Bisnis Online Real Surya Adhitama Lewat Aplikasi

Profil Pengusaha Theo Surya Adhitama


pengusaha bisnis teknologi
 
Ketika mendengar bisnis online real kita membayangkan simple. Jasa membuat website, desain logo, desain grafis atau marketing online. Tetapi bagi Theodosius Surya Adhitama lebih dari itu, bahwa bisnis online real bisa mencangkup lebih dari sekedar produk digital.

Ia menciptakan layanan via digital. Mendigitalisasi produk layanan hingga tersedia dimanapun. Theo berkisah dirinya memang cinta teknologi. Sudah menjadi passion -nya hingga menghasilkan pundi- pundi uang. Pria kelahiran Pati, 1983, keluarganya pedagang tradisional menjual kebutuhan sehari- hari.

Jadi dia memiliki pandangan bagaimana menjual barang. Soal ekonomi keluarga bisa dibilang dia berkecukupan. Theo bersekolah dengan mulus tanpa hambatan. Dia pun dibelikan barang elektronik dan teknologi terbaru.

"Peluang usaha di bidang ini cukup menjanjikan," ia melanjutkan. Padahal dulu dia hanya melihat ini sekedar hobi bukan usaha.

Berpikir Membuka Usaha


Theo sama sekali tidak berpikir membuka usaha. Sebagai mahasiswa, ia aktif berorganisasi terutama di Kelompok Pecinta Elektro (KPE). Ia menekuni embedded system. Sebelum dia mulai berpikir buat membuka usaha. Ia memilih fokus mengerjakan skripsi agar kuliahnya selesai.

Dia juga bekerja menjadi manajer promosi di Imprium factory outlet, Bandung. Bekerja sementara di sana, tetapi dia belajar banyak dari sang bos, Perry Tristianto. Inilah modalnya membangun kerajaan bisnis sendiri. Dia mulai memandang teknologi sebagai prospek bisnis masa depan.

Hasratnya mengotomatis layananan dan produk lewat teknologi. Dunia membutuhkan teknologi kita untuk berjalan. Dia yang menekuini embedded system, meyakini ini akan membawa perubahan baru. Bayangkan kamu tengah asik menikmati minuman, sementara mesin bekerja otomatis sendiri tanpa distir.

Seperti mesin cuci yang bisa mencuci dan bilas sendiri. Kamu cukup memasukan sabun cuci diterjen ke dalam. Contoh lain, ketika kamu ingin mengambil uang cepat, tak perlu mengantre tetapi langsung dari mesin ATM. Inilah bayangan pengusaha muda Theo, yang kala itu berada di tahun 2009- 2010.

Zaman dimana teknologi belum secanggih sekarang. Theo telah menginisiasi bisnis teknologi berupa aplikasi. Dia bersama rekannya, Joseph Stephanus Aditamaputra, membuka usaha yang bernama CV. Newtronic Solution bermodal Rp.50 juta.

Bisnis ini menjanjikan karena dalam tiga bulan omzetnya berlipat. Mereka menghasilkan miliaran rupiah, tiga sampai lima miliar pertahun dan untung bersih Rp.700- 1,2 miliar. Theo lulus Fakultas Teknik Elektro ITB tahun 2006, begitu lulus sudah berpenghasilan dan tak perlu melamar pekerjaan.

Ia berkisah tak mudah berbisnis ini. Tantangan pertama datang berupa pesanan sistem antrian untuk tiga bulan. Dalam kurun waktu tersebut, dia membuat riset desain, dan melalukan uji coba. Sebuah tantangan besar baginya untuk memenuhi kebutuhan klien dalam kurun waktu.

Kegagalan Usaha Sudah Biasa


Dia pernah tidak dibayar oleh klien yang ditangani. Proyek- proyek awal dianggap paling susah ya karena tidak berpengalamanan. Dalam 3 minggu hingga deadline, bahkan Theo dan kawannya belum selesai hingga memindahkan pesanan. Dia melempar pesanan tersebut ke perusahaan yang lain.

Ini memincu dirinya belajar lebih keras. Theo ingin produk pesanan selesai tepat waktu. Senyum dari klien dianggap nomor satu. Ia pun menagih menggunakan cara baik- baik. Harus menggunakan sistem kekeluargaan. Lalu CV. Newtronic Solution kembali membuat produk sistem antrean terbaik.

Theo memastikan pemimpin perusahaan bisa mengawasi pegawai. Ia juga membuat megatron untuk beriklan. Mentalnya yang ulet mampu memenuhi kebutuhan klien. Apa gunanya pendidikan tinggi jika tidak diimbangi kerja keras dan ulet.

"Sebagai pengusaha kita menjadi pemimpin diri kita sendiri. Itu lebih susah dari memipin orang lain bekerja," sarannya.

Kepada pengusaha muda sekarang harus menggeluti serius. Kuasai lah bidang yang kamu mulai, geluti bidang yang kamu senangi dan segmentasikan. Etos kerja harus dipupuk semenjak dini, kamu harus memiliki sifat melayani disamping selalu berinovasi.

Orang tua mengajari Theo untuk jujur dalam berbisnis. Dukungan mereka pada tahun- tahun awal begitu penting. Theo sempat jatuh karena kurang termotivasi. Pengusaha muda menurutnya harus memiliki sosok mentor. Baginya Perry Tristianto, merupakan mentor yang memotivasinya membuka usaha.

Ia menyadari bahwa bahwa teknisi kita masih lemah. Susah baginya mencari mereka yang kompetern di bidang ini. Teknologi selalu berkembang pesat melebihi peningkatan keahlian. Maka ia tak ragu mengajak kerja sama lembaga pendidikan.

"Buat saya, lebih mudah mencari bahan baku material dibanding sumber daya manusia," jelasnya.

Beberapa bahan baku memang masih impor. Tetapi Theo mengatakan masih bisa dipenuhi dari dalam negeri. Masalahnya ketika dia harus merekrut orang yang mampu, bagaimana mereka bisa menaruh teknologi tersebut dalam terapan.

Walau banyak orang berpikir DNA Theo merupakan pedagang. Kedua orang tuanya sudah mewarisi kemampuan itu. Penelitian lebih lanjut membuktikan tidak ada hubungan sama sekali. Wirausaha berasal dari prilaku keseharian, bagaimana kita bisa membangun koneksi dengan siapapun nanti.

Pendiri Sekolah Stella Maris STEMA Berwirausaha

Profil Pengusaha Pierre Sanjaya 


pendiri stella maris

Patut dicontoh pendiri sekolah Setella Maris, atau STEMA yang mengajarkan berwirausaha. Bahwa apapun bisnis kamu lakukan benar. Bisnis pendidikan masuk dari satu kategori yang menjanjikan di Indonesia, salah satu pengusaha muda yang berhasil adalah Pierre Sanjaya.

Memulai bisnis pendidikan bukan tanpa ilmu bisnis. Dia bukanlah jago sampai mendirikan sekolah bertaraf internasional. Semuanya berawal keprihatinan ibunya, yang prihatin akan pendidikan anak- anak yatim, ibu Pierre lah yang membuka sekolah cikal- bakal STEMA itu.

Cita- cita mulia ibunya berhasil membawa nama Stella Maris bersinar.  Apa itu sekolah Stella Maris? Stella Maris merupakan jaringan sekolah yang mengelola TK (taman kanak- kanak) hingga sekolah menengah atas (SMA).

Cikal bakal Stella Maris bermula lembaga yatim piatu, Padang Gembala. Sekarang, Stella Maris dibawah kepemimpinan Pierre, telah memiliki dua sekolah sendiri hingga dua sekolah waralaba. Di tahun 2010 saja, sekolah yang dikembangkan Pierre menghasilkan omset hingga Rp.100 miliar.

Bisnis pendidikan


Seperti Purdi E Chandra, nama Pierre Sanjaya memang menempati tempat khusu. Pasalnya dia merupakan pengembang bisnis pendidikan sangat jarang. Dimana dia juga mewaralabakan sekolahnya tersebut. Bukan tanpa halangan jalannya, ia harus berjuang keras yang semuanya dari nol besar.

Alam yang mengajarkan dan menempa bakat Pierre. Dia diharuskan tetap fokus di pendidikan tetap melakukan bisnis di sela- sela kesehariannya. Ayah dan ibu Pierre adalah orang yang mementingkan pendidikan, terutama ibunya pelopor Stella Maris.

Jadi ibu selalu mengingatkan Pierre untuk pendidikan dulu. Biar urusan mengelola sekolah menjadi urusannya. Tetapi Pierre tak mau tinggal diam dan berpangku tangan. Dari panti asuhan yang bernama Anak Gembala, sang ibu membangun Stella Maris di kawasan Serpong sekitar tahun 1995.

Ibu Pierre mulai dengan dua ruko; yang satu untuk umum, satu untuk anak yatim. Fokusnya kala itu hanya pendidikan TK dan SD belum menyangkup tingkatan lain. Tahun itu Pierre masih bersekolah SMA, dan berniat untuk membantu Ibunya.

Dia pun diserahi tanggung jawab membagi- bagikan brosur. Pierre juga memasangkan spanduk Stella Maris di pasar sampai pusat perbelanjaan.

"Selama enam bulan kami berpromosi secara tradisional. Syukur, responnya cukup bagus. Kami mendapatkan 200 murid," kenang pengusaha muda ini.

Setelah itu, dua ruko berkembang menjadi empat ruko, bahkan sampai delapan ruko di 1999. Sekolah Stelle Maris lalu merambah SMA dan SMP. Disaat kuliah akuntansi di Universitas Bina Nusantara mengambil jurusan akuntansi, Pierre diserahi tanggung jawab keuangan dan administrasi di Stella Maris.

"Saya padatkan kulai menjadi empat hari seminggu supaya bisa mengurus Stella Maris,"ujarnya.

Anak kedua dari dua bersaudara ini ditugaskan membenahi sistem informasi agar lebih mudah dan cepat pelaporannya. Lulus kuliah di 2001, ia memilih bekerja menjadi programer sekaligus pengurus Stella Maris.

Dia melanjutkan kuliah S-2 di Universitas Pelita Harapan mengambil jurusan Teknologi Pendidikan. Di bank Lippo, Pierre hanya bertahan satu tahun saja, kemudian pindah di PT. Rimba Dana sebagai pegawai system analysis selama satu tahun. Setelah itu sisinya ia konsentrai ke Stella Maris total.

Fokus Berwirausaha Sendiri


Selain sekolah formal di Stella Maris, ia juga punya bisnis pendidikan karakter, pendidikan karir, dan bisnis konsultan pendidikan. Namanya Asia One Consulting dan Success Academy Indonesia, yang telah telah membantu 20 sekolah di 2010 -an, yang diluar pengelolaan Stellah Maris.

Pierre pendiri Stella Maris terus berjuang. Di tahun 2004, sekolah Stella menggunakan sertifikat ISO 90001:2000. Ia melakukan studi banding hingga Singapura dan Australia. Pierre menggunakan sistem International Baccalaureate (IB) serta kurikulum Cambridge yang menitik beratkan kemampuan akademik.

Sekolah Stella sudah memiliki sekitar lebih dari 2.500 siswa. Pierre sukses dengan sekolahnya siap melakukan ekspansi. Dia mencoba masuk ke raah sekolah internasional. Bukan perkara mudah, ada dua hal mengganjal bisnisnya, pertama adalah mutu pengajar serta kurikulum.

Pierre melakukan perjalanan studi ke luar negeri sebagai solusi. Selain itu, ia mencoba mengajukan kredit pengembangan. Bukan pengusaha kalau tanpa masalah, inilah ujian lain yang dihadapi Pierre ketika telah berkembang pesat/

"Untuk membangun sekolah ini, kami membutuhkan modal puluhan miliar, aliran pendapatan tentunya tidak akan mencukupi," ujarnya, menceritakan proses panjang bisnis miliaran rupiah. Dia mencoba pinjam ke bank tapi ditolak.

Dua bank yang ditemuinya menolak proposal Pierre. Dia mulai belajar lagi, mencoba mengajukan kedua kalinya. Pierre belajar macam bisnis diminati oleh bank. Hasilnya, dia mendapatkan modal dari bank swasta, itu berkat melihat arus kas lancar dan jumlah murid terus bertambah.

Ia juga menemukan kendala lagi, setelah uang masuk, dia harus menghadapi warga karena lahan yang dibangun di kawasan Summarcon Serpong.

"Hanya karena kesalah pahaman, mereka mendemo. Tapi syukur, bisa diatasi." ucap Pierre.

Kesuksesan membuat beberapa berharap mewaralaba sekolah Stella Maris. Di 2004, pendiri Stella Maris merasa siap menerima resiko waralaba. Dia menargetkan 5 cabang dari waralaba. Salain pendidikan, dia juga memiliki bisnis jasa leasing sepeda motor besar, dan penjualan villa di Bali.

Apa Resiko Menjadi Pengusaha Bersama Brian

Profil Pengusaha Brian Arfi Faridh


resiko jadi pengusaha
 
Nama lengkap Brian Arfi Faridh, kelahiran 31 Mei 1986, Surabaya. Apa resiko menjadi pengusaha maka tanyalah dia. Ketika usianya 18tahun, Brian sudah berjualan parfum di depan kampus Institut Teknologi Sepuluh September (ITS).

Mahasiswa baru itu tidak malu ketika bertemu teman sefakultas. Mereka terkadang mencandaai Brian tetapi cuekin saja. Brian juga pernah berjualan jus pinggri jalan. Kalian tau satu- satunya yang bisa membuat Brian sedih: Ketika jualannya tidak laku, maka dia tidak akan mendapatkan keuntungan.

Dia orangnya tidak suka kekalahan. Maka begitu dirasa tidak berkembang dan terums merugi; Brian ganti profesi. Ia akan langsung mengganti jualan lain. "Sedih sih kalau gagal karena saya orangnya tidak suka kekalahan," ucapnya.

Pengusaha muda yang akan langsung bangkit ketika gagal. Kepribadiannya ialah pekerja keras dan konsisten. Tetapi Brian tidak suka pekerjaan ruti monoton. Mangkanya menjadi pengusaha dianggap solusi, pasalnya dia akan menemukan hal baru ketika menjajakan jualannya.

Kunci Sukses Konsisten


Meskipun dia berkali- kali bangkrut jualana. Dia sama sekali tidak menyerah. Dalam pikirannya tak berminat mencari pekerjaan. Brian juga tak pernah berpikir akan lulus kuliah. Menggali- gali ide baru berjualan merupakan passion -nya. Dia orang yang memiliki pandangan luas ke masa depan.

Ia juga berani menikah muda. Usianya 18 tahun sudah memiliki tanggungan, padahal dia pun belum selesai kuliah. "Kalau mau usaha tidak perlu mikir modal. Yang penting tekad kuat. Gila dan nekat," ua menjelaskan. Dia lalu membuka usaha toko online berbekal website buatan sendiri.

Brian membuka toko online baju muslimah. Ia juga membuka bisnis web developer. Cukup bermodal kemampuan istrinya sendiri, yang jago programer. Itu cukup bermodal sebuah komputer, printer, dan koneksi internet. Setelah itu dia langsung meluncurkan bisnis- bisnis tersebut ke khalayak.

"Modal lain, siap dimaki- maki konsumen, kerja keras dan harus memiliki mental juara," lanjutnya.

Target akhir 2010 bisnisnya semua berjalan lancar sesuai target. Agar dia bisa membawa istri dan anaknya pindah ke Jakarta. Dunia online Indonesia masih tumbuh terutama di Jakarta. Menurutnya disanalah ada peluang besar. Ia akan menyiapkan tenaga- tenaga ahli dibidangnya tersebut.

Menjadi pengusaha bukanlah mudah bagi orang- orang. Harus siap gagal lalu bangkit kembali untuk berjualan. Tidak semua orang bisa bertahan menjadi wirausaha terus. "Pengusaha harus siap bekerja keras, tidak gampang menyerah, harus memiliki mental juara dan siap dihina orang," jelasn Brian.

Menembus ajang Wirausaha Muda Mandiri dan menang. Bukan berarti dia selamanya menjadi sosok juara. Dalam sebuah kesempatan ketika membuka stan, Brian memajang piala ajang Wirausaha Muda Mandiri dan profil perusahaan. Dia pemilik PT. Dhezign Online Solution dan tidak selalu juara.

Ada seorang wanita bertanya- tanya mengenai perusahaan. Dia memuji Brian menang ajang besar dari Bank Mandiri. Bukannya menyombong, malahan dia mengakui data- datang yang terpajang itu salah. Loh, kok pemenang salah, ternyata ia mengakui data yang disampaikan tidak akurat tepat.

Tahun 2008 dia tercatat untung tetapi sebenarnya merugi bukan untung. "Loh, kok pemenang WMM bisnisnya merugi?" Brian menjawab, "Loh, Bu, namanya pengusaha harus berani merugi. Tahun lalu, kami untung dua kali lipat. Tapi karena kami melakukan ekspansi, kami merugi," jelasnya.

Apa sumber pendapatan Brian hingga menang ajang. Ia mendapatkan dari bisnis pakaian muslim dan konsultan online. Bisnis IT -nya mencangkup menolong orang mempromosikan bisnis. Biaya yang ditawarkan Rp.20 juta untuk membuat web, tapi Brian memberi garansi uang kembali bila tidak puas.

Jual Minuman Bandrek Kemasan Pengusaha Miliarder

Profil Pengusaha Toni Hadi


pengusaha bandrek online
 
Tak disangka jual minuman bandrek kemasan bisa hasilkan segini. Pengusaha miliarder disematkan kepada pria bernama Toni Hadiputra. Berkat ketekunan dan kerja keras bisa melebihi gaji kita. Toni juga tak sedikit mengorbankan diri. Nilai segitu pantas atas pengorbanannya membuka usaha.

Pria kelahiran 31 Januari 1979, nekat membuka usaha padahal sudah beberapa kali gagal. Dia baru sadar bahwa semua tak bisa dilakukan sendiri. Ia menyukai makan dan minuman tradisional. Padahal dia bukanlah orang jawa tulen, kedua orang tuanya tinggal di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Dia suka bandrek dan bajigur. "Bandrek dan bajigur sekarang susah dicari," ia mengenang. Maka pria yang berkuliah Teknik Manufaktur, Politeknik Manufaktur Bandung ini, mencoba untuk membuat sendiri. Awalnya dia samak sekali tidak berniat untuk menjual minuman ini.

Pengusaha Coba- Coba


Bermula dari dia yang menemukan 100 kilogram jahe. Ia yang berdagang membeli jahet untuk calon pembeli. Namun pembelian batal karena harga tidak disepakati. Toni awalnya ditawari Rp.32.000 per- kg. Eh begitu ada, sang pembeli malah minta murah, harganya diminta jadi Rp.25.000 per- kg.

Pembeli tersebut lalu mengancam tidak mau membeli. "Kalau tidak, ia tak mau beli. Saya tolak!" ia mengenang. Ia pun memutar otak untuk memanfaatkan jualan tak laku. Maka ia mencoba untuk bisa membuat bandrek.

Toni mulai mencari resep dari internet. Ia lalu meracik jahet dan lada. Tetapi bahan- bahannya malah kelebihan. "...sampai saya rasakan mulut saya terbakar, ha- ha- ha," Toni memperagakan pristiwa kalai itu. Kompososi pas barulah dia memproduksi bandrek tersebut, tetapi belum instan.

Toni menjelma menjadi pengusaha. Dia membuat minuman bandrek. Belakangan dia meracik bajigur instan. Usaha tersebut memproduksi 5000 dus perbulan, mberisi 120 kemasan berat 26 gram masing- masing. Berkat itu dia mendapatkan juaran II Wirausaha Muda Mandiri, Kategori Boga.

Dia mendapatkan hadiah Rp.20 juta dari ajang tersebut. Ia menggunakan uang tersebut untuk bonus dan gaji karyawan. Untuk kebutuhan bahan baku, dia membeli dari para petani baik bahan jahe, lada, dan cabai. Tahun 2007, dari kemasan kertas dirubah menjadi alumunium foil agar lebih tahan lama.

Walau sukses dia ternyata pernah melewati masa -mas sulit. Selain dia gagal menjadi pengusaha, juga pernah bekerja jadi staf perawatan pengecoran. Usaha yang pernah dia lalui menjadi agen penjualan mesin pengering. Ini cuma bermodal nekat dan kemauan sampai mencapai titik sukses sekarang.

Awal- awal dia membuat bandrek dan bajigur kemasan sendiri. Ia mendesain sendiri hingga didesain prefesional. Faktor desain dipercaya mampu meningkatkan penjualan mereka. Toni sadar dirinya tak bekerja sendiri. Pada awalnya dia mengalami keraguan apakah usaha yang dirintisnya berhasil.

Pencipta Jamur Crispy Wirausaha Muda Mandiri

Profil Pengusaha Tririan Artianto


penemu jamur crispy

Jauh sebelum "booming" nya bisnis jamur yang naik daun. Pencipta jamur crispy wirausaha muda mandiri, yang telah terlebih dahulu terkenal dari jaman now. Namanya Tririan Artianto, pemuda yang tercatat salah satu pemenang di ajang Wirausaha Muda Mandiri 2009 silam.

Kisah tersebut dimulai dari ketertarian Rian untuk berwirausaha. Bermula dari cerita- cerita mereka para pengusaha besar. Ia kagum karena jam kerja mereka tidak ketat. Sementara bisnis mereka bisa menghasilkan uang tanpa kehadiran mereka terus.

Kedua orang tua Rian hanyalah orang biasa. Ibunya bekerja sebagai guru, dan ayahnya bekerja di rumah sakit. Bayangan menjadi wirausahawan tidak ada dalam benak mereka. "Rencana saya baru jadi pengusaha setelah 30 tahun bekerja," ia menjelaskan.

Dia mau tetapi tidak cukup gila untuk nekat. Ryan tidak memiliki modal. Kedua orang tuanya lebih senang anaknya berkuliah. Maka Ryan lalu melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Telekomunikasi Telkom. Pada dasarnya ia memang berotak cerdas, ketika SMA pun sering mengikuti ekstrakulikuler.

Ketika dia kuliah juga mengikuti anaka macam kegiatan ekstra. Rian selalu membagi waktu antara kuliah dan berorganisasi. Tidak ada pandangan sedikitpun mengenai kewirausahaan lagi. Begitu kelar kuliah, ia langsung bekerja di sebuah perusahaan vendor telekomunikasi.

Mimpi yang tertunda


Ryan telah hidup normal sebagai pegawai perusahaan telekomunikasi. Dia bekerja untuk membangun jaringan 3G di Surabaya. Selama enam bulan gajinya bagus sehingga tidak perlu pusing. Sampai dirinya ditugaskan ke Makassar, Sulawesi Selatan. Ia naik jabatan menjadi wakil manajemen di sana.

Begitu dia akan dipindahkan ke Jakarta, Rian menolak dan memilih untuk tinggal di Makassar. Dia jujur tidak cocok dengan suasana di Jakarta. Kemudian ada lowongan ke Arab Saudi, itu yang membuka pandangan Rian. Mimpinya berangkat ke Arab untuk mendapatkan kehidupan lebih baik.

Lantas bagaimana dengan mimpi besarnya jadi pengusaha. Begitu menerima tawaran ke Arab Saudi, Ryan bersama teman berangkat ke sana. Ia nekat mengiyakan dengan kemampuan bahasa Inggris dan Arab pas- pasan. Dia berkata bekerja ke luar negeri menjadi salah satu keinginan lain.

Baru bekerja tiga bulan, satu dari tiga temannya merasa tak cocok bekerja di Arab Saudi, dan ingin pulang. Karena soladaritas ia ikutan pulang kembali ke Indonesia. Sialnya, begitu pulang otomatis dia pengangguran, dan kesusahan mendapatkan pekerjaan bergaji setara.

Gaji bekerja di perusahaan telekomunikasi terbilang besar. Bekerja di luar negeri tentu menghasilkan lebih banyak gaji. Begitu pulang ke Indonesia, Rian keteteran menemukan pekerjaan denga gaji yang setara. Ia yang memang suka membaca buku pengusaha, ditambah tabungan gaji seadanya; dia buka usaha!

Untuk memenuhi keinginan itu berangkatlah dia ke Surabaya. Ia menemui seorang kawan yang biasa mengolah jamur. Temannya bercerita menjadi penjual jamur di pasar sulit. Teman Rian beberapa kali mengeluh karena dagangannya tak laku. Umur efektif jamur cuma dua hari untuk diolah masakan.

Disisi lain, ada temannya yang mengolah jamur di Bandung, Rian juga ikut memodali dia walaupun gagal. Bisnis keripik jamur temannya memberikan motivasi untuk bkreasi. Rian pun cukup terkesan dengan usaha temannya, sampai- sampai ingin mencobanya di Surabaya.

Bukan perkara mudah dia menyadari bisnis keripik tak berhasil. Saat itu, di Surabaya sedang musim kentang goreng yang ditaburi bumbu. Rian lantas berpikir kenapa tidak diganti jamur. Inilah cikal pencipta jamur crispy. Dia langsung mengutarakan niatnya kepada sang teman pedagang jamur.

Temannya tersebut setuju untuk membantu Rian berbisnis. Mereka lalu mencari resep yang pas enak. Keduanya kemudian patungan dan terkumpul Rp.35 juta. Modal itu dibelikan stan, peralatan masak, dan bahan baku. Kemudian lahirlah jamur crispy yang kering dibalut mayones dan saos sambal.

Pencipta Jamur Crispy

Camilan jamur ini begitu populer di Surabaya pada 2010 -an. Dia membuat gorengan jamur lengkap dengan tepung goreng. Ryan kemudian memberi topping diatas jamur- jamur itu, mulai dari sambal mayones hingga saos sambal. Kudapan kreasi Ryan yang kemdian diberi nama Mushroom Factory.

Insinyur telekomunikasi yang semakin sukses berkat jamur. Dia mengembangkan produk olahan agar beda. Bukan membuat keripik jamur, dia memilih menggoreng dengan taburan aneka saos. Total ia mengantongi omzet Rp.80 juta sampai Rp.100 juta.

Nekat ia membuka satu gerai pada tahun 2008 silam. Bermula dari pembeli yang penasaran akan jualan Mushroom Factory. Hingga mereka yang akhirnya ketagihan buat membeli lagi. Harga satu porsinya masih Rp.7000 -an. Butuh cuma tiga bulan, Rian bisa membuka empat gerai berturut- turut.

Jujur dia tak paham namanya sistem waralaba. Itu karena memang jarang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Contohnya yang sukses juga terbatas itupun kurang menarik. Hingga munculah nama pemilik Baba Rafi, Hendy Setyono, yang menunjukan kita semua bisa sukses dimasa muda.

Mulai November 2009, ia menawarkan konsep kemitraan untuk Mushroom Factory. Alhasil dia bisa membuka cabang di kota lain. Ini sangat cepat sehingga membuat dia lumayan khawatir. Terutama bila melihat sasarannya membuka bisnsi premium.

Orang yang bergabung harusnya tidak sembarangan membuka. Ingin rasanya dia membuka gerai di mall seperti di Surabaya. Sayangnya biaya sewa bisa sangat mahal sampai Rp.7 juta perbulan. Ia juga khawatir soal standarisasi, karena ia cuma mensyaratkan 70:30 tanpa menganggu jalannya bisnis.

Rian mampu menggaet enam perwaralaba. Ia juga khawatir bila malah rekan pewaralabanya merugi. Maka pengusaha muda ini menghitung ulang rencana waralabanya. Untuk memasarkan waralaba, ia memanfaatkan website perusahaan, dan menjual lewat Facebook atau milist.

Rian tidak membuat keripik jamur, malahan mengemas ini menjadi jajanan premium. Dia mengemas produk Mushroom Factory agar premium. Tidak berhenti berkreasi, Rian yang sukses menyebut namanya Mushroom Factory, juga menyajikan enoki, brokoli, bawang bombay, dan lainnya.

Walau bisnis tersebut berjalan tetapi belum diakui. Butuh setahun hingga ia bisa meyakinkan kedua orang tua. Anggapan bahwa jadi pengusaha naik turun menkhawatirkan. "Apalagi setelah bisnis saya masuk koran dan televisi," ia senang, akhirnya dia bisa meyakinkan kedua orang tuanya itu.

Orang terlanjut mencap pengusaha hidupnya naik- turun. Mereka mengaggap pengusaha memiliki pendapatan tak stabil. Dia bertahan dengan memperbanyak varian produk. Rian mulai menjual sosis dan nugget, yang kesemuanya berbahan sama yakni jamur.

Merambah Bisnis Lain


Menjalankan usaha tanpa sepengetahuan orang tua. Rian lebih memilih untuk bilang masih bekerja di perusahaan. Padahal bisnisnya menghasilkan uang yang cukup besar. Bahkan melebihi apa yang dia dapatkan dulu. Orang tuanya tak sanggup mengetahui anaknya bukan pegawai perusahaan.

Mereka selalu menyuruh Ryan mencari pekerjaan. Dia berpura- pura bekerja di perusahaan. Padahal dia seharian mengurusi Mushroom Factory. Penolakan orang tua bukanlah hambatan Ryan berkarya. Menurutnya hambatan terbesar ialah pola pikirnya yang masih pegawai.

Mushroom Factory berjalan baik hingga Rian percaya diri. Ia pun memberi tau kedua orang tuanya. Berkat bukti berita koran dan televisi, dia mampu meyakinkan kedua orang tuanya untuk menjadi pengusaha. Mendapatkan restu bisnis Rian semakin moncer dengan aneka inovasi.

Ia menganalogikan pengusaha sebagai perenang. Belajar tekstual saja tidak cukup, orang butuh untuk terjun langsung berbisnis. Kesulitan finansial bukanlah hal baru bagi wirausahawan. Dia pernah kesulitan uang sewa tempat. Uang tabungan menikah pun dijadikan taruhan untuk menyewa tempat.

Usaha berkembang pesat sampai dia bisa membuka cabang. Begitu memakai konsep waralaba, bisnis Mushroom  Factory seperti terbang. Ryan sekarang bisa membuka usaha lain sebagai tambahan. Dia meniru pengusah lain, bahwa satu bisnis bisa tidak cukup yang terpenting ada kemauan.

Rian melebarkan sayapnya menjadi produsen dan ditributor jajanan. Produk bernama keripik jamur Tiramizzu. Keripik jamur yang diapresiasi masyarakat dengan baik. Bulan pertama produksi, dia maemproduksi 1000 kemasan keripik, yang dijual ke seluruh Indonesia seharga Rp.12.000.

Tak berhenti berjualan jamur saja tetapi produk lain. Rian merambah menjadi agen sendal, investasi telekomunikasi, dan memiliki 6 gerai waralaba outlet teh poci. Lalu dia berencana menyulap tanah didekat rumahnya menjadi pesantren wirausaha.

Ia betah menjadi pengusaha. Meskipun masih banyak orang menawari dia bekerja. Justru ketika dia menganggur susah dapat pekerjaan. Sekarang dia malah ditawari pekerjaan bidang telekomunikasi, bahkan sampai ke luar negeri dengan gaji tinggi, tetapi tetap gaji sebagai pengusaha lebih banyak.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba