Kopi Salak Usaha Brownis Pengusaha Shelly

Profil Pengusaha Shelly

 

jualkopisalak.png
 

Pengusaha Shelly (45) membuat usaha brownis salak. Dia juga menciptakan kopi salak. Dari keduanya mampu hasilkan puluhan juta. Awal dia dipaksa menjadi ibu rumah tangga biasa. Shally pernah menjadi wanita karir. Dia memiliki tiga orang anak dan suami pegawai.

 

Sampai suatu ketika suaminya kehilangan pekerjaan.  Shally yang ibu rumah tangga turun tangan lalu turun tangan, karena tiga anaknya butuh biaya. Salak merupakan buah tropis umum ditemui di rumah- rumah. Shally kemudian menjajal mengolah salak menjadi bahan baku. 

 

Pertama dia membuat brownis berbahan baku salak atau brownlak. Kemudian dia membuat kukis salah (kuklak), ebi salak (sambilak), ayam geprek sambilak, kerupuk salak, kopi biji salak (kojilak), teh kulit salak (tehulak), sari buah salak (sarlak), dan terakhir asinan salak (sinlak). 

 

Hobi Memasak

 

Ia memang senang mengolah makanan. "Saya sukanya ngolah-ngolah makanan, terus yang ada di rumah waktu itu bapak seringnya beli salak untuk makanan, jadi mulainya dari yang mudah di dapur terus mulai ngolah- ngolah salak," jelasnya.


Dari brownis salak kemudian dia posting ke sosial media. Responnya bagus tidak disangka. Maka ia berpikiran, "kayaknya oke nih diseriusin." Awal dia membuka usaha lewat rumah, sampai memiliki dapur sendiri mempekerjakan 3 pegawai.


Dia sudah memiliki segala perlengkapan pendukung produksi. Bisnis pengusaha Shally berkembang menghasilkan omzet Rp.20 juta. Tantangan terbesar ialah dia harus mengajak orang mencoba. Karena produk ini terbilang baru, unik, masih sangat asing di masyarakat.


"Bisnis saya kan masih cukup awam ya salak dibuat seperti ini, jadi masyarakat mau coba mungkin takut nggak enak," lanjut Shelly. Bisnis baru tersebut memang membutuhkan pekerjaa ekstra. Untung dia merupakan mantan karyawan bekerja puluhan tahun.


Diusia 40 tahun sudah memiliki pengalaman kerja. Dia juga memiliki hobi membuat kue. Shally dulu pernah menempati posisi PR, jadi terbiasa melakukan branding. Pengusaha Shelly menciptakan kue brownis nikmat berbahan buah salak.


Salak dipisahkan bijinya kemudian dibuat bahan kue brownis. Pembuatan brownis seperti biasanya hanya ditambahi salak. Kalau teh dan kopi memakai alat namanya dehydrator atau pengering. Buah dan biji dibersihkan, dimasukan ke dalam, bentuk alatnya kayak oven tetapi berfungsi menghisap.

 

"Kita masukan alatnya kayak oven cuma dia ada blowernya, jadi dia kering mengambil cairan dalam kulit dan biji," imbuhnya.


Bukan memanaskan tetapi menghisap kering saripati buah dan biji. Cairan diserap sampai benar- benar kering, kalau kulit langsung haluskan. "Kita ayak terus jadi bubuk, kita packing dalam kemasan olive oil," tuturnya, menjelaskan proses pembuatan teh salak.


Efek pandemi memang mempengaruhi bisnis Shelly. Omzetnya turun sampai 50% dan reseller banyak tutup di daerah. Bahkan reseller Singapura tutup dikarenakan pandemi. Sumber pendapatan Shelly adalah marketplace seluruh Indonesia.


Dulu 20 juta didapat sekarang Rp.10 juta sudah bagus. Sempat terpuruk sepanjang perjalanan bisnisnya mulai membaik. Awal Shelly sempat zonk sekali selama tidak ada kegiatan. Efek pembatasan sangat berasa, begitu dikurangi batasan tampak usahanya mulai bangkit. 


Dia sudah dapat 50- 100 pesanan box set ready to eat. Kemudian dapat pesanan dari Cimory, pesanan kukis salak dikirim ke sentra yogurt tersebut. 

 

Dulu pengusaha Shelly mengeluarkan modal Rp.50 ribu. Itu dipakai membeli bahan baku salak dan kelengkapannya. Tapi kalau dihitung, semenjak 2016, dia sudah mengeluarkan uang Rp.50- 100 juta sepanjang jalan. Uang segitu buat awalan lantaran dia memang sekedar ingin mendapat pemasukan.


"Jadi saya mulainya dari yang ada. Saya istilahnya cuma beli salaknya saja waktu itu masih Rp.5000 perkilo, terus beli coklatnya, sama kemasannya," ujarnya.


Demi mendapatkan produk berkualitas maka bahan baku juga terbaik. Shelly memilih bahan salak dan yang baik dan bagus. Langsung diolah sekali belanja 30 kg buah salak biar tidak membusuk. Tidak ada limbah yang tersisa dan terbuang.


Dari kulit, buah, dan bijinya diolah menjadi produk. Bagian biji dijadikan kopi sedangkan kulitnya jadi bahan teh. Bahan brownis memakai daging, termasuk bahan kerupuk dan sambal memakai daging. Teh dibuat memakai kulit yang dikeringkan pakai mesin, digrinder halus, tidak pakai perasa atau pewarna.


Produk teh dan kopi proses pembuatanya lama sampai seminggu. Proses oven membutuhkan waktu berkali- kali, sampai keluar aroma kopi dan tehnya. Harga jualnya Rp.15 ribu untuk kruplak, sinlak, dan sanlak.


Harga ayam penyet sambilak sampai Rp.75 ribu. Jualannya lewat @salakuolahansalak sudah siap lewat aplikasi pesan antar. Bila jauh ia menyarankan produk frozen food, kerupuk, teh dan kopi. Dan buat produk asinan masih bagus dikirim ke Jawa Barat dan Jawa Tengah, ongkos kirim 2 hari lumayan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba