Mie Desa Pengusaha Sederhana Untung Ratusan Juta

Profil Pengusaha Wardani

 
miedesa.png
 
Pengusaha sederhana untung ratusan juta. Berkat mie desa dirinya mampu bangkit. Walau terbatasanya modal dan infrastruktur. Wardani, 45 tahun, warga Dusun Tulung, Srihardono, Pundong, hasilkan omzet diluar nalar orang desa. 
 
Sosok yang konsisten memperkenalkan mi desa atau mides, diperkenalkan kepada mereka warga asli Yogyakarta. Usaha yang tak berhenti membuat warga Yogyakarta, khususnya Bantul, tak asing lagi akan produk olahan satu ini. Mi desa dibuat dari tepung tapioka, yang dibuat dengan cara sederhana.

Sebagaimana hari- hari biasanya, lima orang terlihat sibuk di rumah milik Wardani, dibagian samping kanan rumahnya. Mereka satu keluarga. Lima orang tersebut itu tengah sibuk mengolah sekaligus mempersiapkan salah satu jenis makanan untuk dijual kepada para pedagang.
 

Usaha Mie Desa

 
"Saya, istri, kedua orang tua, kemudian ipar," ucap Wardani memulai pembicaraan.

Sejak 25 tahun silam keluarga Wardani telah memulai usaha pembuatan mi desa. Waktu itu ayah Wardani bernama Suparjan telah terlebih dahulu merintis. Meskipun olahan mi instan terus menggempur pasar, usaha kecil- kecilan miliknya tetap bertahan sampai sekarang. 
 
Di 2006 silam pengolahan mi desa sempat berhenti beroperasi. Rumah Wardani ambruk bersama ribuan rumah lainnya saat gempa bumi 2006 meluluhlantahkan sebagian wilayah Bantul. "Ya rumah ini bagian dari sisa-sisa gempa dulu," kenang pengusaha sederhana ini.
 
Di ruang seluas 4,5 meter kali 4,5 meter usaha pengolahan mi desa bergulir. Di ruangan sesempit itu puluhan karung berisi tepung ditumpuk. Sementara itu di bagian kanan rumah dijadikan tempat pengolahan. Mi desa kemudian dipasarkan ke ke pasar Pundong, dan pasar Imogiri ini. Pemisah kedua ruangan bukanlah tembok, melainkan hanya gedek setinggi dada manusia dewasa.

"Memang sangat sederhana tempatnya. Tapi ya tetap harus jalan," jelas Wardani.

Bapak dua anak dan suami dari wanita bernama Sugiyati, ia mengaku memang tempat pengolahannya jauh dari patokan ideal. Ia sempat berpikir untuk meminta bantuan modal. Harapannya untuk memugar rumahnya jadi lebih luas. 
 
Sayang, sebagai orang awam ia tak tahu caranya bagaimana mengajukan bantuan modal ke pemerintah setempat. "Nggak ada yang memberikan pendampingan. Yang namanya proposal (pengajuan bantuan) saja kita belum pernah lihat," tuturnya lugu.

Padahal, Wardani mengaku, ia berulangkali mendapatkan undangan menghadiri berbagai forum perlombaan pengembangan UMKM. Ketika itu dia mewakili lembaga keuangan desa (LKD) karena dinilai berhasil mengembangkan pengolahan produk mides.

"Mewakili Bantul pernah. Bahkan, mewakili Jogjakarta di tingkat nasional juga pernah," ungkapnya.

Tak hanya itu beberapa instansi pemertintah juga berkunjung ke tempat itu. Staf dan pejabat Dinas Pertanian tersebut pernah ikut melihat proses pengolahan mides dari dekat.

"Kemudian kelompok-kelompok usaha dari luar juga sering. Tetapi saya lupa mereka dari dinas pertanian atau kelompok mana," ujarnya.

Bicara soal modal, Wardani menjelaskan per- hari ia akan membeli tepung tapioka dengan harga Rp3.800, sehingga dibutuhkan modal Rp.304.000. Menurut dia, satu kilogram tepung tapioka bisa menghasilkan 8 bungkus mides dengan harga Rp8.000 per bungkus atau piringnya. 
 
Setiap hari rumah produksinya mampu mengolah tepung tapioka sebanyak 70 hingga 80 kilogram.

"Sekali jualan mampu mendapatkan pendapatan kotor Rp5,12 juta. Jika ditambah dengan bumbu dan telur serta keperluan memasak lain, keuntungan bersih Rp1 juta hingga Rp2 juta per hari," ungkapnya.

Bahan baku cukup di ambil dari lingkungan sekitar saja. Daerahnya memang dikenal sebagai sentra penghasil tepung tapioka. Mi desa yang dijualnya tidak melulu dijual sendiri, beberapa pesanan pedagang lain untuk dijual kembali jelasnya. 
 
Adapun omzet perbulannya ia menyebut angka di kisaran Rp.153, 6 juta. Sajuh ini pemasaran baru ada di pasar- pasar tradisional.

"Sebenarnya, perbedaan mides dengan mi lainnya tidak banyak, hanya dari bahannya yang menggunakan tepung singkong atau tapioka. Teksturnya lebih lentur dan lembut. Karbohidrat yang dikandung mides juga lebih banyak," katanya.

Mi desa tahan 24 jam lantaran tanpa bahan pengawet. Meski demikian, mides yang sudah diproduksinya tidak pernah sisa, kecuali saat musim hujan yang mengakibatkan penurunan jumlah pembelian.

"Kalau musim hujan memang sepi, produksi mi tak terlalu banyak," tambahnya.

Pengusaha Sederhana

 
Selama menjalani usaha produksi mides, Wardani mengaku tidak menemui kendala berarti baik soal pemasaran ataupun bahan baku. Dia berharap diberikan bantuan tempat produksi oleh pemerintah lantaran sering mendapat kunjungan dari berbagai daerah.

"Kalau kondisinya begini, kan malu, jadi berharap ada bantuan tempat produksi," imbuhnya.

Awalnya coba- coba Wardani menginovasi produk mides yang sudah ada. Mides yanga ada sekarang bisa disajikan rebus atau goreng. Mides "godog" begitu populernya di Jawa Tengah, dimana mi punya kuah segar enak untuk dimakan dingin- dingin.

"Setelah dicoba, ternyata rasanya jauh lebih lezat daripada mides yang dimasak dengan cara digoreng atau digodok," kata Wardani, Selasa 25 Februari 2014.

Mides bumbu mi ayam memang berasa berbeda dari mides original. Meski menggunakan bumbu mi ayam, jangan dibayangkan mides ini berkuah, justru sebaliknya, kering dan lembut. Warnanya yang kemerahan, yang mimiliki cita rasa pedas yang meledak di lidah. Mantap.

"Memang masih terlalu pedas, karena masih coba-coba," imbuh suami Sugiyanti ini sembari tertawa.

Mides bumbu mi ayam memang hasil inovasinya yang lain.  Hasil eksperimen dari Wardani lagi dilengkapi dengan bahan tambahan seperti sayuran dan telur. 
 
Hanya saja, mides bumbu mi ayam sedikit lebih manis, dari mi deasa original yang gurih dan asin. Mides bumbu mi ayam ini patut dicoba jika anda berkunjung ke Yogya.

Meskipun dihasilkan secara instan dan coba-coba, ia tetap meneruskan produksi mides bumbu mi ayam ini. Sebab, Wardani menuturkan, dari tiga jenis mi yang disuguhkan kepada tamunya saat itu, mides bumbu mi ayam justru yang paling cepat habis dan menuai banyak pujian.

"Mau saya pasarkan juga nanti, biar jadi teman mides original," ungkapnya.

Ada pula mi pentil buatannya yang lain, pembedanya terletak pada bentuk dan warnanya saja.Kepada para pedagang Wardani menjual mi hasil olahannya dengan dua pilihan. Yakni, matang, dan mentah. 
 
"Mi pentil kami jual Rp 8 ribu per kilogramnya. Sedangkan mides Rp 10 ribu. Ini yang mentah," urainya.

Semuanya serba alami. Misalnya pewarna. Ia memilih menggunakan pewarna khusus makanan. Tetapi tak jarang Wardani memanfaatkan pewarna alami. Itu terjadi jika ada pemesan yang menginginkan mides atau pun mi pentil yang serba alami. 
 
Itu sebabnya, kedua jenis mi ini hanya mampu bertahan maksimal selama 24 jam. "Kalau kuning ya kita gunakan kunyit. Mi yang kami jual ke pasar Imogiri bungkusnya pakai daun pisang atau jati," ulasnya.

Bisnis Keripik Pisang Pengusaha Wanita Sinta

Profil Pengusaha Sinta

 
bisnispisang.png
 
Bisnis keripik pisang merupakan kesempatan semua orang. Pengusaha wanita Sinta bukanlah orang yang beruntung. Dia satu diantara banyak orang yang kekurangan. Dulu hidup kekurangan, kini Sinta senang, karena bisa menyisihkan apa yang dia punya untuk beramal. 
 
Dulu perempuan 27 tahun ini hidup dari keluarga yang miskin. Selama bertahun- tahun ia membantu memenuhi kebutuhan berkeluarga. Sambil terus bersekolah dan bekerja, ia jungkir balik mengelola kapan mengerjakan PR atau ikut membantu orang tuanya.

Ia termasuk beruntung masuk Fakultas Ekonomi Universitas Lampung, Sumatra. Sejak SMA kelas dua, Sinta membantu keluarganya bekerja di pabrik keripik pisang, tepat selepas pulang sekolah. Hal ini dijalani selama enam bulan berturut- turut.
 

Bisnis Keripik

 
Hasilnya lumayan bisa membantu keluarga tapi yang paling utama itu ilmunya. Ternyata dari sinilah, sebuah bisnis kecil direncanakan untuk menambah uang saku. Tak disangka bisnis ini kemudian menghasilkan jutaan rupiah.

Selama bekerja di pabrik keripik pisang ia juga sibuk mengamati. Dia mulai tau bagaimana memilih pisang berkualitas baik, memotongnya menjadi irisan tipis, menggoreng agar renyah, hingga membuat aneka rasa. 
 
Lalu ia menghitung dalam benak berapa omzet yang kira- kira bisa dicapainya dari usaha seperti ini. Sinta kemudian bertekat membuat usaha keripik sendiri. Modalnya 3 juta rupiah hasil mengumpulkan gajinya selama ini.

Uang tersebut dibelikannya peralatan dapur serta bahan baku pisang. Ternyata membuat keripik sesuai standar kualitas tidak semudah dibayangkannya pertama kali. Ada hitung- hitungannya tersendiri dia menjelaskan. Akan tetapi Sinta terus mencoba hingga standar tersebut terpenuhi. 
 
Dia juga menerapkan standar kualitas yang sama terhadap hasil bumi lainnya. Dengan cerdik dibuatnya produk keripik lain, seperti keripik dari singkong, ubi jalar, talas dan sukun.

Perjalanannya meraih sukses tak mulus, satu kendalanya adalah pemasaran. Awalnya Sinta tak tahu menahu bagaimana cara memasarkan produknya karena dimana-mana sudah banyak berjualan keripik pisang. Ia juga tak bisa menggaji pegawai untuk membantunya. 
 
Pada akhirnya, pengusaha wanita Sinta cuma mengandalkan bantuan dari saudara, dan dua teman yang memang sudah berpengalaman dalam bisnis kecil- kecilan. Untung dua teman Sinta itu sangatlah baik dan mengerti apa yang dimau Sinta.

Daerah Lampung memang terkenal akan makanan khas pisangnya salah satunya ya...keripik pisang. Awalnya hanya ada rasa gurih asin namun seiring perkembangan, rasa keripik pisang sekarang sudah bervariasi seperti rasa keju coklat. 
 
Kedua teman Sinta juga membantu mengemas dan memasarkan keripik- keripik tersebut ke sekolah-sekolah, toko camilan dan toko cinderamata yang biasa dikunjungi wisatawan. Sinta kemudian memberikan merek Istana Keripik untuk usaha aneka keripiknya.

Sinta menamai usahanya tersebut Istana Keripik, karena memang fokusnya pada olahan satu ini. Untuk menghormati sang ibu, nama itu kemudian menjadi Ibu Merry, tepatnya menjadi Istana Keripik Ibu Merry. 
 
Ceritanya dulu ibunya adalah orang miskin yang selelu mendapatkan cemooh dari masyarakat. Kerena beliau miskin dan tidak berpendidikan jadilah Sinta berusaha keras merubah nasib. Dari usaha kecil- kecil menambah uang saku untuk berkuliah akhirnya menjadi usaha besar seperti sekarang.

Sukses Doa Ibu

 
Dengan mencantumkan nama ibunya, Sintaingin mengajarkan nasib seseorang bisa berubah jika kita berusaha. Semakin lama Sinta semakin yakin akan arah bisnis dan menyatakan bahwa bisnis adalah pilihan hidupnya. 
 
Ia percaya bahwa bisnis bisa mengangkatnya dari lembah kemiskinan dan bisa membuat keluarganya hidup lebih sejahtera. Ketika kecil, Sinta dan keluarganya sering berpindah-pindah rumah. Hidup dengan menyewa dari satu rumah ke rumah lain. 
 
Sinta sekeluarga tak ada biaya untuk membangun rumah sendiri. Saat itu Sinta berfikir untuk bisa punya rumah sendiri agar tak perlu berpindah lagi dan bisa hidup nyaman. Bukan rumah megah yang diimpikan namun rumah sederhana yang bisa menanampung keluarganya jelas Sinta. 
 
Yang terpenting membuat hidup nyaman, dan tampaknya impiannya kini terwujud sudah. Jiwa bisnis itu sudah ada sejak kecil tinggal dipoles kembali. Sinta adalah sosok yang ulet, karena tak ingin putus sekolah sejak sekolah dasar ia telah berjualan keripik pisang.

Otaknya memang terus berputar agar bisa membantu keluarganya. Di SMP, ia sempat membantu ayahnya bekerja di bengkel besi. Keuletan dan ketangguhannya juga terlihat disaat mengembangkan bisnis keripik pisangnya. 
 
Ia beruntung ketika rumah orang tuanya berada di tempat strategis. Lokasinya peris di pinggir jalan. Rupiah demi rupiah kembali ia kumpulkan. Bukan sebagai modal melainkan keuntungan. Cara agar tetap survive dalam bisnis menurutnya adalah kreatifitas.

Ia mengembangkan hingga 9 rasa varian untuk keripiknya. Sinta juga mempersilahkan pengunjung mencicipi keripiknya sebelum membeli. Pisang yang jadi oleh- oleh khas Lampung memang terkenal adanya. 
 
Dari bisnisnya ini, dalam sehari saja, Santi bisa mengahabiskan 400 sampai 500 sisir pisang untuk bahan baku. Ini untuk memproduksi 200 kg kripik pisang. Mengenai jenisnya, pisang kepok menjadi pilihan karena diangapnya lebih enak dan renyah hasilnya.

Harga keripik pisang yang di tawarkan Santi tidak terlalu mahal, antara Rp15 ribu sampai Rp35 ribu per kantong "Sekarang ini, saya bisa memperoleh laba Rp90 juta setiap bulannya," ujar Santi, pemilik Istana Keripik Pisang Ibu Merry ketika ditemui inilah.com saat mengikuti festival UKM di Jakarta 
 
Perempuan 30 tahun ini mengaku tidak kerepotan sama sekali soal bahan baku. Buah pisang di daerahnya sangat melimpah ruah. Santi dibantu karyawan yang berjumlah 15 orang. Usaha sejak 2005, toko tersebut berjumlah tiga di Lampung, dan tiga lagi di Jawa, yakni Jakarta, Surabaya dan Solo.
 
Untuk memperluas pasaran, ia pun rajin mengikuti berbagai pameran di kota besar bahkan luar negeri. Agar tetap digemari Istana Keripik kini menyediakan 10 jenis rasa.

Bisnis Tahu Kriuk Yesaya Surya Bereksperimen

Profil Pengusaha Yesaya Surya

 

tahukriuk.png

Pengusaha Yesaya Surya bereksperimen olahan tahu. Jujur dia baru menemukan konsep bisnis tahu kriuk selepasnya. Yesaya mencari olahan tahu apa cocok. Awal dia mencari jenis tahu cocok buat dijadikan olahan. Kan jenis tahu bermacam- macam dipilihlah beberapa jenis.


Yesaya tidak lelah berkeliling ke pelosok Jakarta. Niatnya juga mencari bumbu cocok buat olahan tahu ini. "...dicoba bumbu begini, begitu, hingga akhirnya saya menemukan kombinasi tahu dan bumbu yang pas," ujarnya kepada Tribunnews.com


Yesaya bukanlah orang baru dalam wirausaha. Dia dikenal memiliki restoran dulu. Hasrat memilik usaha tahu membawanya turun tangan. Ia tak segan mencampur- campur bumbu sendiri. Menemukan resep pas begitupula pandangan akan bisnis mendatang.


Bisnis tahu kriuk akan dijajakan melalui konsep waralaba. Unik Yesaya sangat memanfaatkan strategi marketing lewat sosial media. Resep tahu kriuk ala Yesaya sangatlah kering. Hingga orang- orang akan mendengar suara krenyes ketika dimakan.


Orang- orang senang nih ketika makan tahu buatan Yesaya. Mereka menunjukan betapa kriuknya tahu melalui instastory. Kedengeran ketika konsumen makan sampai ke mikrofon handphone. "Suaranya ketika mereka menggigit si tahunya, kresnya itu yang bikin beda dari tahu- tahu lain," jelasnya.


Dia membuka toko pertamanya di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Ia mengaku bisnis tahu kriuk miliknya malah lebih menguntungkan, bahkan dibanding restorannya. Surya mematok harga waralabanya sekitar Rp.15 juta sudah termasuk gerobak, tahu, dan lainnya.


Ada 150 gerobak telah tersebar keseluruh Jabodetabek. Bahkan ia bersiap ekspansi keluar daerah. Ia enggan menyebut pendapatan. Tetapi pendapatannya sudah termasuk buat ekspansi bisnis. Bahkan ke depan, Surya berencana ekspansi ke Bali dulu, Surabaya, disusul kota- kota lain di Pulau Jawa.


Berkat layanan Gofood usaha miliknya meningkat tajam. Pemasaran melalui Instagram hingga tampak kekinian. "Nge- share foto- foto orang ngantri itu penting banget, karena orang liat kan 'wah banyak ya yang beli' itu bikin orang- orang yang liat postingannya jadi penasaran ingen order juga," tuturnya.

Pengusaha Difable Sugiman Mempraktikan Wirausaha

Profil Pengusaha Sugiman

 
pengusahadifable.png
 
Walau ketebatasan tidak berarti dilarang mempraktikan wirausaha. Pengusaha difable Sugiman telah mengingatkan kisah Sidik. Dia pemilik bisnis kerupuk berbahan singkong mengajarkan: Bahwa semua orang bisa menjalankan bisnisnya tanpa keraguan.


Cerita Sugiman, pemuda asal Dusun Mojopuro, Magetan, Jawa Timur, dia bukanlah seorang kekurang fisik sejak lahir.

Dia penyandang cacat sejak kecil akibat Polio yang diderita sehingga menyebabkannya umpuh total, Untuk bisa berjalan dia membutuhkan pertolongan kedua orangtuanya. Ketika beranjak dewasa hanya sebuah kursi roda yang menjadi sandarannya.
 

Mempraktikan Wirausaha

 
Keterbatasan fisik ini cukup membuat seorang Sugiman manjadi sosok yang tak percaya diri. Namun, berkat sifat pantang menyerah, ia bangkit ketika ada kesempatan dan berusaha. Dari seorang yang tak berada, ia dikenal memiliki tiga buah toko elektronik bernama Cahaya Baru.

Tokonya berada di daerah Trenggalek dan Magetan, Jawa Timur, omzet bisnisnya sekarang bisa mencapai 150 juta per- bulan.

Perjalanan suksesnya bukan tanpa hambatan. Dia sukses karena melihat kesempatan dan bekerja keras atas apa yang ditunjukan Tuhan. Perjalanan sukses dimulai ketika ia berumur 19 tahun, ketika ada beberapa orang aparat dari Dinas Sosial datang ke rumahnya. 
 
Mereka mengajaknya ikut program penyantunan dan rehabilitasi sosial dan penyandang cacat di Panti Sosial Bina Daksa (PSDB) "Suryatama" di kota Bangil, Jawa Timur. Di tempat itu Sugiman dilatih secara mental, diberi pendidikan Paket A.

Rendah diri sempat menghantui ketika teman satu programnya sudah pernah mengenyam pendidikan tinggi. Mereka sudah pernah sekolah SD, SMP, bahkan ada juga yang jadi SMA. Sedangkan dia sendiri baca saja tidak bisa. 
 
Namun perasaan tak mau menjadi benalu dan perasaan mau mandiri membawanya tetap selalu semangat belajar. Dia pun berlatih ketrampilan elektronik dari program pelatihan tersebut seperti televisi, radio, sound system, kipas angin, dan peralatan elektronik lainnya.

Singkat cerita berbekal sertifikat pelatihan ia pulang ke kampung halamannya. Niat awal dia pulang buat mencari pekerjaan. Di kampung halamannya, Sugimun mencoba melamar pekerjaan di beberapa usaha servis elektronik tetapi gagal, mungkin karena kondisi fisik; lamarannya ditolak metah- mentah. 
 
Tak mau putus asa begitu saja, ia akhirnya diterima kerja oleh temannya sendiri.

"Semua lamaran yang saya buat ditolak. Sering kali saya disangka pengemis saat melamar pekerjaan, sangat menyedihkan," ujarnya mengenang masa masa sulit itu.

Dia tak bekerja lama di sana, hanya satu tahun dirinya bekerja di tempat temannya. Kurang dari satu tahun, ia kembali ke kampung halamannya karena berbagai alasan. Dengan kondisi ekonomi semakin sulit dan harus selalu ditolak orang, ia nekat berjuang sendiri. 
 
Berbekal restu sang ibu, tahun 1992, dia yang rela menjual perhiasan emas miliknya enilai Rp15 ribu untuk Sugiman. Sebagian uang dipakai untuk menyewa lapak di emperan pasar sayur Magetan.

Di sini, Sugiman membuka usaha jasa elektronik pertama sekaligus menjual korek api. Kerja keras memang harus dijalaninnya. Setiap pagi ia harus berjalan dari dusunnya sajuh satu kilometer ke tempat lapaknya. 
 
Bagi orang normal seperti kita mungkin biasa saja, tapi bagi Sugiman. Dengan penuh ketelatenan dan kesungguhan, Sugimun berusaha keras meraih kepercayaan para pelanggan, terutama dalam menepati janji. Ia selalu berusaha mengerjakan sesuatu sesuai waktu.

"Namun, saya tetap yakin Allah Maha Adil, Pengasih dan Pemurah," katanya. Ia pun tidak pelit untuk berbagi menjelaskan apa saja kerusakan serta onderdil yang dibutuhkan. "Ternyata dengan cara seperti itu kepercayaan bisa didapatkan," katanya.

Dia merekomendasikan onderdil yang baik digunakan dengan berbagai harga dan kualitas tanpa tedeng aling- aling. Berkat kerja kerasnya lapak itu semakin ramai karena kebutuhan onderdil yang terus meningkat. Peluang ini ia baca dengan sungguh- sungguh. 
 
Dari tiap- tiap pendapatan dikumpulkan untuk modal onderdil baru lalu dijual kembali. Sedikit demi sedikit ia mengisi lapaknya dengan barang- barang elektronik. Karena semakin hari apa yang dijualnya semakin banyak akhirnya Sugimin harus membuka toko sendiri.

Meski kini menjadi orang sukses, Sugimun tidak lantas lupa terhadap keluarganya. Sebagai anak tertua dari delapan saudara, ia merasa bertanggung jawab atas keberlangsungan pendidikan adik- adiknya. Oleh karenanya, sebagian rezekinya ia gunakan untuk membantu biaya pendidikan tiga orang adiknya. Dia juga mangajak mereka untuk membantu menjalankan toko elektroniknya. Ia berharap agar kelak, saudara-saudaranya yang lain mampu mandiri.

"Saya bahagia bisa menyekolahkan ketiga adik saya hingga tamat SMU," katanya.

Kebahagiaannya semakin lengkap ketika ia menemukan jodohnya Nursiam. Perempuan yang kemudian ia nikahi itu kini memberinya tiga orang anak. Selain itu, Sugimun juga membantu orang-orang di daerah sekitarnya. 
 
Ia tidak membantu dalam bentuk uang, melainkan berupa pemberian kesempatan pendidikan dan keterampilan. Ia membina beberapa yatim dan anak cacat agar memiliki berbagai keterampilan yang berguna bagi masa depan mereka kelak.

"Pengalaman masa lalu membuat saya sadar, bahwa pendidikan dan keterampilan sangat berguna bagi orang-orang seperti saya," katanya sambil tersenyum. Ada tiga anak yatim cacat yang kini ia asuh sendiri. 
 
Tidak banyak memang, tetapi paling tidak, ia telah berbuat sesuatu untuk sesamanya. Keterbatasan fisik ini bukan penghalang meraih kesuksesan. Paling tidak itulah yang tercermin pada Sugimun, pemilik tiga unit toko elektronik "Cahaya Baru".

Suatu ketika Sugimun pergi ke solo untuk membeli mobil. Ketika akan masuk ke sebuah shoowroom mobil, seorang karyawan menghampirinya dan mengulurkan uang recehan kepadanya. 
 
Diperlakukan seperti itu Sugimun segera menukas, “Oh, saya bukan pengemis, Mas. Saya cari mobil.” Terkejut, si karyawan tersebut lantas cepat-cepat masuk ke dalam sambil menanggung malu. 
 
Menurut Sugimun, karyawannya malah mengira dirinya seorang pengemis karena menggunakan kursi roda,"Waktu itu sopir saya sudah duluan masuk show room," kenang Sugimun tersenyum. Inilah kisah pengusaha difable mempraktikan wirausaha kapanpun.

(Suara Hidayatullah, Edisi 1/XXVI/Mei 2013/Jumadil Ahir/1434)

Pengusaha Muda Kuat Hadapi Pandemi

Profil Pengusaha Alfian Khomari

 
pengusahaalfian.png

Pria bernama Alfian Khomari adalah pengusaha muda kuat. Kiat usahanya hadapi pandemi dapat kamu tiru. Dia adalah pemilik Qomar Thousand Group. Strategi bisnis meletakan telur dalam banyak basket berhasil. Alfian lebih menitik beratkan bisnisnya ke depan di sektor agro.

PT. Investama Indonesia mempunyai banyak lini bisnis. Salah satunya dia berinvestasi pada properti dan kontraktor. Dua lini bisnis tersebut sangat terkena imbas. Beruntung Alfian mengarahkan usahanya lebih ke perdagangan umum dan agrobisnis.

Permintaan kebutuhan pertanian meningkat tajam. Anak usaha bidang agro, PT. Qomar Agro Nusantara malah menambah karyawan. Meletakan telur di dalam basket berdampak positif. Dia pun mempunyai cara bila kehilangan pendapatan dari bisnis lainnya.

"Permintaan pasar bidang ini (agro) mengalami peningkatan," ucapnya. Alfian berharap ada bisnis tersebut bisa mengurangi masalah sosial.

Ketika banyak perusahaan memphk karyawan. Alfian berharap mampu memberikan peluang. Lowongan pekerjaan sangat memberikan dorongan ekonomi masyarakat. Pengusaha muda 23 tahun tersebut lantas memberikan cara kuat hadapi pandami.

"Semua lini bisnis saya mayoritas terdampak, omzet perusahaan saya mengalami penurunan drastis," ia menjelaskan.

1. Jujur dan transparan

Baiknya kamu jujur dan transparan mengenai keadaan perusahaan. Bahkan ketika kamu menghadapi karyawan. Dengan demikian perusahaan akan lebih baik melakukan langkah.

2. Menentukan strategi bisnis perusahaan

Buat perusahaan yang masih berjalan makan pertahankan. Bila tidak bertahan maka strategi bantuan dari bisnis utama dapat dilakukan. Kamu bisa pula melakukan pivot dari bisnis core. Terpaksa pivot berarti merubah lini bisnis ke arah lain.

Gunakan model bisnis lain walau berada di divisi perusahaan dulu. Bisa juga kamu melakukan keadua strategi tersebut: Saling menutupi atau merubah arah bisnis keseluruhan.

3. Mengarahkan karyawan sesuai kebutuhan

Arahkan karyawan efektif agar startegi bisnis baru berjalan. Karyawan harus bekerja sesuai kebutuhan sekarang.

4. Karyawan kontrak habis jangan diperpanjang

Baiknya menunda memperpanjang kontrak pegawai. Bila karyawan terbaik dan enggan melepaskan bisa dijadikan mitra, distributor, agen, atau freelance.

5. Jika cash flow berdarah, lakukan perundingan dengan karyawan lewat bipartite.

Bila cash flow perusahaan berdarah maka lakukan negosiasi ulang. Bipartite merupakan perundingan dengan karyawan, apakah akan diphk atau no work no pay.

Terus buat mereka memiliki pembayaran sewa atau kepada suplier. Ia menyarankan pencatatan akan inventaris semua kewajiban. Perusahaan kemudian bisa menentukan pembayaran yang didahulukan, ditunda, atau dinegosiasi ulang.

Bila terdapat pembayaran tidak produktif, maka pihak pengusaha bisa menego waktu, jumlah, dan juga cara pembayaran. Perusahaan harus dapat beradaptasi. Apa produk atau jasa dijual sekarang sesuai dengan legalitas sekarang.

Sesuaikan produk diproduksi sesuai kebutuhan masyarakat sekarang. Perusahaan juga beralih dari produksi menjadi distribusi. Intinya perusahaan difokuskan mendapatkan pendapatan dulu. Namun ia mengingatkan melakukan legalitas atau perizinan buat sekarang (pandemi).

Pertimbangkan pengeluaran sekarang apakah berpotensi pendapatan. Perusahaan juga bisa melakukan kolaborasi dengan perusahaan lain. Melakukan kerjasama yang win- win buat kedua pihak. Bila kita kolaborasi akan memaksimalkan resource yang sudah ada.

"Memaksimalkan resource yang ada dan seluruh pengeluaran baru diarahkan menjadi variable cost," ia lanjutkan.

Pengusaha menurut Alfian harus bersiap akan model bisnis. Pastikan ketika pandemi pendapatan naik, manajemen pendapatan, model bisnis, struktur bisnis, SDM, dan strategi pemasaran siap. Alfian selalu mengingatkan legalitas usaha dikala pandemi terkait perubahaan perusahaan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba