Pria Tampan Jualan Kosmetik Online Jumei

Profil Pengusaha Leo Chen


 
Apa dibenak kita ketika melihat situs jualan kosmetik. Seorang pengusaha muda wanita dibidang kosmetik maka itu mungkin bayangan kamu. Siapa sangka hal itu tidak berlaku bagi Jumei Youpin, toko online satu ini malah didirikan oleh seorang pria bernama Chen Ou. Atau, nama tepatnya Leo Chen, pria 29 tahun yang memiliki toko online sejak 2010 sampai sekarang.

Jumei mampu maju selangkah lebih awal. Mereka mampu menjual lebih user- friendly, dan ini benar- benar menyenangkan bagi pengalaman wanita berbelanja. Dia meyakinkan Jumei aman bagi pengguna. Lingkungan website diciptakan semudah mungkin untuk dijalankan pengguna baru. Sama halnya beberapa pengusaha di bidang kosmetik, Chen Ou, juga memanfaatkan personal branding.

Leo Chen, menjadikan dirinya sebagai ikon perusahaan, salah pendiri Jumei.com ini tidak segan untuk jadi perhatian banyak wanita. Pengunjung tidak akan kecewa karena dia adalah pria tampan asal China, penuh karismatik, dan pandai berbisnis. Pria tampan ini tidak cuma tampil di iklan utama perusahaan. Dia juga hadir di billboard, acara telivisi juga.

Dia selalu memiliki profil tinggi di mata fans melalui berbagai sosial media.

"Kenapa saya menjual kosmetik untuk wanita? Karena saya percaya wanita suka membuat dirinya menjadi cantik untuk orang yang menghargai mereka. Jadi opini seorang pria sebenarnya penting di pilihan seorang wanita," jelas Chen.

Marketing sendiri


Chen percaya langkahnya mengendors perusahaan benar. Ini agar reputasi perusahaan dan nilainya nyantol hingga ke pimpinan perusahaan. "Sang CEO naturalnya menjadi wajah perusahaan," jabarnya. Ia sukses bisa mengangkat toko online perusahaan hanya bermodal caranya ini. Hasilnya mengejutkan karena perusahaan bisa menghemat 100 juta yuan untuk biaya iklan.

Leo Chen buka orang baru dalam hal bisnis online. Umur 16 tahun sudah berangkat kuliah ke Singapura. Di tahun 2005, sebelum hari- hari terakhirnya di Nanyang Technology University, dia menemukan Garena, yakni salah satu yang terbesar platform game online. Dia mendapat MBA di umur 26 dari Stanford, lalu menjual Garena, lalu kembali ke China.

Awalnya dia mendirikan perusahaan grup jual- beli kosmetik. Dalam perjalanannya, situs Jumei.com menjadi perusahaan berbasis B2C (businesss to consumers). Produknya meliputi brand terkenal seperti Calvin Klein, Estee Lauder, Avon, Elizabeth Arden, dll. Perlu diketahui awal 2010, dia bersama seorang pria lain, kedua orang ini memulai tanpa paham soal kosmetik sama sekali.

Mereka bahkan tidak paham soal ecommerce. Ketika banyak mengekspos biaya iklan, iklan mereka cuma modal reputasi saja. Ketika perusahaan lain mengajak selebriti untuk mengendors. Maka Chen hadir menjadi sosok ikonik Jumei.com. Akhirnya, toko online Jumei mampu menghasilkan empat juta pengguna di situsnya yang aktif.

Dia muncul dalam sebuah iklan sendiri untuk perusahaan dan mengatakan,"Saya Chen Ou, saya berbicara untuk diri sendiri." Chen mendorong bagi kita pengusaha muda agar maju bergerak. Dia lantas menambah bahwa baik pria maupun wanita harus membangun bisnisnya sendiri. Bertarung lah untuk diri kamu sendiri, atau bersama, dan bangunlah dunia yang benar berharga -seperti halnya Jumei sekarang.

"Jumei memiliki jutaan pembeli, dia, bersyukur kepada kami, menemukan kecantikan dan lebih percaya diri dalam hidup," dia tambahkan.

Rahasia sukses Jumei menurut situs Marketingtochina.com.

1. Pentingnya personal branding

Ketimbang menyewa selebriti menjadi ambasador, Jumei memilih direkturnya, mampu menghemat miliaran biaya iklan. Sosoknya adalah pengusaha muda, pria tampan, akan banyak anak muda mengindolakan dia, utamanya para wanita muda. Di Weibo, sosial medianya China, Chen sudah memiliki 2.701.217 fans.

2. Layanan pasca- barang sampai

Bayangkan. Jumei selalu melakukan 100% barang otentik dan memiliki sertifikasi kredit kelas A. Tentu saja ini menarik bagi kaum Hawa membawa pulang lebih banyak barang. Tambahan lain yakni jaminan barang bisa dikembalikan selepas bungkus dibuka. Ini sangat berarti dibalik kecemasan pembelian barang kosmetik secara online.

3. Barang mahal berdiskon

Tidak menjual barang murahan tetapi berbagai merek dunia. Alhasil menarik pembeli terutama di China ada kepercayaan kuat akan brand luar. Sayangnya, barang luar negeri tentu mahal, itulah kenapa Jumei memberi lebih banyak diskon. Jumie berkolaborasi dengan brand besar seperti Estee Lauder, Clinique, Clarins.. dll. Jumei juga meorganisir dari barang terkecil, hingga dari barang termahal di toko online.

Jumei Youpin mengatakan 75% produknya diterima oleh brand internasional seperti brand Shiseido, KOSE, Laneige, kebanyakan Korea dan Jepang. Ini meningkatkan kepercayaan konsumen bahwa Jumei adalah toko online terpercaya. Bahkan beberapa brand bersedia membuatkan produk khusus untuk Jumei.

4. Promosi reguler

Acara seperti Hari Ibu dijadikan perusahaan jadi ajang efektif berpromosi. Jumei juga menawarkan aneka tagline unik, seperti "7-Day National Day clearance sale" untuk National Day atau golden weeknya China. Pokoknya setiap ada hari libur atau festival akan selalu berpromosi.

Diskon Harian Evoucher Berkah Nilai Skripsi C

Profil Pengusaha Danny Baskara 

 

Dosen emang suka bikin jengkel seperti yang pernah diungkapkan Chairul Tanjung di sebuah artikel. Kisah kali ini tentang seorang bernama Danny Baskara. Seorang mahasiswa IT dari sebuah kampus di Jakarta Barat, yang mana skripsinya itu mendapat nilai C. Yap, disuatu hari di tahun 2005, dia tengah berjalan untuk menghadapi sidang skripsi.

Taukah apa naskah skripsi yang ditulisnya?

Alkisahnya, Danny selesai mengerjakan sebuah skripsi jurusan IT berjudul "Analisa dan Perencanaan Sistem Informasi eCommerce". Dan sudah berada di tangan si dosennya nih. Tapi baru beberapa detik sang dosen penguji malah mengejeknya sinis. Apakah ia mau mengulang skripsinya atau kamu cukup puas dengan nilai C.

Malunya hal tersebut malah terjadi sebelum sidang sempat dimulai. "Loh emangnya kenapa pak?" tanya Danny kebingungan. Sang dosen menganggapnya tak masuk akal karena sudah ada sebuah pengalaman buruk. Yakni kisah tentang kegagalan sebuah bisnis ecommerce bernama Lipposhop.com. Sebuah bisnis ecommerce yang telah punya bekingan modal akan tetapi tetap gagal juga.

Tak mau menyerah dijalan membuatnya menerima nilai C itu. Ia memang lulus skripsi tapi mendapatkan nilai terburuk. Apakah seorang Danny Baskara menyerah. Justru ia memilih mengaplikasikan skripsinya di dunia nyata.

Ketika skripis itu selesai dinilai kisah ecommerce belum seperti sekarang. Orang masih belum percaya akan bisnis online. Namun, ada seorang pemuda masih percaya tentang masa depannya kelak. Ia punya harapan untuk ikut masuk ke dunia ecommerce ke depan. Mengharapkan mampu berkontribusi bagi pertumbuhan Indonesia.

Pada tahun 2010, ia mendirikan sebuah situs daily deal atau situs berisi diskon harian. Atau, dimana orang akan menjual kesempatan untuk kamu mendapatkan penawaran menarik. Ada semacam diskon pada hari tertentu dari jam sekian sampai sekian. Semacam kisah Beeconomic milik dua bersaudara asli Singapura yang pernah kami ulas.

Nama usahanya adalah Evoucher kemudian menjadi di Evoucher.co.id, sebuah perusahaan situs ecommerce yang sukses. Katanya sih pada tahun 2010- 2012 merupakan masa- masam kelam banyak kegagalan bagi pemilik bisnis daily deal. Saat itu menurut Startup Bisnis sudah banyak jenis bisnis macam ini dan gagal.

Salah satunya yang sukses adalah yang berasal dari Singapura itu. Untungnya Danny juga termasuk yang ikut selamat asal Indonesia. Bahkan menjadi yang terbesar setelah Groupon dari luar negeri dan Ensogo yang asli Indonesia, yang masih bertahan di Indonesia. Evoucher sendiri menjadi yang ketiga terbesar untuk pasaran Indonesia.

Untuk ecommercenya situsnya masuk 15 besar dalam hal situs B2C atau business to consumer. Mengalami jatuh bangun semenjak 2010. Bermodal pembiayaan sendiri atau lebih dikenal sebagai bootstrap. Akhirnya Danny mendapatkan pembiayaan dari Valuein Technology Indonesia (VITI). Sang pendiri sekaligus CEO -nya, Danny Baskara, mengungkapkan bahwa startup bisnisnya didirikan lima tahun lalu.

Awalnya ia memulai bisnisnya di sebuah kos- kosan seukuran 3x3 di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Disaat itu ia baru pindah dari Bali 2001 untuk mengenyam pendidikan sarjana di Universitas Bina Nusantara. Tanpa pendanaan investor ketika memulai Evoucher. Cuma lah bermodal koneksi internet serta sebuah akun sosial media Twitter. Evoucher menawarkan aneka kupon manis dari aneka restoran terkenal di Indonesia.

Lantas VITI sebuah perusahaan pendanaan asal Korea muncul. Ini adalah perusahaan aneka konten digital yang tengah banyak berinvestasi salah satunya disinii. Kini, perusahaan milik Danny itu, tidak cuma menjual voucher atau produk secara online.

Perusahaanya juga menawarkan aneka kategori pilihan. Untuk kategori di voucher ada kategori meliputi restoran, travel, hotel, treatmen kacantikan, dan ada produk- produk yang dijual mulai dari peralatan rumah tangga, gadget dan lain- lain. Selain itu perusahaan Evoucher juga menawarkan 960.000 produk voucher melalui situs ataupun aplikasi smartphone -nya.

Keluarga Wirausaha Bayu Reksa Ganesha

Biografi Pengusaha Muda Pendidikan



Bayu Reksa Nugraha memang terlahir dari keluarga wirausaha. Tetapi mereka menekankan kemandirian sejak kecil. Dia sendiri merupakan putra pemilik bisnsi Ganesha Group, ialah sebuah grup bisnis dibidang jasa pendidikan. Mungkin kamu sudah tidak asing dengan nama Ganesha itu sendiri ya. Pemuda kelahiran Tasimalaya, 23 Mei 1987, yang mepunyai dua hobi memancing dan menyanyi.

Ia menempuh pendidikan biasa di SD Pajajaran Tasimalaya, lalu dilanjutkan ke SMP Tarbiyatul Mua’allimim Al-Islamiyah Ponpes Walisongo Ngabar, Ponorogo. Setelah pindah ke pulau Kalimantan, Bayu melanjutkan pendidikan di SMKN 5 Samarindah. Lalu dia masuk ke Fakultas Ekonomi, Universitas Mulawarman, di Samarinda, KalTim.

Sejak di sekolah dasar kedua orang tuanya sudah mengajarkan hidup hemat. Bahkan terkadang mereka itu tampak seperti orang pelit. Padahal orang tuanya sukses dalam bisnisnya kan. Untuk jajan di sekolah saja, dia hanya diberi uang pas- pasan untuk satu minggu penuh. Dia harus rela menahan diri dengan didikan yang keras itu.

Namun hasilnya sangat bermanfaat untuk Bayu membentuk mental kewirausahaannya. Ia selalu berfikir untuk bisa mendapatkan uang tambahan jajan sendiri karena uang sakunya pas- pasan. Pertama kali berbisnis, nilai uang saku yang sedikit itu, dibelikannya jambu milik tetangga dan dijual lagi di sekolah. Dari situ ia mendapat laba untuk tambahan uang saku.

Tidak berhenti di situ, ia juga berjualan kertas mewarnai dan gambar tempel. Bayu senang menikmati jerih payahnya sendiri dan terus bersemangat berbisnis. Setiap hari sepulang sekolah ia membantu orangtuanya di kantornya Ganesha sekaligus belajar wirausaha. "Lama- lama sayapun resmi menjadi karyawan di kantor ayah saya sendiri," ujarnya.

Usaha sendiri


Semenjak bergabung menjadi karyawan di perusahaan orang tua, terjadi perubahan besar terjadi dalam dirinya. Ia mengaku mulai bekerja membuatnya selalu mengasah otak, menemukan inovasi, dan selalu berfikir untuk kreatif. Bayu kemudian ditempatkan di bagian kepala bidang marketing. Hal itu dimaksudkan orang tuanya agar ia menyadari bahwa setiap orang memiliki kesempatan sama.

Pola pikir adalah kunci batasan seseorang itu sukses atau tidak.

"Memang Tuhan tidak akan mengubah seseorang, kecuali seorang itu mau mengubah dirinya," katanya lebih bijak.

Perusahaan orang tuanya kini telah bergerak sangar maju menjadi aneka kursus, seperti mengemudi mobil, komputer, bahasa Inggris, serta Ganesha College yang menjalankan program setara diploma. Kali ini Bayu ditempatkan sebagai Customer Service yang merangkap bagian marketing.

Sejak itu pula jiwa kewirausahaan Bayu terus tumbuh pesat. Kebetulan sekali, kala itu di kantor ada ruang kantin yang sudah lama tidak digunakan lagi.

"Naluri bisnis saya muncul. Lima puluhan karyawan ditambah lima ratusan siswa yang kursus setiap hari beraktifitas ditempat ini. Inilah peluang bisnis yang sangat bagus, pikir saya waktu itu," kisah Bayu.

Bermodal kompor bekas dan uang 81 ribu dimulai lah bisnisnya. Pertama- tama ialah berjualan es teh manis dan kopi serta pisang goreng disana. Dalam sebulan itu, modalnya dari 81 ribu berkembang menjadi ratusan ribu rupiah. Keuntungan itu digunakan kembali untuk modal yaitu membeli kompor gas. Seorang karyawan membisikkan padanya bahwa pisang goreng buatannya enak sekali.

"Sayapun berinovasi. Melalui beberapa eksperimen akhirnya terciptalah Banana Crispy," ungkap Bayu.

Ia kemudian membuat gerobak kayu untuk berjualan Banana Crispi di depan kantor dan hasilnya laris manis juga. Tanpa harus mengganggu jam kerjanya di kantor, Bayu terus untuk berusaha agar mengembangkan usahanya sendiri dengan mengikuti pameran demi pameran. Dari situlah, tiap keuntungannya selalu disisihkan utuk membuat gerobak baru dan seterusnya.

Bayu menarik kesimpulan bahwa Berbisnis Tak Harus Modal Besar. Sukses tersebut terus berlanjut hingga Banana Crispy menjadi bisnis berbasis kemitraan. Dalam waktu empat bulan Bayu telah memiliki 9 outlet yang diversifikasi batagor Bandung, bubur ayam Bandung dan kantin di Kampus Ganesha.

Melihat putranya sukses berwirausaha sang ayah timbul ide membuat jurusan kewirausahaan. Kali ini Bayu didaulat memulai semua itu dari pertama hingga berhasil dijalankan. Programnya berupa program wirausaha 1 tahun aplikatif dan menggunakan tenaga pengajar kompeten, dari pengusaha, kepala daerah, lalu kepala dinas dan pimpinan perusahaan swasta nasional.

Di tahun 2008, ia resmi diangkat menjadi direktur utama yang bertanggung jawab atas berjalannya Ganesha Group. Bayu memang bertangan dingin. Di tangannya Ganesha Group tumbuh pesat dimana mereka dikenal sebagai  lembaga pendidikan yang terpercaya. Bagi Bayu ini bukan sekedar bisnis diwariskan oleh orang tuanya, ia tak main- main mengembangkan bisnis Ganesha Group.

Mulai sekedar bisnis jasa pendidikan, Bayu bisa menjalankan sampai merambah jauh.

"Ketika ayah saya mempercayakan kepemimpinan pada saya, dia tahu bahwa saya bisa mengelola Ganesha meski tanpa embel-embel kepemilikan keluarga," tandasnya.

Berbeda lembaga pendidikan lainnya, jasa pendidikan Ganesha mengajarkan berbagai keterampilan. Selain bimbingan belajar, Ganesha membuka kelas keterampilan mengemudi, komputer, dan internet. Muridnya tidak hanya anak sekolahan tetapi juga orang dewasa. Sejak 2009 lalu, Bayu telah mengembangkan jaringan bisnis Ganesha menawarkan peluang kemitraan.

Hingga kini Ganesha sudah memiliki total lima gerai di Samarinda, Tasikmalaya, dan Bandung.

"Tiga cabang merupakan milik mitra," ungkapnya. Tak puas membesarkan bisnis keluarga saja, ia kembali melihat bisnisnya yang tertinggal, Banana Crispy.

Bayu kemudian mendirikan Rexa Group. Ia melanjutkan bisnis sebelumnya, memasukan bisnis itu dalam satu wadah usaha. Tak berhenti di Banana Crispy, Bayu kemudian mendirikan bisnis- bisnis lain. Ini merupakan usaha pribadi yang dijadikan wadah bereksperimen bagi Bayu. "€œJadi, kalau saya tertarik bikin bisnis baru, Reksa Group inilah tempatnya," tuturnya.

Nama Rexa Group kemudian diubah menjadi Reksa Group. Bisnis merambah ke usaha general kontraktor, supplier, trading dan distributor, reksa food yang terdiri dari banana crispy, Rumah Makan Bandung Mang Kasep, Icon Cafe, Bakmie Tasik. Dia masih melanjutkan usaha milik keluarganya sambil tetap mengerjakan usaha- usaha lain.

Ini disebutnya sebagai lompatan- lompatan Quantum, dari satu bisnis ke bisnis lain. Dari hanya bisnis pisang goreng kini merambah ke bisnis kontraktor. Tidak heran jika ia terpilih menjadi salah satu dari Wirausahan Muda Mandiri pada tahun 2007. Padahal, saat itu kompetitornya kebanyakan pengusaha yang bersekala nasional.

"€œSaya juga kaget waktu terpilih karena usaha saya baru skala Samarinda," kata pria 26 tahun ini. €"Ini bisnis formal yang harus terus dikaji secara mendalam," ucap dia. Bisnis pendidikan baginya mengandung tanggung jawab moral pada masyarakat banyak.

Maka itulah, ia selau berusaha terjun langsung untuk memastikan murid- murid mendapatkan pelayanan prima. Sementara, Reksa Group bisa didelegasikan kepada mereka orang- orang kepercayaan. Rata-rata omzet yang didapat Bayu mencapai Rp 300 juta per- bulan. Meski Reksa Group memiliki banyak lini usaha, Bayu mengaku, 80% waktunya didedikasikan untuk Ganesha Group.

Gagal Bermain Football Sukses Pelatih LinkedIn

Profil Pengusaha Lewis Howes 


 
Terkadang hidup memang tidak adil tetapi selalu ada hikmah. Ketika dia tengah di puncak karirnya, Tuhan berkata lain, dimana Lewis Howes harus mengahiri karirnya. Tentu bukan jiwa entrepreneur kalau segitu saja menyerah. Mungkin kata "segitu" relatif ya tetapi memang semua akan ada hikmahnya.

Howes memulai karir di All American football sejak sekolah menengah dan kampus. Dia tercatat sebagai siswa alumni Principia Collage dan Capital University. Karir American football memang hidup Howes sejak jaman dahulu. Dia pernah mencatatkan rekor paling banyak menampilkan atraksi, yakni menangkap 17 pas untuk 418 yard di 2002.

Dia meninggalkan kampus aka drop out buat American football. Karir Howes terpaksa berhenti ketika ikut Arena Liga pertamanya. Mengejutkan, bahkan membuat ia sempat stress berat, dimana dia jatuh membentur tembok ketika akan menangkap bola dan mematahkan pergelangan.

Namun Howes pantang menyerah jadi bahkan hingga akhir musim dia tetap bermain. Selepas permainan terakhir, dia menjalankan operasi perbaikan, sayangnya, itu tidak berjalan baik sampai dia harus berhenti bermain American football selamanya.

Titik balik


Tahun 2002, dia berangkat ke New York menemukan handball. Dia masuk ke olahraga ini menjadi tim di Team Handball Club. Berkat keuletan, dia masuk tim nasional bernama USA Men's National Team. Agustus 2013, ia menandatangani kontrak satu tim terkenal handball asal Spanyol Ademar Leon, menyandang nomor 15.

Dimana entrepreneurship -nya?

Tunggu, dimasa penyembuhan serta vakum di dunia olah raga, dia sempat melakukan semacam eksperimen hingga menghasilkan. Bayangkan, dia menghasilkan jutaan dollar lewat ya bisnis online.

"Saya sempat seperti jatuh saat itu karena nasib dan sangat depresi, duduk di pinggiran kasur," tuturnya.

"Satu hal saya bisa lakukan adalah mengetik dengan satu tangan dan beberapa jari milik pergelangan yang patah ini. Jadi saya baru saja berpikir jalan keluar saya "harus memikirkan jalan keluarnya dari ini,"."

Jalan keluar tersebut tarnyata adalah sosial media. Tetapi bukan Twitter ataupun Facebook, dia mengenalkan LinkedIn. Tempat terbaik bagi profesional berbagi perjalanan profesionalnya. Dia menjelma menjadi seorang LinkedIn Coach menolong banyak orang di penjuru Amerika.

Ia membantu orang mendapatkan pekerjaan lewat sosial media saja. Howes lantas mengibaratkan LinkedIn sebagai sosial medianya orang dewasa. Mereka pengguna ini adalah orang- orang profesional dibidangnya. Orang bisa menulis profil, pengalaman kerja, pendidikan, dan bahkan rekomendasi dari pengguna LinkedIn lain.

"Seseorang mempunyai gelar MBA dan setelah dua bulan, dia tidak mendapatkan pekerjaan," jelas Howes. Ia menambahkan dia akan mengajarkan one- to- one training. Howes mendirikan SportNetWorker di tahun 2008, sosial media buat konsultasi markerting para pengusaha di industri olahraga.

"Apa yang harus saya lakukan? Jadi saya duduk dengan dia, tetap profil LinkedIn dan dalam dua minggu ke depan, ia punya pekerjaan," ucapnya mereka adegannya.

Menulis sosial media sebagai rujukan kerja memang fenomena. Sesuatu yang belum biasa dalam kehidupan di masyarakat. Dia menjelaskan bahwa ini akan sangat berguna.

"Saya hanya memberitahu orang- orang untuk menghabiskan waktu 10 menit sehari atau 30 menit seminggu, hanya duduk di sana dan bermain- main dengan itu sedikit," jelas Howes. "Baca tutorial, memeriksa blog dan akhirnya itu akan mulai membuat merasakan."

Dia menyarankan pengguna LinkedIn agar profil mereka konsisten serta menarik -kamu harus membuat para pencari kerja percaya apa yang kamu benar bisa dan kamu bisa membantu mereka.

Howes menyarankan kita membuat koneksi sebanyak mungkin. Kalaupun kamu sudah melakukan kesalahan diawal jangan takut lakukan perbaikan -semakin terbiasa akan semakin baik.

Dia, salah satu penulis Linkedworking: Generating Success on the World's Largest Professional Networking. Penulis buku sendiri berjudul The Ultimate Webinar Marketing Guide tahun 2012. Howes juga menulis The School of Greatness: A Real-World Guide to Living Bigger, Loving Deeper, and Leaving a Legacy Oktober 2015.

Howes juga baru menjalankan Sport Executives Association. Sebuah website untuk eksekutif dibidang olah raga yang bersifat membership. Tujuannya adalah marketing, menginspirasi, menciptakan bahan edukasi buat sosial media.

Kemasan Gelas Kertas Omzet Uang Ratusan Miliar

Profil Pengusaha Catur Jatiwaluyo


 
Krisis ekonomi 2008 menjadi titik balik menjadi pengusaha. Waktu itu dia sebenarnya sudah menduduki jabatan enak di Detpack. Perusahaan kemasan asal Australia, yang mempercayainya jadi country manager. Ceritanya semua karena rajukan dua temanya, yaitu Dillion Sutandar dan Philip Sumali. Mereka manawari Catur Jatiwaluyo kesempatan.

Mereka mengajak Catur berbisnis bersama. Dimana keduanya tengah mengalami goyah di bisnisnya karena krisis. Mereka kehilangan banyak pesanan, baik pasar impor ataupun ekspor. Kebetulan usaha keduanya itu sama dengan kebisaan Catur. Mereka adalah pengusaha kemasan tetapi tidak jalan.

"Teman saya lagi kebingungan, sebab dia punya aset tetapi tidak jalan," tuturnya. Catur merespon keberatan karena sudah merasa nyaman. Namun, dua temannya tetap membujuk mengajak usaha bersama, dimana dia diajak ikut patungan berbisnis.

Cukup intens keduanya mengajak Catur berbisnis bersama. Alhasil, dia pun luluh menuruti kemauan mereka ikut nyemplung berbisnis. Sajak 2011, ia resmi mengundurkan diri, lantas mendirikan perusahaan bernama PT. Peperocks. Uniknya pelanggan mereka pertama datang dari kenalan Catur. Jadilah mereka yang seperti teman sendiri menguatkan Catur.

Pertama kali masuk, Catur ikut urunan senilai Rp.200 juta, dimana uangnya digunakan untuk membeli bahan baku. Untuk mesin produksi memanfaatkan mesin sang teman. Mesin yang kebetulan sudah vakum bekerja sejak 1998. Komposisi saham waktu yakni 30% saham miliknya. Sementara sisanya milik kedua temannya itu.

Bisnis bersama

Modal dikeluarkan Catur terbilang cukup banyak. Mulai dari modal uang sampai jaringan pelanggan buat usaha baru mereka. Tetapi lain cerita kalau soal impor, nah, inilah mungkin kelemahan Catur yakni di bidang ekspor. Mungkin dia punya banyak jaringan di lokal tetapi tidak soal luar negeri. Ini menjadi kendala diawal tetapi bisa terselesaikan berkat Dillon.

Dillon sendiri pernah bekerja di Detpack sama halnya Catur. Bedanya, dia kebagian menangani soal pasar ekspor, ketika Catur memang tidak memiliki jaringan pelanggan di luar. "Saya yang network -nya ada di lokal," jelasnya. Memang diawal berdiri memang menggarap pasar lokal. Alasan utamanya karena sedang terjadi krisis ekonomi.

Tetapi berjalannya waktu, ada saatnya, perusahaan mereka pasti mengerjakan pasaran internasional. Catur sendiri cukup mengalami kesulitan ketika menangani pemasaran. Tetapi berkat fokus di mengerjakan pasar lokal, perusahaan dibawah kerja tim meraup pelanggan industri kemasan di dalam dan luar negeri. Ia tidak menampik bahwa mereka cepat berkembang.

"Saya ini sudah 11 tahun di industri yang sama, sebenarnya teman- teman sendiri yang bantuin," jelas Catur merendah.

Pemasaran memang berhasil tetapi tidak mudah. Dia harus mampu berkeliling ke daerah- daerah. Ia rela menemui relasi bisnis satu per- satu. Istilahnya mungkin menjemput bola. Tahun 2012, ia bahkan belum bisa menembus pasar Surabaya, padahal disana lah pintu gerbang masuk ke pasar Jawa Timur.

Pemasaran lokal dikencarkan melalui aneka cara. Mulai cara menjemput bola ketika diperlukan. Dia agak sulit membangun kepercayaan pelanggan. Namun, dirinya pantang menyerah mendekati mereka, alhasil dia sukses melakukan branding. Bukti nyata lambat laun daerah- daerah mulai mempercayai perusahaan. Salah satnya datang dari Surabaya, Jawa Timur.

Padahal, seperti diceritakan diatas, tahun 2012 tidak ada sama sekali penjualan produk Paperocks. Hingga, ia menemukan perusahaan asal Surabaya tersebut. Di tahun 2013 bahkan penjualan bisa melonjak ketika ia telah masuk ke pasar lebih dalam. "Di 2013, penjualan setahun hampir Rp.2 miliar," tuturnya.

Marketing sederhana


Cara terbaik menurutnya itu sederhana. Dia membawa sampel kemasan ke pelanggan baru mereka. Cuma saja, sebagai catatan, perusahaan sebelumnya telah berhasil menggaet perusahaan besar. Ia penuh percaya diri menyodorkan contoh kemasan Burger King dan Nestle. Nah, disetiap sample tersebut, ia menunjukan inilah buatan perusahaan Paperocks.

Dengan melihat logo mereka didepan mata, biasanya calon pelanggan akan langsung memesan. "Biasanya langsung ngomong harga," jelas Catur.

Menurut Catur, marketing menggunakan sample produk sangatlah penting. Karena hampir semua calon pasti menanyakan hal tersebut. Lantaran pesanan dari lokal kebanyak UMKM maka jumlah pesanan terbilang itu sedikit. Tetapi Catur tetap menjalankan tugasnya meski dibawah batas order Paperocks. Siapa satu kelak mereka menjadi perusahaan besar, kan.

Pemesanan cup, contohnya, Paperocks sebenarnya membatasi pemesanan untuk 25.000 cup. Tetapi Catur membolehkan UMKM memesan diangka 5000 cup. Agar tidak tetap berjalan pesanan maka bisa diakali saja lewat partial delivery. Maksudnya Catur dan perusahaan cukup memproduksi di angka sama. Tetapi akan memberikan bertahap sejalan pembayaran.

"Ibaratnya dia menyimpan barang di gudang saya," jelas Catur. Strategi marketing macam ini memang punya resiko tersendiri. Cuma Catur tetap menjalankan karena begitu keadaanya. Alhasil, dia meminta agar para sales lebih seksama selektif menyaring pelanggan. Karena UMKM bisa saja nanti malah gulung tikar dalam perjalanan pemesanan.

Kedepan sendiri tantangan sales akan semakin berat karena lahir banyak pesaing. Mereka para pemain baru di bisnis kemasan memberikan tekanan. Kendati beratnya, ia optimis perusahaannya bertahan berbisnis kemasan. Kunci sukses adalah tetap mempertahankan kualitas. Untuk menambah cakupan dibuka lah divisi baru, agar tidak cuma melayani kemasan makanan dan minuman saja.

"Apa yang ada di restoran, kafe dan bakery, harus bisa kita suplai," jelas Catur. Ambisi memperbesa pangsa pasar benar ditekankan oleh sosok berkacamata ini.

Dia adalah presiden direktur PT. Paperocks Indonesia. Perusahaan kemasan kertas yang sudah beroperasi sejak 2011. Yang pusatnya ada di kawasan industri Newton Techopark, Lippo Cikarang, Paperocks yang sukses mamasok kemasan kertas dan plastik hampir ke 100 perusahaan.

Produknya meliputi gelas kertas, kertas pembungkus plastik, kotak kertas, mangkuk sop, gelas es krim, juga tatakan dan alasa makanan. Yah, hampir disetiap gerai makanan siap saji, tempat kafe yang telah menjamur di kota besar saat ini. Contoh perusahaan besar seperi Nestle, KFC, Burger King, merupakan pelanggan asing.

Untuk lokal banyak UMKM sudah menjadi pelanggan Paperocks. Seperti perusahaan Kopi Brontoseno dari Kediri. Meski begitu dari segi persentase penjualan masih relatif sama. Pasar ekspor meliputi ke Jerman dan Australia serta beberapa negara lain. Cara kerja ekspor yaitu produk dikirim terlebih dahulu ke para distributor di sana. Lantas distributor tinggal melanjutkan pengiriman ke perusahaan lain.

Hal terbaik selama menjalankan perusahaan: Dia bisa masuk ke maskapai penerbangan seperti Singapore Airlines dan Etihad Airways. Padahal, dia menjelaskan bahwa perusahaan penerbangan sulit buat dimasuki. "...itu ketat sekali," jelasnya lagi.

Ia mengamati bahwa masyarakat luar lebih ke bungkus kertas. Berbeda masyarakat Indonesia yang masih nyaman menggunakan bungkus plastik. Modal pabrik seluas 5.000 meter persegi diharapkan bisa mencapai ekspansi lebih. Catur cuma bisa berharap keadaan ekonomi membaik. Maka jumlah usaha makanan dan minuman juga ikutan naik.

Omzet perusaah Catur telah mencapai Rp.18 miliar per- tahun. "Jika ditambah ekspor, omzet bisa mencapai angka Rp.40 miliar," akunya. Permintaan kemasan sendiri masih meningkat signifikan. Catur masih yakin bisa mencapai pertumbuhan 40% sampai 50% per- tahun.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba