Alasan Memilih Wirausaha Sendiri Conie P. Putri

Profil Pengusaha Conie Pania Putri



Menjadi pegawai tidak bahagia. Itulah kiranya penulis katakan ketika membaca kisah Conie. Wanita yang bernama lengkap Conie Pania Putri, 36 tahun, ternyata pernah mendapatkan gaji Rp.20 juta. Bahkan dia sudah punya mobil mewah dan rumah bernaung.

Kenapa masih berwirausaha dan berhenti bekerja. Conie mengaku tidak lekas puas. Bagianya ada satu hal yang kosong ketika dia bekerja untuk orang lain. Dia pernah bekerja sebagai penjual, admin, sampai naik pangkat manajer, perusahaan asal Palembang pada 2004 hingga 2012.

Memilih menjadi pengusaha karena tidak puas akan empat tahun. Meski naik pangkat sampai jadi Direktur Utama membawahi beberapa provinsi; dia tetap tidak puas.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang, yang mendapatkan banya fasilitas dari perusahaan ini resah. Fasilitas mewah tidak memuaskan Conie. Alasan bewisausaha Conie: Setinggi apapun jabatan yang anda miliki. Anda tetaplah pegawai. Sekecil apapun usaha anda, maka anda lah bosnya.

"Sekecil apapun usaha yang anda punya, anda lah bosnya," Conie bertutur. Keresahan bukan soal apa. Tapi dia sudah terbiasa difasilitasi orang lain. Kini, dia mau jadi pengusaha, berwirausaha berarti dia harus siap memulai dari nol.

Gaji besar menjadi direktur, tidak susah cari duit, tetapi Conie bosan. Jenuh tetap jadi karyawan mengikuti tiap kebijakan perusahaan. "...tidak bisa ambil kebijakan, itu perusahaan orang," gusarnya. Berkat relasi kuat serta pengalaman jadi presiden, Conie mantap keluar dan memilih membuka perusahaan sendiri.

Awal- awal diakuinya sukar banyak masa sulit membangun usaha. Uang modal boleh pinjam sana- sini, dia tidak turun semangat. "Pokoknya saya buka usaha sendiri," serius Conie. Ia sepakat melakukan kongsi usaha dalam bentu perusahaan PT. Srikandi Tiga Putri -usahanya memenuhi kebutuhan alat kesehatan.

Dengan sabar lambat laun usahanya punya jalan setelah tiga tahun. Dalam kurun waktu tiga tahun sejak tahun 2012, usahanya menghasilkan omzet Rp.1 miliar. Kerjanya pun tidak ngoyo karena keputusan ada ditangan. Ia menyebut dia lebih fleksibel soal waktu. Kalau dulu berangkat jam 7 pagi pulang malam karena lembur.

Sebagai wanita muslimah dia tidak lupa akan hak pegawai. Hak karyawan menjadi tonggak kejayaan dari perusahaan tersebut. Bahkan dia mengajak mereka bewisata sampai Singapura. Bekerja menurutnya sesuai hati nurani. Usaha itu juga menambah amalan seperti diajarkan oleh Rasulallah Nabi Muhammad.

Dia berharap kita juga mengikuti jejaknya berwirausaha. Memang butuh ektra sabar tuturnya, tetapi bukan berarti kita tidak bisa loh. Begitulah kisah pengusaha berjilbab -yang suka warna pink itu- yang juga aktif dalam kegiatan komunitas sedekah Jum'at.

Anak SMP Sukses Berbisnis Perlengkapan Olahraga

Profil Pengusaha Rizki Adventus 


 
Umur 18 tahun sudah sukses berbisnis sendiri. Cerita klasik tetapi langka karena sedikit pengusaha muda di Indonesia. Kisah kali ini, Rafael Rizki Adventus, pemuda kelahiran Jakarta, 4 September 1994, yang sudah berbisnis sejak kelas 2 SMP. Waktu itu dijelaskannya memulai dari berbisnis network marketing.

Hingga kelas 3 SMP kesempatan mendatangi Rizki. Bisnis sebenarnya itu datang ketika sekolahnya butuh kostum basket dan futsal. Kebetulah ia salah satu pemain utama dalam tim olah raga sekolah. Suntikan aneka motivasi entrepreneurship memberika keberanian melangkah.

Mantap, dia menawarkan diri agar menjadi suplier perlengkapan olah raga. Fokus bisnis waktu itu memenuhi aneka kebutuhan akan pakaian olahraga, macam jersey, jaket, kaos basket ataupun futsal. Modal uang dia tidak pikirkan langsung tancap gas.

Rizki sendiri terlahir dari keluarga kurang mampu. Dia hobi bermain basket, futsal, ataupun olah raga pada umumnya. Dibanding teman sekolah, bisa dibilang mereka lebih berkemampuan secara finansial. Sukses bagi dia menyenangkan orang tua melihat Rizki sukses.

"...saya harus sukses," jelas Rizki kepada Merdeka.

Merek Motion dijadikan sandaran berbisnis modal pas- pasan. Niat dijadikan langkah pertama Rizki. Maka soal modal uang pun dapat diakali dia.

Kerja sama


Rizki bersekolah di SMPK Sang Timur Tomang. Disekitarnya hidup anak sebaya yang lebih berkecukupan. Ia sendiri sosok mandiri sejak kecil. Keberadaan lingkungan berbeda mendorong Rizki kreatif. Alasannya ia ingin "mengikuti" gaya mereka. Meski begitu faktanya secara ekonomi sama sekali tidak mendukung.

Agar mampu, maka dia berpikir keras mencari kesempatan lain. Rizki mulai mencoba berbisnis aksesoris ponsel. Ia lantas menjual produk kesehatan milik MLM. Bekerja keras dia mampu mencapai Top Seller di penjualan gelang kesehatan.

Bayangkan dia mampu menjual 49 gelang kurang dari satu bulan. Omzet Rp.7.350.000 dihasilkan anak bau kencur yang bahkan belum 17 tahun. Untung dia dapat bersih yaitu Rp.2.2.70.000, mendapat uang banyak mendorong Rizki ingin menjadi pengusaha sukses. Rekor penjualannya kembali ketika ia menjual pembalut wanita.

Tempo cepat ia mampu menjual 3 boks pembalut wanita cukup 45 menit setelah pembelian pertama. Lebih jelasnya produk dikeluarkan sore di malam hari sudah terjual 3 boks dalam 45 menit. Alhasil dia mendapat nama diantara pelaku usaha network marketing tersebut.

Sukses MLM justru memberikan efek negatif. Terutama bagi orang disekitar lingkungannya. Ia dilihat seperti menjual produk tidak bermutu. Rasa putus asa kala itu sama sekali tidak berasa. Rizki malah terus terobsesi memiliki usaha lebih.

Berbisnis MLM tidak lagi memuaskan hasrat. Bagianya pola pikir pemilik usaha menjadi obsesi. Dia ingin mempunya usaha sendiri. Mengendalikan perusahaan sendiri langsung tanpa perantara. Bersangkutan hobi Rizki ialah olah raga maka bisnisnya tidak jauh.

Ia mencari jalan bagaimana menjadi pengusaha muda. Ide membuat kostum futsal tidak mudah. Awal sekali ia merasakan betul sukar masuk ke bidang garmen. Tidak memiliki pengalaman, Rizki sempat putus asa buat mendekati pemilik garmen usaha. Sempat berpikir berhenti menggeluti usaha yang tengah diincar tersebut.

"Itu hal biasa, yang penting kita komitmen, fokus dan konsisten," jelasnya. Komitmen bermimpi menjadi satu pemilik usaha. Fokus kepada masa depan termasuk menentukan langkah apa. Penuh percaya diri datanglah Rizki ke salah satu tempat produksi.

Dengan penuh percaya diri diajukan proposal kerja sama. Memulai bisnis bernama Motion Sport seorang diri tanpa bantuan. Pemasaran memanfaatkan teknologi meliputi Facebook, Twitter, dan Kaskus. Cara lain ialah menjadi bagian dari aneka kegiatan olah raga.

Motion masuk ke kompetisi olahraga, mulai dari level terendah SD, SMP, SMA/SMK, hingga Universitas. Ia akhirnya berhasil mencetak angka Rp.100 juta pada September 2012. Anak kedua dari tiga bersaudara ini tidak mau sukses sendiri. Ia mengajak tiga temannya masuk menjadi bagian Motion Sport.

 www.motionsportindonesia.com

Mobil Jualan Pindang Ma Ecot Bandung Kisahnya

Profil Pengusaha Asep Fahmi 


 
Hidupnya tidak bisa berjauhan dengan pindang. Fakta hidup mahasiswa Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, bernama Asep Fahmi. Dia merupakan generasi ke- empat usaha yang dikenal seantero Bandung, yaitu Pindang Ma Ecot. Sejak kecil dia sudah diarahkan orang berwirausaha saja.

Jangan jadi pegawai begitu kiranya pesan orang tua. Tetapi mereka sama sekali tidak mengarahkan putranya meneruskan jejak keluarga. Alhasil pria 37 tahun ini sempat menanggur selama empat tahun. Dia sibuk tak jelas hingga menikah dengan seorang wanita bernama Noneng, 33 tahun.

Sempat menganggur maka usaha pertama dilakoni Asep adalah suplier ayam. Dia menjadi suplier ayam ke supermarket besar di Bandung. Lumayan hasil usahanya sampai dia bisa mengkredit mobil sendiri.

Takdir Tuhan


Enam sudah menjadi suplier ayam. Asep nampak tak betah bekerja begitu. Mulai lah dia berpikir bagaimana usaha sendiri. Tanpa tergantung orang lain seperti saran orang tua. Akhirnya Asep menganggur kembali dan ini membuat istrinya berkomentar. Kenapa sih tidak berbisnis pindang seperti orang tuanya.

Apalagi Asep masih harus membayar cicilan mobil. Berpikir ulang, dia akhirnya berniat melanjutkan bisnis pindang khas Nagreg. Padalah dia maunya menjual produk milik orang lain. "Dari istri dapat ide ngapain jual baru produk orang lain sementara produk orang tua sendiri sudah terkenal."

Ia pun setuju melanjutkan usaha jualan pindang pusaka warisan buyut. Meski warisan keluarga faktanya dia harus memulai usaha dari nol.

Dia berencana membuka usaha di Jalan Riau Martadinata. Modal tambahan selain resep ialah mobil pribadi yang belum lunas cicilan tersebut. Namun dia merasa khawatir karena disana merupakan daerah bebas PKL. "Saya takut digembok," imbuhnya.

Ia lantas berkeliling Bandung mencari tempat. Kebetulan Asep melewati Jalan Karapitan. Disana lah mulailah dia berjualan disana. "...disini sampai sekarang," tuturnya. Tepatnya dia berjualan belakang Horizon sejak di 2012. Lulusan marketing membuatnya tidak takut menjajakan produk.

Resep pindang pusaka tersebut dijual lewat mobil. Prinsip berjualan seperti layaknya PKL saja. Setiap hari dia tidak jenuh berjualan pidang.

Respon awal di tahun pertama menurutnya harus siap mental. Namanya berjualan kadang ramai, kadang juga sepi, dirasakan dia butuh mental sekuat mungkin. Tahun kedua pelanggan mulai terbentuk bahkan selalu saja ramai. Bahkan Sabtu- Minggu banyak pesanan datang terutama dari ibu rumah tangga.

Sehari dia menjual satu panci pindang berisi 150 pindang ikan mas ukuran Rp.15.000 sampai Rp.20.000.

Usaha warisan dari nol

Kalau ramai dia mampu menjual semua 150 pindang habis. Omzet Asep mencapai Rp.2 juta per- bulan dari jualan pindang saja. Asep mulai berjualan pukul 09.00 WIB hingga sore. Pukul 19.00 dia sudah kembali ke rumah di Nagreg.

Pulang ke rumah langsung tidur, karena besoknya dia dan istri harus bersiap membuat pindang. Pindang itu dibuat pas malamnya dijual di paginya.

"Capek sih, saya harus bangun pagi, berangkat ke Bandung jualan, kemudian balik lagi ke Negreg," kenang Asep.

Kelamaan terbiasa meski paling sulit diawal bangun tidur. Kalau sudah terbiasa bangun pagi ya dia mampu bangun pagi buta. Ia bekerja keras bersama sang istri. Rahasia kerja mereka ialah, istri mulai dari menyiapkan ikan mas, memproses matang sampai setengah matang. Ketika suami pulang, Asep mengolah itu jadi pindang.

Berjualan pindang selama empat tahun memberinya satu rumah makan di Nagreg. Dia mampu melanjutkan cicilan mobil bahkan mencicil rumah. Cicilan mobil yang diberinya nama Divisi Penjualan Pindang Pusaka Ma Ecot 2, Cabang Negreg, itu sudah lama terlunasi bahkan bisa beli lagi.

Sukses maka dia berencana membuka satu rumah maka lagi di Cianjur. Untuk Divisi Ma Ecot 2 masih dia pertahankan sebagai bentuk kedekatan ke masyarakat.

Sukses Asep membuat banyak orang mengikuti jejaknya. Beberapa bahkan malah mengaku- ngaku sebagai pindang Ma Ecot asli. Agar mengatasi hal tersebut, dia memperkuat rumah makan di Nagreg serta tanpa dia berhenti meyakinkan.

Awalnya orang tidak percaya orang yang berjualan di mobil itu asli. Apalagi nama Ma Ecot lebih dikenal oleh masyarakat asli Nagreg. Padahal Asep awalnya justru berjualan pindang lewat mobil keliling. "Tapi setelah mencoba, mereka tahu dari rasa," ujar bapak dua anak ini.

Bisnis Asep tidak berhenti di masakan Pindang. Ia juga menjual masakan khas Sunda, seperti pepes ikan mas, pepes ayam, telor ikan mas, rendang jengkol, abon ikan peda, kacang merah manis pedas, dan juga ada sambal goreng tempe.

Selain di Nagreg, Karawitan, kamu bisa menemukan olahan tersebut di tempat lain, tepatnya di Mekarwangi, Bandung. Tempat itu dikelolah oleh sang kakak, Ahmad.

Food Blogger Khusus McDonald James McGowan

Profil Pengusaha James McGowan


 
James McGowan tidak tertarik makanan McDonald's biasa. Tidak tertarik Big Macs, juga dia tidak tertarik akan McNuggets. Jangan bicarakan soal McMuffin juga. Bagianya dia berbicara tentang McSpecial's. Ini kisah seorang food blogger khusus McDonald.

Pria berumur 28 tahun bekerja sebagai developer software juga blogger, asalnya dari Amherstburg, Canada. Dimana hidupnya ialah soal makan. Sebagai food blogger fokusnya menulis di blog Travelling McD's, yang mana dia berburu menus spesial McDonald ke berbagai negara.

Sebagai tambahan kami memberikan sedikit informasi. Bahwa perusahaan McDonald memiliki menu spesial di setiap negara dimana franchise -nya berada. Selama lebih dari lima tahun, dia bersama seorang wanita, yang mana istrinya telah berkunjung ke 53 negara berbeda dan mereview 300 menu spesial- regional milik McD's.

Sebagai catatan dia tidak lupa mereview McDonald Jepang, dimana sedang booming McChocolate Potato, itu loh kentang goreng berbalut cokelat yang baru- baru ini diluncurkan. Dia memberikan nilai binta 3,5 dari lima. "Terhormat. Ada drama yang layak antara, garam, dan lemak utuh dalam penggorengan," ia jelaskan.

McGowan juga menikmati Curry Crab Stick Pie khas McD's Thailand. Dia memberikan nilai bintang empat meski penulis Metro.co.uk menyebutnya kurang menggugah selera.

"Saya masuk mengharapkan bahwa itu akan terasa seperti sedikit bubuk kari ditaburi dengan kepiting, tapi itu benar- benar pasta kari kuning bagus dengan bahkan sedikit cabai," tulisnya.

Dia agak tidak suka Chicken Teriyaki McRice dari McDonald. McGowan menyebut kurang menakjubkan. Ia tidak merasakan sesuatu spesial -maka dia memberikan bintang 2,5.

Menurutnya paling horor ialah Aloha Heat Burger dari Hong Kong. Dimana deskripsikan sebagai nanas yang yang dicampur keju sampai pedasnya jalapeno. Tetapi McChurros khas Korea sangat enak. Lalu ada juga dari Singapura yaitu Bubblegum McFizz yang "too blue" (menyedihkan.red).

Dia berbicara kepada The Wall Street Journal bahwa ada sekitar dua juta orang mengunjungi blognya, untuk alasan apapun.

Orang asing pernah berbicara kepadanya kenapa jauh- jauh ke Thiland tidak memotret kuil. Atau apapapun yang hubungannya dengan keindahan Thailanda bukan McDonald. Secara gamblang McGowan menyebut itu memang. Banyak orang berharap melihat kuil indah. Mereka tidak mengharapkan nasi salmon di McDs.

Tapi dia menambahkan, "Saya tidak merokok. Saya tidak minum. Inilah keburukan saya". Ia menikmati tiap menu McDonald di setiap negara. Meski junk food tidak baika buat kesehatan. Dengan PD -nya dia berkata berat badannya malah turun.

Lucunya ternyata meski menikmati McDonald, McGowan lebih memilih makanan sehari- hari yang dimasak oleh sang istri. Jadi jangan salah, apa yang dilakukannya sekedar hobi bukan kebutuhan konsumsi sehari- hari. "Kami juga menghindari makanan goreng kering semampu kami coba," imbuhnya.

Ia tidak dibayar ketika menikmati McDonald. Bahkan dia jarang menggunakan pesawat terbang untuk aktif berpergian. Dan, anehnya McDonald, dia masih "lovin' it". Dia berencana pergi ke Oman, Mongolia, Qatar, dan Vietnam.

Blog: www.travellingmcds.com

Baju Plastik Kresek Bekas LKP Bu Nandang

Profil Pengusaha Erni S. Nandang 



Fenomena kantung plastik berbayar nampaknya harus berkaca kepadanya. Sosoknya pendiri Lembaga Kursus Pelatihan (LKP) Bu Nandang. Adalah Erni Suhaina Ilham Fadzry, atau orang kenal jika memanggil namanya Erni S. Nandang. Sosok dibalik kesuksesan memanfaatkan barang bekas termasuk kertas kresek.

Perjalanannya sudah lama sejak 2008, memberdayakan masyarakat agar hidup lebih kreatif. Caranya ialah memanfaatkan barang bekas disekitar. Termasuk kertas kresek yang dijadikan aneka kerajinan. Mengolah sampah menjadi kerajinan menjadi satu- satunya solusi kita sekarang.

Total tiga kecamatan dirangkul Erni, dari Cilacap Tengah, Utara, dan Cilacap Selatan. Dalam metodenya ia memberikan pembelajaran entrepreneurship. Bagaimana cara berpikir di luar kotak menghadapi tumpukan sampah.

Prinsipnya harus merubahnya menjadi barang indah. Nilai seni akan mendongkrak barang bekas mempunyai nilai jual. "Slogan kami merubah sampah menjadi berkah," papar Erni. Menjadikan sampah menjadi indah dan juga menghasilkan pundi- pundi uang tentunya.

Pelatihan termasuk aneka workshop, seminar, serta sosialisasi langsung. Sebagai LKP, Bu Nandang tidak mau mematok peserta disetiap acaranya. Pada prinsipnya mereka bekerja untuk sosial entrepreneurship. Ia juga memberikan kursus reguler. Dimana pesertanya menurut artikel kami baca mencapai 700 -an orang.

Dia bersama mengarahkan warga menjadi wirausaha. Lantas mereka bersama bisa membangun kelompok sendiri yaitu kelompok bina usaha (KBU). Tujuannya adalah bersama mengerjakan bisnis daur ulang aneka sampah termasuk sampah kresek bekas.

Ada enam KBU terbangun berkat Bu Nandang. Usaha mereka mengerjakan aneka kerajinan sampah. Jika berbicara anggota maka kebanyakan merupakan ibu rumah tangga dan pemuda pengangguran.

Bekerja bukan bicara


Produk olahan sendiri dibagi menjadi dua jenis, yakni limbah dan non- limbah. Khusus non- limbah maksud dari itu adalah produknya bukan dari bahan bekas. Dimana variasinya kecil dibanding yang limbah. Kalau produk limbah antara lain dari limbah plastik kresek, kertas bekas, pecahan kaca, sampai elektronik jadi.

Produk jadinya meliputi hantaran pernikaha, tempat tisu, keranjang, ataupun aneka pernak- pernik souvenir. Ia menambahkan harga bervariasi mulai Rp.1.500 sampai Rp.100.000. Semuanya dijual melalui toko sendiri yang dikhususkan. Dua toko tersebut dimiliki langsung oleh LKP Bu Nandang.

Nantinya setia KBU tidak lagi pusing menjual. Mereka cukup menitipkan ditempat Erni. Pendapatan rutinnya mencapai rata- rata Rp.250.000 sampai Rp.2.000.000 per- bulan setiap KBU. Omzet LKP Bu Nandang sendiri mencapai Rp.100 juta sampai Rp.200 juta.

Lulusan Sastra Bahasa Inggris dari Universitas Padjajaran ini menyebutkan. Walau omzetnya besar tetapi ia menggunakan uang tersebut untuk perputaran modal. Termasuk digunakan untuk aneka kegiatan sosial dari Bu Nandang sendiri. Dana operasi pendidikan operasional selalui disiapkan untuk melatih warga sekitaran Cilacap.

Tidak cuma berhenti di Cilacap, Erni sudah merambah tempat lain termasuk sampai ke Jakarta. Melalui cara datang ke aneka pameran kewirausahaan ataupun seminar. Erni juga membuka kemungkinan buat kamu bisa masuk menjadi sponsor.

Pakaian kresek


Gebrakan terbaru LKP Bu Nandang ialah pakain pengantin. Loh, maksudnya? Usaha yang digagas Erni ini bagaimana merubah plastik kresek menjadi pakaian pengantin. Dibantu kreatiftas hal mustahil menjadi hal nyata. Baju pengantin dari bahan plastik tersebut bahkan dibandrol jutaan.

Erni mengaku mengantungi omzet Rp.10 juta setiap bulan. Ide pembuatan aneka pernak- pernik pernikahan sudah lama dijalankan Erni. Namun, di tahun 2010, ide gila muncul bagaimana menghadirkan plastik kresek hadir dalam pernikahan. Waktu itu salah satu anak didik LKP Bu Nandang ada yang mau menikah.

Dia merupakan murid terbaik LKP. Maka Erni berniat memberikan hadiah lebih dari sekedar aneka produk plastik kresek biasanya. Erni memutuskan membuat souvenir ditambah pakaian pengantinnya. Diluar apa ia maksud untuk produknya, banyak tamu malah tertarik hasil karya LKP Bu Nandang ini.

Semenjak itu permintaan akan aneka keperluan pernikahan berbahan kresek makin berdatangan.

Kesadaran akan lingkungan agak banyak mendorong penjualan. Ini membuat usaha kertas kreseknya maju pesat. Dia meyakinkan baju kresek tidak gampang robek. Tidak pula menimbulkan alergi kulit. Erni sudah memiliki cara mengatasi tingkat kebersihan plastik.

Bahan baku dikumpulkan Erni dari warga sekitar LKP Bu Nandang. Ada tempat khusus buat mengepul itu di tempat. Termasuk juga pemberian anggota LKP sendiri dari rumah masing- masing. Meski disoroti, Erni menolak kalau ia harus memakai kresek baru. Meski murah tetap Erni memilih kresek bekas karena alasan khusus.

"Kalau memakai kresek baru, nilai penyelamatan lingkungan tidak ada sama sekali," jelasnya. Prosenya itu memang panjang tetapi demi menjaga kualitas.

Pertama kresek dibersihkan lalu dipilah. Pilihlah platik tebal yang kuat karena memang ada kresek tipis. Lalu dia menggunakan alat khusus mengubah kresek menjadi lembaran. Kemudian kresek digulung diikat gelang karet. Ia lalu menyatukan itu menjadi bentuk segitiga. Kemudian baru ditempel dipola yang telah disiapkan Erni.

Setelah itu dijahit layaknya kain pada pakaian biasa. Pola kecil disatukan sedikit- demi sedikit menjadi satu bentuk baju pengantin. Ia menambahkan gliter berbahan kabel bekas agar lebih manis. Erni dibantu oleh para muridnya di LKP Bu Nandang

Dibutuhkan 1.000 lembar plastik kresek untuk sepasang pakaian pengantin. Agar menjaga bahan baku tetap tersedia, Erni bahkan rela membangun tiga gudang khusus. Gudang penyimpanan ini sempat diprotes oleh sang suami. Tetapi enteng Erni menjawab itu akan menjadi uang. Memang betul akhirnya ini menjadi bisnis unik.

Harga jual pakaian pengantin kresek menembus juta rupih. Nilai nominalnya tidak disebutkan, tetapi dapat ia sampaikan mencapai jutaan rupiah. Untuk aneka souvenir seperti replika candi Borobudur djual Rp.35.000 per- unit. Kecil- kecil dijual antara Rp.500 per- unit. Mereka dijual Erni dalam bentuk paket hantaran pernikahan.

Semakin banyak pesanan untung semakin besar. Pasalnya margin untung besar karena bahannya dari plastik bekas. Berbagai pelatihan masih dijalankan LKP Bu Nandang selain membuat fasion dari kresek.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba