Batu Bata Samroni Tegal Hasilkan Rumah 1 Miliar

Profil Pengusaha H. Samroni


 
Sejak muda H. Samroni sibuk jualan batu bata. Tekat Samroni melebih keras batu bata merah. Semenjak ia masih remaja hingga kini pengusaha batu bata. Awal sekali hanya sekedar salesman, sekarang dia sudah mempunyai pabrik batu bata sendiri di Tegal. 

Ini kisah pengusaha sederhana, yang sekarang sudah sanggup membeli rumah Rp.1 miliar. Warga Setu RT. 3 RW. 2 mengumpulkan uang sejak dulu. Semenjak bujang sudah punya cita- cita membelikan rumah. Dia ingin bukan rumah biasa menaungi istri dan anaknya kelak.

Banyak loh orang tidak percaya dia beli rumah sendiri. Masih tidak percaya kalau sanggup membeli rumah seharga satu miliar. "Saya punya rumah di sini (Taman Sejahtera)," ujarnya kepada pewarta JPNN.com.
Kini, Samroni sudah mempunyai 40 orang karyawan lebih, mereka membuat batu bata merah Tegal.

Banyak orang heran serta tidak percaya. Bahkan serifikat sudah resmi hak milik. "Padahal sertifikat sudah atas nama saya," sembari menunjukan fotokopi sertifikat asli legalisir. Tidak bisa dipercaya orang yang mengenal mereka bahwa mereka membeli rumah Rp.1 miliar.

Pabrik miliknya menghasilkan batu bata sampai 7 ribu- 8 ribu perhari. Tanpa berhenti mereka membuat dan mendisribusikan ke aneka toko bangunan. Bukan waktu singkat ujar pria 41 tahun sejak bujang usaha sendiri. Sekarang mah enak dia tidak kerja sendiri lagi, sudah punya istri dan dua orang anak.

Dia membeli rumah di kawasan elit Kota Tegal. Perumahan Taman Sejahtera, Kelurahan Kemandungan, Kecamatan Tegal, yang mana pemilik rumah kebanyakan pejabat, politis, dan pengusaha ternama. Siapa sangka dia mampu membeli rumah di kawasan kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES) Tegal.

Pemasaran masih disekitar Tegal. Mungkin karena Tegal tengah berbenah. Permintaan selalu saja datang ke pabrik miliknya. Untuk memenuhi kebutuhan bahkan setiap hari berproduksi. Kok beda dengan banyak kisah pembuat batu lain. Karena H. Samroni bekerja dengan ambisi untuk mencapai sesuatu.

Setiap hari pasti ada pesanan dan barang dikirim. Ia bahkan menarget mengembangkan cabang buat bisnis batu bata. Bukan buat diri sendiri adalah pesan ingin disampaikan pengusaha ini. Sang pengusaha batu bata merah ingin membahagiakan istri dan kedua anaknya. 

Setiap ada untung selalu sempatkan menabung. "Kalau ada rezeki berlebih, tak lupa kami bersedekah untuk warga kurang mampu," tutup.

Jualan di Gang Pudding Art Sunarno Berbunga

Profil Pengusaha  Dedi Kurnia Sunarno


 
Bisnis memang harus kreatif jaman sekarang. Tidak boleh cuma bermodal kerja keras. Ini dibuktikan oleh pria bernama lengkap Dedi Kurnia Sunarno. Pria 30 tahun yang bergutat dengan lembutnya pudding. Bukan sembarang pudding loh. Dia pengusaha seni di atas permukaan pudding atau Pudding Art.

Pikiran kreatif Dedi memang mengejutkan. Jika pengusaha pudding biasa cuma menebus pasar biasa. Dia mampu menembus pasar non- konvensional. Aneka bentuk mampu diciptakan Dedi lewat jarinya. Kisah sukses Dedi bermula sudah sejak sekolah menengah dulu.

Bisnis seni kuliner


Masa SMA akan segera berakhir juga. Dan Dedi bingung harus melanjutkan kuliah atau tidak. Ia memutar otak hingga berencana membuka usaha. Dedi lantas meniru mereka yang sukses berbisnis kuliner. Hingga langkahnya menemukan kuliner bernama pudding. Pertama Dedi mulai membuat pudding berbentuk biasa.

"Itu juga karena putus cinta, akhirnya jualan puding saja," selorohnya. Karena jualan pudding biasa maka kurang laku.

Pengusaha asal Surabaya ini kemudian menemukan cara. Ilham datang mungkin dari cerita luar negeri. Ia menemukan kesenian pudding art. Satu cara agar dagangannya berbeda. Cara jitu menaikan pamor kuliner puding bikinannya.

Dedi mulai menambahkan aneka kreasi. Di atas puding, seolah dijadikan kanvas olehnya, aneka bentuk ia sejikan ternyata sangat diterima masyarakat. Dedi mengias pudingnya. Dimulai aneka warna bunga ditaruh di atas. Kemudian semakin berkreasi lewat aneka bentuk imut lainnya.

Tidak cuma memakai cara konvensional. Sekarang juga berjualan lewat sosial media. Penjualan terbilang lumayan. Peningkatan terlihat, dimana jika sebelumnya cuma Rp.3 juta per- bulan. Sekarang dia sudah menjual Rp.20 juta per- bulan.

Harapan Dedi sekarang adalah melebarkan sayap bisnis. Termasuk kemungkinan merambah pasaran luar negeri. Dedi tidak muluk. Harapan utama bagaimana memasuki pasar Asia Tenggara.

Jualan di gang


Bermula dari gang tempat tinggal Deni. Usaha tersebut dijalankan sangat sederhana. Sesederhana pudding ia tawarkan pertama kali. Target usaha adalah mereka masyarakat kelas menengah ke bawah. Jualannya cuma di Kelurahan Kapasari, Surabaya.

Kemudian dia mengikuti pelatihan bernama Pahlawan Ekonomi tahun 2014. Pengembangan pudding tidak lagi monoton. Melalui pudding art usaha dijalankan Dedi makin bersinar. Pelajaran teknik suntik didalami untuk membentuk pudding. Terbukti lewat teknik suntik membuat pudding art makin gampang saja.

Meskipun sudah sukses membuat aneka bentuk. Dia tetap tidak berhenti ikut pelatihan. Program Tatarup III dilakon Dedi. Program tersebut membantu Dedi menata marketing bisnis De 'Nil Pudding Art. Dahulu kalau jualan pudding pasti pakai wadah berwarna gelap.

Kini, dia diajari untuk menonjolkan produknya, lewat program Tatarupa dia belajar bagaiman mendandani pudding agar cantik. Kemasan dirubah menjadi transparan hingga terlihat. Motif- motif pudding keliatan tuh dari luar. Pembeli makin tertarik makin banya datang memesan.

Cara berjualan lewat sosial media memang enak. Lebih banyak menggaet pelanggan. Ditambah lagi biaya dia keluarkan murah. Mudah juga tinggal memposting produk ke halaman. Ada Facebook Fanpage, lalu ada Twitter, Instagram dan WhatsApp. Yang mana orderan 80% datangnya dari aktifitas jualan di sosmed.

Saat ini, dia dibantu 6 orang karyawan, menghasilkan delapan varian rasa pudding. Mulai rasa original, ada rasa pisang, coklat, strawberry, dan banyak lagi.

Masih Jadi Karyawan Meski Punya Usaha Sepatu Lukis

Profil Pengusaha Sukses Gilang 


 
Kanvas sekarang sudah menjadi alas lukis lama. Kini, pengrajin berlomba- lomba, menciptakan peluang berbeda lewat sentuhan karya. Sambil menyalurkan hobi lukis. Seorang pemuda 28 tahun bernama Gilang memulai berbisnis. Bermodal talenta lukis dan alas lukis berbeda yakni tas dan sepatu.

Keromon berawal dari keadaan mendesak. Bingung mau bayar kuliah. Gilang lantas mencari ide tentang usaha. Gilang memulai bisnis lukis sejak kuliah. Sejak duduk di bangku kuliah semester 3, jari tangannya sudah memoles anaka barang dijadikan media lukis.

Tanpa menggelontorkan uang sepeser pun. Ia bercerita modal awalnya cat. Itupun pinjam dari teman saja. Ia mencoba memakai sepatu sendiri. Menjadikan barang sendiri jadi eksperimen, eh ternyata, hasilnya tidak mengecewakan. Dia upload foto ke sosial media. Dan pembeli pertama menanyakan hasil karyanya.

Dijual beberapa rupiah lantas dipakai lagi. Ia mengganti uang cat milik temannya. Kemudian dia bikin lagi lalu hasilnya diputar menjadi modal. Kuas dan cat dibelinya kembali. "Dengan kata lain nol rupiah untuk modal awal," jelasnya.

Bisnis berlanjut


Sukses Gilang karena menerapkan konsep custom. Dimana ia menyerahkan desain kepada konsumen. Dia hanya mengikuti arahan sembari memberi saran. Justru melalui cara tersebut bisnis berkembang. Disisi lain mengasah daya kreatifitas seorang Gilang akan trend kebanyakan di masyarakat.

Gambar tergantung bisa karakter, atau lukisan wajah, ataupun pemandangan dan batik. Semuanya Gilang bisa gambar diatas media lukis sepatu. Keahlian Gilang tidak serta- merta bisa. Namanya bakat kalau tidak diasah akan tumpul. Melalui bisnis sepatu lukis bakasnya terasa ke arah lebih komersial tetapi "nyeni".

Bisnis ini dijalankan lumayan lama. Sampai bertahun- tahun, dan Gilang menikmati bisnis sampingannya tersebut. Untung diraup Gilang bersih minimal Rp.6 juta per- bulan. Cukup lewat jualan di sosial media dia bisa segitu. Kendala bisnis tidak ada yang berarti jelas Gilang kepada jurnalis Okezone.

Kendala utama ya mungkin di bahan baku. Harga sepatu lukis harganya bisa menjadi mahal. Karena banyak orang melihat pasar yang sama. Bisnis sepatu lukis memang sudah banyak dikenal. Tetapi Gilang mengaku meski harga bahan baku naik, harga sepatu lukis dipatoknya tidak naik, karena harga harus tetap bersaing.

Dia sudah menjual lebih murah dibanding lainnya. Karena itulah orang bisa menjadi reseller karena dia ambil untung minimal. Itulah cara marketing diterapkan Gilang. Perbanyak pilihan produk menjadi satu cara Gilang lebih maju. Mulai wedges, heels, dan boots lukis tengah dikembangkan Gilang Keromon.

Pengusaha muda

Umurnya baru 28 tahun tetapi bisnisnya moncer. Pemilik Keromon, brand fasion lukis, Gilang sendiri tidak cuma berbisnis. Dia dikenal sebagai workaholic. Terbukti aneka profesi dia jabani. Mulai dari jadi fotografer pre- wedding sampai karyawan swasta. Semua demi memenuhi rasa hausnya akan pengalaman.

Kunci sukses pengusaha sampingan: Membagi waktu semaksimal mungkin. Jam 08.00 sampai 16.00 sore dia karyawan swasta. Naik jam 19.00 sampai 23.00 dia akan menjadi pengusaha. Kemudian pada Sabtu- Minggu dia akan menjadi fotografer pre- wedding.

Padahal dia memproduksi 150 buah sepatu lukis per- bulannya. Semua masih dilakoni sendiri lantaran dia belum menemukan pegawai kompeten. Dulu ada sih karyawan tetapi kerjanya tidak serius. Mencari sosok karyawan penuh dedikasi bukan cuma skill memang susah. "...dan mau bekerja keras," Gilang menjelaskan.

Namun tetap dia tidak mau pantang menyerah. Dia akan tetap mencari pegawai. Karena tujuannya akan jadi lebih luas. Bukan sekedar usaha sampingan. Gilang ingin membuka workshop. Untuk kedepan dia akan merekrut karyawan dari kalangan marjinal. Mereka pekerja keras yang dipinggirkan karena masalah hidup.

Sebagai pengusaha muda, Gilang menjadi panutan mematahkan mitos bahwa bisnis butuh modal besar. Dia bahkan tanpa modal. Semua berkat sifatnya yang humble ke teman. Disinilah kita bisa belajar bahwa jadi pengusah ialah tentang konektifitas.

Kisah Raja Perak Malang Berbisnis Karena Gagal Karyawan

Profil Pengusaha Faishal Arifin


 
Siapa sangka Faishal Arifin pernah menjadi supir angkot. Pengusaha muda 28 tahun ini memulai segalanya dari nol. Sampai sekarang banyak orang menyebutnya Raja Perak. Ia berkisah setalah lulus kuliah jurusan ekonomi manajemen, Universitas Widya Gama, Malang, tahun 2008, kok susah ya mencari pekerjaan.

Untuk menunjukan bahwa kuliahnya tidak sia- sia. Dia banting stir menjadi pengusaha dadakan. Dia memilih jualan ayam bakar. Selepas berjualan beberapa lama, dia kemudian bangkrut, uangnya ludes juga dibakar api karena kiosnya kebakaran. Karena tidak ingin menyerah akan nasib, Faishal memilih merantau ke Kalimantan.

Di Kalimantan, pengusaha kelahiran 3 Juni 1987, ini juga gagal mendapatkan pekerjaan seperti di Malang. Dia bahkan ditolak masuk perusahaan tambang. Harapan merubah nasib seolah mau tertutup. Tidak mau menyerah kembali ke Kota Malang.

Bisnis perak


Faishal melihat banyak perajin batu permata. Muncul perasaan tertarik akan usaha tradisi tersebut. Lalu ia iseng mencoba ikutan mendalami. Semakin lama menumbuhkan minat akan usaha perhiasan. Pengalaman belajar perhiasan membuat dia nyaman. Bagaimana kalau nanti diseriuskan saja menjadi usaha di Malang.

Dia memboyong ilmu batu permata Kalimantan. Di Malang, Maret 2009, dia mulai membuat perhiasan yang modalnya hanya koran bekas. Tepatnya gambar perhiasan majalah bekas. Ditiru kemudian dijadikan perhiasan sendiri. Berjalan ke Pasar Comboran, Malang, menemukan majalah bekas bergambar perhiasan.

"...saya gunting dan kliping, itu yang saya jadikan modal," imbuh Faishal.

Pesanan pertama datang dari seorang ibu- ibu. Ia tidak menyangka. Bahkan pesanan tersebut tidak sedikit. Ia akhirnya malah kebingungan karena tidak punya peralatan.

Ia kemudian ingat seorang kenalan. Orang Malang juga yang pernah bekerja menjadi perajin. Kemudian ia mengajaknya menjadi mitra. Hasil untungnya dibagi dua, yang mana nanti juga dibelikan peralatan usaha bersama. Modalnya ala kadar ia bercerita cuma mengeluarkan uang Rp.150 ribu.

Faishal cukup membeli peralatan dari tukang perhiasan yang bangkrut. Lumayan lah, dijual murah, tetapi masih layak digunakan. 

Cuma modal nekat


Dia pernah berkeliling dari Banjarmasin- Martapura. Mulai mencari pekerjaan biasa, atau mencoba masuk menjadi pegawai BUMN, ataupun coba ikutan tes PNS. Gagal. Ia malah ketagihan belajar membuat aneka perhiasan di sana. Kembali ke Malang dia sempat urungkan niat menjadi pengusaha.

Ia sempat mencoba lagi. Mencari pekerjaan tetapi kembali gagal. Titik inspirasi mengembalikan niatan awal. Dia menemukan majalah bekas ketika jalan- jalan. Tidak memiliki uang sama sekali. Dia berjalan tanpa arah ke Pasar Comboran, Malang.

Dia bolak- balik ke pasar jalan kaki karena tidak punya kendaraan. Ayah dua anak ini kemudian menemukan majalah berisi katalog perhiasan. Nekat dia meminta majalah bekas tersebut. Beruntung sang penjual mau memberi majalah tersebut cuma- cuma. Sepulangnya dia gunting kecil- kecil kemudian ditempat dalam map.

Esok harinya dia lari ke pusat pemerintahan. Mencoba menawarkan gambar tersebut. Dia melewat aneka keribetan birokrasi. Tidak gampang memang apalagi dia menjual harapan. Sesampainya disana, seorang ibu- ibu tertarik, seolah menguji keseriusan Faishal bahkan dia rela memberikan DP yang diminta Faishal.

Padahal nih, gambarnya dari majalah luar negeri, dia cuma asal menawarkan saja. Hasilnya DP senilai 60% harga disepakati. "Kala itu, pemesan perhiasan tersirat rasa curiga," kenang Faishal. Karena tidak mau melepas kesempatan. Dia rela menyerahkan KTP asli dan fotokopinya menjadi jaminan.

Syaratnya harus jadi seminggu ke depan. Kemudian dia ingat kawan lama perantauan. Dan dengar- dengar dia sudah bekerja di toko perhiasan. Keduanya kemudian negosiasi dan saling sepakat kerja sama. Faishal akan dibantu sang kawan memenuhi pesanan. Selesai, hasilnya memuaskan sesuai harapan pembeli dulu.

Cuma bermula sebuah proyek tungga menjadi viral. Melalui mulut ke mulut usahanya mulai dikenal oleh orang. Pesanan makin banyak. Karena tidak sanggup sendiri. Dia mengajak rekan awalnya kembali tetapi lewat kerja sama lebih dari sekedar untung.

Dia diajak menjadi pegawai, menjanjikan insentif, dan memaparkan pandangannya ke depan. Faishal tidak mau sekedar menjual janji. Akhirnya sang kawan mau hingga sekarang masih setia. Dari banyak orderan, mereka melewati bersama dan diselesaikan dengan sangat baik.

Kesuksesan Faishal kemudian terdengar sampai ke Walikota Malang, Moch. Anton. Mbah Anton lantas menjadi pelanggan tetap buat aneka kesempatan. Menjadikan perhiasan Fasihal souvenir sampai ke tangan orang lain di luar daerah. Menjadi satu kebanggan bagi Kota Malang karena ada pengusaha perhiasan perak hebat.

Ia kemudian rajin diajak ke aneka pameran wirausaha. Lewat itu dia berkenalan dengan eksportir. Seorang eksportir bahkan mengajaknya menjual sampai ke Ethiopia. Sadar akan kekurangan tenaga kerja. Tetapi tidak mau hilang kesempatan, dia merekrut beberapa perajin kecil Malang, Wajak, dan Pujo, Kab. Malang.

Mereka dilatih kusus, diberikan bekal peralatan, dan semakin banyak saja perajin datang bergabung ke usaha dijalankan Faishal.

Jika diandaikan kalau saja tidak nekat. Nilai usahanya akan setara modal Rp.35 juta. Beruntung tekad keras menjadi modal sangat berharga. Serta keberuntungan disetiap keputusan Faishal.  Omzet dicapai sampai ke angka Rp.350 juta. Tidak cuma berproduksi dia juga memberika pelatihan kepada masyarakat sekitar.

Konsep social entrepreneurship dijalankan dia. Tujuannya adalah agar memberikan lebih banyak peluang buat masyarakat Malang. Lahirnya bisnis yang diberinya nama Silver 999, merupakan bukti bahwa dia bekerja keras dan tekun. Dibalik itu keuntungan tumbuh dengan tanggung jawab akan kepentingan sosial kita.

Silver999 meyakinkan kita. Lewat penelitian mereka yakinkan aman alergi. Tahun 2010, dia bekerja sama dengan PT. Sucofindo, melalukan jaminan sertifikasi bahwa produknya berstandar kesehatan. Untuk hal ini Faishal menjadi mitra binaan agar mudah verifikasi.

Jika sebelumnya hasil menyontek. Faishal meyakinkan produknya kin 100% desain sendiri. Katika ada boming batu permata usaha dijalankannya mampu meraup omzet Rp.500- 600 juta -itupun buat ekspornya saja.

Bisnis Paper Cutting Dewi Kacu Cutteristic

Profil Pengusaha Dewi Kacu


 
Berawal keisengan membuat seni potong kertas. Awalnya dia akan berikan sebagai hadiah buat ponakan. Nah, dari sanalah, Dewi Kucu menemukan ide bisnis. Dia menghasilkan puluhan juta cuma dari hobinya mengukir kertas. Usaha bernama paper cutting, yang mulai ditekuninya sebagai usaha sejak 2010 silam.

Karena latar belakang pendidikan arsitektur. Mangka Dewi gampang memasuki dunia paper cutting. Selain memang kehidupannya tidak jauh dari dunia seni. Dia pernah bekerja menjadi fotografer, juga pernah jadi digitak marketer selama empat tahun.

Pengalaman serta melihat peluang. Mangka sejak tahun tersebut Dewi mulai fokus. Berderet nama- nama beken menghiasi kertasnya, mulai dari pengusaha sampai orang nomor satu Indonesia. Seorang lulusan Universitas Tarumanegara, Jurusan Arsitektur, semakin ahli melalui aneka artikel tentang paper cutting.

Bisnis hobi


Dari hobi, dia mulai menyalurkan bakatnya ke orang terdekat. Mulanya menjadi hadiah buat saudara yang ulang tahun. Kemudian keluarga memintanya membikinkan. Mereka meminta pesanan khusus bahkan rela membayar. Animo akan bisnis meningkat, Dewi mempromosikan lewat Facebook, dan makin dikenal luas.

Gadis kelahiran 1985 ini, tahun 2011, masih sempat bekerja menjadi pegawai. Menjadi desainer dan juga fotografer di Vinotti Living. Kemudian dia makin serius ke sananya. Bahkan membuat brand sendiri, lalu membuat akun sosial media, serta membuat situs toko online sendiri.

Nama usahanya Cutteritic diambil nama alat pemotong cutter. Mencerminkan kreatifitas diatas segalanya, bahkan hanya bermodal peralatan sederhana. Pakai cutter cukup menciptakan produk berkualitas bernilai jual. Situs toko onlinenya dibuat sebaik mungkin, juga segampang mungkin dikases oleh pengunjung.

Dia juga menerapkan search engine optimization (SEO). Strategi yang mampu mengalirkan pesanan baru setiap harinya. Pesana makin banyak dibanding dulu. Tetapi, Dewi, masih bekerja menjadi pegawai dari pagi sampai sore. Pesanan dikejerkan waktu malam harinya. Bukannya lelah, ia malah merasa tenang dan senang.

Pasalnya mengukir kertas sudah menjadi hobi. Disalurkan malah membuatnya seperti meditasi. Berlanjut namanya makin dikenal tidak cuma dikalangan pembeli. Dewi mendapatkan sorotan dari media masa baik cetak maupun elektronik. Nama Cutteristic makin melambung membawa lebih banyak pesanan datang.

Tidak bisa menghindar lagi. Dewi memilih fokus mengerjakan bisnisnya. April 2014, Dewi resign, sudah tidak bekerja lagi menjadi Manajer Pemasaran Digital & Kreatif di Sunpride.

Bakat seni dan bisnis


Dewi mewarisi bakat seni dari sang ibu. Dia dikenal memiliki hobi membuat aneka ketrampilan. Namun, lucunya, ketika Dewi mendalami paper cutting, ibu menjadi orang pertama yang protes. Karena Dewi buat rumah jadi kotor karena banyaknya potongan kertas.

Sekarang ibu Dewi bangga akan anaknya. Lantaran melalui hobi menghasilkan sesuatu. Tidak cuma uang, tetapi kesenian indah eksotis yang membanggakan. Kunci sukses Dewi menurut kami: Adalah fakta dia tidak menganggap ini bisnis memberatkan. Hobi selamanya akan menjadi hobi tutur gadis cantik ini.

Berawal hobi untuk mengisi waktu luang. Disela- sela kesibukannya bekerja menjadi pegawai. Kalau saja, hal yang awalnya cuma kado, tidak menjadi minat besar orang. Mungkin Dewi tidak akan mau melepaskan pekerjaan. Apalagi lewat bisnis ini menghasilkan omzet lumayan yakni Rp.30- 40 juta.

Berawal marketing mulut ke mulut. Dewi mulai mengisi rasa ingin taunya. Seberapa besar orang akan mau mengapresiasi karyanya. Hingga membuka halaman Facebook, aktif di situs jejaring sosial, dan juga mau membuka toko online sendiri. Dari sekedar paper cutting melebar hingga bisnis desain interior kertas.

Ia iseng memention karyanya ke majalah interior. Dari sejumlah majalah desain interior dia mention di akun Twitternya. Salah satunya merespon kemudian mengajaknya kerja sama. Semenjak itu permintaan jadi makin membesar. Padahal jika melihat proses kerjanya dan peralatan cuma pakai peralatan sederhana.

Bedanya cutter dipakai Dewi punya bantalah. Disisi- sisinya ada bantalan khusus buat jari. Fungsinya buat menjaga jari Dewi tidak kapalan. Karena internsitas produksi yang lumayan. Bayangkan untuk membuat satu sisi desainya saja. Bagian terkecil dan detailnya butuh waktu sampai tiga jam pengerjaan.

Cutter merupakan pensil, kuas, pewarna dalam karyanya. Ini bukan sekedar barang dagangan tetapi karya seni. Dia tidak memakai kerta khusus. Cukup kertas biasa bahkan kertas bekas. Dalam pembuatan pola juga tidak spesifik layaknya pabrikan. Dia melakukan seperti maestro melukis di atas kanvas dengan kuas.

Ini tentang apa yang tangan kerjakan. Orang beli karena indah dan karena datang dari tangannya. Tidak ada mesin yang membuat ratusan desain. Meskipun sudah menjadi bisnis menjanjikan. Dewi memilih tidak mau merekrut pegawai. Meskipun banyak orang bisa lukis, karya seni adalah milik mereka pembuatnya.

Semua karya Dewi buatan tangan. Disamping itu, paper cuttingnya tidak semua merupakan barang jualan. Ada yang dijadikan koleksi pribadi. Bisnis ini juga tidak mau mengeksporalif. Maksudnya membuat masal kemudian ditawar- tawarkan. Murni barang dihasilkan merupakan buah pikiran inspiratif manuasia.

"Kalau ada pesanan tapi kepepet deadline, saya prefer tidak ambil," imbuhnya. Jika banyak orang berharap karyanya menjadi booming. Dewi justru menjaga agar paper cutting tetap dijalur semestinya sebagai seni rupa.

Semanjak terekspos media, perasaan khawatir cukup menghinggapi. Banyak media besar mau mengolah apa karyanya. Namun dia memilih menjaga paper cutting sebagai kerajinan. Karena itulah dia mulai jarang aktif di sosial media baik Facebook ataupun Twitter. Dewi hanya tetap memajang desainya tanpa aktif marketing.

Dewi merasa bisnis dijalankan adalah seni. Harus menunggu mood bagus barulah jadi. Layaknya lukisan seni rupa. Dewi tidak mau dipaksa- pakas berproduksi. Namun nama Dewi Kucu sudah terlanur populer di kalanga pencari Google. Alhasil pesanan besar datang tiba- tiba dari pengusaha besar Tomy Winata.

Dia tanya Pak Tomy shio -nya apa. Dewi kemudian mengerjakan buat dia. Pesanan semakin deras mengalir hampir setiap hari karena Tomy Winata bukan orang biasa.

Bisnis jiwa


Cutter adalah soulmate itulah ujar Dewi ke Fimela. Dia punya 8 jenis cutter aneka warna. Pemakaian biar tidak bosan. Namun tidak semua cutter dipakai. Kadang dia minta dibelikan hingga ke Jepang, Singapura, pokoknya kalau ada. Tidak semua juga dipakai karena rasa nyaman tidak ditemukan.

Cutter harus ergonomis nyaman dipakai. Hanya ada satu yang sangat sering dipakai. Karena rasanya sudah nyaman di tangan Dewi.

Ketika dia membuat produk tidak sembarangan. Setiap karya dihasilkan terselip unsur budaya Indonesia, khususnya pola Batik. Pemberian unsur budaya dilakukan sebisa mungkin. Disetiap pesanan akan coba ia telisipkan budaya. Adalah batik megamendung menjadi favorit karena sesuai akan citra paper cutting.

Megamendung menggambarkan kesuburan, harapan akan kelancaran usaha, yang mana merupakan satu buah motif turunan dari budaya China. Cutteristic mengambil pedoman passion and obsession. Passion berarti semangat. Semangat buat tetap fokus meski lelah karena polanya sangat tipis dan sulit dipotong.

Obsession sendiri tentang orang lain. Bagaiman tetap membuat orang selalu tertarik akan karyanya. Juga bagaimana mengubah pola bahwa batik terkesan kuno.

Karya yang menjadi kebanggan? Ia pernah membuat paper cutting ukuran 1x1meter. Berisi foto sepasang suami istri pengusaha Indonesia. Dimana sang pengusaha cuma mengirim foto ukuran 17kb. Karena sudah dipercaya maka Dewi bekerja super- keras buat memuaskan permintaan klien khususnya tersebut.

Karena ada idealisme dibalik karnya. Dewi bisa dibilang seniman. Jangan selalu mengharapkan untunng jika menghasilkan karya. Esensi seni bisa hilang jika kamu mulai mengejar untung semata. Dewi hanya membuat apa di kepalanya. Terkadang membuat tanpa berpikir apa akan laku dijual atau tidak.

Meskipun bahan relatif murah. Dia berani mematok harga tinggi. Awal buat karya ukuran A5 dijualnya seharga Rp.300 ribu. Sekarang ukuran 35x35cm dihargai sampai Rp.1,4 juta. Ukuran 35x35 menjadi favorit dipesan pembeli untuk hadiah pernikahan atau lahiran anak.

Meskipun bahan baku murah. Ia berani mematok harga tinggi. Yah karena dia percaya nilanya setara nilai dengan jerih payahnya. Buktinya dia tidak pernah sepi aliran pesanan. Sejumlah pesanan dari Hong Kong, Australia, Singapura dan Malaysia.

Tidak ada kesulitan berarti dalam bisnisnya. Kalau desain akan diberikan awal. Tiga desain akan ditawarkan kepada pelanggan dulu. Soal desain juga bisa tinggal potong. Desain lama terkadang sudah ada stok buat dipotong nanti. Justru memilik peluang lain seperti dibuatkan kalung atau juga dijadikan hiasan interior.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba