkan di seluruh Indonesia. Tak hanya itu, keterlambatan pembayaran pun sering dialaminya. 
 
Misalnya, ada salah satu anak usaha Grup Bakrie yang baru membayar invoice setelah setahun.

"Sekarang untuk pembelian produk didasarkan pada kontrak atau PO. Untuk yang sudah jelas gambarnya, tinggal menunggu PO saja. Tetapi kalau belum, kami akan melakukan survei terlebih dulu, lalu diterbitkan invoice-nya," papar Doni kepada SWA.

Usaha Modal 150 Ribu Sahabat Jadi Pengusaha

Profil Pengusaha Norma Pawestri dan Nurinda Fauzia

 

sahabatpengusaha.png
 

Paling enak memang punya sahabat jadi pengusaha. Bersama mereka usaha modal 150 ribu. Hasilnya itu sangat mengejutkan karena untung jutaan rupiah. Norma Pawestri dan Nurinda Fauzia bersama- sama membangun usaha fashion unik.


Norma yang akrab dipanggil Fha dan Nurinda yang akrab dipanggil Chichi, yang berjualan tote bag, sling bag, boneka, dan bantal. Terunik mereka membuat gantungan kunci berbahan kain. Bentuknya unik dari gambar bungkus mie instan, susu UHT, dan bahkan teh botol Sosro.


Keduanya tidak memiliki latar belakang pengusaha. Tidak pernah berjualan sebelumnya tetap nekat. Fha sendiri lulusan Akuntansi STIE YKPN, Yogyakarta, sementara Chichi sendiri lulusan Arsitektur di UGM. Tentu mereka memiliki jenjang pendidikan layak tanpa capek usaha.


Jadi Pengusaha

 

Keputusan menjadi pengusaha memang sulit. Usaha yang bernama Halokamu dimulai 2016 silam di Yogyakarta. Berawal Chichi yang senang menggambar, sedangkan Fla juga sudah mulai berjualan. Fla meyakinkan Chichi buat berdagang.


"Dengan ketrampilan dan pengalaman kami punya, akhirnya kami memutuskan membuka usaha," ujar merekapa kepada Detik.com

 

Brand bernama Halokamu terasa Indonesia banget. Mudah diingat orang lain. Halokamu akan berasa mereka menyapa kita. Modal Rp.150 ribu dipakai buat produksi kemudian dipajang. Mereka foto- foto produknya kemudian diunggah ke Instagram dan Facebook.


"Modalnya memang sangat minim, saat menjalankan bisnis memang kami memang menyiapkan ide, niat dan sedikit modal," ucap dua sahabat jadi pengusaha ini. Lantas memanfaatkan sosial media yang dianggap efektif menarik banyak orang.


Fha awal membuat aneka produk bertemakan makanan. Tentu semua didasari kesukaan keduanya akan camilan Indonesia. Mereka ingin produk unik, menarik, dan cocok digunakan semua kalangan. Bisa menjadi oleh- oleh khas dari anak- anak sampai dewasa.


Ketika camilan dituangkan dalam produk maka semua senang. Yang dibuat merupakan produk- produk kegemaran masyarakat. Makanan lebih membangkitkan kenangan masyarakat melihat. Produk paling laku dijual totebag dan bantal makanan ringan Indonesia.


Mereka menghasilkan omzet Rp.5 juta perbulan. Bila musim liburan mampu meraup lebih banyak. Itu dijual melalui sosial media terutama Instagram. Mereka tidak lupa ikut pameran, berjualan offline juga dilakukan lewat toko oleh- oleh dan kolaborasi influencer.


Halokamu juga membuka reseller untuk memasarkan produk. Untuk produksi mereka mempekerjakan dua karyawan partime. Fha dan Chichi mengajak terutama mahasiswa bekerja. Tujuannya ikut serta membangun mental wirausahawan.


Mereka mengajak mahasiswa ikut mengisi waktu senggang. Mereka bekerja sembari berkuliah. Tugas mereka antara lain menjahit dan bertanggung jawab produk. Pembuatan produk biasanya butuh waktu 4- 7 hari. Itu tergantung jenis produk serta kerumitan desain pesanan.


Halokamu memproduksi totebag, sling bag, pouch, stiker, pouch sedotan, gantungan kunci, tas belanja, buku catatan, scarf, sampai casing hp. Halangan bisnis terbesar Halokamu adalah tenaga kerja. Mereka sulit mendapatkan pegawai memenuhi kualifikasi.


Fha dan Chichi kesulitan menemukan orang pintar gambar sealiran. Mereka meyakini desain gambar dituangkan tidak boleh berubah. Mereka ingin hasil gambar sampai palet warna sama. Cara gambar harus sama karena beda tangan, maka akan beda pula hasil gambarnya.


"Beda tangan itu akan beda hasil gambarnya. Kami tidak mau itu," ujarnya. Harga jual Rp.100 ribu- 130 ribu dibeli di Instagram @halokamu.

Kisah Startup Groupon Entrepreneur Andrew Mason

Biografi Pengusaha Andrew Mason

 
pendirigroupon.png
 
Berikut kisah startup Groupon hingga menjadi fenomenal seketika. Kisah entrepreneur Andrew Mason, yang mendapatkan julukan "CEO terburuk tahun ini", pada 18 Desember 2012 oleh Herb Greenberg. Yang mana disebabkan gaya kepemimpinan "Goofball" nya.

Dia dianggap seperti anak kecil dibanding pemimpin perusahaan. Mason mampu menghasilkan untung tetapi bukan memenuhi target. Tetapi Mason merupakan pengkonsep lahirnya Groupon. Konsep bisnisnya sebuah bisnis menjual cepat ke bisnis lokal.

Kehidupan Sang Pengusaha Muda

 
Bernama lengkap Andrew D. Mason kelahiran 1981. Pendiri dan perancang konsep website diskon buat pebisnis lokal bahkan beasiswa. Dia juga pendiri Descript alat editing audio buat podcast. Mason terlahir sebagai keluarga Yahudi di Mouint Lebanon, Pennsylvania, pinggiran Pittsburgh.

Dia kelulusan Mt. Lebanono High School di 1999. Pernah mendirikan servis antar pagi hari bernama Bagel Express ketika umurnya 15 tahun. Anehnya Mason merupakan lulusan musik di Northwestern University, tetapi bekerja menjadi web designer untuk Eric Lefkofsky.

Dia keluar buat kuliah di University of Chicago jurusan komunikasi publik. Kebetulan dia mendapat beasiswa. Namun ketika dia akan mengambil gelar Master malah keluar. Dia cepat- cepat mau bekerja buat Electrical Audio.

Mason pernah bekerja untuk Innerworkings, perusahaan yang didirikan Lefkofsky. Di 2006, Mason juga mengerjakan bisnis online pertamanya The Point. Dimana Lefkofsky juga memberikan dana uang $1 juta.

The Point merupakan platform sosial inisiatif buat orang. Namun konsepnya masih abstrak bagi market sampai dijadikan ide lain. Mason mengkonsep Groupon pada November 2008. Dia kemudian menjual untuk lebih dari 6 juta dollar.

Groupon mendapatkan uang 50 persen dari deal, dan fee kartu kredit dipakai. Pada 1 Desember 2010, The New York Times, menyebutkan Groupon pernah ditaksir Google. Nilai penawaran fantastis yakni $6 miliar tetapi ditolak!

Situs sosial medial Mashable menaksir pendapatan Groupon $800 juta. Uniknya Groupon bukanlah situs melainkan blog. Groupon awal merupakan perusahaan berbentuk blog. Bahkan itu tidak punya domain .com bahkan sempat numpang.

Lebih tepatnya Groupon menumpang The Point. Alamat webnya Groupon.thepoin.com, dan awalnya berbentuk blog post. Isinya tulisan belum fitur canggih tawar- menawar. Gambar produk ditawarkan memakai sistem embed atau kode tempelan.

Dimana mereka menuliskan mampu menyediakan ukuran, warna, dan pembelian via email. Tidak ada tombol pembelian seperti eCommerce umum. Mason mulai mengarang penjualan kupon pertama. Ya dia membuat kupon online berbekal aplikasi FileMaker.

Bentuk filenya PDF dan akan disebar ke alamat email acak. Dia berhasil menjual 500 kupon makan susi untuk 500 email berbasis Apple. Awal tahun Januari, dia dan co- founder lain, masih mencoba menerka model bisnisnya sampai mendapatkan produk dan harga masuk akan didiskon.

Pada versi pertamanya Groupon memanfaatkan forum. Tujuannya menjajal konsep melalui komunitas kecil dulu.

Dalam dua tahun berdirinya sudah hasilkan untung ratusan ribu hingga jutaan dollar. Nilai asetnya bisa ditaksir lebih dari semilyar dollar. Pertumbuhan bisnisnya cepat melebihi Apple, Facebook, dan lebih cepat dari Google.

Semua berubah ketika nilai sahamnya turun sampai seperempatnya harga IPO. Artinya Mason telah gagal menjadi CEO perusahaan. Seperti dijelaskan diatas dia gagal mencapai target penjualan dan keuntungan sesuai harapan pemegang saham.

Dia mundur dari jabatan CEO dan menjadi pengangguran. Ia lantas menjadi CEO perusahaan kecil bernam Descript. Dia cuma punya 10 pegawai. Ketika ditanya mengenai Groupon, maka pandangan Mason bingung, bayangkan usianya masih 20 tahunan harus mengerjakan bisnis miliaran dollar.

Bayangkan Groupon memiliki lebih dari 100.000 pegawai. Ingat betul, tahun 2006, dia sama sekali bukan pengusaha, tidak memiliki bayangan punya usaha. Banyak teman universitas yang iseng buat berbisnis online.

Harapannya mau membuat bisnis raksasa lalu drop out. Bayangan seperti Google atau Apple sudah biasa dikalangan mahasiswa. Tetapi Mason memiliki pandangan berbeda tentang Silicon Valley. Dia cuma paham orang akan investasi, orang asing akan memberi mu uang miliaran dollar gratis!

Ide pertama bisnis website bernama The Point. Orang akan bersama- sama melakukan sesuatu lewat tombol. "Saya punya masalah dengan perusahaan kabel. Saya mencari kabel atau sesuatu bodoh lain. 'Whoa, itu akan sangat hebat bila mendapatkan sesuatu bersama orang lain'," ucapnya.

Pantang Menyerah

 
Pada suatu titik maka akan menemukan tiping point buat donasi. Dia membayangkan dia akan beli buku pendidikan bersama- sama. Lantas dia dan orang- orang bersama membayar dan membaca itu bersama. Karena sifatnya abstrak maka orang melihat bingung mau diapakan.

"Bahkan kita tidak tau mau diapakan itu," ucapnya. Contoh paling nyata ialah menghimpun dana jutaan dollar. Tujuannya untuk membangun kubas pelindung dari dingin. Tentu bukan contoh bagus karena masih terlalu abstrak, sampai beberapa orang muncul.

Orang- orang ini mengumpulkan uang demi membeli diskon. Syarat diskonnya bila 10 orang beli satu barang khusus. Ini adalah titik ide bisnis Groupon. Namun Mason sama sekali tidak membayangkan bisnis miliaran dollar.

Bahkan pikiran membeli barang berdasarkan diskon konyol. Mereka tetap menjalankan The Point. Dan tidak menghasilkan pendapatan buat dia dan investor. Sempat dia ingin berhenti dan duduk menarik semua dana tersisa dibagikan ke investor kembali.

Daripada bisnis The Point berjalan menghabiskan uang investor. Ia pun mengajak bereksperimen lewat konsep diskon. Mereka menyebar kupon ke email sampai puluhan. Dan lahirlah konsep pertama yang bernama getyourgroupon.com, dan nama Groupon telah diambil orang Inggris.

Beberapa pemilik bisnis menawarkan keikut sertaan. Mason dan tim sudah merasa depresi tentang apa konsep bisnisnya. Alhasil dia terima saja rancangan dari perusahaan lingerie. Kemudian dia mendapat dari Motel Bar, tempat bar dan penjualan pizza.

Mereka menjual 20 buah pizza dalam sehari. Cara mereka berdiri di depan Motel Bar, mengeprint kupon digital mereka, dan menjadikan itu seperti kartus pos dibagi- bagikan. Perhari mereka mulai mendapatkan deal- deal baru, dan berharap menyebar ke kota lain.

Mereka seperti anak kecil menjual kupon kesempatan. Seperti kesempatan bermain bola indoor. Apa orang pikirkan mungkin bodoh tetapi dicoba dulu. Mason dan timmnya layaknya anak kecil mulai mengetok pintu- ke pintu.

Groupon menawarkan kesempatan bagi tiap bisnis kecil. Sialnya, disuatu hari muncul orang yang meniru semua. Dari flayer dibagikan sampai website yang dibuat sama persis. Jujur Mason sama sekali tidak buat entrepreneurship.

Entrepreneur Andrew Mason berharap menjadi musisi. Dalam dunianya itu disebut plagiat tetapi di bisnis disebut kompetitor. Kisah startup Groupon berlanjut diamana muncul kompetitor. Groupon lebih fokus mengerjakan deal harian. 

Semua kereja keras, keringat, kebuntuan selama sembilan bulan lenyap. Orang mulai mengambil titik lemah Groupon disana. "Kesempatan besar itu di luar sana, kita harus berlari secepat mungkin untuk meraihnya sebelum orang lain," tegas Mason.

Kisah Pengusaha Kopi Jogja Goeboex Coffee

Profil Pengusaha Dwi Kartika Sari

 
pengusahakopi.png
 
Kisah pengusaha kopi Jogja bernama Dwi Kartika Sari. Dia mulai berbisnis ketika berumur 22 tahun, bisnisnya bernama Goeboex Coffee. Awalnya dari ide yang datang ketika mengamati teman- temannya yang hobi nongkrong. Ia menangkap peluang itu. 
 
Gerai kopi seluas 3000 m2 telah dikunjungi ratusan penghobing nongkrong. Selalu mendengar keluhan pelanggan, mematok harga yang tak mencekik kantung para mahasiswa, ialah bentuk kerja nyata seorang Dwi Kartika.

Pengunjungnya memang kemudian datang banyakan dari kalangan mahasiswa UGM, dan beberapa kampus lain di Jogjakarta.

Bisnis dari kecil


Sejak kecil sudah dikenal sudah melek duit. Sari sempat berjualan kala duduk dibangku sekolah menengah. Ia berjualan baju tidur yang lagi ngetrend kala itu model babydoll. Dia juga pernah berjualan aksesoris rambut. 
 
Saat kuliah Sari sempat mencari penghasilan sendiri. Hal ini dilakukannya bukan karena kekurangan uang jajan tapi karena ia memang senang menghasilakan uang sendiri. Ayahnya adalah orang pertamina yang mampu menyokong kebutuhannya walau dia tak perlu bekerja.

Memulai bisnis kedai kopi, Sari mengaku tak paham tentang kopi di awal. Ia tak begitu paham tentang perkopian, tapi kalo menunggu ahli kapan bisa berusaha. Ia kemudian mengajak kemitraan seorang patner usaha. Tapi karena mitranya sering melakukan sesuatu dibelakannya; Sari pun mundur. 
 
Dia memilih untuk berusaha sendiri. Sari kemudian menggandeng sang kakak, Fandi Hanifan, dan Adelia Pradifta, sahabat baiknya, berhasil mengumpulkan modal Rp.60 juta.

Lokasi lahan sengaja dipilih berdekatan dengan sejumlah kampus- kampus ternama seperti Universitas Gajah Mada, Universitas Islam Indonesia, Universitas Pembangunan Nasional. dsb. Tujuannya tentu agar bisa merangkul pasar. 
 
Pengusaha kopi Jogja ini mampu diterima, baik dikalangan mereka yang memang hobi nongkrong atau masyarakat biasa. Menu kopi yang disediakan Goeboex Coffee, awalnya cuma kopi tradisional khas pria namun untuk menjaring pasar wanita, Sari juga menyuguhkan blend coffe serta varian lainnya.

Dalam promosi, Sari berpromosi dari kampus ke kampus dan tak tanggung-tanggung, ia juga mendatangkan band indie idola remaja saat itu asal Yogya. Melalu promosi dari mulut ke mulut jadilah Goeboex Coffee sebuah trend setter di Yogyakarta. 
 
Sempat ada tuduhan miring tentang kafenya, namun dapat dilalui dengan baik. Menghadapi hal ini, orang tua Sari yaitu ayahnya ikut turun tangan langsung membela dan menjelaskan kepada masyarakat sekitar bahwa Goeboex Coffe ini bukan seperti yang dituduhkan.

Sari pun mensiasati dengan merekrut karyawan dari orang sekitar dengann tujuan agar bisa menjelaskan ke penduduk sekitar bahwa tuduhan miring itu tak benar, namun kebanyakan orang sekitar tak memiliki etos kerja yang bagus. 
 
Sari juga menyisihkan sebagian keuntungan untuk diberikan pada sekitar yang tidak mampu. Dia dan kedua rekannya yaitu kakak dan sahabatnya tak cepat- cepat untuk mengambil dividennya, mereka selalu menahan beberapa untuk pengembangan usahanya.

Sari juga tak ingin menjadikan ini waralaba. Hanya dalam tempo satu tahun Sari berhasil balik modal yang notabennya dari orang tua. Goeboex Coffee benar- benar gubuk secara penampilan. Namun perlu diketahui menu -nya sangatlah modern. 
 
Secangkir kopi Toraja  dihargai Rp 6 ribu, atau segelas besar es kapucino yang cuma dibanderol Rp 10 ribu. Belum lagi ditambah seporsi steak ayam lengkap dengan aneka sayur rebus dan nasi putih yang hanya Rp 15 ribu. Kesemuanya dibuat seringan mungkin untuk kantong para mahasiswa.

Tahun 2008, masih di lokasi yang sama, Sari mendirikan lapangan khusus futsal pertama di Goeboex Coffee. Yang dilanjutkan dengan lapangan kedua tahun 2011. Di kedua arena itulah Sari kerap menggelar kompetisi futsal antarpelajar dan mahasiswa. Dengan gebrakan tersebut, tak pelak nama Goeboex Coffee makin populer di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Menurutnya kalau dirata- rata pertumbuhan bisnis pertahunnya mencapai 40%- 50%, dimana total pengunjung hariannya berkisar 300-400 orang. Pada akhir pekan, pengunjungnya bisa naik sampai 500 orang. Saat ini, Sari mengaku membukukan pendapatan Rp 3-9 juta per hari. 
 
Sebuah angka yang lumayan untuk bisnis anak muda di Yogya. "Alhamdulillah, sampai sekarang trennya terus naik," ungkap Sari yang sudah berbisnis kecil-kecilan sejak SMA.

Kedepan ia dan kakaknya memiliki konsep bar khusus kopi. Bukan berjualan minuman keras. Mereka akan membeli satu set perlengkapan pembuat kopi dengan konsep open kitchen. Untuk membangun bar ini saja, ia berani merogoh kocek Rp.300 juta untuk investasi awal.  
 
Modal itu selain untuk membuat dapur terbuka yang representatif, juga membeli mesin pengolah kopi yang harganya mencapai angka Rp 50 juta. Jika sudah rampung kelak, Sari menjanjikan pengunjung dapat memilih jenis kopi yang diinginkan dan melihat langsung proses pengolahannya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba