SItus Tiket.com Kapan Berdirinya dan Oleh Siapa

Profil Pengusaha Dimas Surya Yaputra 



Terkadang kita cukup butuh obrolah ringan menjadi bisnis. Ini adalah kisah empat sekawan, terutama kisah seorang anak muda bernama Dimas Surya Yaputra, atau Dimas Putra yang tergila- gila internet. Bagianya disinilah dia menemukan jati diri hingga berbisnis sendiri.

Tahun 2009 dia menemukan Swinde.com, situs barang lelang yang dibandro dibawah harga sebenarnya di masyarakat. Cuma enam bulan dia mampu menghasilkan pendapatan $1 juta, dan mampu menggaet kurang lebih 80.000 orang pengguna.

Pemuda lulusan Universitas Pelita Harapan, tahun 2007- 2010, jurusan ekonomi yang kemudian lanjut kuliah di Beijing Language and Culture University. Dia mengajak Wesna Agustiawan dan Jeffry Anthony mengerjakan bisnis PhaseDev. Menggaet 30 pengembang perangkat lunak dalam tiga divisi bisnis mereka.

Yakni mengerjakan aplikasi mobile, kemudian pengembangan aplikasi desktop, dan membangun situs web buat kamu. Dimas diangkat jadi CFO yang mengurusin keuangan perusahaan. Mereka memiliki 40 orang karyawan yang merupakan anak- anak muda. Meskipun sudah banyak penghargaan Dimas masih merasa kurang.

"Kami masih jauh dari sukses," ujarnya. Bungsu dari empat bersaudara ini merasa performa produksi nanti harus ditingkatkan. Anak muda penghobi golf dan komputer ini, ingin lebih banyak konten karya mereka PhaseDev lebih menarik masyarakat pengguna.

Bisnis tiket


Dia memiliki ide berbisnis tiket. Bayangkan susahnya kala itu, bagaimana orang harus bercalo ketika mau pergi naik pesawat. Tahun itu tahun 2010, dimana kalau mau pergi dari Medan ke Tegal rasanya super sulit, dan berbanding terbalik kisah sukses startup Tiongkok berbasis Online Travel Agent (OTA).

Meskipun begitu OTA itu beda dengan tiket.com. Bisnis Dimas ini, bersama tiga orang temannya, yakni Wenas Agusetiawan, Gaery Undarsa dan Natali Ardiant, mereka juga didukung seorang investor lokal. Berawal dari obrolan karena malasnya mengantri membeli tiket malah menjadi bisnis.

Dimas berkata inilah peluang besar di internet Indonesia saat itu. Berdiri pada Agustus 2011 dan baru bisa beroperasi Desember 2010. Tidak cuma menjual tiket tetapi mereka memberi informasi rute. Tidak cuma bebas calo tetapi lebih gampang mencari ketersediaan di tempat.

Memang usianya belia, tetapi Dimas tidak ragu membangun mimpi bisnis digital nya. Dalam setahun sejak mereka launching. Mereka berhasil menggaet 100 ribu pengguna. Banyak tiket dijual tidak cuma tiket pesawat, ada tiket bioskop, konser.dll.

Tiket.com menjadi salah satu rekanan bisnis PT. Kereta Api Indonesia. Semuanya memang berawal dari kereta api dahulu dan berhasil. Kebetulan pemerintah tengah membenahi penjualan tiket kereta api. Lalu mereka mulai menjalin kerja sama dengan berbagai maskapai penerbangan.

Ada total enam maskapai, jaringan bioskop 21, mengandalkan jumlah mereka mampu mereguk transaksi tidak kurang dari 1.000 tiket. Untuk modal sendiri Dimas tidak banyak bercerita. Yang pasti mereka siap mengeluarkan biaya agar server tidak mati. Dan dari enam orang karyawan sekarang 40 orang karyawan.

Denim Bekas Bisa Dijadikan Kacamata Gaya

Profil Pengusaha Jack Spencer dan Alex Boswell 


 
Dibanding kamu membuat denim bekas kamu. Kenapa tidak mendaur ulangnya menjadi barang berguna. Ini adalah kisah dua entrepreneur bernama Jack Spencer dan Alex Boswell. Bisnis mereka itu diberi nama Mosevic, yang mana mereka berdua juga pernah berbisnis semacam ini.

Bayangkan mereka merubah denim bekas menjadi kacamata. Koleksi mereka bernama Signature Denim dan Worn Sun Glass merupakan produk laris loh. "Kami membeli denim rusak dari tempat jualan barang bekas untuk amal," tutur Spencer.

Mereka mendapatkan uang buat membiayai kegiatan amal. Uang dari penyumbang pemilik pakaian bekas kemudian digunakan amal. Nah, tidak semua bisa terjual, justru Mosevic membeli yang tidak terjual. Yaitu pakaian denim yang sudah terlanjur rusak atau tidak pantas dipakai lagi.

Caranya adalah menumpuk denim menjadi bentuk. Semua dibuat dengan bahan resin sintetik. Dan nanti akan menciptakan bahan baru yang disebut denim keras. Selanjutnya, dengan komputer, pemotongan dan bentuk tekstur dipertahankan.

Bisnis ajaib


Dengan bantuan kompyter pemotongan akan rapih. Tinggal dipasang frae saja kan. Selain bahannya ramah lingkungan, keren, ternyata produk ini ringan. Setiap produk satuanya unik karena merupakan bahan dari pakaian orang yang berbeda. Ada sejarah tertempel pada tektur setiap denim meskipun sama bahannya.

Proyek ini dimulai Juni 2015 berbekal donasi KickStarter, tapi sebenarnya sudah jauh sebelumnya yaitu empat tahun penelitian.

Spencer memang sangat passion kepada kacamata. Meskipun dia tidak memakai kacamata. Tetapi pikiran dia ingin memulai perusahaan kacamata. Untuk menjadi laris manis, maka dia berpikir caranya agar beda dari kebanyakan orang. Dia sudah pengalaman membuat aneka hal berbekal bahan kimia komposisi.

Hingga dia sadar bahwa resin ternyata bisa digunakan pada bidang kain. Jika kacamata matahari adalah produk mewah, maka ini minimalis, dan mereka berdua sadar bahwa bisnis mereka merubah cara hidup kita dalam memanfaatkan produk daur ulang.

Dan ketika orang suka akan produk mereka, maka pakaian bekas untuk dibuang diminimalis. Kita jangan sampai menjadi generasi pakai- buang. Mereka termasuk entrepreneur yang memahami bahwa menjadi biang perubahan itu harus. Tetapi mereka sadar bahwa mengemas produk sebaik mungkin agar laku dijual.

Tetapi mereka juga ingin kemasan minimalis. Efesiensi tidak cuma pada produk, tetapi kemampuan dalam penjualan lewat internet. Mereka bergerak dari organisasi amal ke perusahaan besar yang punya limbah. Mereka ingin mengubah produk lawas tidak laku terjual.

"Kami berharap produk kami akan meningkatkan kesadaran akan limbah fashion," tutup Spencer.

Menjadi Agent Tagihan Bersama Ruma Buat Rakyat

Profil Pengusaha Aldi Haryopratomo 


 
Namanya Aldi Haryopratomo pengusaha muda bidang sosial. Pemuda yang kini sudah berusia matang, 32 tahun, merupakan kelahiran Jakarta, Indonesia. Merupakan anak orang berada tetapi tidak membuat dia jadi sosok arogan. Pasalnya semenjak usia dini sudah berteman dengan anak- anak yang ekonominya susah.

Empati Aldi kecil tumbuh dengan kesadaran akan lingkungan. Dia tinggal di perumahan untuk pegawai pemerintah. Dimana sekitarnya merupakan kampung- kampung keci. Di sana, justru dia menemukan banyak teman, meskipun lahir dari keluarga berkecukupan bermain ke kampung itu menyenangkan.

"Pengalaman tinggal di dua dunia sangat membentuk saya tumbuh," ujarnya.

Tetapi tidak akan berhasil tanpa orang tua. Dia ingat betul bagaimana dia dan kakaknya dibentuk. Oleh kedua orang tuanya menjadi sosok pengajar kehidupan. Ayah Aldi merupakan pegawai kontraktor khusus membangun jalan negara. Menurut ajaran ayah pekerjaanya adalah untuk membantu hidup orang banyak.

Ayah Aldi percaya bahwa jalan dibangun akan mendorong ekonomi. Semangat membangun tidak cuma buat uang tetapi membangun kehidupan masyarkat Indonesia. Ayah Aldi pekerja keras dengan alasan mulia tak cuma sekedar mencari uang.

Bertahun- tahun Aldi terinspirasi sang ayah. Bagaimana dia juga bisa membangun masyarakat. Tentu saja dengan caranya sendiri. Selepas sekolah menengah di Jakarta, dia melanjutkan ke Amerika, yaitu kuliah jurusan ilmu komputer di Purdue University, Indiana.

Selepas kuliah dia bekerja menjadi teknisi keamanan untuk Ernst & Young. Kemudian dia mengerjakan bisnis untuk UKM bernama Kiva. Dimana Aldi berkeliling Indonesia dan Vietnam, ke pelosok, cuma buat mewujudkan idealismenya. Selepas itu Aldi memilih melanjutkan program MBA ke Harvard Business School.

Bisnis kembali


Tidak berhenti berbisnis sosial. Langkah selanjutnya Aldi ialah Ruma. Dimana dibiayai oleh perusahaan besar Silicon Valley. Dan didukung perusahaan besar asal Indonesia Gunung Sewu Kencana. Ruma lalu mempekerjakan 512 orang, dimana sepertiganya adalah agen lapangan, sisanya bekerja di kantor Jakarta.

Pengusaha muda satu ini bukan mencari uang. Tetapi justru membantu orang lain, sebaik mungkin, agar bisa mendapatkan uang. Pengalaman menjadi pegawai di perusahaan pembiayaan UKM. Maka pada 2009 dia siap meluncurkan bisnisnya sendiri sejenis.

Ruma menyediakan bagi 30.000 perusahaan kecil di seluruh Indonesia kesempatan berbisnis. Mereka akan membantu masyarakat untuk mengakses servis, membayar tagihan, mencari lowongan, dan semuanya dilakukan cukup di aplikasi mobile mereka.

Kemudian para agent merupakan toko- toko kecil yang menawarkan jasa. Ambil contoh sebuah warung dimana orang tidak cuma membeli rokok, tetapi bisa membayar listrik. Dimana dia mengambil inspirasi data Bank Dunia bahwa hanya 16% orang yang memiliki akses ke internet.

Dia selalu memberi semangat kepada agentnya. Mereka pantas mendapatkan hasil dari kerja keras mereka. Hal paling berarti adalah dikelilingi orang yang melakukan hal berarti. Dia beranggapan akan gampang kita sukses jika dikelilingi tim kerja hebat yang memiliki passion pada usaha mereka juga.

Kepercayaan Aldi begitu besar, bahkan tidak segan meninggalkan pengelolaan kepada mereka. Tidak cuma sebentar tetapi sampai dua minggu pergi. Aldi pergi ke pelosok berbekal sepeda motor dan tentu tidak lah mudah dihubungi untuk sekedar meeting.

Apa yang dilakukannya di luar kantor?

Ia akan mengunjungi agent Ruma. Dia akan aktif bertanya kesan dari agent dan juga pelanggan mereka. Dia beranggapan membangun kekuatan dalam mengambil keputusan adalah hal terpenting. Guna menciptakan itu pengusaha harus tau bagaimana perasaan pelanggan, bagaiamana mereka berpikir, rasakan, dan akhirnya butuhkan.

Dia berpikir jika kamu mau jadi anak muda ambisius. Baiknya jangan cuma berpikir bisnis mereka sendiri. Tetapi bagaimana menangani solusi di luaran sana. Entrepreneurship harusnya menginspirasi, bagaimana menyelesaikan masalah, menjadi passion dengan masalah adalah inti dari apa yang kamu butuhkan.

Entrepreneurship adalah sedikit dari banyak cara menyelesaikan masalah. Sayangnya orang menaruh ini dibawah kaki mereka. Menyepelekan kewirausahaan. Akhirnya banyak orang yang bekerja keras akhirnya tidak mendapatkan penghargaan bahkan oleh atasan mereka sendiri.

Meskipun disibukan dengan kegiatan entrepreneurship. Dia tetap meluangkan waktu jalan pagi bersama istri dan anak kembarnya. "Saya berbicara kepada mereka (anak saya) mengenai pekerjaan seperti layaknya orang dewasa," ia menceritakan. Berjalan bersama mereka adalah terapi pikiran Aldi untuk semangat pagi.

Sawerbreeder Kisah Pengusaha Ular Hias

Profil Pengusaha Breeder Ular 


 
Ular memang binatang yang menggelikan. Tetapi siapa sangka dari ular, bermunculan jutawan berkat bisa menternakan mereka. Bukan sembarangan ular tetapi ular hias. Tentu butuh lebih dari sekedar berbisnis. Ada unsur hobi di dalamnya tetapi hobi yang menghasilkan pendapatan uang.

Seperti kisah Faizal Firmansah, warga Mojokampung, Kota Bojonegoro, yang mana baru tiga tahunan ini menggeluti budidaya ular hias. Dimana cuma memanfaatkan ruang di belakang rumah. Faizal bisa hasilkan omzet sampai Rp.25 juta.

Tidak terlalu sulit membudidaya ular. Yang dibutuhkan lingkungan cocok, kandang harus sesuai ukuran dan harus sesuai besar kecilnya ular. Taruh tempat air minum. Dikasih makannya cuma seminggu sekali. Ia mengatakan bahkan satu bulan sekali!

Untuk jenis ularnya ada piton bola Afrika, Korsnake Amerika Latin, lalu beberapa jeni piton Kalimantan. Dia mengatakan tantangan berbisnis ular bukan di prosesnya. Justru datang dari tanggapan akan hewan apa yang dia pelihara. Awalnya dia dimarahi keluarga ketika mulai membudidaya ular -meskipun tidak berbisa.

Karena tetangga banyak yang takut kelau mau bersilaturahmi ke rumahnya. Namun lama kelamaan, karena memang tidak berbisa, tidak berbahaya justru banyak tetangga mulai berdatangan melihat. Harga sendri dia tentukan variasi mulai Rp.500 ribu sampai Rp.5 juta tergantung dari keindahan kulit si ular tersebut.

Sebulan dia mampu menjual tiga sampai lima ekor perbulan. Dan untungnya sendiri jika maksimal sampai Rp.25 juta!

Bisnis bukan iseng


Salah sati penggemar ular, yang menekuni bisnis breeder, adalah Bapak Topan yang mana sejak kecil ular sudah menyatu dalam hatinya. Mungkin ular terlihat buas tetapi tidak bagi pengusaha ini. Bukan sebuah hobi tetapi menghasilkan uang. Pria 49 tahun ini memulai bisnis ular dengan membeli ular impor jenis corn snake.

Pilihan ular pertama buat dibisniskan meragukan. Pak Topan sempat ragu atas pilihannya sendiri. Apalagi dia merintis usaha breeder ular dari nol. Menurut level sebenernya, Corn Snake dianggap cocok buat dia yang masih pemula soal urusan membiyakan ular hias.

Tahun 2003 merupakan titik kunci, dimana dia sekuat tenaga, ada hasilnya Corn Snake Albino miliknya bisa dikembangkan menghasilkan anakan.

Sekali sukses membuat Pak Topan makin percaya diri. Dia yakin mampu menghasilkan hasil breeding berkualitas. Tahun 2006 dia memberanikan diri membawa indukan lebih besar. Yaitu ular Boa Constictor yang dipesannya impor, jenis piton, yang sudah dia pertimbangkan matang menjadi lahan bisnisnya.

Bukan sekedar hobi atau iseng melainkan bisnis. Seseorang selama mampu mengemasnya baik, Pak Topan yakin bisnis ular bisa menjadi kenyataan. Ritme alon- alon asal kelakon sudah berubah cepat. Dimana dia berpikir hobi hewan simple bisa menghasilkan uang.

Ketiadaan waktu membuat hobi ular diminati. Orang kan gampang memberi makan si ular, dimana masih bisa dijadikan sambilan sambil bekerja. Ada empat hal menjadi dasar bisnis ular dijalankan dia. Adalah pertama irit waktu memelihara ular. Lalu perawatan makan hingga tidak makan tempat dan berisik adalah kelebihan.

Inilah kelebihan buat berbisnis ular. Selain tersebut masih ada dua point lagi, yakni pesona eksotisme utamanya pada corak kulit ular itu sendiri. Pola warnanya bisa menjadi unik ketika dikawin silangkan. Inilah alasan lain kenapa Pak Topan nekat berbisnis sawerbreeder ular.

Soal investasi ular adalah investasi tinggi. Menurutnya sesuai dengan proses berkembang biaknya. Topan punya 8 pasang ular piton, 5 pasang boa, dan  2 pasang corn snake. Mereka semua adalah indukan siap buat dibudidaya. Ia memilik indukan berkualitas diatas rata- rata. Modal inilah menjadikan dia percaya diri.

Terutama dikalangan penghobi ular. Alhasil ular hasil budidayanya mampu laku hingga keluar kota. Lewat promosi internet bisa menggapai penjuru Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY. Menurut Topan kenapa dia sukses. Berhasil menghasilkan warna- warna berkualitas karena indukannya bagus, indukan impor punya keunggulan.

Indukan impor merupakan hasil silang. Lebih jinak, mampu menghasilkan persilangan yang lebih bagus, dan besar kemungkinan keturunannya jadi lebih bagus. Karena indukan jinak perawatan juga jadi lebih bisa telaten. Indukan jinak memudahkan persilangan terjadi. Satu jantan dan satu betina tetap setiap periode kawin.

Budidaya Kerang Tambak Kisah Suksesnya

Profil Pengusaha Tambak Misdi 



Namanya Misdi (39), warga Young Panah Hijau, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan, Sumatra Utara, yang sukses berkat kerang hijau. Bukan main dengan tambak buatannya sendiri. Misdi mengaku bisa dalam 7 bulan mengantungi satu ton kerang. 

Niat budidaya datang karena terbiasa. Misdi dulu pernah bekerja menjadi petani kerang buat seseorang. Kerjaanya di tambak sedikit banyak memberikan pengetahuan. Berbekal pengalaman tersebut, maka dia berniat membuat tambak kerang sendiri.

Bisnis unik


Modalnya sedikit kata Misdi. Ayah tiga anak ini kemudian mulai membuat tambak. Lantas ditaburinya bibit kerang ke seluruh permukaan tambak. Bukan tanpa hambatan berbisnis. Misdi nyatanya tidak punya tanah sendiri. Alhasil dia bermodal menyewa tambak orang sepanjang 70 meter dan lebar 10 meter.

Tidak sampai setahun, kurang lebih cukup 9 bulan, kerang ditabur di tambak sudah membesar saja. Waktu itu, Misdi mempunyai cuma 30 kerang, yang  dia sendiri tidak pasti berapa kilogramnya. Dia nekat beli bibit ke Tanjung Balai, Asahan, dimana kalau pas belinya 400 kilogram seharga Rp.10.000 per- kg.

Prediksinya bila sedikit yang gagal di dalam tambak. Dia mungkin dapat 1 ton sampai 1,5 ton, dimana dia mengatakan harga jualnya jadi Rp.12.000 per- kg. Kenapa bisnis Misdi menggiurkan. Menurutnya ini lebih gampang dibanding memelihara ikan di tambak.

Kerang tidak perlu dikasih makan. Karena makanannya mineral dari air tambak sendiri. Cukup menjaga saja biar tambak tidak rubuh karena erosi. Termasuk memasang jaring halus disekeliling tambak. "...agar tak hanyut terbawa arus pasang surut," tuturnya.

Masa panen maksimal 9 bulan (6 bulan pun sudah bisa) maka ada baiknya punya usaha sambilan. Seperti suksesnya Misdi, suami dari Afrida ini, akan mencari udang pancing atau kepiting bakau di sungai Paluh Pompong, yang mana dia kemudian cukup dijual di pinggir jalan. 

Untuk optimal memang harus setelah umur 9 bulan, besarnya nanti sebesar jempol kaki. Walaupun belum sebesar itu, biasanya orang sudah datang mau beli seharga Rp.10.000 per- kg -dimana jika 9 bulan sampai Rp.15.000 per- kg-, biasanya Misdi lebih memilih untuk dibesarkan sampai 9 bulan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba