Zenrooms Meningkatkan Kualitas Penginapan Lokal

Profil Pengusaha Nathan Boublil


 
Sosok Nathan Boublil ternyata punya kisah perjuangan sendiri. Siapa sangka sosok sukses, yang menjabat sebagai Managing Director Rocket Internet Asia Pasific, mengawali karirnya menjadi resepsionis hotel. Itu pula lah yang mengilhami lahirnya Zenrooms. Usaha kerja sama antara Rocket Internet dan Ooredoo yang fokus di industri pariwisata. 

Lebih dalam lagi Zenrooms merupakan bisnis menjaring hotel- hotel berbudget yang dirombak. Zenrooms ini akan memastikan kamarnya bersih, kasur nyaman, free wifi, tv flat, dan AC, akan tersedia dalam genggaman kita. Nathan menurut artikel Okezone memulai sejak umur 20 tahun ketika masih kuliah. Berkat pengalaman itulah ia mengaku tau apa yang keinginan pelanggan.

Nathan sendiri bukan lah sosok asing di dunia startup. Pria 30 tahun ini ketika masih berkuliah di Cambridge telah memulai bisnis aplikasinya. Dia bersama Elliott Verreault, dan Agastya Muthanna di tahun 2012, sukses mendirikan perusahaan software SmartGov.co. Mereka menghasilkan banyak data untuk socio- economic setiap tahun. Bahkan mereka bisa menghasilkan ribuan data aneka statik.

SmartGov mengembangkan software teknologi yang otomatis mengumpulkan, memproses, menstandarisasi, dan melokasikan kumpulan data ini.

Perusahaan yang bernama Asia Pacific Internet Group (APACIG) ini, yang merupakan gabungan perusahaan asal Jerman Rocket Internet dan Ooredoo asal Qatar. Dimana diluncurkan di Indonesia sendiri, ZenRooms coba membuat revolusi menarik perhatian tetapi tetap memberikan harga miring semurah Rp.123.000. Yang mana diluncurkan tidak cuma aplikasi tetapi lengkap properti.

ZenRooms menggaet 250 properti di delapan kota berbeda di Indonesia. Mereka memilih selektif tempat- tempat penyewaan kamar dan hotel. ZenRooms mendukung mereka berkompetisi dengan hotel kelas atas sekalipun. Diplopori oleh Nathan Boublil dan Kiren baru memulai pilot proyeknya di Indonesia selama satu bulan kedepan.

Tujuan mereka adalah tempat penginapan sesuai budget. Dimanapun wilayahnya dan memiliki harga terbaik, Kiren menjelaskan lagi, total 16.000 hotel kecil- independen yang menerima 80 juta traveler setiap tahunnya. Memang penginapan independen ini sangat lah efektif di biaya perjalanan. Sayangnya, terkadang mereka tak punya tanggung jawab.

25 Jutawan Muda Memiliki Persamaan 7 Hal

Artikel Bisnis Persamaan Entrepreneur Muda


 
Nick Tart mungkin baru berumur 22 tahun kala itu. Tetapi rencana gilanya benar- benar hebat. Dalam waktu singkat namanya disejajarkan jutawan muda. Dia mampu mencetak jutaan dollar lewat sebuah buku. Yaitu perjalanan dia dan patnernya, mewawancarai 25 remaja, mereka adalah para jutawan cilik menghasilkan 6 digit angka lebih.

Keduanya merupakan penulis 50 Interviews: Young Entrepreneurs, What It Takes To Make More Than Your Parents. Kalau penulisa bahasakan sih artinya Pengusaha Muda, Bagaimana Caranya Membuat Lebih Banyak Uang dari Orang Tua. Mereka merupakan entrepreneur cilik memulai usahanya ketika masih remaja. Beberapa bahkan masih berumur kurang dari sepuluh tahun.

Dalam tulisannya, menurut Business Insider, Nick mendapatkan kesimpulan: Entrepreneur jenis ini punya hal yang sama dimiliki. Anak- anak yang berjualan jus lemon di jalan, pulang lebih awal ketika sekolah usai dan memilih mengerjakan proyek bisnis mereka. Mereka merupakan anak- anak yang ngetrennya dipanggil orang, Generation- Y Entrepreneurs.

Jadi, apakah yang membuat mereka sama, sifat- sifat apa yang dibutuhkan anak- anak kita kelak. Apa yang bisa kita pelajari untuk kita pengusaha muda. Berikut ringkasan singkat dari artikel Business Insider pada 2010.

1. Dukungan orang tua dan semangat

Anak- anak ini punya keluarga yang tidak pernah ragu akan ambisi mereka. Ini bukan pula berarti orang tua memberi mereka modal loh. Setidaknya anak- anak ini harus membayarnya melalui berbagai kesuksesan. Ia lantas menjelaskan dukungan ini lebih ke arah emosional. 

Catherine Cook, meski dapat sokongan modal uang, faktanya itu bukanlah uang cuma- cuma dan murni profesional. Ia membangun MyYearbook.com sebagai perusahaan sebenarnya. Nick sendiri menyebut dari 25 entrepreneur tersebut hampir semuanya menggunakan uang sendiri. Ada yang bahkan mengajukan uang pinjaman sendiri seperti uang $10 untuk membeli domain.

Emil Motycka, 21 tahun, punya bisnisnya sendiri yakni usaha jasa. Ia memberikan jasa mengatur taman di Amerika sana. Dia bersama kawan mengambil hutang $8k untuk membeli mesin pemotong rumput. Mereka ini berhasil membayar hutang dalam tempo setahun.

Seperti halnya generasi sebelumnya, orang tua percaya bahwa mereka spesial, apa yang mereka lakukan jadi satu penghargaan mungkin lebih besar dari nilai ujian sekolah.

2. Memulai sesuatu yang bisa dikerjakan

Apakah menulis blog ataupun jasa pangkas rumput. Mereka itu benar- benar melakukan -eksekusi tanpa malu. Mereka mencari sesuatu yang benar bisa dikerjakan. Anak- anak ini membangun reputasinya sendiri sebagai entrepreneur. Mungkin mereka sudah memiliki bisnis berbeda jelas Nick. Tetapi dasarnya adalah berasal dari binis kecil yang mungkin sederhana.

Juliette Brindak, 24 tahun, memulai susuatu yang bisa dijalankan. Dia membangun MissOandFriends.com dan pada akhirnya menguasai bisnis sepenuhnya. Selama delapan tahun mengerjakan bisnis ini, dia mendapat satu investasi dari Proctor & Gamble menghasilkan nilai aset $15 juta. Berjalan waktu, usaha yang mudah ia kerjakan menjadi keahlian khusus.

3. Pekerja keras dan keras hati

Kebanyakan entrepreneur memulai dari konsep trial and error. Adam Horowitz, 18 tahun, menjalanan 30 situs berbeda di 3 tahun pertama sebelum akhirnya sukses. Dia lantas baru bisa menjual produk senilai 6 digit angka. Kemudian membuat produk lagi, menjual kembali, dia lantas menjual lagi itu. Lantas, Horowitz tiba dengan produk senilai $1,5 juta dalam tiga hari.

"Semua tidak akan berhasil tanpa 30 kegagalan diatas," papar Nick.

4. Pengorbanan bahwa dewasa tidak butuh masa remaja

Apa asiknya menjadi anak- anak kemudian remaja. Tidak perlu membayar sewa, tidak perlu memberi anak makan, tidak perlu bekerja. Untungnya jadi remaja ya tidak punya pengeluaran sebenarnya, kebebasan, juga melakukan apa yang mereka mau, dan akhirnya melakukan apapun termasuk entrepreneurship.

Satu hal yang sama dimilik mereka 25 entrepreneur yang diwawancara; mereka tidak punya masa remaja. Nick menuliskan kisah Emil Motycka yang suatu ketika diajak berenang. Tetapi dia tegas menolak undangan temannya tersebut. Motycka memilih bersenang- senang lewat bisnisnya sendiri. Teman remaja normal pasti menolak logika Motycka.

Hasilnya Motycka bisa mempunyai rumah sendiri dan temannya sering "memanfaatkan" nya.

5. Mereka dikatai tidak akan sukses

Tidak ada motifasi lebih baik seperti dikatai kamu tidak bisa melakukan apapun. Kebanyak dari tulisan Nick, 25 entrepreneur muda ini, kebanyakan mendapatkan perlakuan negatif dari guru dan teman. Salah satunya sosok Michael Dunlop yang paling bagus menjadi contoh.

Sebagai remaja disleksia membuatnya kesusahan di sekolah. Guru mengatai anak disleksia ini bahwa dia tak akan sukses. Dia memilih drop- out. Meski dengan kekurangan, Dunlop bekerja keras, mulai blogging dan bisa menghasilkan lewat Incomediary.com. Sekarang situs itu ranking 12.000 di Alexa dan menghasilkan 6 digit angka.

Tulisannya tidak hebat tetapi punya ribuan pembaca tutur Nick. Dunlop punya intuisi tajam soal bisnis dan itu terbukti. Lain lagi kisah Catherine Cook, pembuat MyYearbook.com ini langsung ditawari uang buat menjual situsnya. Dia menolak tetapi malah dikatai, "kamu tidak akan mencapai 3 juta pengguna". Sementara itu, ia terus bertahan dan membuktikan lewat 22 juta pengguna.

6. Mereka memisahkan pribadi dan bisnis

Gen- Y harusnya merupakan generasi narsis. Sementara entrepreneur muda ini memilih menyembunyikan jati diri mereka. Tidak menghubungkan kekayaan mereka dari apa bisnis mereka. Empat dari 25 entrepreneur muda ini mengambil nama alias bukan sebenarnya. Alasan utamanya ya karena bagian dari umur mereka. Lain hal yakni mereka ingin memisahkan antara kehidupan pribadi dan bisnis.

"Ini seperti mereka ingin memulai usaha sebagai sosok palsu," tutur Nick. Paling mencolok adalah kisah dari Andrew Fashion, entrepreneur muda sukses menghasilkan $2,5 juta, yang di ulang tahun ke 22 mendapatkan pelajarannya. Temannya tinggal di rumahnya tetapi tidak mau membayar sewa. Namun ketika ia membawa kendaraan teman mereka hitung- hitungan.

Remaja ini mendapatkan pelajaran bahwa tidak semua bisa dipercaya.

7. Mereka terlahir untuk menjual

Berdasarkan wawancara Nick Tart, kebanyakan mereka sudah berjualan sejak kecil, mulai dari berbagai hal seperti perhiasan kecil. Michael Dunlop memulai dengan berjualan kartu Pokemon. Dia menyadari bahwa ini berharga tetapi bernilai rendah ditempatnya. Keith J. Davis menjual permen karet ke temannya, padahal ini dilarang oleh sekolah. Andrew Fashion merubah pensil mekanis menjadi peluncur roket.

Para jutawan muda ini terus berlatih buat menjual lagi. Apakah entrepreneurship adalah natural atau proses? Anak- anak pada dasarnya memilik uang, tetapi bukan itu alasan mereka mengerjakan entrepreneurship. Mereka bekerja keras mencapai sesuatu, yang pada akhirnya itu entrepreneurship -mereka memiliki hasrat tak terbendung.

Jualan Pomade Mr. Prabs Propsek Bisnis 50 Juta

Profil Pengusaha Pringgodani 



Jualan pomade tengah digemari pengusaha Jakarta. Penulis sendiri kurang tau tetang hal semacam ini. Tetapi diambil dari berbagai sumber, itu loh minyak rambut kental yang berbau harum. Sukses pomade menular ke manapun sempai ke pegawai perusahaan ternama. Adalah sosok Pringgodani, 25 tahun, yang akhirnya banting stir menjadi pengusaha online.

Bermodal cuma Rp.1 juta dimulai lah rencana produknya. Ia mulai membikin pomade sendiri. Kemudian dia menjualnya ke pasaran. Harga jual pomade bikinan Pringgodani seharga Rp.105 ribu sampai Rp.125 ribu. Itu tergantung varian produknya. Pomade bikinan sendiri yang diberinya nama Mrprabspomade pada 2013. "Bisnis saya murni online," tuturnya kepada pewarta online.

Alasan utama pria yang biasa dipanggil Igo ini, ialah fakta akan hobinya terhadap barang- barang tua. Yah, memang pomade merupakan produk jadul, lewat produk ini bisa didapatkan rambut klimis khas jaman dulu. Produk Mr. Prabs ada dua jenis yakni oilbased dan waterbased. Pomade Mr. Prabs oilbased terdiri dari produk bertajuk sexyshine, sexyhold, dan sexyheavy.

Sedangkan waterbased sendiri meliputi watergrease superhold dan watergrease mediumhold. Paling laku di produk Mr. Prabs ya oilbased. "...waterbased baru kita launching," tuturnya.

Jumlah produk pertama kali cuma 100 pcs. Langsung laris dalam waktu lima hari saja, Igo lantas mulai lagi, kali ini lebih serius menggarap pasar onlinenya. Di tahun 2014, ia meluncurkan slogan Dreamer, Fighter, and Victory berusaha memproduksi masal produknya Mr. Prabs Pomade. Ternyata antusiasnya lebih daripada harapan seorang Igo. Pemesanan berdatangan maka lahir lah tim reseller DHM Teamwork.

Pemenuhan kebutuhan pemasanan dilakukan secara online juga. DHM Teamwork artinya itu ya Dealer Hair Machine Teamwork tersebar di 30 kota se- Indonesia. Jangkauan pasarnya telah meliputi Jakarta, Bali, Riau, Pekanbaru, Banajrmasin, Kendari, Surabaya, Depok, Bekasi, Tangerang, Sidoardjo, Yogyakarta, Lombok, Aceh, sampai Tenggarong.

Bisnisnya dijalnkan lewat media sosial. Selain itu, Igo juga memilik satu toko online sendiri, agar lebih mudah yakni di www.mrprabs.com. Omzetnya cukup menggiurkan yakni Rp.50 juta per- bulan. Sebagai tambahan dia mengaku merupakan pemakai pomede. Istilahnya kalau dia suka memakai, kenapa tidak dia sebarkan kesukaanya, kenapa tidak menghasilkan produk buatan sendiri lebih baik.

Pengusaha Gerobak Mungil Waralaba Rombongku

Biografi Pengusaha Wahyu Kharisma



Memiliki hobi mendesain bingung memulai usaha. Pasangan pengusaha muda satu ini mungkin menginspirasi usaha kamu. Berdua mampu melihat dibalik tren bisnis di Indonesia. Ketika musim bisnis waralaba keduanya malah membuka usaha jasa. Tetapi bukan sembarangan jasa, tetapi Wahyu Kharisma beserta istrinya, Dyas Ayu Anindya, membuka jasa pembuatan booth atau outlet waralaba.

Mengusung nama Rombongku, pria yang akrab dipanggil Nobby ini awalnya diminta memenuhi pesanan orang. Dia dan istri mendapatkan permintaan dari beberapa pengusaha lokal. Mereka diminta banyak sekali membuat jasa desain untuk berjualan minuman atau makanan. Awal mula cuma dibikin standar saja, tetapi berjalannya waktu semakin unik dan cocok bagi pemilik waralaba kembangkan.

Pembeli banyak datang dari pemilik franchise. Bahkan keduanya bisa mewaralabakan konsep usaha mereka sendiri. Pemesan pertama paling besar ialah pemilik Kebab Baba Rafi, Hendy Setiono. Dari gerobak bikinan Nobby itulah mengalir kisah ratusan cabang Baba Rafi. Kala itu, ia mengisahkan, Hendy masih berjualan lewat gerobak dorong dari kampung ke kampung.

Pemesan selanjutnya adalah Bakso Kepala Sapi dan Coffe Toffe. "Sekarang kami tidak hanya jual jasa pembuatan rombong saja, melainkan sekaligus konsultasi bentuk dan logo produk yang akan dijual," papara Nobby. Pria kelahiran Banyuwangi, 31 Juli 1979 ini, sepakat memperdalam konsep usahanya lebih lanjut. Ia tidak lagi sekedar membuatkan berdasarkan pesanan saja.

Di rumah berupa workshop desain, yang waktu itu kecil- kecilan, kedua orang ini memulai usahanya penuh semangat. Dimana tumbuh memiliki 10 orang desainer dan 20 tukang. Kalau bicara omzet tidak kalah dari pemilik waralaba yakni Rp.1 miliar per- tahun. Menyasar bisnis kuliner menjadi andalan pasangan pengusaha muda ini.

"Bisnis kuliner adalah bisnis tidak akan pernah ada habisnya, selalu ada dan makin banyak berkembang," jelasnya lagi.

Bisnis gerobak


Lulusan Jurusan Desain Produk Industri ITS, memang Nobby mempunya hobi mendesain ketika masanya di kuliah dulu. Terus berlanjut sampai ia menjadi pegawai di sebuah perusahaan digital printing. Dua tahun jalan hidupnya beralih ketika ia dan sang istri melihat tumbuh pesatnya usaha waralaba. Dan, satu fakta menarik, para miliarder baru ini adalah mereka yang berawal dari gerobak dorong.

Perhatian mereka ialah pedagang kaki lima. Mereka yang penjual makanan atau minuman. Mereka yang baru memulai jalannya di dunia pewaralabaan. Lambat laun workshop mereka yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur, mulai dikenal oleh kalangan kaki lima sampai pengusaha menengah. Ia bermodal satu komputer miliknya ketika masih berkuliah dulu.

Modal uang sendiri didapat dari mengumpulkan honor membuka les privat gambar. Dia juga mengajar anak- anak melukis di Surabaya. Nobby dan Ayu mengakui mereka bermimpi. Usaha tersebut didasari hobi akan dunia desain. Sementara diliputi kesempitan dalam mengumpulkan uang. Awal mereka cuma membuat logo, maskot, kemasan dan brosur. Ditambah kerja keras, kreatitifitas miliknya mampu mencapai Sabang sampai Marauke.

Kecintaan akan desain serta kuliner melahirkan Rombongku. Brand usaha jasa yang ingin menggairahkan si usaha kecil lewat visual Maka grobak buatannya memiliki garis, warna, dan tesktur yang enak dipandang oleh mata. Berjalan waktu usahanya juga termasuk pembuatan media marketing seperti hal brosur, flayer, serta kemasan produk, maskot, sampai mereka mengkonsepkan usaha apa.

Tahun 2005 merupakan tahun modal dengkul pasangan suami- istri ini. Berbekal laptop (komputer) satu- satunya ditambah uang ngumpul Rp.5 juta jalan. Selama sebulan, berjalan waktu, mereka akhirnya mampu mencapai omzet rata- rata Rp.100 juta dan sampai tembus Rp.150 juta. Selama Ramadhan usaha mereka jadi meningkat karena banyak pedagang dadakan.

Pesanan bisa mencapai puluhan unit. Dimana jasa konsultasi desain dan logo, Nobby memberikan harga yaitu Rp.1,5 juta, Rp.2,5 juta, dan Rp.3 juta. Harga tersebut tetapi diluar harga pembuatan grobak. Untuk harga rombong bervariasi Rp.1,5 juta, sampai bisa Rp.20 juta. Rombongku pun telah memasuki sekala kafe dan restoran. Untuk gerobak sekelas kafe lebih mahal karena lebih rumit dan unik dibanding kaki lima.

Nobby dibantu 25 tukang kayu yang merupakan karyawan lepas dari Sidoarjo. Semua melalui proses kreatif juga ditambah bantuan 10 orang tim khusus desain. Satu rombong ukuran sedang akan dikerjakan seorang tukang dan selesai tiga sampai empat kali. Rata- rata permintaan akan rombong bikinan Nobby Rombongku mencapai 20 buah. Adapula yang sekalian konsultasi desaian sekaligus bikn di tempat, tambah Ayu.

Pemesan telah menyebar ke seluruh penjuru Indonesia. Paling jauh pesanan, wanita kelahiran Surabaya, 14 November 1983, ini menuturkan sampai ke wilayah Papua sana. Penawaran dilakukan awalnya lewat blog yang gratisan di www.rombongku.blogspot.com. Klien luar ada juga loh tetapi tidak seramai kebutuhan akan pengusaha lokal yakni dari Dubai meminta burger hotdog, jelas Ayu menambahkan lagi.

Total 400 desain telah dikembangkan siap dibikin. Tiap pemesan bisa beda desainnya, tetapi tidak juga lupa menyiapkan model rombong sebagai dasar. Kalau ada order, ya, tinggal pihaknya memasang merek dagang saja. "Tetapi mayoritas desainnya by order," ujar Ayu. Dibutuhkan desain unik dan cantik agar benar- benar mengangkat produk si pemesan.

Usaha macam pembuatan grobak waralaba ini mulai sengit. Aneka macam upaya dijalankan pengusaha agar menarik perhatian pengusaha waralaba. "Banyak anak muda kreatif yang bisa memulai dari sekarang. Tak perlu modal besar untuk usaha semacam ini karena yang dijual ide," papar Nobby. Bahan baku pun mudah ditemukan di dalam negeri seperi paku, papan, cat, dan pernak- pernik.

Website: www.rombongku.com

Kisah Entrepreneur Muda Kripik Pisang Zanana

Pengusaha Muda Gazan Azka Ghafara 


 
Produk Zanana Chips adalah produk keripik pisang kekinian. Bahkan sudah didaulat oleh sang penemu jadi jajanan ekslusif. Banyak dicari orang, Gazan Azka Ghafara memang sudah merencanakan hal tersebut lama. Dia punya rencana, riset, ditambah do'a jadilah pengusaha muda. Sukses telah membawa namanya tertulis di berbagai media online.

Hanya berjualan kripik pisang Azak mengantongi omzet Rp.200 juta- Rp.400 juta. Menggiurkan memang mendengar omzetnya. Modal Rp.1,05 juta disulapnya menjadi ratusan hanya selang dua tahun. Kepada media Republika pengusaha muda ini bercerita.

Modalnya ingat cuma Rp.1 juta sangat minimum. Dia tambahkan uang Rp.50 ribu dalam rencana bisnis baru tersebut. Uang tersebut dibelikan mesin pengemas dan kripik pisang. Ya, kamu tidak salah dengar kok, awal ia hanya membeli kripik pisang sudah jadi. Kripik tersebut nanti dibungkusi sendiri ditambah taburan serbuk coklat.

Agar menarik pembeli dibungkus sedemikian rupa terlihat modern. Bungkus keren inilah menjadikan kripik Zanana kekinian. Nama awalnya bersumber dari saorang ternama dari Gazan dan Banana. Alias pisang yang jadi Gazanana. Karena terlalu panjang maka dihilangkah dua huruf depannya jadi Zanana. Ia lantas menjual itu ke jalan- jalan menyebutnya kekinian.

Bisnis kapapun


Ia berkisah sejak SMA sudah mengerjakan aneka bisnis. Dan, uniknya mereka berjalan cepat tetapi ya gagal karena alasan tertentu. Dia pernah berjualan ayam tulang lunak. Tetapi karena tidak mengenal manajemen hasilnya itu kebangkrutan. Azak pernah berjualan risoles. Sudah punya cabang tiga tetapi lagi- lagi bangkrut karena suatu hal.

Banyak cibiran dan hujatan ketika dia gagal mengerjakan bisnis. Tetapi dia tetap berusaha menjalankan ini sebagai passion -nya. Untuk mencegah kegagalan terulang mulailah terbersit pemikiran. Kenapa dia tidak masuk ke komunitas pengusaha. Dia harus bersosialisasi dengan lingkungan yang mendukung. Inilah alasan dia tidak bosan mengikuti aneka seminar entrepreneurship.

Azka bertemu banyak pengusaha. Ia merasakan ketulusan dalam diri mereka. Dia mendapatkan mentor yang pengertian. Modal uang Rp.1.050.000 dijadikan usaha kripik pisang kekinian. Mulailah dia berjualan kripik pisang kekinian lewat berbagai media. Jaringan dibuatnya secara bertahap lewat berbagai cara. Ide awal dari bisnis ini katanya kripik pisang Lampung.

Dia melamun membayangkan enaknya kripik pisang Lampung. Pikiran Azka pun buntu tidak bisa mendapat pisang tersebut. Tetapi dia menemukan ide bagaimana kalau dibisniskan. Dia mulai bertanya kepada saudara atau teman tentang kripik pisang Lampung. Ia mulai melakukan riset kecil- kecilan. Memang kripik pisang khas Lampung diminati banyak orang.

Tetapi jangkauan masyarakat di tempatnya terbatas. Ia ingin membawa itu tetapi inovasi berbeda. "Ia masih sebatas jajanan oleh- oleh," paparnya.

Azka mulai membuat kripik seperti itu dulu. Kripik pisang coklat lantas didistribusikan ke seluruh Indonesia. Mantap barulah Zanana Chips diplokamirkan pada 28 November 2013. Usaha ketiga ini berjalan lumayan karena 30 bungkus pertama langsung habis. Jumlah meningkat sampai 50, 60, sampai 100 bungkus. Bahkan sepekan bisa mencapai 500- 600 bungkus Zanana per- hari. Sejalan waktu menjual dua ribuan bungkus per- hari.

Hal pertama yang dilakukan oleh Azka ialah: Membeli kripik pisang mentah yang lantas ditaburinya aneka bumbu. Itu lantas dibungkus dikemas sebagus mungkin. Enam bulan pertama, ia kerjakan produksi sendiri mulai berbelanja kripik, dibumbui, menjual dan melayani, kemudian promosi ke berbagai media. Pemesanan bertambah seiring itu jumlah karyawan juga. Ia mampu mempekerjakan 14 karyawan tetap kini.

Omzet melonjak sampai Rp.200- 400 juta per- bulan. Azka lantas menyewa ruang buat kantor Zanana. Ini sudah termasuk peralatan kantor lengkap, antara lain laptop, dan lain- lain. Sampai- sampai berkat usahanya ini, Azka mampu membeli mobil yang menunjang bisnisnya sendiri. Hasil perputaran uang dari kripik pisang Zanana ini memang terbilang besar.

Marketing kekinian


Lewat media Instagram, Zanana mampu bertahap diperkenalkan ke masyarakat, lantas juga menyebar luas sampai Facebook, Twitter, Line. Ia mengindentifikasi pelanggan Zanana hampir 80 persen adalah perempuan usia 17- 30 tahun. Mereka yang disebutnya suka belanja online, doyan ngemil, suka foto- foto, juga menjadi pengguna aktif Instagram.

Zanana mencoba menempatkan dirinya disana. Ia mengajak beberapa menjadi reseller, membuka outlet di tempat masing- masing. Jumlah reseller mencapai 600 -an tersebar di 70 kota di Indonesia. Zanana tidak lah punya outlet resmi tetapi memanfaatkan reseller. Dia bahkan mencapai Papua- Marauke. Memiliki 100- 150 reseller aktif menghasilkan rata- rata Rp.2 juta- 4 juta per- bulan.

Menjadi reseller Zanana Chips caranya mudah. Cukup kita membayar biaya Rp.50 ribu dan membeli 50 an bungkus Zanana Chips.

Reseller mendapatkan harga Rp.15 ribu seberat 200 grm. Bonus akan diberikan buat mereka yang penjual berprestasi. Misal mampu menjual 250 bungkus akan mendapatkan bonus Rp.250 ribu. Semakin banyak ya semakin banyak untungnya. Ia memisalkan 400 bungkus mendapatkan 500 ribu, jual 600 bungkus berbonus Rp.800 ribu. Ia mengaku tidak ada hal muluk soal resep rahasia sukses bisnisnya.

Semua orang menurutnya akan sukses selama tidak berhenti berusaha, belajar dan berdoa. Dia selalu baca- baca buku soal entrepreneurship. "...saya tetep baca buku bisnis, motivasi, ikut seminar, workshop, training. Itu harus jadi kebiasaan," kata Azka.

Dia menjelaskan bahwa terus belajar menjadi kunci. Azka lantas memberikan contoh usaha wartel yang dulu pernah ramai. Tetapi semakin hilang, ketika jaman telah menyediakan peralatan komunikasi berupa handpon dan seterusnya. Pengusaha harus terus belajar untuk mengikuti perkembangan. Jika dia tidak melakukan hal tersebut maka bisnisnya akan mati.

Masih ingat dua usaha sebelumnya? Ya, ia lantas menambahkan, dari bisnisnya ayam tanpa tulang dan bisnis risoles meninggalkan hutang 10 juta. Dia bangkit mencoba memperbaiki segela lewat Zanana. Dia yakin ada solusi disetiap usaha. Sempat dibuat sedih lantara usahanya selalu bangkrut. Azka semakin bersemangat buat memperbaiki respon negatif itu.

Ungakapan meremehkan dan dipandang sebelah mata sudah biasa. Ia telah kenyang merasakan hal tersebut sampai sekarang. Cerita unik terjadi di enam bulan awal memulai usaha Zanana. Ketika saudara memintanya memberi diskon. Azka berkelit meminta mereka menghubungi admin. Lantas si admin menjawab tidak bisa karena akan dimarahi bosnya. Padahal, Azka adalah bosnya, dia juga berperan menjadi admin perusahaan.

"Kalau kita langsung menolak atas nama pribadi kan tidak enak juga," tuturnya sambil diikuti tawa. Masa lalu yang tidak menyenangkan ketika kecil tidak membuat dia lemah. Usia lima tahun, perlu kamu tau, ibu dan ayah Azka bercerai, hingga menjadi masa sulit bersama ibu dan seorang kakak perempuan. "Saking sulitnya, hingga untuk membeli telur untuk makan pun susah," katanya lagi.

Semangat lah yang membawanya sampai menjadi wirausaha. Dia mulai membaca aneka buku bisnis dan juga motivasi. Zanana Chips memiliki aneka rasa, yakni brown chocolate, creamy milk, green thai tea, smoked beef, classy spicy. Untuk semakin laris maka dilakukan usaha jemput bola. Dia mulai distribusikan langsung ke kafe- kafe, dan tentu, ini sudah termasuk sertifikat Halal dari MUI Jawa Barat.

Tahun 2016, rencananya, ia akan bersiap memproduksi kripik pisang sendiri. Rancangan sudah lama disusun tinggal pematangan saja. Dia sudah punya karyawan binaan yang dijadikan patner produksi pisang. Ini akan lebih mudah dikontrol olehnya akan ketersediaan bahan baku.

Biodata Pengusaha


Nama          : Gazan Azka Ghafara
TTL            : Bandung, 27 Juli 1995
Brand         : Zanana Chips
Website      : www.zananachips.com
Facebook   : www.facebook.com/zananachips.official

Instagram    : @zananachips
Twitter        : @zananachips
Line@        : @zananachips
HP/WA        : 087780080075

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba