5 Miliarder Muda Dunia Paling Hot Produknya 2015


Tahun 2015, lupakan soal Mark Zuckerberg, kita dieranya dimana pengusaha- pengusaha dibidang teknologi menjamur. Mereka muda, cerdas, dan memiliki produk keren. Jika mau dicari siapakah diantara mereka yang terbaik di 2015 -itu kurang menarik. Bagaimana jika yang terganteng dan memiliki produk terkeren di tahun ini. Kami mencoba meringkasnya: pengusaha muda paling 'hot' produknya di 2015.


Umur: 24 tahun

Produk: Snapchat

Tahun 2015, bukannya fokus pada kuliah, dia malah sibuk sendiri dengan Snapchat -nya. Ketika dia sedang berkuliah dibidang desain produk, Snapchat lah produk karangannya. Dia pernah sebelumnya menciptakan sebuah situs bernama FutureFreshmen.com. Sebuah layanan bagi kalian yang sedang mencari kuliah terbaik. Dua romor penting ada antara dirinya dan Snapchat sendiri dalam bisnis.

Pertama, dia menolak tegas upaya pembelian dari Facebook, oleh Mark Zuckerberg sendiri. Dia disebut- sebut ditawari $3 miliar seperti yang dikutip oleh Wall Street Journal. Dan terkahir, penolakan terhadap situs yang dia kagumi Google. Yang konon menawarinya pembelian $4 miliar dimana dia juga menolak. Alhasil, perusahaan ini cuma bermodal modal kapital, dimana modal terkahirnya bernilai $50 juta.



Umur: 38

Produk: Uber

Di tahun 1998, dia sudah berani- beraninya drop- out dan menemukan Scour.Inc, sebuah situs pencari dan Scour Echange P2P file- exchange. Apapun itu kedua perusahaan ini gagal. Dan Travis harus menghadapi tuntutan hukum karena berbagai file 'ilegal' itu. Tak berhenti pada tahun 2001, dia memulai usahanya lagi di bidang teknologi. Sayangnya, dia baru sukses setelah umurnya diatas 30 tahun, tapi tak tanggung- tanggung dia lah penemu Uber.

Aplikasi taksi paling keren dimana kamu bisa menjadi sopir taksinya sendiri. Konsepnya kamu bisa disewa, atau juga berbagi tumpangan. Mempunya konsep unik, mereka bahkan menawarkan pengguna tumpangan unik seperti mobil dari film Back to the Future atau truk es krim. Untuk di Indonesia sendiri memang tidak tenar bahkan mungkin bisa dilarang. Tapi di Malaysia, siapa yang tak mau berkendara dengan Dj Leng Yein.



Umur: 33

Produk: Airbnb

Brian Chesky dan teman satu kamarnya 'kelaparan' tanpa uang dan makanan. Mereka berdua tidalah punya pekerjaan. Suatu ketika ada konfrensi Industrial Design. Disana banyak hotel telah terboking penuh. Dia dan temannya akhirnya menyewakan tempatnya. Mereka membeli tiga kasur air, kemudian memasarkan ide itu ke dalam koneksi internet. Konsep awalnya bernama Air Bed and Breakfast. Inilah awal mula produk nya Airbnb.

Dia sendiri punya moto unik. Percaya bahwa untuk meningkatkan kualitas produk kamu musti mencoba itu sendiri atau "Eating your own dog's food". Alhasil, dia dikenal tidak memiliki rumah atau berpindah- pindah bermodal Airbnb. Padahal nilai perusahaannya sekarang sudah mencapai $450 juta.



Umur: 43

Produk: SpaceX dan Tesla Motor

Dia bisa dibilang adalah veteran dibidang bisnis teknologi. Pengusaha 43 tahun ini, adalah salah satu penemu PayPal. Berawal dari sanalah ia mengumpul modal hingga membangun Tesla, perusahaan mobil listrik. Yang terbaru dia mendirikan perusahaan SpaceX yang fokus pada pengembangan satelit, internet, dan misi kolonisasi Mars.

Menarik karena dia bukanlah tipikal anak drop- out. Gelarnya itu loh berlatar belakang ilmu science dan enginering. Sosoknya itu bahkan disamakan dengan si Iron Man itu. Meski sukses dibidang teknologi, satu kenyataan, bahwa dia takut pada AI atau Artificial Intelligence (kecerdasan buatan). Dia bahkan mendonor beberapa miliar memastikan SkyNet itu tak ada!

5. Naruatsu Baba


Umur: 35 tahun

Produk: Catastrophic Zombies dan Kuma's Digging Adventure (game)

Satu- satunya dari Jepang, kenapa sosoknya? Karena dia keren dan sukses, dan yang menarik dia bukanlah tipikal pengusaha teknologi diatas. Dia seorang pembuat game. Jangan salah sangka loh, dia sudah masuk ke dalam deretan miliarder muda dunia. Baba merupakan pemilik perusahaan game bernama Colopl. Dimana dia lah pemegang saham utama, kekayaanya senilai $1,9 miliar seperti yang dilansir Forbes.

Dulu Pegawai Auditor Kini Kurir Miliaran

Biografi Pengusaha Budiyanto Darmastono


Tidak pernah bermimpi mau menjadi pengusaha. Meski sudah menempati posisi mapan, tepat 15 tahun sudah, ia menduduki jabatan auditor di Diners Club. Budiyanto mantap hengkang alias mundur dari pekerjaanya. Pria bernama lengkap Budiyanto Darmastono ini siap membangun bisnisnya. Ia adalah pendiri perusahaan usaha jasa kurir Nusantara Card Semesta (NCS).

Siapa sangka, kini, ia sudah mereguk omzet mencapai ratusan juta per- tahun. Apa si kisahnya yang perlu kita pelajari maka inilah kisahnya.

Hengkang dari pekerjaan mapan merupakan keputusan sulit. Tetapi, dia telah membulatkan tekat, atas keputusan ini dirinya resmi mundur dari jabatan auditor. Perusahaan bernama Nusantara Card tersebut berdiri pada Desember 1994 ini, hanya lah perusahaan kecil awalnya. Budi berbekal uang kurang dari 50 juta membuka usaha.

Dia mendirikan NCS bermodal rumah kontrakan. Disaat itu, ia masih merangkap pekerjaan di Diners Club, sampai benar- benar bisnisnya berjalan. Pria yang dulunya juga guru mengajar SMA ini. Menjadi pengusaha merupakan pilihan berani alias nekat. Tidak banyak pegawai dia pekerjakan cuma 8 orang. Pria kelahiran 8 April 1966 ini yakin.

Kantor itu beralamatkan di Jalan Tali, Jakarta Barat. Budi butuh waktu menyusun pengorganisasian kantor sampai hal kepengurusan ijin. Saat itu pemain di bisnis jasa kurir masih sedikit tidak seperti sekarang. Fokus usahanya pertama kali adalah jasa card center. Yakni jasa pengiriman kartu terutama kartus kredit dari pihak bank.

Sarjanan akuntanis Universitas Gaja Mada ini memang sadar menjadi pegawai tidak selamanya. "Kalaupun punya gaji, paling begitu- begitu saja," aku Budi. Putra seorang guru asal Karanganyar memang bermimpi punya usaha mapan dan bertahan lama. Perusahaanya ini mulai mengirimkan kartu dan surat dalam jumlah banyak.

Pekerjaan selesai


Sebenarnya dia sendiri tidak didukung menjadi bankir. Apalagi berwirausaha tidak didukung sulit diterima. Pria kelahiran 5 April 1966 yang harus memulai jalan yang berliku. Dia tidak punya cita- cita jadi pengusaha. Bahkan sejak kecil cita- citanya memang menjadi bangkir. Semua muncul dibenak si kecil Budi lantaran satu lingkungan.

Waktu itu dia berkenalang beberapa karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI) di desa. Cita- cita anak ke empat dari enam bersaudara ini tidak mulus. Orang tua nya memilihkan Budi menjadi guru. Keluarga asal Karanganyar, Jawa Tengah itu tidak mau Budi jadi bankir. Mereka menginginkan dia menjadi PNS menjadi guru.

Apalagi secara turun- temurun, dari nenek, orang tua, serta kakak- kakaknya itu guru. Memang lah menjadi PNS menjanjikan. Tetapi dia memilih pekerjaan yang benar menjanjikan kepastian penghasilan. Tetap ngotot menjadi bankir hingga akhirnya masuk Universitas Gajah Mada (UGM) bukannya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).

Menjadi bangkir itu karirnya sulit. Tidak semudah menjadi guru terang kedua orang tua Budi. Selain itu juga menjadi bangkir mengeluarkan banyak biaya. Namun, ia tetap meyakini menjadi bangkir lebih menjanjikan, dan dia mencoba membuktikan hal tersebut. Untuk menambah biaya kuliah maka Budi berdagang. Setiap di akhir tahun dia menjual kalender.

Ia menawarkan kalender ke beberapa sekolah di kampung halaman. Hal lain, dia menjadi kepala di koperasi UGM, hasilnya tidak cuma beruapa uang. Secara tidak sengaja dia telah belajar menjadi pengusaha. Selepas dia lulus kedua orang tua masih menginginkan Budi menjadi PNS. "Orang tua saya masih memaksa menjadi pegawai negeri sipir (PNS)," kenangnya.

Dia lalu memilih berkarir di Jakarta. Empat bulan bekerja, dia mendaptkan panggilan di Dinner Club, inilah puncak karir dicitakan seorang Budi. Dimulai dari karir menjadi staf biasa, setalah empat tahun bekerja jadi lah dia manajer. Budi bekerja menjadi pegawai auditor setelahnya. Tetapi, tidak berpuas hati, ia masih aktif berjualan baju dan sprei ke teman kantor.

Mimpinya paling tinggi ialah menjadi direktur, jalan- jalan keluar negeri, dan sukses di usia muda. Hanya saja jalan itu tidak ditemukan di karirnya sekarang. Tahun 1984, ia memutuskan keluar, membuka usaha sendiri dan menjadi direktur sendiri.

Ide bisnis muncul ketika Dinner Club mengeluarkan banyak tagihan. Terutama tagihan biaya pengiriman surat tagihan ke nasabah. Pemain jasa pengiriman paket dokumen masih sedikit. Itulah sasara mata Budi ketika kesempatan itu datang maka tidak disia- siakan. Sang istri sempat menentang keputusan Budi untuk menjadi pengusaha.

Untuk itulah mungkin, di awal usaha, ia menyerahkan kepengurusan perusahaan kepada sang istri. Ialah Reni Sitawarti Siregar yang menjalankan usaha ini. Walau begitu soal urusan presentasi serta memperkenalkan layanan masih dipegangnya. Maka ia harus pandai mencari waktu agar tidak bentrok jadwal kerja.

"Yang penting kan, pekerjaan saya bisa kelar," ujar ayah dari Gina Audrini (5 tahun), yang mana memilih di hari sabtu mengantar anaknya ke sekolah.

Pertumbuhan di dua tahun pertama tidak begitu fenomenal. Cuma Budi masih melihat potensi dimiliki oleh usahanya. Ditangan sang istri usahanya menggaet dua bank swasat yakni Bank Bali Mercantile Club, serta beberapa restoran. Perorangan juga banyak menggunakan jasa NCS. Total transaksi menyentuh angka di jutaan tetapi dibawah 10 juta.

Akhir 1996, Budi memutuskan keluar dari Dinners Club dan terjun bersama berbisnis NCS. Saat itu dirinya yakin bahwa jika terjun berbisnis maka hasilnya akan lebih besar. Selepas keluar dari perusahaan, Budi mulai melakukan serangkaian pembenahan. Termasuk melakukan komputerisasi data klien. Tujuannya tentu agar efisien dan cepat.

Proses komputerisasi meyakinan pelanggan tau status pengiriman. Apalagi kalau pengiriman berjumlah sangat banyak membutuhkan kecermatan. Waktu itu Budi berada di jaman yang tepat ketika cuma segelintir pemain menerapkan sistem IT, seperti DHL dan T&T. Dia merasakan sendiri bagaimana perusahaan konvensional kesusahan.

Mereka, pesaing NCS, sibuk mencari rekap data ketika dirinya langsung klik. "Proses manual seperti itu bisa memakan waktu," ujarnya. Ini juga dijadikan nilai tambah ketika jamannya. Sedikit bertambah banyak para pelanggan bergabung menggunakan jasa NCS. Kendati berumura dua tahun ketika Budi bergabung, bisnis ini menghasilkan Rp.100 juta.

Budi selalu berusaha melakukan pendekatan. Semua perusahaan dari perbankan, asuransi, telekomunikasi, sampai elektronik digaetnya Kini, semua perusahaan memiliki divisi card center, dan dijalankan oleh siapa lagi kalau bukan NCS. Agar menggaet banyak perusahaan dia rajin mengupgrade IT NCS. Bahkan berani berinvestasi sampai Rp.2 miliar.

Ia mampu membuat kebutuhan klien terpenuhi cepat. Inilah daya tarik dari Nusantara Card Semesta. Hal lain adalah keberanian NCS menawarkan software gratis. Mereka buka- bukaan memberikan data tentang pengiriman produk. Misalnya distribusi 100.000 dokumen bisa dicek setiap hari perkembangannya.

Merupakan hal baru ketika itu memberikan perubahan. Ternyata, kelebihan dibidang ini tidak cukup, maka ia mencari inovasi terbaru yakni layanan sebulan gratis lima tahun sekali. Tawaran menarik yang meyakinkan para klien bahwa layanan NCS berbeda. Strategi tersebut terbukti sangat efektif mengikat pelanggan agar tetap setia.

Bukan cuma apakah barang itu sudah sampai tetapi juga waktu tempuh lebih tepat. Jikalau ada dokumen dikirimkan harus dua minggu, maka H+1 sudah pelanggan ketahui laporan kongkret. Termasuk status per- satuan dokumen bukan cuma satu paket. Meski si klien punya kerja sama denga jasa kurir lain, Budi tidak menurunkan layanan.

Perkembangan NCS yang membesar, membuat Budi berani mengembangkan layanan. NCS melayani jasa kurir dalam kota, tetapi juga kurir antar kota bahkan internasional, kargo udara dan laut, moving, trucking, werehousing, logistik juga distribusi. Untuk paling diminati ya layanan kurir dalam kota dan antar kota atau domestik.

Komposisinya, bahkan menurut Budi, 70% merupakan kurir dalam kota dan sisanya lain. Dimana total bisa mencapai 6- 7 ton logistik dikirim. Total jumlah kurir juga naik sampai 2.500 orang dan bisa bertambah. Dia menyebutkan omzet bisnisnya Rp.700- 800 juta. Ia mengandaikan NCS memiliki 3-4 kurir di satu kelurahan mengantarkan 200- 300 dokumen setiap hari.

Contoh Usaha Jus Buah Tanpa Bahan Pengawet Mama Roz

Profil Pengusaha Hendrik Setiawan 


 
Menjadi konsutlan IT sebuah perusahaan terkemuka tidak membuatnya berdiam diri. Dia masih ngebet bisa menjajaki apa itu dunia wirausaha. Untuk yang satu ini, Hendrik Setiawan tidak terburu- buru menanggalkan jabatannya, ada masanya. Sebenarnya Hendrik bukan lah orang biasa, terlahir dari keluarga mapan, memiliki bisnis keluarga di bidang kertas.

Dia ingin melanjutkan bisnis kerta milik keluarga. Hingga ia menanggalkan karirnya sebagai konsultan IT. Dia lantas terus berkembang berkat usaha keluarga. Melanjutkan bisnis keluarga membuatnya mencium tren di masyarakat metropolitan sekarang. Pria kelahiran 1969 ini, akhirnya memulai usahanya sendiri, melepaskan bisnis keluarga dan berusaha mandiri.

Hendrik menyerahkan urusan bisnis kertas ke anggota keluarga lain. Sementara itu, ia mengerjakan bisnisnya sendiri yakni berjualan aneka jus.

Jus sehat


Pasar jus menurutnya makin meluas. Apalagi pemahaman masyarakat akan pola hidup sehat. Karena sadar bahwa bahaya penggunaan bahan pengawet maka ini berbeda. Ia memulai bisnis pembuatan jus sehat tanpa bahan pengawet. Bukannya tidak sadar akan beratnya bisnis tersebut. Pemain bisnis jus sudah banyak dan bisa dijalankan siapa saja.

Maka Hendrik musti memutar otak memberikan pembeda. Itu sebabnya kami menulis dia tidak terburu- buru soal menanggalkan pekerjaan konsultan IT.

Ia menyusun matang rencana bisnis. Harus berpikir secara matang membaca pola pasar dihadapi. Apalagi di usaha jenis ini masih baru dipahaminya. Tahun 2005 merupakan tahun sulit bagi Hendrik membangun bisnsi jus premium. Tetapi bukan tidak mungkin, bermodal Rp.200 juta, ia lantas mendirikan perusahaan bernama PT. Adelphi Transasia.

Uang hasil tabungan tersebut dibelikan mesin pengolah jus impor dari Amerika Serikat dan Eropa. Dibantu sekitar 10 orang karyawan mengerjakan bisnis jus. Ia yakin bisnis jus premium akan sukses. Dia yakin telah menemukan celah diketatnya bisnis jus premium.

Dia juga ikut mendesain botol kemasan, menakar ukuran terbaik, serta target pemasaran tepat sasaran. Dia memilih pasar kelas menengah atas. Harga jus premium buatannya akan dibandrol seharga Rp.13.000 atau Rp.25.000. Tanpa bahan pengawet ataupun mengandung konsentrat. Jus buah bernama Mama Roz ini siap dipasarkan ke seluruh Indonesia.

Agar menarik perhatian masyarakat maka dipakailah sistem jemput bola. Ia bahkan "nekat" siap memberikan layanan pesan antar tanpa biaya tambahan ke seluruh Jakarta. Menurutnya sebagai pemain baru makalah dia wajib menangkap peluang. Ini menjadikan brand Mama Roz menjadi satu- satunya bisnis jus buah yang bisa pesan antar sampai rumah.

"Pesanan satu botol jus pun akan kami antar," jelasnya penuh percaya diri. Menjadi berbeda merupakan cara ampuh menghadapi persaingan ketat.

Ia menawarkan jus murni dari buahnya asli. Pasar jus premium pasti lah tidak terpikirkan. Mereka menyebut diri mereka memakai buah asli tetapi. Nah, Hendrik punya cara lain agar membuktikan keasilaan buahnya, yakni menawarkan konsep peras "sendiri". Pelanggan dibiayarkan dia memilih buah sendiri, pilihan juga nanti bisa diganti- ganti, sesuai permintaan saja.

"Mereka seperti membuat jus sendiri, sesuai dengan selera," jelasnya. Mama Roz akhirnya tumbuh pesat juga melalui konsep berbisnis ini. Dengan dibiarkan memilih buah sendiri, Hendrik bisa membaca buah apa yang tengah digemari masyarakat.

Ini lantas menambah akan kasanah rasa si Mama Roz itu sendiri. Dia membuat aneka variasi dari produknya. Di tahun 2011 permintaan akan jus premium Mama Roz naiknya 40%. Enam tahun berjualan Hendrik mulai menambah jumlah karyawan. Jikalau dulu dibantu 10 karyawan, kini, dia dibantu 160 karyawan serta mesin jus di pabriknya.

Soal ukuran botol, menurut Alumnus Southern California University ini, memilih menggunakan kemasan 600 ml yang memiliki berbagai pertimbangan. Salah satunya, ia inginkan botol tidak terlalu besar sehingga bisa jadi minuman pelepas dahaga ketika berolah raga. "Ukurannya memungkinkan botol mudah digenggam," ujar Hendrik.

Meski ada pembatasan buah impor bukan masalah. Ia sudah membangun hubungan baik dengan vendor di luar negeri. Soal pengiriman buah seperti kiwi dan lemon terjaga. Meski begitu dirinya tidak melupakan akan buah lokal selain impor. Pertumbuhan Mama Roz sampai dua digit alias puluhan juta. Hendrik juga mantap memasuki pasar ritel premium.

Meski masuk pasar ritel tidak lupa senjata andalan, "Direct delivery adalah business model kami sejak awal hingga hari ini," tergasnya. Jangkauan pengiriman mencapai Bandung, Surabaya, dan Medan. Ia memenuhi kebutuhan penjualan lewat membuka pabrik baru di Cikupa Maz, Tangerang. Pelanggan pun bisa senang dikirim Mama Roz setiap empat minggu ke depan.

Nama Merek


Guna mendekatkan brand Mama Roz ke masyarakat berbagai cara dilakukan. Termasuk mengisahkan awal mula Mama Roz ini. Ceritanya tentang asal mula segarnya kandungan jus Mama Roz. Dia memperkenalkan si Mama Roz sebagai cerita ibu berasal asal Tuscani, Italia. Yang mana si ibu senang memetik buah segar untuk disajikan ke anak- anak secara tradional.

Ia sengaja memberikan cerita tersebut dalam bahasa Inggris. Dia mencoba membangun brand image Mama Roz seolah itu sosok nyata. Tambahan saja, menurutnya masyarakat Indonesia masih lebih mempercayai produk makanan dan minuman asal Eropa sana.

"Bukan saya tidak cinta Indonesia, tapi ini merupakan strategi pengenalan brand," tutur Hendrik.

Sengaja produk miliknya memang berkesan kebaratan. Bahkan banyak masyarakat mengira ini adalah salah satu brand waralaba asing. Menurutnya penguatan brand melalui kemasan serta pelabelan itu penting. Mama Roz hanya punya satu kesempatan memberikan kesan pertama. Satu kesempatan menenangkan hati pembeli ketika melihat etalase toko.

"...karena itu, kita harus menyajikan kemasan yang menarik," paparnya. Sistem IT dan call center juga tidak lepas dari perhatian mantan konsultan IT ini. Hendrik menyiapkan infrastruktur yang baik jauh hari untuk melayani aneka pesanan. Dia siap ketika pelanggan Mama Roz dari puluhan menjadi ratusan bahkan menjadi ribuan.

Waktu tiga bulan berjalan semenjak peluncuran Mama Roz menjajaki pasar swalayan. Sudah berjualan jus buah premium selama enam tahun, setiap bulan Hendrik memproduksi tak kurang dari 50.000 botol per- bulan. "Saya ingin bisnis perdana saya sukses," ujar Hendrik.

Memilih jalur berbeda membuat Mama Roz masuk ke Negeri Jiran, Malaysia. Tidak ada kesuksesan tanpa keberanian. Bahkan ia mengibaratkan karena tidak tau sama sekali maka berani. Dia pernah berpikir apa bisa membuat jus segar tanpa bahan pengawet. Kalau tidak dia berani, mencari informasi dimanapun, maka tidak akan ada jus bertahan tiga hari.

Ide memberikan pesan antar juga keberanian. Satu langkah berani lain yakni membeli satu botol bisa diantar. Bagianya aset terpenting dalam bisnis adalah brand. Makanya dia getol membangun brand Mama Roz lewat penggambaran jelas. Membuatnya seolah brand mahal luar negeri hingga nyaman dihati. "...tiga hal penting itu kenyamanan, kemudahan, dan layanan Mama Roz."

Untuk melayani Mama Roz juga bekerja sama dengan pihak lain. Caranya ya melalui setiap terjadi transaksi pembelian produk tertentu gratis satu botol Mama Roz. Memenuhi kebutuhan masyarakat juga termasuk maka Hendrik pun membuka pabrik di Cikupa, Tangerang. Pabrik yang rencananya akan dibuka di tahun 2012 silam.

Melalui aneka rasa baru diharapkan menjadi penyegar. Pasar mampu merespon Mama Roz sampai kenaikan 50% sampai 100% pemesanan. Memperluas pasar maka dibutuhkan second brand. Dan, Hendrik sudah siap untuk satu hal tersebut. Ekspansi agar tidak cuma menyasar kalangan tertentu. Produk terbaru ini akan lebih murah 30% dari produk biasa Mama Roz.

Harga murah tetapi kualitas mutu tetap terjaga. Sekali lagi bukan produk jus dengan pengawet ataupun zat konsentrat. Ia ingin menjangkau pasar anak muda mengajak gaya hidup sehat. Pasar ekspor sudah dijajaki pria berkacamata ini yakni ke Malaysia. Pilihan membangun pabrik di Malaysia atau menjual langsung tengah digodoknya lagi.

Strategi Marketing Terbaik Melalui Trial And Error

Profil Pengusaha Muda Glen Allsop



Satu lagi seorang ahli affiliate marketing mampu menghasilkan $100.000. Glen Allsop menunjukan kekuatan sebuah affiliate dan trafik setara $100.000 atau lebih. Dia dan ViperChill ada di antara blogger dunia sebagai pahlawan SEO/Marketing. Hal ini bukanlah sekedar pengunjung membludak atau mengajarkan apa internet marketing.

Melalui pengalamannya, dia membaginya melalui banyak hal, seperti blog, penulis, dan eBook. Dan, semua tentang caranya merupakan gratis di blog ViperChill.

"Saya tidak pernah berniat untuk masuk internet marketing. itu itu hanya terjadi dari hasil mencari tau bagaimana mempromosikan teknologi dan situs Dj ku. Sejalan dengan waktu saya mulai tertarik dengan  SEO dan sejenisnya, topik tentang itu selalu menarik perhatianku. Saya mencoba semua teori yang saya miliki dan mengaplikasikan ke semua situs."

Glen menyebut tentang bagaimana cara menyampaikan ilmunya ke pengunjung. Dia memulai dengan sesuatu yang tidak ditemukan di tempat lain, dan semuanya merupakan hasil percobaannya sendiri. Ia tidak mungkin menarik pengunjung untuk memahami ide, tetapi membuat percaya kepadanya. Melalui itulah pengunjung blognya memperlihatkan keseriusan seorang remaja.

Google merupakan hal terburuk bagi Long- Tile Keyword. Allsop memulai ide itu dibalik ViperChill dan kecenderungan SEO sekarang. Dia menyatakan keyword seperti long tile sulit untuk sekarang dan semakin parah. Era Google+ membuat algoritma sangat kacau baginya. Google jelas mendukung bagaimana sebuah produk di branding bukan masuk secara paksa.

Sehingga apa yang ada blognya itu merupakan hal yang paling tepat. Meski telah dikenal kejituan marketing di blog miliknya; Glen masih terus belajar.

Sebagai tambahan, blog ViperChill memberikan artikel yang dalam, kuat, dan asli pengalaman penulis sendiri. Kesemuanya cuma bisa didapatkan ya dari blog besar seperti miliknya. Blog ViperChill tidak memiliki iklan, benar- benar fokus di afiliate marketing saja tidak berjualan pula. Allsop secara lugas memberikan empat point yang menjadi dasar di artikelnya.

Point tersebut antara lain tentang:

1. Bagaimana mendapatkan uang secara online (melalui afliasi marketing)

2. Tips meningkatkan pendapatan online

3. Tips mengembangkan sosial media

4. Bukti aktual yang berasal dari dirinya sendiri.

Blog yang ada sejak tahun 2009 memberikan aspek berbeda di setiap artikel. Kontent lengkap untuk kamu yang berminat afiliasi marketing. Blog yang berani memberikan semua artikelnya secara gratis. Jika biasanya, beberapa internet marketer meringkas semua dalam 5000 kata hingga 6000 menjadi eBook lalu menjualnya, dimana Allsop menulis kontent semenarik mungkin.

Dia memastikan pengunjung belajar begaimana mendapatkan uang secara online dengan cara yang tepat dari blognya. Terbukti dari banyaknya Feed untuk 29.312 feed. Jika kamu membaca artikel ini. Tak ada salahnya kamu mengunjungi blog ini ViperChill.com.

Pembuat Tas Palomino Mantan Dokter Gigi

Profil Pengusaha Sukses Tina 



Tinggal lama di Jerman membuatnya tertarik di bisnis fashion. Namun, akarnya ternyata jauh sebelum itu, ia sudah menggemari aneka produk fashion sejak kecil. Lantaran sang ibu merupakan pemilik usaha konvesksi. Ia, Tina semakin punya cita rasa semenjak berkarir. Berprofesi dokter gigi membuat wanita satu ini punya kesempatan ke keluar negeri, melihat pertumbuhan industri fashion dunia.

Semenjak kecil Tina sudah membantu sang ibu berbisnis. Hasrat terbesarnya ada di produk tas wanita. Ia menyebut alasanya waktu itu karena mudah. Wanita asli kelahiran Medan, 50 tahun silam, yang menyandang gelar sarjana dokter gigi di Jerman. Pertama kali membuka pembuatan aneka produk tas wanita, sejak 1988 selepas kembali ke Indonesia.

Meski menyandang gelar dokter gigi tidak membuat surut. Malah, menurut Tina pekerjaan sebagi dokter gigi itu lama serta melelahkan. Pasti, banyak orang menyayangkan keputusan -nya untuk berhenti kerja. Apalagi dia malah nekat membuat tas wanita sendiri.

"Saya berhenti karena pekerjaan dokter gigi itu lama dan melelahkan," ujarnya.

Uang senilai Rp10 juta dijadikan modal olehnya. Sekembalinya ke Indonesia, dia langsung berburu beberapa meter kain di Pasar Tanah Abang dan Mangga Dua. Peralatan mesin jahit juga tidak lupa dibelikannya. Lalu tinggal mencari tukang jahit kusus tas. Tina tidak punya kenalan tukang jahit. Jadi dia berburu sendiri tukang jahitnya ke Bogor dan Bandung.

Alasan ibu dua anak ini karena sudah mendengar ketenaran mereka. Para penjahit disana dikenal memang rapih serta memiliki jiwa seni tinggi. Pemesan pertama datang dari Jerman sendiri. Pesanan sebuah asosiasi asal Jerman untuk menyimpan barang. Sambil berjalan, Tina mulai belajar mendesain tas fashion sendiri.

Tidak mengecewakan


Hasil belajar otodidaknya ternyata berhasil. Tina bahkan mampu masuk ke penjualan di Magga Dua. Tidak lama berbisnis, masalah pertama datang, ini terjadi ketika workshop nya dilalap si jago merah. Semuanya itu hasil kerja keras Tina hangus 80%, termasuk bahan baku dan mesin jahit. Untung karena itu tidak malah jadi hangus semangat Tina.

Malahan, api membakar semangat anak ketiga dari enam bersaudara ini. Tina mulai menyusun kembali bisnis dari nol. Ia mulai mencari bahan, membeli peralatan mesin jahit, dan lain- lainya. Berhasil melewati masalah malah menjadikan tas produksinya semakin laris. Mungkin semangat itu mendorong Tina lebih berpikir out of the box.

Mulai dari menjual di toko Magga Dua, tas buatan Tina merambah ke department store kecil, seperti halnya Cahaya. Menjajaki peluang disana membuatnya mantap. Dia meyakini model bisnis ritel modern cocok buat usaha miliknya. Disini penjualan terjadi lebih jelas serta pembayaran juga. 

"Agak susah menjual barang ke perorangan, karena ragam pesanan lebih banyak dan pembayaran berbeda- beda," tutur Tina.

Bisnis Tina mulai matang sambil berjalan waktu. Tetapi, masalah kembali menghadang, karena krisis moneter menghempas bisnis tas wanitanya. Itu semua lantaran department store kecil seperti Cahaya menutup cabang di beberapa tempat. Dia sempat bingung mengalihkan pasokan barang. Ini semua karena banyak department store tutup.

Tetapi, mulai disini lah, ia mau berani menjajaki department store besar, seperti Matahari dan Metro. Wanita lulusan Freie Universitat Berlin ini, berpikir mereka adalah perusahaa besar. Bagi mereka tentu krisis ini tidak berdampak besar bagi jalannya bisnis. "Apalagi, jam terbang mereka sudah lama di Indonesia," jelas Tina singkat.

Ia harus bersiap mengikuti proses panjang. Memastikan bahwa tas wanitnya terjual banyak. Kala tidak laku, maka dia akan kehilang sumber pendapatan atau putus kontrak. Agar mampu bertahan hadir di department store besar maka butuh perhatian. Dia butuh raw material bagus serta jahitan kuat. Ini juga disoroti oleh si department store loh.

Meski berhasil, dia tidak menampik, mereka pelanggan Palomino (nama brand -nya) adalah pelanggan yang sejak lama. Agar mendapatkan kepercayaan tidak lupa pula menyediakan stok. Banyaknya produk siap jual dibutuhkan apalagi kalau produknya sukses di pasaran. Hubungan baik terjalin sejalan permintaan barang yang semakin banyak.

Sukses bertahan Palomino bertahan selama setengah dekade. Bahkan penjahitnya sudah mencapai 50 orang penjahit. Jumlah penjualan meningkat ketika menjelang hari raya. Untuk itulah, dia siap menyediakan banyak stok agar tetap sukses berjualan. Pokoknya, prinsip Tina, tempatnya di department store tidak lah boleh jadi kosong.

Palomino juga menyegarkan desain tas setiap waktu. Sampai di hari raya, Tina mengeluarkan 15 desain baru serta mempertahankan hubungan baik. Setiap bulan tidak kurang 7.000 tas wanita tersebar lewat department store besar. Passion menjadi kunci suksesnya wanita satu ini. "Department store menuntut para pemasoknya agar selalu up to date soal desain," tutup Tina.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba