Terpaksa Jadi Pengusaha Usaha Kerajinan Batu Alam

Profil Pengusaha Ahmad Ngabdulloh

 
terpaksapengusaha.png
 
Terpaksa jadi pengusaha kerajinan batu alam. Dia bukanlah pengusah tulen layaknya ayah. Juga tidak mau mewarisi usaha keluarga. Namun dia "perkasa" mewarisi usaha keluarga. Ia sempat gamang apa mau kerja atau wirausaha.
 
Siapa sangka jutru berkat kerajinan batu alam dirinya menjadi pengusaha sukses. Ahmad Ngabdulloh tak pernah belajar menjadi pengusaha. Keluarganya lebih suka Ahmad kecil bersekolah dan berprestasi di bidang akademi. 
 
Ia hanya berkonsentrasi pada sekolah dan kuliahnya. Saat remaja paling banter ia hanya melayani pembeli batu alam dari ayahnya.
 
 

Usaha Kepepet


Kalaupun membantu lebih jauh, Ahmad kecil akan disuruh belajar. Begitulah, hingga masuk SMA, lalu ia melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta. Mengambil Diploma 3, selsai kuliah disana, tentu Ahmad akan bekerja menangani mesin. 
 
Cita- citanya kala itu bekerja kantoran. Namun, siapa sangka nasib berkata lain. Selesai kuliah Ahmad sulit mendapatkan pekerjaan. Padahal dirinya sudah rajin menebar ijasah ke mana- mana. Dalam tahun itu ia sama sekali tak terbersit batu alam.

"Namun semua ditolak. Ternyata cari kerja itu berat," imbuhnya.

Tak lantas bekerja membuat Ahmad sempat tertekan batin. Suatu hari, sang ayah, yang penompang ekonomi keluarga jatuh sakit. Itulah titik baliknya. Meski enggan akhirnya ia mengambil alih usaha keluarga. "Cita- cita saya bekerja di perusahaan," ungkap Ahmad. 
 
Akan tetapi dia harus menopang ekonomi keluarga. Pria 32 tahun itu harus membiayai sekolah adik- adiknya.

"Kalau bukan saya siapa lagi," jelasnya. Akhirnya meski tak punya kemampuan mengolah batu alam, ia pun sigap sedia. Usahanya dimulai dengan belajar tentang batu alam. 
 
Pendidikan dibidang teknik ternyata taklah cukup membantu di usahanya. Dulu, ia pernah belajar, tapi hanya sampai dasar membuat cobek ataupun kerajinan kecil lain.

Ditengah keterpaksaan ia mulai belajar kembali. Caranya yaitu dengan belajar dari mereka pekerja- pekerja ayahnya. Melalui belajar Ahmad memastikan agar tak tergilas pesaing ayahnya. Nampaknya meski tak secara khusus menyentuh batu alam; jiwanya sudah ada disana. 
 
Dia menuruni ketrampilan ayahnya bahkan lebih pintar. Meski sempat gamang karena disekelilingnya telah banyak perajin batu alam; ia tak mau gentar. Jika berjalan- jalan ke kawasan jalan raya Muntilan, memang disana berderet- deret toko usaha batu alam.

Dari usaha pembuatan cobek, patung, batu hiasan taman yang lengkap denga air mancur. Bahkan jika kamu mau miniatur Candi Borobudur gampang disana. Semakin banyak toko disana pastilah samakinlah gampang buat pembeli. 
 
Tapi bagi Ahmad itu bisa jadi pertanda bahwa samakin banyak persaingan. Untunglah ayahnya itu punya toko di Jalan raya Muntilan, sehingga ia bisa bebas memajang karyanya. Meski begitu ia juga sadar bahwa tempat strategis tak memastikan penjualan tinggi.

Guna menggaet pelanggan dia tetap bekerja keras. Apalagi ia menarget turis asing. Untuk itulah ia mencari- cari tau apa saja yang digemari mereka. Ahmad yakin, sekian banyak turis, pastilah ada yang melirik hasil karya batu alamnya. 
 
Dia selalu membuat apa yang diminati pengunjung turis di etalase tokonya. Ia tetaplah melayani mereka dengan ramah. Meski mereka tak membali atau melihat- lihat saja, itu tak masalah baginya.

"Intinya saya ingin menghasilkan yang kreatif dan menarik," kata Ahmad.

Pengusaha tak perlu kuliah?

Tidak tepat dari berkuliah di teknik mesin justru ia menemukan banyak ide kreatif. Pengalaman menggunakan aplikasi bernama AutoCad digunakannya. Aplikasi yang pernah dipelajarinya semasa kuliah itu mampu mendukung usahanya. 
 
Nah, dengan aplikasi itulah ia membuat desain- desain baru. Kemudian lahirlah ide hiasan tanaman yang mengalirkan air mancur. Hiasan tersebut karena ada bola ditengah yang bisa berputar terbalik.

Ia pun berseloroh, "kuliah saya ternyata tak sia- sia". Tak disangka- sangka produk itulah yang jadi maskot dalam bisnisnya. Apalagi, produknya itu tak tersedia di toko lainnya yang masih membuat aneka hiasan tradisional. 
 
Untuk menambah pelanggan, Ahmad pun bekerja sama dengan para pengusaha mabel di kawasan Yogyakarta. Ahmad mulai melobi mereka agar saling berbagi pelanggan. Caranya jika ada yang cari hiasan batu alam maka diarahkan ke Ahmad. Begitu juga sebaliknya.

Selain itu ia mulai memperbaiki pelayanan kepada pelanggan. Ia berperinsip ramah kepada konsumen berarti menentukan nasib bisnis. Berkat ramahnya bahkan pemandu wisata dengan senangnya mengarahkan. 
 
Meski begitu terlalu ramah juga bisa jadi apes. Dia bercerita pernah ditipu oleh pemesan kerajinannya. Kala itu, di tahun 2008, ada pembeli yang tak mengambil barang pesanannya. Belajar dari sana ia paham untuk mereka para pelanggan, meski kenal, harus tetap membayar dulu atau minimal dp.

Ahmad pun berniat membangun cabang di Jakarta. Tepatnya ia membuka cabang di Jakarta, tepatnya di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD). Alasannya karena banyak pelanggan asal Jakarta gagal bertransaksi karena kesulitan dalam pengiriman. 
 
Mereka pelanggan dari Jakarta ada yang takut pesanan nanti rusak di jalan, atau karena jadi mahal jatuhnya. Meski kini telah sukses apakah ia masih ingin dengan apa cita- citanya dulu. Dia "terpaksa" jadi pengusaha usaha kerajinan batu alam.

Sambil bercanda ia berkata, "Mungkin kalau ada yang menawarkan pekerjaan, saya terima."

Dibawah bendera usaha 77 Craft, kini Ahmad bisa mengekspor produknya ke beberapa negara. Kini produknya telah tersebar di kawasan Asia, Amerika, dan Australia. 
 
Negara- negara Asia yang telah rutin meminta  kiriman produknya antara lain Filipina, Singapura, dan Malaysia. Pangsa pasar yang cukup luas tersebut membuatnya mampu mengumpulkan omzet minimal Rp 100 juta per bulan. 
 
Jenis produknya berupa produk eksterior seperti air mancur, ornamen lampu, dan patung. Produk- produk tersebut dijual seharga mulai dari Rp 35.000 sampai Rp 1 juta per unit.

Jual Keripik Tempe Mafia Pengusaha Irvan Widadya

Profil Pengusaha Irvan Widadya

 
jualtempemafia.png
 
Pengusaha muda Irvan Widadya terinspirasi game mafia war. Dia jual tempe mafia. Bermula game Facebook kemudian menjadi inspirasi usaha. Pemuda asal Bandung untuk berkreasi lebih, ia mengajak banyak reseller buat kembangkan usaha. 
 
Makna mafia memang terdengar kejam, sadis, dan berbuat kriminal, seolah- olah diwujudkan dalam pedasnya jajanan khas nusantara. Dia sukses menciptakan keripik tempe yang kejam, mempunyai rasa pedas aneka level. Keripik Mafia siap menantang hingga titik keringat terakhir. 
 
Kini, ia mendulang omzet puluhan juta rupiah dari bisnis keripik tempe yang terlihat sepele. "Game Mafia War ada berbagai level, maka seru juga kalau ada makanan yang ada tingkat kepedasan seperti itu," katanya.

Bisnis Keripik Tempe

 
Irvan berbincang bahwa produk olahan seperti singkong memang lebih digemari. Kalian pasti mendengar nama populer seperti Keripik Karuhun ataupun Keripik Maicih. Iravn lulusan Desain Komunikasi Visual Institut Tinggi Harapan Bangsa, yang tak malu terjun berjualan keripik tempe.
 
Dia bermodal hanya ratusan ribu rupiah. "Tahun 2011 akhir, saya memulai usaha ini. Modalnya Rp700 ribu dan itu saya pinjam dari orang tua," kata dia.

Dengan modal minim ia mencoba membuat keripik tempe yang renyah dan pedas. Produknya kemudian dilebeli nama Mafia, atau Keripik Tempe Mafia. Pria yang memang hobi wisata kuliner dan game ini fokus menggarap bahan lokal. 
 
Proses pembuatannya pun singkat cuma 1- 2 hari jadi. Mengusung tema Mafia, kita disuguhi keripik tempe dari level keroco atau level boss. Tak berhenti berkarya ada pula rasa manis, asin, dan gurih atau perpaduan daun jeruk dan rasa original.

Tak hanya tingkatan yang seram. Tagline atau moto produknya juga tak kalah seram, "Keripik Tempe Mafia, Nembak Pedasnya!" Dari bisnis penganan ini, Irvan meraih untung sekitar Rp30-50 juta per bulan.

Produk tempe dengan tingkatan kepedasan 0-2. Sesuai dengan levelnya, keripik level 0 atau hitman tidak pedas dan ada aroma daun jeruk, keripik level 1 atau kroco akan memiliki rasa sedikit pedas, manis, asin, dan gurih. 
 
Sedangkan keripik dengan nilai 2 atau boss itu lebih pedas, asin, gurih, dan manis. Awalnya, Irvan menjual produknya kepada teman- teman dekat di Bandung. Kemudian baru setelah mantap akan reaksinya dia menggunakan media sosial sebagai media.

Pertama kali menjual di Kaskus, Irvan mengaku jualannya tak laku, sepi dari pembeli yang memesan. Dia tak pantang menyerah. Setelah berjalan dua bulan barulah thread (tulisan tentang produknya) produknya mulai disambangi beberapa member lain. 
 
Di bulan kedua ini menjadi awal Keripik Tempe Mafia memasuki pasar, tidak hanya Kaskus, media sosial lain juga sama. "Bulan kedua ini sudah ada efeknya. Banyak pembeli dari online, dari situ lah bisnis ini berkembang," katanya.

Usaha Irvan pun mulai maju. Banyak permintaan untuk menjadi distributor resmi. Ia segera menangkap kesempatan itu memberikan jalan bagi para reseller. Ada syarat khusus untuk menjadi reseller katanya. 
 
Kamu diharuskan membeli minimal 15 kilogram, sedangkan pembeli biasa bebas. Irvan menjual produk Keripik Mafia bervariasi, tergantung ukuran. Kemasan ukuran kecil yaitu 100 gram akan dijual seharga Rp10 ribu, sedangkan kemasan besar 250 gram mencapai Rp20 ribu.

"Tidak ada jumlah minimal pembelian untuk pembeli biasa. Tapi, untuk dikirim lewat paket, apa tidak sayang kalau hanya satu bungkus. Maka, pembelian untuk paket dipaskan sebanyak satu kilogram," kata dia.

Merambah Pasar Ritel


Sepertinya sukses itu belum selesai untuk Irvan Widadya. Jumlah ditributor yang telah membanjir bahkan membuat tak ingat berapa jumlahnya. Para distributor tersebut nantinya akan menjual kembali ke reseller. 
 
Tak puas, Irvan mengincar pasar ritel, langkah pertamanya adalah menambah 3 karyawan baru dari jumlah 3 karyawan tetap.  Irvan menargetkan pada tahun- tahun ini produknya dapat dijual di berbagai supermarket lokal.

Jika tertarik dengan produk ini, anda bisa berkunjung ke tempat produksi keripik Tempe Mafia di Jalan Cipaera Selatan No. 5, Kosambi, Bandung, Jawa Barat. 
 
Selain itu, bisa juga dengan mengunjungi situs www.tempemafia.com atau mem-follow akun Twitter @tempemafia dan akun Facebook tempemafia untuk keterangan lebih lanjut. Langkah ini juga berlaku bagi kamu yang berminat menjadi reseller keripik ini. 
 
Ikuti langkah diatas agar sesuai dengan harga yang dipatok Irvan. Tempe Mafia tidak hanya melulu berupa keripik tempe. Ada pula produk keripik talas dan kacang peluru atau biasa disebut kacang Bandung. 
 
Kacang peluru hanya memiliki tingkat kepedasan 1-2 saja, sedangkan keripik talas dengan tingkat kepedasan yang sama dengan keripik tempe. Kacang peluru ini dibanderol dengan harga Rp20 ribu untuk kemasan 200 gram dan keripik talas Rp16 ribu pada kemasan 150 gram.

Para pembeli keripik tempe ini berasal dari Jakarta, Kalimantan, Jambi, Palembang, dan Medan. Ada pula mereka pembeli dari Amerika, Australia, China, dan Arab Saudi. 
 
"Ada pembeli dari China yang memesan 200 kilogram keripik. Lalu, pembeli dari Amerika, Australia, dan Mekkah (Arab) rata-rata memesan 5 kilogram," tutur pengusaha muda ini.

Lulus Kuliah Malah Wirausaha Ikan Asap

Profil Pengusaha Dwi Angga

 

wirausahaikan.png
  

Ketika lulus kuliah malah wirausaha ikan asap. Dwi Angga, usianya 24 tahun, malah melanjutkan usaha yang sudah 20 tahun ini. Tinggal diantara rawa- rawa dan tambak memang cocok. Maka cocoklah usaha mereka membuat ikan asap.


"Saya sendiri meneruskan usaha milik orang tua. Memang dari dulu usahanya ya pengasapan ikan ini," ia menjelaskan. Dia beranggapan kerja sama orang tidak enak. Maka dia lebih baik melanjutkan usaha milik keluarganya.


Tak malu meskipun dia merupakan lulusan kuliahan. Tampak rumah sederhana tersebut terjejer ikan- ikan asap. Diatasnya nampak cerobong asap yang mengepul hitam. Rumah- rumah di Desa Poropayung, Kec. Juwana, Kabupaten Pati, memang dikenal produsen ikan asap.


Bahkan baru 100 meter dari gapura sudah tampak baunya tercium. Di sana, tampak orang- orang yang mengerjakan sesuatu, ada yang tengah memotong ikan dengan batang kayu kecil. Adapula mereka tengah mengasapi ikan di dapur bercerobong asap.


Bahan bakarnya memakai batok kelapa. Kemudian ikan dikemas pakai koran bekas. Angga ketika dia ditemui pewarta Betanews.id, tengah sibuk menjejer ikan matang dan sembari dikipasi kipas angin biar dingin.


Pengusaha muda berkaos panjang, bersepatu bot karet, itu lantas melanjutkan ceritanya. Dia bercerita usahanya memproduksi aneka macam ikan. Dari ikan manyung, pari, jahan, dan kropak. Itu semua dia beli dari nelayang langsung.


Dia setelah dikemas akan diantarkan ke pelanggan. Angga sudah memiliki pelanggan tetap. Mereka adalah pemilik rumah makan di beberapa kota. Mereka dari Semarang sampai Yogyakarta ada. Dimana produksi ikannya mencapai 2 kuintal perhari, kalau kepala bisa 5 kuintal.


Harganya berbeda- beda tetapi terjangkau. Buat manyun paling mahal harga sampai Rp.60 ribu. Dan kepala dihargai Rp.30 ribuan.

Usaha Modal Patungan Sejuta Jadi Puluhan Juta

Profil Pengusaha Mardiana

 

usahapatungan.png
 

Mardiana usaha modal patungan sejuta jadi puluhan juta. Pengusaha wanita 39 tahun adalah warga Desa Simbang, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Sulsel, yang menjadi perintis usaha. Bahkan dia menjadi perintis usaha budidaya jamur tiram di Makassar.

 

Orang di sana masih kepikiran kalau semua jamur beracun. Namun kini, kebalikannya masyarakat suka aneka olahan jamur tiram. Mardiana atau yang akrab dipanggil Diana bersyukur. Dia memplopori sampai sekarang menuai hasil.

 

Ibu dua anak yang masih kecil- kecil, ini menjelma menjadi pengusaha sukses. Dia pun mengajak tetangga ikutan budidaya. Mereka diberi pemahaman mengenai jamur tiram. Diajarkan mereka mulai dari persiapan media tanam sampai panen.


Target Pasar


Diana tak jenuh mengedukasi bahwa jamur tiram lezat, bergizi, dan aman dikonsumsi. Edukasi terus dilakukan sembari terus mengembangkan budidaya. Petani jamur pemula yang melihat boomingnya jamur di Pulau Jawa dan Bali.


Diana ikutan belajar mengolah jamur selain menanam. Ada jamur crispy, sup jamur, dan sate jamur, dikembangkan pasca- panen. Diana mengajak ibu- ibu yang menganggur ketika di rumah. Mereka yang sibuk mencari kutu di tetangga, dan duduk- duduk di teras diajak.


"Ibu-ibu yang tadinya cari kutu di tangga atau di teras rumahnya kini mereka lebih aktif karena disibukkan usaha jamurnya masing- masing," kata Diana kepada pewarta Merdeka.com.


Dikisahkan dia, suaminya Ahmad, dan seorang teman patungan. Usaha modal patungan sejuta jadi puluhan juta. Temannya ini rekan kerja suaminya di LSM. Bareng mereka patungan di 2010, terus dibelikan 100 baglog dan bibitnya dari Jawa.


Mereka bersama meriset usaha buat dijalankan di Makassar. Dan mereka mencari peluang usaha lewat internet. Diana mencari bisnis minimal modal tetapi menguntungkan. Melihat budidaya jamur di Jawa dan Bali berkembang pesat; Mereka menginisiasi.


Diana alumni jurusan Teknik Geologi Universitas Hasanuddin, menyadari bahwa masyarakat Jawa dan Bali suka makan jamur. Dia kepikiran kenapa Makassar tidak. Padahal kuliner di Makassar memiliki cita rasa sama.


"Saat itu saya berpikir pokoknya dimulai dulu, belum kepikiran bagaimana pemasaran," jelas Diana sembari tertawa. Dia seperti masuk ke hutan rimba ketika merintis.


Merintis budidaya jamur tiram sempat berpindah tempat. Pertama dia membuka di Kabupaten Bone, tetapi hasilnya pas- pasan. Kemudian dia pindahkan ke Desa Taeng, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Goa, dan dia pindahkan ke Desa Simbang, Kabupaten Maros.


Suatu ketika dia iseng melihat ke supermaket buat evaluasi. Dia mencari jamur tiram ternyata ada. Dia melakukan pengamatan siapa pembeli. Diana mencati tau kalangan mana mau beli. Ternyata hasilnya warga etnis Tionghoa banyak membeli jamur tiram.


"Akhirnya kita jual ke Pasar China di Jalan Bacan. Suami jual ke sana awalnya dua kilogram. Rupanya laris manis," ia senang. Kemudian Diana tidak menjual langsung, melainkan penjual akan membeli dari dirinya, atau jadi suplier.


Kemudian datang pedagang dari Pasar Sawah dan Pasar Kalimbu. Dan pemasaran hasil panen jamur miliknya meluas. Banyak pedagang datang mengambil dari Diana. Mereka menjadi reseller kemudian dijual ke hotel- hotel dan pasar- pasar.


Ada tiga hotel di Makassar sudah disuply petani jamurnya. Diana menjual 400- 500 kilogram perhari. Itu semua merupakan gabungan panen ibu- ibu Desa Simbang, dan usaha dampingan dari Kabupaten Soppeng.


Ada 40 ibu- ibu di kawasan Makassar didampinginya. Karena sekarang peminatnya banyak, padahal produksi terbatas, maka satu reseller dijatah 30 kilogram dan seharga Rp.25 ribu perkilogram. Usaha modal patungan sejuta tersebut diberinama Celebes Mushrooms Farm.


Tidak cuma jualan jamur tetapi juga berjualan bibit. Diana dibantu 11 orang. Perbulan mereka mampu memproduksi 7 ribu sampai 10 ribu baglog yang dijual Rp.4000 perbaglog. Pembeli bibit dari wilayah Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Manado.


Omzet usahanya Rp.40- 60 juta perbulan dengan keuntungan 40%. Diana yang ahli di bidang IT juga mendapat pesanan dari Brazil dan Inggris. Tetapi dia tidak sanggupi karena keterbatasan produksi. Dia sebagai pengusaha, mempunyai obsesi mengembangkan usaha lebih besar tetapi terbatas dana.


Diana bukan tanpa kegagalan. Pernah dia rugi 2000 baglog karena gagal tumbuh. Adapula serangan hama serangga dan jamur liar. Diana mengajarkan, pengusaha harus siap evaluasi, cari solusi termasuk lewat internet, dan jangan panik kalau ada masalah.

Buruh Dirumahkan Karena Covid Berbisnis Frozen Food

Profil Pengusaha Sukses Azim

 

buruhbisnis.png
 

Kisah buruh dirumahkan karena Covid kembali berlanjut. Dia kini berbisnis frozen food. Tujuannya biar bisa bertahan sekaligus menolong. Azim namanya juga mengajak teman- teman sesama buruh. Mereka berjualan aneka frozen food enak bin murah.

 

Azim bekerja di industri otomotif salah satu kawasan industri Jakarta. Dia tinggal di Bekasi. Begitu dia dapatkan berita pemberhentian otaknya berputar. Dia ingin tetap berpenghasilan selama masa tanggap darurat tahun lalu.


Sembari ia mengisi waktu karena dirumahkan. Dia merintis usaha rumahan. Azim memang tidak dipecat tetapi diliburkan. Namun dia tetap harus memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga. Sembari dia berharap pandemi cepat selesai, sembari mengurus rumah sambilan berjualan aneka frozen food.


Dia pun menyediakan egg roll, chicken tofu, ebi shrimp, shrimp stik ayam, shrimp stik ikan, ebi furai, chicken katsu, kani roll, shrimp roll dan ekkado. Azim lengkapi semua demi memenuhi kebutuhan masyarakat.


Usaha berkonsep bento dikembangkan Azim menjanjikan. Waktu dia keluarkan lebih fleksibel sembari mengurus rumah. Dia yang anggota FSPMI DKI, mengajak sesama buruh buat menjajal usaha sejenis frozen food begini. 

 

"Merintis usaha di rumah, menjual aneka produk bento frozen food yang siap saji. Alhamdulillah prospeknya bagus," terangnya kepada koranperdjoeangan.com. Dia juga mengajak buruh yang masih bekerja buat wirausaha. Ayo berbisnis frozen food. 

 

Menurutnya hal- hal tidak diinginkan mungkin terjadi. Kita harus mempersiapkan sejak jauh- jauh hari. Buruh dirumahkan karena Covid bisa berbisnis. Usaha frozen food begini halal, dibuat dari seafood, dimasak dengan higienis demi menjaga kualitas rasa dan zat gizi.


"Untuk rasa dijamin menggugah selera makan dan pasti ketagihan," imbuhnya. Dia meyakinkan bahwa Faal Bento Frozen Food, adalah makanan yang disajikan restoran Jepang tetapi terjangkau. Harganya nyaman dikantong cocok buat kawan- kawan buruh juga.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba