Pengusaha Laundry 24 Jam Strategi Pengalaman

Profil Pengusaha Kukuh Ginanjar


laundry24jam.png

Menjadi pengusaha laundry 24 jam. Kisah Kukuh Ginanjar belajar melalui pengalaman orang lain. Ia menjadikan pengalaman sebagai senjata.  Pengusaha muda jasa cuci asal Bandung ini masuk dikala tidak tepat. Pasalnya usaha laundry sudah menjamur ketika dirinya memulai. 
 
Kukuh lantas rela jauh- jauh mempelajari pasarnya ke Yogyakarta. Dari sana strategi bisnis pun ditemukannya yakni memberi garansi. Tetapi bukan garansi biasa karena ia menjanjikan garansi setrika pakian satu hari jadi.

Pengusaha Laundry

 
Kukuh pelajari betul seluk- beluk usaha laundry di Yogyakarta. Strategi pengalaman orang tersebut memang unik Cara unik tersebut ternyata efektif apalagi di Bandung belum begitu ramai. Pengunjung berdatangan meminta dia cucikan langsung ketika mendengar.

"Saat itu, di daerah kampus memang sudah ada laundry, tapi banyak yang mengeluh soal pelayanannya," kata Kukuh kepada Republika.

Kukuh mahasiswa Semester tiga STT Telkom Bandung, Jawa Barat, ini membuktikan. Kamu perlu banyak mengamati sebelum memulai berbisnis. Agar tidak mengecewakan pelanggan maka muncul ide kuota. 
 
Inilah cara lain Kukuh mengakali menumpuknya pesanan pasca marketing. Jika sudah melebih kuota maka dengan sangat terpaksa ditolak.

Dalam tempo sebulan usahanya menjaring dua ton pakaian kotor. Pemuda asal Klaten ini mengaku semua itu bermodal pas- pasan. Modal awal seorang Kukuh cukup 300 ribu di kantong. 
 
Tekatnya bulat memulai satu usaha sendiri. Ia menyisihkan 200 ribua buat sewa tempat. Sisa uang kemudian digunakan sebagai biaya buat promosi mulai spanduk dan lain- lain.

Kalau peralatan?

Ia ternyata punya cara tersendiri. Dia rajin menemui teman- teman menawarkan satu proposal bisnis. Berkat keahlian melobi Kuku bisa mendapat Rp.5 juta. Uang patungan tersebut barulah digunakan sebagai modal buat peralatan. 
 
Memang sedari dulu dirinya dikenal sebagai pengusaha. Jiwa entrepreneurship terasah oleh pengalaman mulai dari usaha pulsa, donat, kaus, hingga susu murni.

"Saya sadar sebagai anak yang lahir dari keluarga sederhana mau tak mau harus kreatif mencari tambahan biaya," tutur Kukuh.

Bisnis Laundry 24 Jam


Ia sendiri tidak sebebas kita. Meski begitu bisnisnya tetap melejit sambil menjalankan ikatan dinas. Ya, betul, dia kala itu tengah menempuh pendidikan ikatan dinas, dan ini memberinya bebas biaya kuliah. Akan tetapi ayahnya yang cuma guru SD tidak memberi banyak. 
 
Alhasil, Kukuh tetap banting tulang mencari tambahan untuk hidup di negeri rantau. Sang ayah beristri ibu rumah tangga biasa dan memiliki empat orang anak. Kukuh sadar merasakan betul kekurangannya dalam keuangan.

Keprihatinan membawa dia serius menjalankan bisnis. Dalam waktu lima tahun, Waroenk Laundry mampu melebarkan sayap ke berbagai wilayah. Cabang tersebar dari Sumedang, Jombang, Bangka Belitung, dan juga Palembang. 
 
Tarif laundry cukup Rp.5000 per- kilo untuk mahasiswa. Untuk umum Rp.6000 saja tidak terlalu jauh. Sistem komputerisasi mempermudah jalannya perusahaan milik Kukuh ini.

Sistem komputer termasuk dalam hal pelayanan. Sistem pengecekan via SMS bisa langsung diterima oleh administari sejak diterima dan proses packing. Ini memungkinkan pelanggan memantau cucian setiap saat lewat sistem notifikasi. 
 
Orang tidak perlu bolak- balik datang mengecek cucian. Lain fungsi, sistem ini juga berlaku dalam pengawasan pegawai di tempat kerja.

Menerapkan banyak strategi dan model manajemen membuat Kukuh yakin. Ia meyakinkan bahwa usahanya ini akan berkembang bagus, dan terbukti. "Kami siap menjadi barometer laundry Indonesia," tuturnya.

Lantas bagaimana strategi marketing mumpuni. Maka, Kukuh memperkenalkan konsep bisnis 24 jam. Ini menjadi yang pertama buat bisnis laundry Indonesia. Dia juga menggalang konsep go green melalui produk detergen ramah lingkungan. 
 
Waroenk Laundry tidak pula menyediakan pembungkus plastik. Tidak cuma itu ternyata, soal limbah pun sudah Kukuh pikirkan, dimana melakukan proses filterisasi ketika menggunakan air. Promosi lewat SMS dikembangkan olehnya. 
 
Ia lantas menawarkan menyisihkan Rp.100,- untuk yang tidak mampu. Terakhir adalah menawarkan konsep kemitraan alias waralaba. Kukuh menawarkan paket investasi Rp.49 juta paket mini. Paket standarnya senilai Rp.79 juta dan medium Rp.107 juta. 
 
Untuk perbedaan itu terletak dijumlah mesin cuci dan pengering. Jika paket mini satu mesin cuci dan dua pengering, paket standar dua mesin cuci dan tiga mesin pengering. Ia menambahkan paket renovasi tempat, komputer, training karyawan, dan furnitur. 
 

Strategi Bisnis Laundry

 
Di luar investasi tersebut buat kamu yang tambahan Rp.6 juta sebagai biaya pengiriman. Asumsi balik modal jika semuanya terpenuhi adalah enam bulan sampai 11 bulan.

"Tarif terjangkau menjadi kelebihan kami," paparnya.

Sukses berbisnis waralaba membawa Kukuh jauh melompat. Bayangkan pemuda 25 tahun ini sekarang bisa membuka banyak cabang dan terakhir membuka anak perusahaan. 
 
"Waroenk Laundry menawarkan sistem waralaba agar jangkauan outlet dapat merambah ke berbagai pelosok," ujarnya. Lompatan itu tidak serta- merta membuat hatinya sombong.

Dia bahkan menyempatkan mengerjakan pesanan alamemeternya. Pria yang juga lulusan SMAN 1 Klaten ini, dipercaya mencucikan pakaian mahasiswa di asrama. Total 4.000 pakain kotor mahasiswa dari 16 tower dipegangnya sendiri. 
 
Kembali ke anak usaha, masih berhubungan dengan bisnis utamanya, ia membuka satu usaha kebutuhan laundry berupa diterjen dan pewangi. Anak perusahaan kedua menjual alat- alat cuci, seperti mesin cuci dan pengering. 
 
Buat kamu konsumen bisa melihat di www.pusatlaundry.com dan www.bospengering.com. Usaha lain yakni menciptakan alat konverter mengurangi daya mesin 2.200 watt menjadi 150 watt. Ide mendirikan perusahaan dimulai saat dirinya pernah ditipu oleh suplier mesin cuci dan pengering. 
 
Ia kehilangan 30 juta tetapi tidak menghasilkan apapun.

"Saya hanya mendapatkan alat- alat kualitas rendah," sebut finalis Wirausaha Muda Mandiri 2010 ini.

Menjadi pengusaha muda bukan perkara mudah. Ia sempat ditentang ayah dan ibunya. Berbekal ilmu kuliah dari satu kampus terkenal, harapan mereka Kukuh menjadi pegawai perusahaan bonafit. Apalagi sosok sang kakak adalah dokter lulusan UGM.

Biografi Bupati Trenggalek M. Nur Arifin Pengusaha

Profil Pengusaha Mochammad Nur Arifin


biografibupati.png
 
Biografi Bupati Trenggalek M. Nur Arifin. Siapakah dia merupakan pengusaha muda menginspirasi masyarakat. Hanya usaha sepele tetapi ternyata menghasilkan miliaran.  Anak muda satu ini tidak pernah malu berjualan panci.
 
Karena dalam benaknya, ini bisnis spektakuler yang patut dia coba. Meski merupakan bisnis keluarga sering memberikan rasa tidak nyaman. Mochammad Nur Arifin, pemuda kelahiran 1990, yang kini menjadi Wakil Direktur UD Cipta Karya Abadi. 
 
Selain itu dia juga dikenal sebagai komisaris MG Corporation dan PT. Karya Mugi Sentoso.
 

Bisnis Panci


Dia merupakan pewaris usaha keluarga. Ia sendiri punya visi memajukan usaha keluarga tersebut. Meski pun gempuran produk China menggempur, usaha pembuatan panci tetap mengepul. Justru masuknya produk dari China malah membuatnya semakin semangat. 
 
Pemilik usaha UD Cipta Karya Abadi ini, mengatakan potensi masih terbuka lebar.

"Dari permintaan sebanyak 30.000 unit, kami hanya sanggup memenuhi sekitar 21.000 unit perbulan," ujar pria yang akrab disapa Avin ini. Permintaan kitchen set menjadi paling tinggi. Terutama, Avin menjelaskan untuk produk khusus panci.

Produk bermerek CKA, diklaim Avin, telah menguasai pasar Pulau Jawa. Bahkan menurutnya lagi share marketnya mencapai 65% panci. Atau, 65% panci di rumah- rumah sekarang merupakan buah karya perusahaan miliknya. Usaha yang dirintis oleh Alamarhum Mugianto. 
 
Dimana sang ayah memulai sejak tahun 1990 -an yang awalnya cuma distributor panci. Sejak 2007, setelah sang ayah meniggal, usaha ini lantas berubah.

Fokus usaha berubah bagaimana caranya memproduksi panci. Berekspansi lewat pembukaan pabrik wajan cor alumunium. Sosok ibu menjadi pengambil alih nahkoda dibantu Avin dan dua adiknya. Mereka bersama bisa mempertahankan eksistensi usaha panci tersebut. 
 
Mereka memanfaatkan berbagai macam rongsokan alumunium untuk dijadikan panci. Itu kejelian seorang Avin cepat berekspansi menguasai dua kota disekitar. Dari sanalah sampai berdiri dua pabrik di kawasan Jawa Timur, yakni Mojokerto dan Trenggalek. 
 
Avin juga menambahkan pabrik di Mojokerto menghasilkan 6.000 unit. Sementara itu di Trenggalek bisa menghasilkan lebih besar yakni 15.000 unit. Dua pabrik tersebut bukan sekedar memproduksi panci loh. Ia memplot dua pabrik tersebut juga menjadi tempat pengolahan alumunium.

Usaha pembuatan panci yang dianggap sepele itu menjadi "wah". Kini, Avin sudah memiliki 2.000 orang karyawan yang tersebar di 22 cabang seluruh Indonesia. Ia dibantu oleh 1.500 karyawan untuk sales. 
 
Avin mampu menjual wajan alumunium ke seluruh penjuru Indonesia. Model bisnis direct selling, setiap cabang itu ditergetkan menjual 1.000 panci. Metode marketing langsung tersebut terbukti ampuh, apalagi ada stimulus bonus.

"Melalui metode ini, kami tetap bisa melakukan produksi sebagai stok yang untuk sewaktu- waktu bisa dipasarkan" imbuh Pengusaha muda.

Batang alumunium rongsokan cukup dicor diatas 2000 derajat. Dari sana lah, Avin mampu mencetak ratusan unit panci dari sana. Selepas benar cair, cairan langsung dituangkan ke cetakan panci berbahan baja. Panci tersebut lantas dihaluskan agar rapih. 
 
Proses terakhir jelasnya ialah finishing atau dipercantik agar terlihat wajan sempurna. "Pengawasan berupa QC diperlukan agar aluminium yang berhasil dicetak dalam menghasilkan produk berkualitas," tutur pemuda yang kini juga pengusaha properti dan Bupati Trenggalek ini.

Penulis Pengusaha Keripik Singkong Gadung

Profil Pengusaha Siti Maria Ghozali 


penulispengusaha.png

Penulis pengusaha keripik singkong gadung. Penulis bernama Siti Maria Ghozali tidak familiar di telinga. Atau, kamu akan lebih kenal nama penanya Maria Bo Niok. Meski kamu tidak mengenalnya, penulis meyakinkan dia adalah sosok wanita hebat. 
 
Dia dikenal oleh kalangan aktifis sebagai wanita vokal. Khususnya menyuarakan hak buruh migran wanita di Hong Kong. Wanita berumur 40 tahun, seorang novelis, hal lain adalah dia seorang pengusaha wanita asal Wonosobo.
 

Menjadi Penulis dan Pengusaha


Mari telah menulis sejak 2002, ketika dia tinggal di Hong Kong. Seorang teman mailist menyadarkan dirinya menulis merupakan bakatnya. Sosok teman itu selalu mendukung, menyemangati, bahkan seolah menjadi guru jarak jauh Mari. 
 
Hasilnya ia telah menulis tidak kurang dari 20 judul cerita pendek. Dan kebanyakan dipublikasikan oleh tiga majalah Indonesia yang diterbitkan di Hong Kong.

Tiga majalah yang dikhususkan untuk buruh migran, seperti Intermezo, Berita Indonesia, dan Rose Mawar. Kebanyakan ceritanya tidak jauh dari pengalaman pribadi. A Ne Ge , contohnya, merupakan cerita pendek tentang kehidupan buruh migran Hong Kong. 
 
Utamanya bagaimana kesulitannya mereka berkomunikasi satu sama lain.

"Mereka menggunakan tiga kata A, Ne, Ge yang menjelaskan 1001 kosa kata dengan pekerja migran," tuturnya.

Karya lainnya meliputi Embun Pagi di Hong Kong (A Morning Dew in Hong Kong), Desah Keluh Pejuang Devisa (Grievance by Foreign Exchange Fighters), Batik, dan Kelobot Tembakau Kasih (Love of Klobot Cigarette).

Sekembalinya ke Indonesia, Maria memutuskan tidak kembali ke Hong Kong. Tepatnya waktu itu, tahun 2004, dia kembali ke kampunya di desa Pasunten, Lipursari, Wonosobo Jawa Tengah. Disana pula ia bisa menemukan cara lain untuk hidup. 
 
"Saya tidak mau jauh dari anak- anak saya lagi," jelasnya kepada pewarta the Jakarta Post. Ibu enam anak ini memiliki jiwa entrepreneurship. Inilah yang coba dituangkannya selepas di Indonesia.
 
Lahir dari keluarga sederhana pasangan Siti Ngaisah dan Muhammad Ghozali, Maria membuktikan dirinya merupakan sosok tangguh. Dia menjalankan bisnis kecil- kecilan di 2004 yakni sebuah wartel. Dia juga jadi guru bahasa Kanton di sekolah lokal. 
 
Untuk tambahan dia (saat menjadi migran) juga pernah belajar Kanton di Abraham Collage di Hong Kong. Dia masih sempat menulis novel Ranting Sakura Dalam Bingkai Abstrak. Sambil menunggu kembalinya ke perusahaan penerbit. 
 
"Saya selesai menulis dalam sembilan bulan tetapi ide telah ada selama empat tahun. Beberapa cerita dalam novel berdasarkan pengalaman saya sendiri. Beberapa yang lain dari teman-teman saya," kata Maria.

Pengusaha Keripik Singkong Gadung

 
Umur 12 tahun, Maria pergi dari rumah kedua orang tuanya, ke Bandung bekerja menjadi pembantu. "Saya harus pergi dari rumah karena saya harus bekerja, bekerja, dan bekerja. Tidak ada waktu buat saya bermain," pungkasnya. 
 
Tetapi kemudian ketika diperjalanan, hidup merantau jauh dari orang tua justru malah membuatnya kesepian. Dia dibayar kecil dari pekerjaanya di Bantung. Selepas dua bulan malah pulang ke rumah.

Sekembalinya, ia bersekolah kembali hingga lulus sekolah menengah atas. Dia lantas dinikahkan diumur 17 tahun. Untuk bertahan hidup, memenuhi kebutuhan sehari- hari yang bisa dilakukan adalah menjual burung di pasar. 
 
Suatu hari pasar tradisional Wonosobo tersebut terbakar habis -membawa semua barang dagangan. Api besar menghanguskan segala modal Maria. Tetapi yang terberat adalah ketika itu membuatnya harus bercerai.

Tidak cuma bercerai tetapi ia (sang suami) meninggalkan hutang menumpuk.

Itulah Maria memilih menjadi buruh migran di negara orang. Dia meninggalkan anaknya kepada keluarga. Ia mempunya lima orang anak. Dimana yang termuda masih bayi empat bulan, dimana Maria meminta bantuan seorang babysitter untuk menjaganya di Jakarta. 
 
Pergi jauh dari orang tuanya membuatnya menjadi sedih, bosan, dan kesepian. Menulis merupakan bentuk penyaluran luapan tersebut.

Hingga, suatu hari di 2002, dia bertemu sosok Stevi Yean Marie, seorang penulis puisi asal Yogyakarta. Dimana semenjak itu ia menjadi guru Maria Bo Niok secara online.

"Dia adalah orang yang menemukan bakat menulis saya. Dia selalu berani mengoreksi saya ketika saya membuat kesalahan," kata Maria.
 
Setahun sudah Maria mendapatkan pelatihan wirausaha. Pelatihan bagaimana merubah ketela menjadi kripik gadung di Balai Latihan Kerja, Wonosobo. Usaha yang didasari bahwa ketela memang banyak di daerah itu. Maria sendiri langsung mempraktikan pelatihan tersebut. 
 
Prosesnya memang cukup rumit tetapi akhirnya ia bisa. Ia lantas memberi nama usahanya UD Mari. Dia menjadi penulis pengusaha. Keripik ketela rasa gadung lantas dikemas dengan merek. Warga desa Lipursari ini lantas menitipkan produk tersebut menjadi oleh- oleh khas. 

"Banyak toko mau menerima keripik buatan saya," ujarnya bangga. Kian lama usahanya semakin berkembang. Bahkan keripik gadung Mari sudah tersedia di toko oleh- oleh dan juga supermarket. Ia tak sanggup lagi mengerjakan sendiri. Usaha keripik tersebut lantas dibantu 4 orang karyawan.

"Bahan bakunya gampang dicari, kok. Di sekitar desa saya banyak ketela," celetuknya. Jikalau kurang pun, ia bisa membeli dari desa lain. Perbulan usaha UD Mari memproduksi satu ton ketela. Usahanya ternyata bisa menjadi rezeki buat warga sekitar. 
 
Pasalnya dia mengajak warga memasok bahan ketela siap masak. Yaitu ketela yang sudah dikupas, dirajang, dan dibersihkan, ia bahkan berani membeli seharga Rp.1.500 per kilo. Harga normal ketela di daerahnya Rp.200 per- kilo. Maria memberikan nilai lebih bagi petani di kampunya. 
 
Alhasil usahanya terus tumbuh sebagai jawaban kebaikan hati Maria. Harga jual dari keripik rasa gadung adalah Rp.45 ribu. Memang relatif mahal diakuinya dibanding produksi rumahan lain. Ia meyakinkan produk UD Maria benar- benar berkualitas. 
 
Mereka sendiri tidak saling bersaing karena sudah punya pelanggan. Meski sederhana Maria senang usahanya berjalan. Dia bahkan sudah siap berjualan lewat Facebook. Lewat nama Mari Singkong Rasa Gadung. Disela- sela berbisnis sendiri Maria masih aktif menulis. 
 
Selain itu ia juga aktif mengajar anak- anak di kampung. Ia mendirikan Rumah Rumbia, sebuah taman bacaan yang gratis buat anak- anak sekitar. Dia sendiri dibantu kawan- kawan soal pengedaan buku.

Juragan Bawang Goreng Bisnis Bapeda

Profil Pengusaha Dewi Rahmaniati 

 
bisnisbawang.png
 
Bisnis bawang goreng menjanjikan dicoba. Sebut juragan bawang goreng satu ini bermula kegemaran makan suami. Ibu Dewi Rahmaniati, pernah membawakan bawang goreng untuk suaminya. Ia lantas mecoba meniru cara membuatnya. 
 
Hasilnya, bukan cuma enak, tetapi jauh lebih enak dan diakui oleh sang suami langsung. Tak terburu- buru ditawarkan bawang goreng tersebut ke keluarga. Lagi- lagi respon positif diterima oleh Dewi, jadilah awal mula bisnis bawang goreng Bapeda.
 

Juragan Bawang Goreng


Teman- teman datang juga berpendapat sama. Mereka bahkan tertarik memesan ke Dewi. Hingga ia lantas memutuskan menjual bawang goreng racikan tersebut. Produk bernama Bapeda bukan Papeda. Artinya itu kepanjangan dari Bawang Goreng Pedas Bunda. 
 
Panggilan Bunda merujuk kepada panggilan sang anak pertamanya. "Biar berbeda dengan panggilan ibu lainnya," ujarnya.

Dengan variasi rasa menggoda membuat Bapeda bukan bawang goreng biasa. Ada rasa teri, pedas, original teri dan orginal bawang. "Permintaanya dalam jumlah sedikit," ujar Dewi. Namun, itu tidak membuatnya jadi patah arah. 
 
Bahkan Dewi menyanggupi Bapeda rasa teri Medan spesial. Itu semua untuk menyenangkan satu pelanggan saja.

Di Agustus 2011, bisnisnya mulai berkembang dari 1kg, 2kg, hingga maksimal memproduksi 5kg.

Jujur kualitas bawang yang dihasilkan Dewi masih rendah. Menurutnya masih berminyak dan terkadang ada rasa pahit. Pada awalnya, ia pun menggunakan bungkus plastik biasa, kesemuanya merupakan proses yang berjalan. 
 
Hingga permintaan semakin banyak menumbuhkan asa. Sekali produksi, kala itu, ia mengaku sudah menghasilkan 2kg atau omzet Rp.600.000. Ia bertekat memperbaiki kualitas produknya. Sang ibu mertua sempat merasa tidak nyaman dengan kegiatan baru tersebut. 
 
Alih- alih meminta Dewi berhenti, sang mertua malah memberikan solusi berupa alat pengiris bawang. Dia juga membangunkan dapur sendiri. Tiga bulan kemudian, Dewi membeli alat penyaring, hingga hasil bawangnya tidak terlalu berminyak. Dewi juga mengganti kemasan dengan toples. 
 
Serta memulai menjual Bapeda nya melalui Facebook. Sukses Dewi didukung kerabat dan saudaranya. Ia juga dibantu oleh sang suami, yang kebetulan merupakan Ketua Suzuki Jeep Indonesia (SJI) wilayah Bandung, yang kerap aktif mempromosikan Bapeda ke komunitasnya. 
 
Teman- teman sang suami menyambut baik dan mengajak istri mereka menjadi reseller.

"Paling banyak Jakarta 30 orang," pungkasnya.

Makanan unik satu ini sudah mempunyai 50 reseller yang tersebar di Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Batam, Palembang, dan Sumatra Utara. Bahkan sudah merambah jauh lewat tangan teman- temanya sampai ke Malaysia, Singapura, Dubai, Kuwait, dan California. 
 
Di Malaysia sendiri, ia punya kerabat sekaligus pelanggan tetap. Ia setiap sebulan sekali membeli 100 toples. "Teman- teman saya suka ternyata," paparnya.

Untuk musim lebaran permintaan bisa melonjak sampai 1.200 toples. Kemasan rapi serta terdapat hiasan pita membuat Bapeda menarik dijadikan parsel. Ia lantas berpromosi bahwa Bapeda cocok jadi pelengkap kupat sayur dan opor. 
 
Ketika musim Haji, Bunda akan berpromosi bahwa Bapeda bisa menjadi bekal kamu ke tanah suci.

"Terkadang reseller tidak kepikiran," jelas Dewi. Meski terkesan mulus dan tanpa hambatan ketika memulai usaha; faktanya tidak demikian. Dia bercerita pernah suatu ketika alat pemotongnya rusak. Ia pun langsung ke Maxindo buat reperasi. 
 
Sayangnya, itu membutuhkan waktu lama, padahal Dewi sudah ditunggu banyak pelanggan. Dalam ingatannya lagi waktu begitu sempit, ditambah jasa pengiriman akan tutup H-1 minggu.

"Kalau mau nangis, saya mungkin nangis darah," kenang Dewi. Disaat mendesak muncul sosok yang juga seorang pengusaha. Ia pemilik usaha nasi liwet instan. Dengan senang hati, ia menawarkan pinjaman Dewi alat pemotong bawang miliknya. 
 
Dia bahkan mau mengantarkan langsung ke tempat. "Ini benar- benar jalan dari Tuhan," kenangnya haru.

Alat tersebut disebutnya lebih bagus ketimbang mesin. Jika mesinya menghasilkan 20 toples maka pakai alat potong ini bisa 25 toples. Alat tersebut lantas menjadi andalan Dewi menghadapi permintaan pelanggan. 
 
Kekurangan dibanding mesin, ya apalagi kalau bukan pedih dimata, karena tidak ada penutup maka aroma bawang menyebar. Untuk kedepan, harapanya menambah mesin lagi, itupun kalau permintaan nambah.

"Biar jadi 'Juragan Bawang Goreng' sebenarnya," candanya. Dewi sendiri memang dikenal kalangan teman- teman sebagai Juragan Bawang Goreng.

Membuat Kaos Pengusaha Muslim Modal 3 Juta

Profil Pengusaha Sukses Warsandi


pengusahamuslim.png
  
Pengusaha muslim modal 3 juta sukses menghadapi pandemi.  Pemuda 23 tahun yang telah memulai usaha semenjak dini. Sejak kecil merupakan keharusan baginya agar bekerja keras. Ia sempat tidak melanjutkan sekolah. 
 
Tetapi dia tidak menyerah, malah pemuda bernama Warsandi ini makin gila bekerja saja. Akhirnya, Warsandi sukses di pendidikan, menjadi Sarjana Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga.
 

Pengusaha Muslim


Perjalanan Warsandi memang terbilang unik. Ayahnya adalah tukang becak sedangkan ibunya cuma ibu rumah tangga biasa di Kaliurang. Semenjak kecil, Sandi bekerja mandiri mengumpulkan biaya sekolah sendiri. 
 
Keinginan tetap sekolah membuatnya tetap bertahan. Ia memang sempat berhenti satu tahun lebih ketika lulus sekolah dasar (SD) mau ke menengah pertama (SMP). 

Selepas cukup biaya, ia melanjutkan sekolah menengah atas sendiri (SMA), kemudian berhenti sejenak dan masuk perguruan tinggi.

"Lelaki sejati datangi ayahnya, bukan putrinya," seloroh Andi menunjukan bisnisnya sekarang. Sebuah kata- kata unik yang terlahir dari pengamatan dan pengalaman hidup.

Andi langsung hijarah ke Jogja ketika lulus SMP. Masuk ke SMK, semua biaya merupakan hasil kerja, salah satunya bekerja menjadi pembersih kuburan. Ia harus berpisah dengan kedua orang tua dan tinggal di sebuah panti asuhan.  Disana dirinya bekerja agar bisa menopang biaya sekolah. 
 
Pemuda asli Karawang, Jawa Barat ini, lantas menatap hidupnya dalam kewirausahaan.. Aneka usaha telah dijalani seorang Warsandi. Pertama kali berjualan buah- buahan, jualan gorengan keliling, berdagang asongan, kerja di penggilingan kopi, dan juga membersihkan kuburan. 
 
Untuk soal membersihkan kuburan ternyata dilakoninya pas tamat SDN 03 Rengasdengklok, Karawang, dan juga lagi selepas lulus dari SMP Terbuka 1 Rengasdengklok. Ketika kuliah lantas Warsandi berjualan sendiri. Modal Rp.50.000 disulapnya menjadi bisnis jual Snackdes. 
 
Atau, lebih jelasnya jualan panganan ringan asal desa yang di kampusnya menjadi favorit. Ketika sore telah tiba, Sandi berangkat ke Kaliurang membeli aneka snack, yang kemudan dijualnya kembali. Usaha satu ini berjalan sejak masih siang hingga larut malam.

Untuk malamnya, ia gunakan sebaik- baiknya mengerjakan tugas kuliah. Kemudian ia kembali ke makanan desa itu. Dibungkusinya satu per- satu untuk dijualkan besok. Tidak jarang Sandi bekerja larut sampai pukul 02:00 WIB dini hari.
 

Aneka Usaha


"Lumayan, dari asalnya hanya berjualan snack seharga Rp3.000 per bungkus hingga pernah menjual snack yang seharga Rp10.000 per- bungkus," papar Sandi.

Untung berjualan aneka jajanan desa itu sampai Rp.100.000 per- hari. Sedikit- demi sedikit usaha jualan itu berhasil bahkan bisa mengirimi kedua orang tua. Tetapi usaha itu tidak memuasakannya, sejak 2012, usaha lain sudah digenjotnya sebagai usaha utama. 
 
Matanya tertuju kepada tren usaha clothing di Indonesia sendiri. Dia lantas membuka usaha clothing bernama Naidu Positive. Bermodal awal Rp.3 jutaan sudah bisa berjualan. Ia terus kembangkan sampai menghasilkan omzet Rp12 juta per- bulan. 
 
Sandi mengaku tidak punya pengetahuan sama sekali soal clothing. Semua dijalankan sambil berjalan dan belajar dari berbagai sumber. Salah satunya ya ia pernah mengikuti seminar wirausaha mandiri.

"Selain dapat uang saku, saya juga dapet coaching, pemahaman soal visi- misi, pelatihan marketing, dan membuat laporan keuangan," aku Sandi.

Usaha clothing memang baru bagi pemuda kelahiran 1991 ini. Kios sederhana, namun rapih tertata, ukuran 3 m x 3,5 m memamerkan aneka kaus buatan sendiri. Di ruangan tersebut lah, Sandi melayani sendiri pembeli yang berkunjung. 
 
Namun, ia menjelaskan, usahanya lebih banyak menerima pesanan via online. Tidak kurang ratusan kaus diproduksi dan dipesan lewat internet sampai 1.000 -an.

Keuntungan menjadi pengusaha muda?

Ia sudah bisa meminang gadi impiannya awal tahun 2015. Dia juga mendapatkan pengakuan masyarakat luas lewat ajang Wirausaha Baru Bank Indonesia 2012. Andi juga bisa bersekolah kembali berkat beasiswa Uno Foundation (MRUF) periode 2013- 2014. 
 
Meski sibuk, ia tetap melanjutkan kuliahnya dan tengah mengerjakan skripsi.

"Pintar- pinta membagi waktu saja," katanya.

Selain itu berkat kerja kerasnya, Sandi sudah punya satu unit rumah di Kaliurang. Rumah yang rencananya akan ditinggali ayah dan ibunya, adik- adiknya, dan istrinya. Visi besar Warsandi pun akan tetap diuji dalam hal berwirausaha ini. 
 
"...impian saya mendirikan usaha tingkat internasional," lanjutnya. "Tapi saya mencoba dari hal- hal kecil dan lokal seperti usaha clothing dulu," tutup Sandi.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba