Jual Kerupuk Ceker Usaha Tanpa Merek

Profil Pengusaha Nyoman Wahyuliani


usahakerupukceker.png
 
Usaha tanpa merek atau berjualan sistem curah. Ia jual kerupuk ceker tanpa merek. Kreatifitas memang tanpa batas. Bisa menjadi penopang kehidupan kita sampai esok. Tidak sedikit jiwa kreatifitas terlahir dari kesederhanaan. 
 
Bisnis kreatif yang mengambil ceruk pasar meski dalam kekurangan. Contoh nyata ya Nyoman Wahyuliani, seorang ibu muda yang bertahun- tahun menggeluti satu usaha sendiri; usaha pembuatan cemilan kerupuk ceker.
 

Usaha Tanpa Merek


Melalui sentuhan tangan Wahyuliani menjadi epik. Usaha turun- temurun yang diwariskan oleh sang mertua bisa tetap bertahan. Jika dilihat kemasannya sederhana, tetapi tidak pernah tidak laku di pasaran. Pasar tidak jenuh akan produk kerupuk ceker ini. 
 
Bahkan permintaan terus meningkat setiap tahun. Serbuan cemilan asing atau lokal berkemasan modern tidak menyurutkan. Mereka tidak mampu menggeser gurinya kerupuk ceker.

Selama kualitas produk terjaga dan tidak tergantikan. Kemasan memang tidak masalah, jika kamu pandai- pandai mengambil pasar. Wahyuliani memilih berjualan dari warung ke warung. Menjual kerupuk ceker tanpa ada merek dagang. Usaha tersebut menyasar mereka kelas menengah ke bawah. 
 
Hasilnya? Dia tidak pernah telat mendapat bayaran.



Wahyuliani tidak memaksa harus masuk ke supermarket. Dalam benaknya masuk pasar supermarket butuh modal besar. Tetapi keluarnya tidak mencukupi kebutuhan produksi. Harus memasang merek dan membuat kemasan baik. 
 
Tetapi disisi lain, dia tidak bisa mendapatkan uang sebelum dagangan laku. Bahkan meski ia dibujuk bantuan modal; tidak bergeming. 

Koperasi Srikandi pernah menawari ibu emapat anak ini modal. Dengan syarat harus mau memperbaiki dari segi kemasan. Namun itu belum juga kesampaian. Soal modal sendiri tidak menjadi kendala. Sekali produksi membutuhkan modal Rp.120 ribu. 
 
Itu untuk membeli 10- 12kg ceker ayam. Juga sudah termasuk pembelian bumbu. Ia juga cukup memakai peralatan dapur biasa. Untung yang bisa didapat sekali berproduksi Rp.100 ribu.
 
Mendapatkan bahan baku ceker ayam tergolong mudah. Dia mendapat dari tempat pemotongan di  sekitar Paguyungan. Bahan baku sudah tersedia dalam jumlah cukup. Harga bahan baku juga sudah terjangkau. 
 
Dia membandingkan dengan harga daging ayam; ceker ayam jauh lebih murah. Ditingkat pengecer harga jualnya kisaran Rp.10 ribu per- kilo. Harga semakin murah jika punya koneksi membeli langsung.

"Bahan baku selalu saya dapatkan di tempat pemotongan ayam. Dalam sekali produksi saya hanya bisa mengolah 10-12 kg ceker ayam mentah," tutur Wahyuliani.

Pembuatan kerupuk ceker akan dikerjakan oleh dia dan kaluarga. Dari proses paling awal hingg akhir sudah dihafal diluar kepala. Dimulai dari membersihkan ceker dari kotoran, kuku, kulit yang berwarna kekuningan, yang terkadang terbawa dikulit ceker. 
 
Usai dicuci bersih tinggal masuk tahap perebusan. Tahap inilah yang menjadi tahap penting dalam proses pemasakan. Ceker ayam musti direbus dengan tingkat kematengan pas tidak kurang. Kalau kurang matang maka akan susah memisahkan tulang. 
 
Kalau terlalu matang Wahyuliani mengingatkan itu akan hancur. Selepas direbus kemudian ditiriskan sambi diangin- anginkan. Barulah selepas itu masuk ke tahap pemisahan tulang. Menurut wanita 38 tahun ini, menjadi bagian tersulit dan memakan tenaga lebih banyak. 
 
"Biasanya saat mengerjakan proses ini saya dibantu oleh suami," tuturnya.

Proses pembubutan tulang itulah paling susah. Dia menyebut bahwa ini tersulit, apalagi ketika pesanan datang banyak. Ceker ayam yang telah bersih dari tulangnya diberi bumbu. Proses pembumbuan gampang loh cuma pakai bawang putih, garam, dan penyedap. 
 
Setelah dibumbui kemudian dijemur. Kemudian kamu campur itu dengan tepung beras agar teksturnya lebih baik. Usai itu tinggal digoreng, dikemas, kemudian bisa langsung dijual.

"Ceker tidak bisa langsung digoreng dihari yang samam," tutur Wahyuliani kepada Tabloid Galang Kangin.

Ketika direndam air bumbu maka baru besoknya digoreng. Tujuannya apalagi kalau bukan agar bumbunya meresap. Dia menjual kerupuk ceker ayam itu ke warung- warung terdekat. 
 
Disekitar tempat tinggalnya, namun kerap juga Wahyuliani menerima pesanan, yang mana akan diambil langsung oleh konsumen di rumahnya. Meski dijual tanpa merek tetap berjaya.

Kue Kering Bisnis Bulan Puasa Menjanjikan

Profil Pengusaha Yeffi Rahmawati 


bisnisbulanpuasa.png
 
Bulan puasa menjanjikan keberkahan berupa rejeki. Kue kering bisnis musiman tetapi hasilkan banyak keuntungan.  Pemilik usaha kue kering ini akan menceritakan kiat suksesnya. Yeffi Rahmawati pemilik bisnis Evita Cakes, bercerita ke Kompas.com apakah bisnis musiman ini, benar- benar menghasilkan. 
 
Maka jawabanya adalah "Iyah". Awalnya bisa dimulai dari hobi membuat kue ketika lebaran. Kemudian lewat marketing mulut ke mulut kisah lezatnya kue buatan Evi menggaung.
 

Rahasia Sukses


Hingga sekarang, kalau Ramdhan tiba, Evi akan siap sedia aneka peralatan membuat kue. Berawal sekedar hobi membuat kue dan aneka parsel. Dia memulai memenuhi kebutuhan pesanan teman. Juga menjalar ke kerabat, sampai  tetangga juga keluarga. 
 
Kue enak yang dibuat berdasarkan pesanan terlebih dahulu. Istilah kata Ramdhan bulan berkah termasuk soal pemasukan. Usaha apa saja yang menjelang Ramdhan pasti akan laku.

Tetapi apakah benar begitu adanya. Dia merasakan potensinya dalam dua tahun berjalan. Usaha kue kering bisa sukses asal punya tekat. Lezatnya kue bikinan sendiri bisa terbawa sampai nanti tahun berikutnya. Evi menyebut banyak orang tak mau repot membuat kue sendiri.
 
 "Solusinya adalah mereka mencari penjual kue kering," ujarnya singkat.

Aneka kue kering khas Ramadhan dijual Evita Cakes. Seperti kue nastar, putri salju, kue kacang, kastangel, kacang mede, kacang mede pedas manis asam jawa, dan cheese stick. Itu semua memang andalan produk Evita Cakes. 
 
Jenisnya memang sama dengan yang ada di pasaran. Resep sukses bisnis kue Ramdhan alanya ada di tidak perhitungan soal bahan. Kemudian lebih murah setengah kilo dibanding lainnya.

Alhasil kue kering karyanya menjadi lebih kaya rasa meski murah. Untuk lebih mengurangi biaya produksi, ia juga memilih menjual ketika ada pesanan. Dia akan langsung membuat fresh from the oven. Harga akan dia sesuaikan antara Rp.37.500 sampai Rp.150.000 per- toples. 
 
Kalau mau jenis cheese stick yang notabennya paling laris dicari. Evi menjualnya pakai kantong plastik.

"Karena banyak permintaan yang tidak ingin pakai kemasan, saya jual dengan menggunakan kantong plastik kemasan ukuran ¼ kg dan 1 kg. Harga perkilo Rp 140.000," terangnya.

Bisnis ini sudah dijalankan olehnya sejak masih gadis. Diumur 22 tahun, masih berkuliah, dan sudah memulai bisnis kue khas Ramadhan. Dia awal sekali menjual kue- kue berat. 
 
Macam kue brownies, cake tape, atau banana cake, lalu mencoba sampai ke kue kering. Evi menjajakan kuenya ke teman kuliah, sampai akhirnya dia bekerja, dijajakan teman sekantor. Nama Evita sendiri datang dari nama panggilan Evi dan suami Tata. 
 
Menurut penuturan Evi, bisnis kuenya ini sudah dikenal masyarakat luas. Tidak cuma Jakarta bahkan menyambar sampai Malaysia. Saking banyaknya sampai harus ada pegawai membantu memenuhi pesanan. Di rumah Evi sendiri sudah ada 20 orang pegawai pembuat kue.

"Semenjak ada internet (sosial media) orderan kue terus bertambah," ujarnya. Mereka yang membeli dari sosmed kebanyakan pelanggan. Kemudian merambah ke orang lain lewat saran mereka. Evi menyebut harus ada sikap mempertahankan kualitas. 
 
Harus memiliki standarisasi agar bisnis musiman khas Lebaran ini tetap berjaya. Kemasan menarik juga meningkatkan minat pembeli. Dia menyebut bahwa apa yang diperhatikan oleh pembeli adalah kemasan luarnya. 
 
Evi menyebut pula kalau mau bahan pengawet dan pewarna, harus pakai yang khusus makanan. Untuk pemilihan bahan baku maka gunakan bahan- bahan berkualitas. Jangan lupa perhatikan tanggal kadaluwarsa. Kita tidak boleh membahayakan kesehatan masyarakat.

"Kue kering saya kebetulan tidak pakai bahan pengawet karena masih fresh," jelasnya. Menurut Evi untung berjualan kue kering mampu awet enam bulan tanpa bahan pengawet.

Dia fokus pada kemasan agar menarik masyarakat mencoba. Sementara itu kualitas rasa yang mumpuni bisa menarik mereka menjadi pelanggan tetap. Dia menggunakan berbagai macm bentuk toples kedap udara.
 
Atau juga menggunakan kertas mika yang ditutup rapat kedap udara pakai plaster transparan. Evi juga tak lupa menambahkan hiasan dan nama merek diatasnya.

Fotokopi Percetakan Xerography Bisnis Prima

Profil Pengusaha Harjanto Sudarsono 


bisnisprima.png
 
Bisnis prima fotokopi percetakan Xerography. Pengusaha. Bernama Harjanto Sudarsono begitu asing ditelinga kita. Apasih bisnis pengusaha muda yang satu ini. Dia cuma seorang pengusaha fotokopi. Lantas apa hebatanya dari usaha tersebut. 
 
Usaha yang katanya merupakan satu warisan keluarga. Sebagai seorang penerus bisnis keluarga ceritanya sangat menarik. Dimulai ketika usia Harjanto masih 22 tahun di 1992.

"Saya mendapatkan warisan usaha itu setelah ayah saya meninggal dunia tahun 1992," kenang Harjanto lagi.
 

Pengusaha Fotokopi Percetakan


Terpaksa itulah kata pertama terucap dari mulutnya. Terpaksa dijalankan, awalnya usaha fotokopi ini ya seperti fotokopi biasanya. Tidak memiliki perbedaan dibanding pesaingnya. Orang tua Harjanto menyewa satu tempat di kawasan pasar tradisional di Bogor, Jawa Barat. 
 
Usaha fotokopi standar dimulai sejak 1987 dan benar- benar tidak menarik perhatian Harjanto. Lebih- lebih dia harus meninggalkan bangku kuliah. Padahal masih ada dua orang kakak, yang pada akhirnya menyerah tanda tak sanggup. 
 
Ya, dia pun terpanggil melanjutkan, menghadapi tantangan dari bisnis sebagai orang super awam. Ditambah fakta sang ayah punya tanggungan hutang Rp.100 juta. Tidak mau patah arang mulailah dari nol lagi. Hal pertama dilakukan olehnya kala itu adalah membongkar sendiri mesin fotokopi tua.

Jadilah mesin fotokopi menghasilkan kopian bagus. Untuk menekan biaya produksi, dia memilih membeli mesin fotokopi bekas. Diperbaikinya sendiri kemudian dijadikan layaknya baru. Soal satu ini dia mau belajar sendiri karena terpaksa. 
 
Mau gimana lagi, Harjanto memang awam soal bisnis fotokopi, istilahnya kalau pun ditipu mekanik, dibelikan suku cadang palsu, ya alamat nasib sial. Untung semangat belajar Harjanto masih kuat.
 
Semua belajar otodidak dari menjalankan dan sampai bisa memperbaiki mesin fotokopi. "Saya terus belajar sampai bisa bongkar pasangs sendiri," jelasnya. Bisnis fotokopi memang masih menjanjikan kala itu. 
 
Dalam rentang waktu cukup singkat sudah bisa tumbuh stabil. Hingga, tahun 1996, Harjanto mantap membuka satu cabang di Cibinong, Bogor. Terus berekspansi bahkan sampai ke luar kota. Dia resmi mendirikan perusahaan PT. Xerography Indonesia. 
 
Dilakukan bersamaan pembukaan cabang fotokopi pertama di Jakarta. Terus berekpansi sukses Xerography mampu meluniasi hutang sang ayah. Dia membayar melalui sistem mencicil. Barulah terlunasi ketika masuk ke tahun 2000 -an. 
 
PT. Xerography sendiri berkembang tidak cuma fotokopi. Bisnisnya telah merambah bisnis percatakan.

Kunci Bisnis Prima

 
Kunci sukses bisnis fotokopi alanya: pelanggan harus terpuaskan. Layanan prima selalu ditonjolkan seorang Harjanto Sudarsono. Prinsip jujur pantang menyerah menjadi cara pemilik dari PT. Xerography ini. 
 
Alhasil, dia menakankan pelayanan menjadi modal utama. Ambil contoh kisah seorang artis yang datang ke tempatnya. Dia memintanya membuatkan buku mewah. Soal anggaran sang artis sama sekali tidak ambil pusing.

Soal anggaran tidak masalah asal hasilnya bagus. Terkejut, sang artis mendapati Harjanto menyarankan dia memakai kertas murahan. Kertas HVS berawarna kuning tersebut pasti membuat bergidik. Tetapi ia terus mencoba meyakinkan bahwa ini cocok. 
 
Pada akhirnya sang artis terkesan atas penjelasan Harjanto soal pilihan tersebut. Dia berpikira kalau buku perjalanan karir baiknya pakai kertas ini.

"...pakai kertas HVS kuning yang menimbulkan kesan kuno," kata Harjanto.

Tentu bukan serta mereta begitu. Awal dibuatlah dua versi buku yaitu kertas mahal dan HVS kunging murah tersebut. Ternyata terlihat "wah" justru kertas berwarna kuning tersebut. Dia meyakini meski pelanggan bisa mahal; harus bisa tidak berasa kemahalan. 
 
Intinya memberikan pelayanan meyakinkan. Kalau mahal tetapi ternyata cuma bua mengambil untung besar dan hasilnya jelek. Sampai sekarang sang arti itu menjadi pelanggan tetap. "Intinya saya tidak ingin pelanggan merasa kemahalan dan memikirkan keberlanjutan," pungkasnya. 
 
Selain itu, ia juga menyampaikan layanan cek ulang file dicetak. Meyakinkan bahwa barang dibawa oleh pelanggan benar. Itu sudah termasuk satu layanan konsultasi bahan kertas paling tepat. Dia menuturkan proses awal ini penting karena 70% biaya tergantung bahan cetak.

Harjanto menyarankan bahwa desain mewah tidak tergantung bahan mahal. Efek mewah muncul kalau saja bahan itu sesuai penggunaan. Selain itu sudah termasuk aspek penghematan biaya. Pentingnya konsultasi jadi andalah usaha fotokopi miliknya. 
 
Usaha lain, dia menyiapkan tim tersendiri, yakni satu tim desain yang sudah punya pengalaman mendesain. Buktinya ialah kemanangan atas ajang desain bertingkat Asia kategori Art Fotobook. Dia cuma berharap apa yang dilakukanya mampu memuaskan pelanggan. 
 
Layanan prima menjadi andalan utama seorang Harjanto. "Dengan begitu bisnis bisa berkembang," ujarnya singkat. Dia juga percaya diri bisa memenangkan sengitnya persaingan bisnis fotokopi.
 
Kalau mungkin di bisnis lain pegawai adalah aset. Menurutnya pegawai merupakan rekan kerja yang harus diajak kerja sama. Dia pun tidak segan mengadakan pelatihan dan pendidikan bagi mereka. Bahkan sampai ke luar negeri segala. 
 
"Pernah dua orang, kami training sampai ke Singapura," paparnya. Adapula yang bisa sampai ke Jerman mengunjungi pameran mesin fotokopi. Sekitar 20% karyawan sudah menikmati aneka pelatihan ini.

Semua penting bagi perkembangan si karyawan sendiri dalam bekerja. Ia bahkan tidak memandang bulu tentang siap orangnya. Ambil contoh seorang office boy cerdas yang diberinya kesempatan belajar bahasa Inggris.
 

Kualitas Pegawai

 
Ini fakta bahwa pegawai bukanlah aset seperti didengungkan. Pria kelahiran Bogor 1969 ini sendiri turun tangan memberi penilaian. Ia tengah membayangkan tim kerja masa depan PT. Xerography Indonesia (XG).

Ia masih punya sejuta mimpi bersama XG. Itulah mengapa dirinya begitu getol memperkuat garis depan dari perusahaan. XG bukan sekedar tempat kerja jelasnya. Kebijakan memberika pelatihan dan pendidikan juga membuat kesal. Lantara pegawai yang sudah belajar malah bekerja di tempat lain. 
 
Ia mengaku hal tersebut sudah sangat sering terjadi. Termasuk pegawai yang sudah mendapat training mesin fotokopi di Singapura itu. Dia sadar bahwa perlu pembenahan di SDM. Agar tidak siapa keluar dari XG akan merasakan rasa ingin kembali lagi. 
 
Sukses di bisnis fotokopi merambaha digital printing. Apalagi hal ingin dicapai seorang Harjanto adalah bisnis XG Cyber. Ia ingin mengembakan percetakan lewat dunia maya. Dia juga berancang membuka waralaba XG. 
 
Itu untuk jangka panjangnya sih. Tetapi dia sudah mempersiapkan betul semua kemungkinan tersebut.

"Kami akan fokus pada percetakan laporan tahunan perusahaan, majalah internal institusi, hingga pelbagai buku," tutupnya.

Kampung Kue Buruh Pabrik dan Pengusaha

Biografi Pengusaha Choirul Mahpuduah


buruhpabrik.png
 
Menjadi buruh pabrik dan pengusaha. Kampung kue merupakan perwujudan pemberdayaan. Ia pernah dipecat perusahaan. Itu tak membuat Choirul Mahpuduah atau Bu Irul  terpuruk. Ia pun menjadi sosok penggagas kampung kue yang terkenal itu.

Dia pernah diliput media asing loh. Ternyata usut punya usut, bukan cuma soal itu, ternyata sosok Irul merupakan satu aktifis buruh. Apa yang dilakoninya sekarang tidak jauh dari buruh dan kaki lima. Terus gimana sih ceritanya? Berikut kisahnya:
 

Buruh Pabrik Jadi Pengusaha


Jauh sebelum dia pernah bekerja menjadi buruh pabrik. Apes karena harus menerima PHK sepihak. Irul bercerita kenapa perusahaan memecat dia. Tahun 1990, dia bekerja menjadi buruh aneka macam di wilayah Rungkut, Surabaya. 
 
Namun tahun 1993 akhir, diberhentikan oleh perusahaan sepihak dan semua karena dia terlalu vokal. Yah, seperti penulis jelaskan dia adalah seorang aktifis. Dia sering menyerukan hak- hak buruh wanita.

Dia menyerukan soal cuit haid dan sebagainya. Irul juga dikenal "profokator" teman- teman buat berdemo. Irul memang getol mengajak buruh bersuara atas hak mereka. Perasaan kecewa berat ketika ia sadar bahwa dirinya dipecat. 
 
Dia merasa yang dituntut telah sesuai peraturan pemerintah. Awal tahun 1994, ia bersama tiga orang kawan mengajukan tuntutan pengadilan. Karena tidak punya uang Irul dan kawan sempat bingung.

Irul lantas mengajukan biaya pengadilan dibebankan ke negara. Hakim sempat menolak hal tersebut. Tetapi berkat kegigihan Irul dan kawan, dibantu pihak wartawan, masyarakat luas dan lembaga swadaya; mereka akhirnya menang.

Irul dan kawan bisa bersuara di peradilan secara gratis. Meski biaya keadilan ditanggu negara tidak semudah itu. Mereka buta akan hukum perburuhan. Untuk itulah, ia aktif belajar sendiri tentang UU buruh dan lain hal soal peradilan. 
 
Dia banyak dibantu para aktifis, LBH, atau wartawan. Kala itu dia sendiri apalagi "musuhnya" punya 6 orang pengacara. Beryukur karena padah akhirnya gugatan tersebut bisa dimenangkan oleh hakim.

Memenangkan tuntutan berarti pemecatan Irul tidak sah. Meski perusahaan menuntut ulang atau banding, sampai Mahkamah Agung butuh waktu sepuluh tahun. Berkat tuntutan dipenuhi oleh Hakim maka Irul bisa bekerja kembali. 
 
Selain itu perusahaan diwajibkan membayar ganti rugi Rp.3 juta. Sayang, kenyataanya, dia tidak bisa bekerja kembali karena berbagai dalih. Uang ganti rugi tiga juta itu juga keluar beberapa tahun kemudian.

Dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Menurutnya ini contoh bagi sesama buruh agar tetap berjuang. Ia juga berharap mereka tidak takut maju ke pengadilan. Untung berkat jaringan aktifis buruh miliknya. Dia tak perlu menganggur berlama- lama. Irul bisa bekerja kembali. 
 
Bukan bekerja menjadi buruh, tapi ikut aktif di seminar buruh, advokasi, membantu buruh lain. Dari sanalah ada uang transport, uang saku, dan sebagainya. Hidup di dunia pergerakan buruh, Irul masih seorang wanita biasa, hidup bersosial dengan ibu- ibu lain di lingkungan sekitar. 
 
Ia tinggal di kawasan sederhana di kawasan Rungkut Lor Gang 2, Surabaya. Di kampung itu kebanyakan berisi pekerja kasar atau kelas menengah bawah. Suatu hari, ia melihat 5orang ibu tengah menjajakan kue. 
 
Mereka berjualan kue cukup lama yakni lima tahun. Sayang tidak kunjung berhasil menjual banyak. Iseng, Irul lantas memanggil mereka diajak berdiskusi. Dibukalah topik tentang usaha apa yang mereka bisa kembangkan di kampung. 
 
Menurut pribadi di kampung yang mayoritas pendatang ini, tersimpan satu potensi tersembunyi. Dalam diskusi tersebut mengerucut tiga hal bisa dilakukan: Membuat aneka kue buat dijual, membuka usaha jahitan, dan membuat sabun cair. Bersama 9 orang ibu dibukalah jahitan khusu jahit celana pendek.

Sayang, setelah berjalan beberapa waktu, usaha jahitan tidak berjalan seperti diharapkan. Setelah memikir ulang apa masalahnya. Dia memutuskan melanjutkan ke bisnis keduanya. Dan mereka mulai membuat aneka kue buat dijajakan. 
 
Cuma berbekal pengetahuan pas- pasan langsung beraksi. Irul mengumpulkan ibu- ibu lewat pos kamling. Seolah aktifis buruh ini tengah mengajak berdemo. Padahal dia cuma mau membahasa masalah ini.
 
Dia memang tengah berdemo di pos kamling. Padahal mengajak berdemo memasak. Pertama kali sekali, Irul cuma membuat jajanan sederhana, yakni jajanan tahu crispy. Ternyata warga kampung antusias apalagi ini hal baru. Tahu crispy terlihat sederhana namun menghasilkan. 
 
Modal dikeluarkannya pun tidak terlalu besar. Ia mulai merayu warga terutama ibu- ibunya. Mereka menanggapi ide Irul antusias. Ini membuat Irul jadi lebih semangat lagi. Pemahanam penting bagi bisnis kue miliknya. Dia sadar bahwa jajanan sederhan penting. 
 
Terutama bagi para warga pendatang Ibu Kota. Kalau tak sempat sarapan, tentu kue ringan bisa menjadi solusi melewati jalanan Jakarta. Kue bisa dijadikan pengganjal perut sebalum bekerja. Para ibu mulai rajin menjual kue buatan sendiri di depan rumah. 
 
Irul juga tidak mau kalah. Jualan kaki lima dilakoninya sebagai bentuk penyemangat. Diawali dari berjualan di depan pagar sekolah. Tepatnya sekolah di sekitar Kelurahan Rungkut Surabaya. Kue buatanya cukup laku disana. 
 
Sayang, ketika Ibu Tri Rismaharini menjadi Kepala Dinas Kebersihan, dia harus menatap kecewa. Pasalnya kebijakan membersihkan trotoar berimbas di bisnis kecil Irul. Program lahan hijau Risma mengganggu karir yang baru dirintis.

"Kesal juga rasanya, pelanggan sudah banyak, kemudian dirobak," luap Irul.

Tetapi ia mengambil hikmah saja peristiwa tersebut. Tidak bisa berjualan tidak membuat menyerah. Apalagi dia menjadi contoh bagi ibu- ibu sekampung. Karena sudah pelanggan bahkan sampai rumah dicari. Mereka mencari Irul sampai ke rumah. 
 
Karena pesanan membludak, tidak segan Irul mengajak ibu- ibu tetangga buat membantu menyetok kue.Semua dilakoni baik pesanan lama atau dadakan. Pagi buta sudah memasak kue, Irul sudah dibantu ibu- ibu kampung mengerjakan kue- kue tersebut. 
 
Mulai dari jam 02:30 sampai 06:00 WIB dimana pelanggan tetap para penjual kue. Dari pedagang kue kaki lima kini menjadi juragan kue. 
 
Hidup Irul berubah 180 derajat dari sebelumnya. Mereka pedagang kue keliling menyebarkan kue buatan Irul sampai pelosok.

"Lumayan, sekarang keuntungan per- hari mencapai Rp.20 juta," ujar Irul.

Ada pula yang cuma dititipkan di Pasar Soponyono, Rungkut. Ditambah pesanan dari acara besar seperti hal pernikahan. Memang bisnis aneka kue ini menggiurkan apalagi dikerjakan gotong royong.

Menjadi Pengusaha

 
Namun, kamu jangan membayangkan akan semudah diatas. Awal sekali, Irul kesusahan membangun jiwa wirausaha dihati mereka. Apalagi ditambah uang modal tidak mencukupi. Sebagian besar warga kampung itu pegawai kelas menengah kebawah. 
 
Ibu- ibu mengeluh kesulitan mencari modal. Irul lantas mengajak mereka patungan Rp.50.000 setiap orang. Uang tersebut digunakan untuk siapa saja yang butuh modal. Beberapa saat akan ada ibu yang meminjam uang tersebut. Ibu itu meminjam Rp.100.000 buat membeli wajan katanya. 
 
Selepas wajan terbeli hingga berproduksi. Selepas uang terkumpul dikembalikan lagi dan lagi dipinjam ibu lain. Begitu seterusnya modal berputar- putar ditengah. Pada akhirnya, usaha tersebut malah jadi satu koperasi bersama. Irul sempat bersedih ketika pinjaman bank ditolak. 
 
Karena kebanyakan bukan warga asli.

"Tidak punya KTP Surabaya, dan disebut tidak punya agunan," kenang Irul. Cara lain dilakukan olehnya ialah lewat PT. HM Sampoerna Tbk, berupa pelatihan pengembangan usaha Sampoerna. Atau mendapat satu sponsor dari PT. Bogasari; Irul agaknya bisa bernafas lega.

Berkat bantuan sana- sini, mereka berhasil sedikit demi sedikit mengangkat nama Kampung Kue. Sudah berbentuk koperasi modal pun lancar masuk. Sampai mereka sudah punya modal uanng Rp.20 juta. 
 
Uang tersebut diberdayakan termasuk lewat berdirinya sebuah perpustakaan. Ia bercerita semua berawal di tahun 2004. Dia pernah diperkenalkan kepada pengurus perpustakan keliling milik perusahaan tertentu.

Melalui pembicara serius ternyata si pengurus berminat. Ia berencana membantu warga kampung. Caranya ialah lewat meminjamkan aneka buku bacaan. Kesempatan itu tidak diabaikan seorang Irul. Bahkan selain buku anak- anak, adapula buku ibu- ibu. 
 
Idenya ialah membangun kamus resep mereka. Hasilnya mereka semakin variatif soal jenis kue. Perpustakan keliling tersebut selalu dibanjiri ibu- ibu ketika datang waktunya. Mereka dibiarkan bereksperimen sendiri. Aneka kue dibuat menurut keinginan masing- masing. 
 
Mereka juga saling mengevaluasi hasil eksperimen. Semua penuh optimisme, warga kampung semakin bergairah berjualan. Irul bersama 60 orang anggota semakin mantap menatap. 
 
 
Apalagi semenjak ada bantuan Taman Bacaan Masyarakat dari sosok Walikota Surabaya sendiri. Yah, Tri Rismaharini kembali "berbenturan" dengan sosok Irul. Warga kampung mendapatkan harapan baru menambah penghasilan. 
 
Disisi lain, lewat adanya TBM juga ikut mencerdaskan anak- anak perkampungan ini. Satu pos kampling telah disulap oleh Pemkot dijadikan taman bacaan. Disana juga dipasangi akses internet membuat lebih mudah. 
 
Kalau sebelumnya para ibu akan datang sesekali (ketika mobil perpustakaan datang). Kini, mereka sudah bisa datang kapan saja bebas membaca buku resep. Mereka juga bisa membaca resep lewat browsing di internet. 
 
Alhasil Kampung Kue semakin bersemangat untuk membuat aneka resep baru. Kampung mereka mulai dikenal luas oleh masyarakat luas. Banyak warga kampung lain datang memesan kue. Warga Kampung Kue pun tidak perlu berjualan di luar kampung lagi. 
 
Justru penjual kue keliling yang datang ke kampung mereka. Sejak dini hari sudah terlihat aktifitas produksi kue.

Sejak pukul 04:00, para penjual kue keliling sudah berjubel menunggu. Mereka menunggu kue mereka siap diedarkan. Untuk nama Kampung Kue, sejak 2010, resmi diresmikan sendiri oleh sang penggagas Choirul Mahpuduah. Semenjak itupula nama kampung pendatang itu berubah nama. Pemberian nama itu memang sengaja dilakukan sebagai bentuk brand awareness. Lewat kesepekatan warga, nama Kampung Kue makin diresmikan.

Jumlah produsen kue total 65 orang. Cakupan produsen tidak lagi menyebar di satu gang. Sudah mengular merembet ke gang- gang sekitarnya. Perputaran uang di tempat ini mencapai Rp.25 juta. Varian kue sudah mencapai 70 jenis, seperti onde- onde, lemper, terang bulan, tiwul, ketan, lapis, putri ayu, roti kukus, dan bermacam kue kering. Adapula nasi kuning kotakan seharga Rp.1000- Rp.3000. Pembelian juga termasuk untuk hajatan.

Ibu- ibu Kampung Kue juga sering dipanggil menjadi pembicara. Mereka mengajari cara pembuatan aneka kue enak. Honor dari kegiatan tersebut akan dimasukan ke kas kampung. Menurut suami Irul, Riyadi, yang menikahinya sejak 2001, yang dulunya juga buruh pabrik menyebut usaha mereka lebih menjanjikan. Lebih dari sekedar menjadi buruh pabrik perusahaan. Ia rela keluar perusahaan agar bisa membantu Irul membuat kue.

Sementara itu Irul sendiri masih aktif menjadi aktifis. Meski sibuk mengurusi Kampung Kue, dia tidak lupa akan vokalnya, bahkan diangkat menjadi ketua serikat pekerja rumahan. Sosok tepat untuk digambarkan sebagai pengusaha sosial. Menurutnya, makna dari Serikat Pekerja Rumahan, menyangkut dua karir yang digelutinya: Pertama, mengurusi pekerja rumahan seperti pembuat kue ini. Kedua ya pekerja buruh diluaran sana.

Usaha Keripik Sayur Sederhana Omzet 9 Juta

Profil Pengusaha Sunarsih Hariwati 


usahakeripik.png

Usaha keripik sayur sederhana memberikan harapan. Buat ibu- ibu kalau sudah bosan keripik aneka buah. Pengen mendapatkan penghasilan tambahan, maka jualan keripik sayur merupakan pilihan. Dari jualan keripik wortel, sayur kubis, kacang panjang atau wortel bisa,
 
Dikutip dari Koranjitu, seorang pengusaha asal Jaten, Karanganyar, sudah sejak 1997 -an, Ibu Sunarsih Hariwati memulai usaha aneka keripik sayuran. Dibawah label Chrisna Snack, Sunarsih awalnya cuma memproduksi keripik daun bawang. Bisnis pertama yang masih level rumahan.

Jualan Keripik Sayur

 
 
Ibu Sunarsih memulai dari jajanan bernama luncang. Atau, bisa juga disebut jajan cumi- cumi atau kalau kamu bingung. Itu adalah keripik daun bawang khas, yang sayang tidak cukup memuaskan. Para pelanggan inginkan hal berbeda dari Sunarsih. 
 
Jawaban atas itu ada di potensi daerah yang penghasil sayur. Ia menciptakan inovasi dibidang keripik. Kalau di Malang terkenal keripik buah, maka ini keripik sayur khas Karanganyar.

Daerah tersebut memang penghasil sayur mayur. Sayang, banyak miris karena dia banyak melihat banyak orang dewasa tidak suka sayur. Kalau yang tua saja tidak suka sayur. Tidak dibayangkan Sunarsih apa yang terjadi kepada generasi muda. 
 
"...jadi saya bikin bentuk keripik," pungkasnya. Disela- sela kegiatan produksi keripik dia bercerita.

Memang masih tergolong usaha rumahan atau home industry. Pekerjaan produksi juga masih dikerjakan oleh keluarga sendiri. Jumlah ada empat orang karyawan (masih keluarga) selain dirinya. 
 
Kendala terbesar keripik ini menurutnya cuma masalah mesin saja. Oleh karena itupula dirinya enggan mengangkat karyawan lain. Dia masih betah dengan usaha nan sederhana. Wanita kelahiran 17 Desember 1962 ini belum punya mesin besar buat berproduksi.

Sekitar 6- 7 tahun lalu, ada kegiatan jalan sehat yang dihadiri Bupati Rini Iriani, melihat sukses Sunarsih yang mampu mengangkat potensi daerah. Tanpa segan pemerintah daerah menawarkan pembinaan. 
 
Ini disambut baik olehnya melalui ikut serta pembinaan. Dampak dari pembinaan ialah terjalin kerja sama antara produk Sunarsih dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kab. Karanganyar. Rina sendir tertarik akan usaha ini.

Usaha Sederhana


Sunarsih memilih sayuran terbaik di daerah Karanganyar. Dipilih terlebih dahulu barulah dibuat keripik sayur. Untuk keripik daun kenikir pilihan harus berdaun hijau tua. Ini mengandung anti- oksidan tinggi bila dikonsumsi. 
 
Adapula wortel berawarna cerah diambil dari daerah bernama Cepogo. Dipilih yang berwarna orange cerah. Kemudian keripik kacang panjang yang hijau cerah. Ia mengaku tidak mengalami kesulitan bahan baku.

Cukup dibeli di pasar terdekat semua tersedia. Setelah terkumpul, sayur kenikir, wortel, dan kacang panjang langsung diblender halus. Adonan dihaluskan diberi bumbu biar terasa gurih dan dicampur tepung. Selepas itu kamu bisa campur hingga kalis. 
 
Adonan siap dipotong- potong berbentu sesuai keinginan. Adonan keripik tinggal digoreng saja hingga kering. Selepas itu, Sunarsih biasanya akan segera mempacking agar tidak cepat rusak.

Sebelum dipacking jangan lupa ditimbang dulu ya. Chrisna Snack menghabiskan 10kg sayuran untuk empat jenis keripik. Packing kemasan terdiri dari ukuran 175gram, 1,5kg, dan 3kg. Untuk ukuran 175gram seharga Rp.9000. 
 
Kemasan 1/2kg seharga Rp.17.000 dan kemasan 3kg seharga Rp.105 ribu. Buat kamu yang mau jadi reseller ada kesempatan besar. Tentu Sunarsih sudah menyiapkan harga grosir atau potongan. Soal pemasaran sementara sekitar Surakarta, lewat toko roti, toko oleh- oleh, dan reseller perorangan. 
 
Kalau ada tamu dari luar kota datang di Karesidenan Karanganya, maka Sunarsih siap menyetok kebutuhan makanan khas. Dari situ sudah mengantongi omzet Rp.9 juta per- bulan. Tambahan pemasukan meningkat jika sudah masuk di musim lebaran.

Kendala maka ada dua: kendala permodala yang masih mengganggu. Istri dari Kristianto Wicaksono ini, yang kerap merasakan namanya di PHP soal modal usaha. "Waktu pelatihan katanya ada bantuan tapi sampai sekarang belum ada kejelasan," jelas Sunarsih. 
 
Karena minim modal kalau ada yang minta sistem titip. Sunarsih harus berpikir dua kali kalau tidak laku. Bayangkan kalau tidak laku mau modal apa produksi lagi.

"Padahal saya butuh uang untuk perputaran modal," keluhnya. Ibu Sunarsih memang selama ini turun tangan langsung.

Jika tidak maka rugi apalagi tidak punya karyawan. Hitunganya rugi juga kalau memakai sistem titip. Padahal mimpi Sunarsih termasuk memberdayakan petani. Sistem titip maka uang datang ketika barang laku terjual. 
 
Dia juga berharap bantuan berupa mesin. Saat ini cuma mesin kecil berproduksi terbatas. Bila saja mesin besar tentu bisa berproduksi sampai luar Surakarta. Dan, itu akan membuka lapangan pekerjaan baru di sekitar.

Alamat: Chrisna Snack Perum. Josroyo 19 RT 7 RW 20, Jaten, Karanganyar
Telepon : 085647229748

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba