Mau Bisnis Coklat Tetapi Alergi Kisah Denu Cokelat

Profil Pengusaha Amelia Herlinda Devita


pemilik denu cokelat
 
Wirausaha tidak harus idealis mengikuti aturan baku. Mau bisnis cokelat tetapi alergi bukan berarti tak bisa. Bisnis mu nanti akan tumbuh besar, dan itu semua tak harus kamu kerjakan sendiri. Kisah Nugraha Sugiarta dan Amelia Herlinda Devita, sepasang suami istri yang saling melengkapi.

Jujur Nugraha tidak terlalu menyukai makan cokelat. Sementara istrinya, Devita sangat suka makan cokelat, tetapi masalahnya dia memiliki alergi. Kisahnya Devita kecil suka membeli jajanan cokelat, tetapi suatu ketika tangannya gatal dan timbul ruam merah.

Kata Dokter dirinya menderita alergi terhadapa makanan itu. Kaget karena Devita kecil sangat suka makan cokelat. Devita akan menghabiskan semua uang jajan demi coklat. Dia bahkan gemar sekali membagikan ini ke orang- orang.

Kesukaan membagikan cokelat ke orang tersebut berlanjut. Devita pun ingin membuka usaha cokelat. Tetapi bagaimana caranya tidaklah mudah diaplikasikan. Ketika Devita menikah, maka mulailah ide berbisnis ini kembali lagi. Dia lalu mengajak sang suami untuk bersama berbisnis coklat sendiri.

Memulai Bisnis Sendiri


Mau bisnis coklat tetapi alergi, maka Devita meminta bantuan kepada sang suami berbisnis. Nugraha mengiyakan jadi selepas pernikahan, keduanya mulai berjualan coklat. Pertama kali mereka berdua cuma berjualan coklat- coklat Praline.

Usaha ini dibilang memiliki market luas karena tidak musiman. Coklat akan dikirim ketika mendapat pesanan. Nugraha juga membantu pemasaran melalui internet. Tapi lama- lama dirinya merasa bosan menjual cokelat sejenis. Devita mulai berpikir membuat aneka cokelat sendiri untuk dipasarkan.

"Kami berpikir kenapa tidak membuat sesuatu yang baru? Yang ada ciri khasnya," ceritanya.

Ide membuat cokelat khas muncul ditengah perjalanan. Devita pun membuka internet untuk mencari inovasi terbaru. Kemudian muncul ide membuat "choco crunch", yang itu berbahan dasar cokelat dan sereal dijadikan satu.

Camilan choco crunch ini kemudian dikemas dalam toples. Agar lebih nikmat, kamu bisa melelehkan cokelat tersebut dengan air panas. Dia memproduksi choco crunch pada November 2014 lalu. Mereka lalu menjual melalui Instagram dan Facebook, dengan brand utama bernama Danu Cokelat.

Keduanya tidak langsung memproduksi sekala besar. Danu Cokelat hanya memproduksi 50 toples setiap produksi. Ini juga untuk memastikan kualitas produk tetap terjamin. Racikan cokelat ini bukan sembarangan, karena keduanya telah melakukan penelitian panjang dan hati- hati.

Mereka tidak langsung mengambil dari internet tanpa perubahan. Rasa tidak boleh terlalu manis atau terlalu pahit. Varian produk dikembangkan dari choco made, choco cookies, choco bar, dan choco blush. Saat ini mereka mampu menjual ke seluruh penjuru Kota Bandung, dan telah menyebar jauh.

Ini berkat internet membuat Denu Cokelat dapat dikirim kemanapun. Dahulu mereka mungkin cuma produksi 50 toples, sekarang menghasilkan 500 toples.

Bisnis Coklat Custom


Awal membuka usaha keduanya sepakat menerapkan sistem custom. Selain dipandang lebih sedikit modal, mereka mungkin mencoba menebak kemana arah pasar. Berkat ini awal mereka membuat aneka macam cokelat, mulai dari cokelat ulang tahun, anniversary, valentine,dll.

Modal yang digelontorkan cuma Rp.500 ribuan saja. Respon kepada usaha mereka cukup bagus. Jadi mereka memutuskan melanjutkan usaha tersebut. Kendala terbesar mereka rasakan ialah ketika harus bersaing. Terutama mereka harus melawan para pengusaha coklat custom yang sudah umum.

Menjual bisnis berbasis custom membuat mereka tidak punya khas. Tahun 2013- 2014, strategi itu mulai dirubah kebentuk lebih berciri khas. Mereka bahkan tidak lagi membuat produk custom begini lagi. Denu Cokelat membuat aneka produk varian seperti choco crust, choco blush, choco bar.dll.

Perubahan cara berbisnis tersebut ternyata mendapatkan respon. Pembeli cokelat mulai dari 17- 35 tahun dengan 15 varian produk. Mereka juga terus meningkatkan cita rasa agar tidak ditinggalan. Ini menunjukan kualitas yang terjaga dengan bahan- bahan telah distandarisasi.

Banyak peniru membuat produk sejenis dengan harga murah. Mungkin mereka mencoba, tetapi akan kembali lagi karena rasa lebih enak. Mereka menggunakan bahan berkualitas tanpa pengawet. Bahan pun sudah tersertifikasi halal. Denu Cokelat mendapatkan sertifikat P- IRT dari Dinas Kesehatan.

Choco Crush telah memiliki banyak varian rasa, mulai dari biskuit, cream, mede, marshmellow, sampai cokelat chacha. Denu Cokelat juga mengembangkan cokelat larut. Minuman cokelat seduh dengan varian rasa original, susu cokelat, dan kayu manis.

Produk Choco Crush ini paling laris mencangkup 50% penjualan. Harga jualnya diantara Rp.25 ribu- 75 ribuan. Pemasaran melalui internet dengan memanfaatkan agensi online. Total agen 130 orang yang tersebar di 70 kota Indonesia. Reseller dropship terbanyak mencapai 930 orang agen penjualan.

Pengusaha Muda Marchandise Perusahaan Startup

Profil Pengusaha Rizal Kasim


pengusaha marchendise gift
 
Perkembangan perusahaan startup begitu masif di berbagai bidang. Pengusaha muda merchandise ini melihat mengapa tidak membuat startup sendiri. Rizal Kasim lalu mengembangkan Cera Production, yang teguh hati meyakini ini akan sukses di masa mendatang.

Rizal bukan tanpa masalah ketika memulai usaha. Jujur dia sempat bekerja di perusahaan periklanan. Ia sempat merasakan ragu ketika akan melepaskan pekerjaan. Lima tahun sudah dia bekerja menjadi pegawai periklanan. Passion -nya di bidang pemasaran membuat Rizal berubah pikiran.

"Saya memilih dunia bisnis karena setiap orang punya pilihan. Passion saya di dunia pemasaran," ia menjelaskan.

Maka kepada money.id, dia mengatakan memilih berwirausahan sendiri. Rizal sendiri bukan dari keluarga orang kaya. Bapaknya seorang petani hidup sederhana berkecukupan. Dulu, orang tuanya ini suka merintis usaha, sebagai pengusaha mereka kerap terjegal kegagalan.

Mimpi Besar Perusahaan


Dia belajar dari orang tua mengenai kewirausahaan. Darah pengusaha itu mengalir, hingga meluap ketika memutuskan resign. Bila ayahnya menyerah menjadi pengusaha dan memilih bertani. Ia yakin akan berhasil melalui bisnis Cera Production.

Tidak terbayangkan dia menjadi pengusaha muda merchandise. Jujur dia tidak memiliki pengalaman dalam bidang ini. Usaha merchandise memiliki prospek besar apabila dikelola benar. Dia mengatakan mampu mengantongi omzet ratusan juta.

Cera Production membidik pasar korporasi yang menyumbang besar. Mulai dari PT. Pertamina, Bank Indonesia, Bank BRI, dan Indosat, pernah menjadi pelangganya. Cera Production menjual produk dari yang termurah Rp.3000 sampai Rp.60 jutaan.

"Biasanya termahal itu pulpen ekslusif," jelas Rizal.

Perusahaan tidak akan membeli sedikit tetapi sangat banyak. Mereka memesan marchandise untuk aneka kesempatan. Cere Production bisa membuat sampai ribuan merchandise sekali pesan. Semua itu berkat tangan dingin Rizal, yang memang memiliki kemampuan membangun jaringan.

Pemasaran dimulai dari cara menual sampai masuk ranah digital. Ia merasakan betul setiap kesusahan ketika awal- awal. Dia bersama beberapa orang memasarkan memakai mobil atau motor. Pada 2011, mereka berkeliling, satu per- satu perusahaan dikunjungi untuk menjajakan merchandise.

Proposal mereka pun cuma sampai ke tangan satpam. Waktu itu, dia mengenang, internet belum lah seramai sekarang. Perusahaan masih menganggap website sebagai sampingan. Cera Production lalu tanggap dengan perubahan besar di dunia internet.

Cere Production mulai menjual melalui website perusahaan www.ceraproduction.com. Reaksi cepat ini sangat tepat bagi Cera Production berkembang. Mereka pun rajin menjual melalui iklan berbayar di internet. Begitu pesanan mengalir, Rizal dengan sigap membentu satu tim digital marketing handal.

Mereka memasarkan melalui internet melalui berbagai lini. Biaya iklan bisa sangat besar karena ia tak mau tanggung. Budget iklan dalam setahun dia bisa mengeluarkan Rp.60- 80 juta. "Tetapi kalau dilihat dari sisi omzet kami jumlah itu kecil," ia melanjutkan.

Biaya iklan internet memang dibilang lebih murah. Total dia hanya mengeluarkan cuma sekitar Rp.5 jutaan perbulan. Berkat keputusan ekstrem tersebut, Cera Production mampu menaikan omzet sampai berkali lipat. Biaya iklan tersebut kini cuma senilai 30% dari omzet tahunan mereka.

Menyulap Bisnis Biasa


Rizal menyadari berbisnis merchandise umum dilakukan. Dia menyadari banyak pemain di industri tersebut. Ia mengakali ini melalui berbisnis berbasis internet. Semua orang mungkin bisa membuat produk sejenis, tetapi dia bisa melakukan lebih.

Merchandise merupakan komoditas siapapun bisa lakukan. Dia lantas menyuguhkan jasa konsultasi gratis. Penjualan mereka tidak langsung menjual merchandise. Tetapi dia menanyakan dulu apa yang orang butuhkan.

Ambil contoh ketika ada perusahaan tambang di Tapanuli berkonsultasi. Mereka ingin memberikan merchandise buat penduduk sekitar tambang. Mereka berkonsultasi kepada Cera Production, produk apa yang layak diberikan, sekaligus meyakinkan bahwa mereka bekerja sesuai standar operasional.

Cera Production diberi tanggung jawab meyakinkan: Bahwa perusahaan tambang ini bekerja baik, dan tidak merusak lingkungan sekitar. Bagaimana cara agar masyarakat percaya bahwa tambang ini aman. Maka Cera Production membuat merchandise berupa buku cerita "Sehabat Tambang Emas".

Buku cerita mengenai anak- anak yang diajak berpetualang di tambah emas. Mereka diajak masuk oleh pihak perusahaan. Petualangan mereka meliputi menjelajahi tambang sembari diinformasi. Para pekerja tambang menjelaskan apa itu emas, fasilitas kesehatan pegawai, soal menjaga hutan,dll.

Buku itu bercerita mengenai lingkungan tambang. Isinya edukatif meyakinkan bahwa semua aman dilakukan. Bukut tersebut lantas disebarkan ke anak SD, SMP, dan SMA sekitar. Ini menjadi soft education mengenai standar operasi perusahaan.

Menggabungkan usaha dengan sistem eCommerce memang sangat krusial. Terutama bisnis corporate gift miliknya ini. Sebagai perusahaan startup, Rizal mengajak perusahaan besar untuk melakukan one stop service. Mereka bisa mendapatkan aneka produk dan layanan konsultasi gratis untuk custom gift.

Pencipta Kompor Air Pemenang Wirausaha Muda Mandiri

Profil Pengusaha Dede Miftahul Anwar


penemu kompor air

Dia terlahir keluarga sederhana asal Desa Cihambulu, Jawa Barat. Pemuda pencipta kompor air yang memenangkan ajang Wirausaha Muda Mandiri 2015. Dede Miftahul Anwar sempat mengejutkan lini pemberitaan Indonesia. Apakah mungkin kita menciptakan kompor menggunakan bahan bakar air.

Terlahir di Kampung Keranjang, Desa Cihambulu, Kec. Pabuaran, Kab. Subang, Jawa Barat, yang menjadi sosok teladan bagi pemuda di kampunya. Tidak banyak pemuda desa berhasil masuk ke jenjang tertinggi. Kebanyakan mereka merupakan lulusan sekolah menengah pertama atau atas.

Dia termasuk sosok kritis dalam melihat kehidupan sosial masyarakat. Kenapa gas elpiji begitu sulit ditemukan ketika penduduk begitu membutuhkan. Maka Dede menciptakan kompor sendiri sebagai pengganti kompor gas elpiji.

Pengusaha Kompor Air


Sosok cerdas itu lalu mengutak- atik unsur kimiawai air. Mahasiswa Pendidikan Kimia, Universitas Pendidikan Indonesia, yang terbiasa meneliti unsur- unsur kimiwai benda. Dia mencoba menggali unsur dalam air, yang terdiri dari dua unsur hidrogen dan oksigen.

Dede mengurai hidrogen yang kemudian oksigennya diendapkan. Senyewa air ini memang memiliki banyak unsur. Menurutnya dua unsur tersebut didapat melalui cara khusus. Zat kimia khusus yang bisa didapatkan dimana- mana. Begitu terkena air maka lepaslah dua unsurnya hidrogen dan oksigen.

Nah, unsur hidrogen inilah kunci, untuk menciptakan kompor pengganti elpiji. Unsur hidrogen inilah yang dapat diurai dijadikan api. Dede lalu merubah unsur hidrogen menjadi gas terbakar. Dia lalu menjadikan ini sebagai bahan bakar kompor miliknya.

Dede lebih memilih mengabdikan diri menjadi pengusaha. Begitu produk ini berhasil dia mengajak semua warga desa. Ia membuat pertunjukan dihadapan warga melalui balai desa. Bukan mudah untuk meyakinkan pendudukan akan kompor air.

Penduduk desa nampak meragukan pertunjukan Dede nanti. Tetapi begitu terbukti keluar api, 80% dari penduduk desa tertarik dan setuju menggunakan kompor miliknya. Apalagi ia meyakinkan lewat pertunjukan bahwa ini aman dan mudah digunakan.

Begitu mereka semua membeli maka resmilah CV. Energon Teknologi. Dia mengajak para pemuda untuk ikut bergabung. Agar mudah dia membangun tempat pengisian bahan bakar. Jadi Dede tidak lepas tangan begitu kompor jadi. Dede membangun Saung Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (SPBH).

Gas hidrogen yang terurai dari air tersebut dijual lebih murah. CV. Energon menjual Rp.10 ribu setiap tabung untuk tiga minggu. Sejak dia menjual kompor dan bahan bakar ini, permintaan semakin besar berkat diviralkan media masa. Dede mampu meraup omzet sampai ratusan juta di tahun 2015 saja.

"Bahan- bahannya sangat mudah didapatkan dan sangat murah. Jadi saya bisa menjual gas hidrogen lebih murah dibanding elpiji," cetusnya.

Ia membentu tim solit di dalam perusahaan. Begitu hak paten turun, Dede semakin mantap memberi penyuluhan kepada masyarakat luas. Bahwa ini merupakan penemuan baru bahan bakar pengganti gas elpiji. Harga yang dipatok pun lebih murah dibanding gas elpiji di masyarakat umum.

Startup Ekspor Ikan Keluar Negeri Kisah Growpal

Profil Pengusaha Achmad Rizqi Akbar



Membayangkan membuka bisnis startup tanpa pengetahuan teknologi. Startup ekspor ikan ini bisa membuktikan bukan soal pendidikan. Sang pendiri, Achmad Rizqi Akbar, lebih memilih untuk ikut mengkolaborasi gagasan. Dia yang biasa belajar dari indigo.id mulai tertarik mengerjakan startup.

Dia tidak pernah memiliki latar belakang bahkan TIK sederhana. Apalagi coding dia sangat buta akan hal semacam itu. Ia memulai karena rasa kepedulian akan lingkungan sekitar. Dia melihat peternakan ikan di kawasan Pacitan dan Sumbawa, memiliki potensi namun belum tersentuh teknologi.

Pengusaha Startup


Growpal tumbuh dibawah naungan program indigo.id. Startup ini tumbuah menjadi agen yang ikut mengawasi. Mereka menerapkan standarisasi kepada nelayan untuk ekspor. Growpal juga memberi kemudahan dan aksesbilitas masuk ke pasar ekspor.

Dana pun didapat untuk mengembangkan startup sampai berkembang. Tidak hanya dua wilayah itu, Growpal telah menjangkau Situbondo, Banyuwangi, dan Bali lewat kerapu. Adapula sistem agensi dalam bisnis Growpal untuk pembudidayaan.

Rizqi tak ingin sekedar penyalur produk perikanan keluar negeri. Growpal juga ikut aktif untuk bisa berproduksi. Yang penting penuhi dahulu kebutuhan operasional peternakan. Growpal bisa memberi dana talangan sebelum investor masuk.

Pengusaha muda yang memiliki latar belakang Sarjana Perikanan, Universitas Brawijaya, Malang, lulusan 2010. Dia memasuki dunia startup baru setelah 2017 bukan seketika jadi. Dua tahun dirinya bekerja di industri perikanan. Dia juga pernah bekerja dalam bidang budidaya udang konvensional.

Growpal digawangi tidak hanya dirinya sendiri. Ada beberapa orang pendiri yang rata- rata usia 20 tahunan. Ada Shahriansyah Candraditya (CMO), Paundra Noorbaskoro (CEO), dan Raka Kurnia Novriantama (CTO). Growpal menjadi penghubung investor, pertenak, dan konsumen ikan sendiri.

Fokus awal mereka mengerjakan kerapu dan udang. Tingkat pengembalian investasi atau ROi bisa dibilang tinggi. Growpal mampu mengembalikan investasi 30- 50 persen. Mereka pun menjadi sosok supervisor, yang ikut dalam mengawasi peternak sesuai standarisasi siap ekspor.

Ekspor kerapu lewat Growpal mencapai 400 ton, dengan kebutuhan pasar sebenarnya 3000 ton, dan mengekspor udang 50 ton yang cuma seperempat pasar. Growpal sendiri menyadari fungsi investor dalam bisnis mereka. Maka mereka aktif berkomunikasi termasuk soal pemindahan kantor ke Jakarta.

Anak Tukang Bangungan Sukses Berbisnis Jamur

Biografi Pengusaha Taufik Hidayat


pengusaha muda jamur

Taufik Hidayat selalu bekerja keras dan pantang menyerah. Anak tukang bangunan sukses berbisnis jamur. Sadar terlahir dari keluarga kekurangan, Taufik bersemangat mengejar pendidikan, hingga dia diterima bekerja di perusahaan swasta di Jakarta.

Orang tuanya bekerja sebagai tukang bangunan sampai keluar Jawa. Sementara kedua kakaknya jadi tukang ojek di jalan. Berkat kerja keras ayah tersebut membuat Taufik bisa kuliah. Lulusan Politeknik Negeri Bandung ini sadar, bahwa jenjang karir di perusahaan mulai tidak berkembang.

"Sampai kapan melihat bapak saya jadi tukang bangunan, bahkan rela keluar Jawa ketika saya kuliah untuk membiayai saya," Taufik menjelaskan.

Inilah cikal bakal dia nekat resign untuk membuka usaha sendiri. Satu bulan dia tidak bekerja sampai teringat satu pristiwa. Ia mengenang pernah diajak seorang senior ke kebun jamur. Usaha milik senior di kampus itu begitu menarik perhatian Taufik.

Memulai Budidaya Jamur


Tidak puas akan karirnya hingga memilih membuka usaha. Anak tukang bangunan sukses berbisnis jamur. Ide berbisnis jamur muncul ketika dia mengenang seorang senior kampus. Dia ingin memulai usaha tersebut, hingga dia teringat seorang teman di sekolah menengah.

Pria bernama Aep tinggal di Cinangsi, Pengalengan. Teman SMA yang sekarang budidaya tomat di samping rumah. Taufik menganggap Aep mungkin tahu soal perkebunan. Dia bertemu Aep sampai terlibat pembicaraan serius.

Aep berkata bahwa tetangganya membudidaya jamur di rumah. Dia pun mengajak Taufik datang ke tempat sang tetangga. Sembari mengobrol ditemukan fakta, bahwa media tanam didapat dari Ciwidey dan berupa bantuan pemerintah, untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lewat budidaya jamur.

Si tetangga bercerita mengenai kemudahan menanam jamur. Perawatan tidak cepak dan panen bisa setiap hari jadi dapat uang setiap hari. Hanya karena jumlah jamur sedikit, si tetangga cuma menjual ke tetangga lain dan pedagang sayur. Dia mengatakan paling susah mendapatkan media tanam di sini.

Ide berbisnis jamur semakin optimis dilaksanakan. Apalagi Taufik tertempat tinggal di Pengalengan jadi cocok secara suhu. Tingkat kelembapan cocok tinggal menyiapkan tempat. Dia pulang kerumah dan memilih menyewa rumah milik tetangga.

Rumah tersebut disulap sampai menampung 20 ribu media tanam. Sembari mengerjakan ia mulai mengenang susahanya keluarga. Sang ayah bekerja sebagai tukang bangunan sampai keluar Jawa. Sementara kakak- kakaknya, hanya bekerja menjadi tukang ojek berkeliling mencari penumpang.

Bisnis Budidaya Jamur


Dia ingin merubah nasib keluarga lebih baik. Taufik ingin mengajak kakak- kakaknya berusaha bersama. Tidak lagi panas- panasan mencari penumpang di jalanan. Dia juga tak tega melihat desa tempatnya lahir kebanyakan bekerja menjadi buruh tani.

"...tetapi mereka (penduduk desanya) tidak mendapatka apa- apa," ia menjelaskan.

Optimis dibangunlah tempat tanam yang sesuai tingkat kelembapan. Total modal awal dia keluarkan 100 juta rupiah. Modal itu dipinjam dari teman kuliah dan teman kantornya dulu. Jujur ekspetasi seorang Taufik begitu besar akan bisnis jamur ini.

Singkat cerita dia berhasil panen pertama sekali budidaya. Walau nampak berjalan mulus, dia kesulitan untuk menawarkan hasil panen ke pedagang pasar. Baru sekali panen itu malah disambut hujan besar dan banjir.

Sore itu dia dan kakak barus saja memanem jamur. Diluar sudah hujan besar sampai air menggenang. Tampak air hujan mulai memasuki gubuk bambu tersebut. Hujan begitu besar sampai dinding bambu miri dan rak- rak mulai bergoyang.

Ini pertanda hingga keduanya melompat keluar dan rubuhlah rumah jamur tersebut. "Alhamdulillah, selamat hampir tertimpa bangunan di dalam, yang tidak selamat bangunan dan 20.000 media tanam di dalam," kenangnya.

Total kerugian mencapai Rp.80 juta sampai mengelus dada. Baru kali ini dia merasakan kehilangan uang sebesar itu. Apalagi dia sadar uang tersebut merupakan hasil pinjaman teman- teman. Dia tidak patah semangat. Taufik mencoba meminjam kembali ke teman- temannya tersebut.

Kali ini Taufik akan mencoba membuat media tanam sendiri. Berulang kali dia meminjam, tetapi itu berkali- kali gagal juga, sampai memiliki hutang menggunung Rp.500 juta. Taufik tidak patah arah untuk terus mencoba membuat kembali.

"Saya sadar saya terlalu egois dan terlalu idealis, merasa paling bisa dan tidak butuh masukan orang lain," ia menerima nasib.

Pengusaha muda ini mengevaluasi kehidupan dengan kepala jernih. Dia mulai mempelajari dari awal semua. Begitu dipelajari ternyata tidak terlalu sulit membuat media tanam. Bagian terpenting ialah proses sterilisasi. Penggunaan drum secara menual tidak akan dapat dihitung panas api.

Suhu dan tekanan terkadang berbeda tergantung api kayu. Nyala api tidak selalu sama, sehingga bisa berhasil atau tidak. Dia lalu berdiskusi mengajak Pak Yunus (Dosen) untuk membuat alat. Mereka membuat mesin mengontorol suhu dan tekanan panas.

Mereka lalu membuat media tanam dan kegagalan ditekan. Begitu mahir membuat media tanam, dia melihat bisnis semakin membaik dan mencoba ikut perlombaan. Taufik mengikuti ajang wirausaha dari Bank Mandiri, hasilnya mengejutkan dia menang dan mendapatkan modal Rp.40 juta.

Dana tersebut dipakai mengembangkan bisnis jamur. Nama usahanya Villa Mushroom Agrifarm, dan terus berkembang untuk mengajak masyarakat ikut bergabung. Dia membuka usaha kebun jamur bagi masyarakat desa. Mereka akan mendapatkan penghasilan tambahan dan berkebun di rumah sendiri.

Rejeki Pengusaha Jamur


Taufik dibantu 15 petani sampai panen 6 ton atau senilai Rp.75 juta. Dia juga memproduksi media tanam sendiri 1.5000 pilobag. Petani seban bulan mendapatkan 30.000 atau senilai Rp.90 juta. Dia menyebut total penjualan Rp.165 juta dari panen jamur dan menjual baglog.

Laba bersih usaha mencapai 30%- 40% dari penjualan semua usaha. Taufik memiliki aset sampai senilai Rp.600 juta dari tanah, bangunan, dan mesin.

Pemuda kelahiran Bandung, 1 Juni 1992, yang bekerja keras dan belajar otodidak. Dia meminjam uang dari teman banyak. Juga mendapatkan sokongan investor sampai ratusan juta rupiah. Taufik pakai uang itu untuk membiayai operasional, sewa lahan, membuat rumah jamur dari bambu, dll.

Uang pribadi hanya Rp.10 juta dari tabungan bekerja di PT. Toyota Manufacturing. Dia juga pernah bekerja di PT. Samsung Indonesia. Berlatar belakang pegawai kantoran, Taufik meriset sendiri cara bercocok tanam jamur, dan langsung mengaplikasikan.

"Saya tergolong nekat," ujarnya.

Dia mengajak dua kakaknya untuk mengolah baglog. Mereka menanam bibit jamur di dalam rumah kumbung. Ditunggu selama dua minggu sampai bibit jamur tumbuh. Awal panen dia menghasilkan 5 kg hingga 10 kg. Sekarang dia memproduksi 2 ton per- pekan, yang dijual di pasar Pengalengan.

Ia rutin menjual jamur ke pedagang sayuran. Taufik memiliki empat pelanggan. Namun dia harus berhadapan dengan senior pasar. Sosoknya ini menjadi penentu siapa saja yang boleh berdagang di sana. Tata niaga jamur dikontrol sosok tersebut, maka dia segera mendekati sosok tersebut langsung.

Tidak mendekati melalui pasar tetapi dia datangi rumahnya langsung. Dia membangun komunikasi dengan pedagang jamur di sana. Termasuk ketika dia masuk ke pasar daerah Bandung, maka harus mendekati suplier jamur yang terlebih dahulu ada.

Jamur yang dipasok Taufik adalah tiram putih dan jamur cokelat. Sementara orang yang didekatinya menjual jamur kancing. Omzetnya melambung dua kali lipat berkat selalu bekerja sama. Konsumen yang membeli bisa menjadi penjual. Permintaan jamur miliknya meningkat sampai dua kali lipat.

Target produksi perhari 1 ton sehingga menjadi 30 ton perbulan. Dia membidik pasar di Jawa Barat sebagai awalan. Serta ia mulai masuk ke pasar swalayan dan hotel. Agar bisa memenuhi target itu, dia mendirikan CV. sebagai entitas, dan telah memiliki 10 orang karyawan yang dulunya 1- 2.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba