Kopi Salak Usaha Brownis Pengusaha Shelly

Profil Pengusaha Shelly

 

jualkopisalak.png
 

Pengusaha Shelly (45) membuat usaha brownis salak. Dia juga menciptakan kopi salak. Dari keduanya mampu hasilkan puluhan juta. Awal dia dipaksa menjadi ibu rumah tangga biasa. Shally pernah menjadi wanita karir. Dia memiliki tiga orang anak dan suami pegawai.

 

Sampai suatu ketika suaminya kehilangan pekerjaan.  Shally yang ibu rumah tangga turun tangan lalu turun tangan, karena tiga anaknya butuh biaya. Salak merupakan buah tropis umum ditemui di rumah- rumah. Shally kemudian menjajal mengolah salak menjadi bahan baku. 

 

Pertama dia membuat brownis berbahan baku salak atau brownlak. Kemudian dia membuat kukis salah (kuklak), ebi salak (sambilak), ayam geprek sambilak, kerupuk salak, kopi biji salak (kojilak), teh kulit salak (tehulak), sari buah salak (sarlak), dan terakhir asinan salak (sinlak). 

 

Hobi Memasak

 

Ia memang senang mengolah makanan. "Saya sukanya ngolah-ngolah makanan, terus yang ada di rumah waktu itu bapak seringnya beli salak untuk makanan, jadi mulainya dari yang mudah di dapur terus mulai ngolah- ngolah salak," jelasnya.


Dari brownis salak kemudian dia posting ke sosial media. Responnya bagus tidak disangka. Maka ia berpikiran, "kayaknya oke nih diseriusin." Awal dia membuka usaha lewat rumah, sampai memiliki dapur sendiri mempekerjakan 3 pegawai.


Dia sudah memiliki segala perlengkapan pendukung produksi. Bisnis pengusaha Shally berkembang menghasilkan omzet Rp.20 juta. Tantangan terbesar ialah dia harus mengajak orang mencoba. Karena produk ini terbilang baru, unik, masih sangat asing di masyarakat.


"Bisnis saya kan masih cukup awam ya salak dibuat seperti ini, jadi masyarakat mau coba mungkin takut nggak enak," lanjut Shelly. Bisnis baru tersebut memang membutuhkan pekerjaa ekstra. Untung dia merupakan mantan karyawan bekerja puluhan tahun.


Diusia 40 tahun sudah memiliki pengalaman kerja. Dia juga memiliki hobi membuat kue. Shally dulu pernah menempati posisi PR, jadi terbiasa melakukan branding. Pengusaha Shelly menciptakan kue brownis nikmat berbahan buah salak.


Salak dipisahkan bijinya kemudian dibuat bahan kue brownis. Pembuatan brownis seperti biasanya hanya ditambahi salak. Kalau teh dan kopi memakai alat namanya dehydrator atau pengering. Buah dan biji dibersihkan, dimasukan ke dalam, bentuk alatnya kayak oven tetapi berfungsi menghisap.

 

"Kita masukan alatnya kayak oven cuma dia ada blowernya, jadi dia kering mengambil cairan dalam kulit dan biji," imbuhnya.


Bukan memanaskan tetapi menghisap kering saripati buah dan biji. Cairan diserap sampai benar- benar kering, kalau kulit langsung haluskan. "Kita ayak terus jadi bubuk, kita packing dalam kemasan olive oil," tuturnya, menjelaskan proses pembuatan teh salak.


Efek pandemi memang mempengaruhi bisnis Shelly. Omzetnya turun sampai 50% dan reseller banyak tutup di daerah. Bahkan reseller Singapura tutup dikarenakan pandemi. Sumber pendapatan Shelly adalah marketplace seluruh Indonesia.


Dulu 20 juta didapat sekarang Rp.10 juta sudah bagus. Sempat terpuruk sepanjang perjalanan bisnisnya mulai membaik. Awal Shelly sempat zonk sekali selama tidak ada kegiatan. Efek pembatasan sangat berasa, begitu dikurangi batasan tampak usahanya mulai bangkit. 


Dia sudah dapat 50- 100 pesanan box set ready to eat. Kemudian dapat pesanan dari Cimory, pesanan kukis salak dikirim ke sentra yogurt tersebut. 

 

Dulu pengusaha Shelly mengeluarkan modal Rp.50 ribu. Itu dipakai membeli bahan baku salak dan kelengkapannya. Tapi kalau dihitung, semenjak 2016, dia sudah mengeluarkan uang Rp.50- 100 juta sepanjang jalan. Uang segitu buat awalan lantaran dia memang sekedar ingin mendapat pemasukan.


"Jadi saya mulainya dari yang ada. Saya istilahnya cuma beli salaknya saja waktu itu masih Rp.5000 perkilo, terus beli coklatnya, sama kemasannya," ujarnya.


Demi mendapatkan produk berkualitas maka bahan baku juga terbaik. Shelly memilih bahan salak dan yang baik dan bagus. Langsung diolah sekali belanja 30 kg buah salak biar tidak membusuk. Tidak ada limbah yang tersisa dan terbuang.


Dari kulit, buah, dan bijinya diolah menjadi produk. Bagian biji dijadikan kopi sedangkan kulitnya jadi bahan teh. Bahan brownis memakai daging, termasuk bahan kerupuk dan sambal memakai daging. Teh dibuat memakai kulit yang dikeringkan pakai mesin, digrinder halus, tidak pakai perasa atau pewarna.


Produk teh dan kopi proses pembuatanya lama sampai seminggu. Proses oven membutuhkan waktu berkali- kali, sampai keluar aroma kopi dan tehnya. Harga jualnya Rp.15 ribu untuk kruplak, sinlak, dan sanlak.


Harga ayam penyet sambilak sampai Rp.75 ribu. Jualannya lewat @salakuolahansalak sudah siap lewat aplikasi pesan antar. Bila jauh ia menyarankan produk frozen food, kerupuk, teh dan kopi. Dan buat produk asinan masih bagus dikirim ke Jawa Barat dan Jawa Tengah, ongkos kirim 2 hari lumayan.

Miliarder Pupuk NPK Kisah Pengusaha Yohanes Nugroho

Profil Pengusaha Yohanes Nugroho Hari

 
miliarderpupuk.png
 
Kisah pengusaha Yohanes Nugroho Hari Hardono berhasil. Dia adalah miliarder pupuk NPK. Sebab dia merupakan pendiri dan pemilik Saraswanti Group. Bisnis utamanya memproduksi pupuk NPK buat kepentingan petani.
 
Ia tak pernah berpikir akan menjadi pengusaha. Di kehidupannya kala itu, semuanya telah nampak menyenangkan. Sampai dirinya berumur 30 tahun, sudah berkeluarga dan memiliki rumah nyaman tipe 70, ditambah sebuah mobil Kijang. 
 
Tiap hari minggu akan digunakannya untuk pergi ke Gereja bersama keluarganya. Ia kala itu hanyalah seorang general manager di perusahaan pupuk alam di Mojokerto, Jawa Timur. 

"Saya sudah nyaman di situ. Untuk hidup, ya, sudah cukup, walau tidak lebih," kata pria paruh baya ini. 
 
Hari, begitulah nama sapaannya, telah cukup lama bekerja di tempat itu. Sampai suatu saat di tahun 1998, sebuah peristiwa memicu kekecewaan Hari. Di umur 35 tahun, ia mendapati dirinya berkeinginan untuk membangun perusahaan sendiri.
 

Rahasia Pengusaha 


Kedudukan tertinggi telah digapainya dan hanya terpaut satu garis dengan sang atasan. Hari mau tak mau, harus membuka bisnisnya sendiri. Bisa ditebak ide bisnisnya tak jauh dari pupuk. Ia berencana membangun sebuah pabrik pupuk NPK. 
 
Pupuk yang mengandung 3 komposisi utama yaitu natrium, fosfor (phosphor), dan kalium sekaligus. Kala itu, meski pupuk NPK sudah dikenal lama, aplikasi di lapangan masih jarang. Kebanyakan perkebunan saat itu masih menggunakan pupuk tunggal, antara lain pupuk urea.

Modalnya hanya nekat, dan sebuah rencana rapi yang telah direncanakan jauh- jauh hari. Hari telah mantap menggarap bisnis pupuk NPK.Dirinya yakin kebutuhan akan pupuk jenis ini akan meledak. 
 
"Saya sudah membayangkan bahwa kebutuhan pupuk NPK tak terhindarkan lagi mengingat semakin sulit perkebunan mengumpulkan satu-satu jenis pupuk," terangnya. Hari pun meminta sang adik bungsu, Adhi Harsanto, mempersiapkan pembangunan pabrik.

Tiga bulan kemudian, dia baru mundur dari pekerjaan. Ia harus berkonsentrasi penuh atas bisnis barunya ini. "Saya siapkan Rp 10 juta untuk mengurus perizinan. Tabungan saya serahkan istri untuk membiayai hidup keluarga selama enam bulan. 
 
Kalau saya gagal, saya akan cari pekerjaan lagi," lanjut Hari. Disaat mengurus perijinan keberuntungan itu menghampiri dengan sendirinya. Pemerintah sendiri yang menawakan kemudahan demi kemudahan.

Mereka, Departemen Perindustarian,  menawarkan 60 pekerja siap pakai untuknya. Dan, pekerja tersebut akan digaji oleh pemerintah selama enam bulan. Dari tawaran tersebut, Hari akhirnya hanya bisa menampung separuhnya. 
 
Ternyata, 16 orang di antaranya meminta keluar setelah dua minggu bekerja. Kemudahan lain, seorang koleganya yang memiliki mesin pengolahan mau meminjamkan mesinnya. Andai ia gagal dengan bisnisnya, maka mesin bisa dikembalikan tanpa biaya.

Dilengkapi modal ratusan juta serta modal tambahan dari seorang teman. Hari mulai mengibarkan nama PT. Saraswanti Anugrah Makmur (SAM), berkantor di sebuah gudang sewaan seluas 600 meter persegi. "Kami berproduksi saat ada order. Hanya enam bulan mesin terpakai," tuturnya. 
 
Namun setelah beberapa lama bisnisnya tumbuh lancar. Salah seorang anak buahnya di pekerjaan lama telah memilih untuk keluar. Dia, Yahya Taufik, bergabung dengan bisnisnya. Sesungguhnya Yahya sudah tercatat dalam akta pendirian perusahaan sebagai pemilik sejak awal berdiri. 
 
Ia bersama Adhi dan Yahya, dan Hari telah berbagi kepemilikan saham SAM hingga sekarang. Pada tahun kedua, pesanan pupuk NPK telah meningkat tajam. Dari dua tahun, seluruh mesin telah digunakan dalam produksinya. 
 
Barulah di tahun ketiga pabrik miliknya berproduksi penuh setiap harinya. Kelancaran usaha terus mendatangi hidupnya. Meski begitu, bukanlah berarti Hari cuma akan mengandalkan hoki saja. Keberhasilannya menembus pasar adalah buah dari kejelian dia menyusun strategi bisnis. 
 
Salah jurusnya menggandeng Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan. SAM memproduksi pupuk yang memiliki formula hasil penelitian lembaga itu, yang telah disesuaikan dengan karakter masing-masing kebun pemesan. 
 
Jurus merangkul pusat penelitian seperti itu juga dia terapkan untuk membidik kebun kopi, kakao, dan tebu.

"Saya membayar royalti hingga Rp 7 miliar setahun," kisah pengusaha ini. Ia mengawali semua tanpa cita- cita namun bukan hanya berhenti sekarang. Bisnisnya telah menguasai 3,5% pangsa pupuk NPK nasional. Dan, ia ingin mengibarkan SAM hingga menembus 10% pangsa pasar.

Iim Fahima Jachja Pengusaha Investor Blue Chip

Profil Pengusaha Iim Fahima Jachja

 
 
profilpengusaha.png
 
Profil Iim Fahima Jachja lahir di Semarang, Jawa Tengah, 7 Februari 1978 ini, merupakan pengusaha investor. Diusianya ke 27 tahun telah memilih jalan melalui dunia digital. Dia seorang investor loh. Ia memadukan dunia digital dan konsultasi perusahaan blue chip. 
 
Dia menamatkan pendidikan dari Akademi Komunikasi Media Radio dan Televisi, telah memiliki hidup yang nyaman dengan pekerjaannya. Dia bersama suaminya, Adhitia Sofyan, keluar dari perusahaan agensi periklanan. 
 
Mereka memutuskan membangun bisnisnya sendiri dari melalui sebuah komunikasi. Mereka menjadi pengusaha dibawah bendera Virus Communications. 
 

Bisnis Konsultasi

 
Dia memulai karirnya sebagai seorang copywriter. Tepat di 2002, di usia 24 tahun, Iim telah mapan secara finansial sebagai kepala senior copywriter di sebuah agensi iklan besar. Dijalannya, perubahan pola pada komunikasi membuatnya ingin menjadi seorang pengusaha. 
 
Dia ingin berkomunikasi melalui dunia digital. Tak bisa dipungkiri, pengguna internet telah sebegitu besarnya di Indonesia. Dan sekarang, pengguna internet di Indonesia telah mencapai nilai 32 miliar pengguna, angka terbesar di Asia Tenggara.

"Di Indonesia, pengguna internet terdiri dari banyak orang dengan daya beli yang tinggi. Setengah dari mereka berpenghasilan lebih dari Rp 3 juta per bulan, sementara sekitar 11 persen memiliki pendapatan yang melebihi Rp 11 juta per bulan, "kata Iim.

Tahun 2005, bersama suaminya, Adhitia Sofyan, yang kala itu masih menjabat senior art direktur di sebuah perusahaan periklanan sepakat membuka sebuah bisnis. Mereka bersama- sama menjadi pegawai sekaligus pendiri perusahaan Virus Communications. 
 
Orang pernah menyebut mereka gila karena sama- sama tidak punya latar belakang bisnis. Mereka bekerja sama, berkantor berdua saja di sebuah ruang kerja sempit. Ia kemudian mempekerjakan karyawan dan mendapatkan pemasukan.

Pada tahun ke tiga, Virus Communications selain berhasil menggarap produk perusahaan tingkat nasional serta multinasional, juga mengerjakan tender tingkat regional. 
 
Pasca-merger dengan perusahaan Virtual Consulting tahun 2009, Iim pun memegang kendali perusahaan jasa layanan digital yang kini mempekerjakan sekitar 70 karyawan itu. Saat ini Virtual, antara lain, menggarap merek dari klien-klien blue-chip.

"Solusi bisnis digital itu tidak semata kampanye iklan. Bentuknya bisa online sales, komunitas, manajemen relasi dengan konsumen, bisa juga menggarap social media untuk membangun loyalitas konsumen," ujar Iim. 
 
Dia mencontohkan atas apa yang dilakukan oleh Virtual Consulting, membentuk Komunitas Gila Motor dari jejaring sosial. Tujuannya? Perusahaan tersebut mencoba memasarkan produk oli motor, secara langsung akan diperkenalkan offline dan online.

Komunitas tersebut tercatat memiliki 200.00 orang terdaftar menjadi anggota.

"Dalam pemanfatan sosial media bukanlah jumlah anggota, tetapi loyalitas yang membuat mereka sendiri tanpa iming- iming materi atau hadiah," terangnnya. 
 
Iim mengingatkan media sosial sebagai sekedar medium, dimana perlu diolah sedemikian rupa. Ia terus mencoba menciptakan sebuah nilai pada produknya. Namun juga, loyalitas bisa datang dari pengalaman sang konsumen sendiri. 
 
"Aspek offline dan online perlu digarap sebagai sinergi, bukan musuh," ujarnya.

Pengusaha Investor


Kebiasaan berubah ketika berbicara mengenai konsumsi media dan dampak krisis merubah persepsi bahwa Internet merupakan alat fital. Tidak ada komunikasi dan konsultasi bagi pebisnis yang kurang paham tentang online, dan bagaimana cara menjembatani antara bisnis online dan offline. 
 
"Setiap tahun, belanja iklan online meningkat. Pada tahun 2008, persentase bijaksana itu melebihi belanja iklan di media cetak dan radio. Masa depan adalah sekarang dan kita harus menyiapkan amunisi yang lebih dari siap, "kata Iim.

Dia menerangkan lebih lanjut mengenai bagaimana di online media ada perbedaan dalam beriklan. Sebut saja media online seperti kompas.com, detik.com, yahoo.com dan lain- lain, dimana setiap bagian depan akan terpampang berbagai iklan online. 
 
Jika tidak paham akan strategi iklan di online makan iklan apapun akan sia- sia. Sebelum keputusan itu diambil, seorang pengusaha harus terlebih dahulu belajar mengenai prilaku online, pengalaman digital, dan proses pembentukan merek.

Itu juga termasuk menurutnya tentang tau siapa yang online dan membandingkan komunikasi marketing yang terbaik, baik online atau offline.  Finalis International Young Creative Entrepreneur Award 2008 oleh British Council ini,  menyebut perubahan karir baginya diusia yang sangat muda bukanlah hal mudah.  
 
Iim membutuhkan mental yang kuat, tingkah lauk yang baik, perencanaan keuangan terbaik dan yang terpenting, pengetahuan, pengalaman, dan rencana bisnis yang baik.

Iim dan suaminya memilih iklan online sebagai lini usaha mereka karena mereka memiliki latar belakang yang kuat dalam iklan media konvensional, seperti TV, cetak dan radio. Menggunakan prinsip "menunggang kuda orang lain", Virus membentuk aliansi dengan Virtual Consulting. 
 
Mereka sekarang memiliki sejumlah klien besar, seperti Toyota, XL, Telkom, Lippo Group, Auto 2000 dan Hewlett Packard. Dalam kasus Hewlett Packard, Virus menangani semua produk dan bekerja secara langsung dengan Hewlett Packard Regional.

Keberanian Iim untuk mengambil resiko, totalitas dan inovasi menghantar bisnisnya ke level nasional. Bahkan Bloomberg Business Week menyebut hasil bisnisnya sebagai perusahaan konsultan online terkemuka di Indonesia. 
 
Disisi lain, Iim masihlah menjadi seorang ibu yang menjaga anaknya sendiri. Ia bahkan membuat kantornya menjadi serba guna, terutama untuk mengasuh sang putri sendiri, Maleeka.  Selesai sekolah, siswa TK kecil itu selalu pulang ke kantor ibunya.

Kantor yang menempati dua lantai gedung itu ditatanya dengan nuansa kasual senyaman mungkin. Dinding- dindingnya yang berwarna terang pun bergambar komikal. Ada kamar tidur anak -lengkap dengan aneka mainan- disediakan di kantor ini. 
 
Sepeda anak pun tampak di tengah ruang luas yang terbuka dengan jajaran meja berkomputer di satu sisinya. Beberapa sudut kantor ini tampak tak ubahnya area bermain. Baginya sebagai seorang pebisnis pastilah sering menjadi stress oleh pekerjaannya.

Namun dengan adanya si putri kecil, dia mampu meredakan itu sambil bermain denganya, dan semuanya akan hilang. Ini menjadi penghilang stress paling ampuh baginya yang sibuk selalu mengurusi dua perusahaan sekaligus.

Profil Iim Fahima Jachja

Lahir: Semarang, 7 Februari 1978
Suami: Adhitia Sofyan
Anak: Maleeka Kendra Adhitia (3 tahun 10 bulan)
Pendidikan: Akademi Komunikasi Media Radio dan Televisi, 1995-1998
Pengalaman:
- Virtual Consulting, Pemilik dan CEO, 2009-sekarang
- Virus Communications, Pendiri dan CEO, 2005-2009
- Matari Advertising, Senior Copywriter, 2002-2005
- McCann Erickson, Copywriter, 2000-2002
- 25 Asia Best Young Entrepreneurs, Business Week, 2009
- 10 International Young Creative Entrepreneurs, British Council, 2007

Pengamen Tanpa Tangan Kaya Pengusaha Gitar

Profil Pengusaha Tonny Mahardika

 

pengamenkaya.png

Menjadi pengusaha gitar beromzet tiga ratus juta. Bayangkan pengamen tanpa tangan mungkinkah. Apa mungkin dia menjadi pengusaha sukses. Tiap orang berhak menjadi orang sukses. Kondisi dan kurangnya uang bukanlah alasan menyerah.

 

Ini kisah Tonny Mahardika, pria berusia 35 tahun asal Bogor menjalani hidupnya menjadi pengamen. Dia menyusuri jalanan mencari sesuap nasi. Dia tidak memiliki jari di tangan kiri. Belasan tahun dirinya telah kehilangan jarinya bukan karena terlahir begitu.

 

Dia sudah ikhlas. Ada perjalanan panjang sampai Tonny kehilangan jari. Di tahun 2004, Tonny bekerja menjadi karyawan pabrik sampai tahun 2006, dia lantas mengelami kecelakaan kerja. "Putus jari saya empat ini karena mesin," kenang sang pengusaha gitar.

 

Berbisnis Gitar


Dua tahun sudah semenjak dirinya mengalami kecelakaan. Suatu ketika terjadi PHK besar- besaran maka dia terdampak. Tonny berhenti menjadi buruh pabrik. Kemudian dia memilih bekerja menjadi pengamen jalanan.


Perjuangan Tonny dijalanan memang berat. Maka dia melakukan tersebut sembari mencari pekerjaan kembali. Namun kondisi fisik nampaknya menyulitkan mencari pekerjaan. "Jadi pengangguran nih, saya iseng lah ngamen tuh buat makan lah, sambil nyari kerja tapi," tutur Tonny.


Susah sangat mendapatkan pekerjaan apalagi ketika mereka tau. Kondisi fisik Tonny tidak sempurna sangat dipandang sebelah mata. Tonny bukanlah orang bodoh. Suatu hari menyadarkan bahwa menjadi pengamen akan makin sulit.


Waktu ketika dia mendapatkan selebaran jualan motor dirinya menyadari. Bahwa suatu saat kendaraan umum tempatnya mengamen akan segera habis. Bayangkan motor dijual promo uang muka cuma Rp.500 ribu. Kelak berkuranglah angkutan umum karena orang mudah mendapat motor.


Dia berpikir mencari jalan keluar. Bertambahnya kepemilikian motor pribadi akan menyusahkan. Dia kemudian memutuskan menjadi sales sparepart motor.


"Nah di situ saya pikir ini banyak orang bakal punya motor nih, angkutan umum pasti bakal kurang, tempat ngamen saya hilang dong. Nggak bisa jadi pengamen lagi kalau gini," jelas Tonny kepada pewarta Detik.com


Profesi barunya dimulai semenjak 2012 dan terbilang sukses. Dia senang. Dalam tempo empat bulan dia sudah membeli motor. Motor baru bahkan cash pula. Bahkan Tonny hitung sudah memiliki aset sampai Rp.100 juta.


Namun kesuksesan sekejab hilang ketika serbuan barang impor masuk. Kejayaan Tonny cuma sebentar sampai 2015 lantaran perang harga. Masyarakat lebih memilih sparepart impor lebih murah. Maka jualan Tonny tidak laku sampai gulung tikar.


Bayangkan Tonny menggelontorkan puluhan juta buat stok. Begitu uang dibelanjakan ketika pula serbuan barang impor masuk. Ketika ia hendak menaruh barang ke toko langganan malah ditolak. Dia syok karena hanya menyisakan uang Rp.1,2 juta dikantong.


Padahal dia meyakini akan menjual semua barang. Sisa uang sejuta kemudian dipotong Rp.500 ribu buat kosan. Otomatis uang tersisa cuma Rp.500 ribuan. "Stres dah saya di situ. Barang kita enggak laku, enggak kena harganya," ucapnya.


"Stress dah saya di situ. Barang kita enggak laku, enggak kena harganya," dia lanjutkan. Singkat cerita, dia datang ke warnet buat menghibur diri. Iseng Tonny mencari informasi mengenai peluang bisnis kedepan.


Tidak lama dia menemukan apa eCommerce. Tetapi jamannya belum seramai sekarang masih sepi persaiangan. Tonny mulai mempelajari termasuk cara membuat akun. Tetapi, dia kebingungan mau jualan apa, tidak tau mau jualan apa kemudian kepikiran sparepart.


Tetapi sparepart tidak cocok dijualkan lewat sistem online. "Saya bilang ini apaan ya pengen tau aja, oh ini toko online, punya usaha enggak mesti punya toko aja bisa, wah canggih nih," lanjutnya. Gaptek banget dia gak paham, perlu mempelajari lebih lanjut platform tersebut.


Dia mikir mau berjualan apa. Suatu siang dia iseng bermain gitar sampai ide usaha muncul. Ia berpikir mengapa tidak berjualan gitar. Apalagi dia mengetahui seluk beluk mengenai gitar. Mengenang ketika diriny menjadi pengamen. 

 

"Kita kan tahu gitar bagus gimana, jelek gimana, belinya dimana, harganya berapa," ujar Tonny. Uang tersisa Rp.700 ribu, tanpa pikir panjang Tonny berangkat menuju agen penjualan alat musik. Dari uang dimiliknya, didapatkan tiga buah gitar yang kemudian dia seting sendiri.


Dia kemudian menjualnya ke platform toko online itu. Hasilnya laris manis gitar- gitarnya langsung terjual habis. Sejak itu, dia meyakini bahwa bisnis gitar memiliki prospek ditekuni. Dia meyakini ini akan berjalan dan bertahan dimasa depan.


Ia lantas membeli 36 gitar. Kemudian dia menjualnya sampai beromzet Rp.6 juta perbulan. "Saya langsung bilang wah ini dia jalannya," ia lanjutkan. Butuh dua minggu sampai dia memiliki toko asli berdiri bernama Rock Music Kedoya.


Tonny kini membuat dan menjual 23 tipe gitar. Ada ukulele, guitarlele, guitardame, gitar jumbo, bass akustik, dan lain sebagainya. Dia juga mengajak beberapa musisi bekerja sama. Mereka diajak buat membuat gitar signatur atau edisi khusus.


"Saya rangkul juga beberapa artis, Om Totot Tewel, Tipe X, Ale Funky," lanjutnya. Dengan caranya demikian sekaligus memperkuat brand. Tonny menunjukan bahwa produk mereka teruji langsung oleh musisi berkualitas.


Berawal pengamen tanpa jari tangan berubah pengusaha gitar. Berkat usahanya, Tonny mendapat tak kurang omzet Rp.300 juta perbulan. Karena pandemi, Tonny mengaku mengalami pengurangan drastis pendapatan dengan keuntungan 30% dari omzet.


Sejak 2015, usahanya berkembang bertahap tidak serta merta, dari reseller, menjadi agen, kemudian naik level distributor dan terakhir produsen. Dia membuat gitar sendiri. Tetapi Tonny tidak sendirian, dirinya juga mengajak industri rumahan membantu.


Dia mengerjakan desain, bentuk dan materialnya, kemudian industri rumahan tersebut mewujudkan gitar sempurna. "Kami lemparin barang- barang, alat musik, dan sparepart ke daerah," ia lanjut. Ke depan dirinya akan mengirimkan gitarnya ke luar negeri.


Negara targetnya kelak adalah Australia, Amerika Serikat, Thailand, Malaysia, dan China. Buat ke Australia sudah mendapatkan sample. "...sudah oke, tinggal nunggu lockdown- lockdown saja selesai di sana," tutupnya.

Pengusaha Bakso Cak Eko Biografi Orang Sukses

Biografi Pengusaha Henky Eko Sriyantono

 
baksocakeko.png
 
Biografi orang sukses pengusaha bakso Cak Eko. Pria yang bernama lengkap Henky Eko Sriyantono. Pria kelahir di Surabaya, 5 Mei 1979, yang juga dikenal sebagai salah satu pelopor bisnis waralaba di Indonesia. 
 
Eko pernah berkuliah  di Institut Teknologi Sepuluh November dari 1992 sampai 1996, mengambil jurusan teknik.  Kemudian melanjutkan pendidikan di teknik sipil menejemen proyek di kampus yang sama tahun 2002-2003. 
 
Berkat pendidikannya dia berhasil menjadi pegawai salah satu BUMN di Surabaya. Tetapi langkah kakinya berhenti, dia membawa hidupnya ke Jakarta dan bekerja keras menjadi pengusaha. Mimpinya sebagai pebisnis membawa langkahnya keluar dari perusahaan kontrakor. 
 
Eko berkeinginan untuk membuat bisnis, membuka lapangan pekerjaan. Dan menjadi pengusaha bakso bukanlah rencana utama.
 

Merintis Bisnis

 
Sebelum sukses seperti sekarang, dia mengerjakan berbagai bisnis hingga 11 jenis sejak 1997 mulai dari Multi Level Marketing (MLM) hingga argo bisnis. Sayang, bisnis tersebut belum menjadi jodohnya.

Kegagalan tak membuat pria yang akrab dipanggil Cak Eko ini merasa trauma atau putus asa. Kekuatan bernama "The Power of Kepepet," membuatnya tetap bertahan hingga kini.

Dia pernah berbisnis jual beli hand phone bekas, tetapi hanya bertahan 8 bulan. Bisnis keduanya yaitu MLM dimana dirinya hanya bertahan lima bulan. Alasannya dia merasa tidak cocok dengan sistem kerjanya serta gagal mendapat downline. 
 
Tahun 1999, ia bekerja sama dengan tujuah orang temannya mengerjakan bisnis budidaya tanaman jahe gajah. Modal hasil patungan sebanyak 40 juta. Namun hasilnya gagal panen dan sisa uang sebesar 16 juta. Tahun 2000, Eko berbisnis dompet dan tas produksi Tanggulangin, Sidoarjo. 
 
Dari bisnis ini, ia mendapatkan kesuksesan lumayan dimana berhasil menjual hingga mal- mal di Jakarta. Modal bisnis barunya tersebut 13 juta yang berasal dari sisa uang saku perjalanan ke Jepang, dari hasil artikel teknik buatannya di sayembara berhadiah. 
 
Meski bisnis barunya tembus ke sejumlah butik mal di wilayah Jakarta, ia harus mengikuti sistem yang ada. Dia harus mengikuti sistem konsinyasi dan menjadi permasalahan karena modal yang minim. Sistem tersebut membuat pembayaran oleh butik- butik tersebut tidak lancar. 
 
Ia juga kesulitan menjaga arus kas keluar dan masuk. Akhirnya setelah setahun, dia memutuskan untuk menutup bisnis miliknya dan menarik semua barang dari butik. Gagal berbisnis macam ini tak membuatnya kapok dan mencari ide- ide bisnis lain; hingga Eko menemukan bisnis bakso.

Bisnis terakhir


Memulai dari nol tak membuatnya patah arah, dia menemukan ide bisnis di waktu yang tak terduga. Kala itu, tahun 2006, dia melihat kedai bakso di Bandara Soekarno Hatta bagitu ramai dikunjungi oleh masyarakat. 
 
Ia tertarik bisnis serupa dan membulatkan tekatnya membuka warung bakso Malang, khas Jawa Timur. Bahkan dia berguru langsung ke ahlinya dari Malang hingga Surabaya. Dia sedang mencari komposisi yang pas.

Dalam tiga bulan dia mencoba mengamati pasar, menawarkan uji coba kepada teman- temannya. Ia dibantu teman- temannya berhasil mengumpulkan modal Rp.2,5 juta, lalu membuka sebuah warung di foodcourt di wilayah Bekasi pada Maret 2006. 
 
Tujuh bulan berlalu bisnisnya maju pesat dan mendapatkan untung cukup banyak. Eko memutuskan membuka gerai keduanya di Tamrin Square di Oktober 2006. Warung bakso itu kemudain diberinya nama Bakso Cak Eko.

"Saya itu menjalankan bisnis dengan modal-modal kecil, tapi frustasi mah pasti pernah, modal jualan bakso awalnya Rp 2,5 juta. Saya cuma bikin gerobak, numpang di pujasera,bagi hasilnya 60% untuk saya 40% untuk yang punya tempat," jelasnya. 
 
Sebenarnya dia sendiri hobi memasak sejak SMA, jadi membuat bakso menjadi kesenangan tersendiri. Dia mengaku pernah berbisnis katering kuliner tetapi gagal karena menunya yang selalu sama dan balik modal yang lama.

Berbeda bakso Malang miliknya lebih kaya rasa dimana tidak monoton aslinya. Ia tau betul bagaimana bisnis semacam ini. Dia mulai menambahkan olahan siomay dan batagor ditambah dengan berbagai macam bumbu tambahan. 
 
Dia menambahkan bumbu tersebut membuatnya menjadi bubuk tabur. Ide waralaba itu datang ketika ia menuliskan kisah suksesnya di berbagai media masa. Dia kemudian ditawari banyak permintaan kerja sama.

Dalam kurun waktu 10 bulan, melalui sistem waralaba, gerainya bisa tumbuh super pesat. Sekitar 2006 -an, bisnis bakso Cak Eko telah tumbuh memiliki sekitar 120 gerai waralaba. Model bisnisnya gampang, dimana dia membuka pusat pengolahan diberbagai pusat. 
 
Dia telah membuka 3 tempat produksi, dimana para mitra akan membeli bahan bakunya dari sana.

"Ada 3 tempat produksi, Surabaya untuk menyuplai ke Indonesia Timur, Sidorjo untuk Indonesia Tengah, dan Jakarta untuk Indonesia Barat. Resep rahasia ada keluarga yang saya percaya untuk meng-handle di 3 tempat itu jadi karyawan tidak tahu," ucapnya. 
 
Kini ia aktif berbagi kisah di sekolah kewirausahaan bersama Rhenald Khasali. Dia bergabung agar orang lain tidak mengalami kegagalan 11 kali seperti dirinya. Menurut Cak Eko ada beberapa hal yang membuat bisnis gagal. Pertama, kita harus berhati- hati dalam memilih mitra. 
 
Kedua, ketidak mampuan kita memisahkan antara uang pribadi dan uang bisnis. Ketiga adalah jangan tergesa- gesa menaikan harga, karena kita berbisnis untuk pembeli. Dia juga berpesan jangan tertarik akan iming- iming untung besar, terutama ketika tidak tau bisnis macam apa dan resikonya. 
 
Soal persaingan, dia mengaku perlu adanya perbedaan di kualitas produk dan inovasi.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba