Valentina Meiliyana Bisnis Online Shop

Profil Pengusaha Valentina Meiliyana


bisnis online shop

Mau bisnis online shop maka tirulah gadi belia ini. NamanyaValentina Meiliyana masih berusia 17 tahun ketika berbisnis pakaian dan sepatu pesanan (custom shoes). Kini, ia memiliki merek fasionnya sendiri yaitu Selkius Maxwell, dengan produk andalan yaitu Valentina Meiliyana Shoes.

Dia sendiri terilhami oleh karya perancang dan pengusaha sepatu, Manolo Blahnik. Jaringanya telah meliputi para desainer fasion, serta selebriti- selebriti dari Indonesia. Valentina menjadi salah satu perancang sepatu koleksi Eunika Joso di Jakarta Fashion Week 2011.

Bisnis Online Shop Sepatu

 
Dia juga mendapatkan pesanan sepatu khusus dari girl band, yang saat itu tengah naik daun; Cherry Belle. Lebelnya terlahir berkat ketekunan serta kegigihan. Semua demi dia mendesain baik pakaian dan sepatu sendiri.

Di 2008, ia iseng merombak pakaian bekas dengan bantuan seorang penjahit depan rumah.

"Saya sempat ganti penjahit beberapa kali, sampai akhirnya bertemu penjahit bagus lulusan sekolah Inti Mode," terangya.
 
 Sambil menjalani usaha sebagai perancang amatiran, dia juga menjadi agen penjualan sepatu secara online. Ia tergoda akan desain sepatu unik lalu mengusulkan untuk menjualnya secara online. Pada 1 Januari 2011, ia resmi menanda tangani kontrak kerja sama dengan si perajin tersebut.

Pengusaha muda Valentina mulai menjual produknya melalui situs jejaring sosial, kala itu melalui sosial media Facebook. Dia memasang foto- foto produknya kemudian menawarkannya kebeberapa orang.

Lambat laun, produknya itu mulai dilirik tidak hanya oleh pembeli baru, Valentina mendapatkan perhatian dari majalah model DRESSCODE, dan brand sepatunya ini mulai tersebar ke penjuru Indonesia. Seketika itu embuat bisnisnya melonjak jauh pendapatannya dan terus begitu.

Dia yang biasanya hanya menjual 20 pasang sepatu per- bulan, kini membuat 200- 300 pasang perbulan. Ramaja kelahiran 13 Maret 1995 ini, menjual produknya dengan berbagai macam harga sesuai kualitas produk.

Ia menjual dari harga Rp.200- 300 ribu. Dia lantas memutuskan keluar dari sekolah lalu melanjutkan home schooling. Alasannya, "Dia sulit membagi waktu antara bisnis dan sekolah. Sering terlambat," kata Hellen, ibunya.

Ia hanya belajar secara otodidak dari majalah dan televisi. Dia pernah dilibatkan sebagai perancang sepatu saat peragaan busana kelulusan sekolah mode, La Selle Graduation Show 2011. Lagi, ia pun tersanjung mendapatkan pengalaman lagi merancang sepatu untuk siswa- siswa di La Selle.

Saat usinya menginjak 17 tahun, Valentina pun sudah senggup menggaji menejer pemasaran. "Omset perbulan Rp.45 juta hingga Rp.50 juta," kata Valentina.

Apa rahasia suksesnya hanyalah satu yaitu berani menembus batas. Dia menunjukan dirinya sebagai desainer fasion meski secara akademisnya, dia bukanlah lulusan sekolah mode. Ia juga dikabarkan telah melanjutkan pendidikannya kejenjang lebih tinggi.

Bermodal bisnisnya sekarang ia tak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah seperti anak muda biasanya.

Karyawan Mau Jadi Pengusaha Salon Merrie Elizabeth

Profil Pengusaha Merrie Elizabeth


pemilik blobar salon

Dulu karyawan mau jadi pengusaha salon. Tidak mudah bagi Merrie Elizabeth memulai. Namun siap sangka, namanya masuk penghargaan Forbes Asia 30 Under 30. Jadi bagaimana kisahanya sampai di posisi sekarang. Dia merupakan karyawan berprestasi dengan pengalaman panjang.

Nama- nama perusahaan besar pernah disinggahi seperti HM. Sampoerna. Dilubuk paling dalamnya terasa ada keinginan mandiri. Ingin rasanya membuka usaha sendiri dibanding bekerja. Ia ingin bisa membuka usaha salon sendiri. Mau punya penghasilkan sendiri tanpa merasa terbebani keadaan.

Apa enaknya menjadi pengusaha memiliki banyak kebebasan. Termasuk nanti menentukan tugas apa mau dikerjakan. Dia tertarikan akan dunia kecantikan wanita. Terutama perawatan dan tata rambut yang punya peluang. Merrie sendiri termasuk sosok sadar gaya termasuk trend anak muda.

Merintis Usaha Salon

 
Ia melihat gaya SWAG tengah naik daun. Idenya menerawang ingin mengembangkan konsep ini. Dia menyimpulkan bahwa pasar fashion dan kecentikan menjanjikan. Di Indonesia, terlihat petumbuhan gaya telah signifikan, ini membuat Merri semakin penasaran memulai usaha.

Arah telah ditentukan mau berbisnis apa sesuai passiona. Maka ia mengkolaborasi ide diluar dalam satu bisnis. Bisnis salon dengan inovasi dan mengikuti perkembangan tren. Ada gaya rambut ombre yang tengah naik daun. Maka salonnya akan memberikan pembeda seperti warna galaxy yang cantik.

Bisnis bernama Bolbar Salon memang bertumbuh stabil. Bertahap naiklah hingga menghasilkan dua cabang. Pengusaha wanita asal Malang, pernah juga mengalami masa naik dan turun, terutama bicara bisnis salon. Butuh pemahaman menyeluruh bukan cuma tren tetapi segementasi pasar.

Merrie tidak sendiri melainkan mengajak rekan. Ninda Ramadhiani, keduanya sepakat membangun salon Bolbar. Tidak mau bertemput di segmentasi pasar berdarah. Persaingan ketat tersebut diakali melalui spesifikasi. Mereka mengambil pasar spesialis pewarnaan rambut wanita.

Mereka memadukan antara gaya rambut dan teknik warna. Contoh kombinasi ombre dengan warna galaxy atau unicorn, balayage abu- abu, dan juga rose gold. Bisnis Bolbar berdiri di Kemang, Jakarta, pada bulan Desember 2012, dimana keduanya merupakan mahasiswi S-2 Prasitya Mulya Business School.

"Pasar beauty Indonesia terus berkembang karena perempuan pasti ingin tampil cantik, apalagi para perempuan urban Jakarta," jelasnya.

Berdirinya Blobar berdasarkan cerminan pekerja usia 18- 35. Menyasar kaum wanita milenia yang tidak habis marketnya. Jasa salon mereka antara harga Rp.75- Rp1,5 juta. Cocok buat kaum hawa yang baru mendapatkan job pertama.

Pengusaha salon Merrie menjelaskan modal awal Rp.10 juta. Mereka berdua lantas berbagi peran untuk menjalankan. Ninda menjalankan operasional dan SDM. Sementara dirinya, berurusan dengan marketing dan keuangan. Berdua mereka tidak mengaku saling dominan melainkan berunding selalu.

Tiap keputusan dirundingkan bersama menyangkut bisnis. Mereka memanfaatkan media Facebook dan Instagram. Pemesaran Blobar menyebar melalui kanal sosial media. Agar membentuk brand kuat dimata masyarakat, Blobar tidak segan mengadakan event kecantikan sampai bazar.

Tiga tahun Blobar eksis banyak inovasi dihadirkan. Mereka mengikuti trend tetapi juga menciptakan trobosan tersendiri. Soal tampilan salon diciptakan sedemikian rupa agar chic dan instagramable. Dia menciptakan singkronisasi agar wanita betas nyalon.

Hasilnya pelanggan mengaku bisa habis Rp.1,8- 2 juta demi mewarnai rambut.Itu sudah termasuk aneka treatment pasca pewarnaan. Treatment ini murah seharga Rp.500- 800 ribu, tetapi cukup buat mereka kembali lagi. Bisnis ini termasuk bergulit cepat, walau tetap melalui proses lumayan lama.

Tidak ada yang instan melainkan perjuangan. Pada bulan ke 9, usaha mereka langsung menarik orang berdatangan rutin. Pada tahun ke 4, barulah mereka mampu menghasilkan omzet mencapai ratusan juta perbulan. Mereka optimis termasuk merembah pasar maxing, eyelash extension, dan kuku.

Merrie kembali membuat gebrakan melalui Quo Studio. Mereka tengah menyasar pasar pria walau nekat. "Modal terbesar kami sebenarnya adalah nekat. Eksekusi kalah penting dibanding perencanaan dan persiapan. Justru kalau terlalu berencana, maka akan menjadi wacana," ucapnya kepada SWA.

Bisnis Hijab Syar'i Bandung Hasilkan Miliaran

Profil Pengusaha Dewi Permata


hijab syar'i bandung

Dewi Permata tidak akan menyangka sukses begini. Bisnis hijab syar;i Bandung nya menghasilkan miliaran. Ia tidak pernah berpikir ke arah sana. Dewi hanya ingin membuat produk yang membantu. Sejak semula dia memang ingin memiliki usaha sendiri.

Dia bersama suami, Rosy Andreas, memang sudah aktif berjualan. Keduanya masih mahasiswa di Universitas Padjajaran, Jurusan Ilmu Komunikasi, dan sang suami mengambil jurusan pertambangan di Universitas Teknologi Bandung.

"Saya mulai dari modal nol rupiah, kalau ada yang mau pesan baru dibuatkan,' ia menjelaskan.

Perjalanan Bisnis


Keduanya merupakan anak asli Padang perantauan. Pasangan pengusaha muda yang dipanggil Uda- Uni. Bisnis ini unik karena Dewi tidak sekedar membuka usaha. Dia menawarkan kelebihan berbeda dari pebisnis hijab syar'i lain. Dewi menciptakan hijab "anti- tembem" yang menarik para pembeli.

Dewi termasuk nekat karena mendesain sendiri. Dia mendesain hijab yang bikin wajah tirus. Ini yang kemudian "tidak sengaja" menjadi andalan. Awal mula dia sama sekali tidak menyadari akan konsep tersebut. Bersyukur sebuah ajang kompetisi kewirausahaan menyadarkan  dia akan ini.

Ia menyebutnya khimar "antem" atau anti- tembem. Keputusan membuka usaha selepas keduannya menikah. Di 2016, diputuskan menjalankan usaha sendiri, dan sang suami pun sempat tergiur menjadi karyawan. Rosy merupakan mahasiswa pertambangan dan dibutuhkan perusahaan besar.

Bisnis Dewi melejit apalagi selepas mengikuti ajang kewirausahaan. Rosy melihat istirnya sempat kwalahan. Dia memutuskan menolak untuk menjadi pegawai perusahaan tambang. "Setelah melihat saya keteteran menghandle pesanan... sejak saat itu kami memutuskan untuk bersama- sama besarkan Kiciks"

Mereka lantas merekrut dua orang bagian administrasi. Beberapa penjahit bergabung, kemudian bisa merekrut 80 orang pegawai ke depan berpusat di Bandung. Produk meliputi hijab, khimar, dress, jilbab, dan mukena. Produk mulai daily look sampai premium melalui koleksi brand "Dewi Permata".

Selain mengandalkan desain anti- tembem. Brand ini menarik karena motifnya unik, seperti adanya bunga sakura yang terinspirasi perjalanan. Keduanya tengah traveling ke Jepang dan menemukan bunga sakura. Diprintlah motif bunga sakura tersebut, dan dipasarkan melalui sistem pre- order.

Pesanan langsung masuk 2000 pcs hijab langsung ludes. Mereka juga punya koleksi yang terinspirasi budaya Indonesia lewat koleksi Sasade. Kemudian mereka menghadirkan bunga Lupine. Agar makin berkembang, Dewi melanjutkan pendidikan fashion designer di IFI Bandung, pada awal 2019.

Kegemaran traveling menjadi sumber kreatifitas keduanya. Baik buat membangun Kiciks bisnis hijab syar'i Bandung ini. Mereka pun rajin berpergian keluar negeri buat aneka desain baru. Biasanya bila mereka melihat keindahan bunga di daerah tertentu.

DJ Angger Dimas Memulai dari Belasan Tahun

Profil Pengusaha DJ Angger Dimas


dj angger dimas
 
Profil DJ Angger Dimas memulai DJ semenjak belasan tahun. Tidak mudah kesuksesan dicapainya sekarang. Angger Dimas, Disc Jockey muda Indonesia, punya kisahnya juga. Dulu ketika masih kecil Angger kerap diolok- olok. 
 
Masalahnya sih sepele yaitu dia yang tidak bisa bermain gitar. Sepulang sekolah wajahnya akan muram, bocah 7 tahun itu merengek minta diajari gitar. Ayahnya pun menanggapinya serius permintaan putranya tersebut.
 

Mimpi Menjadi DJ


Setiap pulang kantor ayah Angger mengajari putranya. Melalui sesi latihan bersama sang ayah, ia jadi jatuh cinta kepada dunia musik. Rasa cintanya membuat Angger terus belajar musik. "Saya berlatih dua jam sehari. Main kunci dasar sampai ngerti cara berimprovisasi," ungkapnya.

Dia semakin mahir bermain gitar. Disisi lain ayahnya mulai memperkenalkan berbagai musik antimainstream seperti musik dari band asal Jerman Heatwave, band yang sedikit vokalnya dan lebih banyak bermain di insturmen. 
 
Sebulan sudah Angger bermain gitar dan teman- temannya mulai mengakui dirinya. Dia akhirnya semakin bersemangat. Diusia 13 tahun, Angger menempati posisi lead guitar di band Indies bernama Tanpa Mana. 
 
Namun, band itu akhirnya bubar di tahun 2008. Berhenti dari Tanpa Mana putra pasangan Agus Riyanto dan Tri Rahayu tersebut tak berhenti bermain musik. Dia masih memiliki rasa ingin tahu mengenai beragam jenis genre musik. 
 
Hingga suatu hari, dia mengenal genre electronic dance music (EDM), aneh kenapa dia bisa menikmati musik tanpa vokal itu. Angger berpikit musik elektronik itu universal begitu kiranya. Dengan berbekal instrumen saja orang- orang di seluruh penjuru dunia bisa menikmati. 
 
Tak perlu adanya bahasa yang membatasi musik ini. Angger pun langsung mengunduh aplikasi Fruity Loops, sebuah software pengedit musik. Tidak butuh waktu lama ia bisa menguasai alat tersebut. Angger pun menjadi disc jockey dan membuat sejumlah lagu elektronik. 
 
Lagu- lagu hasil racikannya dilirik sebuah kelab di daerah Jakarta Selatan. Selayaknya orang yang baru di dunia yang baru, pastilah ada jatuhnya. Karena belajar secara otodidak di rumah, ia kerap diremehkan pemilik klub malam tempatnya bermain. 
 
Namun, hal seperti itu tak menyurutkan semangatnya untuk belajar. Hasilnya dia menjadi Dj favorit di tempat itu.

"Ada saatnya yang menonton pertunjukan saya nggak menikmati musik saya. Itu nusuk banget," ujarnya

Karir Angger meroket begitu cepat hingga membuat beberapa para DJ mengapresiasinya. Apresiasi yang kemudian juga datang dari luar negeri. Mereka menyukai house music racikan Angger itu. 
 
Di awal 2009 -an, dia ditawari bergabung dengan Vicious Record yang sangat tersohor di Australia. "Pertama ke luar negeri ya buat kerja. Alhamdulillah, mereka suka musik saya," papar pria kelahiran 1 Maret 1988 tersebut. Meski terlah go international, Angger tetap mengasah skill DJ-nya.

Hasilnya, album perdananya, Duck Army, telah dimainkan beberapa DJ papan atas seperti Laidback Luke, Tocadisco, dan Joachim Garraud.

Karir DJ Angger Dimas


Di sebuah rumah empat lantai, di lantas paling atas, dijadikanya sebuah ruangan khusus. Angger menyulap satu lantai tersebut menjadi ruang meditasinya. Di tempat itulah musik karyanya diciptakan. Ada sebuah komputer berlayar lebar, gitar listrik dan akustik, serta tentu saja sebuah turn table -alat pemutar musik DJ. 
 
Alunan sebuah lagu, Bohemian Rhapsody dari Queen terdengar lembut. Bulan September 2008, seorang DJ kenamaan bernama Amerika, Steve Aoki, mengaku Dj Angger telah menjadi idolanya. "Kaget juga, ini orang ternyata dengerin remix saya. 
 
Padahal, saat itu dia (Steve) adalah DJ yang mendekati posisi 100 di dunia," ucap Angger spontan. 
 
Lantas Steve mengajak Angger berkolaborasi dan mengikuti tur ke Amerika Utara ketika keduanya bertemu di Jakarta. Tur saat musim dingin itu begitu membekas. Sebab, selama berkeliling di Amerika Utara, Angger mengaku tidak mandi. 
 
"Pemerintah Ottawa ternyata pelit air panas. Jadi, saya pilih nggak mandi berhari-hari karena nggak kuat dinginnya air di sana," ungkapnya. Pada 2013, Steve dan Angger mengeluarkan album remix bertajuk Phat Brams.

Angger juga bekerja sama mengerjakan beberapa single milik Steve. Dan yang paling booming adalah lagu berjudul Steve Jobs. Mereka menggandeng raper kenamaan Iggy Azalea untuk membuat lagu berjudul Beat Down. Ia pun turut ambil bagian tampil di video klipnya.

"Pas itu mengenakan topi serigala dan scarf hitam putih sambil bilang beat down terus-terusan," terang sulung dua bersaudara tersebut lantas tergelak.

"If Nasi Goreng, the mash up of rice, egg and vegetables is Indonesia’s nation food dish then DJ and Angger represents Indonesia’s national music dish with his mash up of chopped beats and pumping synths that are topped off with some Dutch inspired spicy sounds!"

Diatas adalah kalimat atau slogan andalan milik Angger di setiap akun profil miliknya di berbagai media. Melalui EDM (Electronic Dance Music), dia mencoba membawa nama Indonesia ke dunia internasional. 
 
Meski berprestasi, sarjana hukum lulusan Universitas Padjadjaran tersebut memilih tetap low profile. Angger juga menolak senioritas dalam bermusik elektronik karena tau betul bagaimana memulai dari bawah. "Karena itu, saya sangat menghargai siapa pun yang terjun ke dunia EDM," papar Angger.

5 Pengusaha Muda Sukses Indonesia Dibawah 20 Tahun

Profil Pengusaha Muda Indonesia


daftar pengusaha muda


Biografi Hamzah Izzulhaq, pengusaha muda kelahiran Jakarta, 23 April 1993, sudah memiliki bakat berbisnis semenjak masih kecil. Pebisnis bertipe ulet dan tak takut rugi meskipun gagal. Baginya banyak kegagalan adalah hal biasa, seperti ketika ia berbisnis pin bergambar.

Dimana Hamzah Izzulhaq, secara tidak sengaja merusakan alat ketika mengerjakan pesanan. Kamu tau itu harganya mahal loh. Titik balik pengusaha Hamzah ini, yakni ketika dia mengikuti satu buah seminar tentang waralaba

Bermodal nekat dan optimis, dia meminta kedua orang tuanya memberikan modal hingga Rp.75 juta. Dia lantas membeli bisnis yang telah berjalan cukup lama. Hamzah membeli franchise bimbingan belajar serta hak miliknya seharga Rp.175 juta.

Hanya punya modal 75 juta, Hamzah Izzulhaq mencoba meyakinkan sang pemilik waralaba itu, untuk bisa membeli bisnis waralaba secara menicicil. Padahal uang tersebut merupakan milik orang tuanya yang seharusnya untuk dibelikan mobil.

Sekarang bisnis Hamzah Izzulhaq berkembang pesat beromset Rp.360 juta/semester. Ia tidak hanya membelikam orang tuanya mobil baru tetapi membuka bisnis lain; bisnis sofa bed.


Tak banyak cerita tentang biografi Lambertus Darian, kecuali pengusaha muda yang satu ini sudah memiliki banyak bisnis sejak awal. Tidak seberuntung Hamzah, dirinya pernah ditipu tetapi berkat kerja kerasnya kembali bangkit segera, dan dia adalah tipe yang berhitung cermat.

Selain itu dia mampu berbisnis banyak hal, dan juga fokus investasi. Dia paham investasi saham perusahaan lain. Inilah yang membuatnya lebih menonjol. Lambertus Darian pernah bekerja menjadi sales perusahaan importir diumur 16 tahun dan mendapatkan penghargaan Top New Sales 2010.

Dia pernah mendapatkan omset penjualan 95 juta dalam satu bulan. Berjalan waktu, Lambertus Darian memiliki saham 25% PT. Trijaya Mekar Mandiri, sebuah perusahaan peralatan rumah tangga. Ia juga memiliki merek dagang sendiri yaitu produk cairan pembersih kamar mandi.

Lentas ditambah menjadi distributor produk Stick Jelly Food dan jahe merah instant Cap Cangkir Mas. Terkhir, ia sukses mendirikan organisasi Komunitas Bisnis Anak Muda, dimana ia menjadi foundernya, membahas aneka hal sekitar bisnis anak muda.


Biografi Farah Farce masih 17 tahun, ketika dirinya membuka bisnis produk original impor sendiri. Dia memasarkan produknya melalui situs pribadi dan media sosial miliknya. Farah Farce mengaku rahasia suksesnya adalah sifatnya yang mudah bergaul.

Ia berkenalan dengan penulis "the Power of Kepepet", Jaya Setiabudi. Dia menjadi mentor sekaligus membuat bisnis pengusaha muda ini melejit tinggi. Farah kemudian menjadi agen penjualan produk- produk dari luar negeri seperti China, Thailand, Singapura, Inggris dan Vietnam.

Farah Farce bahkan memiliki brand miliknya sendiri yaitu Farce. Apakah yang membedakannya dari Darian atau Hamzah, pertama, adalah karena pergaulannya yang luas, punya cita rasa fashion, dan mampu mendesain apa produknya sendiri.

4. Valentina Meiliyana


Berbeda dengan Farah, biografi Valentina Meiliyana, hanya berfokus penjualan produk karyanya sendiri. Ia sudah dikenal berbakat sejak kecil. Sejak 2008, Velentina telah fokus mengembangkan desainnya dibantu oleh penjahit terbaik lulusan sekolah mode, Inti Mode.

Pengusaha muda ini memberi nama mereknya Selkius Maxwell, yang juga produk andalan Valentina Meiliyana Shoes. Dia tidak hanya menjual sepatu pesanan (custom), tetapi juga berbagai pakaian jadi.

Ia mengaku hanya belajar secara otodidak dari majalah dan televisi. Dia pernah dilibatkan sebagai perancang sepatu saat peragaan busana kelulusan sekolah mode, La Selle Graduation Show 2011.

Omset perbulannya dari Rp.45 juta hingga Rp.50 juta. Farah dan Valentina punya satu kesamaan yakni sama- sama tertarik di dunia fashion. Yang membedakannya, ketika Farah belajar impor juga, Valentina fokus pada pengembangan produk sendiri baru soal penjualan.

5. Yasa Singgih


Pengusaha muda satu ini punya cerita lucu. Biografi Yasa Singgih menjual produk yang hanya dibuat satu malam yaitu kaos oblong bergambar Bung Karno. Parahnya, Yasa bukannya mmbuat desain melalui Photoshop tetapi malah memilih Microsoft Word.

Berbeda dengan Farah dan Valentina, Yasa Singgih sama sekali tak punya kemampuan mendesain sendiri, namun dia tau prospek bisnis fashion. Tak ayal satu bulan berjualan, Yasa hanya menjual dua kaos dan kaos yang kedua dibeli sang Ibu lantaran kasihan.

Terdorong buku berjudul "the Power of Kepepet", ia pun pergi ke pasar Tanah Abang. Bermodal 4 juta, ia membeli selusin pakaian jadi dan bingung harus diapakan.

Beda dengan Farah, ia mengambil pasar yang dekat dengannya, asumsinya adalah bisa menjual lebih murah tapi kualitas barang terjamin. Yasa Singgih sendiri jadi cukup percaya diri dalam hal memilih produk. Di rumah, ia terkejut sendiri atas ulahnya, semakin kepepet semakin menjadi.

Dia akhirnya berhasil menjual semuanya karena tak mau rugi dan akhirnya balik modal. Dari bisnis gila ini, ia kemudian berbisnis sendiri yaitu bisnis tempat nongkrong bernama "In Teh Kopi". Bisnis utamanya toko online bernama "Men's Republic", bisnis pakaian yang berfokus pada pria.

Soal desain Yasa, jika penulis lihat, tak terlalu mengambil pusing. Fokusnya ada brand awareness ditambah kemampuannya untuk melihat peluang.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba