Pengusaha Karpet Atta Ul Karim Membangun Bisnis

Profil Pengusaha Atta Ul Karim

 

pengusahakarpet.png

 

 

Usaha keluarga tersebut mengalami pasang surut. Pengusaha karpet Atta Ul Karim membangun bisnis milik keluarga. Ayahnya merintis Al Barkat Oriental Rugs and Carpets, atau Al Barkat Carpets dulu menempati dua ruko kawasan Jalan Fatmawati nomor 28 AA.


Ayahnya bernama Malik Masood Ahmad bekerja keras sampai berdarah- darah. Atta menjelaskan bahwa ayahnya merupakan pembangun fondasi. Dari dua ruko berkembang menjadi lebih luas. Mereka lantas menjadi kepercayaan pejabat dan selebriti.


Pengusaha karpet yang menawarkan harga murah tetapi berkualitas tinggi. Ayah Malik Masood handal dalam menentukan kualitas. "...tapi kalau tanya ayah saya, waduh luar biasa perjuanganya. Istilahnya sampai berdarah- darah," ujarnya kepada Merahputih.com.


Cara Jualan Karpet


Prinsip kejujuran diajarkan Malik kepada anaknya, termasuk Atta. "Dia baik hati bukan pura- pura. Jadi harga segini, emang harga segini, tidak bisa dikurangi lagi, udah jujur gitu," ucap Atta. Tertanam dibenak Atta kalau mau naikin harga gak enak, enggak boleh naikin harga tinggi- tinggi.


Atta berkisah bahwa dulu ayahnya merupakan pelopor. Hanya dua sampai tiga penjual karpet berjualan di Jakarta. Malik tak pernah patah semangat. Pandangannya adalah makin banyak persaingan justru akan bagus. Memberikan peluang lebih banyak meningkatkan kepercayaan masyarakat.


Ayahnya senang ketika orang senang membeli ke tokonya. Senang kalau mereka senang tau bahwa karpetnya berkualitas dan murah. Kini Al Barcat memiliki 27 cabang yang tersebar di 16 kota besar di Jakarta, Medan, Surabaya, dan Makassar.


Al Barkat memilikii strategi bisnis unik. Mereka menyuguhi teh pakistan ketika datang. Walau orang enggak jadi membeli tetap dikasih. Teknik awal Al Barkat ialah berjualan melalui Yellow Pages. Ayah Atta akan menghubungi satu per- satu telephon tercantum, menawarkan karpet.


Atta menjelaskan mereka siap melakukan pesan antar. Atau pengunjung boleh datang ke showroom. Atta muda sudah membantu ayahnya. Ia menawarkan karpet dari Masjid ke Masjid. Mengantarkan memakai mobil sampai bergulung- gulung.


Tak jarang dia membawa karpet pakai motor dipangku. Kini Al Barkat sudah memakai teknik reseller. Syaratnya, reseller harus bertemu Atta sebagai pemilik sekarang, dan pahamilah rumus menentukan harga. Reseller wajib membawa tiga pelanggan dulu.


Atta akan menentukan apakah orang tersebut mampu menjual. Nanati reseller akan dibuatkan kartu nama. Syarat pembelian juga tidak ditentukan. Tidak ada minimal belanja. Tetapi calon reseller harus membawa tiga orang dulu buat bukti.


Pengusaha karpet Atta Ul Karim merupakan kelahiran Pakistan. Ayah dan ibunya ke Indonesia buat berjualan karpet. Atta, yang ketika itu masih 15 tahun, disuruh datang ke Indonesia buat membantu jualan. Tentu Atta remaja sempat merasa sedih karena meninggalkan teman- temannya.


"Kan kalau orang tua ditolong anaknya lebih semangat," Atta menjelaskan. Menetap di Indonesia, dia menemukan teman dan saudara baru.


Tahun 2009, dia diserahi melanjutkan usaha karpet keluarga. Karpetnya berasal dari berbagai negara di Timur Tengah, ada dari Pakistan, Turki, Iran, Afganistan dan Kazakhstan. Atta sendiri mampu buat menaikan penjualan Al Barkat berkat sosial media.


Ada Twitter dan Instagram membantunya menaikan penjualan. Atta sendiri juga terdampak Covid 19 namun bertahan. Kan orang tinggal di rumah, Atta optimis orang akan tetap membeli karpet. Inilah saatnya kita menikmati kenyamanan di rumah.


Atta tidak pernah mengeluarkan karyawan karena pandemi. Mereka dirumahkan, tetap digaji, jangan memutuskan rejeki orang. Pengusaha karpet Atta Ul Karim percaya bahwa, ada istri- anak yang akan mendoakan rejeki pegawainya. "Sehingga kita pun ikut didoakan," ucapnya.

Fashion Designer Biografi Peggy Hartanto Mendunia

Biografi Pengusaha Peggy Hartanto 

 
fashiondesigner.png
 
Biografi Peggy Hartanto, desainer cantik satu ini punya sifat ramah, bersahabat, dan sekaligus murah senyum. Melalui lima menit diskusi saja, kamu akan menemukan segudang ide kreatif dan rencana masa depan. 
 
Sejak duduk di bangku SMA, ia mengaku sudah membulatkan tekat untuk jadi desainer. Perancang busana tepatnya menjadi cita- cita sejak dulu. Peggy Hartanto pun rela jauh- jauh berkuliah desain ke Australia.

Passion business


"Fashion is my passion," jelasnya.

Mungkin anda yang belum menentukan langkah akan berpikir, dunia fashion itu glamor. Tapi bukan kesan itu yang ada pada pemikiran Peggy. Alasannya bukan lah tentang glamor di dalam dunia fashion designer itu. Dia menambahkan dunia ini sangat menggairahkan. 
 
Punya marketnya apa yang kami tangkap. Meskipun begitu, disisi lain, bisnis ini sangatlah kompetitif. Inilah jalan yang dipilihnya yaitu sebuah jalan sulit. Setelah menyelesaikan pendidikan di affles College of Design and Commerce di Sydney, Australia, ia tak lantas menjadi seorang desainer. 
 
Ada tahapan yang perlu dilalui Peggy. Dalam biografi Peggy Hartantu, ia mengawali karir pertamanya dulu dengan menjadi desainer untuk desainer asal Australia, Collette Dinnigan. Pengalaman menjadi pegawai orang dululah yang ikut membangun usahanya sekarang.

Pengalaman di Australia membawanya mendapatkan banyak penghargaan. Maka ketika Peggy kembali ke Indonesia bukan tanpa bekal pengalaman. Kembali ke Indonesia pada 2012, Peggy Hartanto memulai debut sebagai seorang fashion designer di Indonesia melalui label Peggy Hartanto. 
 
Ketika kembali sambutan hangat pasar telah menantinya seketika.

"Saya membuat label Peggy Hartanto setelah kembali ke Indonesia pada 2012 (sebelumnya tengah menyelesaikan kuliah dan bekerja di Sydney, Australia)," ujarnya.
 
"Sebelum kembali ke Indonesia, saya bekerja di Collette Dinnigan Australia sebagai bagian Production dan Quality Control. Membuka label ready-to-wear sendiri adalah impian saya," jelasnya pada satu kesemapatan pada swa.co.id.

Kesempatan untuk debut pertamanya ada di Jakarta Fashion Week 2013. Dengan dukungan teman- teman, keluarga, ia bersama tim -nya membuat momentum melalui produk pakaian ready-to-wear. 
 
Untuk koleksi produk pertamanya Spring/Summer 2013, Peggy mencari bahan di seluruh penjuru Surabaya. Dia lalu mulai menjahitnya sendiri. Proses perekrutan SDM secara intens ada setelah fashion show pertamanya. Itu juga sejalan dengan jumlah produksi yang meningkat.

Sehari setelah pulang dari Jakarta, ketika di Surabaya, ia langsung membangun brandnya melalui media internet, yaitu melalui www.shoppeggyhartanto.com. Semua untuk mengakomodasi permintaan pesanan yang melonjak setelah fashion show. 
 
Tim nya pun langsung melakukan press release pada media dalam dan luar negeri untuk koleksinya. Semua dilakukan cepat, penuh perhitungan, dan strategis, tercermin dalam tempo waktunya.

"Proses selanjutnya adalah follow up inquiry yang datang kepada kami. Semua proses ini kami jalani secara otodidak dengan belajar banyak dari orang-orang yang berpengalaman dan dari buku. Buyer pertama kami adalah bobobobo.com," jelasnya lagi.

Quality control


Bekerja di Asutralia sebagai quality control dibawanya hingga Indonesia. Meski pasar Indonesia tak sama, tapi soal kualitas, memberika yang terbaik itulah Peggy. Ia pun berpendapat: suatu koleksi busana hendaknya memiliki cerita dimana satu karya dengan karya lain saling berhubungan.

"Waktu saya belajar di Australia, saya sudah dididik untuk membuat suatu koleksi itu harus ada cerita di belakangnya, kalau tidak, koleksi itu biasa saja, tak ada yang spesial," sebutnya.

Ia mengambil contoh ketika membuat salah satu gaun karyanya. Peggy mendapatkan inspirasi dari sebuah batu permata. Tepatnya ia mendapatkan inspirasi dari batu agate (akik). Itu tercermin dari gaunnya yang ada berwarna biru keunguan. 
 
Corak tengahnya terinpirasi dari tekstur dan desain batuan agate. Wanita yang dulu sempat berpikir untuk kuliah arsitektur guna meneruskan usaha keluarganya ini selalu memiliki cerita disetiap karyanya.

Jangan kaget jika ditanya tentang satu karyanya dengan cepat dia akan bercerita. Bagaimana sumber, pola, serta pengaplikasiannya pada produk- produknya. Segudang prestasinya antara lain pernah mengikuti Pekan Fesyen Australia pada tahun 2010. 
 
Ia juga pernah menyabet juara pertama kategori anyaman di Penghargaan Fesyen Wol Australia, dianugerahi 'Asian New Generation Fashion Designer Award' oleh sebuah majalah mode di Indonesia pada tahun 2013. 
 
Tak habis, ia masih punya segudang prestasi yang diidam- idamkan insan mode Indonesia. Desainer 26 tahun ini tak menampik Australia memiliki peran besar terhadap desainnya.

"Saya belajar feshion di Australia, dan saya juga mengamati mode- mode yang ada di Australia serta gaya hidup di sana, nuansanya santai, simple dan minimalis. Dari situ terbentuk secara personal, inilah Peggy Hartanto," ceritanya kepada ABC Internasional.

Kembali jauh kebelakang, sosok Peggy Hartanto bukan tiba- tiba ingin menjadi fashion designer. Ini yang perlu kita catat bahwa ia telah lama ingin membuat bajunya sendiri. Sejak keci, ia selalu memilih bahan dan material apa yang ada pada pakaiannya. 
 
"Saya kurang suka memakai renda- renda karena tidak nyaman," tambahnya. Dia suka segala sesuatu yang berbau seni. Itulah kenapa fashion designer menjadi rujukan apa yang ia inginkan.

Dia yang memiliki sifat kompetitif. Peggy suka mengikuti berbagai kompetisi untuk mencapai cita- citanya. Dia yang ditempa untuk untuk mengenal dan mengerti dunia fashion; ia jatuh cinta. Membuka brand -nya itu menjadi tujuannya. 
 
Produk- produk ready-to-wear merupakan apa yang dia inginkan. Ini telah menjadi cita- citanya sekembalinya ke Surabaya. Keluarga pun mendukungnya baik secara finansial, moral, untuk memulai usahanya sendiri.

Rumah Warna Usaha Kecil Berbasis Orisinalitas

Profil Pengusaha Nanang Syaifurozi

 
rumahwarna.png
 
Usaha kecil berbasis orisiniltas. Rumah Warna didirikan pada tahun 2013. Sejarahnya, dimulai dari pasangan kreatif, pasangan pengusaha suami istri Nanang dan Ane. Keduanya memang hobi membuat pernak- pernik. Salah satu usahanya hanyalah produk frame. 
 
Waktu itu keduanya hanya menjual dalam jumlah kecil. Usaha rumahan lah, orderannya hanya 10- 100 pcs per- bulan, itupun dari saudara.


Seiring waktu usaha kecilnya berkembang juga aktif memproduksi produk baru. Mereka memproduksi box dan memperkenalkan ke halayak sebagai industri rumahan. Berawal dari usaha membuat bingkai kecil. Pengusaha Nanang hanya bermodal 50 ribu rupiah.
 

Membuka Usaha

 
Pengusaha Nanang tidak menyangka hobinya semasa kuliah berhasil. Dia bersama pacarnya, istrinya sekarang, menyukai mengumpulkan pernak- pernik. Terutama yang berbahan kertas berbentuk bingkai foto. Dia menyukai memasang tersebut di tembok kamar kos.

Ia sempat menawarkan kepada teman. Begitu laku dia dan Ana malah ketagihan jualan. Produk dijual murah Rp.7000 ke bazar Minggu di kawasan UGM. "Laku satu aja rasanya seneng banget," tuturnya. 
 
Dengan telaten keduanya berjualan di pinggir jalan. Tanpa rasa malu. Mereka terus berkreasi membuat pernak- pernik lain. Mereka terutama menjual kesukaan remaja putri. Rintangan muncul ketika orang tua Nanang mengetahui ini.

Orang tuanya tidak terima. Mereka ingin anaknya fokus berkuliah. "Beliau (orang tua) berharap saya bisa kerja kantoran setelah lulus. Dan tidak ingin nasib saya seperti orang tua saya yang kesehariannya jualan toko kelontong," kenangnya.

Bukannya berhenti Nanang malah makin berkreasi. Ada harapan dibalik berjualan seperti tersebut. Mahasiswa D- 3 Broadcasting UGM tersebut meyakini akan lulus. Bahwa dia akan lulus tepat 2002, dan terbukti memang lulus tanpa penundaan.
 
Nanang semakin bikin sewot orang tuanya setelah ngeyel. Dia memilih lanjut wirausaha. Sekaligus ia mantap menikahi pacarnya Ana. Dia adalah adik kelasnya kuliah. Keduanya pasangan suami istri yang baru lulus dan tidak memiliki pekerjaan tetap.
 
Prinsip Nanang sederhana mau hidup berkecukupan. Tidak perlu mapan. Yang penting dari berjualan pernak- pernik ia mampu memberi makan. Mereka kemudian menikah. Karena dia telah bertekat maka orang tuanya mengijinkan. Itupun tidak ramai- ramai asalkan sah secara hukum.
 
Bahkan teman kosnya tidak tau. Karena mereka berdua tetap ngekos tetapi beda tempat. Pengusaha muda kelahiran Banjarnegara, 18 September 1979, yang merasakan makin banyak rejekinya. Salah satunya ketika mereka membuka stand di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) di 2002.
 
Dari festival tersebut pesanan membanjiri dari Spanyol, Prancis, Jerman, Jepang, dan Amerika. Usaha yang mereka tekuni "booming" frame foto daur ulang. Namun dia tidak mau latah. Ia semakin banyak berkreasi berkonsep colorfull.
 
Mereka menarget anak ABG perempuan. Selain membuat produk tempel- menempel, mereka mulai mengerjakan aneka pernak- pernik jahit, dari dompet, tas, kantong handphone, bedcover, sprei. Karya mereka tetap berkonsep colorfull apapun itu.
 
Awalnya mereka tidak mudah memasarkan barang. Ketika mengembangkan dan mencari modal, ia sempat dipandang sebelah mata pihak Bank. Bagi pebisnis pemula mereka tidak meyakini. Hingga ia mampu membuktikan penghasilan.
 
Tujuh tahun usaha menghasilkan sistem franchise. Ada beberapa cabang franchise dari Kalimantan dan Jawa Tengah. Usaha pokoknya sendiri sudah hasilkan omzet Rp.1 miliar perbulan. Prinsip mereka adalah give and take atau, "selalu memberi dulu, baru menerima dalam hal apapun," ujar Nanang.

Rejeki Usaha Kecil

 
Yang membuatnya laris karena dia dan istrinya membidik anak- anak ABG. Usahanya kemudian disebut Rumah Warna. Usaha itu tumbuh pesat dengan memproduksi berbagai produk lain.

Pada akhir 2003, untuk produk bingkai foto saja, keduanya mampu mendapatkan order 10.000 pcs per- bulan. Nanang semakin berkonsentrasi dengan usaha Rumah Warna -nya. Masih mengusung target pasar yang sama, merek mulai membuat tas, dompet scrapbook, bingkai sampai seprei dan bed cover. 
 
Kesemuanya itu dibuat warna- warni lucu. Pada tahun 2004, produk- produk yang dihasilkan oleh Rumah Warna mulai diberi label sebagai pengenal identitas produk. Saat itu pula usaha Rumah Warna mempunyai 3 orang karyawan tetap.


Pada tahun 2005, mereka mulai aktif mengikuti berbagai pameran di kawasan Yogyakarta. Brand Rumah Warna mulai dikenal. Pegawai pun meningkat sejalan dengan jumlah pesanan jadi 10 orang dalam satu tahun. 
 
Sebagai catatan di Yogyakarta pameran industri kreatif memang rajin dilakukan. Ini cocok bagi anda yang sedang merintis bisnis maka datanglah ke Yogya. Pada 2006 sebuah showroom dibangun Rumah Warna di Ring Road Utara.

Tempat showroom ditujukan untuk memajang produk warna- warni mereka. Disana mereka menerima order dari pengunjung. Semua transaksi jual-beli produk- produk dari Rumah Warna ada disana, hingga melalui sistem online. 
 
Sementara itu produksi produk- produknya dihasilkan di rumah yang disulap jadi pabrik kecil. Sebagai catatan untuk karyawan produksi total 20 orang pada 2006. Ditambah karyawan di tokonya. Di tahun 2007, jumlah karyawan jadi 40 orang menjadikan usaha kecil ini jadi usaha menengah.

Jumlah karyawan jadi 72 orang, mulai awal tahun 2008, Rumah Warna telah resmi mengontrak sebuah rumah dengan ukuran yang cukup sebesar. Rumah itu dijadikan tempat produksi yang berlokasi di JL. Pandean Sari no.8 Condong Catur Yogyakarta. 
 
Hingga saat ini jumlah karyawan produksi yang mencapai 60 orang dan 30 arang untuk non produksi. Jumlahnya ada 2 pabrik di Kutoarjo dan Bantul yang produksi normal hariannya bisa mencapai 35 ribu per bulan.

Ada 6 Show Room yang tersebar di seluruh wilayah yogyakarta, Solo dan Semarang, yaitu : (1) Ring Road Utara, Pandega Satya 15A Yogyakarta; (2) Mal Galeria Lt.2 Yogyakarta; (3) Plasa Ambarukmo, Lt. Lower Ground Yogyakarta; (4) Mal Malioboro, Lt. Upper Ground Yogyakarta; (5) Solo Grand Mall Lt.1 Solo; (6) Mal Ciputra – Simpang Lima Semarang. 
 
Dan untuk omzet, Nanang menyebut angka 4 miliaran rupiah. Kini, Rumah Warna juga sudah memiliki 70 outlet di penjuru Indonesia. Malah Rumah Warna sempat membuka outlet di Jepang dan Prancis. 
 
Sayangnya, Nanang kurang mempersiapkan diri dengan pembukaan pasar tersebut,  permintaan disana justru terlalu tinggi dan tak sanggup dipenuhi oleh pabrik yang ada. Apa rahasia suksesnya terletak pada fokusnya pada produk hand made. 
 
Meski jadi kurang efektif untuk produksi ke luar negeri, nyatanya produk Rumah Warna selalu unik. Nanang masih punya mimpi. Meski tak bisa secepat pabrikan bermesin. Pengusaha ini tetap akan mencoba merembah  ke pasaran luar negeri. Dia juga mematok 500 cabang untuk produknya.

Cara Menjadi Miliarder Sebelum 30 Tahun

Artikel Bisnis Cara Menjadi Miliarder 


menjadimiliarder.png

"Sukses itu tugas mu, kewajiban, dan tanggung jawab," -Grant Cardone

Berikut cara menjadi miliarder sebelum 30 tahun. Cara Grant Cardone, seorang mahasiswa berprestasi, jatuh miskin dan banyak hutang, dan di umur 30 tahun sudah jadi miliarder. Bagaimana bisa tentu akan ada cerita sendiri. 
 
Kita akan membahas sebuah artikel yang dituli olehnya "Bagaimana Cara Menjadi Miliarder di Umur 30 Tahun. Jika mengambil dari kisahnya sendiri ini pasti terbukti akurat.

Ini adalah 10 langkah yang diyakininya bisa membawa kita menjadi miliarder:

1. Ikuti uangnya. Dengan keadaan ekonomi sekarang kamu tidak bisa menyimpan langkah mu. Pastikan itu melalui langkah pertama yakni meningkatkan pendapatan di gaji kemudian diulangi lagi. 
 
Penghasilan Grant dulu itu $3.000 per- bulan naik sembilan tahun kemudian $20.000 per- bulan. Mulai dengan mengikuti uang sehingga akan mengontrol penghasilan kamu dan lihat kesempatan.

2. Jangan pamer -buktikan! Grant tidak lah membeli jam tangan mahal atau mobil sampai bisnisnya dan investasinya mengalirkan pendapatan terus. Bahkan selepas sukses, dia penuh percaya diri mengendarai mobil biasa Toyota Camry ketika sudah jadi miliarder. 
 
Perlihatkan etik kerja, bukan hal- hal kecil kamu bisa beli.

3. Menyimpan untuk berinvestasi, jangan menyimpan untuk menabung. Alasan utama menyimpan uang ya berinvestasi. Taruh uang kamu dalam tampat aman, tabungan yang sulit dijangkau (tidak tersentuh). 
 
Jangan pernah menggunakan tabungan itu untuk apapun, bahkan keadaan genting. Hingga sekarang, Grant sudah dua kali, dia bangkrut karena dia menginvestasikan keuntungan ke tempat dia tidak bisa diakses.

4. Hindari hutang yang tidak membayar mu. Buat lah satu aturan khusus bahwa kamu tidak akan pernah menggunakan hutang yang tidak membayar mu. Grant mau membeli mobil karena dia tau mobil menghasilkan uang. 
 
Orang kaya menggunakan hutang menjadi pendorong investasi dan meningkatkan pendapatan. Orang miskin memakai uang untuk membeli barang yang membuat orang kaya makin kaya.

5. Perlakukan uang seperti pacar pencemburu. Miliaran orang merindukan kebebasan finansial, cuma saja mereka yang punya prioritas menghasilkan miliaran. Untuk menjadi orang kaya dan tetap kaya kamu akan butuh membuat prioritas. 
 
Uang seperti pacar penyemburu. Lupakan itu dan itu akan mengacuhkan mu, atau lebih buruk, itu akan meninggalkan kamu untuk seseorang yang membuat prioritas.

6. Uang tidak pernah tidur. Uang tidak kenal jam, jadwal ataupun hari libur, begitu juga kamu. Uang cinta orang yang mempunyai etik kerja. Ketika Grant masih berumur 26 tahun, dia bekerja di toko retail dan dia bekerja di toko yang tutup sampai pukul 7 malam. 
 
Seringnya nih dia akan menjual terus sampai di pukul 11 malam membuat penjualan ekstra. Jangan mencoba menjadi paling pintar atau beruntung -pastikan kamu bisa mengalahkan jam kerja orang lain.

7. Orang miskin tidak masuk akal. Dia pernah miskin, dan itu buruk. Ia mempunya cukup dan cukuplah sampai hampir buruk. Hapuskan apapun dan semua pemikiran menjadi miskin itu "biasa". 
 
Bill Gates pernah berkata, "jika kamu lahir miskin, itu bukanlah salah mu. Tetapi jika kamu mati miskin, itu salah mu."

8. Dapatkan guru miliarder. Hampir keseluruhan orang kelas menengah bahkan miskin akan menahan diri dan berpikir layaknya grup ini. Grant telah menilit para miliarder ternyata meniru apa yang miliarder lakukan. Yah dapatkan guru miliarder sendiri dan pelajari mereka. 
 
Kebanyakan orang kaya berpikir bijak berbagi tentang pengetahuan mereka dan sumber penghasilkan mereka.

9. Dapatkan uang mu untuk mengangkat tinggi. Berinvestasi seperti Holy Grail dalam menjadi miliarder dan kamu harus menghasilkan uang lebih dari investasi kamu dibanding pekerjaan. Jikalau kamu tidak punya uang lebih untuk berinvestasi. 
 
Perusahaan kedua dijalankannya membutuhkan uang $50.000 investasi. Itu lantas mengembalikan uang kembali $50.000 setiap bulan untuk sepuluh tahun. Investasi ketiganya di bidang properti, dimana dia memulai $350.000, merupakan penghasilan terbesar kala itu.

"Saya masih memiliki properti itu hingga hari ini dan terus memberikan saya pendapatan. Investasi adalah satu- satunya alasan untuk melakukan langkah- langkah lainnya, dan uang anda harus bekerja untuk anda dan melakukan kerja berat anda," tulisnya.

10. Tembak lah $10 juta, jangan $1juta. Kesalahan finansial sering dilakukan akunya adalah tidak berpikir lebih besar. "Saya mendorong anda kejarlah untuk lebih dari satu juta. Tidak ada kekurangan uang di planet ini, hanya kekurangan orang berpikir cukup besar," tutup Grant.

Baharuddin Pengusaha Sampah Lhokseumawe

Profil Pengusaha Burhanuddin

 

burhanuddin.png
 

Baharuddin Sanian tengah mencari keberadaan hilang. Pengusaha sampah Lhokseumawe bermula dari pristiwa tsunami Aceh dulu. Dia tengah mencari kerabatnya yang hilang. Sampai di Banda Aceh, hanya tampak banyak jenasah tergeletak, diantaranya tumpukan sampah bertumpuk- tumpuk.

 

Baharuddin tercengang melihat pemandangan tersebut. Disaat sama beberapa orang nampak tengan cari- cari besi. Mereka bukan mencari jenasah. Malah mencari besi yang berharga mungkin dijual kelak. Dia memaklumi karena keadaan begitu ancur.

 

Menjadi Pengusaha

 

Banyak orang mencoba bertahan hidup melalui memungut sampah. Baharuddin nampak melihat aneka wadah plastik tidak tersentuh. Padahal jumlahnya menggunung kenapa tidak diambi. Mungkin karena memang tidak laku. Padahal dia merasa sampah plastik hendaknya didahulukan.

 

"Berbeda dengan besi yang harganya mahal kalau dijual kembali," ucapnya. Pemandangan tersebut sangat membekas. Bahkan ia mulai memikirkan mengapa tidak didaur ulang. Apa tidak laku dijual kembali sampah plastik layaknya besi.


Dia kemudian merintis usaha sampah plastik. Baharuddin suatu ketika mengumpulkan para pemulung buat belajar. Sampah plastik tidak mudah terurai. Butuh pengolahan khusus sampai plastik dapat dipakai. 

 

Dia kemudian bertemu Dardak, agen pemulung asal Banda Aceh, dan belajar mengapa begitu. Kenapa ketika itu orang cuma mengambil sampah besi. Ternyata Dardak mengolah sampah seadanya. Sampah cuma dikumpulkan dan dibagi dua, menjadi tom dan plastik dan cong atau samsam.


Atom plastik merupakan sampah kemasan plastik minuman. Juga termasuk ember rusak, kursi plastik, dan lain- lain. Penggolongan sederhana tinggal dikumpulkan dijual. Mereka akan dijual ke pengepul atau agen sangat murah.


Baharuddin makin penasaran terutama pengolahan lebih lanjut. Ia membuka internet. Ternyata plastik cuma dikumpul- kumpulin tetapi diklasifikasikan. Dia menyebut sampah plastik saja, sudah memiliki banyak klasifikasi dari bahan kimianya.


"Di internet saya tahu, sampah plastik secara garis besar dibagi tujuh," tuturnya. 

 

Ada PET polyethylene therephthalate) berupa botol air mineral, HDPE (high density polyethylene) berupa botol oli, kosmetik hingga keresek, PVC (polyvinyl chloride) berupa pipa dan bahan konstruksi; LDP (low density polyethylene) berupa tutup botol air kemasan galon.

 

Kemudian ada PP (polypropylene) berupa kemasan air dalam gelas hingga peralatan makan; PS (polystyrene) biasanya styrofoam; dan HIPC (high impact plastic cover) untuk perangkat elektronik. Ia menemukan mereka memiliki nilai jual berbeda.


Pemulung tidak memahami perbedaan tersebut. Mereka cuma membagi dua buat dijual- belikan. Dia melanjutkan padahal plastik air mineral saja, memiliki empat jeni botol. "Botolnya itu PET, labelnya PP, tutupnya HDPE, dan segelnya PVC," jelas pengusaha sampah ini.


Kalau mereka (pemulung) memilah empat jenis plastik dalam satu botol, maka mereka akan mendapat penghasilan lebih. Umumnya pemulung tidak memilih langsung dijual. Alhasil agen akan memberikan uang sama rata.


Bekas air minum bila sudah dibersihkan tutupnya dijual Rp.6500 perkg. Kalau dijual seadanya cuma Rp.4000 perkg. Kalau sampah botol dibersihkan penutupnya akan mahal. Karena keseluruhannya dari bahan PP bisa daur ulang bagus.


Taukah kalau sampah plastik bening air mineral lebih bernilai. Bila dibersihkan lalu dicacah akan bisa dijadikan kantong plastik kualitas tinggi. Inilah kenapa botol plastik air minum bisa mahal. "Kalau gelas plastiknya tak bersih, masih ada sisa penutupnya, maka kualitas biji plastik akan jelek," jelasnya.


Kebetulan Baharuddin merupakan lulusan teknik mesin. Dia pun menciptakan alat pembersih plastik sendiri. Baharuddin pengusaha sampah Lhokseumawe pernah dicemooh. Baharuddin disebut gila. Ia dikatain teman sampai keluarga.


Kata mereka teman dan keluarga, "sudah enak kerja di Exxon (perusahaan swasta besar), malah sibuk mengurusi pemulung". Lima bulan selepas bencana tsunami, di Mei 2015, kemudian dia mendirikan usaha Palalap Plastic Recycle Foundation (PPRF) di Lhokseumawe.


Ia dibantu Dardak mendirikan PPRF ini, sebagai agen atau pengepul sampah. Dardak meminta anak buahnya mengumpulkan ke PPRF. Pemulung akan diajarkan memilah berdasarkan bahan kimianya. Dan bila mereka menjual ke PPRF maka akan dibayar lebih mahal.


Ini karena mereka menjual di PPRF sesuai bahan. Mereka juga akan diajarkan memilah sampah. Dari penjelasan Baharuddin, para pemulung di Aceh biasanya akan mengumpulkan sampah, lalu akan dikirim ke Medan tanpa dicacah atau digrinding.


Selain dijual murah faktanya sampah susah diangkut. Bila dijual utuh maka truk akan menampung sedikit. Lewat internet, dia berkenalan dengan pengusaha pencacah plastik asa Bekasi. Burhanuddin lalu membeli mesinnya.


PPRF menjadi pusat penampungan hasil pemulung se- Lhokseumawe. Burhanuddin juga mengajak orang disekitaran tempatnya di Panggoi, Lhokseumawe, bekerja menjadi pemilah sampah. "Pemulung memilah secara kasar, pekerja di penampungan memilah lebih detail," jelas Burhanuddin.


Burhanuddin mampu menggaet 100 pemulung bekerja bersama. Inilah mengapa LSM internasional di Aceh menganggapnya memberdayakan orang miskin. Taukah bahwa pekerjaan pemulung di Aceh sangatlah dicemooh.


Mereka dianggap rendahan padahal sangat membantu kita. Pemulung cuma menginginkan menghidupi keluarga yang layak. Di Juni 2006, datang LSM asal Belanda, PUM Nederland memberikan bantuan mesin griding kapasitas 50 ton.


Pada 2007, LSM tersebut membantu PPRF mendirikan rumah sebanyak 20 unit buat pemulung di daerah sekitaran. Sayangnya, usaha Burhanuddin tidak dilirik pemerintah daerah, disaat Burhanuddin menawarkan bantuan pengolahan sampah non- organik malah dimintai pengadaan tong sampah.


Mimpinya ialah mendirikan pabrik pengolahan sampah plastik menjadi barang jadi. Pabrik pengolahan buat membuat kantong kresek sampai tali rafia. Salama ini sampah di Aceh dikirim ke Medan, lalu diolah di sana menjadi barang jadi buat dijual kembali.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba