Pendiri Sekolah Stella Maris STEMA Berwirausaha

Profil Pengusaha Pierre Sanjaya 


pendiri stella maris

Patut dicontoh pendiri sekolah Setella Maris, atau STEMA yang mengajarkan berwirausaha. Bahwa apapun bisnis kamu lakukan benar. Bisnis pendidikan masuk dari satu kategori yang menjanjikan di Indonesia, salah satu pengusaha muda yang berhasil adalah Pierre Sanjaya.

Memulai bisnis pendidikan bukan tanpa ilmu bisnis. Dia bukanlah jago sampai mendirikan sekolah bertaraf internasional. Semuanya berawal keprihatinan ibunya, yang prihatin akan pendidikan anak- anak yatim, ibu Pierre lah yang membuka sekolah cikal- bakal STEMA itu.

Cita- cita mulia ibunya berhasil membawa nama Stella Maris bersinar.  Apa itu sekolah Stella Maris? Stella Maris merupakan jaringan sekolah yang mengelola TK (taman kanak- kanak) hingga sekolah menengah atas (SMA).

Cikal bakal Stella Maris bermula lembaga yatim piatu, Padang Gembala. Sekarang, Stella Maris dibawah kepemimpinan Pierre, telah memiliki dua sekolah sendiri hingga dua sekolah waralaba. Di tahun 2010 saja, sekolah yang dikembangkan Pierre menghasilkan omset hingga Rp.100 miliar.

Bisnis pendidikan


Seperti Purdi E Chandra, nama Pierre Sanjaya memang menempati tempat khusu. Pasalnya dia merupakan pengembang bisnis pendidikan sangat jarang. Dimana dia juga mewaralabakan sekolahnya tersebut. Bukan tanpa halangan jalannya, ia harus berjuang keras yang semuanya dari nol besar.

Alam yang mengajarkan dan menempa bakat Pierre. Dia diharuskan tetap fokus di pendidikan tetap melakukan bisnis di sela- sela kesehariannya. Ayah dan ibu Pierre adalah orang yang mementingkan pendidikan, terutama ibunya pelopor Stella Maris.

Jadi ibu selalu mengingatkan Pierre untuk pendidikan dulu. Biar urusan mengelola sekolah menjadi urusannya. Tetapi Pierre tak mau tinggal diam dan berpangku tangan. Dari panti asuhan yang bernama Anak Gembala, sang ibu membangun Stella Maris di kawasan Serpong sekitar tahun 1995.

Ibu Pierre mulai dengan dua ruko; yang satu untuk umum, satu untuk anak yatim. Fokusnya kala itu hanya pendidikan TK dan SD belum menyangkup tingkatan lain. Tahun itu Pierre masih bersekolah SMA, dan berniat untuk membantu Ibunya.

Dia pun diserahi tanggung jawab membagi- bagikan brosur. Pierre juga memasangkan spanduk Stella Maris di pasar sampai pusat perbelanjaan.

"Selama enam bulan kami berpromosi secara tradisional. Syukur, responnya cukup bagus. Kami mendapatkan 200 murid," kenang pengusaha muda ini.

Setelah itu, dua ruko berkembang menjadi empat ruko, bahkan sampai delapan ruko di 1999. Sekolah Stelle Maris lalu merambah SMA dan SMP. Disaat kuliah akuntansi di Universitas Bina Nusantara mengambil jurusan akuntansi, Pierre diserahi tanggung jawab keuangan dan administrasi di Stella Maris.

"Saya padatkan kulai menjadi empat hari seminggu supaya bisa mengurus Stella Maris,"ujarnya.

Anak kedua dari dua bersaudara ini ditugaskan membenahi sistem informasi agar lebih mudah dan cepat pelaporannya. Lulus kuliah di 2001, ia memilih bekerja menjadi programer sekaligus pengurus Stella Maris.

Dia melanjutkan kuliah S-2 di Universitas Pelita Harapan mengambil jurusan Teknologi Pendidikan. Di bank Lippo, Pierre hanya bertahan satu tahun saja, kemudian pindah di PT. Rimba Dana sebagai pegawai system analysis selama satu tahun. Setelah itu sisinya ia konsentrai ke Stella Maris total.

Fokus Berwirausaha Sendiri


Selain sekolah formal di Stella Maris, ia juga punya bisnis pendidikan karakter, pendidikan karir, dan bisnis konsultan pendidikan. Namanya Asia One Consulting dan Success Academy Indonesia, yang telah telah membantu 20 sekolah di 2010 -an, yang diluar pengelolaan Stellah Maris.

Pierre pendiri Stella Maris terus berjuang. Di tahun 2004, sekolah Stella menggunakan sertifikat ISO 90001:2000. Ia melakukan studi banding hingga Singapura dan Australia. Pierre menggunakan sistem International Baccalaureate (IB) serta kurikulum Cambridge yang menitik beratkan kemampuan akademik.

Sekolah Stella sudah memiliki sekitar lebih dari 2.500 siswa. Pierre sukses dengan sekolahnya siap melakukan ekspansi. Dia mencoba masuk ke raah sekolah internasional. Bukan perkara mudah, ada dua hal mengganjal bisnisnya, pertama adalah mutu pengajar serta kurikulum.

Pierre melakukan perjalanan studi ke luar negeri sebagai solusi. Selain itu, ia mencoba mengajukan kredit pengembangan. Bukan pengusaha kalau tanpa masalah, inilah ujian lain yang dihadapi Pierre ketika telah berkembang pesat/

"Untuk membangun sekolah ini, kami membutuhkan modal puluhan miliar, aliran pendapatan tentunya tidak akan mencukupi," ujarnya, menceritakan proses panjang bisnis miliaran rupiah. Dia mencoba pinjam ke bank tapi ditolak.

Dua bank yang ditemuinya menolak proposal Pierre. Dia mulai belajar lagi, mencoba mengajukan kedua kalinya. Pierre belajar macam bisnis diminati oleh bank. Hasilnya, dia mendapatkan modal dari bank swasta, itu berkat melihat arus kas lancar dan jumlah murid terus bertambah.

Ia juga menemukan kendala lagi, setelah uang masuk, dia harus menghadapi warga karena lahan yang dibangun di kawasan Summarcon Serpong.

"Hanya karena kesalah pahaman, mereka mendemo. Tapi syukur, bisa diatasi." ucap Pierre.

Kesuksesan membuat beberapa berharap mewaralaba sekolah Stella Maris. Di 2004, pendiri Stella Maris merasa siap menerima resiko waralaba. Dia menargetkan 5 cabang dari waralaba. Salain pendidikan, dia juga memiliki bisnis jasa leasing sepeda motor besar, dan penjualan villa di Bali.

Apa Resiko Menjadi Pengusaha Bersama Brian

Profil Pengusaha Brian Arfi Faridh


resiko jadi pengusaha
 
Nama lengkap Brian Arfi Faridh, kelahiran 31 Mei 1986, Surabaya. Apa resiko menjadi pengusaha maka tanyalah dia. Ketika usianya 18tahun, Brian sudah berjualan parfum di depan kampus Institut Teknologi Sepuluh September (ITS).

Mahasiswa baru itu tidak malu ketika bertemu teman sefakultas. Mereka terkadang mencandaai Brian tetapi cuekin saja. Brian juga pernah berjualan jus pinggri jalan. Kalian tau satu- satunya yang bisa membuat Brian sedih: Ketika jualannya tidak laku, maka dia tidak akan mendapatkan keuntungan.

Dia orangnya tidak suka kekalahan. Maka begitu dirasa tidak berkembang dan terums merugi; Brian ganti profesi. Ia akan langsung mengganti jualan lain. "Sedih sih kalau gagal karena saya orangnya tidak suka kekalahan," ucapnya.

Pengusaha muda yang akan langsung bangkit ketika gagal. Kepribadiannya ialah pekerja keras dan konsisten. Tetapi Brian tidak suka pekerjaan ruti monoton. Mangkanya menjadi pengusaha dianggap solusi, pasalnya dia akan menemukan hal baru ketika menjajakan jualannya.

Kunci Sukses Konsisten


Meskipun dia berkali- kali bangkrut jualana. Dia sama sekali tidak menyerah. Dalam pikirannya tak berminat mencari pekerjaan. Brian juga tak pernah berpikir akan lulus kuliah. Menggali- gali ide baru berjualan merupakan passion -nya. Dia orang yang memiliki pandangan luas ke masa depan.

Ia juga berani menikah muda. Usianya 18 tahun sudah memiliki tanggungan, padahal dia pun belum selesai kuliah. "Kalau mau usaha tidak perlu mikir modal. Yang penting tekad kuat. Gila dan nekat," ua menjelaskan. Dia lalu membuka usaha toko online berbekal website buatan sendiri.

Brian membuka toko online baju muslimah. Ia juga membuka bisnis web developer. Cukup bermodal kemampuan istrinya sendiri, yang jago programer. Itu cukup bermodal sebuah komputer, printer, dan koneksi internet. Setelah itu dia langsung meluncurkan bisnis- bisnis tersebut ke khalayak.

"Modal lain, siap dimaki- maki konsumen, kerja keras dan harus memiliki mental juara," lanjutnya.

Target akhir 2010 bisnisnya semua berjalan lancar sesuai target. Agar dia bisa membawa istri dan anaknya pindah ke Jakarta. Dunia online Indonesia masih tumbuh terutama di Jakarta. Menurutnya disanalah ada peluang besar. Ia akan menyiapkan tenaga- tenaga ahli dibidangnya tersebut.

Menjadi pengusaha bukanlah mudah bagi orang- orang. Harus siap gagal lalu bangkit kembali untuk berjualan. Tidak semua orang bisa bertahan menjadi wirausaha terus. "Pengusaha harus siap bekerja keras, tidak gampang menyerah, harus memiliki mental juara dan siap dihina orang," jelasn Brian.

Menembus ajang Wirausaha Muda Mandiri dan menang. Bukan berarti dia selamanya menjadi sosok juara. Dalam sebuah kesempatan ketika membuka stan, Brian memajang piala ajang Wirausaha Muda Mandiri dan profil perusahaan. Dia pemilik PT. Dhezign Online Solution dan tidak selalu juara.

Ada seorang wanita bertanya- tanya mengenai perusahaan. Dia memuji Brian menang ajang besar dari Bank Mandiri. Bukannya menyombong, malahan dia mengakui data- datang yang terpajang itu salah. Loh, kok pemenang salah, ternyata ia mengakui data yang disampaikan tidak akurat tepat.

Tahun 2008 dia tercatat untung tetapi sebenarnya merugi bukan untung. "Loh, kok pemenang WMM bisnisnya merugi?" Brian menjawab, "Loh, Bu, namanya pengusaha harus berani merugi. Tahun lalu, kami untung dua kali lipat. Tapi karena kami melakukan ekspansi, kami merugi," jelasnya.

Apa sumber pendapatan Brian hingga menang ajang. Ia mendapatkan dari bisnis pakaian muslim dan konsultan online. Bisnis IT -nya mencangkup menolong orang mempromosikan bisnis. Biaya yang ditawarkan Rp.20 juta untuk membuat web, tapi Brian memberi garansi uang kembali bila tidak puas.

Jual Minuman Bandrek Kemasan Pengusaha Miliarder

Profil Pengusaha Toni Hadi


pengusaha bandrek online
 
Tak disangka jual minuman bandrek kemasan bisa hasilkan segini. Pengusaha miliarder disematkan kepada pria bernama Toni Hadiputra. Berkat ketekunan dan kerja keras bisa melebihi gaji kita. Toni juga tak sedikit mengorbankan diri. Nilai segitu pantas atas pengorbanannya membuka usaha.

Pria kelahiran 31 Januari 1979, nekat membuka usaha padahal sudah beberapa kali gagal. Dia baru sadar bahwa semua tak bisa dilakukan sendiri. Ia menyukai makan dan minuman tradisional. Padahal dia bukanlah orang jawa tulen, kedua orang tuanya tinggal di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Dia suka bandrek dan bajigur. "Bandrek dan bajigur sekarang susah dicari," ia mengenang. Maka pria yang berkuliah Teknik Manufaktur, Politeknik Manufaktur Bandung ini, mencoba untuk membuat sendiri. Awalnya dia samak sekali tidak berniat untuk menjual minuman ini.

Pengusaha Coba- Coba


Bermula dari dia yang menemukan 100 kilogram jahe. Ia yang berdagang membeli jahet untuk calon pembeli. Namun pembelian batal karena harga tidak disepakati. Toni awalnya ditawari Rp.32.000 per- kg. Eh begitu ada, sang pembeli malah minta murah, harganya diminta jadi Rp.25.000 per- kg.

Pembeli tersebut lalu mengancam tidak mau membeli. "Kalau tidak, ia tak mau beli. Saya tolak!" ia mengenang. Ia pun memutar otak untuk memanfaatkan jualan tak laku. Maka ia mencoba untuk bisa membuat bandrek.

Toni mulai mencari resep dari internet. Ia lalu meracik jahet dan lada. Tetapi bahan- bahannya malah kelebihan. "...sampai saya rasakan mulut saya terbakar, ha- ha- ha," Toni memperagakan pristiwa kalai itu. Kompososi pas barulah dia memproduksi bandrek tersebut, tetapi belum instan.

Toni menjelma menjadi pengusaha. Dia membuat minuman bandrek. Belakangan dia meracik bajigur instan. Usaha tersebut memproduksi 5000 dus perbulan, mberisi 120 kemasan berat 26 gram masing- masing. Berkat itu dia mendapatkan juaran II Wirausaha Muda Mandiri, Kategori Boga.

Dia mendapatkan hadiah Rp.20 juta dari ajang tersebut. Ia menggunakan uang tersebut untuk bonus dan gaji karyawan. Untuk kebutuhan bahan baku, dia membeli dari para petani baik bahan jahe, lada, dan cabai. Tahun 2007, dari kemasan kertas dirubah menjadi alumunium foil agar lebih tahan lama.

Walau sukses dia ternyata pernah melewati masa -mas sulit. Selain dia gagal menjadi pengusaha, juga pernah bekerja jadi staf perawatan pengecoran. Usaha yang pernah dia lalui menjadi agen penjualan mesin pengering. Ini cuma bermodal nekat dan kemauan sampai mencapai titik sukses sekarang.

Awal- awal dia membuat bandrek dan bajigur kemasan sendiri. Ia mendesain sendiri hingga didesain prefesional. Faktor desain dipercaya mampu meningkatkan penjualan mereka. Toni sadar dirinya tak bekerja sendiri. Pada awalnya dia mengalami keraguan apakah usaha yang dirintisnya berhasil.

Pencipta Jamur Crispy Wirausaha Muda Mandiri

Profil Pengusaha Tririan Artianto


penemu jamur crispy

Jauh sebelum "booming" nya bisnis jamur yang naik daun. Pencipta jamur crispy wirausaha muda mandiri, yang telah terlebih dahulu terkenal dari jaman now. Namanya Tririan Artianto, pemuda yang tercatat salah satu pemenang di ajang Wirausaha Muda Mandiri 2009 silam.

Kisah tersebut dimulai dari ketertarian Rian untuk berwirausaha. Bermula dari cerita- cerita mereka para pengusaha besar. Ia kagum karena jam kerja mereka tidak ketat. Sementara bisnis mereka bisa menghasilkan uang tanpa kehadiran mereka terus.

Kedua orang tua Rian hanyalah orang biasa. Ibunya bekerja sebagai guru, dan ayahnya bekerja di rumah sakit. Bayangan menjadi wirausahawan tidak ada dalam benak mereka. "Rencana saya baru jadi pengusaha setelah 30 tahun bekerja," ia menjelaskan.

Dia mau tetapi tidak cukup gila untuk nekat. Ryan tidak memiliki modal. Kedua orang tuanya lebih senang anaknya berkuliah. Maka Ryan lalu melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Telekomunikasi Telkom. Pada dasarnya ia memang berotak cerdas, ketika SMA pun sering mengikuti ekstrakulikuler.

Ketika dia kuliah juga mengikuti anaka macam kegiatan ekstra. Rian selalu membagi waktu antara kuliah dan berorganisasi. Tidak ada pandangan sedikitpun mengenai kewirausahaan lagi. Begitu kelar kuliah, ia langsung bekerja di sebuah perusahaan vendor telekomunikasi.

Mimpi yang tertunda


Ryan telah hidup normal sebagai pegawai perusahaan telekomunikasi. Dia bekerja untuk membangun jaringan 3G di Surabaya. Selama enam bulan gajinya bagus sehingga tidak perlu pusing. Sampai dirinya ditugaskan ke Makassar, Sulawesi Selatan. Ia naik jabatan menjadi wakil manajemen di sana.

Begitu dia akan dipindahkan ke Jakarta, Rian menolak dan memilih untuk tinggal di Makassar. Dia jujur tidak cocok dengan suasana di Jakarta. Kemudian ada lowongan ke Arab Saudi, itu yang membuka pandangan Rian. Mimpinya berangkat ke Arab untuk mendapatkan kehidupan lebih baik.

Lantas bagaimana dengan mimpi besarnya jadi pengusaha. Begitu menerima tawaran ke Arab Saudi, Ryan bersama teman berangkat ke sana. Ia nekat mengiyakan dengan kemampuan bahasa Inggris dan Arab pas- pasan. Dia berkata bekerja ke luar negeri menjadi salah satu keinginan lain.

Baru bekerja tiga bulan, satu dari tiga temannya merasa tak cocok bekerja di Arab Saudi, dan ingin pulang. Karena soladaritas ia ikutan pulang kembali ke Indonesia. Sialnya, begitu pulang otomatis dia pengangguran, dan kesusahan mendapatkan pekerjaan bergaji setara.

Gaji bekerja di perusahaan telekomunikasi terbilang besar. Bekerja di luar negeri tentu menghasilkan lebih banyak gaji. Begitu pulang ke Indonesia, Rian keteteran menemukan pekerjaan denga gaji yang setara. Ia yang memang suka membaca buku pengusaha, ditambah tabungan gaji seadanya; dia buka usaha!

Untuk memenuhi keinginan itu berangkatlah dia ke Surabaya. Ia menemui seorang kawan yang biasa mengolah jamur. Temannya bercerita menjadi penjual jamur di pasar sulit. Teman Rian beberapa kali mengeluh karena dagangannya tak laku. Umur efektif jamur cuma dua hari untuk diolah masakan.

Disisi lain, ada temannya yang mengolah jamur di Bandung, Rian juga ikut memodali dia walaupun gagal. Bisnis keripik jamur temannya memberikan motivasi untuk bkreasi. Rian pun cukup terkesan dengan usaha temannya, sampai- sampai ingin mencobanya di Surabaya.

Bukan perkara mudah dia menyadari bisnis keripik tak berhasil. Saat itu, di Surabaya sedang musim kentang goreng yang ditaburi bumbu. Rian lantas berpikir kenapa tidak diganti jamur. Inilah cikal pencipta jamur crispy. Dia langsung mengutarakan niatnya kepada sang teman pedagang jamur.

Temannya tersebut setuju untuk membantu Rian berbisnis. Mereka lalu mencari resep yang pas enak. Keduanya kemudian patungan dan terkumpul Rp.35 juta. Modal itu dibelikan stan, peralatan masak, dan bahan baku. Kemudian lahirlah jamur crispy yang kering dibalut mayones dan saos sambal.

Pencipta Jamur Crispy

Camilan jamur ini begitu populer di Surabaya pada 2010 -an. Dia membuat gorengan jamur lengkap dengan tepung goreng. Ryan kemudian memberi topping diatas jamur- jamur itu, mulai dari sambal mayones hingga saos sambal. Kudapan kreasi Ryan yang kemdian diberi nama Mushroom Factory.

Insinyur telekomunikasi yang semakin sukses berkat jamur. Dia mengembangkan produk olahan agar beda. Bukan membuat keripik jamur, dia memilih menggoreng dengan taburan aneka saos. Total ia mengantongi omzet Rp.80 juta sampai Rp.100 juta.

Nekat ia membuka satu gerai pada tahun 2008 silam. Bermula dari pembeli yang penasaran akan jualan Mushroom Factory. Hingga mereka yang akhirnya ketagihan buat membeli lagi. Harga satu porsinya masih Rp.7000 -an. Butuh cuma tiga bulan, Rian bisa membuka empat gerai berturut- turut.

Jujur dia tak paham namanya sistem waralaba. Itu karena memang jarang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Contohnya yang sukses juga terbatas itupun kurang menarik. Hingga munculah nama pemilik Baba Rafi, Hendy Setyono, yang menunjukan kita semua bisa sukses dimasa muda.

Mulai November 2009, ia menawarkan konsep kemitraan untuk Mushroom Factory. Alhasil dia bisa membuka cabang di kota lain. Ini sangat cepat sehingga membuat dia lumayan khawatir. Terutama bila melihat sasarannya membuka bisnsi premium.

Orang yang bergabung harusnya tidak sembarangan membuka. Ingin rasanya dia membuka gerai di mall seperti di Surabaya. Sayangnya biaya sewa bisa sangat mahal sampai Rp.7 juta perbulan. Ia juga khawatir soal standarisasi, karena ia cuma mensyaratkan 70:30 tanpa menganggu jalannya bisnis.

Rian mampu menggaet enam perwaralaba. Ia juga khawatir bila malah rekan pewaralabanya merugi. Maka pengusaha muda ini menghitung ulang rencana waralabanya. Untuk memasarkan waralaba, ia memanfaatkan website perusahaan, dan menjual lewat Facebook atau milist.

Rian tidak membuat keripik jamur, malahan mengemas ini menjadi jajanan premium. Dia mengemas produk Mushroom Factory agar premium. Tidak berhenti berkreasi, Rian yang sukses menyebut namanya Mushroom Factory, juga menyajikan enoki, brokoli, bawang bombay, dan lainnya.

Walau bisnis tersebut berjalan tetapi belum diakui. Butuh setahun hingga ia bisa meyakinkan kedua orang tua. Anggapan bahwa jadi pengusaha naik turun menkhawatirkan. "Apalagi setelah bisnis saya masuk koran dan televisi," ia senang, akhirnya dia bisa meyakinkan kedua orang tuanya itu.

Orang terlanjut mencap pengusaha hidupnya naik- turun. Mereka mengaggap pengusaha memiliki pendapatan tak stabil. Dia bertahan dengan memperbanyak varian produk. Rian mulai menjual sosis dan nugget, yang kesemuanya berbahan sama yakni jamur.

Merambah Bisnis Lain


Menjalankan usaha tanpa sepengetahuan orang tua. Rian lebih memilih untuk bilang masih bekerja di perusahaan. Padahal bisnisnya menghasilkan uang yang cukup besar. Bahkan melebihi apa yang dia dapatkan dulu. Orang tuanya tak sanggup mengetahui anaknya bukan pegawai perusahaan.

Mereka selalu menyuruh Ryan mencari pekerjaan. Dia berpura- pura bekerja di perusahaan. Padahal dia seharian mengurusi Mushroom Factory. Penolakan orang tua bukanlah hambatan Ryan berkarya. Menurutnya hambatan terbesar ialah pola pikirnya yang masih pegawai.

Mushroom Factory berjalan baik hingga Rian percaya diri. Ia pun memberi tau kedua orang tuanya. Berkat bukti berita koran dan televisi, dia mampu meyakinkan kedua orang tuanya untuk menjadi pengusaha. Mendapatkan restu bisnis Rian semakin moncer dengan aneka inovasi.

Ia menganalogikan pengusaha sebagai perenang. Belajar tekstual saja tidak cukup, orang butuh untuk terjun langsung berbisnis. Kesulitan finansial bukanlah hal baru bagi wirausahawan. Dia pernah kesulitan uang sewa tempat. Uang tabungan menikah pun dijadikan taruhan untuk menyewa tempat.

Usaha berkembang pesat sampai dia bisa membuka cabang. Begitu memakai konsep waralaba, bisnis Mushroom  Factory seperti terbang. Ryan sekarang bisa membuka usaha lain sebagai tambahan. Dia meniru pengusah lain, bahwa satu bisnis bisa tidak cukup yang terpenting ada kemauan.

Rian melebarkan sayapnya menjadi produsen dan ditributor jajanan. Produk bernama keripik jamur Tiramizzu. Keripik jamur yang diapresiasi masyarakat dengan baik. Bulan pertama produksi, dia maemproduksi 1000 kemasan keripik, yang dijual ke seluruh Indonesia seharga Rp.12.000.

Tak berhenti berjualan jamur saja tetapi produk lain. Rian merambah menjadi agen sendal, investasi telekomunikasi, dan memiliki 6 gerai waralaba outlet teh poci. Lalu dia berencana menyulap tanah didekat rumahnya menjadi pesantren wirausaha.

Ia betah menjadi pengusaha. Meskipun masih banyak orang menawari dia bekerja. Justru ketika dia menganggur susah dapat pekerjaan. Sekarang dia malah ditawari pekerjaan bidang telekomunikasi, bahkan sampai ke luar negeri dengan gaji tinggi, tetapi tetap gaji sebagai pengusaha lebih banyak.

Erwin Aksa Mental Pengusaha Sejak Kecil

Biografi Pengusaha Erwin Aksa


biografi erwin aksa

Biografi Erwin Aksa, bernama lengkp Erwin Aksa Mahmud, kelahiran Ujung Pandang, 7 Desember 1975. Ia selalu mengingat bahwa bisnis dan pengusaha merupakan bagian hidupnya. Ayahnya, Aksa Mahmud, adalah orang terkaya ke 34 versi Forbes di 2013, memberikan ketegasan dan disiplin tinggi.

Erwin kecil marasakan itu, bukanlah sesuatu yang mudah harus ikutan berkantor sejak dini. Di masa kecilnya, dia merasakan betul bagaimana tekanan sang ayah, ia harus mencontoh sosok ayahnya yang baik sebagai pengusaha dan pribadi. 

Baginya ayahnya merupakan tokoh yang inspiratif, selain itu dia pernah menjabat ketua HIPMI dua kali. Erwin yang memiliki sifat suka menerima tantangan membuatnya aktif berorganisasi. Terkahir, ia tercatat sebagai ketua HIPMI dari Sulawesi Selatan mengikuti jejak ayahnya.

"Ya. Dengan bismiallah, memohon petunjuk dan kekuatan dari Allah; saya terima amanah ini" ujar Erwin,  ujar Erwin, penggemar otomotif dan sop konro ini.

Anak Orang Kaya


Mungkin dia anak orang kaya tetapi tidak sembarangan. Erwin telah memulai dari bawah di Bosowa Corp. Di 1997, ia bekerja jadi executive director & deputy VPD PT. Semen Bosowa Maros, perlahan tapi pasti karirnya menanjak. Dia berusaha menunjukan kemampuan terbaiknya di bisnis.

Erwin muda merupakan lulusan universitas Pittsburgh, Pennsylvania USA, akhirnya resmi menjadi direktur utama di PT. Bosowa Energy. Dia meneruskan karirnya sebagai pengganti sang ayah sendiri. Dia merupakan sosok yang pantas jadi direktur utama Bosowa Corporation.

Ayah tiga anak yang menunjukan bakat alami. Melalui Bosowa, ia mampu merubah bisnis berkali- kali lipat. Bosowa Corp merupakan perusahaan yang bermula dari perusahaan di bidang perdagangan umum, lalu CV. Moneter didirikan di Sulawesi Selatan, pada 22 Februari 1973 oleh Aksa Mahmud.

Pada 1978, perusahaan ini mendapatkan hak ekslusive untuk menangani pemasaran Datsun. Ini adalah merek mobil buatan dari Jepang tersebut diperuntukan untuk kawasan Indonesia Timur. Di tahun yang sama, di tahun 1973, Perusahaan berubah nama menjadi PT. Monetera Motor.

Kesuksesan tersebut semakin menjadi dengan pengakuan lainnya. PT. Monetera Motor mendapatkan kesempatan untuk memegang merek Mitsubishi wilayah Timur. Selanjutnya, perusahaan kembali berubah nama jadi PT. Bosowa Berlian Motor, dan menjadi tonggak penting bagi dirinya.

Berdirinya Bosowa yang berbisnis tidak hanya mobil. Bosowa adalah singkatan nama dari tiga kabupaten di Sulawesi Selatan, yakni Bone, Soppeng dan Wajo, semuanya wilayah Bugis. Dia yang menjadi direktur utama bukanlah karbitan, tapi benar- benar serius mengeluti bisnis.

Ia mendapatkan pengkaderan secara langsung bahkan dikabarkan hingga kabur dari rumah. Tapi, malalui itu pula, Erwin belajar lobi bisnis, negoisasi, sopan santun, kepemimpinan bisnis dan sosial.

 "Saya mau fokus pada bisnis inti yang prospektif saja. Makanya, kami melakukan regrouping menjadi cukup enam bisnis inti saja. Industri kelautan saya tidak masukkan sebagai bisnis inti Bosowa. Pertambakan ikan dan udang serta rumput laut, kami jadikan sebagai usaha pengembangan masyarakat, community development, supaya keberadaan Bosowa bisa benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat," ucapnya

Didikan Pengusaha Sejak Dini


Erwin pdiangkat menjadi ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Indonesia), ia sangat fokal dalam hal usaha kecil dan menengah. Dia melalui HIPMI menyuarakan tentang Kredit Usaha Rakyat, yang kala itu memang sulit untuk klaimnya, hingga kini kita diberikan kemudahan berwirausaha.

Sekarang, setelah lepas HIPMI, Erwin lanjut diangkat menjadi wakil ketua umum Kamar Dagang Indonesia (KADIN), dan memegang bagian usaha kecil menangah (UKM).

"Salain ada kepastian, UKM kita butuh bantalan. Tapi bukan bantuan uang tunai, melainkan akses modal yang lebih mudah ke perbankan," kata Erwin disebuah pembicaran resmi, seperti dikutip dari situs Suara Pengusaha.

Karena kecintaan akan olahraga, Erwin pernah menangani sebuah klub sepakbola selepas kuliah di Amerika. Kegiatan tersebut dilakukannya disela- sela mengerjakan tugas di Bosowa. Ia sendiri sanggup, bahkan berhasil mengembangkan PSM Makasar.

Ia mendirikan klub alasannya selain gemar olahraga, dia mengaku sapak bola merupakan kegemaran anak- anak di Makasar. Sepak bola bisa menjadi lifestyle di sana, sehingga ia telah berminat untuk menahkodainya.

Berkat pengalaman organisasi dari SMA, PSM Makasar menjadi klub yang diperhitungkan ditangannya. Erwin berhasil bahkan melebihi ketua sebelumnya. Dia pun berhasil membuat PSM Makasar sukses menjadi runner- up di Liga Indonesia.

Lainnya, ia juga berhasil mengembalikan pamor PSM menjadi tim elit di Indonesia. Melalui olah raga inilah, ia patut mendapat apresiasi sepenuhnya. Erwin Aksa selalu percaya semangat datangnya dari hati. Dan, keluarga mendukungnya sengat berarti bagi kehidupannya.

Ayah dari Trinisha Erwin Aksa, Shyla Erwin Aksa, dan Muhammad Yusuf Akasa, dalam biografi Erwin Aksa telah mampu hingga sekarang menjadi pemimpin. Dia menjadi pemimpin tidak hanya di Bosowa hingga KADIN, tetapi menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri dan keluarga kecilnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba