Kisah UKM Batik Cirebonan Ibu Yusrianah Raharjo Asli

Profil Pengusaha Yusrianah Raharjo


ukm batik cirebonan

Sukses Ibu Yusrianah Raharjo mencoba peruntungan di bisnis batik. Siapa sangka UKM Batik akan menghasilkan jutaan rupiah. Bahkan nilainya lebih karena berhasil ekspor. Tak main- main, ia yang fokus pada keindahan batik Cirebon, sudah bisa ekspor ke negeri tetangga.

Pengusaha wanita berusia setengah abad, yang mengaku kemampuan membatiknya sudah jadi turun- temurun. Utamanya tentang pengatahuan bagaimana mewarnai dan pemasaran dari sang ibu. Jadi beruntung disaat batik diakui dunia, Ibu Yusrianah Raharjo mampu unjuk gigi.

"Pembeli minta warna apa, saya selalu disuruh untuk membuatkan. Jadi, dari kecil, skill-nya sudah diajari," ungkap pemilik UKM batik Cirebonan ini.

Pengusaha wanita pemilik butik Yusri Batik, yang telah memulai usahanya sejak 1997, dengan modal kepercayaan dan kejujuran. Berbekal sedikit bantuan dari orangtua, Yusri lalu mengikuti pameran internasional di Yogyakarta.

UKM Batik Cirebonan Merambah Dunia


Saat itulah ketika produknya mulai dikenal orang. Ia mendapatkan bantuan modal Rp.20 juta. Setelah sekian lama dirinya berbisnis batik. Berbekal uang itulah dibeli bahan baku dan membayar ongkos para pekerja.

"Saya juga mendapat pinjaman dari Taspen sebesar Rp50 juta," ujar dia.

Yusri yang asli Cirebon sudah fasih tentang ragam batik daerah asal. Memang batik Cirebon dikenal akan corak batik yang digemari. Sebut saja batik populer macam Megamendung, Singa Barong, Panji Semirang, serta motif keraton Kasepuhan dan Kanoman.

Bahannya pun bervariasi dari katun, sutera, dan kain tenun. Soal warna ia menjelaskan selain pewarnaan alami juga secara kimiawi.

"Yang paling susah itu batik tenun. (Permukaannya) tidak halus seperti katun. Serat-seratnya bermotif dan selalu mbrenjol (menonjol)," kata pengusaha ini.

Proses pembuatan batiknya sudah sangat bervariasi. Ada yang butuh waktu beberapa hari hingga jadi, khususnya untuk jenis batik cetak. Ada pula yang membutuhkan waktu sebulan penuh khusus untuk batik tulis. Setiap bulang, Yusri Batik mampu menghasilkan ribuan helai batik.

Khusus untuk batik tulis ia mampu menghasilkan sekitar 100 helai, dimana setiap helainya mulai dari 2 meter hingga 2,7 meter. "Kalau itu, tergantung pesanan," katanya menjelaskan. Para pembeli pun tidak perlu merogoh koceknya dalam- dalam.

Mendesain Batik Cirebonan Sendiri


Yusri membanderol produknya mulai dari Rp100 ribu hingga Rp1,5 juta. "Kalau batik cetak, harganya Rp100 ribu. Tapi, ada juga yang Rp300 ribu dan itu tidak murni cetak: kombinasi tulis dan cetak. Terus, batik tulis itu Rp1 juta. Batik sutera itu Rp1,2-1,5 juta," tutur Yusri.

Selain desain yang sudah ada, Yusri Batik, juga menawarkan aneka batik desain sendiri. Kalo mau ditanya seperti apa kualitas batik milik Yusri. Cukuplah kita kembali ke tahun 2013 -an. Kala itu, ia menjadi salah satu pelopor batik bermotif ondel- ondel.

Dia memang bukan orang Betawi tetapi patut dilestarikan.

"Ini batik koleksi terbaru, akan jadi tren 2013. Kami menyebutnya batik ondel-ondel," ujarnya. Batik khusus Jakarta fokus pada aneka trademark kota Jakarta antara lain motif ondel- ondel dan tugu monas.

Ondel- ondel tersebut terlihat cantik, karena digambar lengkap dengan pakaian dan aksesori yang kerap digunakan ondel-ondel saat pentas. Selain ondel-ondel, ada gambar lain yang ditorehkan di atas kain batik tren 2013 tersebut.

Gambar tersebut tentu yang identik dengan Jakarta, yakni tugu monas dan kembang api. Sebab, biasanya jika ada pesta di Jakarta, nyala kembang api tidak bisa terpisahkan di dalam tradisi Jakarta sendiri.

Warna batik ondel- ondel pun cerah- cerah ebagai warna dasar misalnya, ada oranye, biru menyala, merah, hijau, dan warna-warna menyala lainnya. Sengaja dipilih warna- warna menyala agar terlihat kemeriahan dari sebuah pesta ondel- ondel itu sendiri.

Selain itu, warna- warna batik Cirebonan yang identik warna-warna cerah seolah sepaham dengan kemeriahan kota Jakarta.

Kain batik ondel- ondel buatan Yusrianah sengaja dibuat dengan tangan atau biasa disebut dengan batik tulis. Berapa harganya, batik yang memakan waktu satu minggu ini dibandrol Rp.200.00 per- lembar. Ia menyebut motif batik ondel- ondel sederhana, dengan gradasi warna yang sederhana jadilah tak membutuhkan waktu berbulan- bulan.

Namanya bisnis akan selalu ada pahit manis dan Yusri tidak memungkiri hal itu. Selain persaingan yang ketat akibat bertambahnya pemain bisnis batik, dia juga mengatakan kesulitan akan sumber daya manusia (SDM).

Di tempatnya memiliki 16 orang pegawai tetap dan yang tidak tetap ada 40 orang. Kendalanya yaitu kadang- kadang masyarakat masih tradisional. Sayangnya mereka sering tidak fokus bekerja. Karena mereka terkadang ikut acara hajatan, bagus sih, tetapi memotong waktu dan fokus kerja mereka.

Wanita yang tinggal di Plered, Cirebon, ini mengeluhkan kekurangan pembatik senior. Jika anda ingin untuk memesan produk batik miliknya, Yusri membolehkan pemesanan untuk sepotong batik tulis saja, baik desain Yusri ataupun dari pembeli. "Tapi, nanti dikenakan ongkos kerjanya," ujarnya.

Ia pun tidak berkeberatan apabila pembelinya membeli batik secara satuan. Kalau untuk grosir, ada yang namanya minimal pemesanan, yaitu minimal 10 potong. Apabila kamu berminat, pembeli bisa berkunjung ke Yusri Batik di Jalan Syekh Datul Kahfi No. 79, Plered, Cirebon. Pembeli juga bisa mengontak emailnya yaitu melalui: litaharlianti@ymail.com.

Entrepreneur Cilik Bridges Mo Mendesain Dasi Kupu- Kupu

Profil Pengusaha Master Bridges Mo

 

inspirasi entrepreneur kecil

Sosok enterepreneur cilik bernama Master Bridges Mo. Singkatnya Mo mendesain dan menjahit dasi kupu- kupu sendiri. Sejak mengajarinya di umur 9 tahun, dia sudah menyukai aneka dasi kupu- kupu. Tidak monoton seperti dibayangkan orang- orang jaman now.

Layanya inovator lainnya, yang dibuatnya sangat memperhatikan desain. Pokoknya dasi kupu- kupu harus mengikuti trend pasaran.

"Saya benar-benar seorang pria necis muda dan saya tidak bisa menemukan dasi kupu-kupu lain yang saya sangat suka," terang entrepreneur cilik ini kepada Fox News.

Nenek kesayangan Mo memang pandai menjahit. Dia sudah menjahit lebih dari 80 tahun, dan masih aktif menghasilkan sesuatu. Maka Mo tertarik ikut belajar menjahit dari sang nenek. Pasalnya Mo memang dikenal dekat sering tinggal bersama dia.

Ide membuat dasi kupu- kupu karena kecintaan. Entrepreneur cilik ini memang menyukai dasi model ini. Dasi kupu- kupu memang bersifat semu umur dibanding biasa. Adalah satu kebanggan sendiri jika dia bisa memakai dasi kupu- kupu buatannya sendiri.

Entrepreneur Cilik Jago Desain 


Ia senang jika semua orang akan sepaham. Mo ingin mengajak dunia lebih menyenangkan dan lebih berwarna. Lewat dasi kupu- kupu menjadi trend fasionista kelas dunia. Entrepreneur cilik ini coba menunjukan keunikan dasi kupu- kupu untuk fashion.

Bisnis dasi  kupu- kupu Mo terahir dari rasa cinta. Dia begitu mencintai dasi kupu- kupu, hingga rasa ketidakpuasan akan pilihan yang tersedia. Mereka sungguh tidak cocok untuk anak- anak seusianya. Di pasaran dasi kupu- kupu buruk karena warnanya norak.

Para produsen dasi bahkan membuat klip-ons atau tempelan. Mo percaya pria sejati harus mengikat dasinya sendiri. Neneknya kemudian mengajarinya menjahit dengan tangan. Tidak menggunakan mesin jahit seperti orang lain, menggunakan bahan lama untuk membuat dasi favoritnya.

Dalam beberapa bulan menciptakan koleksi dasinya sendiri. Kira- kira dia sudah memiliki lebih dari dua lusin dasi. Teman dan keluarga jatuh cinta dengan karyanya. Entreprenur cilik Mo meningkatkan produksinya, mendesain ulang gaya kuno dasi kupu- kupu milik neneknya.

Ia membuat cetakan bunga dan berbagai motif khas Afrika, dan bahkan menambahkan potongan- potongan gaun taffeta tua.  Berita mulut ke mulut seperti sihir, Mo laris manis menjual produknya dari Facebook hingga memiliki toko sendiri di Etsy.

"Kamu tidak harus menunggu sampai kamu lebih tua," kata ibunya, Tramica Morris. "Jika kamu memiliki mimpi dan kamu memiliki gairah, kita katakan pergi untuk itu."

Sejalan permintaan meningkat, ibunya, nenek, dan anggota keluarga lainnya masuk ke dalam perahu bisnis untuk membantu dengan produksi.

Bisnis Keluarga Bukan Milik Sendiri


Hari ini, masing-masing dasi kupu-kupu masih dijahit dari awal, meskipun Mo telah berkembang dari bahan vintage ke wol dan ginghams, dengan garis formal satin dan sutra. Potongan nya berkisar dari pola polkadot relatif tradisional, dan garis- garis untuk paisley dan dasi berdesain sporty.

Dia menghasilkan lebih dari $ 30.000 sejauh ini dengan bisnisnya sendiri tanpa bantuan siapapun sebelumnya. Kini dasi kupu-kupu nya kini telah tersedia di webstore sendiri, Etsy, dan semua butik di seluruh Texas, South Carolina, dan Tennessee.

Seolah- olah keberhasilan awal dalam bisnisnya tidak cukup. Mo juga terkenal seorang dermawan muda. Musim panas ini, ia telah menyumbangkan $ 1.600 untuk mengirim 10 anak dari kampung halamannya di Memphis ke Glenview Summer Camp.

Dia juga membuat produk- produk untuk sumbangan ini bernama Mo Go, yang diikuti beasiswa pelajar.

"Saya membuat dasi kupu-kupu ini disebut Go Mo! Beasiswa Bow Tie dan 100 persen dari hasilnya untuk membantu anak-anak pergi ke perkemahan musim panas karena saya merasa seperti itu baik untuk membantu masyarakat dan itulah yang saya lakukan, " jelasnya sebagai bentuk sosial.

Dalam sebuah posting di blog pribadi-nya, ia menulis tentang kegiatan sosialnya:

"Memphis (kota) berada di peringkat tertinggi dari kelaparan anak-anak,.. Kebanyakan anak-anak hanya mendapatkan makan ketika sekolah sedang berlangsung. Di pusat komunitas, anak-anak mendapatkan makan dan waktu bermain."

Baginya menjadi entrepreneur harus tetap rendah hati. Nah, masyarakat lah yang membuat Mo jadi seperti sekarang. Hal semacam sosial membuat Mo selalu tersenyum. Dia mengingat bahwa dirinya masih anak kecil.

Dia menikmati bisnis bukan sebagai sebuah kewajiban tetapi kesenangan. Jika ditanya siapakah sosok inspirator bisnisnya, ia berkata entrepreneur Daymond John, yang menjadi mentornya di acara reality show Shark Tank.

Kisah Haji Haryanto Pengusaha Pemilik 80 Bis Malam

Biografi Pengusaha Haji Haryanto


pemilik po haryanto
 
Inilah kisah Haji Haryanto pengusaha sukses. Siapakah sosok pemilik 80 bis malam terkenal tersebut. Dia pengusaha yang berlandaskan nilai Islam. Memulai usaha dari nol hingga dikenal seantero Kota Kudus, hingga namanya terkenal sampai seluruh Indonesia.

Sebuah postingan tentang Haji Haryanto terpampang nyata. Haryanto menjadi perbincangan di situs Kaskus. Sebelum menjadi pengusaha autobus kenamaan Kudus, Jawa Tengah. Haryanto mulai dari merantau ke Ibu Kota.

Haryanto masuk anggota TNI Angkatan Darat. Diantara kesibukan menjadi tentara TNI inilah, dia juga berinvestasi di sebuah angkot dan menyetir sendiri. Dia mengemudikan sendiri tanpa merasa minder. Sang "sopir" kemudian membeli lebih banyak armada angkotan sendiri.

Karena bisnis semakin maju menghasilkan uang. Dan dia khawatir menganggu pekerjaanya sebagai anggota TNI. Maka ia memilih pensiun dini dari pekerjaan bergengsi itu. Keputusan mengundurkan diri memang tidak mudah. Tetapi toh bisnis angkutan transportasi milik Haryanto makin maju.

Menjadi Pengusaha Pemilik 80 Bis Malam


Dari bisnis angkotan inilah menjadi landasan PO Haryanto. Garasi PO Haryanto berada di Ngembal Kudus. Meskipun sukses dirinya masih hidup sederhana. Dia menerapkan prinsip Islam dalam setiap sisi kehidupan.

Diantara banyaknya bus besar di dalam garasi. Haryanto membangun sebuah masjid besar diantara mereka. Ukuran masjid tersebut terbilang besar tidak tanggung. Inilah kenapa rejeki seolah mengalir terus ke kantung Haji Haryanto.

Dalam setiap armada bus tertulis tulisan Shalawat. Menjadi sebuah doa keselamatan untuk setiap bus miliknya. Melalui Shalawat kepada Nabi Muhammad, maka dia berharap selalu dalam jalan lurus Islam. Untuk urusan Sholat Haryanto selalu mengingatkan itu kepada semua karyawannya.

Sepanjang garasi bus miliknya akan ramai kegiatan. Namun ketika masuk waktu Sholat Dzuhur maka aktifitas harus dihentikan. Mereka Sholat berjamaah bersama Haji Haryanto sendiri. Ketika waktu itu sosok pengusaha Haji Haryanto yang sederhana, ramah, dan memimpin tersebut berubah.

Dia menjadi sosok guru sekaligus orang tua kepada karyawan. Ia selalu memompa spiritual mereka lebih matang. Untuk masalah ekonomi prinsip Islam dipegang betul. Dia fokus mensejahterakan para karyawan, bukan hanya keuntungan pribadi yang direguk.

Alhasil karyawan betah bekerja bersama Haji Haryanto. PO Haryanto menjadi primadona bagi para penumpang. Mereka merasa terlindungi dengan Akhlak pemilik dan pegawainya. Pelayanan prima juga ditingkatkan terutama bagi mereka para perantau.

Nama bus malam PO Haryanto menjadi andalan perantau. Melayani perjalanan malam cocok buat para pencari kerja. Hampir semua jurusan selalu terisi penuh penumpang. Akhir pekan tidak perlu ada antrian. Tiket sudah habis bahkan sepekan sebelum pemberangkatan bus malam.

Sebagai bukti penghargaan Haryanto juga menaikan Haji 19 orang karyawan. Kegiatan ini rutin dia lakukan sebagai wujud syukur kepada Allah.

Ia dikenal rela menolong sesama Muslim. Jika ada kepentingan Umat maka dia tampil menjadi yang terdepan. Prinsip Haji Haryanto mudah dipahami pagi para pengusaha muda. Jika kamu mau mencari penghasilan 500 juta, tinggal depositkan 100 miliar maka kamu akan dapat 500 juta perbulan.

Ingat bahwa Allah yang memberikan kamu kemudahan. Berbisnis tidak akan berhasil tanpa doa dan pemberian Allah. "Melainkan agar kamu berjuang untuk agamamu dan bermanfaat bagi masyarakat," ia menambahkan.

Kemeja Pria Manly Susahnya Melanjutkan Bisnis Keluarga

Profil Pengusaha Zakaria Wirahadi Kusumah

 
melanjutkan bisnis

Melanjutkan bisnis keluarga tidak mudah. Lihat bagaimana kemeja pria Manly susahnya dipasarkan. Pria kantoran maka tak asing dengan produk ini. Produk yang mengusung kemeja pria beremerek Manly, dulunya pernah ngetop di seantero Jawa Timur loh.

Kalau pun kamu baru sadar atas keberadaanya; coba baca ceritanya. Dulu produk yang hanya dikenal seantero Jawa Timur kini menjadi produk kelas nasional dan bersiap untuk merambah pasar Asia Pasifik.

Kemeja Manly yang dulu pernah ada dan sekarang berbeda. Bukan cuma karena siapa pemiliknya sekarang. Susahnya melanjutkan bisnis keluarga nampaknya tidak membuat beban. Pengusaha muda satu ini membuktikan bahwa semangat wirausaha masih ada.

Produk Manly, dulu, merupakan industri kelas rumahan yang dibesut oleh seorang bernama Lioe Kiat Tjoeng di tahun 1958. Tak disangka, usaha kecil- kecilan di Jalan Talun, Kota Malang tersebut berkembang pesat hingga berubah menjadi perusahaan nasional yang disegani.

Pengusaha Muda Kemeja Pria Manly


Padahal, kalau ditelisik, dulu produk Manly masih dibuat sangat tradisional di tahun 1970 -an. Produknya hanya mengerjakan keperluan pakain anak- anak, celana panjang pria sekaligus kemeja. Hingga tahun 1980 -an, produk Manly hanya berfokus memenuhi kebutuhan kemeja pria saja.

Akhirnya kemeja Manly semakin dikenal, pemasarannya  bahkan telah merambah ke department stores, mencangkup seluruh Indonesia di tahun 1990 -an, seperti Matahari Dept Store. Mengantisipasi kebutuhan pasar yang terus meningkat pula dilakukan pengembangan dan penambahan.

Aneka perangkat industri yang lebih maju diadakan. Bukan lagi menggunakan beberapa mesin jahit tradisional tapi puluhan mesin jahit bermesin. Tahun 2007 menjadi puncak dari pertumbuhan produk Manly. Sosok generasi kedua, pengusaha muda yang masih punya semangat mengambil alih.

Produk yang kini dikenal dengan identitas baru serta produksi serta operasional lebih sistematis melalui bendera PLI. Sosok Zakaria Wirahadi Kusumah, CEO Prime Line International (PLI), adalah sosok sukses dibalik produk Manly sekarang.

Zack adalah generasi kedua dari bisnis yang dirintis sang ayah, Lioe Kiat Tjoeng. Keterlibatan si bungsu dari empat bersaudara merupakan jalan panjang. Setamat kuliah sebenarnya ia sudah memiliki pekerjaan mapan di sebuah bank swasta di Negeri Kanguru.

Sepulang kembali ke Indonesia, ia justru diberi tanggung jawab untuk mengelola PLI oleh ayahnya. Bukannya si sulung, malah Zack si bungsu, yang notabennya sudah lama di luar negeri. "Saya butuh waktu sekitar 8 tahun untuk merestrukturisasi PLI," ujar pria yang akrab dipanggi Zack itu.

Zack bercerita, awal mulanya dia terjun ke bisnis keluarga di tahun 2002. Kenapa dia yang ditunjuk founder untuk mengelola PLI padahal dia hanyalah sang putra bungsu.

"Kakak- kakak saya ada di luar negeri semua. Mereka sudah merasa comfortable dengan pekerjaan mereka di luar negeri dan tidak mau balik ke Indonesia," jelas pengusaha muda Zack, meyakinkan diri melanjutkan bisnis keluarga.

Ia mengaku ayahnya sendirilah yang menunjuknya agar segera melanjutkan bisnis PLI di Indonesia.

"Memang berat bagi saya, karena saya pun pada waktu itu sudah bekerja di perbankkan dengan gaji yang lumayan. Saya berpikir agak lama, namun orang tua meminta saya agar keluar dari comfort zone dan  pulang ke Indonesia," jelasnya lagi.

Tetapi satu hal benar- benar bisa mendorongnya dan kenapa akhirnya ia bisa pulang ke Indonesia. Itu adalah rasa tanggung jawab yang harus Zack emban. Meski berat berbekal pengalaman di dunia korporasi dirasanya cukup sebagai modal.

Menjadi sebuah misi pribadi mengembangkan bisnis. Dia ingin menerapkan apa yang didapatnya di kantor. Zack ingin membawa pekerjaanya kembali ke Manly. Adalah sebuah pergulatan batin untuk meninggalkan pekerjaan mapan.

Sebenarnya bagi pria kelahiran 1978 ini bukanlah perkara mudah melanjutkan bisnis ayahnya. Bahkan, dia mengaku pernah melakukan kesalahan fatal, yang membuat banyak kostumer kabur. Kisahnya, ketika bergabung bisnis Manly memang tidak sebaik sekarang ditangannya.

Banyak perubahan harus dibuat untuk manajemen. Butuh restrukturisasi sistem manajamen yang lebih baik. Struktur organisasi dan sistem IT dulunya masih manual. Sekarang Zack menerapkan konsep data oriented.

Efeknya apa yang dilakukannya memang berpengaruh. Meski kehilangan kostumer, lambat tapi pasti, ia bisa membangun jaringa Manly kembali. Sehingga butuh inovasi baru bagi Manly untuk kembali berjaya di tahun- tahun milik ayahnya.

Melalui proses re- branding produk Manly diharapkan bisa mendongkrak kualitas produk lebih. Perombakan total dilakukan mulai dari proses fitting, packaging,  kualitas, serta bahan. Hasilnya di luar dugaan, usaha Zack masih belum beruntung alias gagal.

Dari kegagalan itulah, lanjut Zack, tim PLI terus belajar keras.

"Kami berupaya tetap kuat, sehingga  mampu come back dan memenangkan customer- customer yang tadinya hilang," imbuhnya sembari tersenyum.

Melanjutkan Bisnis Keluarga Sistem Baru


Jumlah karyawan pun terus bertambah dan kini mencapai 150 orang. Ia menargetkan ekspansi dari 2014- 2015. Pabrik bahkan direlokasi agar lebih mudah memasarkan. Ia ingin meluaskan merek ini sampai ke Asia Pasifik, hingga Australia.

Untuk mencapai target ekspansi tersebut, manajemen PLI terus berinovasi dengan berbagai trobosan baru. Contohnya menggarap serius proyek- proyek besar, juga melalui pemasaran e- commerce yang sedang digandrungi para pengguna internet.

PLI juga harus mampu mempersiapkan diri untuk target AFTA dan nantinya APAC tahun 2020, supaya benar- benar siap untuk menghadapi kompetitor-kompetitor dari luar negeri sana ujar Zack. Pokoknya dalam melanjutkan bisnis keluarga harus lebih baik.

Zack tidaklah sendiri, dibantu pihak ketiga, yaitu  PT. Bank Central Asia Tbk.(BCA) yang setia melayani segala urusan perbankan PLI. Menurutnya, fasilitas BCA sangat memudahkan transaksi yang ia lakukan, terutama untuk keperluan perusahaan.

Menurutnya Bank BCA adalah bank terbaik di Indonesia. Layanan internet BCA membuat PLI lincah berbisnis. Satu hal ia tak perlu berepot- repot mengunjungi kantor BCA untuk melakukan transaksi- transaksi.

Jika dia berada di luar negeri, bisa membawa token dan ada akses internet, membuatnya tetap nyaman untuk melakukan perjalanan bisnis. Zack juga aktif di kegiatan Komunitas YES untuk pebisnis generasi kedua yang disponsori BCA.

Menjadi wadah berbagai macam pengusaha berkumbul. Aneka pengusaha berbagi ilmu dan sharing tentang kendala mereka. Ada sekitaran 70 perusahaan yang bergabung di komunitas ini. Dia sendiri yakin melalui komunitas mampu membawa peningkatan.

Pengusaha Felix Tansil UKM Diaspora Kopi Panggang Ekspor

Profil Pengusaha Felix Tansil


pengusaha ukm diaspora

Pengusaha Felix Tansil sukses mendirikan UKM Diaspora. Salah satu diaspora Indonesia yang sukses berbisnis kopi di Amerika. Siapa sangka, di kota kecil Silver Spring, Maryland, Amerika Serikat, sebuah kedai kopi asli Indonesia bernama Nagadi Coffee berdiri.

Atase Perdagangan dan Kepala Bidang Fungsi Penerangan KBRI berkesempatan untuk mengunjungi salah satu pengusaha diaspora asal Indonesia ini. Pengusaha Felix Tansil mendirikan UKM Diaspora, yyang mana mampu membukitkan satu hal.

Bahwa jika anda di luar negeri, masih bisa mengharumkan nama Indonesia dan berwirausaha. Ni Made Ayu Marthini, Atase Perdagangan (Atdag) KBRI di Washington DC, menurut keterangan persnya, mangatakan kopi merupakan produk andalan ekspor Indonesia.

Dan, melalui keberadaan UKM Diaspora, bisnis Nagadi Coffee sedikit banyak membantu jumlah pengirimin ekspor. Didirikan sejak tahun 2011, bisnis dari Nagadi Coffe mengambil  suatu konsep bisnis unik.

UKM Diaspora Kopi Panggang Amerika


Oleh pemiliknya lebih sering disebut Coffee Laboratory, berfokus wholesale kopi spesial, diantaranya Takengon, Aceh, dan Mandailing, Sumatra Utara. Maksudnya pengusaha Felix Tansil tidak sekedar menyeduh kopi. Tetapi mereka juga mengolah, meracik, dan memasarkan reseller produk- produk itu.

Setiap hari Sabtu, laboratorium Nagadi Coffee dibuka untuk umum bagi pencinta kopi untuk membeli kopi secara ritel atau mengikuti kelas apresiasi kopi (cupping, tasting) agar konsumen dapat menghargai dan memahami specialty coffee, khususnya yang berasal dari Indonesia.

"Penikmat kopi saat ini tidak segan- segan mencari tahu asal kopi yang mereka minum, siapa yang memiliki kebun kopi tersebut," terangnya kepada pers 

Suasana sosial/lingkungan dan ekonomi asal kopi berpengaruh. Bahkan nama petani yang memetik kopi tersebut. "Dengan kata lain, terjadi ikatan batin antara konsumen dengan produsen," ujar Felix. Inilah perbedaan siginfikan jika kamu mau mencoba membuka usaha di luar negeri.

Memang gaya hidup warga Amerika tak jauh dari kopi apapun jenisnya. Inilah yang dibidik seorang Felix, lebih dari separuh warga Amerika meminum kopi jelasnya lagi. Bahkan berdasarkan satu studi pengeluaran untuk minum kopi bisa mencapai 18 miliar per- tahun.

Ia memulai usahanya di apartemen kecil, di Maryland, modalnya sebuah pemanggang kopi kecil. Tak kurang 10 kilogram kopi bisa diolah pria berkacamata ini.

Ia membuka usaha kopi sejak april 2011 setelah bermigrasi dari pekerjaannya sebagai insinyur sipil, dengan omset 3000-5000 dollar Felix mengakui membuka usaha baru saat ekonomi AS belum pulih bukanlah hal yang mudah.
"Membuka usaha saat ekonomi baik maupun buruk, kalau mental siap mulai saja",ujar Felix.
Istri Felix, Patrisia, yang juga dari Brasil tempatnya kopi, juga membantunya berbisnis kopi. Dari berjualan dengan sistem langsung, ia dan istrinya mulai berjualan secara online. Hasilnya? Sebuah kedai kecil di  Maryland. Untuk jenis kopi yang dijual jarang ditemui di toko lain, karena kopi yang dijual berasal dari berbagai negara termasuk indonesia.

Untuk menjaga kualitas Felix menyeduhkan secara sederhana yakni dengan menyaring kopi. Pelanggan tidak keberatan untuk menunggu lama, dibandingkan dengan  kopi yang dibuat mesin penyeduh.

Pengusaha Ekspor Kopi ke Amerika


Ia juga siap sedia menyediakan kopi luak, tetapi karena harga kopi luak mencapai 10 kali lipat, dari harga kopi biasa; ia baru akan memangganya setelah ada yang memesan. Tentu berbanding terbalik dengan negara asalnya Indonesia, dimana kopi luwak masih bisa terjangkau.

"Kita hanya fokus dalam jumlah kecil, kita hanya jual fresh kopi yang tidak lebih dari dua minggu lamanya", ujar Felix.

Kopi dijual secara grosir dikemas sesuai dengan pesanan, semantara untuk kemasan kopinya sendiri Felix menamakan kopinya NAGADI,yang dalam bahasa Euthopia berati "pengelana". Felix memakai bahasa Euthopia untuk merek kopinya.

Karena Euthopia adalah negara pertama kali tempat kopi ditemukan. Agar kualitas tetap terjaga dan menekan harga kopi, Felix mengaku membeli langsung dari petani Indonesia.

Sukses setelah lebih dari lima tahun berjualan kopi. Felix Tansil dan Nagadi Coffee ditunjuk menjadi salah satu inkubator dalam program kementerian perdagangan. Incubator project ini dilakukan untuk mendorong semangat kewirausahaan UKM Diaspora.

Selain kopi, produk makanan dan minuman Indonesia, serta usaha koperasi menjadi bisnis inkubator Atdag. Kopi Indonesia. Mengikuti pameran kopi spesial terbesar di Amerika Utara "Specialty Coffee Association of America (SCAA) Events" yang ke-26, di Seattle, 2014 silam.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba