Bisnis Menjanjikan Keripik Singkong Kisah Muhdi

Profil Pengusaha Muhammad Muhdi

 

muhdikeripik.png
 

Lagi- lagi bisnis menjanjikan keripik singkong. Pengusaha Muhammad Muhdi, usia 46 tahun, asal Medan, Sumatra Utara. Kisah Hadi yang dikenal tidak bisa mengendarai kendaraan. "Naik kereta (sepeda motor) saja tidak bisa," tuturnya.


Usianya sudah tidak muda namun menghasilkan banyak cuan. Dimana dia memiliki 73 orang karyawan, dari keripik singkong sampai turunannya. Ia bahkan mengekspor produknya. Orangnya optimis sampai keurusan luar negeri. 

 

Bayangkan dia begitu yakin mampu mengangkat keripik singkong "murahan". Optimisme Muhdi tidak tercipta karena talenta melainkan pengalaman. Ada masanya ketika jatuh sampai dia terjepit sesak; dia langsung bangkit kembali. Berikut perjalanan hidup Hadi yang mengalami naik dan turun.


Muhdi hanya lulusan Madrasah Aliyah, Pondok Baru, Payaman Magelang, Jawa Tengah. Ia berangkat ke Medan menjadi Nazir Masjid Nurul Imam di komplek Perhubungan Udara, Padang Bulan, Medan. Hadi muda bekerja macam- macam seperti tukang kebon taman kanak Ikadiasa.


A. Siong, pedagang telur, pernah menawarinya berdagang telur. Hadi menjajal sampai menanjak, tak sekedar jualan telur, melainkan semua logistik seperti minyak, beras, sampai sirup ke Pondok Pesantren Roudhatul Hasanah, Medan.


Keadaan berbali ketika krisis 1997 datang. Pemilik toko tempatnya membeli barang bangkrut. Ia lantas coba berdagang bahan pokok. Di tengah situasi tidak menentu, ia pulang kampung pada lebaran tahun 1999. Dimana ide bisnis menjanjikan keripik singkong bangkit.


"Ada orang yang buat keripik manual. Saya lalu beli peralatannya manual," tuturnya. Usaha tersebut membutuhkan modal alat potong Rp.250 ribu, wajan Rp.75 ribu, dan alat tampi Rp.15 ribu.

 

Modal seadanya dibawa langsung ke Medan. Kemudian ia membeli singkong 5 kg dari pasar dan juga minyak goreng 2 kilogram. Ternyata keripik buatannya tenggelam dalam minyak. Esoknya ia membeli singkong dari petani, digoreng lagi, eh kembali tenggelam kedalam minyak.

 

Muhdi mengusut ternyata disebabkan wajan kebesaran, minyak terlalu banyak, hingga api yang terlelalu besar. Ternyata tidak semudah itu membuat keripik singkong. Pengusaha Muhdi merasakan bahwa tidak mudah. Dia masih melanjutkan mencoba membuat keripik singkong.


Dia lalu menukar wajannya yang dibeli dari Magelang. Dibelinya wajan milik orang- orang yang bikin keripik pisang. Berkali- kali dia mencocokan antara takaran pisang dan minyak. Ia terus usaha sampai menemukan resep cocok.


Pada 1999, usahanya memproduksi 100 kilogram keripik perhari dan menggoreng seharian non- stop. Ia terus berjualan memenuhi kebutuhan pasar. Sampai warga sekitar pun mulai terganggu akan aktivias usaha Hadi. Mereka terusik sampai Hadi pindah keluar Medan.


Mereka terusik dari aktivitas menggoreng setiap malam. Warga juga terganggu akan limbah singkong yang menggunung. Ia pindah ke wilayah pinggiran Medan Tuntungan. Sewa rumah seharga Rp.900 ribu untuk tiga tahun.


"Saya sewa rumah yang katanya berhantu Rp.900.000 untuk tiga tahun," ceritanya. Ia membuat dapur kembali buat produksi. Hadi mengajak lima orang tetangganya di Tuntungan. Produksi meningkat, dari sekilo menjadi 150 kg, perhari menjadi 05 ton, dan 1 ton perhari.


Tenaga kerja menjadi 15 orang menggoreng. Namun, pada 2002, pemilik rumah hendak menjual rumah di alamat Jalan Tunas Mekar, Tuntungan II, Pancur Batu, Medan. Dimana Muhdi langsung berangkat ke Bank hendak meminjam uang.


Dibelinya rumah dan tanah buat kembali melanjutkan produksi. Produksi meningkat sampai 2 ton perhari. Pada tahun itu, ia mendapatkan pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan juga mendaftarkan produknya bermerek dagang Kreasi Lutfi, berdasarkan nama anaknya.


Produksi sempat berhenti total karena ditipu penjual. Pada 2004, dikisahkan penjual semua kabur bawa lari dagangan. Muhdi lantas menjual kendaraan untuk menutupi kerugian. Utang tidak terbayar. Dia lalu menggoreng keripik kembali dari awal, bermodal uang Rp. 1,1 juta.


Uang segitu menjadi 200 bal keripik. Ia meminta mantan penjualnya buat menjadi ditributor. Usaha ini kembali menanjak ditangannya. Sejak tahun 2005, pengusaha Muhdi sudah memproduksi 4 ton keripik singkong. Muhdi lantas merambah memproduksi gaplek.


Buat mengatasi limbah maka dibutuhkan rencana. Muhdi menjadikan kulitnya sebagai pupuk. Bisnis menjanjikan keripik singkong merambah opak. Hadi juga memproduksi tepung singkong pengganti terigu. Total karyawannya meningkat menjadi 75 orang.


Gila, bahkan keripik singkong sampai ke Korea Selatan. Muhdi mereguk pasar ekspor sampai dikirim ke Korea. Dua minggu mengirim sampai satu kontainer. Satu kontainer berisi 2.566 kotak keripik, dimana sekotak beratnya 2,6 kg. Khusus ekspor ukuran keripik diukur 5,7 cm.


Hadi selalu tampil sederhana. Walau menjadi pengusaha sukses tidak berubah. Bermula dari merasakan hidup kepepet, tetap berusaha, dimana menyelaraskan otak, otot, dan omongan. Dia mengerjakan semua santai, menyenangkan, tetapi selalu selesai.


Produknya bermutu, murah, dan mudah. Muhdi lantas melanjutkan pendidikan di Insitut Agama Islam Negeri Sumut. Ia sempat berpikir akan menjadi guru, malah menjadi pengusaha sukses.

Orang Buta Wirausaha Kini Pengusaha Kebun

Profil Pengusaha Muhammad Arif

 

orangbuta.png
 

Kisah orang buta wirausaha perkebunan dan peternakan. Muhammad Arif, usianya 47 tahun, menderita tuna netra. Dia memilih melepaskan stigma orang tidak melihat. Arif memilih berkebun ketimbang jadi tukang pijat. Warga Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dimana menjadi buruh tani lahan seadanya.

 

Keterbatasan tidak menghalangi dirinya bekerja bersama istri. Demi menghidupi keluarga membuatnya tetap semangat. Berkat kerja kerasnya berkebun dan beternak hasilkan sebidang tanah. Disana, berdirilah rumah sederhananya bersama petak sawah dan empat ekor sapi.


Pak Arif menjelma menjadi pengusaha kebun. Ia mengenang ketika membawa tali kekang sapi. Dibawa sapinya sampai ke kebun tetangga. Meski tali kekang kuat, Pak Arif tetap kena amuk sapi yang marah sampai terjungkal. Padahal dia sudah mengenggam erat tali tersebut dengan penuh kekuatan.


Maklum dia bukanlah masih muda dan punya kekurangan. Orang buta wirausaha terdengar konyol ketika di telinga kita. Namun dia tetap sabar dan kuatkan diri demi masa depan. Arif ternyata bukanlah petani melainkan mantan tukang pijat.


Ia sempat merantau ke Watampone, Kabupaten Bone. Dia kalah saing alhasil kembali ke kampung. Ia lantas menjadi buruh tani. Keras kehidupan memaksa Arif menjadi pengusaha kebun. Padahal nih, dia bercerita memiliki bakat memijat, kalau cuma urut rematik sudah menjadi keahlian.


"Saya pintar urut orang, apalagi kalau cuma sakit rematik. Insya Allah saya bisa sembuhkan," lanjut Arif. Sayangnya, sudah banya panti pijat ditambah salon plus- plus, inilah yang merusak pasaran bisnis orang tunanetra seperti dirinya.


Dikisahkan dia mengalami kebutaan karena katarak. Usianya tiga tahun namun sudah dibuang kedua orang tua. Dia tidak pernah tau siapa orang tuanya. Arif kecil ditinggal di panti asuhan. Hidup sebatang kara tinggal sampai besar di panti asuhan.


Ia tidak tau siapa orang tua. Bahkan kata orang- orang dirinya "anak dibuang". Menikah sepuluh tahun dirinya belum diberi keturunan. Arif tetap optimis apalagi keadaan ekonomi telah membaik. Baginya rasa putus asa wajar muncul, namun ingatla selalu; dirinya yang buta tetapi optimis.


Arif tetap optimis dengan memiliki prinsip: Dalam kehidupan jangan pernah berpikir kita kekurangan. Ia meminta kita untuk jalani hidup apa adanya. Jangan terlalu berharap akan bantuan orang. Kalau nanti kamu mengerjakan pekerjaan, pastikan kamu yakin dan kerjakan, Insya Allah akan selesai.

Sukses Batik Margaria Yogyakarta Dyah Suminar

Profil Pengusaha Dyah Suminar

 
batikmargaria.png
 
Dialah dibalik sukses Batik Margaria Yogyakarta. Dia juga sosok dibalik kesuksesan mantan walikota Yogyakarta, Heri Zudianto. Pengusaha Wanita kelahiran Cilacap, 13 November 1956, adalah anak ke enam dari tujuh orang bersaudara. 
 
Dia juga istri dari Heri Zudianto, yang juga dikenal sebagai seorang pengusaha dan aktif diberbagai kegiatan sosial. Orang tuanya hanya seorang pegawai negeri sipil dan guru SD. Tapi satu hal pasti mereka menanamkan nilai yang benar membawa kesuksesan. 
 
Orang tuanya menanamkan kedisiplinan dalam benak tujuh anaknya. Dyah Suminar adalah anak yang disiplin, cerdas dan aktif ketika masih kecil. Baginya kegiatan berorganisasi seperti pramuka dan OSIS menjadi minat tersendiri. 
 

Bisnis Batik

 
Selepas SMA, ia melanjutkan kuliah di fakultas ekonomi di UGM. Di kampus itulah dirinya bertemu Herry yang menjadi suaminya kini. Mereka kemudian menikah pada 3 Mei 1980. Setelah menikah, suami Dyah memberi pilihan pada istrinya antara kerja kantoran atau bisnis. 
 
Dyah memilih yang kedua, berbisnis. Dyah Suminar memiliki prinsip- prinsip dan idealisme yang patut dicontoh bagi para wirausahawan. Khususnya bagi mereka para pebisnis pemula yang ingin terjun secara profesional di dunia bisnis. 
 
Itulah mengapa ia mampu membawa sukses Batik Margaria Yogyakarta. Dyah dulu mengawali usahanya secara profesional sejak 1983 dengan membuka usaha konveksi. Dari bisnis ini, Dyah terjun langsung mempelajari pola dan desain untuk mengembangkan konveksinya sendiri. 
 
Menurut Dyah, dunia kantor terlalu menyita waktunya dan keluarga. Dia mengungkapkan, kunci awal bisnis adalah memulai usaha dengan hal yang kita senangi. 
 
Setelah bisnis yang dirintisnya itu perlahan mulai berkembang, maka harus dilakukan pemisahan catatan dan pembangunan manajemen bisnis yang satu dengan lainnya. Ini agar terlihat perkembangan bisnis yang tengah dijalankan.

"Ada empat hal yang harus dilakukan untuk memulai bisnis. Pertama, kita harus berani memulai, kerja keras, memberi harga lebih pada konsumen berupa pelayanan excellent(layanan prima) dan seorang wirausaha harus memiliki banyak networking (jaringan)," kata Dyah. 
 
Ketika ditemui di salah satu unit usahanya di Jalan Tamansiswa, Kota Yogyakarta, kemarin. Awalnya mertua memiliki toko yang awalnya diperuntukan untuk berjualan sembako. Toko tersebut lantas disulap menjadi pusat penjualan baju batik muslim dari berbagai merek.

Untuk menstok barang ia memilih merek Danar Hadi, sebuah merek batik ternama yang terjamin kualitasnya. Sosoknya adalah seseorang yang jeli dalam melihat peluang usaha. 
 
Dyah lantas mendirikan berbagai usaha seperti gerai busana muslim seperti Al-Fath, Anita dan Karita, Grosir busana muslim Ar-Rahman, Klinik kecantikan kulit, Salon and Spa  Lellidewi, serta toko kado "Kado Kita". Semua usahanya itu kini bernaung dibawah satu atap yaitu Margaria Group.

Margaria Group tumbuh pesat memiliki 32 unit usaha, kini mereka tengah menjajaki bisnis mereka di wilayah Bandung. 
 
"Di Surabaya memang kehadiran Margaria Group sudah cukup lama dan ternyata responnya positif, untuk itu, kami akan memperkuat pasar di Jawa Timur, selain itu kami juga tengah melakukan survei di Bandung," kata Manager HRD Margaria Group, Ananto Prasetyo belum lama ini. 
 
Menurutnya persaingan usaha busana di DIY memang ketat. Tanpa inovasi Margaria Group bisa tertinggal jauh ujarnya lanjut.

Melalui beberapa unit usahanya yakni Margaria, Karita, Griya Muslim Anissa, Al-fath dan juga Nandia batik, Margaria Group pun setiap tahunnya menghadirkan tren busana muslim terbaru. Ananto mengaku, untuk tren tahun depan sudah mulai disiapkan sejak tahun ini. 
 
Bisnis Margaria Group yang bergerak di bidang retail dan jasa saat ini tumbuh sebesar 15 – 20 %, pertumbuhan tersebut didominasi oleh unit usaha fashion.

"Kadang kami bahkan jadi trend setter, misalnya dengan motif rainbow. Busana Muslim dengan segala perlengkapannya bukan sekedar tren mode tapi pilihan hidup yang dilaksanakan seumur hidup, jadi pasarnya akan tetap ada," jelasnya.

Selain berbisnis, wanita yang telah dikaruniai 3 anak yaitu Alfita Ratna Hapsari, Arif Nur Wibawanto, dan Annisa Rahma Herdyana ini, juga senang berorganisasi sosial. 
 
Istri dari Walikota Jogja ini begitu sibuk dengan urusan bisnis dan organisasi seperti  Ketua Tim PKK Yogyakarta, Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Ketua Dewan Kerajinan Nasional dan banyak lagi.

"Saya punya manajemen waktu dan manajemen energi yang strik sekali. Saya selalu punya cita- cita dan idealisme. Saya bangga kalau saya bisa mencari sendiri, warna sendiri, ide sendiri," terangnya mengenai Rumah Gizi yang digagasnya.

Bisnis Butik Online Pengusaha Muda Annisa

Profil Pengusaha Annisa Rahmawati

  
butikannisa.png 
 
Pengusaha muda itu bernama Nur Annisa Rahmawati ST, MM, tergerak hatinya selepas menyasikan bagaimana dahsyatnya gempa 2006. Gempa yang menghancurkan perekonomian banyak keluarga di Yogyakarta; ia membuat bisnis batik online. 
 
Karena gempa ada orang yang kehilangan rumah, kehilangan mata pencarian, bahkan ada yang hilang akal sehat. Beruntung ada wanita kelahiran 29 Mei 1982 ini, yang masih menyimpan optimis, semangat untuk bangkit kembali dan membantu sesama.

Dia tergerak untuk membantu mereka -terutama kaum ibu yang merasa harus ikut membantu dikala bencana ini- Annisa mencoba memberdayakan mereka yang tak pernah terpikir untuk berusaha sendiri. Annisa lantas memutar otak untuk membantu kaum ibu di lingkungannya. 
 
Putri bungsu dari tiga bersaudara ini, berbekal hobi merancang busana muslimah yang ditekuni sejak kuliah, Annisa berbisnis baju muslimah bersama mereka. Ketertarikan Annisa pada dunia wirausaha sudah dimulai sejak masa awal berkuliah di Fakultas Teknik Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. 
 
Keinginan untuk hidup mandiri serta memiliki kebebasan waktu menjadi alasan kuat. Jika bicara tentang dari mana dia memiliki jiwa kewirausahaan, maka jawabannya adalah kedua orang tuanya. Modal awalnya sekitar empat juta, Annisa kemudian menggunakan rumahnya sebagai tempat produksi.

Dua orang tetangga dipekerjakan untuk membantunya dalam proses produksi, satu sebagai penjahit dan satu lagi sebagai pemayet. Batik Annisa begitu produknya disebut, memproduksi berbagai busana muslimah yang terbuat dari berbagai macam bahan seperti, sifon, thai silk, katun, dan rawsilk. 
 
Tidak hanya itu, butik Annisa mulai memproduksi produk lain seperti gaun pesta, selop brokat, serta bando jilbab. Seluruh produk yang dibuat keseluruhannya dikerjakan secara manual sehingga terjamin eksklusivitasnya.

Melalui butik yang didirikan 1 Mei 2007 ini, ia membantu kaum muslimah berbusana sesuai syariah tapi tetap berkelas dang anggun. Konsep busana yang telah disesuaikan untuk mereka wanita yang berusia 25 sampai 40 tahun.  
 
Dari milis (group email), blog dan berbagai pameran dipilih sarana promosi dan pemasaran hasil kreasi perempuan berjilbab sejak 2004 ini. Baginya milis dan blog sangatlah membantu proses bisnisnya.

Bisnis online


Merintis bisnis memang bukan perkara mudah. Tak terkeculi lulusan sarjana teknik dan magister menejamen yang pernah bekerja di Pusat Studi Bencana Universitas Islam Indonesia ini. Annisa menyadari bahwa dalam berbisnis diperlukan keuletan, kesabaran, dan intuisi yang tajam. 
 
Dukungan keluarga membuatnya semakin gigih berbisnis dan tetap bersemangat. Sudah berbagai upaya pemasaran produksi butik yang terletak di jalan Kemasan 71 Kotagedhe Yogyakarta ini, telah dilakoni oleh Annisa satu per- satu. 
 
Dari milis (grup e-mail), blog, dan pameran menjadi sarana promosi dan pemasaran terbaik. Baginya milis dan blog adalah tempat berbisnis sekaligus menujukan kreatifitas. Dari perjalanan Annisa juga mengembangkan produk- produk baru. 
 
Hal terakhir ini ia gunakan untuk menjaga agar produknya tetap bisa diterima.

"Ide untuk membuat rancangan atau model produk bisa diperoleh dari berbagai sumber. Kadang-kadang saya berburu ide produk di internet atau majalah, tetapi tidak jarang mendapat masukan dari para pelanggan yang mengunjungi pameran," ungkap sang pengusaha muda.

Butik Annisa berkembang berkat kerja keras perempuan lulusan S2 UII Yogyakarta ini. Keseriusannya mampu membawa produk- produknya hingga pasar internasional. Wilayah pemasaran koleksi busana kreasi Annisa meluas sampai ke negara tetangga, misalnya Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, dan Australia. 
 
Beberapa negara Eropa seperti Prancis dan Jerman juga telah menjadi target pasarnya. Caranya? Annisa memegang konsep harga tetap terjangkau. Karena banyak menggunakan kain, umumnya busana muslimah tergolong mahal, namun Annisa dapat mematok harga yang cukup realistis.

Kisaran harga untuk atasan berkisar: Rp 100.00-Rp.200.000, setelan Rp 200.000-Rp 300.000, gamis: Rp 300.000- Rp 400.000, kebaya muslimah: Rp 300.000 – Rp 400.000, gaun pesta Rp 400.000 – Rp 500.000, selop brokat: Rp 150.000, dan bando jilbab: Rp 75.000. 
 
Untuk pemasaran melalui online, Annisa kini memilih menggunakan website sendiri. Menggunakan nama butikannisa.com, kini usahnya di tahun 2006 untuk hanya sekedar membantu bisa menjadi bisnis bekelanjutan.

Pada awalnya hanya fokus pada busana muslimah, karena permintaan banyak, Annisa telah mengembangkan produknya. Sebagai tambahan busana muslim Annisa kini punya berbagai aksesoris yang telah disesuaikan. Berpakaian muslimah sesuai syariah tetapi masih tetap modis menjadi ciri khas.
 
Untuk produk busana butik Annisa menggunakan konsep busana melayu. Dimana wanita melayu lebih menyukai pakaian rok, sehingga pasarnya bisa tembus sampai ke Malaysia, Brunai, dan Singapura, yang keturunan melayu.

Usaha Bakso Kepala Sapi Viral Wirausaha Muda

Profil Anggara Kasih Nugroho Jati

 
baksokepalasapi.png
 
Usaha bakso kepala sapi viral menarik banyak pewaralaba. Siapa yang tak suka bakso? makanan yang disukai dari berbagai usia, status sosial, dan juga isi kantong. Wirausaha muda, Anggara Kasih Nugroho Jati berhasil menggebrak peluang yang masih sangat besar ini. 
 
Bakso tak lain adalah salah satu makanan favoritnya jadilah sebuah bisnis miliaran rupiah.  Melihat potensi bakso yang seakan tak pernah mati, pria kelahiran Purwokerto, 23 September 1984, berusaha mendatangkan emas dengan mengemas bakso berkonsep lebih modern.
 
Perjalanan bisnisnya memang penuh kerja keras. Pria yang akrab dipanggil Angga menamai bisnisnya Bakso Kepala Sapi. Berawal dari seringnya menikmati bakso milik H Suharto sewaktu kuliah di Surabaya. Karena baksonya lezat, dia tertarik untuk mengerjakan bisnis serupa. 
 
Idenya bisnisnya ternyata juga didukung sang ayah yang juga seorang pengusaha. Untuk outlet pertamanya dibuka di daerah Klampis, Surabaya, dia kemudian membuka outlet pertama di luar Surabaya yaitu di wilayah Bogor dengan meminjam ruko orang tuanya.

Kini, sang wirausaha muda telah memiliki sejumlah cabang usaha Bakso Kepala Sapi, yang menjadi pundi- pundi pencetak uang.

Ulet berbisnis


Sejak kecil Angga memang senang berjualan, mulai dari mug dan petasan. Saat remaja, ia juga suka berjualan aneka aksesori motor serta berbagai barang seperti baju, topi dan segala hal yang dibutuhkan orang. Pokoknya hidup Angga itu seperti "Loe Mau Gua Ada". 
 
Dirinya semakin jeli mengendus peluang, apalagi ditambah sering mengikuti seminar kewirausahaan. Ia juga ikut aneka komunitas pengusaha. Semua dikerjakannya akhirnya mebuahkan tabungan senilai 50 juta, yang kemudian digunakan untuk outlet Bakso Kepala Sapi.

Penggemar mi ayam itu kemudian menyusun rencana untuk membagi waktu antara kuliah dengan merintis usaha. Tujuannya agar bisnisnya kelak bisa berkembang dan berjalan sesuai harapannya. Ia pun membuat hitung- hitungan modal dan tahapan-tahapan memulainya. 
 
Dengan dorongan sang ayah yang juga seorang wirausaha, tekad Anggara berjualan bakso tercapai. Kunci suksesnya ada diresepnya. Ke-khasan rasa Bakso Kepala Sapi terletak pada bahan dasar bakso dan kuahnya yang mengandung kaldu kepala sapi.

BKS memberikan sentuhan kaldu kepala sapi di dalam racikan kuah menjadi ciri khas yang mendatangkan cita rasa segar dan lezat. Ia memaparkan proses pembuatan kuah BKS sebagai berikut: kepala sapi direbus bersama bumbu lainnya untuk hasilkan cita rasa lebih kuat dan aroma lebih wangi. 
 
Karena memakai kepala sapi dan bukan paha sapi seperti kuah bakso pada lazimnya, kuahnya menjadi rendah kolesterol.

"Biasanya pada kuah bakso yang lain, lemak selalu menumpuk di atas. Kuah BKS lemak hampir tidak ada. Anda bisa lihat sendiri," ujarnya.

Setiap hari setiap outlet bisa menghabiskan 3-5 kg daging kepala sapi saja. Keberhasilan dari Bakso Kepala Sapi atau BKS membuat pengusaha lokal berminat bekerja sama melalui pola kemitraan yang kemudian dibukalah cabang di Cibinong. 
 
Ia pun segera mengembangkan pola waralaba untuk bisnisnya, tujuannya agar bisa tumbuh lebih cepat. Dengan program kemitraan atau waralaba, Angga pun sanggup menghasilkan omzet hingga Rp1,1 miliar per- tahun dengan keuntungan bersih untuk dirinya sendiri di atas Rp100 juta per tahun.

Ia menjelma menjadi pengusaha muda yang berhasil, memiliki segala impian sukses pemuda umumnya, dari menikah, hingga mepunyai rumah dan mobil serta memiliki bisnis yang stabil. 
 
Dan uniknya ternyata keduanya punya satu kesamaan yaitu sama- sama menyukai kewirausahaan. Rizka Wahyu Romadhona, sang istri tenyata punya kisah suksesnya sendiri. Bersama Angga keduanya sukses mendirikan bisnis bernama Lapis Sangkuriang, profilnya akan dibahas di artikel berikutnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba