Dendeng Jantung Pisang Bisnis Dua Pengusaha

Profil Pengusaha Diah Srikandi

 

dendengjantung.png
 

Pernah terpikir tidak berbisnis dendeng jantung pisang. Bisnis dua pengusaha berikut menghasilkan  uang lumayan loh. Ada Bambang Eko Putro, warga Cimahi mengolah bahan dianggap limbah ini. Jantung buah pisang memang dianggap limbah.


Beberapa daerah melihat mereka menjadi bahan makanan. Namun pamornya masih kalah hingga banyak orang masih membuangnya. Inilah Denjapi atau dendeng jantung pisang diolah seperti daging. Bila orang biasanya memakai daging kini memakai jantung pisang.

 

Dua Pengusaha Dendeng


Tekstur bagian tanaman ini memiliki tekstur serat mirip daging. Tidak semua pisang dapat diolah bagian tubuhnya ini. Diantara jantung pisang enak adalah jenis klutuk, kepok, raja bulu, dan raja siam. Dan paling enak adalah jantung pisang klutuk.


Bentuk dan rasanya enak memiliki tekstur sangat mirip. Tingga kamu memotong persegi, tipis, lalu diolah hingga tampak berserat, warna kecoklatan dan berasa manis. Mirip daging asli. Memakai bahan rempah benar akan hadirkan aroma tajam menggoda.


Makanan khas Cimahi yang diketahui memiliki kandungan gizi baik. Kandungannya protein 12,051%, karbonhidrat 34,831%, dan lemak total 13,050%. Hebatnya bila dikombinasikan dengan buah dan daun akan lebih untung. Pengusaha akan dapat memanfaatkan semua bagian tubuh pohon pisang tersebut.


Kisah Diah Retnowati sedikit berbeda karena tidak mengikuti tren. Dia merupakan warga Jawa Timur bukan Cimahi. Oleh- oleh khas salah satu daerah Jawa Barat kemudian Diah adaptasi. Nama usahanya Dendeng Ontong Srikandi.


Wanita yang lebih dikenal dengan nama Diah Srikandi. Dalam bahasa Jawa jelasnya "ontong" berarti merujuk jantung pisang. Bagian tubuh pohon pisang berwarna merah keunguan bukan barang baru. Ini sudah sering dipakai bahan masakan kuliner, terutama sayur lodeh dan pecel.


Diah tidak cuma membuat dendeng. Ontong pisangnya diolah brownis, paru, bahkan kerupuk. Bagian pisang ini sangat digemari pelaku vegetarian. "Olahan ontong andalan kami adalah dendeng ontong yang disukai para vegetarian," lanjutnya.


Usahanya terletak di toko Srikandi di Jalan Raya Rogo Kabupaten Kediri. Menurutnya spesial dendeng ontong memakai jenis pisang klutuk atau kepok. "Selain pisang kepok dan klutuk tidak bisa dipakai buat dendeng. Selain rasanya bisa sepet seratnya juga tidak bisa menyerupai daging," lanjutnya.


Pengusah Diah Srikandi menjelaskan terdapat beberapa variasi rasa. Dia membuat dendeng rasa abon, rendang, manis dan pedas. Itu semua dikemas dalam dua kemasan berupa kaleng dan kardus. Diah menjelaskan kemasan kaleng dapat tahan setahun.


Kemasan kardus asal disimpan rapat bertahan tujuh bulan. Diah mengikuti aneka pameran berkeliling Indonesia mewakili Jawa Timur. Dia mengatakan harga jualnya terbilang terjangkau. Harga kalengan dendeng Rp.17 ribu/kaleng, brownis Rp.23 ribu dan krupuk Rp.20 ribu.


Harganya terjangkau cocok dijadikan oleh- oleh ketika di Kediri. Diah dibantu tujuh karyawan dan seorang wakil bernama Marsiah. Dia sudah bekerja 32 tahun, sudah memiliki anak yang sudah Diah anggap anak sendiri, dan Marsiah mengurusi semua urusan toko dan pabrik ketika Diah ikut pameran.


Ide Dendeng Jantung Pisang


Usaha tersebut bermula kejenuhan Diah menjalani bisnis. Selama 32 tahun usahanya membuat bolu, tart, nastar, dan makanan ringan seperti keripik, rangginan, sambal pecel dan petis. Jatuh bangun dan nyaris bangkut sudah berusaha lama.


Di bisnis, ditipu dan dibohongi menurut Diah adalah biasa, ia berprinsip kegagalan adalah kesuksesan tertunda. "Saya pernah ditipu ratusan juta. Orang Bojonegoro dan beberapa orang lainnya," Diah lalu menceritakan.


Ceritanya mereka memesan banyak untuk lebaran. Tetapi mereka kembalikan tujuh hari sebelum hari lebaran. Mereka tidak mau melunasi pembayaran. Padahal Diah memakai modal memakai utang dari bank ini.


Pusing Diah dibikin memikirkan modal utang bank. Pengusaha wanita tegar sampai rela menjual aset rumah. Sudah melunasi hutang dirinya memilih rehat jualan selama setahun. Suatu ketika ia berjalan- jalan ke belakang rumahnya yang persawahan.


Diah melihat pohon pisang lengkap bersama jantung pisang. Iseng- iseng dia membeli beberapa di pasar buat diolah. Dia mencoba mengolah ontong dijadikan lodeh dan sayur pecel. Dari sana dia mempelajari tentang kelezatan ontong pisang kepok dan klutuk.


Kedua jenisnya memiliki cita rasa cocok dijadikan bahan makanan. Terus ada teman yang ternyata vegetarian, menyarankan membuat lauk berbahan ontong menggantikan ikan atau daging. Idenya membuat lauk pengganti ditanggapi serius.


Diah berhasil membuat dendeng ontong. Sebelumnya dia menyadari jantung pisang mirip daging sapi, kalau diolah memakai bumbu bahkan akan sulit dibedakan. Singkatnya dia berhasil membuat bahan ontong dan diuji cobakan.


Teman Diah yang melakukan uji coba rasa, ternyata berhasil menghasilkan tanggapan positif. Suatu kesempatan tidak boleh dilewatkan di 2004. Dimana Diah diajak mengikuti Pameran Pekan Budaya yang digelar Pemkab Kediri, maka disanalah dendeng Diah pertama diperkenalkan khalayak umum.


Hingga dendeng miliknya telah terkenal di daerah Ponorogo dan Madiun. "Saya kemudian mengurusi legalitas halal, setalah itu baru ikut pameran keliling Indonesia," tutur Diah. Masalah kembali datang ketika ditipu orang disaat pameran di Cito Surabaya.


Dia dikenal seorang wanita asal Sidoarjo. Tanpa curiga, dia memenuhi pesanan senilai Rp.7 juta. Dia hingga akhir tidak menerima pembayaran. Dia sudah menjelajahi Jakarta, Jogja, Semarang, Bandung, Bali, Kalimantan dan Nusa Tenggara Barat.


Omzet sekarang tinggal Rp.90 juta perbulan. Dulu dia mampu mengantongi omzet Rp.300- 400 juta. Diah Srikandi sendiri kemudian menjadi pembicara. Khususnya dia membicarakan mengenai bahan baku disekitar kita untuk diolah.

Resep Abon Membuka Peluang Usaha Menjanjikan

Profil Pengusaha Johan Yuniarto

 
resepabon.png
 
Berbekal resep abon membuka peluang usaha menjanjikan. Usianya mungkin sudah tidak muda, tetapi masih bersemangat menjadi pengusaha. Bahkan pria berambut putih ini berniat menaikan level ke nasional. Inilah Johan Yuniarto, pria kelahiran Bandung yang tak muda lagi memilih berbisnis abon. 
 
Dia yang telah pensiun merasa perlu mengisi hari- harinya dan berbisnis merupakan jalan. Berawal kesempatan, ia melihat bisnis makanan begitu berkembang di Bandung. Dia yakin abon buatannya akan diterima pasaran.

Pasalnya, ia membuat abon yang berbeda memiliki cita rasa khas. Johan mengambil bahan bahan dari laut daripada abon sapi. Abonnya diolah dari bahan baku unggulan seperti ikan hiu, tuna, kakap, salem, dan ikan krapu. 
 

Peluang Usaha

 
Dia menuturkan lantaran ini pula harga abon miliknya mencapai Rp.20.000- Rp.25.000. Masih bisa dibilang murah, Johan berseloroh itu karena abonnya mampu meningkatkan kecerdasan otak.

"Kalau abon harganya Rp.20.000 itu untuk bahan bakunya ikan air tawar, tapi untuk yang Rp.25.000 terbuat dari ikan laut," tuturnya.

Dia menambahkan usahanya dimulai sejak 2009 silam masih berorientasi usaha kecil. Dia mengerjakan semuanya bersama keluarga di Jl. Keadilan II No.33 Bandung. Dalam waktu dekat, Johan berjanji akan membuka cabang baru di beberapa tempat. 

Johan menawarkan beragam rasa dan semunya merupakan hasil dedikasi. Ia membuat resepnya sendiri melalui berbagai percobaan panjang. Dia bahkan mengorbankan keluarganya mencicipi resepnya. 
 
Akhirnya berhasil, resep abonnya lahir setalah 3 bulan masa percobaan kemudia disusul sample yang siap dipasarkan. Ia yakin betul sukses suatu produk berdasarkan keunikannya. Ditambah, abonnya selalu menggunakan bahan- bahan terbaik. 
 
Johan telah lama mengamati di Jawa Barat khususnya, jarang ditemukan pembuatan produk abon ikan. Bermodal 4 juta rupiah, ia yakin bisnisnya akan berhasil membawanya menjadi pengusaha sukses di 2009.

"Saya survei ke supermarket di Bandung jarang ditemukan abon ikan semacam ini. Kalau ada, paling hanya sedikit, itupun diproduksi diluar Bandung; seperti Cirebon dan Subang. Itupun masih sebatas abon nila, belum bentuk variasi," ujar dia berbincang di Liputan6.com.

Menurutnya bagian tersulit hanya bagaimana memastikan bahan- bahannya. Dia berbicara bagaimana cara memilih ikan, mencuci, dan memisahkan daging dari duri. Rumah Abon, nama usahnya, mengambil ikan di daerah sekitar Bandung untuk ikan air tawar. 
 
Ikan air laut, ia mengambil dari Pangandaran, Indramayu, dan Cirebon. Produk abonnya meliputi abon ikan air laut, seperti abon hiu, tuna, kakap, salem, dan kerapu.

Sedangkan abon ikan air tawar, meliputi abon ikan nila, gurame, gabus, lele dan belut. Sebagai catatan tambahan, bisnis abon akan menurun penjualannya di masa masuk sekolah. Ibu- ibu akan memilih belanja keperluan sekolah daripada membeli abon. 
 
Di lain waktu, seperti Ramadhan, Johan mengaku permintaan meningkan jauh disebabkan kepraktisan abon. Ibu- ibu dengan mudahnya membeli, menyimpan, kemudia memakannya ketika berbuka atau sahur.

Dalam sebulan, Rumah Abon menghasilkan 1 kuintal abon atau sekitar 1000 box pesanan. Satu box akan dijual untuk Rp.25.000. Kini omset rumah abon sendiri mencapai Rp.25 juta per- bulan. Johan memiliki 2 karyawan, dan beberapa anggota keluarga yang ikut masuk di bisnisnya. 
 
Ia menempatkan mereka ditiap cabang membuat bisnis keluarga semakin luas. Untuk terus laris, Johan Yuniarto selalu mengembangkan cara baru bisnisnya. Dimulai dari pemasaran dimana ia menyerahkan semuanya melalui penjualan online. 
 
Dari segi produksi, ia membuka cabang baru sedangkan disegi produk; Johan tak segan mencoba resep baru lagi. Ia bahkan menemukan resep baru yaitu abon kremes. Apa itu? abon ikan yang merupakan gabungan ikan dan irian kentang halus yang digoreng kering.

"Kalau keuntungan sih cukup lumayan, apalagi saat ini produk kami dipromosikan hingga ke Mekah. Kami juga membuka kesempatan menjadi reseller," ujarnya. 
 
Ia juga menambahkan saat ini bisnsnya menghasilkan omset sekitar 25 juta rupiah. Nilai yang sangat besar bagi seorang pensiunan yang tidak mungkin lagi bekerja sebagai pegawai.

Getuk Goreng Terkenal H. Tohirin Sejarah Bisnis

Profil Pengusaha H. Tohirin Sekeluarga

 

getukgoreng.png
 

Sejarah bisnis getuk goreng terkenal H. Tohirin. Banyak bisnis begini tetapi usaha keluarga berikut tetap merajai. Manajemen sederhana berbasiskan kekeluargaan saling membahu. Bila usaha keluarga lain pecah karena dibagi- bagi, mereka tetap berjualan menjadi kesatuan dalam sekomplek.

 

Berjejer toko getuk gorong bernama sama dalam komplek jalan. Sudah 9 dasawarsa usahanya berjalan sampai diwariskan. Tidak menjadi rebutan bahu- membahu sekeluarga usaha. "Yang pertama dan selalu ramai yang bertuliskan Asli 1," ujar seorang tukang becak berdialek Banyumasan.

 

Toko getuk H. Tohirin begitu ramai ketika dikunjungi pewarta SWA. Ini memang toko oleh- oleh khas Sokaraja. Kini Getuk Goreng Asli H. Tohirin namanya dipatenkan. Sudah diwariskan berkembang jadi 10 gerai toko. Gedung toko relatif besar berjejer berdampingan rapih sepanjang jalan utama itu.

 

 

 

Usia bisnis mereka 93 tahun, dihitung semenjak 1918, dan kini banyak usaha getuk goreng berbagai nama. Akan tetapi, menurut pengakuan langsung pelanggan, rasanya getuk goreng H. Tohirin punya cita rasa khas.

 

Penemu resepnya adalah Mbah Sanpirngad (Almarhum) bersama istrinya, Sayem. Bermula keduanya berusaha nasi sayur. Warungnya sederhana berupa gubuk berbahan anyaman bambu. Selain mereka berjualan nasi sayur dan lauk pauk, terselip makanan getuk singkong.


Sayangnya, semua dagangan kurang laku termasuk si getuk, maka pasangan suami istri tersebut akan membuat sisanya. Tidak mau berputus asa keduanya tetap berjualan. Suatu ketika, Sanpirngad punya ide mengolah getuk sisa yang tidak laku digoreng.


Caranya tidak sulit tinggal ditambah gula kelapa. Ternnyata, rasanya berubah menjadi sangat enak dan cocok di lidah pembeli di warungnya. Sejak itulah, selain getuk basah dan getuk goreng, kenyataanya getuk goreng lah paling dicari pelanggan.


Getuk goreng mereka sangat dicari orang. Nama Getuk Kamal, awalnya cumalah makanan olahan sampingan berubah penyelamat. Usaha getuk goreng Pak Sarpingad mulai terkenal. Getuk goreng yang kemudian dijual dibawah pohon kemal atau asem.


Sepeninggalan Sarpingad pada 1967, usahanya menjadi jualan getuk goreng yang diwariskan kepada anak laki- lakinya, Tohirin. Dia meneruskan sekaligus mengembangkan semakin besar. Ditangannya usaha utama nasi campur malah ditutup.


Tohirin berjualan getuk goreng sampai renovasi warung. Dari bahan anyaman dirubah menjadi gedung permanen. Ekonimi meningkat berkat berjualan getuk goreng. Begitu suksesnya sampai mambawa Tohir berangkat Haji.


Haji Tohirin memang memiliki pandangan berbeda. Ia memiliki visi akan bisnis kedepan. Terlihat dari dia memutuskan mendalami bisnis getuk goreng. Dia menutup usaha nasi, fokus mengerjakan bisnis getuk goreng kemudian menjadikannya oleh- oleh khas.


Begitu namanya berada dipuncak, maka Tohirin kembangkan pusat oleh- oleh dengan produk utama getuk gorengnya. Tentu berbeda karena Tohirin telah membranding getuk khas. Bahkan menjadikan getuk goreng oleh- oleh asli daerahnya.


Usaha tersebut mendorong bisnis lain terutama oleh- oleh. Tidak cuma mengembangkan bisnisnya kedepan. Tohirin membranding getuk gorengnya mamakai namanya. Penggunaan nama asli ternyata merespon bertumbuhnya usaha sejenis di Sokaraja.


Tohirin menyematkan nama "Asli" guna memberikan ciri khas. Dimana kawasan JL Jendral Sudirman di kiri- kanan sudah berjejer saingan. Pusat oleh- oleh getuk goreng begitulah mereka menamai. Haji Tohirin tak mau kalah. 

 

Persaingan begitu ketat bahkan sampai saling menonjolkan. Mereka memasang plang nama besar- besar buat menarik perhatian. Tujuannya mereka pelancong yang datang dari luar daerah. Bahkan, beberapa mereka menggunakan nama "Asli" didepan namanya.


Meskipun persaingan ketat toko Getuk Goreng Asli H. Tohirin disukai. Selain mereka berjualan getuk juga produk lain. Oleh- oleh lainnya merupakan produk titipan produsen lain. Ini sekaligus membantu perekonomian asli daerah.

 

Namanya semakin terkenal karena berita rasa khas. Ketika H. Tohirin meninggal usaha tersebut tetap berjalan. Dia mewariskan usahanya kepada tiga anaknya: Hj. Ning Waryati, Slamet Lukito dan Hj. Warsuti. Dari ketiganya bisnis Getuk Goreng Asli H. Tohirin terus berkembang dan berjalan baik.


Pada masa ketiganya nama dipatenkan Getuk Goreng Asli H. Tohirin. "Sejak 1997 kami sudah memiliki paten," ujar Ning Waryati, anak sulung H. Tohirin yang kini berusia 55 tahun. Dimasa sang ayah, usaha getuk gorengnya hanya memiliki tiga gerai dan mengajak keluarga.


H. Tohirin mengajak anak- anak mengurusi ketiga cabang. Sampai pertengahan 2010, usaha mereka membesar memiliki 10 cabang, dimana sembila di Sokaraja, dan satunya di Buntu, Banyumas. Dan tidak menutup kemungkinan akan memiliki cabang baru.


"Kami membuka outlet berdasarkan kebutuhan pasar," ujar Slamet Lukito, anak kedua H. Tohirin. 

 

Ini tidak lain karena keluarga kompak tidak saling menjatuhkan. Sementara pemegang toko Asli 1 adalah anak pertama H. Tohirin, bernama Ning Waryati, yang juga mengajak putri pertamanya Isniani Nurkhumayah.


Pembuatan getuk sangat tradisional dan dapat dilihat langsung. Pembeli akan melihat semua prosesnya pembuatan. Sekeluarga H. Tohirin sangat menjaga kualitas dan keaslian resep. Menjadi pengusaha sekeluarga memang tidak mudah. Pekerjaan dikerjakan dibelakang di ruangan khusus dibelakang toko. 

 

Di tempat inilah, karyawan laki- laki tengah sibuk mengolah getuk, mereka sibuk memasak dalam jumlah besar buat dijual. Ada yang mengupas singkong, membersihkan, merebus singkong, ada pula yang menumbuk di lumpang, dan ada yang menggoreng.


Begitu getuk goreng jadi, maka akan dibawa ke depan langsung dimasukan toko siap dijual. Pekerja kebanyakan lelaki karena memang butuh tenaga. Karena getul goreng terkenal H. Tohirin bukan main- main. Mereka membuat bahkan ribuan biji getuk digoreng perhari.


Walau permintaan tinggi mereka tetap membuat secara tradisional. Contohnya ini, mengukus masih memakai dandang berbahan bakar kayu bakar. Pembuatan adonan juga masih memakai cara ditumbuk lumpang. Lalu kemasan memakai besek yang besarnya disesuaikan berat jualan.


Dalam ruangan memang nampak mesin disel, tetapi itu cuma dipakai memecah ketela. Sedangkan  penghalusan akan memakai si lumpang tersebut. Mesin tersebut juga dipakai apabila permintaan besar sampai kuintal lebih.


Isnaini, mahasiswi Manajemen Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, ini memastikan bahwa ditumbuh menghasilkan cita rasa lebih enak. "Gambarannya seperti sambel uleg dan sambel belnder, pasti enak yang diuleg," jelas pengusaha berhijab yang akrab dipanggil Mbak Is.


Ada hal menarik ketika membahas permintaan pasar luas. Banyak orang menginginkan mereka jualan diluar tempat mereka kini. Tetapi keluarga Tohirin tidak bergeming memilih berjualan sendiri. Jadi jangan harap kamu menemukan produk mereka di toko oleh- oleh lain.


Mereka beralasan getuk gorengnya akan menjadi khas Sokaraja. Bila terdapat getuk bernama sama diluar tempet ini dipastikan palsu. Walau sudah memiliki 10 gerai, tetap mereka kwalahan melayani pesanan pembeli. Tiap toko menjual tidak kurang 50 kg dan 10 kali lipat bila akhir pekan dan liburan.


Menurut Slamet, anak- anak keluarga H. Tohirin dibebaskan mengembangkan bisnis tidak terikat. Ini tinggal disesuaikan kemampuan masing- masing. Mereka diberikan hak nama H. Tohirin dan boleh melebeli produk getuk dihasilkan.


Adapun nama berupa nomor ternyata bukanlah mengenai kepemilikan. Melainkan menandakan urutan gerai dibangun bukan mana lebih baik. Kesepuluh gerai dimiliki orang berbeda- beda, tiapnya punya kemampuan berbeda mengembangkan bisnis jadi hasil beda- beda.

 

Jumlah gerainya lima milik Warsuti anak ketiga, Ning Waryati memiliki tiga gerai, dan Slamet punya dua gerai. Konon gerai Bu Warsuti memang paling cepat berkembang. Ini dikarenakan manajemen lebih baik dan rapih.


Di gerai milik Bu Warsuti sudah memakai mesin kasir bukan manual. Pemasukan dan pengeluaran sudah tercatat rapi. Berbanding gerai milik saudaranya masih memakai hitung manual. Mungkin dari beberapa hal tampak kompak ternyata tidak juga.

 

Tidak nampak persaingan jelas dan sinergi anak- anak H. Tohirin lemah. Maka perkembangan bisnis berbeda- beda masing gerai. Dampaknya suatu ketika mungkin akan ada yang tersingkir. Persaingan malah nampak pada harga berbeda- beda, harusnya tidak begitu.


Perbedaan harga malah akan riskan walau menarik pembeli. Orang akan membeli paling murah meski satu pabrikan. Disarankan semua saling membahu membangun brand bersama. Saling mematikan harga justru akan membuat keuntungan tipis, sampai tidak mampu membiayai pengembangan.

Peternak Telur Puyuh Jadi Miliarder Pengusaha Slamet

Profil Pengusaha Slamet Wuryadi

 
peternakpuyuh.png
 
Pengusaha Slamet peternak puyuh jadi miliarder.  Mungkin kamu belum pernah mendengar namanya. Dialah miliarder Indonesia kaya berkat puyuh. Itulah yang menarik ketika kamu berpikir miliarder itu batu bara atau migas, ini berkat telur puyuh. 
 
Siapa namanya, namanya Slamet Wuryadi, pertama kali beternak puyuh ia mengaku selalu untung. Apa pasalnya usut- punya usut Indonesia masih kekurangan puyuh sampai 7,5 juta sampai 8 juta. Dia sendiri adalah ketua Asosiasi Peternak Puyuh.

Dalam catatannya kebutuhan benar tak seimbang antara supply dan demand. Bayangkan kawan dalam industri puyuh itu dibutuhkan 11 juta telur/ pekan. Sementara itu para peternak cuma bisa memenuhi angka 3,5 juta/ pekan. Sisa sangat banyak bagi kita memulai beternak puyuh. 
 

Usaha Puyuh

 
Kembali ke Pak Slamet, dari 25 tahun lalu, ia tak pernah menjual telur puyuh dibawah standar. Beda dengan harga dari produk lain yang naik turun. "Itu berarti saya untung terus," ujarnya.

Dia menjelaskan empat alasan kenapa beternak puyuh itu untung: Pertama, penawaran- permintaan tak seimbang. Diamana peternak cuma mampu mengisi 15 persen. Inilah kenapa harganya selalu stabil. Kedua ialah meski stok kekurangan tidak ada impor. 
 
Semua karena korporasi belum menyentuhnya ujar Slamet. Ia sendiri kekeh menolak kerja sama dengan perusahaan asal Malaysia. Dia fokus pada penjualan cash and carry, dimana, uang akan langsung kembali.

Beda dengan korporasi yang suka membayar belakangan. Dimana untung dulu baru membayar peternak biasanya. Faktor keempat, usaha ini serba usaha, atau kamu bisa menjual kesemuanya. Dari telur, menjual puyuh hidup, daging puyuh, bahkan kotorannya. 
 
Selain menjadi peternak sendiri Slamet juga ikut berbisnis sendiri. Usahanya meliputi bakso puyuh, telur asin puyuh, ataupun olahan daging puyuh. Dia menjelaskan sebungkus telur puyuh asin dijualnya Rp.15.000.

Kotoran puyuh ternyata juga bisa dijadikan pupu, utamanya untuk tanaman strowberi dan tomat. Selain itu ada pula kajian dirinya untuk program kotoran puyuh jadi biogas. Sosoknya memang nyatanya bukan orang sembarangan. 
 
Dia punya visi dan "ambisi". Bukan perkara jelek, dia telah aktif untuk memperkenalkan puyuh berkeliling tanah air. Bahkan dia telah dipanggil hingga ke Malaysia dan Brunei.

"Dari hulu sampai hilir dan pascapanen terurus. Sehari ada delapan ton kotoran puyuh," ujar dia.

Dia juga pernah ke Korea Selatan memberikan pelajaran tentang puyuh. Lalu dia juga pernah ke Kenya, Afrika, lagi- lagi mempromosikan puyuh. Dalam negeri kamu bisa mendapatkan 3 buku karangannya tentang beternak puyuh. 
 
Yap, visinya memang tentang puyuh, dia pun mendapatkan gelar sarjana dari puyuh. Pria ini meraih gelar S1 dan S2 dari IPB dari hasil beternak puyuh.

 "Saya hanya bermodal baju empat, celana empat, serta uang Rp 175 ribu," ujar pria yang ternyata memulai usaha ternak puyuh pada 1992 itu.

Selain itu dia juga dikenal sebagai satu- satunya Profesor Puyuh. Dia menjadi orang pertama yang dikenal menyadang gelar profesor puyuh. Semua berkat penawaran sebuah Universitas di Belanda, dan dibiayai oleh mereka, semua berkat passion -nya bertenak puyuh. 
 
Namun, ketika menerima tawaran ini Slamet sempat pikir- pikir dulu karena jika ke Belanda, maka dia tidak bisa mengurus usahanya. Disisi lain, pengusaha pemilik CV. Slamet Quail Farm dan juga ketua Asosiasi Puyuh Indonesia, ini jadi satu kebanggaan ketika dirinya mencapi itu. 
 
Disisi lain dia juga menginginkannya untuk mengakat nama puyuh lebih lagi. "Saya ingin menjadi profesor puyuh," ujarnya. Berternak puyuh, jelasnya, bisa balik tujuh bulan sejak memulai usaha. 
 
Misalnya jika kamu punya modal Rp.15,3 juta, kamu bisa beternak 1.000 ekor puyuh diatas lahan 2x10 meter. Itu sudah termasuk lima kandang dan pakan untuk sebulan. Asumsi produktifitas 75- 80 persen dimana itu bisa menghasilkan keuntungan Rp.99.000 per- hari. 
 
Atau kamu bisa mendapatkan Rp.3 juta per- bulan. Untuk penyakit pada hewan dikatakannya puyuh relatif mudah. Penyakit biasanya ada tetelo dan pilek. Fokus pada puyuh kamu bisa memberi makan- minum, mengumpulkan telur, dan membersihkan kotoran, cuma butuh waktu 45 menit.

"Apalagi kalau kita bisa mengusahakan populasi 6.000 ekor," ujar pengusaha Slamet menjelaskan.  Intinya beternak puyuh itu mudah jelasnya dan untung. Dia sendiri telah beternak puyuh sejak 2002. Semua sekali lagi karena kebutuhan pasar telur puyuh dalam negeri yang besar. 
 
Ketua umum Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia ini menyebut untuk wilayah di Jabodetabek, Cianjur, Bandung, Bangka Belitung, dan Palembang, dibutuhkan pasokan 8 juta butir telur puyuh per minggu.

Sedangkan mereka baru sanggup memenuhi pasar sebesar 2,1 juta per- minggunya. Jadi pasar masih saja masih kekurangan sekitar 5,9 juta butir per minggu. Permintaan pasar besar dan tidak pernah turun dari harga BEP (Break Event Point) dimana harga berkisar Rp.180 per- butir. 
 
Slamet menghitung harga pasaran untuk saat ini Rp.215- 225. Lalu jika kamu mengolahnya bisa mencapai 4 kali lipat. Disisi lain jika orang membeli puyuh selalu tunia.

Prospek Beternak Puyuh

 
Slamet mengaku kini usahanya telah memiliki aset 4 miliar. Dengan membudidaya 1.000 ekor puyuh. Ia lalu menyebut angka Rp.14 juta- 15 juta. Angka yang cukup besar tapi tak lebih besar dari menjadi pewaralaba produk tertentu. 
 
Angka itu untuk membuat kandang, membeli peralatan, puyuh anakan dan grower yang digunakan 2 minggu pertama. Minggu kemudian ketika puyuh beranjak dewasa tidak lagi diberi makan si grower ini. Untuk fase memberi makan diperkirakannya Rp.100.000 per-hari.

Pemberian pakan anakan itu dua kali sehari yaitu pagi dan siang. Sedangkan jika sudah remaja atau dewasa kamu bisa memberi makan 1 kali sehari di pagi hari. Pakan grower dan lanjutan bisa mudah didapatkan di pasaran. 
 
Memang jika ditanya tantangan beternak puyuh, Slamet mengaku, dengan tegas ada dibagian pemberian pakan. Nilanya bisa 90% dari proses produksi. Oleh karena itu membuat pakan sendiri bisa jadi altenatif. Slamet pun membidika pasar ini; dia menjual pakannya sendiri.

Berapa banyak puyuh dimilikinya dari artikel yang kami himpun. Dia punya 320.000 dimana setiap 30- 40 hari, puyuh akan mulai betelur, hitungan kasarnya 75% menghasilkan telur. Atau ia bisa menghasilkan 750 telur per- hari. 
 
Puyuh akan terus bertelur sampai maksimal usia 18 bulan. Selepas itu masih bertelur tapi tidak seproduktif sebelumnya. Untuk itulah sebelum umur 18 bulan kamu harus mempersiapkan anakan baru.

Puyuh 18 bulan biasanya sudah dijual oleh pemiliknya. Itu akan dijadikan untuk dipotong dan diolah, benar- benar tak sia- sia. Permintaan daging puyuh juga tinggi ujarnya. Meski dipercaya punya kolesterol tinggi. 
 
Ternyata menurut Slamet, telur puyuh cuma punya 500mg/100gr bukan 844mg/100 kg seperi pemberitaan sebelumnya. Kandungan kolesterolnya terbagi atas HDL (Kkolesterol baik) dan LDL (kolesterol jahat). Pada daging puyuh mengandung protein tinggi yaitu sebesar 22,3%.

Kotoran puyuh juga mengandung protein tinggi, sehingga bisa menjadi pakan alternatif bagi pembudidaya ikan.

Usaha Martabak Fantasy Pekalongan Menginspirasi

Profil Pengusaha Sukses Yono

 
usahamartabak.png
  
Usaha martabak Fantasy Pekalongan memiliki kisah. Bau harum pandan tericum di depan Apotek Asli Pasar Banjarsari Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Sang pemilik usaha martabak Fantasy ini tengah mengolah martabak Bandung rasa manis keju.
 
Varian Martabak Fantasy mengingatkan kita cita rasa martabak Bangka. Jadi memang bukan membuat martabak sembarangan. Yono mampu membuat martabak manis dan asin. Dia mendapatkan resepnya asli dari pembuat asli Bandung.

Yono juga pernah bekerja enak tahun di pusat martabak kawasan Bandung dan Purwokerto. Pengusaha muda asli Purbalingga, memang baru beberapa tahun menjajal peruntungan di Pekalongan. Ia memang lihai memasak sejak lama terutama martabak ini.
 
Delapan bulan dia berwirausaha di Kota Pekalongan. Yono pun mengajak saudaranya asal Purbalingga merantau. Yono tidak menerapkan harga begitu mahal. Uniknya, dia menciptakan tujuh varian rasa dari martabak asin, dari spesial ayam, spesial sapi, kornet, hingga perpaduan ketiganya cuma Rp.17 ribu.
 
Buat martabak biasa kamu cukup membayar Rp.12 ribuan. Kalau martabak manis dia menyajikan dua rasa favorit: pandan keju dan black sweet harganya Rp.12 ribu. Pandan keju merupakan adonan yang ditambah pasta hijau ditambah pasta hijau, jangan lupa ditambah keju Craft.
 
Black Sweet sebenarnya merupakan martabak coklat. "Pelanggan lebih menyukai martabak pandang keju karena warnanya berbeda martabak biasa," jelas pengusaha ini, yang semalam membuat 40 dus baik manis ataupun asin.


Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba