Bisnis Penyewaan Mobil di Luar Negeri Diaspora

Profil Pengusaha Johnny Harjantho

 
diasporaindo.png
 
Kisah diaspora Indonesia seorang perantau di negeri orang. Pengusaha bisnis penyewaan mobil di luar negeri. Mereka yang berjuang dari nol terseok- seok. Mereka tidak mendapatkan dukungan pemerintah sendiri. 
 
Inilah hidup Johnny Harjantho, pengusaha sukses justru ketika tinggal di Negeri Singa. Ya, Johnny terbilang sebagai pengusaha sukses di perantauan, pemilik sekaligus Managing Director dari Smart Group. Bisnisnya itu bergerak dibiang transportasi seperti taksi. 
 
Sebetulnya jauh sebelum kesuksesan Smart Group, ia dikenal sebagai seorang importir Singapura- Indonesia.
 

Berbisnis di Negeri Orang


"Saya mulai bisnis tahun 80an. Beli barang Singapura dan jual di Indonesia," ujarnya mengenang kembali bagaimana ia membangun usaha di Singapura.

Sudah 10 tahun sudah dirinya berbisnis dagang dan itu memberikan kuntungan luar biasa. Dari Singapura pula lah, Johnny akhirnya menemukan cinta wanita yang kini dinikahinya. Setelah menikah keduanya sepakat menetap di negara bekas jajahan Inggris. 
 
Akhirnya bisnis dagang tersebut kemudian ditinggalkan. Lalu apalagi bisnisnya? Berkat pengalaman bolak- balik Singapura- Indonesia, ia punya pandangan sendiri tentang berbisnis di Singapura.

Melihat kesempatan ada ia mantap membuka bisnis penyewaan mobil. Dengan modal sendiri ia membeli tiga unit mobil kemudian mengajukan pinjaman ke bank. Tiga unit mobil itulah cikal bakal sukses Smart Group di Singapura.

"Waktu dulu itu, mobil sangat mahal. Tapi saya sangat percaya diri. Dengan uang seadanya dan saya pinjam dana ke bank, mereka pun menyambut positif," kata Johnny.

Jangan berharap bisnisnya bisa mulus. Ketika awal memulai saja, ia sudah dihadapkang sulitnya mengajukan  pinjaman ke bank. 
 
"….mereka (bank) tidak mau lagi memberikan saya pinjaman. Alasannya saya tidak punya referensi dan bank tentunya takut memberikan pinjaman, saya kaget waktu itu," ucapnya. Masalah tidak membuatnya surut, justru semakin bersemangat berjuang meski dengan modal seadanya.

Susah memang menambah jumlah armada dengan pendanaan bank. Ia harus bergantung pada modal sendiri seadanya. Akhirnya, suatu saat, Johnny mendapatkan ide untuk menyewa mobil sewaan lagi. Ya, idenya gampang yaitu menggunakan mobil sewaan untuk disewakan lagi. 
 
Cara tersebut ternyata efektif. Johnny bisa meningkatkan jumlah armada seketika. "Setiap mobil saya tempel stiker Smart jadi orang berpikir usaha saya sudah besar dan akhirnya pinjam uang ke bank jadi lebih gampang," ungkap Johnny.

Dalam hitungan tahun bisnisnya sukses membesar. Johnny berhasil membawa SMART Automobile Pte Ltd menjadi perusahaan transportasi yang diperhitungkan. Kini, bukan hanya bisnis rental atau sewa mobil yang dirambahnya, ia pun merambah bisnis taksi. 
 
Smart Cab, perusahaan taksi  didirikan pada tahun 1991 hanya dengan 3 kendaraan, lalu tumbuh menjadi lebih dari 2.441 taksi taksi SMART di jalan raya.

Johnny Harjanthos sang Managing Director Smart Cab, memulai dengan kendaraan bermesin diesel untuk perusahaan taksnya. Dia sosok percaya diri bahwa ketika ekonomi terus tumbuh akan ada lebih banyak kendaraan di jalan serta bertambahnya pencemaran lingkungan. 
 
Dengan demikian, Johnny memutuskan untuk menjadi pelopor untuk CNG dan mengambil tantangan kendaraan hijau untuk mendukung lingkungan dan menciptakan kota yang bersih untuk hidup sehat.

Cinta Indonesia

 
Meski sudah puluhan tahun menetap di Singapura, Johnny mengaku masih cinta Indonesia. "Dada saya masih merah putih, saya masih Warga Negara Indonesia, makanya saya ikut kongres diaspora," ucapnya penuh semangat. 
 
Ia menjelaskan, komunitas diaspora Indonesia yang ada di Singapura jumlahnya berkisar 180 ribu hingga 200 ribu orang. Ini merupakan komunitas diaspora Indonesia yang paling besar dibandingkan yang ada di negara-negara lain.

Menurutnya sekitar 100 orang lebih warga Indonesia yang tingga di Singapura. Mereka bekerja baik sebagai tenaga profesional ataupun jadi pengusaha.  Sebagian lainnya adalah mahasiswa dan pekerja terlatih yang hanya tinggal sementara untuk sekolah dan bekerja. 
 
Jumlah perusahaan di Singapura yang dimiliki oleh orang Indonesia pun cukup banyak, baik itu yang skala kecil, menengah, maupun besar.

Tapi pada umumnya, kata Johnny, perusahaan- perusahaan besar Indonesia di sana adalah cabang dari perusahaan induk di Indonesia, misalnya Salim Group dan sebagainya.

"Cukup banyak pengusaha Indonesia di Singapura yang memulai usahanya dari nol. Mereka adalah yang saya sebut sebagai generation zero, dimana pada umumnya mereka memulai usahanya dengan visa kunjungan dan selanjutnya menetap dengan membuka usaha," kata Johnny. 
 
Rasa kebangsaan dari generasi zero ini cukup tinggi loh. Mereka yang menetap, memulai bisnisnya dari nol di negeri rantau. Mereka, jelas Johnny, seperti dirinya tau benar bahwa mengelola usaha di Singapura tidaklah semudah yang dibayangkan. 
 
"Tingkat kompetisinya cukup tinggi dan harus selalu berupaya untuk lebih cepat dari orang lain," kata Johnny.

Karena itulah, mereka yang tergolong generation zero ini memiliki ikatan persaudaraan yang kuat satu sama lain."Saya sendiri sudah 32 tahun tinggal dan membuka usaha di Singapura, sehingga culture masyarakat Singapura sudah cukup mendalam bagi saya. 
 
Namun demikian kami tetap menjaga culture sebagai masyarakat Indonesia. Kami menyelenggarakan pameran kebudayaan Indonesia secara rutin," ujarnya. Nah inilah pengusaha Singapura asli Indonesia, yang mempunya bisnis penyewaan mobil.

Fahira Fahmi Idris Sukses Berkat Bisnis Parsel

Biografi Pengusaha Fahira Fahmi Idris  

 
fahiraidris.png
 
Biografi Fahira Fahmi Idris sukses berkat bisnis parsel. Pengusaha wanita sekaligus putri dari politikus senior partai Golkar, ya, dialah putri dari Fahmi Idiris. Dia dikenal aktif di sosial media Twitter. Fahira dikenal vokal menyakut kehidupan sosial bermasyarakat.
 
Meski memikul nama besar milik sang ayah, wanita kelahiran 20 Maret 1968 ini punya gaya tersendiri, baik ketika berbisnis ataupun saat menjadi seorang politisi. Fahira semakin menarik perhatian dengan gayanya yang berani menghadapi ormas FPI.  
 
Wanita yang berani mengkritik keras tindak tanduk FPI, ia bahkan berani mendatangi kantornya, mengajak berdiskusi dan menyampaikan keluhan masyarakat.
 

Bisnis Parsel

 
Ditengah kesibukannya sebagai seorang pengusaha, Fahira juga aktif di berbagai organisasi sosial, diantaranya di Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin). Di organisasi yang didominasi pria itu, Fahira menjabat sebagai Ketua Harian Perbakin Pengda DKI Jakarta.

Di organisasi Saudagar Muda Minang Fahira menjabat sebagai Ketua Umum DPP. Berdarah minang, tentu ia menjadi sosok yang tangguh terutama dalam berbisnis. Bisnis awalnya yaitu bisnis parsel dan bunga. 
 
Fahira sendiri berbisnis ketika usianya 20 tahun beranam Nabila Parcel & Florist, ketika itu ia masih mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia. Meski lahir di keluarga yang berkecukupan tidak membuatnya berhenti berempati dan memilih bekerja keras. 
 
Dia sendiri mengaku merasakan masa kanak- kanak yang sangat membahagiakan.

"Masa kecil saya lalui dengan bahagia," kenang Fahira. 

Kedua orangtuanya mendidik Fahira pendidikan penuh kedisiplinan dan juga selalu mengedepankan kesederhanaan. "Saya bangga memiliki orangtua yang mengajarkan kesederhanaan," ujar Fahira. 
 
Ketika ia masih kecil, dia bercerita pernah disekolahkan di SD Argentina, Jakarta selama tiga tahun. Ia lantas pindah saat menginjak kelas 4 SD ke SD Besuki, Jakarta. Fahira kemudian melanjutkan pendidikannya ke SMP Al-Azhar dan SMA Al-Azhar.

Memang darah Minang yang berasal dari sang ayah sangat kental terasa dalam diri Fahira ketimbang darah Banjarmasin dari sang ibu.

"Saya saat bersekolah sudah mulai berjualan, jadi saya merasa sebagai orang Minang," ujar Fahira sembari tertawa lebar. Waktu itu Fahira sudah berjualan kaos dan kartu ucapan saat masih duduk di bangku sekolah. "Waktu itu, keuntungannya lumayan loh," lanjutnya singkat. 
 
Ditelisik lebih dalam, di sebuah wawancara dengan akun @bukalapak, ia menyebut bahkan sejak sekolah dasar telah berani berjualan. Jualan apa? Dia menjelaskan berjualan perangko, dan bisnisnya terus digeluti dari SMP sampai kuliah.

"Saya menjual kaos saat SMP dan menjual kue saat SMA. Ketika berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, saya membuka usaha parsel. Saya pun mendapat dukungan dari ayah yang saat itu belum menjabat sebagai menteri," imbuhnya.

Sang ayah mendukung usaha apa saja yang dilakukan asal dia menyenanginya. Saat duduk di bangku SMP, empatinya terasa, kepedulian sosial Fahira juga mulai terlihat saat meletusnya gunung Galunggung di Jawa Barat pada tahun 1982. 
 
Ia bersama anggota PMR (Palang Merah Remaja) di sekolahnya pergi ke daerah di sekitar gunung Galunggung guna memberikan bantuan bagi warga sekitar terdampak bencana.

"Jadi sebenarnya kegiatan di Padang, bukanlah kali pertama saya terjun langsung," aku pemilik yayasan Nabila Zahra yang menaungi sekitar 60 yatim piatu ini.

Sedari kecil hobi membuat pernak- pernik. Fahira selalu sangat sibuk ketika ada temannya berulang tahun. Ia serius mengerjakan kado dari membeli, membungkus dan menghias. Mungkin dari situlah ide membuka bisnis parsel berkembang. 
 
Selain itu karena sering pergi berburu bersama ayahnya, jadilah Fahira menyukai hobi berburu. Dua hobi yang kemudian mengilhami dua usaha berbeda satu sama lain, dari parsel hingga klub menembak.

"Saya juga hobi berburu. Ketika berburu di hutan, saya sering melihat orang-orang membuka lahan untuk mencari minyak dan gas. Ini memberi saya ide untuk membuka bisnis perminyakan hingga sekarang," jelas Fahira tentang mengapa usahanya kini ada di bisnis perminyakan.

Lulus SMA di tahun 1986, Fahira lantas melanjutkan kuliah di Jurusan Matematika, Universitas Padjadjaran, Bandung. Namun, hanya setahun mengenyam bangku kuliah di kota Kembang, dia justru memilih untuk berkuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia (UI), Jakarta. 
 
Sambil mengenyam bangku kuliah, dia mulai merintis bisnis parsel bersama sepuluh teman kuliahnya.

Perusahaan parsel yang awalnya bernama Bella Parcel tersebut lantas diubah menjadi Nabila Parcel, setelah kepemilikannya diambil alih Fahira secara penuh. Kemudian bisnis parsel miliknya bekembang pesat. 
 
Tak hanya di ibu kota, ia sukses melebarkan nama usahanya ke penjuru tanah air. Nama Fahira menjadi ikon kualitas produk pasel bunga milik PT. Nabila Bunga Parsel Internasional. Setelah matang di dalam negeri, ia pun merambah pasar luar negeri untuk kebutuhan ekspor.

Berbisnis Migas

 
Meski sang ayah menjabat menteri di dua periode, Fahira mengaku sama sekali tidak pernah memanfaatkan nama besar sang ayah dalam membangun bisnisnya.

"Justru bisnis saya itu sudah saya tekuni jauh sebelum ayah saya menjadi menteri," aku Fahira yang tak suka berjalan-jalan di mal ini. Semula berawal dari berjualan perangko, Fahira kecil ketagihan mendapatkan uang dari usaha sendiri. Sejak muda ia selalu diberi uang pas- pasan untuk akomodasi. 
 
Jadi menjadi pengusaha menjadi sesuatu yang menyenangkan bisa menghasilkan uang sendiri. Untung dari memiliki bisnis kaos, kue, dan parsel, uang dari bisnis itu bisa digunakan berbelanja bahkan jalan-jalan keliling Eropa selama liburan musim panas. 
 
Selain juga sibuk berbisnis parsel yang kian berkembang, Fahira juga mulai aktif di beberapa organisasi sekaligus. Salah satunya adalah di Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin).

Sukses di bidang parsel tidak membuat dia berhenti berbisnis di satu bidang. Dia memilih berbisnis migas di kawasan sekitar pulau Sumatra. Wanita yang penuh semangat ini lalu menjelaskan apa itu bisnisnya disana. Fahira menyisir perusahaan- perusahaan minyak di sekitar Sumatra. 
 
Mereka membutuhkan berbagai layanan seperi transportasi dan rumah portable. Nah, itualah apa yang dikerjakan bisnisnya sekarang. Adalah sebuah peluang yang tidak banyak dibidik orang.

"Orang kan ngebor minyak, mereka perlu service- service yang lain. Misal, helikopter. Nah saya saat ini menyewakan helikopternya yang membawa orang dari titik satu ke titik yang lain," jelasnya.

Usahanya selain menyediakan helikopter itu, Fahira juga melayani kebutuhan propaken bagi proyek- proyek strategis pengeboran minyak. Propaken, lanjutnya, adalah kontainer- kontainer yang  dijadikan perkantoran atau perumahan. "Ini nanti ditempatkan di hutan. Itu bisa dibikin," tambahnya.

Ia menambahkan harga yang dipatoknya untuk propaken bisa mencapai puluhan juta rupiah. Salin ada sistem jual, ia menambahkan sistem sewa untuk propaken yang telah siap pakai. Modalnya puluhan juta, dimana kebanyakan meminta sistem sewa. 
 
Bentuk propaken yang dimiliki Fahira adalah perkantoran, tapi bisa pula dibentuk menjadi tempat beristirahat. Selain bisnis baru di industri migas, ia mempunyai keinginan membuka sekolah merangkai bunga.

Ide ini berawal dari kecintaannya pada dunia florist tersebut. Ia masih melihat belum ada sekolah khusus untuk mendalami ilmu tersebut. Padahal, jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, bisnis ini dapat menembus pasar internasional dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya. 
 
"Kalau untuk bisnis bunga dan parsel yang ingin saya tambah adalah sekolahnya. Kan orang bisnis bunga parcel ini butuh sekolah juga. Ini belum ada sekolahnya," tutupnya.

Mau Usaha Cendol Kisah Pengusaha Tatang Kusbina

Profil Pengusaha Tatang Kusbina

 

cendoldesa.png
 

Mau usaha cendol simak kisah pengusaha berikut. Ini Tatang Kusbina merupakan pemilik bisnis Cendol Desa. Usaha yang dirintis semenjak 2009, dan telah memiliki 10 kios mini atau gerobak. Cendol Desa pun mantap menjajakan bisnis lewat waralaba.


Bila cendol lain sangat bergantung kepada lahan atau lapak jalan. Maka Cendol Desa memberikan konsep gerobak. Usaha waralaba dengan biaya Rp. 3,9 juta sampai Rp. 9,5 juta. Beda keduanya terletak pada kelengkapan varian rasa, besar kecil gerobak dan material.


Minuman bervariasi rasa namun tetap cendol. Tatang menjual Rp. 3.500- 4000 pergelas. Bila lelah kamu tinggal menumpang di depan toko. Gerobak akan memudahkan tanpa harus membangun tenda. Mau usaha cendol tanpa franchise khusus Jabodetabek.


"Kompetitor tetap ada, karena rasa dasarnya cendol tidak jauh beda," ucapnya. Memang prospek usaha cendol selalu menggiurkan pengusaha pemula. Dikisahkan permulaan Tatang menjadi pengusaha. Dia berpikir kenapa tidak membuka usaha.


Dia ingin membuka lapangan pekerjaan. Daripada pusing memikirkan tuntutan hidup makin berat. Dia mau membuka usaha sembari bekerja. Tatang berasal dari Jawa Barat dan cendol khas disana. Orang- orang juga sudah mengenalnya. Minuman tradisional ini sangat terbuka dinikmati masyarakat umum.


Cendol sudah mendarah daging menjadi minuman masyarakat. Ia juga merasakan usaha cendol lebih mudah diaplikasikan. Prospek cendol aman karena memang diminati. Orang seperti tidak bosen minum cendol. "Selain itu, modal enggak terlalu mahal, jadi bisa ngajak banyak orang berbisnis," imbuhnya.


Tatang belajar mengolah cendol dari penjual jalanan. Pengusaha ini bermodal browsing racikan cendol yang digemari. Ada proses penelitian buat mendapatkan cendol bercita rasa luar biasa. Kebetulan, sang istri juga pintar membuat cendol, dan kata orang cendol buatanya khas Jawa Barat.

Kerajinan Limbah Kaca Ide Bisnis Menjanjikan

Profil Pengusaha Suyanto

 
 
usahalimbah.png
 
Ide bisnis menjanjikan tidak harus kuliner. Kerajinan limbah kaca ternyata menghasilkan. Pengusha ini mengolah kaca limbah menjadi produk. Pria asal Yogyakarta, Suyanto, mengaku memang tertarik usaha pengolahan limbah non- organik ataupun organi.
 
Pilihannya jatuh kepada mendaur ulang limbah kaca. Bakat seninya sangat membantu usaha tersebut. Ia sudah 3 tahun menjalankan. Akhirnya dia menghasilkan jutaan rupiah berkat limbah kaca. Satu buah hiasan bervariasi sampai Rp.1 juta.

"Saya mengolah limbah anorganik dan organik berupa furniture (bekas), limbah rumah tangga, dan toko," ujar Suyanto.
 

Ide Bisnis Menjanjikan


Sebelumnya ia bekerja di satu perusahaan ekspor impor dan aksesoris. Setelah merasa cukup lama pengalaman bekerja selama 17 tahun; ia memutuskan berwiraswasta.

"Saya lebih tertarik untuk berwirausaha untuk mengembangkan bakat saya," kata pria lulusan UPN Veteran Yogyakarta ini.

Modal bisnis Rp15 juta cuma cukup digunakan untuk membeli mesin pemotong kaca, mesin ampelas, dan juga mesin pemotong kayu, ia kemudian membuat kerajinan hiasan mozaik dari kaca, cangkang, telur dan tempurung kelapa. Suyanto dibantu oleh dua orang karyawan saat itu.

Dia mencoba membuat vas bunga, nampan, lalu membuat kaligrafi, alas gelas, dan tempat tisu. Fokus usaha kecilnya ialah hiasan fungsional yang biasa digunakan di rumah. 
 
Sarjana geologi ini mengatakan lebih lanjut, bahwa tantangan yang dirinya hadapi dalam berbisnis ini bahwa kerajinan tak bisa diproduksi massal. Setiap produknya merupakan buatan tangan (hand made) dan membutuhkan cita rasa untuk menghasilkannya. Itu juga berarti harga jualnya tinggi.

"Ini adalah produk ini hand made, ada feeling dalam pembuatannya. Tidak seperti produk pabrik, ini tidak bisa dipesan banyak," kata Suyanto.

Pembuatannya juga cukup rumit, memulai dengan memotong kaca sesuai pola yang diinginkan. Selanjutnya kaca itu dihaluskan bagian sisinya agar tidak terlalu tajam. Kemudian Suyanto menempelkan kaca itu pada media kayu dengan lem. 
 
Tahap penempelan pecahan kaca inilah yang memakan waktu lebih, setelah kering barulah kaca itu diberi pewarna kaca.

"Penempelan kaca tidak bisa sehari kering," kata dia

Dia mengaku mampu menghasilkan hiasan yang menarik, dimana harganya sangat bervariasi. Ia menjelaskan satu produk bisa saja terjual Rp15 ribu hingga Rp1 juta. "Kalau yang Rp15 ribu itu seperti tatakan gelas. Kalau yang Rp1 juta seperti guci," kata Suyanto.

Soal omzet? Ia tak mau mengungkapkannya.

Menurutnya ia tidak berorientas ekspor meski produknya diminati oleh konsumen asing. Suyanto memang lebih tertarik membuat produknya mengakar di pasar di dalam negeri, namun bisa dibeli oleh peminat dari manca negara juga. 
 
Dia tak membatasi hal itu tapi tetap fokusnya tidak mencari pembeli dari luar negeri. "Ada yang pesan orang Jerman, Spanyol, Meksiko, dan Nikaragua," kata dia.

Suyanto pun mempersilakan bagi peminat kreasinya untuk mengunjungi bengkel dan outlet-nya di Sanggar Kerajinan Kaca Surya Kencana Mozzaic yang berlokasi di Semoyan, Singosaren, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Apabila tidak sempat berkunjung, untuk komunikasi mengenai produk dan pemesanan dia bisa diemail melalui zakaseluler@yahoo.com.

Kisah Startup Berbisnis di Masa Pandemi Corona

Profil Pengusaha Agus Suhendar

 

startupmypin.png
 

Berbisnis di masa pandemi Corona tidak mudah. Namun, sesuai kisah startup berikut, bisa menjadi suatu awalan yang baik ketika menjajal akan sesuatu. Masa- masa awal usaha memang diawali keringat dan darah. Kita berkorban dan di masa pandemi Corona akan dicepatkan.


Artinya kamu akan melewati masa sulit tersebut lebih awal. Bahkan mungkin kamu malah akan mendapat keuntungan. Seperti Agus Suhendar yang malah mendapatkan banyak pesanan. Kisah startup hantarannya mampu menerbas sulitnya masa pandemi.


Bisnis Menolong

 

Berawal dia adalah karyawan tidak digaji dan dirumahkan. Pada awal Juni 2020, Agus harus berhentik kerja dari perusahaan retail Bali, ya karena pemasukan perusahaan menurun drastis. Begitu keluar ia lalu menjajal usaha hantar- menghantar barang belanjaan.


Berbekal ongkos kirim murah dia mengendarai motornya. Pengusaha asal Bogor tersebut mendirikan aplikasi MyPin. Dimana orang akan memesan makanan atau barang lewat online. Ini sangat membantu pengusaha UMKM mitra.


Ia memantu tidak kurang 300 mitra UMKM se- Bali, meliputi wilayah Badung, Jimbaran, Nusa Dua, Denpasar, Tabanan, dan Gianyar. Ongkos kirim diambil Agus murah cuma Rp.1.250. Ongkos kirim murah juga akan membantu UMKM mitar berkembang dan tumbuh.

 

Agus melihat peluang memanfaatkan masa sulit pandemi. "Saya melihat ini sebagai peluang untuk membangun jasa kirim dengan ongkos kirim yang ekonomis," ujarnya. Agus berharap akan ikut buat membantu pelaku usaha kecil.

 

Agus tidak fokus buat meraup keuntungan semata. Di masa pandemi Covid 19, usaha UMKM banyak sekali merumahkan karyawanya di Bali. Bahkan mereka yang bekerja di hotel, restoran, travel agent, dan tempat wisata, macam dirinya harus rela berhenti tanpa dibayar.


"Perubahan pola konsumsi masyarakat untuk menjaga stok makanan di rumah, dan akan berkorelasi dengan kebutuhan makanan olahan (pre- cook) seperti makanan siap saji, dan makanan beku," jelasnya lagi.


Jujur pengusaha berikut menyadari akan aspek ongkos kirim. Makin murah ongkos kirim akan ikut membantu pengusaha mitra. Dia menyadari ongkos kirimnya akan membantu UMKM Bali. Agus lalu berharap akan banyak orang merintis usaha dikalan pandemi.


Pengusaha harus mampu melihat celah peluang dalam masalah. Ia memiliki 10 mitra driver berstatus karyawan MYPIN. Mereka juga merupakan korban pandemi dan unpaid leave. Agus berharap bahwa wisata akan kembali normal. Pariwisata akan dibuka dan akan banyak pengusaha UMKM muncul.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba