Cara Ilmuwan Muda Firly Savitri Menginspirasi Indonesia

Profil Pengusaha Firly Savitri


pengusaha ilmuwan muda
 
Ini ilmuwan muda Firly Savitri agar Indonesia maju. Memajukan semangat menjadi ilmuwan bagi masyarakat Indonesia, terutama kamu muda. Taukah kamu, cuma ada 3% masyarakat Inonesia yang tertarik menjadi ilmuwan. Sangat sedikit mereka yang tertarik mengambil jurusan sains ketika kuliah.

Katanya karena pelajaran sains kebanyakan bersifat hafalan. Bayangkan kita harus menghafal rumus- rumus tertentu. Banyak anak muda merasa jengah dengan keadaan ini. Mereka lebih tertarik sesuatu yang praktikal. Alasan lain, di sekolah menengah sangat jarang memiliki laboratorium yang lengkap.

Firly lantas mendirikan Ilmuwan Muda Indonesia (IMI). Lembaga yang didirikan untuk menambah lebih banyak ilmuwan. Misi untuk memperbanyak jumlah mereka di Indonesia. Banyak cara yang dilakukan Firly, termasuk mengadakan program edukasi ke madrasah, panti asuhan, dan sekolah.

Pengusaha Sosial Sains


Meskipun bisnis sosial ini baru didirikan, sudah mendapat apresiasi luas. Tidak hanya di dalam negeri, masyarakat Internasional pun mendukung program tersebut. Program lembaga pendidikan ini juga sudah sampai di Malaysia. Firly dan rekan mengajarkan sains kepada siswa- siswa sekolah.

Bermula lembaga kini berkembang menjadi perusahaan. Firly mulai mengembangkan aneka produk sains. Tujuannya untuk mengedukasi masyarakat dengan cakupan luas. Produk yang dikemas dalam program berbeda- beda, ada Mobile Planetarium, Kitchen Science Experiment, dan Lab in the Box.

"Bagi saya melihat anak- anak datang ke planetarium seperti begitu terkesan, bagi saya itu adalah bayaran," jelasnya kepada detik.com.

Mobile Planetarium merupakan produk simulasi planet lengkap. Didatangkan dari tiga negera hingga simulasi ini tampak nyata. Anak- anak nanti akan datang melihat versi mini planet- planet. Mereka nanti juga menonton film dokumenter yang telah disediakan.

Kitchen Science Experiment mengajak anak pengalaman sains. Peralatan praktik yang bisa didapat di rumah. Terkahir Lab in the Box, ini memberikan kegiatan saintis melalui aneka kegiatan. Ini dikemas sedemikian rupa hingga mudah. Total anak- anak akan mampu membuat 100 eksperimen sendiri.

Perempuan bergelar MBA dari Institut Pertanian Bogor, sudah lebih dari 20.000 anak bereksperimen melalui program ini. Firly sangat antusias ketika para siswa datang berkunjung. "Mereka sampai berguling- guling karena mereka tidak merasa sedang belajar," tuturnya kepada Wolipop Detik.

Firly memiliki latar belakang ilmuwan bidang Psikologi IPA. Ia kerap melakukan penelitian perilaku manusia. Tapi kini dia lebih fokus mengajarkan sains kepada anak- anak. Dia ingin memotivasi lewat usaha berbasis sains. Inilah cara ilmuwan muda Firly agar lahir lebih banyak ahli- ahli d bidang sains.

Dia menganalisa program pengajaran kepada anak kurang efektif. Alhasil banyak orang yang kalau melihat masalah sempit. Mereka kurang memiliki basis analisa dan data akan sebuah diskusi. Bahkan anak- anak jaman sekarang lebih percaya salebgram.

Anak- anak jaman sekarang melakukan sesuatu tanpa terukur. Sains tidak hanya menyoal masalah alam. Ini juga menyangkut cara pandang anak muda akan masalah. Jangan melihat masalah sebatas kulitnya tetapi tanpa didasari fakta. Sains itu terukur tidak berasumsi membuang- buang energi kita.

Orang Indonesia pun menjadi sosok tidak penyabar. Dengan sains maka anak- anak akan diajarkan untuk mencoba. Bila gagal, sains mengajarkan tidak ada penemuan tanpa bersabar. Firly tidak sendiri tetapi mengajak perusahaan besar, seperti Pocari Sweat untuk mengajarkan sains ke anak.

Istri Mosidik Stand Up Comedy


Mengejutkan ternyata Firly merupakan istri dari Mosidik, stand up komedian ternama Indonesia. Dia dalam satu kesempatan menjelaskan kepada pewarta Suara.com. Ilmuwan Muda Indonesia mencoba menyebarkan virus sains. Firly semakin bersemangat bahkan sampai ke sekolah pelosok demi sains.

Mereka yang belajar di daerah pelosok butuh bantuan lebih. Sekolah pelosok tidak ada dukungan labortaorium sains memadai untuk mereka. Nah, inilah tugas IMI, yang mempermudah belajar sains di sekolah. Firly pun bercerita bagaimana dirinya mencintai sains dan kenapa kamu harus belajar.

Firly kecil sudah sangat baik dalam akademi. Alhasil dia selalu mendapatkan pendidikan dari sekolah terbaik. Walau terbaik tetapi belum mengangkat kecintaan sains Firly. Bahkan waktu SMA, dia malah melihat sains sebagai kesusahan, umumnya teman- teman sekolah melihat ini belajar menghafal.

Padahal menurutnya belajar sains lebiah asyik praktikum. Pengalaman pribadi dalam membuat kerja sains harus menyenangkan. Baru ketika masuk kuliah IPA kecintaan akan sains tumbuh. Itupun dia merasa tidak mengakomodasi keinginan akan astrophysic.

Ketika dia dan rekan membawa simulasi planeterium. Dalam satu sesi mereka bertanya tentang "apa itu laboratorium". Anak- anak SD malah berbalik mempertanyakan istilah tersebut. Padahal mereka berada di sekolah tengah kota. Begitu para siswa ditunjukan planetarium mereka terkagum- kagum.

IMI menggunakan film 360 derajat yang diproyeksikan dalam "doom". Mereka seolah berada di ruang antariksa, mereka seolah melihat gugusan bintang dan menyentuhnya. Cerita lain ketika datang ke sekolah pelosok. Mereka juga datang menemui para pemulung dan komunitas anak jalanan.

Adanya mobile planetarium memberikan kemudahan tersendiri. IMI aktif menjelajah ke sekolah di penjuru Indonesia. Mereka datang ke Tanjung Pinang, Kayong di Kalimantan Barat, Jambi, Solo, dan Subang. Jumlah planetarium di Indonesia ada empat, dimana sebagian tidak aktif karena rusak.

Mobile planetarium IMI lebih mudah dirawat. Aksesbiltas juga mudah untuk dipakai siapapun. Ini sangat cocok dikembangkan kita. Harapannya bisa membantu guru mengajar lebih praktikum. Inilah cara ilmuwan muda Firly Savitri mengembangkan sains di Indonesia.

Pengusaha Media Dea Angkasa Lahirkan Fajar Cirebon

Profil Pengusaha Dea Angkasa Putri


pengusaha fajar cirebon
 
Ketika dunia digital merebak, namanya justru sukses berkat surat kabar tradisional. Pengusaha media Dea Angkasa Putri Supardi mejajal respon masyarakat. Membayangkan surat kabar akan tetap laku saja bisa sinis. Tetapi faktanya Dea ini mampu mengantongi omzet Rp.2 miliar pertahun.

Dea menganggap menggarap usaha surat kabar tantangan. Pandangan masyarakat yang telah berubah tengah diujinya. Hasilnya ternyata tak mengecewakan surat kabar masih laku. Dia dikenal pendiri PT. Bakti Juang Charuban, atau pemilik surat kabar Fajar Cirebon.

Koran Harian Umum Fajar Cirebon beredar di lima wilayah. Mereka tersebar di Kota Cirebon, Kab. Cirebon, Kab. Indramayu, Kab. Majalengka, dan Kabupaten Kuningan. "Saya awalnya menganggap ini sebagai tantangan, ingin tau sampai mana bisnis saya diterima masyarakat," ceritanya.

Kapada pihak Okezone.com, dia menceritakan bahwa berkat ini dirinya menang Wirausaha Muda Mandiri. Ajang kewirausahaan dari Bank Mandiri menunjuk dirinya pemenang. Dari ribuan orang yang mendaftar, Dea malah menang dengan konsep bisnis jadul surat kabar.

Ratu Media Dea Angkasa


Berkat ajang tersebut banyak pengalaman dilalui. Alhasil bisnis koran harian Fajar Cirebon semakin dikenal. Pelatihan mengelola bisnis, manajerial, dan sebagainya didapat dari sini. Bisnis koran yang menjual Rp.2000 yang terjual 10- 20 ribu eksemplar.

Dea mungkin memulai berbisnis dengan surat kabar cetak. Namun bukan berarti karena dia "gaptek" teknologi. Fajar Cirebon terbitannya juga memiliki versi online di www.fajar-cirebon.com. Jebolan S-1 Administrasi Negara, FISIP Unpad, yang dinilai mengangkat nama Cirebon.

Inovasi Dea mengangkap potensi lokal kawasan Cirebon. Potensi daerah dan sekitarnya mungkin diangkat lewat media cetak. Tetapi terdapat kolom khusus yang inovatif dan edukatif. Inilah dasar kenapa WMM memenangkan. Kolom berbahasa Cirebon yang rutin mengangkat potensi ekonomi.

Dia tak hanya ingin berbisnis sembarang. Pokoknya itu harus memiliki nilai sosial dan bermanfaat bagi masyarakat. Bisnis tidak hanya membuat dia sebagai pemilik punya penghasilan. Dengan surat kabar ini, diharapkan masyarakat akan mendapat informasi mereta dan sadar akan potensi daerahnya.

Perempuan kelahiran 14 Juni 1987, yang mencoba membuka mata warga Cirebon dan sekitar. Jadi mereka akan sadar mengenai permasalah sosial disekitar. Dia ingin membuat jangkauan surat kabar Fajar Cirebon meluas.

Dia juga memberikan Corporate Social Responsibility (CSR), kepada masyarkat Cirebon dan sekitar yang buta aksara. Banyak kendala menghadang Dea ketika menjalankan. Baik kendala teknis maupun non- teknis. Dia optimis melalui pengembangan sumber daya manusia (SDM) karyawan perusahaan.

Tantangan lain ialah ketika dia harus bergaul dengan karyawan lebih tua. Mereka yang lebih punya banyak pengalaman. Dia harus bisa bergaul guna bertukar pemikiran. Ia menekankan kamu butuh 3 hal di perusahaan, yakni santun, intelektual, dan profesional.

Menjadi pengusaha sudah menjadi cita- cita dirinya sejak dulu. Sejak bangku sekolah, Dea sudah niat membuka usaha sendiri yang makin serius. Berkat Fajar Cirebon dia berkembang menjadi pengusaha kelas nasional. Dia pun mengajak sesama mahasisa Unpad untuk terjun berwirausaha.

Pengusaha media ini menjelaskan entrepreneur menurunya harus berani. "... jangan takut gagal atau rugi, tekun, jangan cepat menyerah, dan pandai membaca peluang," tutupnya.

Usaha Momo Milk Memilih Bisnis Jajanan Sehat

Profil Pengusaha Haidhar Wurjanto


pengusaha pemilik momo milk
 
Miris melihat banyak jajanan tak bergizi dijual di pasaran. Usaha Momo Milk menjadi salah satu pelopor bisnis sejenis. Mereka yang memilih bisnis jajanan sehat berbasis susu. Dikembangkan oleh dua orang, Nur Nabilah dan Haidhar Wurjanto, yang pasti tak akan menyangka seviral sekarang.

Kalau dijalan kamu mungkin menemukan kedai susu kaki lima. Mereka berdualah menjadi salah satu penggagas pada 2011. Bermula dari keperihatinan mereka sebagai mahasiswa. Prihatin akan banyak jajanan kampus yang tak sehat.

Mahasiswa Jurusan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, angkatan 2009. Keduanya lalu membuka usaha bernama Momo Milk. Iklim wirausaha disekitaran kampus Institut Pertanian Bogor ketat. Dia yang memilih jajanan sehat mempunya pangsa pasar.

Apalagi melihat para mahasiswa tak punya pilihan lain. Haidhar membayangkan kedai susu yang asik buat nongkrong. Nanti Momo Milk akan menawarkan susu segar aneka rasa. Kedai ini semula hanya menjadi angan- angan sampai tiba waktunya.

Menjadi Pengusaha Susu


Suatu hari, dia melihat Bapak Prabowo mengajak kita menjalankan gerakan "revolusi putih". Ini jadi titik balik bagi Haidhar mewujudkan mimpi. Tetapi dia tak memilik modal untuk memulai. Sampai ia bertemu Nur Nabilah. Keduanya terlibat pembicaraan serius, sampai ingin mengumpulkan modal.

Sambutan positif Nabila membuahkan semangat lebih. Mereka mengumpulkan modal usaha Momo Milk. Soal bahan baku Haidhar menggunakan susu produksi petani lokal. Mereka menjual susu segar kepada masyarakat. Cara penjualan masih sederhana memakai termos es biasa untuk penyimpanan.

Ternyata menyimpan susu segar didalam termos es tidak baik. Problem muncul karena susu yang disimpan tak tahan lama. Padahal keduanya tengah mencoba bisnis jangka panjang. Tak ingin susu mereka terjebak jangka waktu. Nabilah dan Haidhar membeli mesin pendingin agar tahan lama.

Tentu itu tidaklah murah membeli mesin pendingin. Uang hasil usaha Momo Milk ternyata tak cukup membeli mesin. Keduanya berdiskusi sampai- sampai berkonsultasi ke Dosen ITB. Mereka baru sadar bahwa Momo Milk masih awam.

Nama Momo Milk bukanlah nama pilihan utama. Pertama kali keduanya akan menamai usaha susu ini "I'm Milk". Tetapi ternyata nama tersebut sudah dimiliki oleh perusahaan lain. Konsekuensi nama tersebut, maka Nabilah dan Haidhar harus membayar royalti yang tentu memberatkan keuangan.

Mereka memilih nama Momo Milk, yang resmi pada Januari 2011, tempatnya di Regina Pacis dan Bogor Junction. Agar masalah mesin pendingin teratasi, Momo Milk mulai mencari investor. Hingga seorang investor meberikan modal tambahan, sekaligus menawarkan pembelian mesin secara kredit.

Ini membuat Momo Milk menyimpan dana modal lebih banyak. Mereka berkembang sampai dapat membuka cabang di SMAN 1 Bogor. Kedepan masalah lain dapat diselesaikan dengan lebih mudah, kebanyakan sih masalah komunikasi dengan karyawan, pelanggan, dan pensuplai susu.

Pengusaha Sabun Cuci Serba Guna Mask

Profil Pengusaha Septian Suryo


pengusaha sabun cuci
 
Kepepet mungkin akan menjadi jalan sukses kamu. Ini kisah pengusaha sabun cuci serba guna Maks. Taukah kamu bahwa 80% pengusaha terlahir kepepet. Mungkin dengan kadar kepepet yang berbeda- beda. Kali ini kepepet karena dia harus mengerjakan tugas akhir kuliah.

Mengapa tidak menjalankan usaha sendiri. Buat produk unik sendiri yang menghasilkan penghasilan. Namanya Septian Suryo, yang masih 25 tahun saat itu, ialah mahasiswa, penemu, dan pengusaha. Dia yang memilih sabun menjadi tema penelitian tugas akhir atau skripsi.

Sang mahasiswa Universitas Hasannudin, yang sebetulnya kebingungan sebelum menentukan tema ini. Agak terlihat ogah- ogahan sih awalnya. Tetapi dirinya tetap mencoba buat menyelesaikan. Dia bahkan disarankah menjualnya. Ini masihlah bagian dari tugas praktikum akhir bukan bisnis serius.

"Modal awalnya sendiri hanya 24 ribu. Tadinya, saya tidak berniat," jelasnya kepada SWA.co.id.

Tugas Kuliah Menjadi Usaha


Peniliti yang jiwa kepeduliannya tentang lingkungan teruji. Septian lalu menciptakan sabun ramah lingkungan. Hampir putus asa, dia terpaksa melanjutkan tugas ini atau gagal, sehingga dia harus bisa menemukan komposisi yang pas. Septian lalu nampak tak yakin akan pilihan teman tugas akhirnya.

Akhirnya dia malah menciptakan dua sabun berbeda: sabun cuci tangan dan perabotan dapur. Waktu itu, dia belum mengembangkan ide sabun cuci serba guna. Banyak orang ingin memesan tetapi dia ragu. Bukannya memperbaiki, ia malah mencapurkan dua sabun tersebut sampai terlahir lah Maks.

Hasilnya produk unik dimana kamu bisa cuci tangan dan perabot rumah tangga. Ternyata, setelah dia teliti lebih dalam, ini bisa digunakan buat cuci pakian, cuci mobil, dan cuci motor. Inilah cikal bakan produk bernama Maks buatannya.

"Awalnya kami membuat produk terpisah baik untuk cuci tangan maupun untuk cuci perabot rumah tangga," ujarnya Karena terdesak memenuhi kebutuhan konsumen.

Sementara sistem itu produksinya memang masih belum baik, "kami sudah janjikan." Tercetuslah ide membauat sabun multi- fungsi ini. Awalnya dari cuma penelitian tugas biasa, kemudian jadi tugas akhir kuliah.

Lantas, sang dosen menyarankan dirinya, untuk memproduksi Maks sekala besar. Dia setuju walau sama sekali tak pernah jadi pengusaha.

"Sudah tidak usah diteliti lebih lanjut dulu, mendingan kamu jual saja dulu, diproduksi saja. (Untuk melihat) apakah ada orang yang mau beli atau tidak, ujar Septian, dan ternyata, resposnnya sangat bagus di pasaran.

Bisnis unik


Bermodal cuma Rp.25.000, kini, Mask sudah bisa diproduksi secara masal. Bahkan pada waktu itu sudah banyak permintaan datang tapi produksinya masih terbatas. Serba kepepet mendorongnya melakukan aneka inovasi dalam tenaga kerja maupun kapasitas produksi.

Ia pun memutar otak agar bisa mendapatkan lebih banyak modal. Salah satunya, yaitu mengikutkan Mask ke aneka perlombaan kewirausahaan muda. Pertama memenangkan lomba Mask menghasilkan Rp.14 juta.

Tak puas cuma segitu saja melihat keberhasilannya, Septian melanjutkan mengikuti perlombaan lain seperti dari UNESCO, ILO, Bank Indonesia, dan yang melambungkan namanya Wirausaha Muda Mandiri 2013.

Menurut Septian produk Maks memang lebih efisien. Multi- guna membuat lebih unggul dibanding produk lain di pasaran. Mask sabun mutli fungsi dari membersihkan mobil untuk ayah, kemudian mencuci piring buat ibu, dan terakhir juga bisa buat mencuci tangan seluruh keluarga.

Tenang kandungan bahan sudah benar- benar diteliti. Ini berkat latar belakang pendidikan Septian yang mumpuni. Ia menyebut bahwa selain bibit sabun (sufoktran), ada tambahan berupa mineral air laut.

Septian melanjutkan soal bahan lain. Ada turunan minyak kelapa, baik berupa minyak kopra, kelapa, kemudian ia serahkan pengolahannya kepada vendor. Selepas itu barulah semua dijadikan bahan baku sabun Maks.

Kemudian ia menyebut minyak goreng jelanta atau bekas pakai, ini untuk dijadikan bahan sabun padatnya. Efek dari mineral laut pada bahannya bisa membersihkan kotoran dan menghaluskan kulit. Memang terdengar aneh bahan- bahan digunakannya akan tetapi benar- benar bekerja.

Harga bahannya pun relatif murah karena memang ini bisa dihasilkan dalam negeri. Pertama kali berproduksi, Sepetian blak- blakan, mengaku memanfaatkan fasilitas laboratorium kampusnya. Modal murninya seperti dijelaskan diatas cuma Rp.25.000 saja.

Kapasitas produksi awalnya cuma satu ember cat jelasnya lagi. Tahun 2012, produk mask dijual Rp.6.000 per- liter, "kami itu hanya jual isi, atau bentuknya curah." Untuk sekarang ini produknya sudah dijual curahnya Rp.7.500 per- liter.

Septian pun tak segan mendapatkan masukan.

"Setiap konsumen punya selera berbeda- beda," terangnya. Ini termasuk saran segi kemasan, aroma, variasi, untuk aroma konsumen memintanya mempertajam aromanya.

Persaingan Pasar Sabun Cuci


Septian makin percaya diri membidik dua pasar sekaligus, yakni dari pasar ritel dan pasar industri. Untuk ritelnya, ia sudah bisa memproduksi kemasan 200ml dan 500ml, harganya kisaran Rp.4.000- Rp.7.000. Ini sudah termasuk dibawah produk sabun cuci lain di pasaran.

Sedangkan buat pasar industrinya dijual kemasan 5 liter, 10 liter, 20 liter, dan 100 liter, yang mana dijual per- liter yakni Rp.8.000 per- liter. Konsumen industri ini meliputi rumah sakit, restoran, hotel, dan juga kantor.

Besarnya permintaan membuat Septian bersama lima karyawannya cukup repot. Mereka bisa menghasilkan 5 ton sabun tiap bulannya. Untuk pasar ritel sendiri dirinya merasa yakin, karena menurutnya pasar ritel masih minim tingkat kompetisi dibanding pasar masyarakat umum.

Benar brand ternama menguasai pasaran, tetapi ia tetap percaya diri, "saya tak takut untuk bersaing karena produk saya memiliki keunikan dan efisiensi." Targetnya bahkan secara percaya diri masuk pasar modern di beberapa kota di Jawa.

Selanjutnya adalah bagaimana menguasai pasar di luar Jawa. Fokusnya kepada restoran- restoran buat cuci piring lantas pabrik- pabrik untuk mencuci peralatan produksi. Di Sulawesi harga Mask cukup kompetitif dibanding produk sabun lain.

Adalah menjadi pekerjaan rumah baginya agar menjaga harga jual. Apalagi ia juga harus memastikan produknya semakin berkualitas. Ini perlu efisiensi dalam hal produksi. Menjual lebih banyak agar modal produksi bisa ditekan.

Berproduksi 5 ton, pasaran Makassar saja, baik buat pertokoan, kafe, hotel, rumah makan, cleaning service, dan lain- lain, masih membutuhkan 14 ton per- bulan. Padahal permintaan itu terus naik apalagi karena ada publisitas dari media masa. Septia mengaku masih mengejar hal ini.

Bulan Februari di tahun 2015, produknya memperkenalkan kemasan baru untuk pasar ritel. Sekarang segmentasi akan langsung ke masyarkat luas tak perlu ditahan- tahan. Pengusaha sabun cuci serba guna ini makin percaya diri menjalankan bisnisnya.

Pengusaha Mery Yani Bisnis Telur Asin Bisa Berkembang

Profil Pengusaha Mery Yani


pengusaha talur asin mery yani

Menjadi pengusaha Mary Yani berbisnis telur asin. Pertanyaannya apakah bisnis telur asin akan bisa berkembang. Kecintaan akan sang ibu mendorongnya pulang kampung ke Karawang di tahun 2005 silam. Padahal, kala itu, karir Mery Yani tengah bagus- bagusnya ketika dalam perantauan.

Bekerja menjadi akuntan di perusahaan importir besar dilepaskan. Tak lagi bekerja, Mery ingin fokus merawat sang ibu. Hingga pada 2007, sang ibu menghembuskan nafas terakhir, ini sangat mebawa duka untuk wanita 29 tahun ini. Dia tak bersemangat untuk jadi perantau lagi tetapi mau makan apa.

Apakah tidak rugi jika ia memilih mentap di desa. Tidak, nyatanya pilihan untuk mentap di kampung, justru membuatnya menjadi pengusaha sukses. Tak terpikirkan sebelumnya dia akan menjadi juragan telur asin. Sungguh Yani tak memiliki bakat untuk menjadi pengusaha telur asin.

"Saya ketika itu pulang untuk merawat ibu yang tengah menderita sakit kanker stadium 4," ujarnya.

Meneruskan Bisnis keluarga


Sambil merawat ibu, Yani membantu- bantu ayahnya membuat pakan ternak dari dedek padi. Disisi lain ada kakaknya yang mengerjakan usaha telur asin rumahan. Usaha yang sudah ada sejak lama ada, jauh sebelum Mery merantau.

Dia ingat betul, dari usaha itulah ia bisa menjadi sarjana akuntanis. "Telur asin merupakan penyokong hidup saya sejak masih sekolah dulu," kenangnya. Telur asin yang memberikan sokongan di keluarga kecil itu.

Dan, ketika sang ibu meninggal, tepat setelah itu usaha kakaknya kian memburuk. Mery tidak mau tinggal diam. Memang Mary merupakan sosok yang peduli akan keluarga. Sambil merawat sang Ibu, ia ikut membantu kakaknya berjualan telur di pasar, sekaligus membantu sang ayah.

Ayahnya memiliki usaha pabrik pakan ikan dan unggas di Karawang, Jawa Barat. Meskipun masih terpukul, lajang kelahiran Karawang tahun 1983 itu, tidak ingin terus tenggelam dalam kesedihan. Ia tetap bekerja membantu. Lambat laun dia justru kian tertarik pada usaha talur asin kakaknya.

Ketika itu kakaknya memproduksi telur, sekaligus berjualan berbagai jenis telur. Dia fokus menjual telur asin. Bisnis telur asin kakak Yani tengah stagnan. Sulit percaya memang bisnis telur ini punya masa depan yang baik. Ini nampaknya yang membuat sang kakak sulit mengembangkan diri.

Tetapi Mery percaya bahwa ada ini bisa sukses besar kok. Bisnis telur asin bisa berkembang pesat ke depan. Dia pun memberanikan diri mengambil alih untuk mengelolanya. Pucuk dicita, ulam pun tiba, sang kakak malah menghibahkan bisnisnya.

Kebetulan ada bisnis lain yang mau kaka Yani urus. Kalender waktu itu menunjukkan tahun 2009, dan Yani mulai bersiap dengan bisnis telur asinnya. Bukan perkara mudah meskipun ini sudah berjalan. Saat dialihkan, bisnis telur ini stagnan, dan tidak berkembang baik jumlah ataupun untung.

Tercatat kakaknya memiliki empat karyawan. Mereka menghasilkan 1.000-1.500 butir per- hari dijual di pasar. Modal toko kecil yang modalnya diambil dari klaim asuransi ibu. Yani mulai mencari- cari tau bagaimana bisnis ini dijalankan.

Mery mulai membaca- baca buku tentang telur asin. Dia juga tak malu untuk bertanya kepada mereka yang sudah punya pengalaman. Mery sendiri pernah berjualan telur asin ketika sekolah menengah, dimana dia berjualan dari satu toko ke toko di pasar tradisional.

Rencana Bisnis Telur Asin


Dia mulai menggabungkan dengan ilmu akuntansi. Pengusaha Mary Yani juga mengeluarkan semua pengalaman bekerja di perusahaan. Dia punya dasar tetapi belum teruji ketika di usaha sendiri. Anak ketiga dari empat bersaudara mulai menyusun sebuah peta perencanaan usaha lengkap.

Dia menciptakan standar kualitas telur, cara pemasaran, dan sistem manajerial karyawan. Di bagian produksi, Mery menjalin mitra dengan peternak telur bebek di sekitar Karawang untuk pasokan telur asinnya.

Yani bahkan menggelontorkan modal, baik berupa bibit bebek atau uang untuk membeli pakan. Tentu saja, para mitra itu nanti harus menyetor telur bebek ke usaha telur asin milik Mery. Ia juga menyoroti soal kebersihan telur- telurnya. 

Jika sebelumnya telur akan direndam agar bersih, ternyata, dalam riset yang dilakukannya sendiri, itu satulah kesalahan. Mery menemukan bahwa perlakuan demikian justru membuat kotoran meresap, bahkan sampai ke dalam telur melalui pori- pori kulitnya.

Akhirnya proses pencucian diubah total, menggunakan air mengalir dan kemudian diberi disinfektan untuk membunuh kuman serta bakteri yang menempel. Tapi dia mengingatkan sebelum telur dicuci perlu diperiksa keretakannya, sebanyak dua kali ya.

Mery kembali memeriksa telur setelah dicuci untuk kemudian diasinkan. Dia menggunakan air isian ulang ke dalam proses produksi. Ini bisa meningkatkan kualitas produk sekaligus cara mengurangi tingkat kecacatan produk akhir.

Tak ketinggalan, Yeni rutin menguji kualitas telur hasil produksi ke laboratorium Cikolay, Bandung, setiap bulan. Kemudian soal proses produksi, bahan yang digunakan diubah semuanya bahan- bahan pilihan.

Abu yang akan digunakan adalah abu hitam yang berasal dari sekam padi yang telah dibakar dan sudah terlebih dijamin kebersihannya. Abu itu yang berasal lahan pertanian di sekitar Karawang. Dan terakhir, untuk bagian pengemasan, ia merubah cara pengemasan tradisional.

Satu per- satu telur dikemas dan dibungkus kardus secara rapi. Dengan demikian, tingkat kerusakan produk saat pengantaran bisa dikurangi.

"Kalau membeli telur asin produksi orang lain, kerusakannya bisa sekitar 25%, tetapi kalau beli dari saya hanya 5%, bahkan bisa nol. Hal ini bisa menekan kerugian agen dan distributor," dia mengklaim.

Kemudian ia terjun langsung ke pasar menjajakan produknya. Pada saat itulah, dia belajar kesalahan pertamanya, dimana dia masuk di waktu yang salah. Produknya masuk justru ketika pasar dibanjiri pasokan telur asin.

"Jadi, orang mau menerima produk saya susah." Ia mencatat bulan Desember- Februari sebagai bulan telur langka.

Nah, di saat pasar sedang sepi, lantaran pasokan telur asin berkurang, Mery segera memasok telur asin buatannya dalam jumlah besar. Mery pun menggelontorkan sejumlah uang lagi. Dia punya tekat untuk membangun bisnisnya lebih besar.

Prospek Bisnis Telur Asin


Dia mau tak mau meminjam modal Rp.160 juta dari ayahnya, dan sebagian pekerangan rumah untuk tempat produksi. "Pabrik pakan ternak ayah saya cukup luas, jadi saya pakai separuhnya," ujarnya, dan PT. Sumber Telur Kilau, perusahaan yang menaungi bisnis ini, pun dikibarkan.

Sayang, dikala penjualan meningkat, ia kembali berhadapan dengan masalah. Ia mendapati beberapa mitra yang ingkar menjual telur bebek untuk pabriknya. "Saya harus sabar mencari mitra lain," ujar Mery.

Untuk menjaga agar pasokan telur bebek tetap stabil, Mery pun membangun peternakan sendiri. Di peternakan tersebut, dia memiliki 1.500 ekor bebek yang diangon di sekitar Karawang dan Garut. Dia yakin bahwa telur asin punya masa depan.

Di tahun 2012 saja, atau tiga tahun setelah memutuskan berbisnis, ini berkembang baik dan terasa manis. Dia sekarang dibantu 15 karyawan inti dan ibu- ibu sekitar pabrik, serta 20 peternak telur bebek, Merry mampu menjual 10-15 ribu butir telur per- hari, atau meningkat 10 kali lipat.

Agar lebih bisa masuk ke pasar yang lebih luar, Mery pun mengajukan sertifikasi telurnya. Di tahun 2010, ia sudah mengajukan sertifikasi untuk telur produksi peternakan miliknya dan mitra. Mery mendaftarkan telur produksinya ke Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Telur- telur miliknya sudah memperoleh sertifikasi kualitas gizi.  Setiap produksi, telur- telur hasil peternakan Mery dan mitranya harus melalui tahap pengujian. Tahapan itu meliputi pencucian telur, pengujian dari bentuk dan tingkat keretakan, penyemprotan cairan antibakteri, serta uji laboratorium.

Kini, penjualan telur asin cap Sumber Telur sudah meluas, menjangkau ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Jabodetabek, Kalimantan, Bangka Belitung, dan Lampung. Di kegiatan pemasaran, Mery mendapat dukungan lebih dari 50 distributor sesuai standar distributor perusahaan.

"Mereka harus tahu kemauan konsumen, yang asin banget atau enggak terlalu asin. Distributor harus kenal betul dulu produknya," terangnya

Yang membuat Mery bertambah bangga, tiada diduga, pihak lain mengapresiasi kiprahnya. Awal tahun ini dia menjadi salah satu pemenang terbaik nasional untuk kategori Alumni dan Mahasiswa Pascasarjana dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri.

Sebagai ganjarannya, Mery mendapatkan penghargaan serta uang senilai Rp 50 juta sebagai dana pembinaan. Jika melihat perkembangan bisnisnya, tak mengherankan, perempuan bertubuh mungil ini sudah punya mimpi besar.

Dia berharap terus menambah agen penjualan hingga 100 dan merambah sampai kawasan Indonesia timur. Ambisi besar lainnya? "Membuat pabrik telur asin terbesar di Indonesia, juga membuat telur saya eksis di ASEAN," tutupnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba