Resep Egg Roll Sasha Kerja Sama Wirausaha Suami Istri

Profil Pengusaha Sukses: Muhammad Luthfi


sukses egg roll sasha

Apa resep egg roll Sasha hingga sukses sekarang. Ini berkah kerja sama wirausaha suami istri. Kisah dimulai ketika sang suami masih berkuliah di IAIN Sunan Kalijaga. Namanya perantauan terkadang mengalami kesulitan biaya kuliah.

Terlahir dari keluarga sederhana uang terlambat dikirim sudah terbiasa. Muhammad Luthfi Yuniarto (36) harus terus memutar otak bagaimana kantunnya tetap terisi. Yakni melalui dia mencoba memulai usaha sendiri.

Pertama kali, ia berbisnis dibidang kerajinan mengingat modal cekak dan prospek cukp bagus. Dari bisnisnya tahun 1996 itu, Luthfi cukup sukses melalui bisnis kerajinan bubut kayu ini. Luthfi telah berhasil menembus pasar supermarket.

Nasib Pengusaha


Namun, hingga tahun 1998 terjadilah kerusuhan di Solo, beberapa supermarket di Solo dibakar massa ketika terjadi reformasi. Nasib pengusaha memang tidak menentu terutama dikala krisis moneter ini.

"Kerugiannya lumayan besar, karena hampir semua produk saya konsentrasikan di Solo," jelasnya.

Ia tidak mau menyerah, karena kini hidupnya kala itu tidak lagi sendiri alias beristri. Suami dari Almuna Fasah Asyarifah (Ifah) ini lantas mencoba bangkit kembali. Luthfi lantas memilih berbisnis barang kerajinan lagi.

Apa yang dibuatnya? Ia membuat kain ATM dipadu batik. Konsumen banyak tertarik dengan produk satu ini. Jadilah bisnisnya kembali menggeliat setelah sempat diterpa badai di rumahnya Bedukan Pleret, Bantul.

Sayang, lagi- lagi nasib berkata lain, semangat kewirausahaan miliknya kembali diuji ketika gempa Bantul di Mei 2008. Bisnisnya yang sedang tumbuh hancur berantakan total. Aset dan alat- alat produksinya hancur lebur, tidak bisa digunakan memproduksi lagi.

Apapun yang terjadi di hidupnya, ia tetap tau pasti bagaimana cara menjalankan roda perekonomian keluarga. Luthfi kembali berbisnis (lagi), tapi terlebih dahulu dengan cara mengamati pasar untuk mencari bisnis lain.

Selama itu idenya tentang bagaimana berbisnis berubah. Dia sadar tak lagi masuk ke bisnis kerajinan, namun  bisnis kuliner tampak lebih mudah. Tangan dinginya makin teruji ketika membuka bisnis kue dan brownis bersama istrinya.

Luthfi mampu membangun bisnisnya yang dimulai sejak gempa. Terus tumbuh sampai 2009, ia telah menerima ratusan pesanan kue atau brownis.

"Istri saya paling rajin mengumpulkan resep. Mungkin ada ribuan resep makanan yang disimpannya. Nah, untuk memulai usaha kuliner kita buka semua resep itu. Dan kita temukan beberapa yang bisa dicobakan. Jadilah kita bermain di roti basah untuk harian dan roti kering ketika menjelang Idul Fitri," ungkapnya ditemani sang istri.

Ia beruntung memiliki istri setia. Ifah begitu telaten membantu bisnis sang suami dalam bisnisnya. Dia juga ikut membantu membuat kue- kue kering saat lebaran tiba. Dan di tahun 2010, Idul Fitri pertmaa kemudian menjadi cerita tersendiri, ini berkat keduanya berpikir keras membuat inovasi.

Inovasi dirasa mereka sangat penting guna meningkatkan pendapatan serta kualitas produk. Mereka tertarik pada moment Idul Fitri, dimana bisnis kue menjadi begitu laris. Ifah memang dikenal pandai memesak kue ikut menemukan bisnis kuliner ini.

Kerja sama wirausaha suami dan istri. Sang istri lah yang menemukan resep Egg Roll Sasha, produk kue yang biasa dibuat olehnya. Namun Fitri menambahkan hal berbeda yakni bahan ubi ungu. Egg roll jika biasanya hanya berupa tepung terigu atau beras ketan, kemudian dicampu telur tentunya.

Kini, Fitri membuat egg roll berbahan tambahan ubi ungu. Produk tersebut kemudian dikemasnya menjadi ciri khas olahan kuliner. Tidak mudah, hari pertama dulu, dia berusaha sangat keras untuk mencampur adonan yang diharapkan. Hari pertama dia hanya berbuah kegagal.

Gagal percobaan hari pertama, ia membuatnya lagi di hari kedua dan mulai terasa enak. Tapi hasilnya masih belum sesuai keinginannya. Ifah kembali mengolah si egg roll hingga tujuh hari berturut- turut. Dan, dia masih belum menemukan rasa apapun dirasa tepat.

Hingga di hari kedelapan, dia menemukan rasanya ketika telah mencoba berbagai adonan. Komposisi inilah kemudian menjadi resep utama produknya kini. Pada awalnya, produk egg roll tersebut diberi nama Sasha dijual dibungkus plastik.

Kuenya lantas perlu mendapatkan perhatian lebih karena bungkus bisa menjadi aspek marketing bagus. Luthfi dan Ifah langsung memanggil desainer untuk membuat kemasan. Hasilnya muncul dua variasi kemasan yaitu kemasan besar dan kecil.

Dua kemasan itu ternyata adalah strategi khusus yang disiapkan oleh si empunya produk. Mereka menjual kemasan kecil ke toko- toko agar pengunjung bisa mencoba lebih dahulu. Sedangkan yang besar akan dibeli oleh mereka jikalau sudah langganan dan membeli untuk dijadikan oleh- oleh.

Soal jalur distribusi dipikirkan baik- baik olehnya, namun keduanya belum memakai jasa siapapun. Mereka hanya memberdayakan teman- teman dekat dan kenalannya sebagai distributor ke berbagai toko roti di sekitar Yogya.

Egg Roll Sasha kemudian dibuat khusus menjadi kue oleh- oleh. Ini bisa berarti jika ke Yogya tidak akan lengkap tanpa produk khas Yogya, Egg Roll Sasha. Selain rasanya memang berbeda, nilai gizi produk ini menjadi nilai tambah sekaligus aspek promosi bagi keduanya.

Luthfi memang dikenal bertangan dingin mampu menjadikan karya sang istri menjadi olahan nomor satu. Keduanya bekerja sama membangun bisnis Egg Roll Sasha dari nol, dimana dibuat dengan cara sederhana.

Organisasi Sosial Sediakan Air Bersih di Sumba

Profil Pengusaha Priska Ponggawa


priska ponggawa
 
Wirausaha tidak semata mengenai ambil untung. Organisasi sosial ini sediakan air bersih di Sumba. Sosok dibaliknya wanita bernama Priska Ponggawa. Dia mengajak tiga temannya bergabung, Thanya Ponggawa, Cindy Angelina, dan Eunice Salim.

Mereka mendirikan Water House Project demi akses air. Priska ingin membuka akses air di berbagai wilayah Indonesia. Akses air di Sumba buruk, walau telah menjadi obyek wisata menarik bagi orang manca negara. Banyak dicintai traveler lokal maupun internasional karena kecantikan alam.

Tapi faktanya, ibu dan anak- anaknya harus menempuh waktu empat jam untuk mengambil air bersih. Water House Project bersifat organisasi non- profit dan menggalang dana. Ditemui di dalam acara Wardah Inspiring Movement, Priska telah mendistibusikan sumber air bersih ini.

Dia mengajak teman- temannya hingga siapapun bergabung. Mereka telah menggali sumber air di dua wilayah, yakni Desa Napu dan Pambuatanjara, Sumba Timur. "Sebuah data riset menyebutkan dua dari tiga orang Indonesia itu kekurangan air," ia menjelaskan.

Walau mereka baru memulai dan tergolong kecil membantu mereka. Setidaknya dari masyarakat di Indonesia Timur ini, Priska dan teman- teman telah menolong Indonesia secara keseluruhan. Nampak kecil namun secara statistik menurunkan ketidak mampuan ini.

Bisa dibayangkan gak sih, satu dari tiga orang itu masih kekurangan air bersih, sementara kita masih buang- buang air. Di tahun 2017, Water House Project memulai program pertama menggali sumber air di Napu. Mereka tidak sendirian mengajak pula selebriti nasional Dian Sastrowardoyo.

Ia bersama yayasan milik Dian Sastro membantu 500 warga. Hanya satu sumber air sudah mampu membantu segitu banyak. Bolak- balik selama 4 jam tidak lagi dirasakan karena sumber air dekat. Ia juga bekerja sama dengan United Nations Development Progamme (UNDP).

Mereka berhasil menggali sumber air di daerah Pembuatanjara, dimana mereka bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk Wardah. Kondisi alam berbeda- beda menjadi tantangan menggali sumber air. Tiap titik air pun memiliki tantangan berbeda tidak bisa satu cara menggali.

Mereka tidak mau bila sumber air dibangun nanti rusak. Warga diajarkan bertanggung jawab atas air mereka. Beberapa warga malah menolak mending memilih uang. Priska dan kawan- kawan harus tegas air harus dihargai lebih dan sumbernya harus dijaga.

Priska menjelaskan kerumitan soal bebatuan dan sumber air cukup rumit. Pendidikannya sendiri tidak jurusan geologi, melainkan jurusan matermatika di University of California.

Jualan Cookies Lucu Tiru Entrepreneur Muda ini

Profil Pengusaha Stephanie Chan


tiru entrepreneur muda
 
Menjadi entrepreneur muda tidak melulu harus lepas pekerjaan. Kegalauan Stephanie Chan terlewati berkat jualan cookies lucu. Bila kamu bingung mau buka usaha apa. Tirulah Stephanie yang tinggal melakukan hobi sehari- hari selepas bekerja.

Gadis ini tidak buru- buru resign. Bisnis dijalankan berdampingan dengan pekerjaan utama. Bertahap dia mulai memahami pasar ingin dicapainya. Dia jualan cookies lucu dibanding umumnya. Stephanie menawarkan kue- kue imut dan lucu menggemaskan.

Awal Mula Berbisnis


Dikisahkan Stephanie merupakan konsultan keuangan di Melbourne, Australia. Jujur dia mengakui adalah "pembuat kue yang buruk". "Aku pembuat kue yang buruk. Sebelum ini, aku tidak punya pengalaman membuat kue dan masih jelek memanggang kue kecuali cookies!" tuturnya.

Keunikan cookies buatanya cocok dipasangkan feed Instagram. Ia menamainya Sugar Rush by Steph dan punya akun Instagram khusus. Berkat itulah orang mulai berdatangan dan memesan. Semua itu berkat tampilan menarik feed Instagram milik bisnisnya.

"Aku tidak ingin membuat kue yang sudah mainstream tapi mencoba sesuatu yang berbeda, terutama cookies," jelas Stephanie.

Dia berjalan dengan menjual kecil- kecilan. Seperti dilansir dari Daily Mail, masih bekerja ketika memulai semua sembari belajar. Stephanie mulai menemukan pasar cookies dekoratif. Bentuk kue yang unik, kekinian, misalnya berbentuk unicorn, emoticon, dan alpukat.

Warnanya "ngejreng" sangat cerah ketika dipasang di sosial media. Baginya kunci sukses itu adalah Instagram dan Facebook. Walapun begitu, suara dari mulut ke mulut sangat berpengaruh. Maka dia selalu mengembangkan kualitas rasa cookiesnya.

Beruntung dia memiliki teman- teman yang hebat. Masih bekerja, Stephanie iseng menawarkan ini ke kliennya, ternyata dia memesan sampai 2.500 cookies buat proyeknya. Kini, dia menjual cookiesnya ke kafe- kafe, adapula 7 toko ditambah beberapa pesanan dari perusahaan- perusahaan.

Dia pun resign setelah mendapatkan banyak pesanan. Buat kamu yang mau berbisnis cookies baik mengikuti tips Stephanie ini. Pertama kualitas bahan baku cookies merupakan hal utama. Kedua, ia menyarankan jangan buru- buru berinovasi tetapi lakukan sesuai resep asli.

Stephanie pun mengingatkan jangan mengambil jalur singkat. Bertahan nikmatilah kegagalan dan bangkit kembali. Mulailah berjalan dengan keras sampai mencapai tujuan kamu. Tapi ia memberi peringatan kalkulasikan semua, lakukan riset pasar, dan memahami pasar.

Stephanie ingin kamu bersemangat usaha. Entrepreneurs harus menekuni dan mencintai apa yang dilakukan. Taruhlah semua jiwamu itu dalam usaha kamu. Lantas kamu buat semua terorganisir dan buat struktur pendukungnya.

"Percayalah pada dirimu sendiri bahwa semuanya bisa terjadi jika kamu menaruh hati dan jiwamu di situ," Stephanie menyarankan.

Klien utamanya kebanyakan kafe- kafe tempat nongkrong orang. Dulu dia bekerja full time menjadi pegawai akuntan penuh, dan membuat cookies bisnis selingan selepas bekerja. Hanya saja, penjualan cookiesnya terus naik, alhasil dia memilih untuk melepaskan pekerjaan atau resign.

Nah sekarang cookies buatan Stephanie semakin menarik. Mengapa dia memilih menjadi entrepreneur

Pengusaha Down Syndrome Buktikan Sukses

Profil Pengusaha John Cronin


bisnis kaos kaki

John Cronin telah membuktikan dua hal kepada kita: Pertama, pengusaha down syndrome tidak akan masalah. Kedua adalah kreatifitas tanpa batas merupakan kunci sukses kita. John mampu merubah fenomena Presiden Donald Trump menjadi peluang bisnis.

Pria 21 tahun yang menderita down syndrome asal Long Island, Amerika. Meskipun dia cuma lulus SMA dan berkebutuhan khusus, senyumnya memancarkan percaya diri untuk berjualan. Semua itu berkat dukungan keluarga yang tidak membatasi John.

Mencintai Entrepreneurship


Ia menyenangi dunia entrepreneurship berkat sang ayah. Mimpinya membuka usaha bersama sang ayah walau kecil- kecilan. Mau membuat usaha kuliner tetapi tidak bisa masak. Maka John memilih berjualan kaos kaki karena dia suka.

"Aku suka kaus kaki karena itu menyenangkan, banyak warna dan membuat kaki hangat," tutur dia.

John mencintai kaus kaki kemudian membuat desain sendiri. Produk ditawarkan John's Crazy Sock yang unik. Desain unik ditambah warna- warni dipadu padankan. Yang sempat viral adalah kaos kaki bergambar Donald Trump dengan bulu warna kuning seperti rambutnya.

Dia juga membuat unicorn, semangka, pahlawan super, dan motifnya cenderung absurd. Kaos kaki yang unik dengan sentuhan personal John Cronin. "Setiap paket ada catatan terima kasih dari ku," ia menjelaskan.

Ayah John, Mark Cronin, menyatakan bahwa sangat bangga akan putranya. Mengerjakan bisnis ini bersama memiliki kesan mendalan. Pada November 2016, mereka beruda membuka usaha ini dan tanggapannya sangat mengejutkan, maka dalam dua bulan mampu menjual 1000 pasang.

Penjualan mereka begitu fenomenal bahkan sampai kehabisan. Hasilnya John mengajak brand lokal ikut bergabung memenuhi stok pesanan. Nah sekarang ini, produk John's Crazy Sock ini memiliki banyak pabrik tersebar diseluruh dunia, dan beberapanya merupakan desain asli John.

Perusahaan ini mengirim lebih dari 42 ribu pesanan dan hasilkan $1,7 juta atau Rp.23 miliar. Tidak cuma mencari keuntungan tetapi terdapat tujuan lain. John mendonasikan 5% dari penjualan untuk jalannya Special Olympics, yakni ajang lomba dunia untuk para kebetuhan khusus.

Pengusaha down syndrome ini juga berdonasi ke The National Down Syndrome Society, atau The Association For Children With Down Syndrome, hingga badan riset kangker.

Susah Dapat Kerjaan Peluang Usaha Kaca Gravir

Profil Pengusaha Doni Alferi


sukses usaha kaca gravir

Susah dapat kerjaan pernah dirasakan pengusaha satu ini. Akan tetapi bukannya tetap mencari, Doni Alferi, membuka peluang usaha kaca gravir di Padang. Dia lebih memilih berhenti berharap kepada dunia kerja.

Tahun 1998, Doni menyelesaikan kuliah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Perbankan Padang. Dia  sebagaimana kebanyakan sarjana baru, Doni pun ikut mencoba mencari pekerjaan. Puluhan surat lamaran disebarkan ke sejumlah perusahaan baik nasional maupun lokal; harapannya satu diterima.

Ia sangat berharap segara mendapatkan pekerjaan secepatnya setelah selesai kuliah. Dorongannya, ia sangat merasakan rasa ingin membalas budi, terutama kepada orang tua yang telah menguliahkan. Ia merasakan hidup menganggur itu tidaklah menyenangkan.

Enam bulan ia belum mendapatkan panggilan kerja, ia mulai merasa tidak tenang. Memasuki bulan kedelapan belum mendapatkan pekerjaan sesuai harapan. Hati pria kelahiran 1973 itupun gelisah tapi dia tutupi.

"Tapi saya masih nyantai saat itu," terangnya.

Menjad Pengusaha


Setelah setahun lewat dia belum juga mendapatkan pekerjaan. Ini mulai mengusik batinnya dan membuat tidak tenang. Ia yang menyadang gelar sarjana namun belum bekerja menjadi beban. Rasa frustasi itu mulai menghinggapinya walau coba dialihkan..

"Teman- teman seangkatan banyak yang sudah mendapatkan pekerjaan, tapi kok saya belum. Tak mau hanya tinggal diam, ia memutuskan memasang target pribadi.

Kalau sampai tahun 2000 belum juga mendapatkan pekerjaan, dia akan menjadi wiraswasta saja atau menjadi pengusaha. Meski telah mengambil keputusan itu, Doni belum menemukan arah usahanya mau apa. Dia belum menentukan bisnis macam apa akan dikerjakannya.

Janji pada diri sendiri harus ditepati menjadi kekuatan tersendiri. "Karena saya sudah membulatkan tekat tahun 2000 sebagai tahun perubahan nasib, begitu saya belum mendapatkan pekerjaan juga di tahun tersebut, saya benar- benar memutuskan menjadi wiraswasta," terangnya.

Maka dimulailah perjalanan anak muda asal Padang gagal menjadi pegawai. Pada tahun 2000, Doni telah mengontrak sebuah bangunan di Jl. Hamka, Padang. Ia hanya bermodal tekat ditambah keyakinan menjadi pengusaha sukses. Di tempat itu pulalah ide bisnis bisnis muncul dibenak Doni.

Dia mendapatkan ide bagaimana jika berbisnis kaca gravir. Pertimbangannya mudah bahwa di Padang belum ada orang berani menggarap bisnis kaca hias mahal ini. Ia pun segera mencari sumber tentang bisnis ini dari berbagai sumber.

Nekat, Doni lantas berangkat ke Jakarta buat magang di sebuah pabrik kaca gravir. Magang menjadi salah satu cara ditempuh Doni agar mengetahui seluk beluk bisnis. Menurutnya menaklukan kota Jakarta akan mengasah kemampuan serta mentalnya.

Ia juga perlu tau seluk beluk distribusi kaca gravir lalu dibawanya ke Padang nanti. Benarlah bisnis kaca gravir memang sudah kuat di ibu kota, dan telah berkembang sangat pesat. Doni megang di perusahaan milik orang dikenalnya.

Selama menimba ilmu bisnis gravir tersebut ia tidak peduli jika dibayar atau tidak. Yang terpenting bagi Doni, ialah sebuah kesempatan menimba ilmu gratis. Merasa bekal itu telah cukup maka kembalilah Doni ke Padang. Dia lalu memberanikan diri membuka Kinabalu Glass.

Ini menjadi perwujudan tujuannya menjadi seorang  pengusaha. Di awal bisnisnya Doni mengaku semuanya serba terbatas. Termasuk soal modalnya untuk produksi, juga terbatas, pengalaman belum seberapa, termasuk soal alat produksinya.

Momotong kaca hingga menyemprot cat masih dilakukannya manual. Tetap pada pendiriannya. Soal pasokan bahan baku untunglah bukan menjadi soal. Bahan baku utama yaitu kaca patri di dapatnya dari seorang kenalan di Jakarta.

"Kalau bahan lainnya, seperti kaca limbah, stainless steel, dan timah bisa diperoleh di Padang," terangnya.

Bekerja Keras


Karena bisnisnya tergolong baru di Padang, Kinabalu Glass, belumlah banyak dikenal maka butuh bekerja keras. Doni turun tangan sendiri menjajakan produknya. Ia tak segan mencari satu persatu mencoba meyakinkan masyarakat sekitar.

Pesanan itu pun belum begitu banyak tetapi lumayan. Doni mengatakan waktu itu menjadi ujian berat baginya karena pengeluran. "Kontrakan tetap harus dibayar, sementara pesanan belum banyak. Hanya tekad dan semangat yang membuat saya tetap bertahan," kenang Doni.

Seiring waktu usaha Kinabalu Glass mulai dikenal masyarakat luas di Padang. Melalui penetrasi agresif serta produk -produk cantik dan apik terpajang di etalase ruko kontrakan. Bisnis Kinabalu Glass telah sukses mendapatkan apresiasi masyarakat.

Mereka merespon positif atas pelayanan selama ini. Usaha kecil itu pun tumbuh semakin besar terlihat dari pesanan setiap bulannya. Omzet bisnisnya pun naik seiring dengan kepopuleran merek dagang. Doni kini mampu mengantongi omzet hingga Rp.100 juta per- bulan.

Umumnya permintaan itu datang dari mereka di perhotelan atau perumahan. Tidak cuma datang dari Padang, produknya telah dicari mereka dari Sumatra Barat, Jambi, Pekanbaru, dan Bengkulu. Doni telah sukses berkat tekat kuat ditambah keyakinan.

Kinabalu Glass telah memiliki sebuah bengkel serta dua ruang khusus pameran. Ia mempekerjakan 16 orang sementara produksinya telah mencapai 20 meter persegi. Sebagai usaha kecil, angka tersebut bisa tergolong besar dalam jumlah produksinya.

Demi memuaskan konsumennya, Doni selalu membuat disain anyar sesuai pesanan pembeli. Produknya pun tidak hanya terbatas pada kaca jendela dan pintu, tapi juga kaca perabot rumah tangga lainnya, seperti meja dan lampu hias.

Karena disain produknya dibuat sesuai pesanan, maka harga jual yang dipasang pun bisa bervariatif. Angkanya bisa mencapai antara Rp 1,5 juta hingga Rp 6,5 juta per meter persegi.

"Tergantung pada tingkat kerumitannya," kata Doni.

Dari harga setiap meter kaca yang diproduksi, Doni mengaku bisa memetik keuntungan berkisar 25% hingga 40%. Maka, wajar jika dalam enam tahun pertama usaha berjalan, lelaki ini sudah mampu membeli sebuah rumah dan mobil sendiri.

Ke depanya, pengusaha muda ini berharap bisa membangun pabrik peleburan limbah- limbah kaca, yang nantinya bisa dipakai membuat aneka kerajinan kaca gravir. Kalau rencana ini terealisasi, maka ketergantungan akan pasokan kaca dari kota Jakarta bisa dilepaskan.

Dia pun tidak perlu menambah ongkos kirim ataupun biaya produksi. Susah dapat kerjaan ternyata memberikan rejeki berlipat ganda.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba