Sopir Taksi Bermimpi Menjadi Pengusaha Delapan Tahun

Biografi Buchori Pengusaha Roti 


 
Mantan aktifis 98 ini, kini menjadi pengusaha sukses. Bukan perkara mudah mencapai titik tersebut. Dulu dia hanya seorang sopir taksi. Kemudian berkat aneka roti menghantarkannya. Namanya Buchori Al- Zahrowi, pengusha kelahiran Bantul, Yogyakarta, 26 Maret 1969 merangkai kisahnya disini.

Tiga tahun sudah dia berprofesi menjadi supir taksi. Sifat mandiri sudah tumbuh ketika bangku SMA. Dia mengenang bagaimana kala itu memulai usaha. Sejak kecil memang sudah terkenal berani. Dia diajari agar tidak tergantung dengan orang lain. "Menjadi sopir dilakoni agar hidup saya tak bergantung orang lain."

Kesempatan justru datang disela- sela aktifitas. Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini tengah asiknya menghayati perpolitikan. Disela krisisi moneter dilihat ada peluang. Justru ketika banyak teman yang ragu dan meninggalkan dirinya. Buchori komitmen memulai usaha sendiri daripada sibuk berpolitik.

Tahap pertama memulai cukup kecil- kecilan. Bisnis roti bernama Aflah, yang diambil dari bahasa Arab, yang berarti lebih untung. Do'a Buchori agar usahanya makin untung. Dan ternyata do'a nya terkabul maka usahanya semakin membesar.

Pengusaha sejak muda


Dia mengenang ketika masih sekolah. Waktu SMA, Buchori nyambi bekerja, sejak sekolah sudah jualan pernak- pernik, stiker, dan lain- lain. Sambil sekolah Buchori membuat aneka tas berbahan rotan. Hingga sampai menjadi mahasiswa di Yogyakarta, usaha tetap jalan ditambah bekerja menjadi sopir taksi.

Tidak fokus usahanya membuat tas rotan tidak berkembang. Ketika itu Buchori memilih terkadang jualan koran. Sambil menyopir juga ikutan menjadi mahasiswa vokal. Dia dikenal mengikuti kegiatan aktivis di kampusnya. Dia juga menjadi anggota dan pengurus beberapa lembaga swadaya masyarakat.

Kebanyakan kegiatan mulai menyopir, menjadi aktivis, juga aktif di LSM, maka Buchori merasa malasa buat kuliah. Ujung- ujungnya memilih drop- out meski tinggal wisuda. Dia sendiri heran kenapa dirinya masuk fakultas Dakwah. Padahal sejak semula jiwa Buchori memang berada di kewirausahaan.

Dia menikahi Tin Khotimah, akhirnya tidak kuliah dan fokus mengerjakan usaha. Dari usaha tidak jelas arahnya. Ia dan sang istri memutuskan fokus berbisnis keripik saja. Usaha keripik dijalankan ketika dirinya pindah ke Pemalang, Jawa Tengah. Usaha dijalankan ternyata tidak berkembang maksimal secara omzet.

Namun Buchori tidak patah arah menjadi pengusaha sukses. Anehnya ketika dia gagal keputusan spontan dia lontarkan. Ketika sisa tabungan Rp.40 juta, langsung dipakai dia berangkat haji, tahun itu 2003 dia berangkat haji dan berjanji bahwa kelak sang istri akan menyusuk haji.

Uang tabungan tinggal Rp.4 juta. Banyak orang menyebut dia gila. Namun, namanya pengusaha ya kegilaan hingga kita membuktikan. Alasan Buchori adalah dia merasa mendapatkan panggilan kuat. Selepas dari haji hatinya tenang. Ia memutuskan untuk membuka usaha roti.

Bisnis berkah


Dia mengontrak rumah di Sorobayan. Strategi bisnis Buchori lewat jaringan pertemanan. Berbekal sisa uang Rp.4 juta dijadikan 10 kotak roti per- hari. Melalui bantuan pertemanan. Dia memasarkan melalui teman kuliah, sesama aktivis, juga ke anggota LSM. Penuh semangat dia menyebar selebaran promosi.

Buchori belum punya motor. Dia menyebarkan selebaran naik angkot. Kalau tidak jauh ya pakai sepeda ke sana- kemari. Aflah, bisnis terseriusnya, fokus mengerjakan kue mandarin, lapis legit, dan roll cake yang dikemas kotak kardus. Ada satu rahasia bisnis Buchori, dia jelaskan kepada Kompas.com yakni:

"Saya tidak menjual roti yang dikemas satu- satu," paparnya. Menurut dia untungnya kecil. Disisi lain lama lakunya. Jualan roti kardusan lebih menguntungkan terang Buchori.

Sehari dia mengaku memproduksi 1.000 kardus. Anehnya lagi, Buchori tidak pandai membuat roti, yang membuat roti istri kemudian diserahkan kepada karyawan. Dia tingga memantau kualitas produksi. Cukup dia memikirkan masyarakat suka roti apa. "Karyawan saya malah lebih lihai membuat roti, ha- ha- ha."

Marketing pertemanan nampaknya berjalan lancar. Semangat menggebu membuahkan gerai baru. Lalu ia membuka gerai sampai tujuh, di Yogya, Purwokerto, Kutorejo, dan juga Purworejo. Untuk meyakinkan pembeli, Buchori sudah mendaftarkan sertifikat halal dari MUI, dan juga mendaftarkan nama paten buat Aflah.

Dirunut kebelakang dia bukanlah anak orang kaya. Ayahnya hanya guru honorer SMP, dan ayahnya buka usaha kecil- kecilan membuat tas rotan dijual ke pengepul. Saat sekolah dia pernah bekerja paruh waktu jadi pegawai perusahaan sablon. "Padahal waktu saya kecil ingin punya banyak uang," kenang dia.

Alasan kuliah baginya bukan soal mencari kerja. Tujuan utamanya membuka wawasan. Serta bertemu lebih banyak orang menjari koneksi. Dari jualan koran dan sopir taksi, dia meyakinkan ayah dan ibu bahwa dia mampu sukses. Pengalaman sopir taksi membuat dia hafal betul jalanan di Yogyakarta.

Disiplin dia bekerja untuk berkuliah. Capek tetapi dia memetik pelajaran. Dan kini, dia sudah memiliki tiga cabang di Yogyakarta sendiri. Sempat dia berbisnis menjadi pengusaha ayam potong. Total delapan tahun dia terseok mencoba menjadi pengusaha. Masuk 2003 dia balik ke Yogyakarta membuka usaha lagi.

Tahun 2007 sampai 2008 menjadi titik tertinggi. Dia membuka cabang besar- besaran. Langsung ada cabang di beberapa daerah seperti Purwokerto, Purworejo, dan Kutoarjo. Tiga unit mobil disiapkan jadi modal operasional bisnisnya.

Pengusaha ambisius


Memiliki tujuh gerai tidak membuat Buchori puas. Dia telah menemukan tujuan hidupnya. Kini, dia asik membangun banyak peluang baru, setahun diwajibkan bagi Buchori membuka cabang baru. Dan tidak akan terbatas di bisnis roti. Untuk toko roti masih dikejarnya membuka cabang di Kebumen, Jawa Tengah.

Disisi lain, dia menarget bisnis restoran China di Kota Yogyakarta. Jadi sementara mengebut cabang baru gerai roti Aflah. Dimana dia merencanakan konsep waralaba pada 2012 silam. Sementara restoran China masih dalam perencanaan hingga matang.

Dia menyasar kalangan muslim. Konsep masakan China tetapi halal itupun dibangun. Target dia adalah semua kalangan, pokoknya muslim yang gemar masakan China. Usaha bernama Moslem Chinese Food itu kental memang akan nuansa Islami. Racikan bumbu disesuaikan lidah orang Indonesia paparnya.

Pelanggan restoran ini juga termasuk warga keturunan China loh. Tetapi tidak terbatas oleh etnis, bahkan non- muslim juga boleh mencicipi enaknya masakan China disana. Dia memang bukan orang China. Tapi ketika pindah ke Pemalang, pernah bermitra dengan seorang pengusaha keturunan.

Dari sang mitra mengajarinya membuat masakan China. Buchori lantas timbul ide tentang bisnis restoran China. Konsep tersebut lantas dipadu padankan dengan konsep makanan halal. Tujuannya agar memberikan rasa nyaman bagi penggemar masakan China.

Selain sibuk berbisnis? Ia sibuk menjadi motivator bagi pengusaha muda. Menurutnya, para mahasiswa pada khususnya, memiliki pemikiran terbukan tentang bisnis. Hanya mereka belum mau menerapkan kreasi mereka. Buchori menegaskan menjadi pengusaha juga tentang membuka lapangan pekerjaan.

Untungnya Jualan Ikan Hias Seharian

Profil Pengusaha Beni dan Mardiah 


 
Kisah pengusaha ikan hias kali ini datang dari dua generasi berbeda. Mereka lah, Beni (25) dan Mardiah (55), eksis berkat berbisnis ikan hias. Mereka bersaudara merupakan penjual ikan di kawasan kios penjual ikan hias daerah Jalan Muhammad Kafi I, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Mereka berada di komplek Balai Budidaya Perikanan, Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Pemprov DKI Jakarta. Yang mana terdapat sebelas kios berjualan disana. Sebelum berbisnis ikan hias, Beni sang adik, pengusaha muda satu ini pernah berbisnis lobster air tawar.

Berbisnis hias


Beni lantas pindah ke ikan hias. Beda Mardiah, mulai ikutan usaha ikan hias lantaran tidak ada pemasukan kuat. Semenjak sang suami Didi memilih pensiun dini pada 2003. Sejak pertama kali berwirausaha ya langsung menjadi penjual ikan hias.

Ibu tiga anak ini mengenang pertama usaha mereka dibuka. Mereka sama- sama menggelontorkan uang tidak sedikit. Beni yang Sarjana Ilmu Teknologi Kelautan, lulusan 2009, mengeluarkan uang sampai Rp.23 juta modal tabungan. Sementara ibu Mardia mengeluarkan uang sekitar Rp.20 juta.

Dalam kurang dari satu tahun, uang yang dikeluarkan keduanya kembali. Melihat prospek ikan hias bagus keduanya jadi lebih bersemangat. Mereka menjual ikan mas koki, manvis, komet, neo tetra, cupang, juga aligator, yuppy, kura- kura, lalu ada jenis arwana. Mereka juga menjual aneka kebutuhan ikan lengkap.

Dari menjual makanan, aksesoris, dan obat- obata, seperti blitz- icht, itu loh obat buat penyakit jamuran pada ikan. Aneka pakan tambahan juga tersedia seperti cacing beku, pelet, kemudian juga menjual aneka ukuran akuarium, dan batu karang hias.

Untung bersih dicapai Beni setiap bulan Rp.5 juta. Lalu Mardiah mampu mengantungi uang Rp.9 juta dan Rp.10 juta kotor. Keuntungan segitu tidak serta- merta. Mereka mengatakan bahwa butuh waktu 3 tahunan sampai mencapai angka itu stabil.

"Dulu pertama kali dagang sehari saya cuma dapat Rp.30.000 dan itu kotor," kenang Beni. Kalau sebulan ya untung paling Rp.300 ribu, kadang cuma malah balik modal belanja.

Faktor utama ialah letak jualan mereka. Jumlah pengunjung ke tempat itu hari biasa mencapai 100 -an. Dan kalau begitu pendapatan kotor mereka ya Rp.500 ribua per- hari. Nah memasuki akhir minggu atau hari libur pengunjung mencapai 1.000. Dalam sehari Beni pernah mendapatkan untung seharinya Rp.20 jutaan.

Tidak dipungkiri keadaan ekonomi global mengganggu. Pendapatan mereka cenderung menyusut hingga ia dan Mardiah cuma mengantungi Rp.300 sampai Rp.400 juta. Sabtu- Minggu cuma dapat Rp.3 jutaan saja. Ia mengatakan sebelum krisis per- hari mencapai Rp.500 ribu, Sabtu- Minggu mendapat Rp.5- Rp10 juta.

Keduanya mantap menjalankan bisnis sekarang. Kesulitan berjualan ikan menurut mereka tidak besar. Dan yang paling menggiurkan adalah untungnya besar. Prospek jualan ikan hias masih cerah. "Terus jualan ikan hias dong," seloroh Beni. Keduanya mengaku memang jadi hobi memelihara ikan jadi tidak ada paksaan.

Usaha Membuat Pisau Komando TNI

Profil Pengusaha Nina Agustina 



Sebenarnya perintih usaha dijalankan Nina Agustina adalah sang ayah. Dijalankan mendinga ayah, Widarto, yang juga merupakan anggota TNI aktif kala itu. Sebagai anak tentara Nina sudah terbiasa melihat senjata tajam. Namanya pisau khas TNI sudah tidak asing dimata ibu dua orang anak ini. 

Dibantu sang suami, Nurdiansyah, perempuan asal Banyuwangi, Jawa Timur, mereka berusaha menjalankan bisnis keluarga lebih lagi. Cerita bisnis pisau brand Amphibious memang cukup panjang. Kalau singkatnya semua ada hubungan dengan keahlian sang ayah di melempar pisau.

Bisnis senjata tajam


Sebagai anggota pasukan khusus TNI Angkata Laut. Pak Widarto memiliki keahlian melempar pisau. Dia waktu itu ditugaskan menjadi pelatih buat siswa Pelatihan Tempur Karang Tekok, Situbondo, Jawa Timur. Ia menunjukan keahliannya melempar pisau ke sasaran.

Keahlian melempar pisau miliknya sangat disegani. Belum tertandingi waktu itu. Jika dilempar pisau maka akan langsung menancap tepat di sasaran. Keahlian satu- satunya dijajaran Widarto lah yang membuka satu peluang bisnis. Bukan rahasia bahwa keahlian memakai pisau merupakan salah satu bagian keahlian TNI.

Dia selalu mempraktikan keahlian di rumah. Akhirnya anak- anak Widarto diajari semua cara melempar pisau. Termasuk ya Nina sendiri, bahkan aksi tersebut terbilang ekstrim lanjutnya. Dimana mengagetkan jantung anak- anak karena seketika. Ketika tiba- tiba dia melempar pisau tepat di bawah kaki mereka.

Sambil bergurau ayah cukup menjengkelkan. Dan ketika memiliki bisnis kebiasaan tersebut juga kena ke para pegawai. Bayangkan pisau terbang seketika tepat disamping kaki pegawai. Atau paling ekstrim bisa melewati wajah orang yang tengah berjalan. Kayak di film- film itu loh benar persis sangat mengagetkan.

Ketiga ana Widarto diajari melempar pisaung. Hanya saja, semuanya tidak sehebat ayah, yah bisanya cuma melempar tetapi tidak setajam mata ayah.

Kemudian banyak teman melihat keahlian Widarto.  Mereka iseng berpikir kenapa dia tidak ahli membuat pisau juga. Pikiran tersebut lantas menjadi bentuk dukungan. Widarto mulai memikirkan bagaimana cara membuat pisau sendiri. Dipadu dengan kemampuan memahami pisau pastilah menjadi pisau khusus TNI.

Tantangan bisnis


Dia kemudian mendatangi pandai besi, Pak Hafid, asal Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jawa Timur. Sang bintara TNI tersebut mendikusikan kemungkinan kolaborasi. Hafid memang dikenal pandai besi pembuat anaka benda tajam. Disela pekerjaan, Widarto menunjukan sketsa pisau desainnya ke Hafid agar dicoba.

Widarto datang membawa desain lengkap dengan ukuran. Coretan- coretan itu dimintanya dijadikan pisau nyata. Ia meminta Pak Hafid membuatkan tetapi dengan bentuk kasar. Ditangan Widarto sendiri pisau lalu dipoles dijajal, agar seimbang dan proposional. Hasilnya ternyat sangat bagus sesudah dipoles Widarto.

Benar presisi ukuran mampu membuatnya akurat ketika dilempar. Lalu teman Widarto menjajal dan mulai memesan pisau buatannya. Karena selalu laku terjual, bisnis sampingan tersebut dilanjukan sambil tetap menjadi anggota TNI AL. Kemudian Pak Hafid dijadikan pegawai permanen oleh ayah Nina.

Bertahap hingga mereka membuka workshop. Mereka membuka tempat pandai besi dekat tempat tinggal mereka. Maka setiap hari, Pak Widarto akan membuat desain, kemudian Hafid menempa membentuk sesuai desain. Bagian finishing kemudian diserahkan kepada pegawai lainnya.

Bentuk pisau mereka bagus serta ideal bagi standar TNI. Hingga salah satu desainnya lantas dipatenkan. Ia memberi nama Amphibious.

Memang kualitas pisau mereka bagus. Alhasil masuk tahun 2000- 2009, mereka memenangkan tendar di mabes TNI AL untuk marinir. Seiring waktu usahanya tidak cuma membuat pisau standar TNI. Adapula pisau lain diproduksi workshop mereka. Mereka membuat pisau tradisional, pisau rumah tangga, samurai.

Sang ayah lantas meninggal dunia pada tahun 2009. Bisnis mereka kemudian dilanjutkan adik laki- laki Nina, yaitu Oscar Muara. Hanya adik Nina kemudian mengundurkan diri. Kemudian Nina menggantikan buat melanjutkan usaha. 

Sementara itu produk Amphibious tersebar ke pasar seluruh Indonesia. Selain digunakan TNI AL, produk
Amphibious juga pernah menjadi pegangan petugas keamanan (satpam), petugas SAR, tetapi tidak melulu untuk satu model saja. Perkembangan desain produk mereka juga masih dijalankan Nina.

Mereka juga memberikan kesempatan desain sendiri. Namun, Amphibious memang menjadi juara, selain karena desain menarik, kekuatan dan ketajaman presisinya terbukti. Bahkan menang jauh dibandingkan produk pisau buatan China.

Kalau buatan mereka, mau harga termurah, sampai termahal semuanya rata- rata terbuat dari bahan baja yang tentu beda dengan besi biasanya. Bahan tersebut biasanya didapat dari cakram motor, per mobil, juga dari gergaji. Untuk bahan baja memang menurut Nina menjadi masalah produksi workshop mereka.

Kesulitan juga tinggi hingga tidak semua ahli. Cuma Pak Hafid memiliki keandalan membentu pisau. Ini menjadi masalah ketika dia meninggal dunia. Alhasil pandai besi lainnya tidak seandal Pak Hafid dalam menempa baja menjadi pisau. Alhasil Nina terpaksa mengorderkan ke pandai besai lain yang tersebar di pelosok.

Memang sulit mencari pandai besi yang mau mengerjakan. Namun tidak langsung ketemu cocok. Karena nama mereka terkadang tidak sesuai digadangkan masyarakat sekitar. Meski begitu buat finishing, syukur, Nina memiliki pegawai siap membuat sarung, pegangan, dan penghalusan dari tempaan pandai besi.

Bisa saja tidak memakai pandai besi. Namun hasilnya tidak akan sekuat dan setajam diharapkan. Karena itu tidak langsung dipotong kemudian dibentuk. Tahap penempaan merupakan krusial dalam bisnis mereka. Ia menyebutkan proses pembakaran akan sukses jika dilakukan pandai besi asli.

Disisi pandi besi handal terbatas. Pesanan ke Nina memang cenderung banyak. Pesanan dari berbagai pihak kedinasan menanti. Jumlahnya besar terus, alhasil ya dia memutuskan tidak menerima beberapa pesanan. Total 330 model telah diproduksi workshop mereka mulai pisau dapur sampai samurai bisa.

Buat samurai ada jenis kenzi dan tanto. Yaitu samurai pendek buat harakiri. Juga samurai panjang layaknya di film. Soal logo serta ukiran diserahkan ke pemesan bisa. Walaupun tanpa sang ayah, Nina tetap yakin, percaya diri membangun bisnis keluarga bahkan memproduksi desain buatannya sendiri.

Ia sadar jika tidak akan ditinggalkan konsumen. Buat model baru dicari lewat internet. Inspirasi tidak bisa ditunggu saja. Tentu sejumlah modifikasi dilakukan agar lebih tajam. Nina sekarang melayani sejumlah toko aksesoris militer di penjuru Indonesia. Dia memiliki dua showroom di Banyuwangi, Jawa Timur.

Dan usahanya rajin mengikuti pameran. Harga jual variatif mulai Rp.10 ribuan, sampai samurai yang bisa mencapai jutaan. Soal omzet sudah Rp.200 juta per- bulan. Kemudian pisau laku lainnya yakni pisau King Cobra. Sang suami akan membantu urusan eksternal, sedangkan didalam Nina mengurusi semuanya.

Pembeli banyak dari berbagai latar belakang. Ada tukang jagal hewan yang memerlukan ketajaman pisau. Atau ada sekedar pengkoleksi pisau atau samurai.

Mengolah Bekas Semen Menjadi Batik Pekalongan

Profil Pengusaha Harris Riadi 



Nama Harris Riadi merupakan salah satu maestro di bidang batik. Pengusaha batik yang menekankan akan pentingnya memanfaatkan lingkungan. Harris sebelum menjadi pembantik dikenal sebagai seorang pelukis.

Lambat laun dia ingin membuka usaha batik sendiri. Sebelum berbisnis batik, ia sudah pernah bekerja jadi desainer perusahaan batik, yang mana dilakoni sekitar enam tahun. Sedangkan menjadi pelukis ia lakoni selama 15 tahun berkelana sampai ke Bali, Jakarta, dan Solo, kemudian menjadi pembatik sambilan saja.

Pria kelahiran Pekalongan, kemudian pulang kampung dan membuka usaha sendiri di Pekajangan, Kab. Pekalongan, tahun 1997. Lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta, lulus 1979, dimanan lanjut ke Akademi Seni Rupa Indonesia -sekarang Institut Seni Indonesia, tetapi ternyata dia tidak tamat.

Bisnis cerdik


Usaha bernama Bintang Batik juga buka di Desa Jeruksari, Tirto, Pekalongan. Karena berlatar belakang seni lukis maka dia tidak asal. Dia ingin menciptakan batik bukan sekedar komersial. Bintang Batik tidak memproduksi masal batik. Semua pekerjaan dilakukan dengan pemikiran agar menjadi master piece.

Tahun 2006 ketika ada Piala Dunia, inspirasi mendadak muncul, yang kemudian dia tuangkan lewat 100 lembar batik tulis. Motif batik menendang bola dan bola menjadi andalan. Dimana kemudian pesanan batik datang dari Bandung, Jakarta, Semarang, sampai Jerman.

Kemudian ketika ada musim valentine tahun 2007, tiba- tiba Harris meluncurkan motif batik bergambar kodok sedang bercinta. Pokoknya motif batik Harris benar cerdik. Bukan sekedar membuat aneka motif baru saja. Untuk pemawarnaan dia lebih memilih ke pewarna alami buatan sendiri.

Alasan utama kenapa ya karena mencemari lingkungan. Harri mengamati bagaimana industri batik sudah mencemari sungai Pekalongan. Contoh pewarna alami batik pengusaha batik Pekalongan ini: Warna merah dari kulit bawang, warna ungu dari bunga sepatu, kulit biji jelawe buat hitam, kayu mahoni warna coklat.

"Saya tidak ingin menambah beban lingkungan," tandasnya.

Walaupun begitu tidak dipungkiri Harris juga memakai. Bahan kimia dia gunakan serendah mungkin yakni 40% -an.

Semengat merubah bahan kimia menjadi alami. Membawa Harris semakin berinovasi mengurangi tingkat penggunannya. Cara paling kreatif menggunakan bahan limbah. Tahun 2006 dia membuat warna berbahan kotoran sapi dan kulit tebu dan rumput sebagai pewarna batik.

Obsesi batik


Tidak cuma terobsesi akan warna alami. Hal lain memenuhi pemikiran Harri ialah daur ulang. Walaupun cerita tentang kotoran sapi menjadi pewarna miring. Tanggapan masyarakat tersebut dianggapnya menjadi tantangan. Alhasil, memasuki aal 2007, dia membatik diatas kertas dan kantong bekas bungkus semen.

Bayangkan kantung bekas semen menjadi batik. Limbah yang dijual murah perkiloan ternyata jadi uang dan banyak. Kemudian produk tersebut diubah menjadi sarung bantal, tas, sandal, sampai gorden. Jikalau orang bicara kenapa tidak dijadikan pakaian, Harris lebih menjawab karena alasan estetika saja.

Batik kantong semen dibuat ya seperti batik biasa. Dia bercerita batik kantung semen mewujudkan cita- citanya. Yakni batik 100% berbahan alami. Pasalnya kalau memakai bahan kimia maka kantung akan rusak hancur.

Bayangkan pengusaha ini sebulan memproduksi 200 lembar. Penjualan utama ada di Jakarta yang mana ia jual antara puluan ribu sampai ratusan ribu.

Ada dua cara membatik diatas kantung semen. Pertama yaitu dibersihkan dulu kemudian baru dibatik langsung. Kedua dibentuk tali, dirajut, barulah dibatik diatas yang  sudah jadi. Ingat kualitas kertas bekas semen harus samalah kualitas. Kalau sudah jadi ternyata produk buatan Harris dapat dicuci loh.

Kisah batik kantung semen terinspirasi pemulung. Dimatanya tampak tidak berharga. Kreatifitas langsung mengusik memunculkan ide spontan. Seperti cerita- cerita sebelumnya Harris langsung praktik. Alasan lain karena mengandung timah. Dan di Jakarta, dibakar, kemudian membuat lingkungan tercemari olehnya.

Sejak Juli 2009 sudah mulai tuh memunguti sampah bekas semen. Bahan yang diduga mengandung timah dijadikan produk permanen. Produk terbaru seperti tas laptop, kotak tisu, gesper.dll. "Kalau bumi tidak diselamatkan dari limbah, ini berbahaya," tutur Herris penuh keyakinan.

Tidak berhenti disitu, dia masih ingin mengolah limbah lain menjadi batik. Banyak jenis limbah mengotori lingkungan. Cuma berpindah tangan tanpa solusi penyelesaian. Cara terbaik menurutnya adalah bagaimana memperpanjang masa pakai. Caranya menjadikan limbah menjadi produk permanan dapat dipakai terus.

Ia sadar tidak mudah limbah menjadi batik. Butuh ketelatenan serta masa trial dan error baginya. Namun ia meyakini selama memiliki keyakinan pasti bisa. Memang membuat produk batik bahan limbah tidak akan sebanyak batik biasa. Justru disanalah kelebihan produk batik karya Harris karena tidak ada duanya.

Ia berharap pembatik sadar lingkungan. Kenapa dia sukses membuat batik bekas bungkus semen ya karena dia dekat dengan pemulung. Dia memang lebih ke arah seniman. Sosok ayah pernah menentang pilihan Harris, Chairil Kasmuri seorang tentara, namun melihat sosial Harris malah mendukung dirinya.

Dia mendukung Harris menjadi pembatik. Bukan sekedar menjadi pembatik mandiri menghasilkan uang sendiri, tetapi berguna bagi masyarakat. Harris ingat dia anak ke empat dari sembilan bersaudara. Dan, ia sudah sukses berkat membatik.

Pemilik Taro Joko Mogoginta Visioner Bisnis Dunia

Profil Pengusaha Jajanan Anak



Tidak mudah mencapai posisi sekarang. Berawal bisnis keluarga PT. Tiga Pilar Sejahtera bertransformasi jadi pemain di bisnis makanan ringan. Berawal bisnis mie kering bernama Cap Cangak Ular pada 1993. Kemudian si pendiri mulai bertransformasi bisnis ke aneka makanan ringan.

Keturunan ketiga Tan Pia Sioe, bernama Joko Mogoginta, membuktikan bahwa generasi ketiga tidak akan menjatuhkan malah menaikan nama perusahaan. Sosok cerdas visioner membuatnya mampu memegang semua lini usaha yang dulu cuma jualan mie kering dan bihun.

Perusahaan asal Sukoharjo, Jawa Tengah, mulai membesar sejak 2003 lewat akusisi fenomenal. Dimana mereka mengakuisisi PT. Asia Inti Selera.tbk atau pemilik brand mie kering Ayam 2 Telor. Bisnis utama mereka yakni food processing, crude oil atau CPO, hingga bisnis beras bermerek sendiri.

Dimulai menggurita sejak membangun pabrik baru di Sragen, Jawa Tengah, pada 1992. Dimana ada sosok Budi Istanto dan Priyo Hadisutanto. Nama diambil TPS dari inisial pendiri Tan Pia Sioe. Terus lama- lama kebutuhan akan produksi meningkat dan lahir pabrik baru seperti di Karang Anyar, Jawa Tengah.

Tahun 2000 -an mereka mendirikan satu pabrik di tanah seluas 25 hektar. Dimana dibangun pusat produksi satu atap, dan mampu memproduksi lebih dari 30.000 ton. Ditambah mereka mendirikan unit produksi buat mie instan.

Bukan bisnis biasa


Memang semenjak kecil sudah biasa dengan makanan. Waktu sekolah dasar sudah aktif membantu usaha keluarga. Bahkan sampai SMP bekerja menjadi marketing mencari calon kosumen kesana- kemari. Joko juga menerima dan menagihi pesanan di pasar- pasar terdekat seluruh Solo.

Masuk SMA sudah sampai ke luar kota buat memasarkan produk. Selesai masa kuliah Teknologi Pangan, Universitas Gajah Mada, tahun 1991 langsung terjun ke dunia bisnis. Karir pertama adalah membangun satu pabrik TPS di Sragen, Jawa Tengah, dengan produk andalan mie kering Superior.

Dia mengenang bagaimana mie Superior sulit. Jujur saja latar belakang pendidikan Joko tidak sesuai. Jika harus memasarkan produk olahan tersebut. Kalau menurutnya pribadi mie harus lembut, bagus, dan tidak putus, berbeda pikiran masyarakat. Menurut mereka justru mienya itu keras, susah dimasak, dan sulit dibumbui.

Akhirnya perusahaan mengikuti keinginan pasar. Dimana produk diubah sedemikian rupa agar dapat mudah diolah.

Strategi bisnis TPS memang ngetop. Mulai dari mengakuisisi Asia Inti Selera, dan mendapatkan produk mie Ayam 2 Telor tahun 2003. Kemudian menaruh perusahaan menjadi bagian dari pasar modal. Berkat dorongan pasar dengan bermodal itulah aneka akusisi dilanjutkan.

TPFS memiliki segenap strategi mengikuti arah pasar. Produksi pertama adalah produk utama yakni ada mie kering, mie kering premium, bihun, dan bihun premium. Merek dagang mulai mie Ayam 2 Telor, mie Superior, Filtra, dan Buah Kurma.

Kemudian jenis kedua yang digemari anak- anak tentunya kita tau. Mereka memproduksi mie kering siap makan, sereal, biskuit, waferstik, dan permen. Akuisis jajanan Taro menjadi puncak, karena nilai akuisi tersebut Rp.240 miliar dimana dibeli langsung di salah satu raja bisnis konsumsi, PT.Unilever Indonesia.

Tahun 2010 mulai lebih ke bisnis sawit dan beras. Anak usaha mereka yakni PT. Dunia Pangan, merubah padi basah petani menjadi beras dengan mesin modern. Agar makin hebat diakuisisi lah perusahaan padi modern PT. Jatisari Sri Rejeki di Cikampek, Jawa Barat.

Kemudian mengakusisi perusahaan PT. Alam Makmur Sembada, dengan produk andalan milik mereka beras merek Ayam Jago, melalui pembelian PT. Indo Beras Unggul. Dimana perusahaan mereka mampu memproduksi 800 ton gabah. Jika sebelumnya perusahaan produksi sekarang perusahaan TPSF lebih ke marketing.

Untuk bisnis palm oil melalui akuisisi perusahaan baru. Dan sudah memiliki lahan sampai 17.000ha pada 2011 saja. Tahun 2013 mendorong mendirikan perusaah minyak sawit sendiri.

Serba akuisisi


Tidak mudah mencari perusahaan diakuisisi. Satu syarakat diajukan Joko adalah memiliki fondasi kuat. Utamanya memiliki margin untung kotornya 40%. Untuk bisnis makanan ringan diakui memiliki sebuah kompleksitas yakni daya beli masyarakat. Akuisisi Taro sudah dipersiapkan sejak 2009 lalu loh.

Konsumen di bisnis makanan ringan terbilang komplek. Jadilah perusahaan harus konsisten mengamati prilaku dan mengakomodir kebutuhan pasar. Sembilan produk makanan unggulan perusahaan yakni snack Taro, Mie Kremezz, Growi, dan produk non- snack yakni Tanam Jagung, Ayam 2 Telor, Superior, Ayam Jago.

Strategi marketing juga sudah bukan soal memperkenalkan. Tetapi lebih ke ikut masuk ke kehidupan dari masyarakat melalui aneka acara atraktif. Kemudian ada promosi melalui televisi, aneka promo, dan itulah yang akhirnya membawa snack Taro dan Mie Kremezz jadi Top Brand for Kids dan Teen.

Pengembangan bisnis lainnya, yakni melalui gulas, mie instan, dan biskut, yang dianggapnya dapat dijual ke masyarakat global. Memang nilai ekspor rendah dari semua penghasilan yakni 3% saja. Sementara dari penjualan lokal atau market lokal telah menguasai 5% market share.

Melalui membagi saham menurutnya perusahaan tidak akan sendiri. Orang bilang ngapain dibagi- bagikan ke orang banyak. Namun menurut Joko justru disanalah perusahaan akan menjadi fondasi bagi Indonesia. Ia mengatakan bahwa passion -nya adalah membantu banyak orang.

"Passion karena ingin membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang," tutur dia.

Filosofi dibalik masuk bursa saham yaitu jangan hebat saja di akuarium. Jadilah perusahaan yang kemudian bisa masuk ke danau luas. Akusisi dalam bisnis makanan memang sangat penting. Karena menurutnya, ia membutuhkan pertumbuhan dimana konsumen mudah berubah, dan agar orang menaruh uang investasi di dalam.

Konstribusi terbesar yaitu Taro. Menurut dia kenapa sih mengakuisisi Taro. Karena produk tersebut sudah dicintai masyarakat, punya cita rasa dan ciri khas, dan utamanya konsumen loyal. Perusahaan aktif buat semua feedback dari anak pecinta Taro.

Kalau Taro sendiri baru menjajaki pasar ekspor beberapa tahun di 120 negara. Sedangkan merek dagang Taro di Indonesia sudah kuat sejak 30 tahunan. Marketing terbaru Taro adalah Taro Ranger. Tujuannya bagaimana membuat anak Indonesia yang dijajah gadget kembali ke alam.

Berawal dari 25 karyawan perusahaan bertransformasi besar. Tahun 2001 sampai 2002 dia mencanangkan profesionalisme, terutama karena perusahaan keluarga. Perusahaan harus dikembalikan ke pekerja. Dia menyebutkan perusahaan people harus menjadi good people.

"Pemimpin kalau punya tangan berani bertindak. Tapi kalau enggak punya otak, dia menjadi preman," tutur dia.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba