Meraup Untung Berbisnis Kerajinan Gerabah Bambu

Profil Pengusaha Kerajinan Sunardi


cara membuat gerabah bambu
 
Berbisnis kerajinan tangan memang susah. Sunardi, 31 tahun, sudah berpikir untuk bisa berbisnis sendiri. Sukses baginya adalah perjalanan kreatif dan panjang. Lewat kerajinan bernama gerabah tempel dia berhasil ekspor ke luar negeri. Menurutnya tampilan gerabah kala itu tidak menarik hati.

Pria warga Dusun Neco, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Yang berpikir gerabah ditawarkan pengrajin di sana tidak menarik untuk dijual. Maka dia menempeli gerabah dengan kulit bambu. Sunardi lantas mengajak dua orang temannya yang pengangguran.

Modal Rp.80.000 diberi nama produk itu gerabah tempel. Tahun 2002 dimana prosesnya meniru apa gerabah tempel yang sudah ada. Namun ditambah variasi tempelan kulit bambu. Limbah kulit bambu cukup banyak di daerahnya. Dimana kebanyakan merupakan pengrajin "kepang" atau "gedhek" dari bambu.

Limbah bambu disulap menjadi gerabah. Ia membeli kulit bambu bekas seharga Rp.1500- 2000 per- ikat. Ukuran 50- 60 cm dengan ketebalan 0,5 milimeter. Gerabah sendiri dibeli dari pengrajin asal Kasongan, Bantul, yang seharga Rp.30 ribu- 40 ribu. Caranya cukup mengambil lem kayu kemudian tempeli gerabah menggunakan lem kayu, lapisi dengan kulit bambu satu per- satu rapih.

Kalau sudah dikeringkan, setelah kering kemudian dicuci, dijemur hingga kering kembali. Begitu kering tinggal dicat sesuai kebutuhan pembeli. Kalau pembeli meminta dicat sepuluh warna. Ia akan menyanggupi sesuai permintaan.

Selepas mengikuti Festival Kesenian Yogyakarta, bisnis gerabah Sunardi semakin maju. Awalnya dia sempat tidak percaya diri. Lantaran hari pertama barangnya tidak laku. Orang cuma meminta kartu nama saja. Tetapi dua minggu selepas itu pesanan datang bahkan dalam jumlah besar.

Pesanan datang dari broker yang menawarkan produk miliknya. Mereka menjual lewat jasa pesan sesuai keinginan konsumen. Lambat laun usahanya ini berkembang bahkan sudah menebus pasar internasional. Dalam sebulan dia dibantu 30 orang karyawan menghasilkan 500- 1000 unit gerabah.

Dijual sesuai besar kecilnya gerabah. Dimana dia menyebut angka kotor Rp.70 juta. Gaji karyawan Rp.1- 1,5 juta per- bulan. Jerih payah tersebut membuatnya mampu membangun rumah dua tingkat, dan empat buah motor. Kehidupan Sunardi kini bisa dibilang sudah sangat mapan dibanding ketika nganggur.

Profil Kerajinan Kain Daun Kain Ulap Doyo Menginspirasi

Profil Pengusaha Myra Widiono


pendiri bisnis kain ulap doyo

Siapa sangka kalau daun bisa dirubah menjadi kain bati. Kreatifitas orang Indonesia memang sudah menembus batas terutama di bidang kerajinannya. Inilah kisah kain Ulap Doyo, satu buahnya dijual Rp.1,5 juta. Batik khas Kalimantan ini merupakan hasil kerajinan sebuah desa bernama Desa Tanjung Isuy.

Pengusaha wanita dibalik sukses mengangkat batik ini. Namanya Ibu Mira Widiono, penggagas batik ulap doyo, pemilik bisnis Rumah Rakuji mengelola hasil karya masyarakat untuk dipasarkan. Bahan dasar berbeda inilah menjadi nilai jual produk miliknya.

Bahan dasar utamanya adalah daun. Prosesnya dimulai dari pengambilan serat pada daun. Seratnya itu dikeringkan kemudian dijadikan benang kemudian ditenun. Kemudian diwarna dengan pewarna alam. Proses selanjutnya menurut Mira sama halnya dengan produksi batik biasanya.

Bertempat di rumah pengusaha Mira, di Rumah Rakuji, setiap kain ukurannya 200cm x 80cm. Ia lalu menjualnya Rp.1,5 juta per- lembar. Ukuran tersebut didasarkan ukuran tenun manusia. Jadi cocok karena ukurannya sepinggang dewasa. Bisnis ini tidak dia jalankan sendiri namun ada dukungan dari orang lain.

Pengusaha asal Jakarta dan Kalimantan membantu Mira. Peminat kain ini juga lumayan sehingga dia optimis bisnisnya ke depan. "...yang kurang suka minatnya ya membeli lembaran," paparnya.

Bisnis passion


Myra Widiono sebenernya bekerja sebagai seorang arsitek. Namun, dengan bakat kreatifnya itu, dari sekedar membuat desain kemudian merambah bisnis fashion. Sekarang bisnisnya sudah memiliki 60.000 pegawai. Bebekal kepercayaan bahwa Indonesia memiliki kekayaan kultur, utamanya kain.

Dia menjadi pengusaha berbekal kepercayaan. Ditambah passionnya akan seni, yang mana dia lihat sudah kurang ketika mengikuti pameran kesenian. Kreatifitas yang dianggapnya dulu tidak begitu mengejutkan. Akhirnya dia membuat sebuah komunitas untuk membuat sebuah kain.

Dari sana mulai dia mencoba membuat kain. Hasil karya kain ulap doyo mulai diperkenalkan. Kemudian lahir sebuah pameran bernama Pameran Tenun Indonesia, yang ternyata menggaet banyak antusias. Jujur dia bukan ahli dalam hal kain. Hanya passion yang membawa Myra hingga sekarang ini.

Kemudian masuk ke pameran tahun kedua. Ia mulai berkenalan dengan para peminat kerajinan kain. Lantas dia berkenalan dengan Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional). Tidak hanya kain, Myra mulai tertarik akan dunia kerajinan secara keseluruhan.

Mereka mengadakan aneka pameran, dari kain, kerajinan kayu, keramik,dll. Myra belajar dari sana, dan mengaggumi bagaimana leluhur kita memiliki kearifan lokal dalam berkesenian. Berbekal dari pengalaman tersebut Myra mulai membuat tim kerja.

Dia yang dasarnya senang berpergian. Mulai bersama berkeliling mempelajari kesenian. Bersama Dekranans juga mengadakan aneka pameran kesenian selama 5 tahun. Dia sadar bahwa kesenian kita terlahir karena adanya cinta.

Bisnsi Rumah Rakuji sudah berjalan sebelum dia ikut Dekranas. Dia tertarik tidak cuma kain, tapi juga kesenian tari, lukis, dan musik. Berkat ikut Dekranas dia berkenalan dengan keramik, kerajinan kayu, dan lainnya. Kenyataan bahwa pengrajin Kalimanta terlilit kemiskinan membuatnya semakin bersemangat.

Dia bersemangat untuk memajukan mereka. "Saya hanya bisa melakukan hal kecil, tetapi setidaknya saya melakukan sesuatu," jelasnya pada sebuah wawancara kepada Noesa.co.id

Memulai bisnis kain


Dari Dekranas, dia berkenalan dengan IKN (Industri Kreatif Nasional). Komunitas membawa Myra mengenal pewarna alami. Dia lantas kembangkan bersama workshopnya di Kalimantan, Flores, dan Sumba, mengajarkan masyarakat desa menggunakan pewarna alami.

Setelah keluar dari Dekernas, dia ikut kelompok Gerakan Pewarna Alam, tujuan awal bisnis Myra adalah sosial tidak menarget uang. Semua pameran penjualan tidak bertujuan mencari uang. Tetapi untuk mengembangkan kesenian kita. Termasuk memperkenalkan kepada masyarakat Internasional kita.

Di Kalimantan Barat, dia menemukan kain Ulap Doyo. Berbahan utama daun doyo, sebuah hal yang menyenangkan menemukan satu- satunya daerah menggunakan kain alami. Susah menemukan seni berbahan kain 100% alami. Menggunakan teknik ikat, sudah memiliki motif unik ketika disatukan jadi kain.

Sekarang ini kain tradisional tidak dibuat memuaskan. Kualitas menurun karena permintaan untuk produksi cepat. Masalah utama dihadapi berbisnis kain ulap doyo apa. Hanya ada 30 orang pengrajin di desa, dan hanya ada satu yang benar- benar ahli. Anak muda desa juga ragu untuk belajar ulap doyo.

Solusi produksi dikembangkan dia adalah membagi- bagi prosesnya. Setiap orang akan diposisikan pada posisi produksi tertentu. Dia kemudian mendapat dukuangan dari Pemda. Sayangnya Pemda meminta penggunaan warna kimia karena dianggap lebih cerah; lebih menjual.

Bisnis Myra adalah tentang kebutuhan masyarakat tanpa meninggalkan alami. Fokus bisnis sosial seorang Myra sendiri adalah artisan. Dia mengajak para artis muda, pengrajin muda untuk membuat sebuah pameran tetapi tanpa memaksa. Membangun komunitas lebih diutamakan untuk berbagi pemikiran.

Kenapa tidak memilih pewarna sintetik. Alasan kesehatan menjadi alasan utama. Buruk buat kulit, hingga menjadi polusi ketika usang. Banyak kepercayaan yakin bahwa pewarna alami justru bisa menyembuhkan penyakit.

Memanfaatkan Bio Slurry Bisnis Pupuk dan Sayuran

Profil Pengusaha Petani Sarianto


pengusaha pupuk bioslurry
 
Pagi begitu muram ketika tidak ada matahari di langit. Di sebuah tempat bernama Desa Babadan, Kec. Ngancar, Kabupaten Kediri. Suasana tampak bahagia di sisi lain, tampak seorang pria bersama wanita tengah berbincang, senyum tidak terlepas dari wajah keduanya terutama pria berkumis itu.

Siapakah mereka, nama pria itu Sarianto (49), dan istrinya, yang tengah berbincang dengan pewarta. Mereka tengah asik membahas hutang dan pekerjaan mereka. Dimana hutang puluhan juta itu sudah terlunasi. Hal lain yang membuat mereka senang adalah kontrak pengadaan 200 ton kompos sudah di tangan.

Perihal apa mereka membutuhkan kompos sebanyak itu. Ternyata mereka tengah membangun reaktor pengolah pupuk bernama Bio- Slurry. Usaha ini merupakan usaha rintisan dari usaha utama mereka yaitu pupuk kompos.

Pabrik kompos


Berbekal pupuk kompos, keduanya mencoba membuat perubahaan dalam berbisnis. Awal berkenalan dengan pupuk kompos ialah pada 2005. Sebagai petani terdorong untuk memotong biaya produksi karena beberapa kali merugi.

Dia menjelaskan menggunakan pupuk organik tidak cuma memperbaiki tanah. Alasan utamanya ialah menekan biaya produksi. Ketika dia tau bahwa pupuk organik juga membantu menyburkan tanah. Ia semakin mantab menggunakan pupuk organik karena memang tanah pertaniannya rusak.

Ia mengajak teman membentuk kelompok tani. Mereka mengumpulkan modal 3 juta rupiah. Uang itu digunakan untuk membeli pupuk kompos. Pada akhirnya cuma dirinya yang bertahan menggunakan kompos. Dan, memilih untuk juga memproduksi kompos untuk kebutuhan sendiri.

Usaha pembuatan kompos ini mulai ditekuni Sarianto. Bukan tanpa pengorbanan, ia menggadaikan BPKB motor dan menghasilkan uang 13 juta. Ia lantas menyulap halaman belakang menjadi pusat produksi pupuk organik.

Halaman belakang rumah dijadikan tempat penyulihan bahan baku. Agar bersih terpisah dari kotoran dan bahan plastik. Ada 2 mesin penyaringan dan 2 pengayakan. Sedangkan halaman samping dia gunakan sebagai lokasi composting dan packing. Juga menjadi tempat penumpukan kompos sebalum dijual.

Tenang karena Sarianto juga punya ruang tamu luas. Di sinis ada meja besar dan kursi panjang untuk ruang diskusi. Ada dua papan informasi berisi berbagai piagam penghargaan dan seritifikat kegiatan. Adapula brosur- brosur kegiatan yang sudah dan akan diikuti.

"Motif saya adalah untuk ekonomi keluarga, di samping untuk membantu petani," tuturnya.

Bagaimana Surianto bisa menjual pupuk murah kepada petani. Kenapa dirinya berani mengambil keputusan beresiko. Menjadi pengusaha pupuk kompos bisa- bisa gagal. Uang puluhan juta hasil gadai motor mungkin saja lenyap seketika.

Dia tidak menjelaskan dari mana asal keberaniannya. Setiap hari, ada lima orang pekerja yang rutin mengolah 20- 35 ton per- bulan. Tidak cuma menjual ke petani, beberapa perusahaan perkebunan yang menjadi pelanggan.

Hasilnya ada kontrak 200 ton pupuk kompos dari sebuah perusahaan menjelang lebaran 2013 silam. Dijual Rp.500/kg kepada petani dan 550/kg kepada perusahaan. Setiap pupuk kompos dijual dengan berat 40 kg per- zak. Jika orang lain merubah limbah menjadi gas, dia mengaku fokus menjual pupuk nya.

Sedangkan hasil gas nantinya akan digunakan untuk dapur. Dulu, Surianto pernah mencoba membuat biogas dari plastik, uang 800 ribu lenyak karena gagal. Selain baunya malah lebih bau dibanding jika memakai kotoran. Dia mengatakan bahwa memakai itu kompor tidak menghasilkan api matang.

Perhitungan bisnis


Jika orang bilang membeli reaktor rugi. Dia sudah hitung baik- baik. Jika dihitung reaktor sama saja dia membeli gas 3 kilo selama 3 tahun. Bedanya kan, setelah 3 tahun, otomatis biaya memasak di rumah sudah gratis. Disisi lain dia menghasilkan pupuk buat dijual ke petani atau perusahaan.

Apalagi semenjak elpiji naik, hitungan Surianto selaku pengusaha tepat, apalagi mengingat subsidi pupuk urea yang dicabut. Berkat subsidi pupuk urea dicabut maka penjualan pupuk kompos miliknya bisa naik. Pendapat inin diamini istrinya, Purwati, wanita 35 tahun yang sibuk mengurusi urusan dapur.

Dia mengatakan bahwa biogas dihasilkan sangat membantu. "Punya biogas sama dengan punya pabrik pupuk," jelasnya. Itu sangat meringankan sang suami yang petani, dan dapurnya semakin gampang ngepul. Otomatis penghasilan bulanan bisa dialihkan ke tempat lain selain ke biaya elpiji.

Ada tiga bpkb Surianto gadaikan, ketiganya bisa dilunasi lewat bisnis pabrik kompos, juga termasuk hutang ke UPK, PNPM. Tidak cuma jualan kompos, dia juga menjual tempat menanam polibag yang sudah disuburkan.

Ditambah lagi, Purwanti mendapat 1 juta per- dua hari dari berjualan cabe yang subur. Kemudian ada tanaman oyong, kacang panjang, kubis, terong, dan bayam. Sudah tidak lagi bingung untuk belanja dapur dan uang jajan anak- anak.

Idenya menanam tanaman lewat polibag berhasil. Dengan memanfaatkan pupuk sistem bio- slurry, Purwati tinggal membeli bibit, menanam, dan menghasilkan hasil. Pikirannya dia memanfaatkan waktu luang. Lebih baik dibanding berpikir untuk ngobrol dengan tetangga yang ujungnya bergosip.

"Tanaman saya hasilnya bagus dan menghasilkan uang," tuturnya

Pasangan suami istri pengusaha yang mempunyai dua putri ini, berhasil memberikan inspirasi bagi keluarganye sendiri. Terhitung ada 4 orang dari keluarga mereka mengikuti jejak keduanya. Surianto tidak berhenti disitu, rancangan berikutnya adalah membuat pertanian dan peternakan terpadu.

Bisnis pembibitan tanaman lebih menguntungkan dibanding bisnis hasil pertanian. Perputaran uang memang lebih besar disini. Berlanjut, Surianto sukses membangun kampung organik, dengan sistem kompos perkembangan pertanian di lereng gunung Kelud itu berputar.

Sosoknya sekarang dikenal sebagai guru petani. Semua orang belajar dari membuat pupuk, bertanam, dan mengelola tanaman dari hama. Surianto menganjurkan untuk tidak menggunakan produk kimia. Ketekunan Surianto membuahkan hasil setelah dua tahun meyakinkan berhenti menggunakan kimia.

Contoh produk sukses desa mereka adalah kacang tanah. Meski disebut sebagai salah satu sumber penyakit kolesterol, faktanya Surianto juga ikut mengkonsumsi. Menurutnya semua terjadi karena penggunaan produk kimia. Sudah 10 tahun dia meninggalkan pupuk kimia dan memulai kompos.

Dia sendiri diyakinkan dengan ajakan ahli ITB. Ia juga membuktikan hal tersebut sendiri. Meskipun dia waktu itu sukses panen besar karena kimia. Selanjutnya tanah buat menanam rusak, bukan yang rusak tanamannya tetapi tempat menanamnya rusak dan hasilnya produksinya menurun tajam.

Juga kalau dihitung penggunaan kimia itu mahal. Dia menghabiskan Rp.1,2 juta, sedangkan memakai pupuk organik atau kompos mengeluarkan Rp.600 ribu. Butuh waktu praktek hingga produknya bisa terlihat jelas hasilnya. Para petani lain akhirnya mengakui bahwa sayuran miliknya lebih bagus.

Solusi Hardware LittleBit Teknologi Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Ayah Bdeir


perpustakaan hardware littlebit

Ayah Bdeir adalah seorang seniman interaktif, entrepreneur wanita, inventor, dan menjadi pembicara dalam berbagai kesempatan. Pendiri LittleBits, perusahaan startup pemilik perpustakaan hardware, mencoba membuktikan bahawa hardware bisa dijadikan opensource layaknya software.

Mencoba menjadi ikonik, "Meletakan kekuatan elektronik ke tangan siapa saja, mempermudah setiap teknologi komplek, dimana setiap orang bisa membangun, prototipe, dan mengivent kan itu." 

Sosok Ayah kelahiran Kanada, tumbuh di Beirut, Bdeir yang mana ayahnya Saadi Bdeir, seorang entrepreneur juga, dan ibunya Randa Bdeir, adalah seorang Banker. Seorang anak yang dibesarkan dengan konsep ikutin passion mu. Dia dan kakaknya menyukai desain, matematika, dan akhirnya jadi entrepreneur.

Dia tertarik dalam bidang fisik. Memilik keahlian ilmu komputer lewat hadiah Commodore64. Ayah dan ibu Ayah sangat suportif tanpa membedakan jenis kelamin. Mereka menganggap wanita juga bisa menjadi seorang ilmuan.

Jadilah seorang enginer atau ilmuwan sebagai karir. Bahkan ibu Ayah, juga melanjutkan kuliah di tempat kedua anaknya mendapatkan ijasah. Jadi Ayah mendapatkan Master bidang Science dari MIT Media Lab dan Computer Engineering American University of Beirut.

Mendirikan perusahaan


Ayah mendirikan LittleBits pada 2008 lewat pryek kecil- kecilan. Bersama beberapa orang artis dan desainer asal New York. Dia meluncurkan LittleBit pada September 2011 resminya. Dengan adanya LttleBit mudah bagi orang awam untuk membuat remot kontrol untuk pemanas kopi.dll.

Ayah dianggap sebagai pelopor opensource program untuk hardware. Dimana dia berharap semua orang akan punya akses untuk mengembangkan hardware. Ayah dikenal sebagai pembicara di TED, SXSW, dan CreativeMornings, mengangkat isu persamaan gender dalam hal entrepreneurship.

Baru- baru ini, LittleBits, berkolaborasi dengan LucasFilm dan Disney, meluncurkan Droid Inventor Kit. Mencoba menjalankan gerakan Android dikembangkan untuk semua. Jadi bagaimana kehidupan Ayah Bdeir sebagai entrepreneur, inilah sekelumit hasil wawancara oleh Entrepreneur.com ini:

Ayah Bdier terlahir dari keluarga yang intelektual. Begitu pagi tiba maka pesan WhatsApp akan siap menunggu. Ketika memulai hari bersama ibu dan kakak perempuanya di London, mereka akan mulai dengan membaca buku dan beberapa diskusi pendek bila diperlukan.

Kemudian beberapa menit membuka Twitter dan Instagram. Ayah tidak ke sana sebagai sarana narsis tetapi berkarya. Ia akan mengecek hastag tentang LittleBit, melihat perkembangan pergerakannya di penjuru dunia. "Saya suka mendengar cerita dari berbagai belahan dunia."

Sebagai entrepreneur wanita yang juga bersuami entrepreneur, mereka bangun lebih siang karena pada malam harinya akan ada diskusi sebelum tidur. Mereka akan menghabiskan jam ber- jam untuk membahas sesuatu yang tidak bekerja di bisnis mereka.

Sebagai entrepreneur, ia mengingatkan galilah ide- ide lama, kemudian membawa semua ide lama dalam satu kesatuan sekarang. Untuk menjadi lebih fokus cobalah tarus semuanya dalam urutan. Hal mana yang kamu kerjakan dulu. Mulai dari nomor satu dan bergerak ke nomor- nomor berikutnya.

Latihan ini akan membantu kamu tetap fokus sebagai entrepreneur. Hati- hati karena jika tidak punya catatan kamu akan berakhir "oh nomor satu selesai... yang lainnya tidak penting." Cobalah melihat kembali ke catatan agar segera berpindah ke apa yang akan kamu kerjakan selanjutnya.

Ayah juga pernah merasakan sebagai pegawai. Bagaimana mengatasi bos kamu yang bermasalah. Ia menjelaskan harus mencinta pekerjaan mu. Karena jika tidak maka kamu akan merasa bosan, lalu pergi ke dapur, mengambil sesuatu hingga mengingat bos mu berkata "Kamu belum melakukan sesuatu."

Bukan tentang sangat mencinta pekerjaan mu. Tetapi tentang hasrat yang mendorong kamu tetap bekerja. Ibunya seorang wanita karir. Ia sangat terinspirasi akan dia. Ayah melihat betul bagaimana ibunya beradaptasi, belajar banyak hal dengan orang lain, lalu menggunakan itu untuk diaplikasikan ke pekerjaan.

Sebagai entrepreneur, LittelBit bukanlah yang pertama, ia mengingat semua dimulai ketika dia sekolah menengah atas. Dia bersama beberapa teman memulai workshop anak. Dimana jika yang lain sekedar membuat acara karnival, mereka membuat berbagai kerajinan dan seni untuk dipamerkan.

Dari sana, orang akan datang berkunjung, melihat atau membeli sesuatu untuk dibawa pulang. Awal dia menggaet 300 orang hingga 1000 orang tahun berikutnya. Sayang, apa yang dia kerjakan itu, menurut Ayah bukanlah karir yang menjanjikan.

Apakah entrepreneur memiliki hidup seimbang?

Jawabannya, dia belum, dan akan memberi tau kita jika sudah di sana. Berbeda dengan entrepreneur lain yang punya ingatan bagus. Ia memilih untuk mencatat apa saja kegiatannya dan apa yang dia pikirkan. Sebuah saran untuk mencari investor adalah adanya visi merupakan hal terpenting dahulu.

Profil Bisnis Membuat Alat Musik Bambu Untung

Profil Pengusaha Adang Muhidin


alat musik bambu

Cerita pengusaha kali tentang bisnis bambu. Berawal dari kebangkrutan usaha Adang Muhidin kini ternama. Dia mencoba mengikuti jejak kecintaanya. Tahun 2009- 2010, usahanya bangkrut, hingga menanggung kerugian ratusan juta.

Padahal usaha Adang terbilang moncer. Bayangkan pria berkacamata ini dulunya punya tiga bisnis: konstruksi, bengkel mesin bubut, dan jualan pulsa, semuanya gulung tikar dan menyisakan masalah dalam rumah tangga. 

"Saya stress berat. Sampai saya bentur- benturkan kepala saya di tembok," ujarnya

Suami dari Tati Winarti ini, mengatakan masalah keluarga muncul, lantaran dia sebagai suami tidak bisa memenuhi kebutuhan istri dan kedua anaknya. Bahkan dia berencana kembali ke Jerman untuk bekerja di sana lagi.

Dalam benaknya bekerja di Jerman lima tahun mungkin cukup. Adang berpikir dengan uang hasil kerja di Jerman, cukup menutupi hutang- hutang tersebut. Alumnus Teknik Metalurgi Universitas Jendral Ahmad Yani, Bandung, 1999 ini memang sempat mengenyam pendidikan di Jerman.

Bekerja keras pengusaha


Karir bisnis Adang tidaklah mudah. Membangun bisnis dari nol tidaklah gampang. Adang pernah merasakan hidup susah menggelandang di Jerman. Karena harus berkuliah dengan biaya pas- pasan, kuliah S2, jurusan teknik perlindungan korosi, Universita Fachochslue Sudwestfalen, Jerman.

Kehidupan di Jerman sempat membuat dia putus asa. "Saya pernah menggelandang di Jerman," ia mengenang. Dia pernah bekerja sebagai pencuci piring. Agar biaya makan ringkas maka dia memilih berpuasa. Harusnya kehidupannya dulu cukup melatih mental pengusahanya.

Dan memang, akhirnya dia sukses, tetapi menghadapi kenyataan hutang berbeda cerita. Apalagi dia bukan cuma pengusaha tetapi kepala rumah tangga. Dia yang juga pernah berjualan roti bakar. Lalu menemukan bisnis bambu ketika melihat konser Addie M.S. di televisi, tahun 2010.

Ia mengamati bahwa konser itu memiliki alat musik unik. Dia menyadari bahwa alat musiknya itu berlubang, dan lubang ada pada bambu, bagaimana jika kita membuat alat musik dari bambu?

"Lubang juga ada pada bambu," tuturnya.

Kemudian dia berkenalan dengan komunitas Angklung Web Institute, Bandung, kemudian dia mulai berpikir bagaimana caranya membuat produk alat musik dari bambu. Ide bisnis ini baru tewujud di tahun 2010. Produk pertamanya adalah biola walaupun akhirnya berbentuk aneh.

Produk tersebut digambarkannya sebagai sesuatu yang menyayat hati. Seperti keadaan dia kala itu yang tengah dilanda kesusahan. "...lagu- lagu melengking, yang menyayat hati," imbuhnya.

Bisnis kembali


Roda kehidupan berputar kembali ke arahnya. Bekal uang Rp.100 ribu, usaha bisnis bambu tersebut, dia coba menjadikan produk menjual. Produk biola aneh tersebut ternyata terjual Rp.1,5 juta. Lambat laun bisnisnya berkembang. Produk buatan Adang sudah sampai aneka gitar listrik dari bambu.

Produk satu ini menurut penelitiannya lebih gampang. Karena mengandalkan listrik untuk suara, jadi dia lebih mudah menyetel tune. Dan boleh percaya atau tidak faktanya, "... saya sendiri tidak bisa bermain musik."

Bisnis alat musik bambu buatannya berkembang pesat. Bahkan menghasilkan omzet Rp.200 juta per- bulan. Ia sendiri memiliki banyak rencana akan bisnisnya ke depan. Dibawah bendera bisnis bernama VirageAwie yang berarti bambu, Adang sudah menemukan kunci bisnis alat musik bambu tersebut.

"Kunci utamanya ada pada laminasi," tutur dia.

Tidak tanggung- tanggu berbisnis. Adang juga sudah membuka pabrik di Karawang loh. Tahun 2018 dia menargetkan bisa ekspor. Cita- cita yang belum terwujud ialah dia ingin membuat produk lengkap orkesta. Dia ingin bambu naik kelas dan dicintai masyarakat.

Butuh waktu untuk dia menemukan produk terbaik. Butuh banyak percobaan baru bisa. Begitu jadi satu biola "aneh" langsung dijajakan. Ketika itu ada orang Jepang yang berminat membeli biolanya. Begitu ditanya harga ia langsung spontan menyebut Rp.3 juta.

Ternyata laku, semangatnya semakin menggebu hingga jadilah produk drum, gitar, bas, sexophone, kecapi, dan cello. Pertama kali berbisnis modalnya cuma Rp.100 ribu. Uang itu dibelika bor Rp.52 ribu. Sedangkan bambunya dia dapatkan dari pinggir jalan depan rumah.

Bambu gelondongan belum ada nilainya. Jika dipikir paling bante dibuat meja ataupun kursi. Namun dia berpikir out of the box. Untuk marketing dia cukup memanfaatkan sosial media, lewat Facebook porduknya diviralkan. Tahun 2015 dia mengikuti berbagai acara untuk performa dan maskin terkenal.

Dari Malaysia, Singapura, Taiwan, Belanda, dan Jerman, sudah menjadi panggung buat aneka produk musik berbahan bambu ini. Lewat pameran dia juga bisa menjual sampai Rp.100 juta, bahkan dia pernah menjual sampai Rp.300 juta satu setnya.

Menjual via online pendapatan rata- rata Rp.100 juta. Uang hasil penjualan digunakan Adang untuk membangun komunitas bambu. Dia mulai memberikan pelatihan kerajinan. Dia mengajak mereka yang tidak mampu untuk berwirausaha.

Menurutnya jika orang kreatif pasti bisa membuat sesuatu, hasil karyanya pasti suatu saat akan diakui oleh masyarakat. Mangkanya dia mengajak pelaku usaha mikro lain tidak minder. Jangan lupa juga harus melek teknologi agar menjual dan berkembang pesat.

Dia yakin orang Indonesia hebat- hebat. Kerajinan tangannya hebat- hebat. Cuma belum banyak yang muncul saja memanfaatkan teknologi.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba