Patungan Kandang Ayam Hadi Pengusaha Sukses

Profil Pengusaha Abdullah Hadi 


mantan tki sukses beternak ayam

Hadi adalah pengusaha sukses bidang peternakan. Abdullah Hadi melakukan bisnis patungan kandang ayam. "Saya memilih sendiri strategi bisnisnya serta strategi menjalankannya," terangnya. Yang punya visi- misi kewirausahaan kuat. 
 
Ketika TKI Indonesia lain, lebih memilih menanam investasi tanah, maka ia memilih membangun usahanya sendiri. 

Dan tidak sembarangan, tidak sekedar membuka warung makan. Hadi pernah berbisnis budidaya lele. Uang hasil menabung dari gaji TKI. Kini, dia malah dikenal sebagai pengusaha ayam kini, mantan TKI ini lantas mulai bercerita tentang kisahnya.

TKI di Korea


Demi sukses, tahun 1997, Hadi berangkat ke Korea Selatan lewat uang gadai. Ia memantapkan diri buat menjual tanah milik orang tua. Tiga tahun di Korea dia bekerja di perusahaan terpal. Tiga tahun sudah dia bekerja di sana. 
 
Hadi meninggalkan Korea kembali ke tanah Sukolila, Kab. Pati, Jawa Tengah. Mimpinya menjadi pengusaha di bidang perairan. Yakni menjadi pengusaha lele, dan akhirnya lewat uang bekerja di Korea, jadilah Hadi berbisnis lele.

Alasan dia ingin jadi pengusaha lele. Karena daerahnya banyak air -cocok dibuat empang lele mungkin. Tapi keberuntungan tidak membawa ia sukses. Padahal dia sudah pakai semua uang hasil mengumpulkan uang gaji itu. 
 
Namun kegagalan tidak bisa ditolak maka Hadi jatuh, "Saya gagal pulang dari Korea"

"Cita- cita yang saya idamkan jadi pengusaha, gagal," kenang Hadi.

Ketika dalam keterpurukan itulah, Hadi memilih menemui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). Tujuannya mencari usaha apa lagi bisa dijalankan. Adakah program pemberdayaan buat TKI macam dia. Ternyata ada. 
 
Dan program tersebut difokuskan untuk bagaimana cara beternak ayam. Program pemberdayaan tahun 2015, dia bersama tiga orang lainnya, para TKI asal Korsel ini lantas diajari membangun peternakan ayam modern. 
 
Kandang sebesar 100x10 meter persegi dan sudah ada pengolahan limbahnya terintegrasi. Namun ternyata usaha ini membutuhkan biaya sampai Rp.1- 2 miliaran. Untuk itu pihak BNP2TKI beri jalan lewat hutang dari Bank BNI, dengan jaminan sertifikasi tanah. 
 
Uang Rp.2 miliar ditangan makalah tinggal membangun kandang ayam. Dua kandang ayam besar sudah dikerjakan Hadi siap menghasilkan.

Hadi bermitra dengan PT. Super Unggas Jaya (Suja), anak perusahaan Cheil Jedang Feed Indonesia, yang mana merupakan perusahaan peternakan asal Korea. Mereka menjadi pemasok bibit ayam Kop kepada Hadi dan kawan.

Ayam siap panen dalam usia 22 hari, bobot 1kg dan 29 hari bobotnya 1,6kg, dan bisa dihargai Rp.4000- 5000/ekor. Singkatnya dalam 24 kadangnya sekarang ada 600.000 ekor. Untuk selanjutnya dia mengajak sesama TKI Korsel untuk membangun pusat rejekinya sendiri.

"Saya ingin mereka menjadi pengusaha di Indonesia, tidak perlu kembali bekerja di negeri orang," jelas Hadi.

Setiap empat orang akan investasi satu kandang, dimana populasi ayam 30.000- 40.000 ekor. Modal awal ya uang mereka bekerja di Korsel. Total omzet per- kandang sampai Rp.135 juta- Rp.180 juta/bulan. Hadi sendiri memiliki 220.000 ekor.

Bisnis Hadi dinamai Sonagi yang berarti bersih- bersih dalam bahasa Indonesia. Tidak cuma berhenti di ayam, Hadi membuka bisnis pertanian dan kursus bahasa Korea sebagai tambahan. Hadi memang layak kita sebut pengusaha sukses.

Raja Mahar Bangkalan Madura Selalu Berbisnis

Profil Pengusaha Devriansyah Kurniawan


selaluberbisnis.png
Pengusaha muda yang selalu berbisnis walau banyak rintangan. Kelak dijuluki Raja Mahar Bangkalan Madura. Dia sempat merasa iri akan pengusaha kota karena dukungan pemerintah pusat. Meski sama- sama mendapatkan penghargaan tingkat nasional.
 
Mereka bahkan diajak makan malam dan bonus oleh pemerintah daerahnya, berkat mengharumkan nama daerah.

"Sementara saya, biasa- biasa saja. Iri sih," tuturnya kepada Jatim Times. Berkat perasaan tidak pernah puas membuatnya terus berbisnis bahkan berekspansi. 
 
Pengusaha 28 tahun ini berkata berbisnis merupakan hidupnya. Berbekal jiwa seni tinggi mendulang uang puluhan juta.
 

Pengusaha Kelas Nasional


Dimulai 2010 silam, ia mempunya hobi melukis diatas kenvas, dan menjalar sampai ke sepatu. Devri jujur mengaku menjadi pelukis di kanvas lukis tidak menjanjikan. Sulit menjual lukisan biasa jika dijual langsung ke masyarakat. 
 
Tidak semua masyarakat paham akan nilai seni, mereka membutuhkan produk nyata dipakai. Sempat menyabet banyak penghargaan. Dari sebelumnya mewakili Madura, kini, dia dikenal sebagai salah satu pengusaha ternama membanggakan Jawa Timur. 
 
Sang istri, Syahfitri Tika Suci, mengaku bangga akan ketekunan sang suami. Yang kini dikenal sebagai Raja Mahar Bangkalan,  cerita selengkapnya akan dibahas disini.

Mulai berbisnis sepatu lukis. Tangan kreatif Devria tertoreh di kanvas berbentuk sepatu. Ini lebih menjual ia mengakuinya. Pemuda kelahiran 8 Desember 1989 ini mulai memasarkan produk sepatu lukisnya itu. 
 
Modal ia dapatkan lewat pinjaman koperasi. Dari pinjaman koperasi mahasiswa sebesar Rp.1 juta dibelikan sepatu polos.

"...dan bahan- bahan lukis lainnya," tambahnya. Walaupun bisnis dijalankan tidak sesuai dengan pendidikan yang ia tekuni kala itu.

Mahasiswa Teknik Industri lulusan Universitas Trunojoyo Bangkalan, Jawa Timur, ini tetap berkarya dengan penuh kecintaan. Berkat hobi mampu mempekerjakan sembilan orang karyawan. Berkat bantuan mereka jadi usahanya berkembang pesat merambah berbagai bisnis.

Iamenembus pasar luar negeri. Itu berkat strategi marketing online dan offline dijalankan dia. Untuk bisnis sepatu lukis waktu itu masih menjadi bisnis utamanya. Alumnus SMK 2 Bangkalan tersebut mau belajar sebagai pengusaha secara otodidak. Ia ingin merubah pola pikir mahasiswa lulusan baru.

"Lulus nanti tidak selalu harus mencari kerja. Tetapi membuka pekerjaan bagi orang- orang di sekitarnya," ia berujar.

Produk bikinan Devria berkembang. Fokus usahanya lebih ke aneka souvenir serta mahar pernikahan. Kita sebut saja lukisan dari bahan uang logam atau kertas, kaca, toples fanel berbentuk kue tart, membuat toples kartun, serta bentuk lain yang cocok dijadikan hadiah.

Intinya dia cuma menyalurkan bakat melukisnya ke bisnis. Kamu pun dapat melakukannya tinggal mencari media tepat saja. "Dan ini harus diasah dan dilatih terus- menerus," katany selalu berbisnis.

Berawal dari pengalaman kesulitan membayar uang sekolah. Keterpaksaan ini membuat hobi menjadi bisnis serius. Istilah terkenalnya adalah the Power of Kepepet.
 

Kepepet Usaha

 
Dimulai sejak 2009 bisnis terus berkembang hingga ia melegalkan bisnis menjadi PT. Devri Art Production bersiap bersaing dengan kompetitor.

Dia hanya melakukan perubahan. Menaruh lukisan dalam media non- konvensional sampai dijual dan terjual menghasilkan jutaan. Tahun 2013 memang menjadi titik awal perkembangan bisnisnya. Dia melihat prospek kedepan bisnis mahar. 
 
Dan ia langsung mengeksekusi dengan gayanya sendiri. Pengusaha muda asal JL. Jokotole G.III No.2 Kel. Kraton, Bangkalan Madura. Mampu mengembangkan bisnis mahar sampai tiga cabang.

Cabangnya meliputi Sumenep, Sampangan, dan Pamekasan.  Tetapi tetap pusat bisnis mahar miliknya ya di Bangkalan. Produk andalan Devria adalah mahar berbentuk masjid. Untuk produk satu ini sudah dipesan bahkan oleh orang Kalimantan Barat hingga Sumatra.

Ia membuat harga mahar terjangkau. Modelnya variatif dan motifnya menyesuaikan. Bisnisnya juga menjamin tidak akan butuh waktu lama pengerjaan. Harga mulai Rp.250 ribu sampai Rp.1 jutaan. Penjualan utama ya melalui penjualan online.
 
Kreatifitas tersebut berakhir ditempat yang tepat. Devrian kini dikenal sebagai pemilik usaha Raja Mahar. Ia memang bukan pemain baru di bisnis souvenir. Pengusaha muda asli Bangkalan ini telah mampu mengantongi omzet mencapai Rp.17 juta per- bulan. 
 
"...dan akan meningkat saat musim kawin," imbuhnya.

Raja Mahar fokus berpromosi online dan offline. Pengembangan bisnis offline melibatkan agen, yang sudah tersebar di empat kabupaten Madura. Promosi online meliputi website juga Facebook. Bentuk pelayanan optimal terus ditingkatkan agar Raja Mahar semakin terkenal.

Kunci sukses menurutnya adalah kejujuran dalam bisnis. Bentuk kejujuran contohnya kesanggupan suatu hari, Raja Mahar mendapatkan pesanan uang mahar Rp30 juta dengan uang pacahan Rp.100 ribu. Dan Devrian mengaku sempat terkejut dan takut. 
 
Uang tersebut tergolong nominal besar selama dia mengerjakan mahar.

Kepercayaan memegang uang sebanyak itu bukan main. Bisa saja dia memanfaatkan bisnisnya buat mencari untung lebih. Bayangkan uang Rp30 juta tetapi jasa merangkainya cuma Rp.300 ribu. Meski begitu dia tetap senang karena Raja Mahar makin terkenal. 
 
Kedepan ia berharap penjualan mencakup penjuru Jawa Timur.

"Di Madura sendiri belum ada kompetitor, kami satu- satunya," akunya. Geliat dari bisnis mahar Devri mulai terdengar. 
 
Menjual aneka mahar seperti mahar pernikahan berbahan dasar uang kertas atau logam bermotif Masjidil Haram, Mekah, ataupun minatur Suramadu, bentuk ikan arwana, atau kamu bisa memesan minatur kamu dan pasangan kamu, yang contohnya tertata rapi di etalase.

Paling menarik perhatian adalah lukisan siluet Walikota Surabaya, Tri Risma, dan juga Presiden RI, Jokowi, yang terbuat dari bahan uang logam. Menurut Devri untuk produk satu ini tengah hit. Membuat aneka siluet tokoh nasional menjadi pekerjaan sehari dia dan pekerjanya.

"...hanya membutuhkan waktu sehari," Devri berujar.

Musim nikah menjadi berkah, dibulanan Juli, maka ia bersama perusahaanya CV. Devri Art Production akan dicari. Julukan Raja Mahar -sekaligus brandnya- sudah melekat disosok pengusaha muda ini.Setiap hari 10- 12 pesanan mahar dikerjakan. Jika hari biasanya (diluar musim nikah) maka cuma bisa mengerjakan 1-2 per- hari.

September 2015, Devri melepas masa lajangnya, dimana maharnya ia menyebutkan mahar empat dimensi berbahan uang kertas. Promosi pun dilakukan bersamaan berupa panflet untuk Kantor Urusan Agama (KUA), Kantor Kecamatan, dan Salon.

Mulai berbisnis dengan sepatu lukis yang laris dijual di hari valentine. Agar tetap menghasilkan, Devri lantas putar haluan berbisnis toples flanel berbahan kain bludru bermotif bunga. Toples- toples tersebut lantas dia jual pas bulan Ramadhan 2011 lalu, sampai Idul Fitri. 
 
Disusul bisnis siluet wajah pada 2015 yang merembet ke mahar. Melihat peluang di Madura ada. Maka dia mantap berbisnis mahar dan terbukti pesanan sudah setiap hari. Ia bahkan jarang tidur kalau musim pengantin. 
 
Berkat bisnis mahar, putra sulung empat bersaudara ini telah mempekerjakan empat orang, yang ternyata teman kuliahnya dulu.

"Kendalanya ya modal. Belum ada bantuan dari pemerintah," ia menyebut. Bantuan baru sebatas memberi tau kalau ada event atau pelatihan wirausaha. Disaat dia memanangkan lomba tingkat nasional dapat juara I tetapi ketika tingkat daerah cuma juara II.

CEO Cantik Michelle Surjaputra Berbisnis Makanan Korea

Profil Pengusaha Michelle Surjaputra


ceocantik.png
 
Perkenalkan CEO cantik Michelle Surjaputra pemilik Bonchon Indonesia. Michelle berbisnis makanan korea tetapi apa rahasianya. Penampilannya yang belum "matang" diusia muda, tetapi siapa sangka wanita yang satu ini bisa dibilang salah satu CEO terbaik di Indonesia. 
 
Pengusaha yang masih 25 tahun, tidak lagi disebut anak ABG tapi juga belum cukup matang untuk menduduki jabatan CEO di PT Michelindo Food International. Jangan menilai seseorang dari fisiknya. 
 
Dia, Michelle Surjaputra, membuktikan hal tersebut dari segi usia. Bagi anda yang berjalan- jalan ke mall, pasti akan melihatnya.

Restoran cepat saji bernama BonChon, dan Michelle lah wanita dibalik restoran cepat saji khas Korea yang mulai masuk 2012 ini.

Modal Nekat

 
"Walaupun pengalaman magang kerja saya cukup banyak, tapi inilah pekerjaan resmi saya yang pertama. 
 
Ya, kalau dibayangkan, dulu saya hanya seorang anak yang baru berusia 22 tahun dan mencoba untuk membuka usaha yang sepenuhnya didukung oleh ayah saya," ujarnya ditemui pewarta FIMELA.com usai memimpin regular meeting di kantornya.

Hampir seluruh keluarganya tinggal dan berkarya di Amerika, termasuk dirinya dulu. Mulai dari sekolah, lalu menempuh pendidikan sekolah tinggi dan akhirnya bekerja di sana, membuatnya total 16 tahun tinggal di negeri Paman Sam tersebut. 
 
Tapi ada yang membawanya kembali ke tanah air bersama suksesnya kini. Jika anda bertemu dengannya jangan kaget jika bahasa Indonesianya belepotan, lebih banyak didominasi bahasa Inggris.

Menurut perempuan yang gemar olah raga ini, ia telah mendapatkan pekerjaan sesuai keinginannya disana tapi tidak ia tidak menemukan tantangan di pekerjaanya saat itu di Amerika. 
 
Ingin mendapatkan tantangan lebih ia nekat berhenti dan kembali ke tanah air tapi tak lantas langsung membawa BonChan ke Indonesia. Lulusan dari New York University- Leonard N. Stern School of Business pada 2011 lalu, ia sempat bekerja menjadi PR marketing dan karyawan Bank Indonesia.

Di Indonesia ia menyadari keinginan terdalamnya adalah menjadi pengusaha seperti sang ayah, Michelle lalu melakukan beberapa riset mengenai perilaku konsumen di Indonesia. Hasilnya, orang Indonesia ternyata suka makan ayam, dan saat ini sesuatu yang berbau Korea sedang digemari.

"Orang Indonesia mereka suka ayam. Fried chicken dan nasi. Di Indonesia juga sedang tren serba Korea. Aku juga sadar bahwa mereka juga ingin semakin sehat, jadi itu pas banget," ucapnya.
 
Apalagi saat aku di NYU, aku bisa makan BonChon berapa kali dalam sebulan. Jadi, kenapa tidak membawa BonChon ke Indonesia?" ungkap Michelle bersemangat, mengenang awal- awal berbincang dengan wolipop di kawasan Kemang, Jakarta Selatan belum lama ini.

Perempuan yang berhasil menempati juara 1 turnamen triathlon internasional di Bintan ini mengaku bahwa kepulangannya ke Indonesia sebenarnya adalah proses "coba-coba" saja. "Karena satu hal, saya akhirnya kembali ke Indonesia. 
 
Lagipula saya berpikir, kenapa saya tidak mencoba kembali ke Jakarta. Siapa tahu saya bisa meneruskan bisnis ayah saya atau melakukan hal lain. Kalaupun saya tidak suka, nantinya saya bisa kembali lagi ke Amerika dan melanjutkan pendidikan saya," ujar Michelle.

Dia berkeliling mal dan tempat hiburan di Jakarta. Ketika itu ia juga sering main ke mall karena satu lain hal. Waktu di Indonesia, neneknya yang sakit membuatnya mau tak mau berkunjung ke mall dekat tempat neneknya dirawat. 
 
Sambil masuk ke mall mungkin juga sambil mengamati tingkah polah masyarakat Indonesa. Dari tempat itulah ide membawa BonChon muncul. Pengalamannya di Amerika menikmati BonChan di sana membuatnya langsung ngeh ketika melihat kebiasaan nongkrong orang Indonesia.

Ia berencana memboyong franchise BonChon, menjadi pemegang merek dagangnya di Indonesia.

"Saya mengajukan ide kepada ayah dan ayah mendukung untuk mewujudkan ide tersebut. Business plan saya kerjakan sendiri, conference call, dan beberapa perjuangan lainnya saya lakukan hingga akhirnya gerai pertama Bonchon hadir di Indonesia pada tahun 2012 awal,” kenang Michelle.

Meski merek satu ini cukup terkenal di negara asalnya Korea, ia tak bisa serta merta memboyong franchise ini. Saat itu wanita kelahiran 1988 ini harus bersaing ketat dengan lima calon kandidat kuat pemegang merek dagang. Dia tak gentar. 
 
Michelle tetap mengajukan diri dengan menulis referensi dirinya ke situs BonChon. "Lumayan susah yah. Saya ke email address yang ada di websitenya. I explained myself. Dan mereka bilang, why don’t we conference call? 
 
Jadinya hari rabu kita conference call, mereka bilang sudah ada lima kandidat yang bagus untuk bawa Bonchon ke Indonesia. 
 
"Tapi mereka bilang 'go ahead, write your business plan'. Jadinya dalam dua hari saya bikin 50 halaman dan mereka suka banget. Lalu saya ketemu dengan CEO dari Korea di Manila. Ternyata obrolan kita klik banget dan startnya dari situ," urai wanita yang hobi olahraga lari ini.

Dibalik kesuksesannya ia mengaku sang ayah adalah contoh baginya menjadi pengusaha. Beliau baginya ialah sosok pantang menyerah memulai bisnis dari nol. 
 
Sedangkan ibunya adalah sosok yang 110 persen selalu mendukung langkahnya dari lulus kuliah hingga memutuskan berbisnis sendiri. Kedua orang tua baginya adalah sumber inspirasi. Di 2013, ada 10 restoran baru yang rencananya akan diluncurkan, selain resto yang pertama di kawasan Grand Indonesia.  
 
Di tahun 2013 totalnya ada sebelas cabang BonChon sudah ada di mal-mal besar di Indonesia seperti Grand Indonesia, Living World Alam Sutera, Citywalk Sudirman, Gandaria City dan lainnya. 
 
Di tahun 2011- 2013, PT Michelindo Food International (MiFI) fokus untuk membangun branding, menciptakan demand dan membentuk business model. Nah, kini saatnya ekspansi lebih luas lagi ke seluruh Indonesia.

Namun, mimpi ekspansi ini tidak mungkin dilakukan sendiri, karena memerlukan modal yang besar, dan ditambah keterbatasan waktu dalam melakukan managemen kontrol ke seluruh cabang. 
 
Menurut pengusaha muda ini, untuk menjadi franchisee BonChon tidaklah sulit, asalkan memiliki lokasi usaha yang strategis. Bisa saja di mal atau standing outlet. Selain itu, syarat  luas outlet minimal 150 meterpersegi untuk lokasi di dalam  mall dan 100-400 meterpersegi untuk lokasi di ruko.

"Sejauh ini kami telah menerima sekitar 200 aplikasi waralaba dari beberapa daerah seperti dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Makassar dan Medan," imbuh kelahiran Jakarta, 15 November 1988 ini.

Kendati calon investor antusias, tahun 2014 ini, Michelle cuma akan mematok target jumlah franchisee 5-10 waralaba. Seleksi ketat dilakukan demi menjaga standar kualitas produk, layanan dan memberi keuntungan besar bagi investor. 
 
Berapa biaya untuk membeli franchise BonChon? MIFI mematok biaya franchise fee sebesar US$ 50.000 – 80.000 selama masa kontrak 5+5 (5 tahun+5 tahun perpanjangan). Lalu ada masa perpanjangan ini dengan negosiasi kontrak baru.

Bagi calon investor yang ingin berinvestasi di bisnis F&B, tapi tidak dapat terlibat langsung dalam jalannya operasional, MIFI menawarkan peluang  kerja sama dalam bentuk management fee. 
 
Untuk model bisnis ini investor hanya menyediakan tempat dan  membayar franchise  fee saja, sedangkan untuk segala hal tentang operasionalnya dikendalikan langsung oleh MiFI dengan  imbal hasil sebesar 5% dari penjualan. Target pasar BonChon adalah konsumen kelas A dan B.

Untuk itu, dituntut kualitas yang baik, sehingga BonChon komit pada kesegaran bahan makanan, termasuk dapur. "Di sini ayamnya tidak ada proses pembekuan, tak menggunakan bahan kimia dalam bumbu ayam," dia menjelaskan.

Untuk pasokan bahan baku ayam, BonChon mengandalkan mitra-mitra suplier di sekitar lokasi outlet. Saat ini sudah memiliki empat suplier ayam dari Bandung dan menjajaki kerja sama dengan suplier di kota lain. 
 
Michelle optimis bisnis Food&Beverage ini masih sangat menjanjikan untuk dicoba. Dengan daya beli yang meningkat, jalan franchise BonChon juga akan berkembang seiring permintaan akan masakan khas Korea ini. Impian lain adalah menjadikan BonChon Indonesia sebagai BonChan terbaik di dunia.

Dikeluarkan Kampus Jadi Pengusaha Muda Idaman

Profil Pengusaha Jodi Janitra

 
kuekering.png
 
Dia pernah dikeluarkan kampus. Tidak putus asa malah jadi pengusaha muda idaman. Terjun di dunia bisnis kue kering sejak usianya 21 tahun; dia gagal di pendidikan. Walau, kini, dia merupakan pemilik perusahaan sendiri bernama PT. Bonli Cipta Sejahtera. 
 
Dia memegang lima merek kue kering. Jodi Janitra, adalah pemilik lima merek roti kering enak; Ina Cookies, Kersen Cookies, JnC Cookies, La Difa Cookies, dan Valya. Khusus merek La Difa dan Valya membidik segmen premium.

Kedua brand itu juga sudah diekspor ke Malaysia, Hong Kong, dan Kanada. Dia penuh dedikasi atas apa yang dicintainya walau gagal kuliah.
 

Menjalankan Usaha


Bagi Jodi yang kini berusia 27 tahun bisnis kuliner bukanlah hal baru. Dia yang merintis usahanya sejak 6 tahun silam tepatnya di tahun 2008, kedua orang tuanya sudah mengenalkan bisnis ini. Jodi berkisah, dulu, kedua orang tuanya pernah menjual jahe gajah tapi bangkrut di 1993. 
 
Sejak saat itu, kedua orang tuanya memilih bisnis kuliner lain, dari jualan gado- gado, molen, dan roti keliling. Bisnis mereka jalan ditempat Ia teringat bagaimana dia harus ikut menghabiskan roti tiap harinya, roti- roti yang tak laku dijual. 
 
"Pas saya tamat SMA, saya bertekad untuk membuka usaha yang lebih serius lagi," ujar pria kelahiran 7 Januari 1987 ini.

Tapi keinginan itu sempat tertunda karena kedua orang tuanya "memaksa" Jodi berkuliah. Dia kemudian melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung. Pengusaha Jodi mengambil jurusan Patiseri. Belum genap setahun belajar, Jodi malah dikeluarkan dari kampusnya itu. 
 
"Karena saya tidak memiliki minat di bidang itu," ujarnya. Dia tidak langsung berbisnis roti setelah dikeluarkan kampus.

Apa yang dilakukannya? Ia terlalu sibuk bekerja membantu mengelola kafe milik keluarga bernama Bober Cafe. Baru pada tahun 2008, Jodi memilih mencoba peruntungan sendiri di bidang kue kering ini. Kala itu, ia sama sekali tidak bisa membuat kue kering. 
 
Untungnya orangtua, tante, dan sepupunya mau membantu Jodi untuk menciptakan resep baru. "Jadi, kami bagi tugas. Mereka yang membuat kue, saya yang urus dan keuangannya," jelasnya. Sambil berjalan ia pun ikut serta membantu mencari resep sambil tetap belajar mencapur roti. 
 
Hasilnya ia sukses membuka satu pabrik pembuatan kue di Bojong Kenong, Bandung, dengan 1.000 karyawan. Kapasitas produksinya dalam sehari bisa mencapai 6 ton kue atau setara dengan 12.000 stoples kue kering. 
 
Adapun kue yang habis terjual dalam sebulan 1,5 juta stoples. Omzetnya rata– rata Rp 120 juta. Namun, saat ada momentum seperti Natal, Imlek, dan Lebaran, omzetnya bisa mencapai Rp 200 juta.

Bisnis kue kering


Biasanya bisnis semacam Jodi akan laris atau hanya muncul ketika musim tertentu saja. Semisalnya hari- hari besar seperti lebaran, namun tidak untuk produknya. Roti keringnya bisa dinikmati kapan saja. 
 
Sejak awal memang dirinya sudah bertekat untuk menggarap pasar kue yang bukan musiman. Jodi sudah bertekad menjadikan bisnis kue keringnya sebagai bisnis sepanjang tahun. Sekalipun tidak ada momen hari-hari besar, seperti Lebaran atau Natal, kuenya harus tetap laris terjual

Berbekal tekad dan semangat itu pula, bisnis kue keringnya bisa eksis sepanjang masa dengan omzet ratusan juta per bulan. Sebagai pebisnis, Jodi memang memiliki semangat pantang menyerah dalam membesarkan bisnis kue kering. 
 
Dia menjalankan bisnis tersebut dari nol, meski minim pengalaman dan tidak punya satu pendidikan khusus di tata boga, ia tetap semangat bermodal cita- cita. Jika ditanya soal pendidikan Jodi menjawab dia sebenarnya tidak begitu berhasil dalam dunia akademis.

Jujur. Jodi telah dua kali gagal di sekolah karena memang tidak punya ketertarikan. "Saya juga sempat kuliah di Universitas Widyatama Bandung, lagi-lagi, saya dikeluarkan," katanya. Jadilah, Jodi hanya belajar dari pengalaman orangtuanya yang sudah puluhan tahun menekuni bisnis kuliner. 
 
"Itulah yang menjadi modal utama saya di bisnis ini," katanya. Berbekal tekad kuat ia tak berhenti belajar membuat kue secara otodidak. Sebagai pengusaha dia paham betul perlunya inovasi produk.

Jodi juga pintar membangun relasi. Makanya, saat awal merintis bisnis, banyak temannya yang mau menjadi investor untuk menambah modal usahanya. "Kami saling percaya saja dan serius menjalani usaha," kata dia. 
 
Dari modal tersebut digunakannya untuk mengakuisisi dua usaha sejenis. Dia membeli dua usaha rumahan kue di daerah Bojong Koneng, Bandung, tak jauh dari tempat tinggalnya.

Dua industri rumahan itu adalah Ina Cookies dan J&C Cookies. Setelah diakuisisi, dari dua industri rumahan itu dilebur dalam satu bendera usaha miliknya, yakni PT Bonli Cipta Sejahtera. Jodi kemudian merekrut mereka yang disekitar lingkungannya yang tak memiliki pekerjaan. 
 
Awal mula merintis bisnis, Jodi memutar otak agar kuenya bisa dikenal masyarakat dan bukan hanya dinikmati saat Lebaran saja. Untuk memperkuat branding, ia lalu aktif mengikuti pameran kue dan roti di daerah- daerah. Jodi juga gencar melakukan promosi lewat internet. 
 
"Pembelian bisa dilakukan lewat internet dan dikirim melalui ekspedisi," katanya. Dari segi rasa, ia menjamin kue kering buatannya dibuat tanpa bahan pengawet dan bisa tahan sampai tiga minggu. Segi citarasa juga dijamin enak. Saat ini, ia telah memiliki lima merek kue kering. 
 
Sebanyak dua brand khusus membidik segmen premium. Kendati demikian, bukan berarti kue- kue untuk masyarakat menengah bawah memiliki citarasa kurang enak. 
 
"Semua produk rasanya beda-beda," ujarnya. Namun, khusus merek Valya dan La Difa, kemasannya harus dibuat lebih menarik, harus cantik dan kelihatan ‘wah’. "Jadi kalau dijadikan kado juga lebih cantik," kata dia. Info tentang usahanya lebih lanjut silahkan buka situs www.bcs.co.id.

Kiat Menjadi Pengusaha Mahasiswa Berternak Kelinci

Profil Pengusaha Iswandi

 

usahakelinci.png
 

Beternak kelinci Iswandi merintis bermodal Rp.2,5 juta. Kiat menjadi pengusaha adalah berusaha dan yakin. Iswandi asli Lamongan mengambil jurusan peternakan. Dia masih tercatat menjadi mahasiswa Universitas Islam Lamongan. Tiga tahun berjalan dia mampu menjalankan usaha sembari kuliah.


Warga Disun Jurug, Desa Primpen, Kecamatan Bluluk, mampu membiayai kuliah. Bahkan dia memberi uang kepada orang tua dan adik- adiknya. Penghasilan rata- rata perbulan adalah 4 juta rupiah. Modal ia berbisnis beli 25 ekor kelinci, dan berbekal kadang buatan sendiri.


Ketertarikan akan kelinci bermula ketika masih kuliah itu. "Intinya kelinci itu punya prospek besar," ia lanjut. Modal 25 ekor terdiri indukan kelinci lokal dan peranakan. Kelinci peranakannya merupakan hasil kawin silang beberapa tahun lalu.


Dan mereka (kelinci peranakan) tersebut sudah berkembang biak. Pagi dan malam dia rutin melakukan penelitian akan kembang biak kelincinya. Dari kebutuhan makan dan minum disediakan. Hingga dia mengatur soal perkawinan. Begitu melahirkan Iswandi akan sibuk sampai lewat malam.


Ia mengikuti perkembangan si kelinci dari awal sampai akhir masa kuliah. Walau menyibukan Iswandi mengaku enjoy menikmati. Dia memang senang bertenak. Kemudian pembeli datang terutama asal Jawa Timur, terutama Kediri, Malang, dan Bali.


Pembeli rata- rata mengunjungi rumah Iswandi. Tidak pula sedikit mendatangi Pasar Agrobis Babat. Ia akan membawakan dan bertemu cash on delivery. Berkat ketekunan hasilkan 4 sampai 12 ekor anakan lahir. Terus apa kiat menjadi pengusaha mahasiswa pertanian tersebut.


Dia menyebutkan beternak kelinci cukup 3 jenis makanan: Amapas tahu, dedhak, dan juga konstentrat. Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), yang mana mengeluarkan Rp.300 ribu- Rp.400 ribu perbulan. "Yang bikin cepat gemuk itu ampas tahu," jelasnya kepada Tribunnews.com


Mengurusi kelinci cukup mudah cuma butuh ketelatenan. Ia membawa kelinci makan rumput tiap pagi dan sore hari. Kalau kesulitan tinggal diganti ampas tahu atau konstentrat. Dua kali sehari kandang kelinci dibersihkan agar tak kena penyakit.


Proses kembang biak tinggal kelinci betina dikumpulkan jantan. Dalam satu kandang khusus, mereka akan kawin. Begitu hamil langsung dipisahkan sampai melahirkan. Sebulan, sekarang, dia mampu menjual 100 ekor kelinci.


Jenis kelinci potong harga anakan Rp.20 ribu ekor hingga Rp.35 ribu. Harga kelinci daging potongnya Rp.35 ribu perkilogram sampai Rp.50 ribu. Buat indukan dia menjual Rp.80 ribu sampai Rp.90 ribu perekor. 

 

Kelinci nanti siap dijual di usia 1,5 tahun. Anakan kelinci nanti dipasok ke toko hewan atau kampus kesehatan. Menurutnya beternak kelinci lebih mudah, karena penyakit utamanya dikisaran kudis. Yang akan hilang cukup memakai obat injeksi.


Musim pancaroba juga menghasilkan masalah tersendiri. Yakni muncul kurang nafsu makan kelinci tapi bisa diberi vitamin. Walau ia sukses menjadi pengusaha tidak pelit ilmu. Dia menjadi mentor buat pemuda di desanya berternak kelinci.


Ada 20 orang warga binaan ikut beternak kelinci. Dibawah binannya selalu diamati serta dibimbing langsung. Iswandi berharap mahasiswa mau beternak kelinci. Berwirausaha terbukti mampu membantu perekonomian keluarga.


"Lebih ideal lagi ada pasar khusus kelinci di Lamongan," harap Iswandi.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba