Usaha Modal 150 Ribu Sahabat Jadi Pengusaha

Profil Pengusaha Norma Pawestri dan Nurinda Fauzia

 

sahabatpengusaha.png
 

Paling enak memang punya sahabat jadi pengusaha. Bersama mereka usaha modal 150 ribu. Hasilnya itu sangat mengejutkan karena untung jutaan rupiah. Norma Pawestri dan Nurinda Fauzia bersama- sama membangun usaha fashion unik.


Norma yang akrab dipanggil Fha dan Nurinda yang akrab dipanggil Chichi, yang berjualan tote bag, sling bag, boneka, dan bantal. Terunik mereka membuat gantungan kunci berbahan kain. Bentuknya unik dari gambar bungkus mie instan, susu UHT, dan bahkan teh botol Sosro.


Keduanya tidak memiliki latar belakang pengusaha. Tidak pernah berjualan sebelumnya tetap nekat. Fha sendiri lulusan Akuntansi STIE YKPN, Yogyakarta, sementara Chichi sendiri lulusan Arsitektur di UGM. Tentu mereka memiliki jenjang pendidikan layak tanpa capek usaha.


Jadi Pengusaha

 

Keputusan menjadi pengusaha memang sulit. Usaha yang bernama Halokamu dimulai 2016 silam di Yogyakarta. Berawal Chichi yang senang menggambar, sedangkan Fla juga sudah mulai berjualan. Fla meyakinkan Chichi buat berdagang.


"Dengan ketrampilan dan pengalaman kami punya, akhirnya kami memutuskan membuka usaha," ujar merekapa kepada Detik.com

 

Brand bernama Halokamu terasa Indonesia banget. Mudah diingat orang lain. Halokamu akan berasa mereka menyapa kita. Modal Rp.150 ribu dipakai buat produksi kemudian dipajang. Mereka foto- foto produknya kemudian diunggah ke Instagram dan Facebook.


"Modalnya memang sangat minim, saat menjalankan bisnis memang kami memang menyiapkan ide, niat dan sedikit modal," ucap dua sahabat jadi pengusaha ini. Lantas memanfaatkan sosial media yang dianggap efektif menarik banyak orang.


Fha awal membuat aneka produk bertemakan makanan. Tentu semua didasari kesukaan keduanya akan camilan Indonesia. Mereka ingin produk unik, menarik, dan cocok digunakan semua kalangan. Bisa menjadi oleh- oleh khas dari anak- anak sampai dewasa.


Ketika camilan dituangkan dalam produk maka semua senang. Yang dibuat merupakan produk- produk kegemaran masyarakat. Makanan lebih membangkitkan kenangan masyarakat melihat. Produk paling laku dijual totebag dan bantal makanan ringan Indonesia.


Mereka menghasilkan omzet Rp.5 juta perbulan. Bila musim liburan mampu meraup lebih banyak. Itu dijual melalui sosial media terutama Instagram. Mereka tidak lupa ikut pameran, berjualan offline juga dilakukan lewat toko oleh- oleh dan kolaborasi influencer.


Halokamu juga membuka reseller untuk memasarkan produk. Untuk produksi mereka mempekerjakan dua karyawan partime. Fha dan Chichi mengajak terutama mahasiswa bekerja. Tujuannya ikut serta membangun mental wirausahawan.


Mereka mengajak mahasiswa ikut mengisi waktu senggang. Mereka bekerja sembari berkuliah. Tugas mereka antara lain menjahit dan bertanggung jawab produk. Pembuatan produk biasanya butuh waktu 4- 7 hari. Itu tergantung jenis produk serta kerumitan desain pesanan.


Halokamu memproduksi totebag, sling bag, pouch, stiker, pouch sedotan, gantungan kunci, tas belanja, buku catatan, scarf, sampai casing hp. Halangan bisnis terbesar Halokamu adalah tenaga kerja. Mereka sulit mendapatkan pegawai memenuhi kualifikasi.


Fha dan Chichi kesulitan menemukan orang pintar gambar sealiran. Mereka meyakini desain gambar dituangkan tidak boleh berubah. Mereka ingin hasil gambar sampai palet warna sama. Cara gambar harus sama karena beda tangan, maka akan beda pula hasil gambarnya.


"Beda tangan itu akan beda hasil gambarnya. Kami tidak mau itu," ujarnya. Harga jual Rp.100 ribu- 130 ribu dibeli di Instagram @halokamu.

Kisah Startup Groupon Entrepreneur Andrew Mason

Biografi Pengusaha Andrew Mason

 
pendirigroupon.png
 
Berikut kisah startup Groupon hingga menjadi fenomenal seketika. Kisah entrepreneur Andrew Mason, yang mendapatkan julukan "CEO terburuk tahun ini", pada 18 Desember 2012 oleh Herb Greenberg. Yang mana disebabkan gaya kepemimpinan "Goofball" nya.

Dia dianggap seperti anak kecil dibanding pemimpin perusahaan. Mason mampu menghasilkan untung tetapi bukan memenuhi target. Tetapi Mason merupakan pengkonsep lahirnya Groupon. Konsep bisnisnya sebuah bisnis menjual cepat ke bisnis lokal.

Kehidupan Sang Pengusaha Muda

 
Bernama lengkap Andrew D. Mason kelahiran 1981. Pendiri dan perancang konsep website diskon buat pebisnis lokal bahkan beasiswa. Dia juga pendiri Descript alat editing audio buat podcast. Mason terlahir sebagai keluarga Yahudi di Mouint Lebanon, Pennsylvania, pinggiran Pittsburgh.

Dia kelulusan Mt. Lebanono High School di 1999. Pernah mendirikan servis antar pagi hari bernama Bagel Express ketika umurnya 15 tahun. Anehnya Mason merupakan lulusan musik di Northwestern University, tetapi bekerja menjadi web designer untuk Eric Lefkofsky.

Dia keluar buat kuliah di University of Chicago jurusan komunikasi publik. Kebetulan dia mendapat beasiswa. Namun ketika dia akan mengambil gelar Master malah keluar. Dia cepat- cepat mau bekerja buat Electrical Audio.

Mason pernah bekerja untuk Innerworkings, perusahaan yang didirikan Lefkofsky. Di 2006, Mason juga mengerjakan bisnis online pertamanya The Point. Dimana Lefkofsky juga memberikan dana uang $1 juta.

The Point merupakan platform sosial inisiatif buat orang. Namun konsepnya masih abstrak bagi market sampai dijadikan ide lain. Mason mengkonsep Groupon pada November 2008. Dia kemudian menjual untuk lebih dari 6 juta dollar.

Groupon mendapatkan uang 50 persen dari deal, dan fee kartu kredit dipakai. Pada 1 Desember 2010, The New York Times, menyebutkan Groupon pernah ditaksir Google. Nilai penawaran fantastis yakni $6 miliar tetapi ditolak!

Situs sosial medial Mashable menaksir pendapatan Groupon $800 juta. Uniknya Groupon bukanlah situs melainkan blog. Groupon awal merupakan perusahaan berbentuk blog. Bahkan itu tidak punya domain .com bahkan sempat numpang.

Lebih tepatnya Groupon menumpang The Point. Alamat webnya Groupon.thepoin.com, dan awalnya berbentuk blog post. Isinya tulisan belum fitur canggih tawar- menawar. Gambar produk ditawarkan memakai sistem embed atau kode tempelan.

Dimana mereka menuliskan mampu menyediakan ukuran, warna, dan pembelian via email. Tidak ada tombol pembelian seperti eCommerce umum. Mason mulai mengarang penjualan kupon pertama. Ya dia membuat kupon online berbekal aplikasi FileMaker.

Bentuk filenya PDF dan akan disebar ke alamat email acak. Dia berhasil menjual 500 kupon makan susi untuk 500 email berbasis Apple. Awal tahun Januari, dia dan co- founder lain, masih mencoba menerka model bisnisnya sampai mendapatkan produk dan harga masuk akan didiskon.

Pada versi pertamanya Groupon memanfaatkan forum. Tujuannya menjajal konsep melalui komunitas kecil dulu.

Dalam dua tahun berdirinya sudah hasilkan untung ratusan ribu hingga jutaan dollar. Nilai asetnya bisa ditaksir lebih dari semilyar dollar. Pertumbuhan bisnisnya cepat melebihi Apple, Facebook, dan lebih cepat dari Google.

Semua berubah ketika nilai sahamnya turun sampai seperempatnya harga IPO. Artinya Mason telah gagal menjadi CEO perusahaan. Seperti dijelaskan diatas dia gagal mencapai target penjualan dan keuntungan sesuai harapan pemegang saham.

Dia mundur dari jabatan CEO dan menjadi pengangguran. Ia lantas menjadi CEO perusahaan kecil bernam Descript. Dia cuma punya 10 pegawai. Ketika ditanya mengenai Groupon, maka pandangan Mason bingung, bayangkan usianya masih 20 tahunan harus mengerjakan bisnis miliaran dollar.

Bayangkan Groupon memiliki lebih dari 100.000 pegawai. Ingat betul, tahun 2006, dia sama sekali bukan pengusaha, tidak memiliki bayangan punya usaha. Banyak teman universitas yang iseng buat berbisnis online.

Harapannya mau membuat bisnis raksasa lalu drop out. Bayangan seperti Google atau Apple sudah biasa dikalangan mahasiswa. Tetapi Mason memiliki pandangan berbeda tentang Silicon Valley. Dia cuma paham orang akan investasi, orang asing akan memberi mu uang miliaran dollar gratis!

Ide pertama bisnis website bernama The Point. Orang akan bersama- sama melakukan sesuatu lewat tombol. "Saya punya masalah dengan perusahaan kabel. Saya mencari kabel atau sesuatu bodoh lain. 'Whoa, itu akan sangat hebat bila mendapatkan sesuatu bersama orang lain'," ucapnya.

Pantang Menyerah

 
Pada suatu titik maka akan menemukan tiping point buat donasi. Dia membayangkan dia akan beli buku pendidikan bersama- sama. Lantas dia dan orang- orang bersama membayar dan membaca itu bersama. Karena sifatnya abstrak maka orang melihat bingung mau diapakan.

"Bahkan kita tidak tau mau diapakan itu," ucapnya. Contoh paling nyata ialah menghimpun dana jutaan dollar. Tujuannya untuk membangun kubas pelindung dari dingin. Tentu bukan contoh bagus karena masih terlalu abstrak, sampai beberapa orang muncul.

Orang- orang ini mengumpulkan uang demi membeli diskon. Syarat diskonnya bila 10 orang beli satu barang khusus. Ini adalah titik ide bisnis Groupon. Namun Mason sama sekali tidak membayangkan bisnis miliaran dollar.

Bahkan pikiran membeli barang berdasarkan diskon konyol. Mereka tetap menjalankan The Point. Dan tidak menghasilkan pendapatan buat dia dan investor. Sempat dia ingin berhenti dan duduk menarik semua dana tersisa dibagikan ke investor kembali.

Daripada bisnis The Point berjalan menghabiskan uang investor. Ia pun mengajak bereksperimen lewat konsep diskon. Mereka menyebar kupon ke email sampai puluhan. Dan lahirlah konsep pertama yang bernama getyourgroupon.com, dan nama Groupon telah diambil orang Inggris.

Beberapa pemilik bisnis menawarkan keikut sertaan. Mason dan tim sudah merasa depresi tentang apa konsep bisnisnya. Alhasil dia terima saja rancangan dari perusahaan lingerie. Kemudian dia mendapat dari Motel Bar, tempat bar dan penjualan pizza.

Mereka menjual 20 buah pizza dalam sehari. Cara mereka berdiri di depan Motel Bar, mengeprint kupon digital mereka, dan menjadikan itu seperti kartus pos dibagi- bagikan. Perhari mereka mulai mendapatkan deal- deal baru, dan berharap menyebar ke kota lain.

Mereka seperti anak kecil menjual kupon kesempatan. Seperti kesempatan bermain bola indoor. Apa orang pikirkan mungkin bodoh tetapi dicoba dulu. Mason dan timmnya layaknya anak kecil mulai mengetok pintu- ke pintu.

Groupon menawarkan kesempatan bagi tiap bisnis kecil. Sialnya, disuatu hari muncul orang yang meniru semua. Dari flayer dibagikan sampai website yang dibuat sama persis. Jujur Mason sama sekali tidak buat entrepreneurship.

Entrepreneur Andrew Mason berharap menjadi musisi. Dalam dunianya itu disebut plagiat tetapi di bisnis disebut kompetitor. Kisah startup Groupon berlanjut diamana muncul kompetitor. Groupon lebih fokus mengerjakan deal harian. 

Semua kereja keras, keringat, kebuntuan selama sembilan bulan lenyap. Orang mulai mengambil titik lemah Groupon disana. "Kesempatan besar itu di luar sana, kita harus berlari secepat mungkin untuk meraihnya sebelum orang lain," tegas Mason.

Kisah Pengusaha Kopi Jogja Goeboex Coffee

Profil Pengusaha Dwi Kartika Sari

 
pengusahakopi.png
 
Kisah pengusaha kopi Jogja bernama Dwi Kartika Sari. Dia mulai berbisnis ketika berumur 22 tahun, bisnisnya bernama Goeboex Coffee. Awalnya dari ide yang datang ketika mengamati teman- temannya yang hobi nongkrong. Ia menangkap peluang itu. 
 
Gerai kopi seluas 3000 m2 telah dikunjungi ratusan penghobing nongkrong. Selalu mendengar keluhan pelanggan, mematok harga yang tak mencekik kantung para mahasiswa, ialah bentuk kerja nyata seorang Dwi Kartika.

Pengunjungnya memang kemudian datang banyakan dari kalangan mahasiswa UGM, dan beberapa kampus lain di Jogjakarta.

Bisnis dari kecil


Sejak kecil sudah dikenal sudah melek duit. Sari sempat berjualan kala duduk dibangku sekolah menengah. Ia berjualan baju tidur yang lagi ngetrend kala itu model babydoll. Dia juga pernah berjualan aksesoris rambut. 
 
Saat kuliah Sari sempat mencari penghasilan sendiri. Hal ini dilakukannya bukan karena kekurangan uang jajan tapi karena ia memang senang menghasilakan uang sendiri. Ayahnya adalah orang pertamina yang mampu menyokong kebutuhannya walau dia tak perlu bekerja.

Memulai bisnis kedai kopi, Sari mengaku tak paham tentang kopi di awal. Ia tak begitu paham tentang perkopian, tapi kalo menunggu ahli kapan bisa berusaha. Ia kemudian mengajak kemitraan seorang patner usaha. Tapi karena mitranya sering melakukan sesuatu dibelakannya; Sari pun mundur. 
 
Dia memilih untuk berusaha sendiri. Sari kemudian menggandeng sang kakak, Fandi Hanifan, dan Adelia Pradifta, sahabat baiknya, berhasil mengumpulkan modal Rp.60 juta.

Lokasi lahan sengaja dipilih berdekatan dengan sejumlah kampus- kampus ternama seperti Universitas Gajah Mada, Universitas Islam Indonesia, Universitas Pembangunan Nasional. dsb. Tujuannya tentu agar bisa merangkul pasar. 
 
Pengusaha kopi Jogja ini mampu diterima, baik dikalangan mereka yang memang hobi nongkrong atau masyarakat biasa. Menu kopi yang disediakan Goeboex Coffee, awalnya cuma kopi tradisional khas pria namun untuk menjaring pasar wanita, Sari juga menyuguhkan blend coffe serta varian lainnya.

Dalam promosi, Sari berpromosi dari kampus ke kampus dan tak tanggung-tanggung, ia juga mendatangkan band indie idola remaja saat itu asal Yogya. Melalu promosi dari mulut ke mulut jadilah Goeboex Coffee sebuah trend setter di Yogyakarta. 
 
Sempat ada tuduhan miring tentang kafenya, namun dapat dilalui dengan baik. Menghadapi hal ini, orang tua Sari yaitu ayahnya ikut turun tangan langsung membela dan menjelaskan kepada masyarakat sekitar bahwa Goeboex Coffe ini bukan seperti yang dituduhkan.

Sari pun mensiasati dengan merekrut karyawan dari orang sekitar dengann tujuan agar bisa menjelaskan ke penduduk sekitar bahwa tuduhan miring itu tak benar, namun kebanyakan orang sekitar tak memiliki etos kerja yang bagus. 
 
Sari juga menyisihkan sebagian keuntungan untuk diberikan pada sekitar yang tidak mampu. Dia dan kedua rekannya yaitu kakak dan sahabatnya tak cepat- cepat untuk mengambil dividennya, mereka selalu menahan beberapa untuk pengembangan usahanya.

Sari juga tak ingin menjadikan ini waralaba. Hanya dalam tempo satu tahun Sari berhasil balik modal yang notabennya dari orang tua. Goeboex Coffee benar- benar gubuk secara penampilan. Namun perlu diketahui menu -nya sangatlah modern. 
 
Secangkir kopi Toraja  dihargai Rp 6 ribu, atau segelas besar es kapucino yang cuma dibanderol Rp 10 ribu. Belum lagi ditambah seporsi steak ayam lengkap dengan aneka sayur rebus dan nasi putih yang hanya Rp 15 ribu. Kesemuanya dibuat seringan mungkin untuk kantong para mahasiswa.

Tahun 2008, masih di lokasi yang sama, Sari mendirikan lapangan khusus futsal pertama di Goeboex Coffee. Yang dilanjutkan dengan lapangan kedua tahun 2011. Di kedua arena itulah Sari kerap menggelar kompetisi futsal antarpelajar dan mahasiswa. Dengan gebrakan tersebut, tak pelak nama Goeboex Coffee makin populer di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Menurutnya kalau dirata- rata pertumbuhan bisnis pertahunnya mencapai 40%- 50%, dimana total pengunjung hariannya berkisar 300-400 orang. Pada akhir pekan, pengunjungnya bisa naik sampai 500 orang. Saat ini, Sari mengaku membukukan pendapatan Rp 3-9 juta per hari. 
 
Sebuah angka yang lumayan untuk bisnis anak muda di Yogya. "Alhamdulillah, sampai sekarang trennya terus naik," ungkap Sari yang sudah berbisnis kecil-kecilan sejak SMA.

Kedepan ia dan kakaknya memiliki konsep bar khusus kopi. Bukan berjualan minuman keras. Mereka akan membeli satu set perlengkapan pembuat kopi dengan konsep open kitchen. Untuk membangun bar ini saja, ia berani merogoh kocek Rp.300 juta untuk investasi awal.  
 
Modal itu selain untuk membuat dapur terbuka yang representatif, juga membeli mesin pengolah kopi yang harganya mencapai angka Rp 50 juta. Jika sudah rampung kelak, Sari menjanjikan pengunjung dapat memilih jenis kopi yang diinginkan dan melihat langsung proses pengolahannya.

Hidup Menderita Berjuang Usaha Hidup Sejahtera

Profil Pengusaha Suwaryo

 

hidupmenderita.png
 

Dia pernah hidup menderita. Suwaryo berjuang usaha hidup sejahtera. Berusaha harus memiliki mental bola bekel. Makin dia ditekan harus kembali mantul kembali. Banyak pekerjaan berat pernah dilakoni dia dulu. "Saya benar- benar merasakan betapa kerasnya hidup," imbuhnya.


Suwaryo meyakini, bahwa selama kita mau berjuang akan menemukan jalan. Dia hanya lulusan sekolah dasar. Suwaryo lantas mengadu nasib ke Jakarta. Tentu dia sangat kesulitan mendapatkan pekerjaan. Dulu dia pernah bekerja menjadi tukang asongan, tukang ojek, dan terpaksa jualan martabak.


Penghasilannya tentu pas- pasan belum mencukupi. Bahkan dia sering mengalami minim bahkan pas- pasan buat hidup. Terdorong keinginan merubah nasib maka dicarilah jalan. Suwaryo menemukan jalan lewat MLM. Dia menekuni sebuah MLM sampai tujuh tahun.


Nasib Suwaryo tidak kunjung berubah. Hingga ia memutuskan berhenti mengerjakan MLM. Di suatu hari, dia bertemu Bapak Wasja, diberinya pandangan mengenai produk Oxy. Bisnis booming tersebut dikatakan menguntungkan. Jujur Suwaryo masih trauma tetapi harus berjuang usaha hidup sejahtera.


Pak Wasja juga tidak lelah mengajari mengenai Oxy. Hingga Suwaryo setuju memutuskan ikut bisnis air oksigen ini. Menurut penjelasan bahwa Suwaryo bisa mendapatkan bonus. Ditambah air minum Oxy memang menyehatkan.


Awal Suwaryo ditawari mengkonsumsi air oksigen tersebut. Kemudian ia merasakan sendiri efeknya positif. Kemudian bonus didapat ketika ia mendapatkan downline. Untuk inilah ketekunan Suwaryo kembali diuji. Dia rela turun sendiri mengantarkan air ke downline buat dijualkan.


"Tantangan yang saya harus hadapai tidak hanya penolakan saja," ia menjelaskan. Rela turun langsung menghantarkan berdus- dus air Oxy.


Memang di tempat downline nya belum terdapat stoklist. Ia rela mengantarkan 6 dus air Oxy memakai motor. Suwaryo berjalan sampai 4 jam sembari kehujanan. Perjuangan Suwaryo ternyata masih terus berlanjut. Lantaran banyak downline menjadi pasif, berhenti, satu grup bubar atau pindah MLM lain.

 

Banyak MLM lain menawarkan iming- iming bonus lebih. Mereka bahkan menawarkan cara jualan lebih mudah. Suwaryo tidak pernah setengah- setengah berjuang usaha. Itu semua demi merubah nasib demi lepas dari hidup menderita.


Mantan penjual martabak tersebut akhirnya mulai berubah nasib. Berkat air Oxy finansial keluarganya berubah. Lebih baik karena kebutuhan sehari lebih daripada cukup. Berkat bisnis air Oxy sampai dia bisa memiliki rumah dan mobil impian.


Pendapatan puluhan juta karena MLM ternyata benar. Suwaryo tidak salah memilih MLM terbaik tersebut. Dia bahkan diajak naik kapal pesiar ke tiga negara. Suwaryo lantas menjelaskan perjalanan menyandang Silver Director.


Usaha tidak akan berhasil tanpa ketekunan. Dalam waktu singkat mampu menghasilkan puluhan juta. Itu berkat tekun melakukan persentasi 2 kali seminggu. Suwaryo bahkan melakukan home sharing dari rumah ke rumah. Air Oxy sangat mengandalkan kunjungan sebagai strategi bisnis.


Tawarkan air Oxy kemanapaun, dimanapun dan siapapun. Awal kamu akan merasa kesulitan karena belum biasa; Bisa karena biasa. Kamu harus memiliki keyakinan diri sendiri. Asal ada kemauan akan ada jalan.

Pembuat Kue Lapis Sangkuriang Pengusaha Bakso

Biografi Pengusaha Rizka Wahyu Romadhona

 
lapissangkuriang.png
 
Kisah pembuat kue lapis Sangkurang pernah gagal. Dia adalah mantan pengusaha bakso. Langkahnya tak terhenti meski pernah gagal berbisnis. Kini usaha barunya yang ada di Jalan Pajajaran, Bogor, tak pernah sepi. 
 
Hampir setiap hari tokonya dijejali pengunjung dari berbagai negar yang ingin mencicipi kue lapis istimewa. Lantaran pembeli membludak, Rizka Wahyu Romadhona, pemilik kue lapis Sangkuriang memutuskan menggunakan sistem antrean untuk para pembeli.  
 
"Produksi kami masih terbatas," ujar wanita lulusan Teknik Informatika, Institut Teknologi Surabaya ini.

Bangkit dari Keterpurukan

 
Meski terbatas penjualan kue lapis berbahan talas atau umbi ini relatif besar. Memang kalo menelisik 
lebih dalam seharusnya Bogor adalah sumber bahan bakunya. Meski memiliki karyawan 60 orang, Rizka mengaku masih tetap kesulitan. 
 
Terlalu enak mungkin hingga permintaan itu terlalu banyak khususnya mereka yang dari luar kota. Selain gerai yang ada di Jalan Pajajaran, Rizka juga membuka dua cabang lain, di Jalan Sholeh Iskandar Bogor dan Jalan Raya Puncak, Ciawi.

Di luar sana masih ada sekitar 10 resellers yang tersebar di sekitar Bogor. Usahanya kini patut mengundang decak kagum. Maklum, perempuan asal Surabaya tersebut belum lama ini menjalani usaha. Tepatnya, pada Juni 2011, ia mulai membuat kue lapis berbahan talas. 
 
Semangatnya berwirausaha ada karena mendapatkan dukungan suami, Anggara Kasih Nugroho Jati. Bagi anda yang belum tau dia lah orangnya dibalik jaringan bisnis Bakso Kepala Sapi yang tersohor.

"Sejak dulu saya sudah sering jualan. Apa saja yang bisa dijual, seperti baju. Lalu, sewaktu masih kerja kantoran, saya jualan bakso, kenang wanita kelahiran Surabaya, 15 Juni 1984, ini.

Rizka dan sang suami memang lah pasangan pebisnis. Keduanya bersama sang suami sedang bersemangat membangun bisnisnya. Keduanya merintis bisnis ini bersama, keduanya juga sama- sama almameter ITS. 
 
Rizka, yang saat itu masih berstatus karyawan suatu perusahaan telekomunikasi, selalu membawa bakso dalam kantong plastik dan dijual ke teman-teman sekantor. "Kalau dijalani free time saja sudah bisa punya penghasilan lumayan, apalagi kalau diseriusin," pikirnya.

Ia pun mantap resign untuk menjalani bisnis bakso. Bersama sang suami, Rizka total terjun menjadi sang pengusaha bakso saat itu. Selain memiliki gerai 2x3 meter di sebuah pusat perbelanjaan, ia juga memasok bahan bakso ke konsumen lamanya di Jakarta. 
 
Mereka menawarkan kemitraan gerai bakso. Sayang usaha baksonya harus gulung tikar meski telah 3 tahun bertahan.

"Banyak mitra yang nakal, mencampur bakso kami dengan bakso lain, sehingga kualitas menurun," tutur dia.

Mereka pun menuai kerugian besar karena banyak gerai yang harus tutup. Ia harus menjual mobil. Bahkan, motor operasional rela ditarik leasing."Kami menunggak pembayaran angsuran rumah hingga empat bulan," kenang dia. 
 
Dalam keadaan terpuruk dan kepepet, keduany memutar otak, usaha apa yang selanjutnya mereka buat. Terinspirasi oleh ramainya pariwisata di Bogor, tebersitlah ide untuk membuat produk oleh-oleh khas Bogor.

Tak ingin mengulang pengalaman pahit saat berdagang bakso dahulu, ia memikirkan matang-matang konsep usahanya.Selain kualitas terjamin, produknya harus mempunyai ciri khas yang lekat dengan Kota Bogor. Itulah konsep yang coba ia kembangkan saat itu. 
 
Ia pun teringat kue lapis khas Surabaya yang begitu populer, "Di Bogor belum ada lapis seperti itu," kata dia. Lantas, Rizka meminta resep dari ibunya yang ada di Surabaya. Agar nuansa Kota Hujan tampak, ia menggunakan talas yang berlimpah di Bogor.

Ia mencoba bahan baku ubi talas sebagai pengganti terigu. Modal awalnya uang Rp 500.000 dan mixer milik mertua, perempuan 29 tahun ini kemudian membuat lapis talas. Semula Rizka menjual lapis talas itu ke tetangga, teman, arisan, serta kelompok pengajian. 
 
Namun, dia menyadari gaya pemasaran semacam itu tak bisa mendongkrak penjualan secara cepat. Ia pun menawarkan lapis talas ke beberapa hotel di Bogor. Tapi sayang usaha itu gagal total. 
 
Tak kurang akal, Rizka pun melobi pimpinan perhimpunan pengusaha hotel dan restoran di Bogor. Dia yang mengenal jaringan pengusaha hotel, dan resto karena aktif ikuti pameran yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. 
 
Dari situ, jalannya terbuka, "Hotel memberi kesempatan untuk membuka booth jika ada rombongan yang ingin membeli oleh- oleh," kata perempuan ayu berhijab ini. 
 
Rasa yang enak, tekstur lembut, serta harga yang terjangkau membuat lapis talas Rizka benar-benar menjadi buah tangan andalan Bogor. Bukan hanya tamu hotel saja tapi banyak pelancong yang mencari- cari kue lapis khas buatanya.

Pembuat Kue Lapis Sangkuriang


Kue lapis yang sekarang bernama Lapis Sangkuriang diburu untuk dijadikan oleh- oleh untuk dibawa pulang. Rizka membuka gerai pertamanya di Jalan Baru pada Desember 2011, ini untuk memudahkan pelanggan katanya. Tahun berikutnya, dua gerai lain beroperasi. 
 
Kendati terlihat mulus, dia mengaku juga mengalami berbagai rintangan dalam perjalanan usahanya. Pernah, saat jumlah karyawan mencapai 60 orang, Rizka merasakan masalah datang silih berganti bahkan sempat berpikir untuk berhenti saja.

"Ketika itu, saya sempat berpikir mengakhiri usaha ini. Pusing mengelola banyak orang," kisah dia. Banyak karyawan yang direkrutnya merupakan anak-anak putus sekolah. 
 
Menurut Rizka, persentase anak jalanan, lulusan SD dan SMP yang menjadi karyawannya mencapai 77%. Sisanya adalah lulusan SMK dan ibu rumah tangga. 
 
"Kami ingin memberdayakan masyarakat sekitar yang memiliki potensi, namun tidak dapat berkarya di perusahaan formal karena  faktor pendidikan," ujar Rizka.

Inilah yang membuatnya harus bekerja ektra keras. Seorang teman lantas menyarankan Rizka untuk ikut memakai jasa konsultan bisnis. Maklum lah meski sudah mengenyam pendidikan magister bisnis, ia mengakui tak bisa langsung mempraktikkan ilmunya di lapangan seperti ini. 
 
Ia mendapat banyak masukan dari konsultan bisnis tersebut. Sampai kini, Rizka masih menggunakan jasa konsultan bisnis untuk usahanya, jumlah karyawan sudah mencapai 114 orang.

Berkat pengalaman sebagai manejer memberinya pengalaman untuk mengatur orang. Segala sesuatu ada catatannya. "Misalnya tiap kelebihan keju 1 gram, dikali harga kejunya sudah berapa rupiaj. 
 
Kalau kami tidak punya catatan seperti itu, tidak akan bisa terdeteksi," tuturnya kepada Femina.com, yang memegang prinsip 'Believe is good but check is better' di dalam mengawasi kinerja karyawannya nanti. Keahliannya di bidang electrical engineering juga  tak sia- sia.

Ia merancang sendiri sistem pelistrikan dan pengaturan daya untuk pabrik barunya itu. Begitu juga keahliannya membuat program komputer, Rizka merancang sendiri software khusus untuk customer service. 
 
Sekarang produksinya sudah mencapai 4.300 kotak per hari, harga per- kotak antara Rp25.000- Rp30.000. Dari modal Rp500.000, dari bisnis rumahan kini omzetnya mencapai miliaran rupiah per- bulan.nya Itu pun belum memenuhi permintaan pasar yang amat tinggi. 
 
Itulah sebabnya, ia masih membatasi pembelian, maksimal 5 kotak per orang, bahkan hanya 2 kotak ketika akhir pekan tiba. "Pagi buka langsung habis, baru ada lagi pukul 14.00. Masih ada jeda waktu konsumen tidak bisa kebagian," kata Rizka, menyayangkan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba