Mendesain Kayu Pinus Menjadi Perkakas Ajaib

Profil Pengusaha Ivan Yahya Adhieteja 



Pengusaha muda satu ini menciptakan desain sederhana. Tetapi justru dibalik kesederhanaanya, Ivan Yahya Adhieteja, mampu menciptakan hal berbeda dibanding orang lain. Ivan menciptakan aneka produk- produk sederhana bermanfaat berbahan pinus hingga jati. 

Furnitur sederhana tersebut dibuat untuk kebutuhan para pengusaha kafe. Sebut saja produk yang menarik dia miliki sebuah pot kaktus mini. Ya pot tersebut berbahan kayu yang eksentrik, cocok buat dipasang di tempat- tempat gaul dan easy going. Mimpi Ivan adalah menjadi seorang design- entrepreneur muda dan sukses.

Aneka produk meliputi pot, akesesoris ponsel, lampu meja, tempat tisu hingga kursi. Harga juga variatif dan lumayan terjangkau yakni Rp.25 ribu- Rp.900 ribu. Dibawah naungan startup bisnis bernama Izemu dan Ivan mampu meraup omzet sampai puluhan juta hingga ratusan.

Bisnis startup


Awal produk dipasarkan ke berbagai kesempatan. Utamanya mengikuti aneka pameran lewat brand sendiri yakni Izemu. Orderan datang mulai buat memenuhi ruang kantor hingga ke rumah. Bahkan nih, lewat Ivan masuk ke pameran terus, dia lebih banyak dapat proyek sekala menengah buat desain interior perkantoran.

Proyek deseriusin, Ivan mulai berniat membesarkan brand Izemu miliknya. Orderan pertama dia dapatkan Rp.100 jutaan, dimana dia menginvestasikan ulang uang tersebut, dibelikannya 8 buah mesin, harganya juga variatif, antara Rp.10 juta, sampai Rp.4 juta.

Lulusan desain produk RMIT University di Melbourne Australia ini, mengatakan bahwa produk dibuatnya awal menggunakan bahan pinus dan jati. Sebagai catatatan nih teman, dia membelinya langsung ke pihak Perhutani, kemudian diolah menjadi landasan buat aneka produk menarik Izemu.

Ide bisnis adalah membuat aneka produk keseharian. Mulai produk interior dan aksesoris rumah tangga sampai ke perkantoran bisa. Proses lumayan lama sampai setahun barulah produk Izemu dikenal. Butuh waktu buat branding dan desain.

Jika sebelumnya, Ivan lebih fokus mengejar proyek, untuk selanjutnya mengejar penjualan aneka produk dari bahan pinus. Produk dijual mulai Rp.50 ribu- Rp.300 ribu, untuk barang yang ukurannya jauh lebih besar akan lebih mahal yakni Rp.800 ribuan.

Produk populer menurut Ivan ada seperti baki dan kursi kayu juga. Pemasaran juga melalui aneka pameran seperti Inacraft dan sejenisnya. Omzetnya mencapai Rp.20 juta- Rp.30 juta setiap bulan. Untuk produk ia sekarang mampu menembus ke gerai- gerai besar di mal.

Dimana Izemu bisa ditemukan di 7 toko beberapa mal. Salah satunya di kawasan Kemang Village, lainnya produk Izemu juga dijual lewat website Izemu.com, dan Whatsapp 08892720400, dan juga Instagramnya di izemudesign.

Sukses meramu bisnisnya, Ivan masuk dalam jajaran finalis Shell Live Wire 2014.  Mimpinya sebagai seorang design- entrepreneur nampaknya sudah berjalan. Ini merupakan gabungan antara pengalaman jadi product designer seperti latar pendidikannya, dan bagaimana kesenangan berjualan.

Ivan memang senang bereksperimen menghasilkan desain khas. Dia menargetkan bagaiman menciptakan produk- produk yang beda sulit dikejar kompetitor. Ivan memanfaatkan sumber daya alam hayati Indonesia yang mana penyelesalainnya lewat sistem waterbase yang aman dan ramah lingkungan.

Manisan Carica Enak Sukses Al- Fath

Profil Pengusaha Mudhofi 


 
Mencari sumber penghasilan sendiri. Mudhofi, guru mengaji, melihat pencerahan dibalik kekayaan alam Dieng. Buah carica ternyata memberikan peluang usaha. Menghasilkan rupiah lewat para pelancong yang datang ke sana. Dia tidak sendiri tetapi bersama membangun ekonomi daerah tempat tinggalnya.

Peluang bisnis manisan cerica tidak disia- siakan. Buah yang mirip pepaya bentuknya, tetapi manis rasanya ini, memang memiliki cita rasa khas tidak ada pada buah lain. Kesempatan tersebut diambil guru mengaji Pesantren Alfattah, Desa Petak Banteng, Kec. Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

Bersama pengurus anggota pesantren lainnya, dibantu oleh warga desa, lantas membentuk koperasi untuk mendukung para petani buah carica. Diolah diproduksi menjadi aneka manisan buah carica. Manisan itu kemudian dikirim ke berbagai Kota, seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang.

Perjalanan bisnis tidak selamanya lancar. Pernah berhenti produksi, karena arus keungangan yang keteter karena terseret ke pihak agen. Mereka para agen penjual telat bayar, bahkan banyak yang tidak bayar dari penjualan manisan Al- Fath. Kejadian tersebut tahun 2014, kemudian dia tangani dan berjalan akhir tahun.

Produksi setiap hari mencapai 60kg buah carica. Itu dibuat bermacam manisan dengan aneka rasa. Satu pengalaman pelatihan magang sebuah UMKM di Jakarta. Mudhofi mengkreasikan aneka rasa, dari lemon, terong belanda, sampai original.

Manisan dijual Rp.20.000 berisi 6 cup, dan Rp.35.000 berisi 12 cup. Satu cup iru isinya 115 gram buah carica, proses produksi oleh 20 orang santri Pesantren sendiri. Omzetnya kata Mudhofi masih kecil, yakni Rp.30 juta, dimana uang untungnya buat Yayasan Pesantren yang mengandalkan pemasukan warung.

Sekarang ada carica, lumayan menambah pendapatan kas Pesantren ujarnya. Pesanan makin tinggi dimana dari Semarang, ambil contoh, ia mengirim sampai 300 dus. Jualan juga melalui sistem online tetapi ya belum efektif lebih mengandalkan keagenan.

Membuat Cemilan Enak Dijadikan Usaha Widayati

Profil Pengusaha Sampingan


 
Tidak disangka usaha sampingan tersebut berbuah sukses. Berawal iseng menemukan resep- resep camilan ringan. Widayati kemudian mulai membuat usaha sendiri. Bisnis tersebut dirintis sejak dia tinggal di Pontianak, Kalimantan, pada 2008 silam.

Jujur Wida tidak bisa memasak loh. Keinginan memulai usaha membuat dia belajar. Berbekal resep dari koran dimulai lah jarinya bekerja. Ada resep kue carang berbahan ubi. Ia coba buat dan berhasil. Lalu dia tawarkan ke Megamall Pontianak yang belum seramai sekarang.

Dia titipkan ke warung- warung, kemudian toko jajanan dan oleh- oleh. Hasilnya positif, orang suka akan hasil olahan Widayati. Melihat potensi besar dia mulai mengejar bisnis tersebut. Dibantu sang suami, mereka mencoba memproduksi lebih banyak dan lebih variatif membuat camilan.

Bermodal uang Rp.50 ribu, kini, dia mampu mempekerjakan lima orang karyawan. Dimana nanti produk camilan buatanya ke berbagai daerah termasuk ke Jakarta. Produk racikan Widayati memang sedap cocok dilidah siapa saja.

Dulu mereka sempat minder akan usaha mereka. Masih ada rasa ketakutan kalau mau meminta pinjaman ke Bank. Terutama sang suami, yang melarang Wida mengambil pinjaman ke pihak Bank. Hingga bisnis mereka mulai stabil, akhirnya suami Wida mengijinkan untuk mengambil KUR karena bunganya kecil.

Mengambil pinjaman mendapatkan binaan. Bisnis Wida lalu masuk dalam naungan mitra binaan PT. Bank Negara Indonesia Tbk, dengan cuma berbisnis camilan omzet dicapai Wida sampai Rp.50 jutaan. Untuk pemasaran lebih memasarkan lewat marketing digital.

Untuk sekarang, pengusaha wanita ini, ingin menambah produksi lewat ikut program Rumah Kreatif Badan Usaha Milik Negara (RKB) Pontianak. Percuma kan kalau marketing Wida bagus, dapat buat memenuhi permintaan

Macam Camilan Minang Bisnis Mengenyangkan

Profil Pengusaha Mimi Sivia 




Sambil kuliah tidak ada salahnya membuka usaha. Sambil kuliah S- 2, Mimi Silvia, menemukan ide buat bisnis makanan ringan Minang. Eh, ternyata, menjadi usaha menjanjikan buat masa depan Mimi. Camilan khas Batusangkar, Sumatra Barat, dikemas modern oleh mahasiswi S-2 Universitas Indonesia ini.

Keinginan membuka usaha ditengah kuliah lagi. Tepatnya pertengahan 2016, ada perasaan ingin membuat satu usaha melihat kelebihan daerah asal. Di Batusangkar, memiliki kelebihan oleh- oleh khas, dan tidak cuma rendang.

Inilah alasa Mimi menggeluti usaha sekarang. Dia ingin mengangkat lebih dibalik kuliner Minang. Disisi lain nama kuliner Minang sedang ngetrend. Mampu mendorong Mimi untuk berbuat lebih. Langsung dari ide bisnis tersebut pilihan promosi jatuh pada bisnis jualan online.

"Kepikiran saja jual oleh- oleh khas Minang online," paparnya. Didukung koneksi banyak, dari karyawan swasta hingga mahasiswa, di Jakarta sampai Depok. Beda dengan pengusaha pada umumnya. Mimi lebih memilih memesan langsung ke Batusangkar.

Melalui usaha dia berharap memberi lebih ke Batusangkar. Minimal mendukung, mempromosikan kuliner khas daerah, serta memberikan peluang usaha kepada masyarakat. Ia menjamin produk dijual adalah hasil olahan keluarga Mimi asal Batusangkar.

"Kasihan pasar tradisional di sini pedagangnya suka ngeluh," terangnya kepada Detik.com

Aneka produk mulai ikan bilih sambal hijau- merah, serundeng kentang atau talas, rendang telur, rendang daging, rendang belut, rendang kerang, dan banyak lagi. Pokoknya semua kuliner khas Minang, asal daerah Batusangkar, dikemas Mimi kemudian dijajakan.

Kemudian dikemas menarik dengan nama O- NE (dibaca o ne) atau dalam bahasa Minang artinya "Uni", yang mana merupakan sebutan buat perempuan Pariaman. Dikemas higenis, modern, serta memiliki warna menarik perhatian pembeli. Pembuatan juga menunggu pemesanan, jadi produk baru dikirima langsung.

Bumbu tanpa bahan pengawet, umur produk mampu bertahan 1- 3 bulan. Pemasaran lewat Instagram, lalu Facebook, dan Path Pribadi. Awal dia menghubungi teman- teman buat pemasaran, koneksi semua dia hubungi, dan jualannya lewat WhatsApp.

Pengenalan awal lewat broadcast WA, lumayan kan, Mimi punya 2000 koneksi di sosial media tersebut. Ia mengatakan sementara pembeli kebanyakan Jakarta dan Bandung. Kemudian pembeli memborong dan membawanya ke Belanda, Australia, Inggris, dibeli teman- teman atau kenalan yang tengah kuliah di luar negeri.

Pasar mulai anak SMA, mahasiswa, sampai pegawai kantoran. Kemudian ada dosen yang menawarkan diri menjadi reseller. Produk Mimi juga digaet oleh pemerintah daerah, dipromosikan jadi salah satu UKM terbaik daerah. Omzet puluhan juta, dimana modal tidak mau setengah- setangah yakni sampai Rp.10 juta.

Paling mahal menurut Mimi, ada di bahan baku produk, soal kemasan serta hal- hal teknis cuma beberapa juta. Memang produk Mimi dijual lumayan yakni Rp.200- 280 ribu buat aneka rendnag, ikan bilih sekitar Rp.220 ribu- 250 ribu, rendang telur dan serundeng Rp.15- Rp.40 ribu -tergantung ukuran kemasan dibeli.

Penjualan sudah mencapai kisaran 400- 500 bungkus perbulan. Dengan aneka produk pilihan, Mimi bisa meraup lebih banyak pasar, dimana produk andalan ikan bilih dan rendang. Fokus ke depan, Mimi ingin kebih banyak menggaet reseller, dan membawa terbang produknya ke luar negeri terutama Malaysia.

"Selain itu bakal launching web oneminang.com," tutupnya.

Bihun Jagung Teddy Tjokrosaputra Batik Keris

Profil Pengusaha Teddy Tjokrosaputro 


 
Nama Teddy Tjokrosaputro harusnya akrab dengan bisnis batik. Tetapi bukannya memilih menjadi juragan batik, Teddy lebih memilih memasak mie. Bukan sembarangan mie tetapi mie bihun jagung. Dia lah sang direktur PT. Subafood Pangan Jaya, dimana kakek dan neneknya dikenal sebagai pengusaha pemilik Batik Keris.

Menjadi generasi ketiga tetapi tidak memilih mewarisi. Generasi ketiga bisnis Batik Keris, justru lebih menikmati membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Tidak memilih berbisnis tekstil malah memilih ke bisnis pangan.

Apa sih bisnis PT. Subafood Pangan Jaya, menjadi pelopor bisnis bihun jagung, adalah satu pencapaian terbesar bisnis mereka. "Produk bihun jagung merupakan yang pertama di Indonesia, bahkan di dunia," Teddy semangat. Pelopor bisnis bihun jagung ini tengah menaikan kapasitas bisnisnya terus.

Kapasitas produksi selalu naik 100 persen setiap tahun. Dimana kapasitas mereka mencapai 1.200 ton tiap bulannya atau sekitar 14.400 ton per- tahun. Adapun market sharenya mencapai 20 persen. Dia sebut harga eceran tertinggi Rp.11.000 per- kilogram. Bihun jagungnya mampu menembus pasar dan diminati.

Bisnis kebutuhan pokok


Teddy bermula bisnis properti bukan makanan. Selepas lulus University of Southern California, Los Angles, Amerika Serikat, pada 1995, ia memilih pulang ke Indonesia kemudian membantu orang tua buat mengurus bisnis keluarga dibidang properti. Melalui perusahaan keluarga belajar mengenai apa itu bisnis langsung.

Dia belajar bisnis lewat properti selama dua- tiga tahunan. Suami dari Shelly Verywan ini, mengenang pada 1997- 1998, perusahaan keluarga terpukul karena krisis moneter. Hampir semua bisnis keluarganya gulung tikar, termauk properti. Walaupun begitu, Teddy tidak menyerah buat berbisnis properti.

Untuk menjalankan bisnis properti setelah krismon. Teddy membuka usaha sendiri dibawah bendera PT. Andalan Propertindo, dimana dia menggarap proyek trade center Solo, Jawa Tengah. Isinya trade center tersebut rata- rata pengusaha batik.

Bapak dua anak, tidak merasa puas akan perjalanan bisnis properti miliknya. Pada 2004, dia merambah ke bisnis makanan lewat PT. Subafood Pangan Jaya. Pilihan usaha dijatuhkan kepada bisnis pengolahan bahan baku jagung. Pilihan jagung karena merupakan bahan pokok kedua terbesar setelah beras di Indonesia.

Pemikiran Teddy lainnya adalah jagung dapat diolah aneka produk. Dua kelebihan tersebut kemudian dia coba olah. Melalui membentuk tim mencari tau olahan cocok buat masyarakat. Ide kemudian membuat mie berbahan jagung. Bihun jagung memudahkan penyerapan produk ke masyarakat karena kedekatannya.

Setahun penuh, Teddy meneliti, bagaimana agar bihun jagung benar terserap ke masyarakat. Kemudian dia mendirikan pabrik bihun jagung di daerah Tangerang, Banten, pada Juni 2005. Di tahun 2006, Subafood mulai memproduksi sekitar 100 ton per- bulan. "Tidak semulus dibayangkan," dia menjelaskan.

Butuh waktu buat mengedukasi masyarakat, dan pada umumnya orang cuma tau bihun ya terbuat dari bahan beras. Inilah tantangan Subafood mangkanya kapasitas produksi tidak langsung besar. Proses dijalani oleh Teddy menjadi semacam sekolahan baru berbisnis. "Harga jualnya tidak mungkin tinggi (dibanding dari beras."

Kendala datang juga karena stok pengiriman bahan baku. Tidak selalu mencukupi produksi padahal jumlah produksi masih relatif. Perjalanan Teddy membawanya mengatasi semua masalah. Butuh waktu dan proses tetapi dia menikmati hal tersebut, hingga aneka inovasi dikembangkan oleh Subafood dengan produk itu.

Sebut saja bihun jagung instan anaka rasa, kemudian merambah sorgum, mie kering, dan makaroni juga. Ia kemudian menyasar produksi lain. Tidak cuma jagung, juga memproduksi trasi dan merica bubuk. Jika awalnya cuma ada 2 produsen bihun jagung, sekarang sudah ada 23 produsen bihun jagung mengekor.

Teddy tidak mau tinggal diam. Langkah berikutnya adalah melakukan ekspansi. Salah satunya, mengirim aneka olahan jagung ke pasar luar negeri, ke Belanda, Malaysia, hingga ke Brunei Darusalam.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba