Kisah Haji Haryanto Pengusaha Pemilik 80 Bis Malam

Biografi Pengusaha Haji Haryanto


pemilik po haryanto
 
Inilah kisah Haji Haryanto pengusaha sukses. Siapakah sosok pemilik 80 bis malam terkenal tersebut. Dia pengusaha yang berlandaskan nilai Islam. Memulai usaha dari nol hingga dikenal seantero Kota Kudus, hingga namanya terkenal sampai seluruh Indonesia.

Sebuah postingan tentang Haji Haryanto terpampang nyata. Haryanto menjadi perbincangan di situs Kaskus. Sebelum menjadi pengusaha autobus kenamaan Kudus, Jawa Tengah. Haryanto mulai dari merantau ke Ibu Kota.

Haryanto masuk anggota TNI Angkatan Darat. Diantara kesibukan menjadi tentara TNI inilah, dia juga berinvestasi di sebuah angkot dan menyetir sendiri. Dia mengemudikan sendiri tanpa merasa minder. Sang "sopir" kemudian membeli lebih banyak armada angkotan sendiri.

Karena bisnis semakin maju menghasilkan uang. Dan dia khawatir menganggu pekerjaanya sebagai anggota TNI. Maka ia memilih pensiun dini dari pekerjaan bergengsi itu. Keputusan mengundurkan diri memang tidak mudah. Tetapi toh bisnis angkutan transportasi milik Haryanto makin maju.

Menjadi Pengusaha Pemilik 80 Bis Malam


Dari bisnis angkotan inilah menjadi landasan PO Haryanto. Garasi PO Haryanto berada di Ngembal Kudus. Meskipun sukses dirinya masih hidup sederhana. Dia menerapkan prinsip Islam dalam setiap sisi kehidupan.

Diantara banyaknya bus besar di dalam garasi. Haryanto membangun sebuah masjid besar diantara mereka. Ukuran masjid tersebut terbilang besar tidak tanggung. Inilah kenapa rejeki seolah mengalir terus ke kantung Haji Haryanto.

Dalam setiap armada bus tertulis tulisan Shalawat. Menjadi sebuah doa keselamatan untuk setiap bus miliknya. Melalui Shalawat kepada Nabi Muhammad, maka dia berharap selalu dalam jalan lurus Islam. Untuk urusan Sholat Haryanto selalu mengingatkan itu kepada semua karyawannya.

Sepanjang garasi bus miliknya akan ramai kegiatan. Namun ketika masuk waktu Sholat Dzuhur maka aktifitas harus dihentikan. Mereka Sholat berjamaah bersama Haji Haryanto sendiri. Ketika waktu itu sosok pengusaha Haji Haryanto yang sederhana, ramah, dan memimpin tersebut berubah.

Dia menjadi sosok guru sekaligus orang tua kepada karyawan. Ia selalu memompa spiritual mereka lebih matang. Untuk masalah ekonomi prinsip Islam dipegang betul. Dia fokus mensejahterakan para karyawan, bukan hanya keuntungan pribadi yang direguk.

Alhasil karyawan betah bekerja bersama Haji Haryanto. PO Haryanto menjadi primadona bagi para penumpang. Mereka merasa terlindungi dengan Akhlak pemilik dan pegawainya. Pelayanan prima juga ditingkatkan terutama bagi mereka para perantau.

Nama bus malam PO Haryanto menjadi andalan perantau. Melayani perjalanan malam cocok buat para pencari kerja. Hampir semua jurusan selalu terisi penuh penumpang. Akhir pekan tidak perlu ada antrian. Tiket sudah habis bahkan sepekan sebelum pemberangkatan bus malam.

Sebagai bukti penghargaan Haryanto juga menaikan Haji 19 orang karyawan. Kegiatan ini rutin dia lakukan sebagai wujud syukur kepada Allah.

Ia dikenal rela menolong sesama Muslim. Jika ada kepentingan Umat maka dia tampil menjadi yang terdepan. Prinsip Haji Haryanto mudah dipahami pagi para pengusaha muda. Jika kamu mau mencari penghasilan 500 juta, tinggal depositkan 100 miliar maka kamu akan dapat 500 juta perbulan.

Ingat bahwa Allah yang memberikan kamu kemudahan. Berbisnis tidak akan berhasil tanpa doa dan pemberian Allah. "Melainkan agar kamu berjuang untuk agamamu dan bermanfaat bagi masyarakat," ia menambahkan.

Kemeja Pria Manly Susahnya Melanjutkan Bisnis Keluarga

Profil Pengusaha Zakaria Wirahadi Kusumah

 
melanjutkan bisnis

Melanjutkan bisnis keluarga tidak mudah. Lihat bagaimana kemeja pria Manly susahnya dipasarkan. Pria kantoran maka tak asing dengan produk ini. Produk yang mengusung kemeja pria beremerek Manly, dulunya pernah ngetop di seantero Jawa Timur loh.

Kalau pun kamu baru sadar atas keberadaanya; coba baca ceritanya. Dulu produk yang hanya dikenal seantero Jawa Timur kini menjadi produk kelas nasional dan bersiap untuk merambah pasar Asia Pasifik.

Kemeja Manly yang dulu pernah ada dan sekarang berbeda. Bukan cuma karena siapa pemiliknya sekarang. Susahnya melanjutkan bisnis keluarga nampaknya tidak membuat beban. Pengusaha muda satu ini membuktikan bahwa semangat wirausaha masih ada.

Produk Manly, dulu, merupakan industri kelas rumahan yang dibesut oleh seorang bernama Lioe Kiat Tjoeng di tahun 1958. Tak disangka, usaha kecil- kecilan di Jalan Talun, Kota Malang tersebut berkembang pesat hingga berubah menjadi perusahaan nasional yang disegani.

Pengusaha Muda Kemeja Pria Manly


Padahal, kalau ditelisik, dulu produk Manly masih dibuat sangat tradisional di tahun 1970 -an. Produknya hanya mengerjakan keperluan pakain anak- anak, celana panjang pria sekaligus kemeja. Hingga tahun 1980 -an, produk Manly hanya berfokus memenuhi kebutuhan kemeja pria saja.

Akhirnya kemeja Manly semakin dikenal, pemasarannya  bahkan telah merambah ke department stores, mencangkup seluruh Indonesia di tahun 1990 -an, seperti Matahari Dept Store. Mengantisipasi kebutuhan pasar yang terus meningkat pula dilakukan pengembangan dan penambahan.

Aneka perangkat industri yang lebih maju diadakan. Bukan lagi menggunakan beberapa mesin jahit tradisional tapi puluhan mesin jahit bermesin. Tahun 2007 menjadi puncak dari pertumbuhan produk Manly. Sosok generasi kedua, pengusaha muda yang masih punya semangat mengambil alih.

Produk yang kini dikenal dengan identitas baru serta produksi serta operasional lebih sistematis melalui bendera PLI. Sosok Zakaria Wirahadi Kusumah, CEO Prime Line International (PLI), adalah sosok sukses dibalik produk Manly sekarang.

Zack adalah generasi kedua dari bisnis yang dirintis sang ayah, Lioe Kiat Tjoeng. Keterlibatan si bungsu dari empat bersaudara merupakan jalan panjang. Setamat kuliah sebenarnya ia sudah memiliki pekerjaan mapan di sebuah bank swasta di Negeri Kanguru.

Sepulang kembali ke Indonesia, ia justru diberi tanggung jawab untuk mengelola PLI oleh ayahnya. Bukannya si sulung, malah Zack si bungsu, yang notabennya sudah lama di luar negeri. "Saya butuh waktu sekitar 8 tahun untuk merestrukturisasi PLI," ujar pria yang akrab dipanggi Zack itu.

Zack bercerita, awal mulanya dia terjun ke bisnis keluarga di tahun 2002. Kenapa dia yang ditunjuk founder untuk mengelola PLI padahal dia hanyalah sang putra bungsu.

"Kakak- kakak saya ada di luar negeri semua. Mereka sudah merasa comfortable dengan pekerjaan mereka di luar negeri dan tidak mau balik ke Indonesia," jelas pengusaha muda Zack, meyakinkan diri melanjutkan bisnis keluarga.

Ia mengaku ayahnya sendirilah yang menunjuknya agar segera melanjutkan bisnis PLI di Indonesia.

"Memang berat bagi saya, karena saya pun pada waktu itu sudah bekerja di perbankkan dengan gaji yang lumayan. Saya berpikir agak lama, namun orang tua meminta saya agar keluar dari comfort zone dan  pulang ke Indonesia," jelasnya lagi.

Tetapi satu hal benar- benar bisa mendorongnya dan kenapa akhirnya ia bisa pulang ke Indonesia. Itu adalah rasa tanggung jawab yang harus Zack emban. Meski berat berbekal pengalaman di dunia korporasi dirasanya cukup sebagai modal.

Menjadi sebuah misi pribadi mengembangkan bisnis. Dia ingin menerapkan apa yang didapatnya di kantor. Zack ingin membawa pekerjaanya kembali ke Manly. Adalah sebuah pergulatan batin untuk meninggalkan pekerjaan mapan.

Sebenarnya bagi pria kelahiran 1978 ini bukanlah perkara mudah melanjutkan bisnis ayahnya. Bahkan, dia mengaku pernah melakukan kesalahan fatal, yang membuat banyak kostumer kabur. Kisahnya, ketika bergabung bisnis Manly memang tidak sebaik sekarang ditangannya.

Banyak perubahan harus dibuat untuk manajemen. Butuh restrukturisasi sistem manajamen yang lebih baik. Struktur organisasi dan sistem IT dulunya masih manual. Sekarang Zack menerapkan konsep data oriented.

Efeknya apa yang dilakukannya memang berpengaruh. Meski kehilangan kostumer, lambat tapi pasti, ia bisa membangun jaringa Manly kembali. Sehingga butuh inovasi baru bagi Manly untuk kembali berjaya di tahun- tahun milik ayahnya.

Melalui proses re- branding produk Manly diharapkan bisa mendongkrak kualitas produk lebih. Perombakan total dilakukan mulai dari proses fitting, packaging,  kualitas, serta bahan. Hasilnya di luar dugaan, usaha Zack masih belum beruntung alias gagal.

Dari kegagalan itulah, lanjut Zack, tim PLI terus belajar keras.

"Kami berupaya tetap kuat, sehingga  mampu come back dan memenangkan customer- customer yang tadinya hilang," imbuhnya sembari tersenyum.

Melanjutkan Bisnis Keluarga Sistem Baru


Jumlah karyawan pun terus bertambah dan kini mencapai 150 orang. Ia menargetkan ekspansi dari 2014- 2015. Pabrik bahkan direlokasi agar lebih mudah memasarkan. Ia ingin meluaskan merek ini sampai ke Asia Pasifik, hingga Australia.

Untuk mencapai target ekspansi tersebut, manajemen PLI terus berinovasi dengan berbagai trobosan baru. Contohnya menggarap serius proyek- proyek besar, juga melalui pemasaran e- commerce yang sedang digandrungi para pengguna internet.

PLI juga harus mampu mempersiapkan diri untuk target AFTA dan nantinya APAC tahun 2020, supaya benar- benar siap untuk menghadapi kompetitor-kompetitor dari luar negeri sana ujar Zack. Pokoknya dalam melanjutkan bisnis keluarga harus lebih baik.

Zack tidaklah sendiri, dibantu pihak ketiga, yaitu  PT. Bank Central Asia Tbk.(BCA) yang setia melayani segala urusan perbankan PLI. Menurutnya, fasilitas BCA sangat memudahkan transaksi yang ia lakukan, terutama untuk keperluan perusahaan.

Menurutnya Bank BCA adalah bank terbaik di Indonesia. Layanan internet BCA membuat PLI lincah berbisnis. Satu hal ia tak perlu berepot- repot mengunjungi kantor BCA untuk melakukan transaksi- transaksi.

Jika dia berada di luar negeri, bisa membawa token dan ada akses internet, membuatnya tetap nyaman untuk melakukan perjalanan bisnis. Zack juga aktif di kegiatan Komunitas YES untuk pebisnis generasi kedua yang disponsori BCA.

Menjadi wadah berbagai macam pengusaha berkumbul. Aneka pengusaha berbagi ilmu dan sharing tentang kendala mereka. Ada sekitaran 70 perusahaan yang bergabung di komunitas ini. Dia sendiri yakin melalui komunitas mampu membawa peningkatan.

Pengusaha Felix Tansil UKM Diaspora Kopi Panggang Ekspor

Profil Pengusaha Felix Tansil


pengusaha ukm diaspora

Pengusaha Felix Tansil sukses mendirikan UKM Diaspora. Salah satu diaspora Indonesia yang sukses berbisnis kopi di Amerika. Siapa sangka, di kota kecil Silver Spring, Maryland, Amerika Serikat, sebuah kedai kopi asli Indonesia bernama Nagadi Coffee berdiri.

Atase Perdagangan dan Kepala Bidang Fungsi Penerangan KBRI berkesempatan untuk mengunjungi salah satu pengusaha diaspora asal Indonesia ini. Pengusaha Felix Tansil mendirikan UKM Diaspora, yyang mana mampu membukitkan satu hal.

Bahwa jika anda di luar negeri, masih bisa mengharumkan nama Indonesia dan berwirausaha. Ni Made Ayu Marthini, Atase Perdagangan (Atdag) KBRI di Washington DC, menurut keterangan persnya, mangatakan kopi merupakan produk andalan ekspor Indonesia.

Dan, melalui keberadaan UKM Diaspora, bisnis Nagadi Coffee sedikit banyak membantu jumlah pengirimin ekspor. Didirikan sejak tahun 2011, bisnis dari Nagadi Coffe mengambil  suatu konsep bisnis unik.

UKM Diaspora Kopi Panggang Amerika


Oleh pemiliknya lebih sering disebut Coffee Laboratory, berfokus wholesale kopi spesial, diantaranya Takengon, Aceh, dan Mandailing, Sumatra Utara. Maksudnya pengusaha Felix Tansil tidak sekedar menyeduh kopi. Tetapi mereka juga mengolah, meracik, dan memasarkan reseller produk- produk itu.

Setiap hari Sabtu, laboratorium Nagadi Coffee dibuka untuk umum bagi pencinta kopi untuk membeli kopi secara ritel atau mengikuti kelas apresiasi kopi (cupping, tasting) agar konsumen dapat menghargai dan memahami specialty coffee, khususnya yang berasal dari Indonesia.

"Penikmat kopi saat ini tidak segan- segan mencari tahu asal kopi yang mereka minum, siapa yang memiliki kebun kopi tersebut," terangnya kepada pers 

Suasana sosial/lingkungan dan ekonomi asal kopi berpengaruh. Bahkan nama petani yang memetik kopi tersebut. "Dengan kata lain, terjadi ikatan batin antara konsumen dengan produsen," ujar Felix. Inilah perbedaan siginfikan jika kamu mau mencoba membuka usaha di luar negeri.

Memang gaya hidup warga Amerika tak jauh dari kopi apapun jenisnya. Inilah yang dibidik seorang Felix, lebih dari separuh warga Amerika meminum kopi jelasnya lagi. Bahkan berdasarkan satu studi pengeluaran untuk minum kopi bisa mencapai 18 miliar per- tahun.

Ia memulai usahanya di apartemen kecil, di Maryland, modalnya sebuah pemanggang kopi kecil. Tak kurang 10 kilogram kopi bisa diolah pria berkacamata ini.

Ia membuka usaha kopi sejak april 2011 setelah bermigrasi dari pekerjaannya sebagai insinyur sipil, dengan omset 3000-5000 dollar Felix mengakui membuka usaha baru saat ekonomi AS belum pulih bukanlah hal yang mudah.
"Membuka usaha saat ekonomi baik maupun buruk, kalau mental siap mulai saja",ujar Felix.
Istri Felix, Patrisia, yang juga dari Brasil tempatnya kopi, juga membantunya berbisnis kopi. Dari berjualan dengan sistem langsung, ia dan istrinya mulai berjualan secara online. Hasilnya? Sebuah kedai kecil di  Maryland. Untuk jenis kopi yang dijual jarang ditemui di toko lain, karena kopi yang dijual berasal dari berbagai negara termasuk indonesia.

Untuk menjaga kualitas Felix menyeduhkan secara sederhana yakni dengan menyaring kopi. Pelanggan tidak keberatan untuk menunggu lama, dibandingkan dengan  kopi yang dibuat mesin penyeduh.

Pengusaha Ekspor Kopi ke Amerika


Ia juga siap sedia menyediakan kopi luak, tetapi karena harga kopi luak mencapai 10 kali lipat, dari harga kopi biasa; ia baru akan memangganya setelah ada yang memesan. Tentu berbanding terbalik dengan negara asalnya Indonesia, dimana kopi luwak masih bisa terjangkau.

"Kita hanya fokus dalam jumlah kecil, kita hanya jual fresh kopi yang tidak lebih dari dua minggu lamanya", ujar Felix.

Kopi dijual secara grosir dikemas sesuai dengan pesanan, semantara untuk kemasan kopinya sendiri Felix menamakan kopinya NAGADI,yang dalam bahasa Euthopia berati "pengelana". Felix memakai bahasa Euthopia untuk merek kopinya.

Karena Euthopia adalah negara pertama kali tempat kopi ditemukan. Agar kualitas tetap terjaga dan menekan harga kopi, Felix mengaku membeli langsung dari petani Indonesia.

Sukses setelah lebih dari lima tahun berjualan kopi. Felix Tansil dan Nagadi Coffee ditunjuk menjadi salah satu inkubator dalam program kementerian perdagangan. Incubator project ini dilakukan untuk mendorong semangat kewirausahaan UKM Diaspora.

Selain kopi, produk makanan dan minuman Indonesia, serta usaha koperasi menjadi bisnis inkubator Atdag. Kopi Indonesia. Mengikuti pameran kopi spesial terbesar di Amerika Utara "Specialty Coffee Association of America (SCAA) Events" yang ke-26, di Seattle, 2014 silam.

Entrepreneur Wanita Singapura Membangun Bisnis Spa Premium

Profil Pengusaha Ponz Goo


entrepreneur wanita singapura

Terlahir dari keluarga kaya, entrepreneur wanita ini mencoba membangun prinsip. Tidak mudah bagi Ponz Goo membangun bisnis sendiri. Terlahir kaya dia membangun bisnis spa premium. Ia mencoba membangun bisnis sendiri, lantas apakah hambatan dilalui Ponz Goo.

Bersama saudara perempuan, Ms. Yean Goo, mendirikan HAACH pada Oktober 1997. Dia bekerja sendiri sebagai terapis, sejak dari nol, berusaha keras mencapai satu posisi manejer. Ponz memiliki kepercayaan terhadap dirinya dan memiliki tekat tinggi bekerja sendiri.

Dia melakukan segala kerja keras. Mengerjakan sendiri yang dibutuhkan industri bisnisnya. Ms. Ponz mengetahui semua proses bisnis spa. Ponz bekerja keras di tiap- tiap pos pekerjaan. Dimulai sendiri tetapi tidak langsung menjadi atasan.

Dimulai dari bagian Departmen Promosi Perusahaan dan Relasi Publik; Penjualan dan Marketing, Departemen Komunikasi dan Kreatif. Dari Departemen Pengembangan Bisnis dan Proyek Spesial, bertahap Ponz Goo diangkat menjadi kepala eksekutif atau CEO pada 2003.

Entrepreneurship Bisnis Spa Premium


Haach memiliki target jelas dalam berbisnis. Mereka profesional dalam pelayanan personal spa premium. Mengerjakan berbagai hal menganai pelayanan personal, seperti halnya Spa, Face Care, Skin Care, Body Care, Massage Care, Hand & Foot Care dan Product Care.

Mereka menggunakan standar Barat dan pengaruh asli Asia. Menggabungkan dua hal menjadikan bisnis spa premium berbeda. Ponz Goo, adalah entrepreneur wanita yang mengerjakan berbagai hal baru dan inovasi untuk bisnis- bisnisnya.

Dibawah bendera Haach sebagai pelopor bisnis spa premium. Mereka tidak melupakan asal- usul mereka. Ponz Goo dibesarkan dalam keluarga tradisional Cina, di mana nilai kejujuran adalah prinsip fundamental dan menjaga harga diri orang lain adalah esensi dari hidupnya.

Kualitas inilah, Ponz mengatakan, membuat Haach bisnisnya seperti sekarang ini - merek lokal yang terpercaya dan memenangkan berbagai penghargaan. Sebut saja Singapore Promising Brand tahun 2002- 2004, terakhir mendapatkan penghargaan Best of Singapore, menjadikan merek Haanch global.

"Saya percaya pada kejujuran, transparansi dan nilai wajar untuk semua layanan yang diberikan, sehingga Haach dikelola dengan cita-cita ini dalam pikiran," tutur entrepreneur wanita ini.

Baginya profesionalisme merupakan hal terpenting. Mangkanya Ponz memulai mengerjakan semua dari nol. Mereka bersinar karena layanan profesional tersebut. Mereka mengijinkan klien untuk menilai sendiri. Dimana 60% klien Haach kembali dan mendapatkan pengalaman menyenangkan.


Pada tahun 1997, Haach Face, Skin and Body Care didirikan oleh Ponz, beserta kedua adiknya dalam entrepreneurship. Ini merupakan satu upaya untuk mewujudkan impian ayahnya. Mendirikan satu usaha bersama keluarga bersama-sama.

"Kami mengidentifikasi kebutuhan pasar yang tidak ditangani baik para pemain pasar dan mulai membangun gaya hidup sehat dan konsep kecantikan," jelasnya.

Haach juga lahir dari keinginan mengatasi kurangnya profesionalisme. Dalam industri spa premium orang bernada sinis, dan Haach memberikan wanita rasa percaya diri. Mereka akan merayakan siapa mereka sebenarnya, daripada memuja yang bukan mereka.

Sebelum Haach, Ponz adalah Quantity Surveyor dalam industri berat dimana dirinya menjadi satu- satunya. Ia bekerja ditempat dimana laki- laki mendominasi hidupnya.

"Menjadi seorang wanita dalam industri yang didominasi laki- laki memperkuat tekad saya karena saya sering dinilai oleh bagaimana aku melihat daripada apa yang saya tahu; ini merupakan faktor penting untuk di Haach kita memperlakukan semua orang untuk siapa mereka."

Ponz percaya dirinya dan memiliki tekad level tinggi. Dia  melakukan kerja keras yang dibutuhkan untuk pemahaman yang lengkap dan menyeluruh di satu industri. Bergabung dalam bisnis Haach, ia bekerja dari nol, memulai semuanya sebagai therapis pemula.

Hingga kini terus berjalan sampai pada level manajerial, lalu level eksekutif. Ponz tau betul tentang aspek pelayanan yang utama, membuatnya lebih ke bawah atau down to earth. Ia juga memainkan peran penting bagaimana mengarahkan branding, pemasaran & komunikasi saluran perusahaan.

Konsep dan strategi Haach, adalah memplopori bagaimana pemasaran jaringan premium. Memberi contoh diri sendiri, sebagai seorang wanita yang sukses sarjana ilmu konstruksi manajemen dan ekonomi di Royal Melbourne Institute of Technology di 1996.

Contoh bagaimana bekerja Quantity Surveyor dalam industri pembangunan. Bisnis Haach adalah satu pelayanan dengan contoh dirinya sendiri. Haach didirkan Oktober 1997, lalu guna lebih memahami dasar bisnisnya, ia akhirnya mengejar Diploma dari Switzerland's Cidesco International di 1998.

Sebelum membangun Haach, Ponz Goo belajar di instutusi terkenal dibidang kesehatan tubuh, spa dan therapi kecantikan. Hari ini, Ponz Goo adalah Chief Executive Officer dari Haach Holdings Pte Ltd, dinamis memimpin strategi bisnis perusahaan secara keseluruhan.

Pada promosi akhirnya untuk Chief Executive Officer lagi, Ponz berujar menyampaikan ucapan terima kasih, "ucapan terima kasih dan kepercayaan dari para eksekutif  dalam realisasi gambaran saya akan Haach."

Entrepreneur Wanita Peraih Penghargaan


Sebagai CEO dan pendiri perusahaanya, ditangannya HAACH diganjar banyak penghargaan, antara lain: Enterprise 50 2003/ 2004, Singapore Promising Brand Award 2002/ 2003/ 2004, Singapore Promising Brand Most Distinctive Award 2004, dan Singapore Promising Brand Silver Award 2004.

Haach juga meraih International Superbrands Singapore 2002/ 2003/ 2004/ 2005 dan juga Global Entrepolis Award 2004. Ponz juga diganjar penghargaan Entrepreneur of the Year Award 2003, Finalist for the Young Chinese Entrepreneur Award 2003 and the Spirit of Enterprise Award 2003.

"Hal ini selalu sangat menyenangkan untuk melihat orang lain mengakui upaya kami yang dimasukkan ke dalam bisnis," jelasnya.
Ada kepuasan ketika masyarakat mengakui bisnis kamu. Inilah yang dirasakan Ponz Goo, yang siap memasukan dirinya ke dalam. Bagaimana Haach merepresentasikan sosok Ponz Goo pribadi. Bukan bisnis spa premium biasa.

Tetapi mereka memberikan contoh langsung nyata. Ketika beban kerja semakin intens Ponz akan, "mundur ke diri sendiri dan merenungkan fakta bahwa saya melakukan apa yang saya sukai, membantu orang dan juga memajukan industri di Singapura."

Ponz juga memiliki me time sendiri untuk mengisi ulang. Agar baterai semangat entrepreneurshipnya selalu terisi penuh. Dia menyukai traveling ke kota- kota baru, melakukan hal baru, hal yang nanti membuka ide- ide baru tentang Haach.

Sebuah quote inspirasi, entrepreneur Ponz Goo - bekerja keras dan percaya pada diri sendiri. Selain itu, kamu harus selalu berusaha untuk memahami diri sendiri dan pasar. Mengetahui apa prinsip- prinsip yang membimbing kamu sendiri dan keyakinan.

Seorang pengusaha adalah seseorang yang selalu mencoba sesuatu yang baru. Orang yang selalu suka untuk mengembangkan bisnis ke depan. Kegagalan hanya sebagai bagian dari proses pembelajaran. Baginya bekerja keras dari nol akan membuat kamu lebih belajar banyak.

Pengusaha Tempe Rustono Menjadi Miliarder di Jepang

Profil Pengusaha Rustono


biografi rustono tempe

Pengusaha tempe Rustono, pria kelahiran Grobogan, Jawa Tengah ini, yang sudah 16 tahun hidup di negeri orang. Istrinya bernama Tsuruko Matsumoto orang Jepang. Dia memiliki dua orang putri yang cantik- cantik. Yaitu mereka Noemi Kuzumoto dan Remina Kuzumoto berusia 13 tahun.

Berbeda dua tahun dengan kakaknya di Jawa. Pengusaha tempe Rustono malah memilih hijrah ke Jepang dan akhirnya hidup bahagia. Bermodal membuat tempe sendiri, Rustono berhasil mengukir namanya, sebagai pengusaha sukses menjadi miliarder di Jepang.

Hanyalah seorang pendatang akan tetapi bukan amatiran. Ia tidak pernah menyangka pertemuannya dengan sang istri akan menjadi cerita menarik. Dia yang lulusan dari Akademi Perhotelan Sahid pada tahun 1987, bekerja sebagai bell boy di Hotel Sahid Yogyakarta.

Atau, lebih mudahnya, dia hanya bekerja mengantar dan melayani kebutuhan tamu. Bertahun bekerja di sana, ia pun jatuh hati kepada wanita asal Jepang ini. Wanita itu Tsuruku Matsumoto kemudian dipersuntingnya di Indonesia.

Hijrah Pengusaha Tempe Rustono


Tahun 1997, keduanya memutuskan berhijrah ke Kyoto, Jepang, tempat asal istrinya. Rustono sempat bekerja di beberapa perusahaan Jepang. Dia bekerja mulai dari perusahaan sayur- mayur hingga perusahaan roti, dimana semuanya menuntut ketelitian dan tanggung jawab cukup besar.

Sebagai karyawan asing Rustono kesusahan beradaptasi. Saat itu, ketika menjadi pegawai, dia mulai belajar bagaimana berbisnis di negeri matahari terbit ini. Dia sadar bagaimana etos kerjanya para karyawan cukup tinggi.

Berkat pengalaman berbagai industri inilah jiwa kewirausahaan itu muncul. Hati kecilnya terdorong agar membuka usaha yang belum pernah ada di Jepang. Terinspirasi produk olahan nato, yang juga terbuat dari kedelai, ia lantas memilih berbisnis tempe walaupun tanpa pengalaman.

Meski keduanya sama- sama produk terbuat dari kedelai, keduanya memiliki cita rasa yang khas negara masing- masing. Ayah dari Noemi Kuzumoto ini mencoba menekuni bisnis makanan dan pembuatan tempe.

Sebenarnya dia memiliki sedikit sekali ilmu tentang bisnis tersebut, namun tekatnya telah bulat. Dia harus melewati fase trial and error dimana ia terus mencoba dan mencoba. Rustono menjalani pekerjaan tersebut kurang lebih selama empat bulan.

Tak puas akan hasilnya, dia rela pulang ke Indonesia selama tiga bulan untuk belajar membuat tempe yang lezat dari 60 pengrajin tempe di seluruh Pulau Jawa.

Kuatnya tekad dan semangat terus belajar memproduksi tempe. Akhirnya pengusaha tempe Rustono menuai manis. Dia berhasil membuat tempe yang lezat, bermodal bantuan ragi dari Indonesia, dan memanfaatkan sumber mata air di sekitar kediaman mertuanya.

Setelah berhasil membuat tempe enak masih ada kendala lain menantinya di Jepang. Rustono berhadapan dengan ijin usaha yang terbilang cukup rumit di Jepang. Produknya perlu melalui serangkaian tahapan- tahapan penelitian dan tes akan kandungan produknya.

Tak hanya itu iklim di Jepang ternyata tak bersahabat dimana kelembapan udara bisa mencapai kurang dari 60%. Proses fermentasi tempe secara alami tidak bisa maksimal sehingga dibutuhkan sebuah peralatan khusus.

Semua kendala menjadikan pelajaran berharga baginya di sana. Ia pun sukses menghadapi semua tahapan serta kendala tersebut hingga tempe Rustono mendapatkan ijin. Rustono telah berhasil mengantongi ijin dari pemerintah setempat sehingga produknya kini bisa diperjual belikan.

Inspirasi Pengusaha Tempe Rustono


Produk bermerek Rusto Tempeh dikemas secara sederhana namun steril. Produk yang kemasannya menggambarkan kehidupan kampung di Jawa itu kini laris manis. Memanfaatkan kemasan produk 200 gram, sekarang ini kapasitas produksi Rusto Tempeh bisa mencapai 16.000 setiap lima hari.

Ia memasarkan produk tempenya ini hampir ke seluruh penjuru kota di Jepang, baik di perusahaan jasa boga, rumah makan vegetarian, toko swalayan, sekolah-sekolah, hingga ke beberapa rumah sakit di Fukuoka. Karena ini menggunakan standarisasi berbeda dari tempat aslinya yaitu di Indonesia.

Rusto Tempeh menjadi panganan sehat menyehatkan bagi warga Jepang. Dari mulai produksi tempe ditambah kerja kerasnya kini Rustono sekeluarga bisa hidup nyaman di negeri jauh. Ia bahkan sekarang mampu membangun pabrik berkapasitas besar di pinggiran hutan dengan mata air jernih.

Pabrik baru tersebut luasnya mencapai 1.000 meter per- segi tersebut merupakan hasil kerja kerasnya kini. Ia semula hanya mengerjakan produk tempenya di rumah kecil bersama sang istri. Ia pun tak akan berhenti disana ketika jiwa kewirausahaan itu tumbuh terus.

Dilansir Tribunnews.com, ia yang telah sukses berbisnis tempe, tengah memperlihatkan bagaimana rumah dan pabriknya bekerja. Rustono juga menyebut dirinya telah memiliki segepok rencana bisnis baru. Dia telah memastikan bisnis tempe di Jepang akan terus berjalan.

Baginya kini ialah belajar kembali bagaimana agar berekspansi hingga ke berbagai negara lain. Kini ia tak hanya akan menjual tempenya di Jepang, tetapi juga sampai ke Korea Selatan, di Meksiko, Hongaria, Perancis, dan Polandia.

Masih banyak negara lain lagi yang ingin ditembus. Agar bisnisnya itu kuat, ia telah mempersiapkan dua negara utama siap menjadi pasarnya. Mereka adalah negara Prancis dan Meksiko. Kedua negara tersebut juga telah dikenal akan masakan khasnya.

Rustono telah mempersiapkan dua wanita yang mewakili negara keduanya. Mereka telah bekerja atau training cukup lama di pusat bisnisnya, Jepang.

"Biarlah urusan dalam negeri Jepang nantinya diatur keluarga saya, dan saya sendiri akan mencari tahu kesempatan bisnis ke negara lain," tekannya berkali- kali.

Ia baru saja membeli tanah seluas 4.000 meter persegi di dekat rumahnya seharga 6 juta yen. Lalu ketika dia bertanya kepada kontraktor berapa biaya membangun pabrik. Ia terkejut dengan angka yang ditawarkan itu mencapai 40 juta yen.

Keramahan khas orang Indonesia itu masih ada, namun sudah ditambah etos kerja yang tinggi khas Jepang. Baginya keberhasilan tempenya bukanlah tanpa kerja keras. Maka tak salah tidak hanya media Indonesia, media asal Jepang pun melirikanya sebagai sumber berita.

Tak disangka liputan media Jepang itu sampai kepada tetangganya yang berusia 80 tahun. Dia yang memiliki sebuah pabrik yang tak berjalan lagi mau membantu impian Rustono. Orang tua itu menjual kerangka- kerangka pabriknya seharga 50.000 yen.

Ketika seorang wartawan Tribunnews.com berkunjung, ia tengah mengawasi pabrik besar yang lagi dibongkar. Pabriknya seluas 18 meter x 6 meter akan menjadi pusat bisnis barunya. Dia berencana juga memasok tempe ke Indonesia. Rustono memastikan dirinya siap menjadi bos pabrik baru.

Di Eropa sendiri, tempe produksinya dijual sekitar 1,7 euro, sedangkan di Jepang harganya 250 yen sebungkus.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba