Pengusaha Sepatu Agit Sudah Usaha Sejak Sekolah

Profil Pengusaha Agit Bambang Suswanto


pengusaha sepatu kulit

Membuka usaha sejak sekolah merupakan pilihan terbaik anak. Pengusaha sepatu Agit telah mantab mengekspor sepatu sampai keluar negeri. Siapa sangka, dulu, dia harus meniti jalan naik- turun jadi wirausaha muda. Dua kali gagal membangun bisnis tidak membuatnya jera.

Agit Bambang Suswanto sudah menjajal wirausaha sejak sekolah menengah. Ia belajar dari dua kali kegagalan. Aneka strategi bisnis diterapkan Agit guna bangkit. Dia tidak malu menyebut dua bisnis gagal tersebut walau sungguh berantakan.

Dia tidak pernah lupa mereka yang setia mendukung. Berkat dorongan mereka, Agit bangkit menjajal usaha sepatu kulit buatan sendiri. Agit bercerita semasa SMA dulu, bisnisnya sederhana yakni jasa membuat pin. Dia juga nyambi jaga warnet.

Bisnis Pertama


Ketika Kota Bandung ramai bisnis distro, Adit seolah tidak mau ketinggalan trend, maka dia menjajal bisnis kaos distro. Adit mendesain kaos lantas dijual- jualkan ke distro Bandung. Empat bulan jalan, usahanya tutup, Adit menyadari bahwa dirinya pengetahuan manajemen dan pemasaran.

Soal desain sendiri memang belum hebat. Namun Adit nampak kurang puas maka belajar kembali. Di masa kuliah, ia memperdalam dunia desain otodidak dan membuka bisnis sampingan. Adit berbisnis sampingan menjadi desainer website dan desain grafis sebuah majalan di Bandung.

Uang hasil bisnis sambilan bisa dipakai menambah biaya kuliah. Itu juga bisa dipakai modal usaha berikutnya. Semangat Adit berwirausaha memang tidak pernah padam. Buktinya dia langsung tancap gas membuka usaha. 

Dia mengajak dua temannya berbisnis wafel. Namun hanya bertahan enam bulan, pasalnya kedua teman Adit memilih berhenti. Dia menyebut kedua temannya itu tidak berniat berwirausaha. "Mereka tidak serius," tuturnya.

Agit meyakini kegagal merupakan pengalaman berharga. Dari sanalah, pengalaman berharga tersebut mengajarkan cara membuka usaha. Pengalaman juga mengajari Adit kapan bekerja sama atau tidak membangun usaha.

Ketika berbisnis wafel, dia sangat rajin datang wara- wiri pertemuan komunitas dan pameran. Tujuan Adit hanya satu memperkenalkan produk bikinannya. Dimanapun dia akan membuka stand baik di acara musik maupun seni budaya.

Namun berbeda, ketika dia menjalankan usaha sepatu sekarang, maka lebih pilih- pilih tema pameran dan acara. Dia pernah diundang ikut acara fashion di Jakarta; Adit menolak. Itu lantaran tema acara dan penonton tidak sesuai citra produk ekslusif dan mahal.

Dia memang sekarang sukses berjualan sepatu. Namun, awal Agit memasarkan sepatu tidak mudah, bingung merupakan kata kunci pertama. Dia bingung mau diapakan tiga pasang sepatu pertama. Di Bandung, concept store yang menjual khusus sepatu kulit memang telah menjamur.

Uniknya, mereka hanya memajang sepatu kulit impor, belum sepatu lokal dan apalagi sepatu kulitnya belum tenar. Dia lalu mencoba berjualan melalui situs jual- beli Kaskus. Tak disangka, tiga pasang laku terjual, sepatu kulitnya diminati hanya dalam waktu sehari.

Agit makin percaya diri memproduksi beberapa pasang lagi. Semua terjual habis dalam tempo waktu sekejab. Pada masa itu, Adit mengenang melakukan semua sendiri, mulai dari pemasaran, produksi serta pemotretan produk.

"Saya mengambil foto sepatu yang akan dijual di belakang rumah," tuturnya.

Agit menjual produknya melalui website www.amblefootware.com. Dia dibantu dua pegawai sewaan bagian produksi. Adit berhasil memasarkan melalui dunia maya. Berikutnya, Adit menawarkan brand Amble kepada toko- toko sepatu di Bandung.

Karena memang produk sepatunya telah laku di pasaran online. Mereka toko- toko sepatu di Bandung setuju. Dalam sepekan, toko- toko yang dititipi meminta dipasok kembali sepatu. Untuk mendukung manajerial, Adit mengajak dua temannya yang memiliki latar belakang ini.

Berkembang, bulan berikutnya toko -toko Jakarta tertarik menjual. Permintaan dari toko toko lainnya masuk mulai dari Surabaya, Yogyakarta, dan Balikpapan. Walaupun dia telah berhasil menjual lewat beraneka macam jalan. Adit pun tidak pernah melupakan forum tercinta Kaskus kita.

Dia masih berjualan melalui di Kaskus. Ia masih berjualan sepatu kulit produksinya di sana. Adit pun masih menjalin komunikasi dengan sesama anggota forum.

Bangga Menjadi Pengusaha


Umurnya masih muda tetapi sudah berhasil berbisnis sepatu. Tidak terbayangkan membuat sepatu yang tak kalah dari merek luar. Agit memang memiliki jiwa wirausaha kuat. Usia 21 tahun sudah memiliki omzet ratusan juta.

"Selain ulet, untuk menjadi seorang yang sukses berwirausaha juga membutuhkan pendidikan dan kreativitas," ia melanjutkan.

Mengapa dia memilih sepatu padahal sempat berbisnis kuliner. Ia mengenang sempat kesulitan cari sepatu lokal pada 2009 silam. Bukan karena tidak ada produksi luar negeri. Adit yang hobi koleksi sepatu, menganggap harga sepatu kulit luar negeri terlalu tinggi.

Adit berpikir bahwa kita bisa memproduksi produk berkualitas. Bahwa kita mampu bersaing dalam hal sepatu kulit. Pengusaha 21 tahun ini mulai mendesain sepatu sendiri. Kecil- kecilan ia produksi tiga pasang yang dijual di komunitas Kaskus.

Tetapi itu dulu, sekarang sang mahasiswa manajemen bisnis Universitas Widyatama Bandung ini, telah memproduksi tidak kurang 300 pasang sepatu. Total omzetnya mencapai Rp.60 juta sampai Rp. 85 juta.

Pada Desember 2010, dia mengekspor 200 pasang sepatu kulit buatannya ke Eropa, Jerman, dan juga Perancis. Pendapatan dari ekspor sepatu mencapai Rp.20 juta sampai Rp.60 juta. Omzet yang dapat dicetak Agit mencapai Rp.100- 145 juta.

Agit sangat serius menggarap pasar ekspor. Pasalnya pembeli diluar membayar kontan bukan tunggu laku. Dikisahkan si eksportir merupakan asli Eropa yang tengah kebingungan. Ia tengah mencari sepatu kulit buatan Asia dan Amerika Latin.

Kebetulan dia menemukan website milik perusahaan Agit. Kebetulan sang eksportir tengah bingung, mencari produsen yang memproduksi produk berkualitas berstandar internasional. Agit sendiri telah menjual ke negara tetangga dari Malaysia, Singapura, dan Australia.

Sayangnya, penjualan di sana melalui penjualan ritel, kadang laku banyak atau sekedar mendapatkan Rp.6 juta. Amble memiliki dua lini produk antara lain Premium dan Seasonal. Seasonal merupakan produk yang akan berganti musiman atau enam bulan sekali.

Produk premium berharga Rp.1 juta sampai Rp.1,5 juta per- pasang. Produk seasonal harganya dari Rp.450 ribu- Rp.600 ribu. Pasar ekspor dia mematok harga $135- $170 untuk premium dan seasonal $65- $85.

Perdesain diproduksi hanya 200 pasang sekali produksi. Ia menjaga agar produknya tetap ekslusif. Sampai sekarang dia telah memproduksi 400- 500 pasang perbulan, meskipun maksimal 700 pasang sepatu. Pembatasan dilakukan agar tidak over stock atau membanjiri pasar.

Agit menjelaskan karena dijual mahal perlu menjaga kualitas. "Karena dijual dengan harga mahal, jadi kita tidak perlu mengejar kuantitas untuk mencari untung," tuturnya.

Dia memiliki 12 keryawan bagian produksi dan empat manajemen. Bengkel kerjanya terletak di Kota Bandung, Jawa Barat. Harga sepatu Amble mahal sebanding dengan kualitas yang unggul. Bahan bakunya 100% kulit asli.

Bagian dalam sepatu Ambel menggunakan kulit kambing. Desain dibuat maksimal dengan 70%  nya produksi tangan. Agit memasok bahan kulit dari pengrajin Tangerang, Bogor, dan Surabaya. Ia cukup selektif soal bahan baku. Ia menuntut bahan baku dengan mutu dan warna tertentu.

Agit tidak pernah mencontoh desain lain. Ini karena tujuannya menjadikan Ambel brand trend setter sepatu. Dia rajin membaca majalah fashion dan terinspirasi. Produk sepatu Ambel bikinannya sudah 100% bahan baku asli Indonesia.

"Jadi, memang 100% Indonesia, dari bahan bakunya sampai proses pembuatannya," ujarnya kepada Kontan.co.id, bangga.

Koleksi sepatunya coba meruntuhkan bayangan bahwa sepatu luar lebih berkualitas. Agit bercerita, bahwa dulu orang senang sepatu impor, tetapi aslinya bahan baku kulit didatangkan dari Indonesia sendiri. Orang Indonesia bangga pakai sepatu impor padahal kulit asli Indonesia.

Agit tidak berasumsi loh. Dia kenal sendiri para pengusaha pemilik pabrik pengolahan kulit. Sepatu Ambel memiliki semangat cinta Indonesia. Terbukti setiap sepatunya, akan nampak tulisan "Made with Produk in Indonesia".

Jujur Agit memang sangat sibuk bahkan pendidikannya tersendat. Namun, ia memastikan bahwa soal pendidikan berjalan semua, dan sangat penting. Di kuliah, memberikan dasar yang baik, karena Agit mengambil jurusan bisnis sesuai apa diaplikasikan.

Namun tidak bisa dipungkiri, Agit merasa beberapa ilmu diberikan tidak bisa teraplikasikan di dunia nyata. "Seharusnya, setiap pelajaran dapat diaplikasikan di dunia nyata," jelasnya. Baginya namanya mahasiswa harus mampu mengaplikasikan ilmu, bukan cuma hadir dan mengikuti ujian saja.

Ketika mempelajari manajemen pemasaran Agit begitu mendalami. Ia langsung aplikasikan pelajaran ke bisnis- bisnisnya. "Dengan begitu, ilmunya tidak sia- sia," ujar Agit. Selain ilmu bisnis, Agit juga mendalami desain, dimana kratifitas merupakah hal mutlak dalam berbisnis sepatu ini.

Kreativitas diperlukan guna menambah produk baru. Selain memproduksi sepatu, ke depan Agit akan menjajal produksi dompet dan sabuk kulit. Kedua produk tersebut diproduksi sebagai tambahan agar mensuport penjualan. Alasan lain, karena produk sabuk dan dompet kulit lebih mudah diproduksi.

Bisnis Teknologi Pengusaha Muda Asal Australia

Profil Pengusaha Michael McCoogan


bisnis uber global
 
Pengusaha muda asal Australia ini bernama Michael McCoogan. Dia yang begitu dekat dengan bisnis teknologi. Bermula dari kesenangan mengutak- atik komputer, McCoogan sering dipanggil teman- temannya membantu. Dia dimintai tolong bila ada kerusakan pada komputer milik mereka.

Usianya masih 14 tahun mendapatkan banyak permintaan tolong. Dari bermain internet dia mampu menghasilkan uang karena menjual jasa. McCoogan membantu semua hal termasuk membuatkan situs web. Dia menyadari bahwa banyak usaha kecil membutuhkan bantuan online.

Bisnis Teknologi Internet


McCoogan mulai membantu usaha kecil berjualan online. Dia mendapatkan 500 dollar membantu orang- orang. Bila pemilik usaha membutuhkan admin tinggal bayar 50 dollar perbulan. "Itu terjadi di awal dimulainya industri internet, dan saya beruntung berada di saat yang tepat," tuturnya.

McCoogan beruntung pintar internet sehingga dibutuhkan banyak orang. Jaman itu usianya masih 16 tahun, hingga mendapatkan kontrak pertama dari Pemerintah Australia, dimana mengerjakan otoritas sungai Murray- Darlin Basin.

Pemerintah Australia dilarang berhubungan dengan bisnis individu. Maka dia mendirikan perusahaan sendiri. Usianya masih 16 tahun, tentu tidak boleh menjadi pimpinan perusahaan, lantas apa solusi bagi pengusaha muda ini. McCoogan kebetulan menemukan tetangganya yang baru pensiun.

Pria bernama Michael Massop baru pensiun pegawai negeri. McCoogan lantar menawari sebagian dari saham perusahaan. Massop pun dilantik menjadi direktur utama, sampai McCoogan berumur 18 tahun. Massop merupakan sedikit dari orang tua yang mendukung McCoogan.

"Saya percaya penuh dengan modal bisnis saya, dan bisa menjual kepada orang yang saya temui," ia melanjutkan.

Uniknya Massop malah meminjamkan uang $15.000 untuk modal. Uang tersebut merupakan iuran keluarga lain. Massop pun masih bekerja ketika usia McCoogan memenuhi syarat. Bisnis yang diberi nama UberGlobal.

Ayah McCoogan mampu melihat anaknya begitu memiliki visi. Bahkan dia setuju ketika suatu hari anaknya datang meminjam uang. Tepatnya, sang ayah membiarkannya memakai rumah senilai Rp.1,5 miliar untuk modal. Uang tersebut dipakai buat membeli perusahaan saingannya di bidang internet.

UberGlobal melakukan akuisisi pertama dilanjut perusahaan lain. Total omzet yang didapat mencapai $13,3 juta pada 2011. McCoogan semakin bersemangat dengan jumlah total klien 500 lebih. Upaya akuisisi ini terbukti menjur menambah kekuatan dan daya saing berbisnis ini.

UberGlobal menjadi perusahaan layanan internet dan webhosting terbesar di Australia. McCoogan membuka lapangan pekerjaan buat tiga sahabatnya. Diusia 18 tahun, dia telah memiliki rumah sendiri dan mobil bernilai Rp.2,5 miliar, dan membagikan saham 20% untuk keluarga dan sahabatnya.

Usianya masih 14 tahun ketika membuka usaha reseller webhosting Amerika. Dia membantu menjual dan membuatkan website untuk warga Australia, memakai layanan Amerika. McCoogan melakukan semua melalui kamar tidurnya pada 2002.

Usaha tersebut diberi nama McGooHQ dan dalam tiga tahun naik daun. Kemudian ia merubah nama menjadi AussieHQ. Usaha ini membesar karena diawal- awal sedikit sekali persaingan. Alhasil dia berhasil membuat layanan website terbesar bernama UberGlobal.

Hingga perusahaan bernama Melbourne IT menawar pembelian. Mereka membayar $15,5 juta untuk perusahaan, dengan memberi pendapatan sebelum pajak bagi pemegang saham. Total dikeluarkan dari pembelian tersebut $2,1 juta.

Melbourne IT memang tengah naik daun dibanding UberGlobal. Meskipun membeli nyatanya nilai UberGlobal cuma menghasilkan kecil. Usaha Melbourne sendiri mengalami lonjakan pendapatannya 14% dari 2014 senilai $124 juta.

Ini berarti bahwa McCoogan gagal menjadikan usahanya lebih besar. Nampaknya semakin terbuka internet membutuhkan lebih banyak kerja keras. "Kami hanya masyarakat menengah- kebawah, jadi ini cerita menarik untuk kisah sukses Australia miskin menjadi kaya," ujarnya.

Dia menangis ketika harus menjual perusahaanya itu. Usaha tersebut dilepas 2013, dimana melewati waktu yang panjang, bayangkan modalnya berbekal iuran keluarga. McCoogan berhasil mengangkat nilainya sampai lebih dari $20 juta.

Sayangnya, tidak mudah membesarkan perusahaan, bahkan McCoogan pernah lima kali bangkrut karena UberGlobal. "Semua pelajaran dari pengalaman merupakan paling bernilai untuk dibawa," ujar dia. McCoogan sendiri sekarang menjadi pimpinan perusahaan Crucial, sesama usaha hosting.

Lantunan Musik Bar Bisnis Tak Pernah Mati

Profil Pengusaha Edward Chia


bisnis bar musik

Mau tau bisnis apa tak pernah mati maka ini. Lantunan musik bar mengiringi pengusaha muda. Pria bernama Edward Chia, usianya baru 27 tahun, yang sudah menempati posisi strategis. Kebanggaan bagi pria seusianya memiliki karir dan bisnis sendiri.

Chia menempati posisi manajer direktur dan pendiri suatu perusahaan tercepat pertumbuhannya di Singapura. Bukannya terbang ke Boston University, dia memilih menetap tinggal di Singapura bukan berkuliah, kemudian menginvestasikan uangnya ke bisnis sendiri.

Ia, seorang pria ambisius yang menemukan bisnisnya di Singapura. Inilah bisnisnya Timbre Group, kelompok bisnis dimulai dari sebuah bar kecil bernama Timbre @ the Substation. Chia yang lulusan ilmu politik dan ekonomi di National University of Singapore, lebih memilih tak berkuliah kembali.

Bisnis Live Musik


Malah ia secara spontan menggunakan uang kuliahnya. Dia memilih mengerjakan bisnis musik bar bersama seorang teman, Danny Loong. Timbre Group memiliki misi sosial mengembangkan musik Singapura. Mereka membantu musisi lokal tampil dan menumbuhkan penggemar.

Edward Chia telah memulai bisnis musik sedari nol dari umur 23 tahun. Dia bersama patner bisnisnya, Danny Long, 39 tahun, kini telah sukses menjalankan 11 jenis bisnis. Bisnisnya meliputi bar, makanan dan minuman, dari cocktail bar sampai festival musik.

Dan, yang terakhir, ia mengerjakan bisnis pendidikan bernama music academy. Bisnisnya dimulai dari Timbre@the Substation, sebuah bar berkonsep live music, di umur masih 21 tahun. Dia kala itu masih berkuliah. Memulai bisnis bahkan ketika baru memulai kuliah pertama di universitas.

Chia, awalnya, kesulitan membagi waktu antara bisnis dan kuliah. Dia mengaku lebih ke kuliah sampingan (seperti hal kerja sampingan) daripada sangat serius kuliah penuh. Ia selalu melewati beberapa mata kuliah penting, kemudian mengejar pertemuan guna memenuhi absensi.

Hasilnya? Ia tidak terlalu mampu mengimbangi. Chia bahkan menyebut menyelesaikan kuliah sama seperti keajaiban. Bayangkan saja dia hanya mampu mendapatkan skor rata- ratanya dibawah 3 dari 5.

Akan tetapi, janjinya kepada kedua orang tua untuk tak berhenti membuatnya harus tetap berkuliah. Sejak itu pula, mereka, orang tuanya, sanggup menaruh harapan buta akan bisnis Timbre. Chia tak mau setengah- setengah selepas lulus kuliah.

Meski hati itu berkata akan memulai bisnis, nyatanya ia tak memilih jurusan bisnis. Ia justru memilih jurusan ilmu politik dan ekonomi, pilihan tersebut telah dipikir masak.

"Itu adalah hal yang sangat praktis, karena saya selalu merasa bahwa bisnis adalah sesuatu yang sangat nyata -anda harus belajar di jalanan dan melalui pengalaman praktis," katanya.

Apa diajarkan di sekolah bisnis hanyalah teori di matanya. Contoh mudahnya, dalam bisnis, semua hal bisa berubah sangat cepat; bisnis sekarang bisa jadi tidak sesuai besok. Prinsipnya bahwa bisnis selalu akan tumbuh karena mengikuti arah pasar bukan mengikuti jumlah lembaran buku.

Dia menambahkan bisnis masa depan mungkin belum terpikirkan hingga saatnya. Dan, kamu akan melihatnya dan bergumam tentang kenapa tak terpikirkan.

"Bagi saya, itu hanya mendapatkan dasar yang tepat. Banyak teori-teori bisnis ekonomi oleh alam, dan bagi saya yang terbaik untuk hanya menghabiskan waktu dengan bijaksana dan belajar sedikit dasar-dasar," katanya.

Berjuang dari nol


Memulai bisnis di usia muda memberikan berbagai rintangan dan tantangan. Utamanya Chia harus berdiri antara mengerjakan bisnis sambil berkuliah. Dia lalu menggunakan uang melanjutkan kuliah senilai $80.000 sebagai modal kembali.

Bukan tanpa masalah, uang tersebut bukanlah miliknya melainkan milik kedua orang tuanya. Dia harus membujuk keduanya agar mau memberikan uang tersebut. Syaratnya? Ia harus membayar $1.000 tiap bulannya dan tak boleh meminta uang apapun lagi.

Sebagai pengusaha muda, ia punya hasrat agar sukses itu cepat di tangan. Dia mulai mempekerjakan banyak pegawai lebih tua (lebih berpengalaman) darinya. "Cara saya menghadapi situasi seperti itu hanya dengan bersikap humble," dia berkata.

"Saya ikut berkerja langsung... saya melakukan segala sesuatu dari mencuci toilet, membersihkan kantor, menjalankan bar, dan kadang-kadang saya membantu di dapur juga."

Pengetahuan akan bisnis menjadi penting bagi bisnis baru. Chia selalu meluangkan waktu berdiskusi, bekerja, dan belajar dari mereka. Jika kita bersikap tulus hanya butuh waktu mereka mendekat bukanlah kebenaran, terangnya.

Melalu belajar praktik, membuat bisnisnya bisa tumbuh hingga sekarang memiliki ekosistem bisnis kuat. Di akademi buatannya, para musisi berlatih masuk ke berbagai lini usaha Timbre Group.

Mereka bisa saja masuk ke Timbre @ Old School, Timbre @ the Art House, atau Timbre @ the Substation. Mereka para "siswa" di Timbre Academy akan menunjukan kretifitas mereka di dalam bermusik.

Dan, bagi yang telah sukses akan mendapatkan jadwal mingguan. Chia bersemangat mengadakan festival musik setempat melalui Beerfest Asia dan Timbre Rock&Roots. Dia menjelaskan melalui Yahoo! Singapore bahwa bisnis ini tidaklah tentang uang.

Secara garis besar, Chia menyebut tentang menciptakan ekosistem musik di dalam tubuh Singapura. Inilah bisnis tak pernah mati. Chia menciptakan lantunan musik bar melalui berbagai nama.

Profil Timbre Group sini 

Website: Timbregroup.asia

Sukses Rumah Makan Seafood Paotere Pengusaha

Profil Pengusaha Tawakkal Sirat


rumah makan paotere
 
Ia sukses mendirikan rumah makan seafood Paotere di Makassar. Inilah kisah pengusaha bernama Tawakkal Sirat. Pria 47 tahun yang terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya penjual tas yang tinggal di Pasar Butung, Makassar.

Usianya masih lima tahun telah ditinggal ayahnya selama- lamanya di 1971. Alhasil dia harus jadi sosok pengganti menjadi tulang punggung keluarga. Peninggalan sang ayah adalah usaha jualan tas kecil- kecilan. Tawakkal menjalankan usaha tersebut karena tidak ada pilihan lain.

Ibu Tawakkal, Ugi Daeng Jenne, sepeninggal suaminya menjadi sibuk berusaha juga. Dari sekedar ibu rumah tangga kemudian menjadi juragan becak. Usaha becak ini dijalankan menghasilkan uang cukup. Ini bisa menjadi biaya hidup Tawakkal dan adiknya bernama Hasnah Sirat.

Usaha Warung


Walupun usaha ini berkembang sampai punya 40 buah becak. Tawakkal tidak berhenti usaha sejak masih kecil. Becak- becak tersebut disewakan ke orang lain. Tawakkal sendiri masih berjualan dan sesakali membantu saudara.

Sebenarnya ibu Tawakkal mempunya lima orang anak. Tiga saudara Tawakkal meninggal. Sosoknya menjadi lelaki tunggal bersama ibu dan adik perempuannya. Suatu hari, pamannya yang bernama Hj. Daeng Gessing merasa ingin membantu keluarga ini.

Pria 58 tahun ini menawarkan Tawakkal ikut dengannya. Rumah sang paman ini, tidak jauh, hanya di wilayah Ujungtanah, Kawasan Pesisir. Disana dia mengajak pria kelahiran Ujungpandang, 17 Maret 1965 ini, untuk mencoba berdagang khas warung makan.

Sembari Tawakkal tinggal nanti juga berjualan warung makan. Tempat makan kecil- kecilan kaki lima di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paotere, Makassar. Mulai dari saat itu, masih sekolah SMP, ia sudah meracik bumbu, memasak, dan melayani pesanan pada tahun 1980.

"Waktu itu, saya masih SMP, sekolah sambil kerja di warung. Sekarang, tidak ada lagi anak-anak  mau begitu, gengsi-mi," kenang sang pengusaha.

Jaman memang berubah, dulu dia masih bisa sekolah di SMP Negeri 7 Makassar, dan sembari jualan warung makan. Anak jaman sekarang mana mau memulai dari nol seperti itu. Tawakkal bekerja bila sudah pulang sekolah.

Tidak susah kok, yang terpenting dia bisa membagi waktu, apalagi sekolahnya di Jalan Cakalang yang tak jauh dari usahanya di Jalan Sabutung. Satamat SMP, Tawakkal masih mau bersekolah dari SMA sampai kuliah, sembari membantu pamannya juga menghasilkan bisnis sampingan.

Dia punya sawah lima petak di kampungnya, Labakkang, Pangkep, dan hasil panennya bisa dipakai menambah kuliah. Ia memang sosok pekerja keras. Dia kuliah Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen di LPI Makassar. Tawakkal mengambil jurusan perbankan dan keuangan.

Habis kuliah dia akan berjualan aneka hidangan laut. Tidak malu dia melayani selepas selesai pulang kuliah. Konsep bisnis pamannya ini unik karena tidak menyiapkan lauk. Cuma menjajakan nasi putih, sayur, dan lalapan. Pembeli yang bawa ikan, cumi segar, atau udang buat dimasakan.

Tawakkal kebagian membakarkan buat disantap di warungnya. Itu dulu model pelayanannya karena memang dekat tempat ikan. Yang makan nelayan sehabis pulang dari pelelangan atau melaut. Tubuh mereka bau ikan, kakinya berlumpur, tidak pakai sandal dan menenteng ikan dari pelelangan.

Mereka mungkin kelelahan selepas bekerja dari pagi sampai siang. Pembeli nampak lahap walau cuma makan ikan bakar. Dua belas tahun, Tawakkal menjalankan usaha pamannya, banyak sudah ilmu dia dapatkan.

Dia sudah paham mengenai makanan laut terutama seafood. Tawakkal pun mencoba ambil alih usaha milik pamannya. Dibawanya warung makan itu sedikit labih jauh dari tempat semula. Disulapnya itu menjadi rumah makan.

Sukses rumah makan seafood Paoetere berkat kemampuan adaptasi. Dari kaki lima disulap menjadi rumah makan ruko. Pertama- tama ia menyewa ruko sebelum dibeli nanti. Uangnya belum cukup tetapi dia sudah meyakini rumah makannya sukses.

Ternyata benar dia berhasil membawa warung tersebut lebih maju. Tempatnya bersih dan tidak lagi dipenuhi lalat. Rumah makan bernama Paotere, dulunya tanpa nama, berdiri pada 1992 dengan target pemasaran berubah.

Dulu dia melayani warga nelayan sekarang semua orang bahkan bermobil. Tawakkal memang sudah jago memasak seafood. Bahkan pelangganya ada M. Jusuf Kalla, adalah mantan Wakil Presiden dan sekaligus pengusaha pemilik Kalla Group.

Bapak Aksa Mahmud juga gemar makan di rumah makan seafood Paotere. Dia merupakan salah satu orang terkaya Indonesia dan pemilik Bosowa Berlian Motor, diler mobil Mitsubishi. Bapak Kalla dan Aksa tidak sekedar makan tetapi mengajari Tawakkal berbisnis.

Ini berkat kedekatan mereka menjadi sukses begini. Sehabis makan baik Kalla atau Aksa akan ajak Tawakkal mengobrol soal usaha. Pak Aksa tidak memberikan material tetapi cara mendapatkan itu. Dia memaksa Tawakkal agar membeli ruko tersebut, bukan menyewa.

Alhamdulillah, pada 1997, Tawakkal mampu membeli rukonya denga jerih payah sendiri. "Setiap ketemu (Aksa), saya dipaksa membeli ruko ini," kenang Tawakkal.

Kesuksesan Tawakkal juga berkat ketidak lupaan akan asal usul. Anak ketiga dari lima bersaudara, yang meminta pamannya pulang ke Labakkang. Ia meminta pamannya pensiun. Diusia segitu, dia merasa sedih, dan tak tega melihat pamannya melayani di warung dan lebih baik dia nafkahi.

Berkat restu pamannya, usaha miliknya kini mampu tumbuh sangat besar. Bahkan makin populer dan banyak dikunjungi orang. Pada 2011, ada manajemen Grand Hotel and Convention Center, yang mengajaknya membuka restoran bernama sama di Jalan Andi Pangerang Petta Rani.

Peyek Kacang Tumpuk Rahasia Sukses Pengusaha Kelik

 Profil Pengusaha Arifdiarto Ambar Wirawan


pengusaha peyek kacang

Meskipun pengusaha Kelik hanya lulusan sekolah menengah atas, bukan berarti tidak bisa mencapai kesuksesan. Ia, bernama asli Arifdiarto Ambar Wirawan (35 tahun), memulai usaha pertamanya yaitu bikin geplak dan peyek tumpuk.

Bisnis pertama langsung menanjak naik. Pria yang disapa Kelik ini telah bergelut bersama bisnisnya selama 10 tahun lebih, atau sejak setelah lulus SMA. Jadi tak ayal kalau kini ia bisa disebut pengusaha sukses. Kalau diukur materi, berapa sih omzetnya?

Ternyata ia menghasilkan omzet cukup besar dari bisnis khas ini. Ia menyebut angka kisaran 10 juta bisa ditangan tiap bulannya. Wah, menakjubkan ia cuma bermodal bisnis remeh peyek kacang; Kelik malah bisa menjadi jutawan.

Usaha Kecil Menengah


Usaha kecil menengah atau UKM yang bermargin untung 30%. Berarti dia mengantongi pendapatan bersih Rp.18 juta per- bulan. Nilai ini luar biasa bagi pengusaha kelas kecil- menengah apalagi asal Kabupaten Bantul, Yogyakarta, ini.

Meski sukses itu telah terlihat ia belum merasa puas hati. Kelik bercita- cita membuka gerai baru di kota lain kedepannya. Ia sendiri telah membuka usaha geplak dan peyek tumpuk sejak lama. Dia dibantu sang istri, Sri Kasih (32), membuka gerai pertamanya di JL. Wahid Hasyim, Bantul.

Gerai berukuran 5x8 meter pertama dibuat berdempet tempat tinggal sekaligus tempat produksinya. Dulu pertama kali, gerainya masih menggunakan alas dinding bambu, kini gerainya telah menjadi bangunan permanen.

Kelik membutuhkan sekitar 2,5 kuintal gula pasir buat membuat geplak. Untuk produk peyek tumpuk, ia butuh sekitar 50kg kacang dan juga 25kg tepung terigu. Dia mempekerjakan 20 karyawan di pabrik kecilnya membantunya berprodusi.

Apa istimewa geplak buatan Kelik?

Menurut dia, rahasia bisnisnya tetap berjalan ada pada kualitas bahan. Dia selalu menggunakan gula asli sehingga rasa khas itu tak tercampur. Tak heran jika geplaknya bisa dijual seharga Rp.16.000 per- kilo gram tapi begitu lari di pasaran.

"Kalau bentuknya hampir sama produk orang lain, tetapi segi rasa, konsumen bisa membedakannya," jelasnya.

Proses pembuatan geplak diperlukan kelapa, gula, dan aroma sesuai selera. Proses pembuatan geplak milik Kelik diawali pemarutan kelapa lalu santannya ditempatkan di kuali. Kemudain ia campur gula kemudian diaduk.

Setelah dinaikkan ke tungku selama 4 jam, lalu diturunkan dan diberi aroma, olahan itu kemudian dibentuk lantas diangin- anginkan sekitar 10 menit. Produk teristimewa itu ialah peyek tumpuk. Peyek yang dibuatnya secara menumpuk persis seperti namanya.

Peyek ini ditumpuk sehingga membentuk sebuah rangkaian peyek. Berbeda dengan peyek pipih biasa yang digoreng satu kali, peyek ini digoreng selema tiga kali. Produk yang satu ini memanglah lebih banyak bahan dan lama proses pembuatannya.

Pertama- tama, penggorengan pertama disiapakan untuk membuat susunan peyek. Setelah terbentuk rapi barulah peyek dipindahkan ke penggorengan kedua. Pada penggorengan pertama, nyala api harus kuat agar efek panasnya tinggi.

Tujuannya supaya kacangnya bisa lekas matang. Di penggorengan kedua, nyala api justru lebih kecil karena tujuannya supaya peyek secara keseluruhan bisa matang rata. "Kalau apinya terlalu besar, bisa gosong," ujar bapak tiga anak ini.

Sebelum masuk penggorengan terakhir, peyek- peyek tersebut harus diangin- anginkan terlebih dahulu. Kelik berujar bahwa proses penganginan agar membuat peyek tersebut benar- benar renyah dan gurih.

Peyek- peyek tersebut kemudian dijualnya seharga Rp 32.000 per kilogram. Untuk proses pengapian, ia memanfaatkan tempurung kelapa. "Untuk membuat peyek dan geplak, dalam sehari saya butuh sekitar 750 butir kelapa.

Kalau tempurungnya tidak saya manfaatkan kan sayang. Hitung- hitung, ongkos produksi bisa ditekan, apalagi harga gas dan minyak tanah sudah sangat mahal," katanya. Ide pembuatan peyek tersebut ternyata bukanlah asal- asalan.

Peyek dibuatnya bertumpuk tersebut merupakan resep keluarga sang mertua sendiri, yang bernama Mbok Tumpuk (penggilan). Kelik sebagai menantu sukses membuat usaha sang mertua berkembang tanpa merubah namanya.

Meski unik, bisnis produk olahan tergolong susah, terutama karena produk itu belumlah dikenal masyarakat. Hasil penjualan pertama begitu kecil untungnya. Namun, Kelik tetap tak patah arah sebagai seorang pengusaha beneran.

"Bagi saya, usaha butuh konsistensi. Meski awalnya tidak laku, saya harus terus berproduksi. Saya tidak boleh menyerah. Konsistensi juga faktor utama untuk menumbuhkan kepercayaan pelanggan," paparnya. Selain konsistensi, lanjut Kelik, faktor kejujuran memegang peranan penting dalam bisnis.

Kepada pembeli, ia selalu menginformasikan soal masa kedaluwarsa produknya. Kalau waktunya tinggal sedikit, ia menyarankan agar pembeli tidak mengambilnya, apalagi jika peyek atau geplaknya tersebut akan dibawa ke luar kota.

Inilah keseriusan seorang pengusaha yang telah puluhan tahun berpraktik langsung. Kelik hanya akan menjual geplak dan peyeknya di gerainya sendiri.

Dia sengaja tidak menitipkannya ke toko-toko lain meski banyak permintaan. Ia khawatir bila dititipkan, harga dan kualitas tidak bisa terkontrol. Dia bersikeras fokus membuka gerai- gerainya sendiri.

"Bisa saja di toko lain produk kami dijual sangat mahal. Mereka juga bisa saja menjual produk kedaluwarsa. Kalau sudah begitu, citra kami pasti hancur," katanya.

Kelik sangat berharap bisa membuka gerai sendiri di kota- kota besar. Dengan pengendalian sendiri, ia yakin usahanya bisa maju karena semuanya lebih terkontrol dan terjaga. Sampai sekarang saja, Kelik bersama istri masih terlibat langsung dalam proses peracikan bumbu.

Keduanya ingin terlibat langsung dalam bisnis kecil keluarga tersebut. Peyek kacang tumpuk adalah rahasia sukses pengusaha Kelik.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba