Orang Terkaya Magelang Pengusaha Wan King

Biografi Pengusaha David Herman Jaya


biografi wan king new armada
 
Julukan orang terkaya Magelang memang pantas. Biografi Wan King atau David Herman Jaya, sang pemilik usaha otobus dan karoseri bernama New Armada. Nama usahanya begitu terkenal di seluruh Indonesia. Ia juga pemilik beberapa perhotelan, restoran, dan banyak lagi.

Usahanya memang banyak berekpansi ke berbagai bidang. Alhasil David hasilkan miliaran rupiah dari berbisnis. Usaha karoseri atau otobus merupakan warisan keluarga. Ayahnya merupakan pemilik beberapa angkot dan bengkel ternama Las Tiga.

David memiliki pandangan lebih luas. Baru SMP namun sudah mencita- citakan armada bus buatan sendiri. Ini berkat didikan orang tua yang membuat mandiri. David pernah berjualan payung dan pakaian di Pasar Rejowinangun.

Berbisnis Karoseri


Usaha berjualan pakaian terbilang sukses. Dia bahkan bisa berjualan sampai Yogyakarta, Purworejo, dan Purwokerto. Suatu ketika, sewaktu ia tengah menikmati berjualan pakaian, terpikirkan ingin nanti punya usaha karoseri dari mobil Minibus T120 pick up.

Unik David merubah mobil bak terbuka menjadi pickup. Bisnis karoseri yang memakai semua modal hasil berbisnis. Tidak mau tanggung, David mempekerjakan 30 orang tukang bengkel yang terbiasa mengerjakan karoseri, asli Madiun.

Awal dia mendapatkan pesanan teman pemilik perusahaan travel. Ide tersebut didukung pengalaman membuat sendiri. Dia pernah memodifikasi sejenis buat dipakainya sendiri. Nah, sekarang dijadikan bisnis karoseri, dimana harga jual perunit Rp.1,5- 2 juta saja.

Banyak pelanggan membeli sampai meminta jasa perawatan. Pelanggan setia termasuk perusahaan travel ternama Travel Rahayu.Usaha dijalankan David bermodalkan halaman rumah. Makin besar maka halamannya tidak mencukupi; David memutuskan membeli lahan tetangganya.

Tapi, dalam dua tahun, lahan segitu masih dirasa kurang karena pertumbuhan usahanya. David, pada 1976, membeli lahan bekas pabrik bihun di kawasan Mertoyudan, Magelang. Disanalah resmi berdiri perusahaan PT. Mekar Armada Jaya.

"Nama itu saya ambil dari merek cerutu milik tetangga saya yang sudah diekspor waktu itu," tandas David.

Kisah pengusaha orang terkaya Magelan pun berlanjut. Dimana dia serahkan bisnis jualan pakiannya kepada sang adik. Baru berdiri, New Armada malah mendapat orderan besar ketika pemilu 1982. Dia menjadi koordinator pengadaan mobil pemilu para camat seluruh Indonesia.

"Saya cuma dikontrak yang dapat PT. Berdikari," jelas David. Walhasil, ribuan unit Mistubishi T120 oranye diproduksi New Armada bersama beberapa perusahaan lain.

Bisnis New Armada mengalami kenaikan pada masa 1980 -an. David memproduksi 1000 unit tiap bulan. Ia memiliki 4000 pegawai. Pada 1990, pabrikan New Armada telah menempati lahan seluas 18 hektar.

Masalah datang, ketika Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) memproduksi kendaraan sendiri. Ini yang berarti dia tidak cuma memproduksi sisa. New Armada cuma menggarap kebutuhan khusus, mulai dari bus, angkot, dump truck, mobil bok, mobil roti, ambulan, mobil sampah, dan pemadam.

"Kami enggak bisa buat mobil standar, karena ATPM membuat sendiri," ujarnya. David menelan suatu kenyataan pahit. Pendapatan menurun sejalan banyak mobil bermerek bertebaran.

Sial ditambah ketika pemerintah mulai menstandarisasi kendaraan. Mereka menyeleksi mana mobil layak jalan. Perusahaan karoseri kena imbas semua dengan alasan klise. Bahwa mobil buatan mereka tidak memiliki kaca terstandar.

David mengungkapkan kekecewaannya, "mestinya kami dididik, tapi kami ditinggalkan, kan enggak benar itu". Dia sangat berharap kebaikan mereka atas dunia otomotif dihargai. Dibegitukan malah membuat David bersemangat membuktikan.

Dia memborong mesin- mesin produksi dari luar negeri. Tujuannya agar hasil produksi karoseri bisa sejajar buatan pabrik bermerek. David tidak salah. Berkat mesin ditambah pengalaman puluhan tahun itulah. Perusahaan karoserinya malah menjadi mitra terpercaya perusahaan ATPM ini.

New Armada beralih menjadi pemasok komponen mereka, mulai dari pintu berserta pelapis, penel, kap mesin, bodi mobil, dan lain- lain. Mereka bekerja sama dengan puluhan produsen mobil. Mulai bisnis bangkit, pada 2003 dibeli lahan 7 hektar di Tambun, Bekasi, Jawa Barat.

Bangkitkan Bisnis


Ia mendekatkan usahanya kepada perusahaan ATPM ini. New Armada selain masih memproduksi kendaraan berkebutuhan khusus. Mereka juga menjadi suplier komponen mobil pribadi. Dari lahan seluas 7 hektar di Tambun, Bekasi, memproduksi unit dari 400- 500 unit.

Total 30 tahun dirinya berbisnis telah memiliki lini bisnis lain. PT. Mekar Armada Jaya memiliki banyak anak usaha: PT. Bumen Radja Abadi, tahun 1981, menjadi dealer Mistubishi yang memiliki tujuh cabang di Jawa dan Bali.

Tahun 1987, David mendirikan Vulgo Mobil menjadi dealer resmi Daihatsu, Isuzu, BMW, Nissan Truk, dan Peugeot. Tahun 1990, lahirlah Bank Perkreditas Rakyat (BPR). Usaha BPR -nya memiliki tiga anak usaha: PT. BPR Artha Merthoyuda, PT. BPR Artha Melati Indah, dan PT. BPR Artha Mekar Sukaraja.

Bisnis bidang finance tidak sebatas mendirikan BPR. Berlanjut, David mendirikan usaha pembiyaan, yang diberi nama Vulgo Finance (1991) dan Armada Finance (1992). Tahun 1990, New Armada mulai melakukan akuisisi yang pertama, ialah membeli karoseri Alexander.

David juga mengambil alih perusahaan furnitur PT. Citra Classir Furniture, pada 1990. Dimana usaha furniturnya mengambil pasar utama ekspor. Melalui PT. Armada Investama berdirilah resot dan spa Laras Asri seluas 25.000 m2 di Salatiga.

Pengusaha Wan King, kelahiran 5 Maret 1952, yang memiliki lima orang putr. Dia belum tau apakah salah satunya akan mewarisi usaha. "Saya berharap anak bisa membantu lebih baik, tapi kalau enggak bisa ya enggak apa- apa," ujarnya, yang mana putra pertamanya berusia 21 tahun.

Biografi David Herman Jaya atau Lim Wan King, pernah mengalami masa sulit ketika menghadapi krisis 98. Dimana pesanan turuna telak sampai cuma tersisa 10%. Ahasil ia terpakasa merumahkan banyak karyawan, inilah masalahnya, yang mana tidak tega memberhentikan pegawai.

Sementara usahanya hampir bangkrut tanpa pemasukan cukup. "Kami hampir kolaps, kas dihabisin untuk gaji karyawan," ujarnya.

Para karyawan sadar bahwa perusahaan tidak punya pemasukan. Bahkan mereka rela untuk dipotong gaji. Namun dia berpikir memotong gaji bukanlah pendidikan bagus. "Saya stress dua minggu menjelang keputusan memecat itu," ceritanya.

Sebagai bentuk tanggung jawab, David sendirilah yang akan menyampaikan pemecatan dari level manajer ke bawah. "Kalau engga saya sendiri, enggak bisa beres," terang David. Bahwa kemudian total 2000 pegawai diberhentikan.

Namun antara tahun 1991- 2000 -an, New Armada mendapatkan pesanan ekspor minibus ke Arab, Bangladesh, Srilangka dan Kenya. "Mesi bikin pabrik di sana, saya ngeri, di Kenya orang membunuh tidak ada hukumannya," jelas David.

Begitu perusahaan membaik dipanggil kembalilah karyawannya dulu. Ada 2.500 orang pegawai di pabrik Magelang, dan 400 orang di Pabrik Tambun. Disela kesibukan, David masih sempat menjadi pengurus Yayasa Kesetiakawanan Warga Megelang.

Dia sempat menjadi Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha di Jawa Tengah, menjadi Ketua 1 Asosiasi Karoseri Jawa Tengah, dan Pembina Perhimpunan Mobil Kuno wilayah Jawa Tengah. Inilah kisah orang terkaya Magelang semoga bisa menginspirasi.

Usaha Bubur Bayi Tanpa Pengawet Peluang Menjanjikan

Profil Pengusaha Anis Purwani


bubur bayi tanpa pengawet
 
Mencari peluang menjanjikan buat dijadikan bisnis. Cobalah usaha bubur bayi tanpa pengawet seperti milik Anis Purwani. Pengusaha kelahiran 13 Maret 1965 asal Lampung, lebih memilih usaha karena manfaat bukan keuntungan. Dia bangun pagi buat buat memasak bubur bayi buat dijual.

Menurut ibu 7 anak, merasakan betul bubur bayi memberikan manfaat. Bagi kesehatan anak untuk menjalankan aktivitas sehari- hari. Dia melihat bahwa bubur bayi membantu masa keemasan anak. Sangat berperan dalam tumbuh kembang anak kedepan.

Namun perlu diingat bahwa yang dibutuhkan kualitas gizi. Sembaranganm memberi bubur ke bayi, tidak akan memberikan efek signifikan. Alhasil Anis terus belajar mengenai kualitas bubur terbaik buat anak. Pertama kali 20 cup bubur dibuat dan dipasarkan ke Alun- Alun Kidul.

Usaha Sederhana


Tujuh pekan dia menjanjaki usaha bubur bayi tanpa pengawet. Pada 1 Januari 2012, dia memutuskan lanjutkan bisnis bubur mereknya sendiri, Favourite. Anis mulai berjualan pagi hari jam 05: 30 WIB. Di awal penjualan sudah mampu menghabiskan 10- 20 cup, dan bertambah banyak.

Sekarang ia mampu menghabiskan 200 cup perharinya. Anis tidak main- main berbisnis. Dia sangat selektif memilih bahan. Dia memilih bahan higenis, segar, dengan penyajian menarik. Bahan dibeli di sore hari, paginya dia akan mengolah menjadi bubur bercup- cup untuk dijual.

Percup paling tidak memiliki 4 varian bahan dalam 1 menu. Hebatnya dia menyediakan menu khusus ketika jumat hari; Anis menyediakan salmon untuk menu. Ikan salmon mengandung omega 3 baik buat pertumbuhan otak.

Hebat Anis membuka kios pukul 05:30 kemudian tutup 08:00 WIB. Dia mmebuka kiosnya di Utara Kantor Kelurahan Gajahana, Surakarta, Jawa Tengah. Siapa sangka, alasan berjualan bukan semata mencari untung, Anis berkata ketika malam hari selalu terjaga.

Disisi lain, ia ingin membantu ibu- ibu menyediakan makanan berkualitas. Usaha bubur bayi tanpa bahwa pengawetnya memudahkan ibu memenuhi gizi si kecil. Harga percupnya dijual murah antara Rp.3000 cup kecil dan Rp.4000 cup besar.

Buat ikan salom cup kecil dihargai Rp.4000 dan cup besar seharga Rp.6000. Penjualan sampai 200 cup perhari dimana 50% keuntungan. Keuntungan segitu cukup memenuhi kebutuhan sehari- hari. Itu juga sudah dapat ditabungkan.

Usaha bubur Favourite juga dapat digunakan bersedekah. Oh ya, sementara dirinya berjualan, sang suami juga merupakan wirausahawan dengan beberapa bisnis. Dia memiliki usaha fotocopy, tempat penyewaan buku, rental CD, dan pengetikan.

Anis merasa cocok menjadi pengusaha sampai sekarang. Ia pun memberikan pembelajaran kepada anak- anaknya; Menjadi pegawai merupakan pilihan terakhir. Dia sekeluarga, karena pengusaha maka lebih banyak waktu bersama.

Anis pun selalu menjalin hubungan dengan pelanggan, yang tak jarang memiliki status sosial lebih tinggi.

Gelandangan Sukses Berbisnis Kopi Frank O'Dea

Biografi Pengusaha Frank O'Dea



Pengusaha seperti Howard Schultz mungkin begitu. Kisah gelandangan sukses berbisnis kopi kelas dunia. Biografi Frank O' Dea yang tidak kalah dari pemilik Starbucks. Frank merupakan pemiliki kedai kopi Second Cup.

Orang tidak akan percaya dia mantan gelandangan sukses. Namun namanya memang pernah terdaftar di dinas sosial. Berbisnis kopi membalik kehidupan Frank lebih baik. Frank pernah bekerja menjadi pengemis.

Hidup Menggelandang


Usianya 20 -an, namun hidup menggelandang, tanpa rumah mencari makan melalui belas kasihan. Ia juga pemabuk tanpa rumah. Semua bermula dari kecanduang alkohol semenjak remaja. Usianya 13 tahun namun minum- minuman keras.

"Itu sangat kotor, kesepian, kehidupan fana yang membuat kita mengemis demi nikel dan receh, buat membeli sebotol wine, dan bicara soal besok, berhenti minum besok, mengundang keluarga besok, dan mendapatkan pekerjaan, besok tidak pernah datang," kenangnya.

Dia memutuskan berubah. Bermula ketika dia tengah duduk di ujung jalan Toronto, ada orang datang dan memasukan uang receh ke cangkir kopinya. Padahal Frank tidak tengah mengemis, melainkan duduk santai menikmati secangkir kopi.

Uang receh tersebut kemudian dipakai menelephon; dia tidak pernah mabuk lagi. "Ya, ini sangat sulit, tidak ada satupun orang bilang mudah," cerita Frank. "Percaya diri sendiri, lanjutkan apa yang kamu percayai lakukan, dan kehidupan akan mewujudkannya."

Kenapa dia mabuk- mabukan bukannya hidup "normal". Pasalnya dia merupakan putra tunggal ibu pencandu minuman. Mereka sama- sama hidup menggelandang. Dunia yang memaksa Frank kecil ke jalur kereta api.

Terkadang keduanya akan menikmati cahaya matahari. Keduanya suka duduk di bangku taman Allan Gardens, taman di kawasan kecil Toronto. Ibunya menderita penyakit kangker. Ibu Frank sangatlah sulit dijelaskan. Terkadang dia akan tenang, atau akan mulai mengkasari sang putra karena hal.

Dia menjelaskan kalau saja suntik mati lebih baik. Kehidupan peminum ditambah tidak memiliki harapan hidup. Anak remaja 13 tahun tersebut meniru gaya hidup sang ibu; kemudian menjadikannya pengemis. Frank mengemis di jalanan Toronto.

Berkeliling di kawasan kumuh kecintaan para gelandangan. Pola pikir Frank telah diracuni sampai semakin dalam. Bahkan dia sudah melakukan selama setengah hidup sejak 1971. Berjalan sepanjang jalan Yonge Street, mengemis kesempatan, sampai mampir ke toko wine karena "hidupnya gagal".

Dia memutuskan minum wine seharga 99 sen, memakai sandal, kemudian kehilangan kesedaran karena mabuk. Ia mengenang ibunya tidur di kasur hampir mati. Dengan penuh kepedulian, Frank merawat hingga mendengar umpatan ibunya, entah apa mungkin kekesalan akan kehidupannya.

Kehidupan miris yang dilampiaskan ke anaknya ketika mabuk. Dalam sadarnya, ibu Frank menyadari bahwa dirinya membenci "Frank". "Aku tidak akan memaafkan mu," ucapnya berbisnis ke telinga Frank kecil. Mungkin ibunya menderita trauma karena ayahnya; melampiakan marahnya ke anak.

Trauma masa lalu ibu membuat penjara bagi Frank muda. Dia lebih memilih untuk pingsan karena terlalu banyak minum. Dia juga melamar pekerjaan kok. Bermimpi mendapatkan pekerjaan ternyata tidak mudah. Frank memilih hilang kesadaran menunggu besok.

Seluruh uang dipakai beli minuman, tidak kepikiran menyimpan uang barang 50 sen untuk merubah nasib. Kini Frank merupakan pengusaha 65 tahun, duduk di sejajar orang pintar berpendidikan, jadi eksekutif perusahaan besar.

Jujur dia takut menduduki jabatan setinggi pemilik perusahaan. Dia tidak mau menandai hidup atau mengenangnya. Frank mencoba melupakan memori masa lalunya. Bahkan ketika penerbit datang untuk buku biografi Frank O'Dea, nampak ingatan menyakitkan terulang dalam benak.

Dia sekarang memiliki seorang istri, dua orang anak, tinggal di kawasan Rockcliffe Park. Pakaiannya sudah formal dan mamakai setelan eksekutif. Merunut lebih jauh, ternyata dia juga pernah alami sexual abuse, dari dua pendeta, dua wanita tua, seorang polisi dan seterusnya.

"Sewaktu- waktu saya berpikir bahwa saya memiliki tulisan undangan di kening, tanda terlihat bagi sexual predator beruliskan 'serang saya!'," kenangnya dalam tulisan.

Banyak orang masih memandang rendah sampai sekarang. Namun dia berdiri tidak mau diinjak atau dilecehkan. Frank sekarang entrepreneur terkenal. Seorang philantropis buat mereka yang ditindas, seperti para gelandangan, melalui organisasinya Order of Canada.

Bangkit dari Keterpurukan


Wajahnya nampak penuh kemuraman, sedih, dan lemas nampak loya. Alhasil orang- orang berdiri untuk melakukan perundungan. Mereka menganggap Frank keset injakan. "Beberapa orang akan menaruhku diinjak, dan saya tidak mau atau layak," tegas Frank.

Dia tumbuh di kawasan Montreal West diumur 15 tahun. Orang tuanya terbilang golongan menengah awalnya. Ayahnya, bekerja menjadi manajer perusahaan cat, dan ibunya yang tinggal di rumah untuk membesarkan empat anak.

Frank mengingat orang tuanya bukan sosok hangat. Tidak ada pelukan seorang ibu menyambut anak- anaknya. Ayahnya nampak orang tanpa emosi. Padahal hidup mereka lumayan, tidak buruk tetapi tidak seindah gambar keluarga dalam kartu pos.

Kehidupan Frank berubah ketika mendapatkan pelecehan seksual. Ayahnya terutama mulai membuat pandangan aneh. Dijadikan "alien" oleh orang tua sendiri sangat- sangat menyedihkan. Alienisasi ini semakin menggila ketika dia menjelaskan pernah dilecehkan polisi.

Dia menjelaskan pernah dilecehkan polisi, kejadian tersebut mengerikan, ia bercerita mengenai rasa takutnya akan kejadian tersebut. Ayahnya diam. Bangkit dari kursi tanpa menujukan ekspresi apapun. Dia berdiri, berjalan menuju kamar, dan menutup pintunya; mereka tidak pernah membahas ini lagi.

Penolakan masa remaja membawa masa kehancuran. Alih- alih dia mendapatkan dukungan, malahan diacuhkan alhasil dia "memberontak". Sayangnya, dia memilih minuman keras menjadi pemabuk tiap hari. Dia mencuri uang buat minum.

Dia juga mencuri kunci mobil, termasuk mobil sport ayahnya, dan kemudian ditabrakan. Kemudian datang panggilan polisi malam hari. Frank dikeluarga dari sekolah umum, masuk sekolah prifat, lalu lulus sekolah. Satu semester dia sempat berkuliah teknik tetapi cuma segitu.

Kedua orang tuanya lantas mengusirnya dari rumah. Dia pernah bekerja menjadi sales, dimana sangat handal, dan apartemen. Namun minuman keras menyeretnya ke jalanan, tanpa uang, dan juga tidak punya pekerjaan. Dia selalu tidak mua menjadi dirinya sendiri.

Dia yang selalu merasa kotor dan dilecehkan. Ayahnya memang sangat menjunjung tinggi harga diri. Keadaan ibu tidak membaik dan menjadikan alasan. Frank lalu makin mabuk sampai panggilan untuk pulang. Dia diajak masuk ke panti sosial dan mendapatkan rehabilitasi minuman keras.

Hidup menggelandang sekaligus kecanduan minuman keras. Frank merasakan dunia seolah menghajar dirinya habis- habisan. Dia masuk rumah baru. Melawan penderitaannya termasuk ingin minum alkohol kembali. Pihak rehabilitasi akan membantunya melalui telephon, memastikan semua baik.

Dia kemudian diberikan pakaian jas bekas, beberapa kaos dan dasi, dan pekerjaan. Dia mendapatkan pekerjaan sales perlengkapan industri. Membaik, Frank menunjukan dirinya memang penjual hebat, dan ramah.

Dia berkenalan dengan sosok Tom Culligan, pebisnis yang bertemu ketika menjadi relawan. Frank tak memiliki pekerjaan tetap. Sampai di Agustus 1975, dia mulai berbisnis membuka kios kopi di sebuah mall. Kemudian Frank menamai usaha pertamanya tersebut, Second Cup.

Sempat hampir bangkrut namun Tom dan Frank bekerja keras. Tom pun membeli saham milik Frank hingga berekspansi 150 toko. Kemudian Tom menjual Second Cup ke pendiri mmmmufins, Michael Bregman di 1988.

Usaha Telur Asin Bu Pinik Istimewa

Profil Pengusaha Bu Pinik


usaha telur asin

Yuk kenalan usaha telur asin Bu Pinik istimewa. Kisah usaha yang jarang dilirik orang buat nanti dijalankan. Memang berbagai alasan dilontarkan para pengusaha tentang telur asin. Dari nama bisnis tradisional atau bisnis jadul padahal masih digemari produknya.

Sayang akan sulit pengemasan serta marketingnya keluar. Ibu Pinik, pengusaha wanita serta pemilik merek dagang telur asin EL, bercerita bagaimana dirinya terinspirasi banyaknya peminat telur asin. Ditambah untung jumlah pesaingnya juga terhitung jarang.

Banyak pebisnis enggan mengolahnya serius- serius. Sementara bicara tentang bahan baku memang di daerahnya, telur bebek begitu berlimpah. Daerah asalnya, telur- telur bebek begitu melimpah ruah siap diolah. Meski awalnya sempat ragu, akhirnya, ia tetap menjalankan usaha tersebut.

Dimulai dari ide simple saja, mulailah ia mengerjakan telur bebek menjadi telur asin khas buatannya. Percobaan pertama gagal karena telur- telur itu jadi terlalu asin dikonsumsi.

Setalah beberapa kali mengalami kegagalan, akhirnya resep telur asin itu jadi. Pinik pun berhasil membuat resep telur asinnya sendiri, lalu memasarkan telur asin ke teman- teman terdekatnya serta keluarga.

Apresiasi dari teman- teman dan keluarga terhadap produk telur asinnya membuat semangat lagi. Bu Pinik kemudian terus memproduksi telur- telur asin tersebut untuk dijual. Namun masalah baru muncul setelahnya. Karena ia tidak pandai berjualan.

Tapi beda dengan pebisnis mapan. Pinik tak punya beban cari untung besar- besaran. Meski Hanya bisa memproduksi telur-telur tersebut, kemudian menunggu teman atau keluarganya membeli telur-telur itu; ia terus melakoninya. Ia belum pernah mempunya pengalaman berjualan apapun.

Padahal, jika ingin usaha telur asinnya ini bisa saja berkembang lebih lagi. Bu Pinik harus memasarkan produknya secara luas, dan tentu jadi bagian tersulit dalam bisnis tradisional.

Dari artikel yang pernah dibacanya, saran teman- teman dan keluarga, maka jadilah ia menitipkan telur- telur itu ke toko- toko kue atau depot makan. Mungkin bagi kamu yang biasa berjualan akan mudah meminta mereka dititipi.

Tetapi bagi Bu Pinik satu hal ini bisa menjadi bagian tersulit dalam usahanya saat itu. Pertama kali, ia rasakan apa itu kegagalan. Dia banyak menerima penolakan dari pemilik usaha. Alasannya karena produk buatannya masih belum dikenal jadi sistem titip tidak bisa dilakukan.

Padahal waktu itu ia bahkan rela telurnya dicicipi oleh si pemilik toko kue tersebut; tetapi tetap saja penolakan lagi. Begitu pula depot makanan pertama yang dikunjunginya.

Mereka menolak karena menganggap telur asinnya itu belum tentu diminati oleh pengunjung depot tersebut. Diman hari pertama akhirnya dilalui cuma bertangan hampa. Tidak ada satupun toko ataupun depot yang dikunjunginya itu mau menerima titipan telur asin.

Hal itu berlangsung selama beberapa hari, bahkan hampir dua minggu pertama ia tidak mendapatkan tempat menitipkan produknya. Putus asa? Jujur, Bu Pinik nyaris putus asa berjualan telur asin.

Sempat dia berpikir bisnis tidak akan bisa berlangsung lama. Selain karena tidak punya pengalaman, telur asin punya jangka waktu jika disimpan terlalu lama. Memang telur asin tanpa bahan pengawet akan bertahan selama sekitar dua hingga tiga minggu.

Jika lebih dari itu, maka rasa telur asin itu akan sangat tidak enak dikonsumsi, bahkan menimbulkan bau tidak sedap. Dan jelas, telur asin seperti ini tidak akan bisa dijual dan harus dibuang.

Dalam keputusasaan, dia tetap berpikir postif bahwa kelak telur asin buatanya akan bisa diterima. Dia masih percaya bahwa telur asin buatanya bisa jadi makanan favorit. Tapi bagaimana hal tersebut bisa terjadi jika menaruh satu butir telur asin ke toko saja tidak sanggup.

Pikiran positif membawa kakinya berkeliling terus mencari toko- toko dan depot dititipi. Target pemasaran juga diturunkan tak lagi terpaku pada toko- toko besar atau depot makan.

Bu Pinik menjual terlurnya ke warung- warung makan pinggir jalan. Hingga, akhirnya, ada satu warung kecil mau menerima titipan telur asin tersebut. Berawal dari sepuluh butir telur cuma dalam seminggu.

Bertambah menjadi dua puluh butir seminggu hingga akhirnya, di satu warung itu, ia mampu menjual lima puluh butir seminggu. Ternyata pikiran positif itu membantu bisnsnya masuk ke pangsa pasar yang tak terduga.

Bu Pinik terus membangun perasaan percaya diri akan kualitas produk andalannya. Usaha telur asin Bu Pinik buktikan terdapat keistimewaan dalam bisnis jadul.

6 tips sukses


Tak mau berhenti mencoba menjadi moto yang melekat. Bu Pinik memberikan beberapa hal tentang bisnis. Menjadi pengusaha tak harus mempunyai pengalaman segudang dalam penjualan.

Karena pikiran positif bisa jadi senjata ampuh melawan kemalasan pada diri serta rasa putus asa yang menguras hati.

Berikut 6 hal yang bisa dipelajari dari kehidupan Ibu Pinik dari sifat positifnya, sang pengusaha terlur asin:

1.Tantang bukan masalah. Saat berpikir positif semua hal terlihat berbeda dengan bepikir emosional. Jika saat itu Bu Pinik memilih berhenti, ia telah melepaskan kesempatan untuk menjadi pengusaha.

Dia telah melepas kesempatan menjadi pebisnis dari bisnis yang jarang ada. Sudut pandang positif memberi efek berbeda ketika melihat masalah, makan masalah terlihat selalu ada jalan. Kita akan selalu memikirkan solusi ditiap tindakan kita.

2. Menjadi lebih terbuka. Bepikir positif memberikan keterbukaan atas lingkungan sekitar. Jika Bu Pinik saat itu  tidak terbuka atas segala saran, yakinlah bisnisnya akan berhenti. Dia akan berhenti dititik menjual telur asin kepada teman dan keluarga.

Hati dan diri kita pribadi untuk menerima berbagai hal-hal baru yang akan mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik. Kita akan dengan senang hati menerima kritik atau saran yang bisa membantu kita untuk instropeksi diri dan kemudian bangkit dengan perkembangan.

3. Terbiasa menggunakan bahasa positif. Berpikir positif membuat anda selalu berbicara positif. Pengusaha yang baik ialah mampu meyakinkan pembeli atau rekan kerja. Bagaimana bisa percaya jika ucapan anda selalu negatif?

Pastikan bisnis kamu berjalan dengan berbicara bahasa positif, dan yakinkan orang disekitar anda. Bu Pinik berusaha mendekati teman dan keluarga karena mereka positif. Dan, jika setiap kata yang dikeluarkan olahnya hanya kejelekan, telur asin itu berubah sama jeleknya.

4. Berbahagia. Menjadi pengusaha juga tentang sejauh mana anda bahagia. Kata- kata passion, lakukan apa yang kamu suka pastilah berhubungan dengan kebahagiaan. Bagi Ibu Pinik membuat telur asin merupakan kebahagiaan dari proses panjang mencari resep.

Apakah semudah itu membuang kebahagiaan lalu berhenti sama sekali membuat telur asin. Itu tidak akan terjadi.

5. Lebih banyak bersyukur. Pikiran positif selain menyemangati di saat jatuh, tapi juga jadi pengingat. Kita akan melihat semua karena sebab akibat. Seperti bersedakah membawa rejeki, berpikir positif membawa jalan solusi.

Mudahnya, jika kita positif, kita tak akan lupa pada hukum sebab akibat, semua bisa terjadi di dalam bisnis.

6. No excuse. Bahasa gaulnya "tak ada alasan", antara lain tak ada alasan berhenti dari kebahagiaan, tak ada alasan untuk tak berinovasi, dan tak ada alasan untuk berdiam diri.

Jadilah pengusaha bukan tentang seberapa besar nilai bisnis tapi tentang tak ada alasan untuk berhenti dan mundur dari sekarang.

Pengusaha Pembuat Bumbu Pecel Cap Jeruk Purut

 Profil Pengusaha Kasiyem Roesmadji


bumbu pecel jeruk purut

Inilah kisah pengusaha pembuat bumbu pecel Cap Jeruk Perut. Dia tidak menyangka mendapat gelar pengusaha sukses. Produknya sampai keluar negeri. Sulit juga dibayangkan kalau orang buta huruf sepertinya sukses berbisnis. Wanita satu ini telah membuktikan tidak ada kata terlambat berusaha.

Kasiyem Roesmadji, adalah pengusaha itu, ialah seorang pembuat bumbu pecel Cap Jeruk Purut asli Madiun, Jawa Timur. Dia sukses membuktikan tak ada batasan atau kata terlambat memulai suatu bisnis. Jadi jika keterbatasan pendidikan menjadi alasan; kamu patutnya malu atas hal itu.

Bukan hanya dirinya loh, ada pengusaha lain yang terbatas dari terbatas secara fisik, mental, dan ada pula seperti Bu Kasiyem dalam pendidikan. Ketika masih kelas 3 sekolah dasar (SD), Kasyiem kecil harus meninggalkan bangku sekolah karena kedua orang tuanya tak punya biaya.

Nasib Bu Kasiyem


Ayahnya seorang buruh di PT. Inka, Madiun. Setiap hari, ia memilih mengisi harinya dengan menjual mangga dan jambu kluthuk (jambu biji) di pasar bersama kekeknya. Kasyiem sendiri adalah anak ke tujuh dari 12 orang bersaudara.

Hingga menikah menjadi istri petani bernama Roesmadji, naluri dagangnya tak pernah luntur. Dia, di rumahnya di Jalan Delima 32, Madiun, sambil berjualan es dawet, setelah beberapa waktu lalu bisnis aneka gorengan buatannya tak laku alias gagal total.

Kebetulan karena rumahnya berdekatan dengan kantor cabang PT. Telkom dan Perum Pegadaian. Akan tetapi harapan akan es dawet buatannya disukai pekerja disana malah kandas.

Bu Kasyiem mencoba bangkit dari keterpurukan untuk mencari usaha lain. Kasiyem lalu mencoba berjualan nasi pecel, untuk memenuhi kebutuhan pegawai kantor di sekitar rumahnya tersebut. Eh, ternyata peruntungan Kasiyem perlahan mulai berubah dari bisnis nasi pecelnya.

Dagangan nasi pecelnya disukai banyak pembeli. Buktinya, warung yang ia buka mulai pukul enam pagi tersebut sudah tutup pada pukul delapan pagi. Laris manis dimana warung nasi pecelnya menghabiskan 10 kilogram sambal pecel dalam sehari.

Tapi, ditengah jalan, ia merasa kerepotan berjualan nasi pecel. Tak berhenti ide bisnis itu, jadilah Kasiyem cuma fokus pada pembuatan bumbu pecel saja. Tepat, tahun 1971, bumbu pecel Madiun khas Kasiyem itu siap mencoba menembus pasar lokal.

Ia mengemas produknya berukuran 2,5 ons sampai 5 ons. Makin lama semakin banyak orang yang tau dan berlangganan kelezatan sambel pecel khasnya. Mereka membeli tidak cukup cuma untuk satu dua kali.

Beberapa orang membeli paket besar karena sudah ketagihan.

"Kebanyakan pembeli adalah pegawai Telkom dan Pegadaian," kata ibu lima anak ini.

Menurut Kasiyem, sambal pecel buatannya telah terkenal sampai ke Solo dan Jogja, cuma berkat informasi dari mulut orang yang pernah mencoba rasanya. Tanpa melakukan marketing khusus produk yang memang berkualitas bisa cepat tersebar.

Kasiyem mulai berpikir untuk memberi label agar tidak ada yang meniru. Hingga, pada tahun 1990, pengusaha yang dikenal dengan nama Bu Roesmadji ini resmi memberi lebel untuk produk sambel pecelnya.

Merek dagang sambel pecel "Cap Jeruk Purut", didasarkan kebiasaannya menyisipkan daun jeruk purut. Gunanya tidak lain adalah guna meningkatkan cita rasa. Selanjutnya, karena sudah terkenal dan banyak pelanggan, PT. Inka memodali Bu Roesmadji sebesar Rp.10 juta untuk pengembangan.

Dia menggunakan uangnya agar bisa memperbanyak produksi. Seiring peningkatan produksi sambal pecel Cap Jeruk Purut, PT Inka menggelontorkan pinjaman Rp 10 juta lagi ke Bu Roesmadji.

"Total saya dapat Rp 20 juta," kata dia.

Sebenarnya ia pernah berpikir langsung mematenkan merek produknya. Tetapi dia, kala itu, merasa kesulitan dengan prosesnya yang memanglah ribet. Jadilah sambal pacal Cap Jeruk Purut belum dipatenkan haknya atas Roesmadji.

Eh, tidak disangka, berkat bantuan beberapa orang yang ia kenal; ia bisa mendapatkan hak paten pada tahun 2000.

"Lalu, pada 2002 sambal Cap Jeruk Purut mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat," ujar pengusaha yang kini mempekerjakan 25 orang pegawai ini.

Kualitas produk


Bu Roesmadji menuturkan, dalam sehari, ia menjual 600 bungkus bumbu pecel. Setiap bungkusnya seharga Rp.5.000 ukuran 2,5 ons, Rp.11.000 per 5 ons, dan juga Rp.20.000 tiap kilogram. Alhasil, jumlah produksinya mencapai rata- rata 1,5 kuintal sehari; ia mengantongi omzet Rp.200 juta per- bulan dari bisnis bumbu pecel Cap Jeruk Purut.

Produknya dinikmati mereka dari instansi pemerintahan, perusahaan swasta, toko, maupun pejabat pemerintah. Bahkan, pemasaran sambal pecel Bu Roesmadji ini sudah menyebar hingga kota kota lain, seperti Malang, Surabaya, Bali, Bandung, dan Jakarta.

Tidak berhenti di situ, bisnis bumbu pecel ini mulai dilirik mereka yang ada di Belanda. Pernah dalam sepekan saja ia mampu mengirim 1 ton sambel pecel ke Negeri Kincir Angin tersebut. Kendati sukses, ada saja cobaan datang menghadang bahkan dikala tidak terduga.

Ketika banyak permintaan sambal pecel meledak di Belanda, pada tahun 1995, justru pemerintah kota Madiun memindahkan pasaran.

Mereka mengalihkan pesanan itu ke perusahaan- perusahaan lain, alasanya, ya harga bumbu pecel milik Bu Rosemadji terlalu mahal. Tapi, karena sambal pecel itu berbeda dari buatannya, pengusaha di Belanda menolak upaya pemerintah daerah.

"Sambal pecel itu sudah bau meski baru 15 hari," ujar dia. Alhasil, Kasiyem atau Bu Rosemadji pun kembali menjalin kontak agar ada lagi pesanan ekspor. Wanita ini telah membuktikan bahwa sambal pecel khas Madiun bisa mendunia.

Setelah berhasil mengekspor sambal pecel Cap Jeruk Purut ke Negeri Kincir Angin, Belanda, Bu Roesmadji kini membidik pasar Malaysia dan Singapura. Menakjubkan, selain dua negara baru ini, bumbu pecel Jeruk Purut miliknya juga ikut masuk Arab Saudi.

Pesanan datang dari mereka yang sedang ber- haji. "Pemerintah mesti memberi perhatian ke usaha seperti kami. Sebab peluangnya menjanjikan," tutupnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba