CEO Cantik Michelle Surjaputra Berbisnis Makanan Korea

Profil Pengusaha Michelle Surjaputra


ceocantik.png
 
Perkenalkan CEO cantik Michelle Surjaputra pemilik Bonchon Indonesia. Michelle berbisnis makanan korea tetapi apa rahasianya. Penampilannya yang belum "matang" diusia muda, tetapi siapa sangka wanita yang satu ini bisa dibilang salah satu CEO terbaik di Indonesia. 
 
Pengusaha yang masih 25 tahun, tidak lagi disebut anak ABG tapi juga belum cukup matang untuk menduduki jabatan CEO di PT Michelindo Food International. Jangan menilai seseorang dari fisiknya. 
 
Dia, Michelle Surjaputra, membuktikan hal tersebut dari segi usia. Bagi anda yang berjalan- jalan ke mall, pasti akan melihatnya.

Restoran cepat saji bernama BonChon, dan Michelle lah wanita dibalik restoran cepat saji khas Korea yang mulai masuk 2012 ini.

Modal Nekat

 
"Walaupun pengalaman magang kerja saya cukup banyak, tapi inilah pekerjaan resmi saya yang pertama. 
 
Ya, kalau dibayangkan, dulu saya hanya seorang anak yang baru berusia 22 tahun dan mencoba untuk membuka usaha yang sepenuhnya didukung oleh ayah saya," ujarnya ditemui pewarta FIMELA.com usai memimpin regular meeting di kantornya.

Hampir seluruh keluarganya tinggal dan berkarya di Amerika, termasuk dirinya dulu. Mulai dari sekolah, lalu menempuh pendidikan sekolah tinggi dan akhirnya bekerja di sana, membuatnya total 16 tahun tinggal di negeri Paman Sam tersebut. 
 
Tapi ada yang membawanya kembali ke tanah air bersama suksesnya kini. Jika anda bertemu dengannya jangan kaget jika bahasa Indonesianya belepotan, lebih banyak didominasi bahasa Inggris.

Menurut perempuan yang gemar olah raga ini, ia telah mendapatkan pekerjaan sesuai keinginannya disana tapi tidak ia tidak menemukan tantangan di pekerjaanya saat itu di Amerika. 
 
Ingin mendapatkan tantangan lebih ia nekat berhenti dan kembali ke tanah air tapi tak lantas langsung membawa BonChan ke Indonesia. Lulusan dari New York University- Leonard N. Stern School of Business pada 2011 lalu, ia sempat bekerja menjadi PR marketing dan karyawan Bank Indonesia.

Di Indonesia ia menyadari keinginan terdalamnya adalah menjadi pengusaha seperti sang ayah, Michelle lalu melakukan beberapa riset mengenai perilaku konsumen di Indonesia. Hasilnya, orang Indonesia ternyata suka makan ayam, dan saat ini sesuatu yang berbau Korea sedang digemari.

"Orang Indonesia mereka suka ayam. Fried chicken dan nasi. Di Indonesia juga sedang tren serba Korea. Aku juga sadar bahwa mereka juga ingin semakin sehat, jadi itu pas banget," ucapnya.
 
Apalagi saat aku di NYU, aku bisa makan BonChon berapa kali dalam sebulan. Jadi, kenapa tidak membawa BonChon ke Indonesia?" ungkap Michelle bersemangat, mengenang awal- awal berbincang dengan wolipop di kawasan Kemang, Jakarta Selatan belum lama ini.

Perempuan yang berhasil menempati juara 1 turnamen triathlon internasional di Bintan ini mengaku bahwa kepulangannya ke Indonesia sebenarnya adalah proses "coba-coba" saja. "Karena satu hal, saya akhirnya kembali ke Indonesia. 
 
Lagipula saya berpikir, kenapa saya tidak mencoba kembali ke Jakarta. Siapa tahu saya bisa meneruskan bisnis ayah saya atau melakukan hal lain. Kalaupun saya tidak suka, nantinya saya bisa kembali lagi ke Amerika dan melanjutkan pendidikan saya," ujar Michelle.

Dia berkeliling mal dan tempat hiburan di Jakarta. Ketika itu ia juga sering main ke mall karena satu lain hal. Waktu di Indonesia, neneknya yang sakit membuatnya mau tak mau berkunjung ke mall dekat tempat neneknya dirawat. 
 
Sambil masuk ke mall mungkin juga sambil mengamati tingkah polah masyarakat Indonesa. Dari tempat itulah ide membawa BonChon muncul. Pengalamannya di Amerika menikmati BonChan di sana membuatnya langsung ngeh ketika melihat kebiasaan nongkrong orang Indonesia.

Ia berencana memboyong franchise BonChon, menjadi pemegang merek dagangnya di Indonesia.

"Saya mengajukan ide kepada ayah dan ayah mendukung untuk mewujudkan ide tersebut. Business plan saya kerjakan sendiri, conference call, dan beberapa perjuangan lainnya saya lakukan hingga akhirnya gerai pertama Bonchon hadir di Indonesia pada tahun 2012 awal,” kenang Michelle.

Meski merek satu ini cukup terkenal di negara asalnya Korea, ia tak bisa serta merta memboyong franchise ini. Saat itu wanita kelahiran 1988 ini harus bersaing ketat dengan lima calon kandidat kuat pemegang merek dagang. Dia tak gentar. 
 
Michelle tetap mengajukan diri dengan menulis referensi dirinya ke situs BonChon. "Lumayan susah yah. Saya ke email address yang ada di websitenya. I explained myself. Dan mereka bilang, why don’t we conference call? 
 
Jadinya hari rabu kita conference call, mereka bilang sudah ada lima kandidat yang bagus untuk bawa Bonchon ke Indonesia. 
 
"Tapi mereka bilang 'go ahead, write your business plan'. Jadinya dalam dua hari saya bikin 50 halaman dan mereka suka banget. Lalu saya ketemu dengan CEO dari Korea di Manila. Ternyata obrolan kita klik banget dan startnya dari situ," urai wanita yang hobi olahraga lari ini.

Dibalik kesuksesannya ia mengaku sang ayah adalah contoh baginya menjadi pengusaha. Beliau baginya ialah sosok pantang menyerah memulai bisnis dari nol. 
 
Sedangkan ibunya adalah sosok yang 110 persen selalu mendukung langkahnya dari lulus kuliah hingga memutuskan berbisnis sendiri. Kedua orang tua baginya adalah sumber inspirasi. Di 2013, ada 10 restoran baru yang rencananya akan diluncurkan, selain resto yang pertama di kawasan Grand Indonesia.  
 
Di tahun 2013 totalnya ada sebelas cabang BonChon sudah ada di mal-mal besar di Indonesia seperti Grand Indonesia, Living World Alam Sutera, Citywalk Sudirman, Gandaria City dan lainnya. 
 
Di tahun 2011- 2013, PT Michelindo Food International (MiFI) fokus untuk membangun branding, menciptakan demand dan membentuk business model. Nah, kini saatnya ekspansi lebih luas lagi ke seluruh Indonesia.

Namun, mimpi ekspansi ini tidak mungkin dilakukan sendiri, karena memerlukan modal yang besar, dan ditambah keterbatasan waktu dalam melakukan managemen kontrol ke seluruh cabang. 
 
Menurut pengusaha muda ini, untuk menjadi franchisee BonChon tidaklah sulit, asalkan memiliki lokasi usaha yang strategis. Bisa saja di mal atau standing outlet. Selain itu, syarat  luas outlet minimal 150 meterpersegi untuk lokasi di dalam  mall dan 100-400 meterpersegi untuk lokasi di ruko.

"Sejauh ini kami telah menerima sekitar 200 aplikasi waralaba dari beberapa daerah seperti dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Makassar dan Medan," imbuh kelahiran Jakarta, 15 November 1988 ini.

Kendati calon investor antusias, tahun 2014 ini, Michelle cuma akan mematok target jumlah franchisee 5-10 waralaba. Seleksi ketat dilakukan demi menjaga standar kualitas produk, layanan dan memberi keuntungan besar bagi investor. 
 
Berapa biaya untuk membeli franchise BonChon? MIFI mematok biaya franchise fee sebesar US$ 50.000 – 80.000 selama masa kontrak 5+5 (5 tahun+5 tahun perpanjangan). Lalu ada masa perpanjangan ini dengan negosiasi kontrak baru.

Bagi calon investor yang ingin berinvestasi di bisnis F&B, tapi tidak dapat terlibat langsung dalam jalannya operasional, MIFI menawarkan peluang  kerja sama dalam bentuk management fee. 
 
Untuk model bisnis ini investor hanya menyediakan tempat dan  membayar franchise  fee saja, sedangkan untuk segala hal tentang operasionalnya dikendalikan langsung oleh MiFI dengan  imbal hasil sebesar 5% dari penjualan. Target pasar BonChon adalah konsumen kelas A dan B.

Untuk itu, dituntut kualitas yang baik, sehingga BonChon komit pada kesegaran bahan makanan, termasuk dapur. "Di sini ayamnya tidak ada proses pembekuan, tak menggunakan bahan kimia dalam bumbu ayam," dia menjelaskan.

Untuk pasokan bahan baku ayam, BonChon mengandalkan mitra-mitra suplier di sekitar lokasi outlet. Saat ini sudah memiliki empat suplier ayam dari Bandung dan menjajaki kerja sama dengan suplier di kota lain. 
 
Michelle optimis bisnis Food&Beverage ini masih sangat menjanjikan untuk dicoba. Dengan daya beli yang meningkat, jalan franchise BonChon juga akan berkembang seiring permintaan akan masakan khas Korea ini. Impian lain adalah menjadikan BonChon Indonesia sebagai BonChan terbaik di dunia.

Dikeluarkan Kampus Jadi Pengusaha Muda Idaman

Profil Pengusaha Jodi Janitra

 
kuekering.png
 
Dia pernah dikeluarkan kampus. Tidak putus asa malah jadi pengusaha muda idaman. Terjun di dunia bisnis kue kering sejak usianya 21 tahun; dia gagal di pendidikan. Walau, kini, dia merupakan pemilik perusahaan sendiri bernama PT. Bonli Cipta Sejahtera. 
 
Dia memegang lima merek kue kering. Jodi Janitra, adalah pemilik lima merek roti kering enak; Ina Cookies, Kersen Cookies, JnC Cookies, La Difa Cookies, dan Valya. Khusus merek La Difa dan Valya membidik segmen premium.

Kedua brand itu juga sudah diekspor ke Malaysia, Hong Kong, dan Kanada. Dia penuh dedikasi atas apa yang dicintainya walau gagal kuliah.
 

Menjalankan Usaha


Bagi Jodi yang kini berusia 27 tahun bisnis kuliner bukanlah hal baru. Dia yang merintis usahanya sejak 6 tahun silam tepatnya di tahun 2008, kedua orang tuanya sudah mengenalkan bisnis ini. Jodi berkisah, dulu, kedua orang tuanya pernah menjual jahe gajah tapi bangkrut di 1993. 
 
Sejak saat itu, kedua orang tuanya memilih bisnis kuliner lain, dari jualan gado- gado, molen, dan roti keliling. Bisnis mereka jalan ditempat Ia teringat bagaimana dia harus ikut menghabiskan roti tiap harinya, roti- roti yang tak laku dijual. 
 
"Pas saya tamat SMA, saya bertekad untuk membuka usaha yang lebih serius lagi," ujar pria kelahiran 7 Januari 1987 ini.

Tapi keinginan itu sempat tertunda karena kedua orang tuanya "memaksa" Jodi berkuliah. Dia kemudian melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung. Pengusaha Jodi mengambil jurusan Patiseri. Belum genap setahun belajar, Jodi malah dikeluarkan dari kampusnya itu. 
 
"Karena saya tidak memiliki minat di bidang itu," ujarnya. Dia tidak langsung berbisnis roti setelah dikeluarkan kampus.

Apa yang dilakukannya? Ia terlalu sibuk bekerja membantu mengelola kafe milik keluarga bernama Bober Cafe. Baru pada tahun 2008, Jodi memilih mencoba peruntungan sendiri di bidang kue kering ini. Kala itu, ia sama sekali tidak bisa membuat kue kering. 
 
Untungnya orangtua, tante, dan sepupunya mau membantu Jodi untuk menciptakan resep baru. "Jadi, kami bagi tugas. Mereka yang membuat kue, saya yang urus dan keuangannya," jelasnya. Sambil berjalan ia pun ikut serta membantu mencari resep sambil tetap belajar mencapur roti. 
 
Hasilnya ia sukses membuka satu pabrik pembuatan kue di Bojong Kenong, Bandung, dengan 1.000 karyawan. Kapasitas produksinya dalam sehari bisa mencapai 6 ton kue atau setara dengan 12.000 stoples kue kering. 
 
Adapun kue yang habis terjual dalam sebulan 1,5 juta stoples. Omzetnya rata– rata Rp 120 juta. Namun, saat ada momentum seperti Natal, Imlek, dan Lebaran, omzetnya bisa mencapai Rp 200 juta.

Bisnis kue kering


Biasanya bisnis semacam Jodi akan laris atau hanya muncul ketika musim tertentu saja. Semisalnya hari- hari besar seperti lebaran, namun tidak untuk produknya. Roti keringnya bisa dinikmati kapan saja. 
 
Sejak awal memang dirinya sudah bertekat untuk menggarap pasar kue yang bukan musiman. Jodi sudah bertekad menjadikan bisnis kue keringnya sebagai bisnis sepanjang tahun. Sekalipun tidak ada momen hari-hari besar, seperti Lebaran atau Natal, kuenya harus tetap laris terjual

Berbekal tekad dan semangat itu pula, bisnis kue keringnya bisa eksis sepanjang masa dengan omzet ratusan juta per bulan. Sebagai pebisnis, Jodi memang memiliki semangat pantang menyerah dalam membesarkan bisnis kue kering. 
 
Dia menjalankan bisnis tersebut dari nol, meski minim pengalaman dan tidak punya satu pendidikan khusus di tata boga, ia tetap semangat bermodal cita- cita. Jika ditanya soal pendidikan Jodi menjawab dia sebenarnya tidak begitu berhasil dalam dunia akademis.

Jujur. Jodi telah dua kali gagal di sekolah karena memang tidak punya ketertarikan. "Saya juga sempat kuliah di Universitas Widyatama Bandung, lagi-lagi, saya dikeluarkan," katanya. Jadilah, Jodi hanya belajar dari pengalaman orangtuanya yang sudah puluhan tahun menekuni bisnis kuliner. 
 
"Itulah yang menjadi modal utama saya di bisnis ini," katanya. Berbekal tekad kuat ia tak berhenti belajar membuat kue secara otodidak. Sebagai pengusaha dia paham betul perlunya inovasi produk.

Jodi juga pintar membangun relasi. Makanya, saat awal merintis bisnis, banyak temannya yang mau menjadi investor untuk menambah modal usahanya. "Kami saling percaya saja dan serius menjalani usaha," kata dia. 
 
Dari modal tersebut digunakannya untuk mengakuisisi dua usaha sejenis. Dia membeli dua usaha rumahan kue di daerah Bojong Koneng, Bandung, tak jauh dari tempat tinggalnya.

Dua industri rumahan itu adalah Ina Cookies dan J&C Cookies. Setelah diakuisisi, dari dua industri rumahan itu dilebur dalam satu bendera usaha miliknya, yakni PT Bonli Cipta Sejahtera. Jodi kemudian merekrut mereka yang disekitar lingkungannya yang tak memiliki pekerjaan. 
 
Awal mula merintis bisnis, Jodi memutar otak agar kuenya bisa dikenal masyarakat dan bukan hanya dinikmati saat Lebaran saja. Untuk memperkuat branding, ia lalu aktif mengikuti pameran kue dan roti di daerah- daerah. Jodi juga gencar melakukan promosi lewat internet. 
 
"Pembelian bisa dilakukan lewat internet dan dikirim melalui ekspedisi," katanya. Dari segi rasa, ia menjamin kue kering buatannya dibuat tanpa bahan pengawet dan bisa tahan sampai tiga minggu. Segi citarasa juga dijamin enak. Saat ini, ia telah memiliki lima merek kue kering. 
 
Sebanyak dua brand khusus membidik segmen premium. Kendati demikian, bukan berarti kue- kue untuk masyarakat menengah bawah memiliki citarasa kurang enak. 
 
"Semua produk rasanya beda-beda," ujarnya. Namun, khusus merek Valya dan La Difa, kemasannya harus dibuat lebih menarik, harus cantik dan kelihatan ‘wah’. "Jadi kalau dijadikan kado juga lebih cantik," kata dia. Info tentang usahanya lebih lanjut silahkan buka situs www.bcs.co.id.

Kiat Menjadi Pengusaha Mahasiswa Berternak Kelinci

Profil Pengusaha Iswandi

 

usahakelinci.png
 

Beternak kelinci Iswandi merintis bermodal Rp.2,5 juta. Kiat menjadi pengusaha adalah berusaha dan yakin. Iswandi asli Lamongan mengambil jurusan peternakan. Dia masih tercatat menjadi mahasiswa Universitas Islam Lamongan. Tiga tahun berjalan dia mampu menjalankan usaha sembari kuliah.


Warga Disun Jurug, Desa Primpen, Kecamatan Bluluk, mampu membiayai kuliah. Bahkan dia memberi uang kepada orang tua dan adik- adiknya. Penghasilan rata- rata perbulan adalah 4 juta rupiah. Modal ia berbisnis beli 25 ekor kelinci, dan berbekal kadang buatan sendiri.


Ketertarikan akan kelinci bermula ketika masih kuliah itu. "Intinya kelinci itu punya prospek besar," ia lanjut. Modal 25 ekor terdiri indukan kelinci lokal dan peranakan. Kelinci peranakannya merupakan hasil kawin silang beberapa tahun lalu.


Dan mereka (kelinci peranakan) tersebut sudah berkembang biak. Pagi dan malam dia rutin melakukan penelitian akan kembang biak kelincinya. Dari kebutuhan makan dan minum disediakan. Hingga dia mengatur soal perkawinan. Begitu melahirkan Iswandi akan sibuk sampai lewat malam.


Ia mengikuti perkembangan si kelinci dari awal sampai akhir masa kuliah. Walau menyibukan Iswandi mengaku enjoy menikmati. Dia memang senang bertenak. Kemudian pembeli datang terutama asal Jawa Timur, terutama Kediri, Malang, dan Bali.


Pembeli rata- rata mengunjungi rumah Iswandi. Tidak pula sedikit mendatangi Pasar Agrobis Babat. Ia akan membawakan dan bertemu cash on delivery. Berkat ketekunan hasilkan 4 sampai 12 ekor anakan lahir. Terus apa kiat menjadi pengusaha mahasiswa pertanian tersebut.


Dia menyebutkan beternak kelinci cukup 3 jenis makanan: Amapas tahu, dedhak, dan juga konstentrat. Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), yang mana mengeluarkan Rp.300 ribu- Rp.400 ribu perbulan. "Yang bikin cepat gemuk itu ampas tahu," jelasnya kepada Tribunnews.com


Mengurusi kelinci cukup mudah cuma butuh ketelatenan. Ia membawa kelinci makan rumput tiap pagi dan sore hari. Kalau kesulitan tinggal diganti ampas tahu atau konstentrat. Dua kali sehari kandang kelinci dibersihkan agar tak kena penyakit.


Proses kembang biak tinggal kelinci betina dikumpulkan jantan. Dalam satu kandang khusus, mereka akan kawin. Begitu hamil langsung dipisahkan sampai melahirkan. Sebulan, sekarang, dia mampu menjual 100 ekor kelinci.


Jenis kelinci potong harga anakan Rp.20 ribu ekor hingga Rp.35 ribu. Harga kelinci daging potongnya Rp.35 ribu perkilogram sampai Rp.50 ribu. Buat indukan dia menjual Rp.80 ribu sampai Rp.90 ribu perekor. 

 

Kelinci nanti siap dijual di usia 1,5 tahun. Anakan kelinci nanti dipasok ke toko hewan atau kampus kesehatan. Menurutnya beternak kelinci lebih mudah, karena penyakit utamanya dikisaran kudis. Yang akan hilang cukup memakai obat injeksi.


Musim pancaroba juga menghasilkan masalah tersendiri. Yakni muncul kurang nafsu makan kelinci tapi bisa diberi vitamin. Walau ia sukses menjadi pengusaha tidak pelit ilmu. Dia menjadi mentor buat pemuda di desanya berternak kelinci.


Ada 20 orang warga binaan ikut beternak kelinci. Dibawah binannya selalu diamati serta dibimbing langsung. Iswandi berharap mahasiswa mau beternak kelinci. Berwirausaha terbukti mampu membantu perekonomian keluarga.


"Lebih ideal lagi ada pasar khusus kelinci di Lamongan," harap Iswandi.

Strategi Usaha Modal Nekat Pengusaha Sapu

Profil Pengusaha Vinasari Kusuma

 
pengusahasapu.png
 
Pengusaha sapu Vinasari Kusuma Ningrum tidak menyangka. Strategi usaha modal nekatnya mampu menaikan level. Dia dulu hanyalah seorang pedagang sapu asal Dusun Dendengan, Kelurahan Bojong, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. 
 
Namanya menjadi sorotan publik berkat prestasinya di bidang kewirausahaan. Wanita 40 tahun itu kini muncul diberbagai media surat kabar. Usahanya hanyalah usaha rumahan, namun sukses merambah pasar Eropa, mengagumkan. 
 
Prinsip itu kesuksesan dapat diraih siapapun asalkan memiliki kemauan dan kerja keras. Bagaimana cerita lengkapnya? Berikut:

Vina begitu sapaan akrabnya berasal dari keluarga sederhana. semula hanylah seorang karyawan di sebuah pabrik kertas di Blabak, Kabupaten Magelang, kini memilih bekerja mandiri dengan hasil yang lebih dari cukup berkat usahanya memproduksi kerajinan sapu dan alat-alat kebersihan rumah lainnya. 
 
Usaha yang dirintis tahun 2009 bersama sang suami, Zaenal Arifin (41), yang juga mantan karyawan pabrik kertas. Saat itu kondisi ekonomi kedua pasangan itu surut, mereka justru memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih menjadi pengusaha.

"Kami nekat saja, karena tidak punya modal sendiri, kami pun mantap meminjam uang modal di bank ketika hendak memulai usaha ini," ujar Vina, saat Kompas.com menyambanginya di Pekan Raya Magelang.

Sebelum memilih kerajinan sapu, Vina sempat mengerjakan aneka kerajinan dari bambu berupa suvenir dan hiasan. Hasilnya pun lumayan sampai dikirim ke Yogya dan Bali. Namun, disaat ada bom bali, usahanya ikut terimbas sampai tak mampu membayar angsuran bank. Miris. 
 
"Bisnis kami memang bagus pada awalnya. Tapi karena ada kejadian bom Bali membuat pihak rekanan menghentikan pesanan. Seketika kami bangkrut dan tak punya apa-apa, saat itu sulit sekali untuk bangun," tutur Vina, sang pengusaha sapu

Beruntung sang suami mendukungnya. Mereka pantang menyerah memulai bisnis lagi dari nol. Sapu dan alat kebersihan rumah tangga menjadi pilihan karena di sekitar tempat tinggalnya banyak yang bisnis produk serupa. 
 
Mereka ingin produk yang lebih berkualitas dan inovatif ujarnya lebih lanjut. Jadilah melalui media internet, mereka pun mencari penyedia bahan sapu dan kemoceng rafia yang berkualitas. Mereka mendapat suplai bahan baku dari baku di Purbalingga, Jawa Barat, yang berkualitas bagus.

“Di sekitar kami banyak pengrajin sapu, tapi untuk bahannya satu pun tak ada yang menyediakan. Kami fokus pada peluang itu hingga akhirnya ketemu alamat di mana saya bisa beli bahan yang nantinya akan saya jual grosiran di rumah," papar wanita asli Kabupaten Wonosobo itu.

Sedikit demi sedikit Vina beserta suaminya mulai memproduksi aneka alat kebersihan rumah, mulai dari sapu, kemoceng, sapu lidi, hingga keset. Seiring berjalannya waktu bisnisnya berkembang cukup bagus. 
 
Berikut strategi usaha modal nekat selain tekat kuat. Vina manfaatkan jaringan ketika masih berbisnis kerajinan bambu dahulu dan membuka jaringan baru yang lebih luas. Sistem online ternyata bekerja pada produk yang bisa dibilang cekeremen atau kampungan.

Selain itu ia sendiri mengikuti berbagai seminar oleh instansi- instansi terkait untuk meningkatkan daya saing produknya. Hasilnya? Produknya mulai disukai.

"Produk kami mulai banyak yang menyukai, karena kami memang mengutamakan kualitas. Sapu kami memang lebih berat, tapi kuat, megar, dan rapi. Harganya relatif murah, berkisar Rp 10.000–Rp 15.000 per buah," urai Vina.

Pembeli tidak saja datang dari Kota dan Kabupaten Magelang, tetapi juga dari Tegal, Bojonegoro, Medan, Pekanbaru dan bahkan pernah mengirim ke Perancis. 
 
Kebanyakan pelanggan mengetahui produknya dari website. Vina dibantu oleh sembilan karyawannya mampu memproduksi sapu hingga 5 ton setiap dua minggu dan bisa bisa mengirim hingga 8 kali ke pelanggannya ke luar kota Magelang. 
 
Dalam dua hari saja omzet mereka mendapatkan omzet penjualan mulai Rp 2 juta – Rp 4 Juta. Zaenal Arifin, suami Vina, menyebut dari bisnis tersebut sudah mampu menyokong kebutuhan keluarga. Zeanal menambahkan dirinya sekeluarga bisa membeli mobil, rumah, hingga membuka bisnis lainnya. 
 
Meski dibilang bisnis sepele tapi jika dikerjakan serius maka berkahnya luar biasa. Selain bisnis sapu dan peralatan rumah tangga, Vina dan suaminya mempunya bisnis fotokopi.  "Alhamdulillah, ini hasil jerih payah kami," ucap Zaenal.

Dirinya pun berharap pemerintah daerah untuk terus memberi dukungan kepada para pengusaha-pengusaha kecil di Magelang agar berkembang. Tidak sekadar mengadakan seminar maupun pelatihan, tetapi juga membantu pemasaran dan membeli produk-produknya.

Pasangan Suami Istri Bisnis Bareng Frozen Food

Profil Pengusaha Ernawati Agustina

 

bisnissuamiistri.png
 

Pasangan suami istri bisnis bareng kenapa tidak. Mereka berbisnis frozen food. Pasangan suami- istri pengusaha, Noer Amin Hidayatullah (31) dan Ernawati Agustina (28), yang asal Desa Dusun Turi, Desa Kepungharjo, Kecamatan Kepanjeng, Kabupaten Malang, yang bahu- membahu membangun usaha.


Mereka berbisnis bareng frozen food atau makanan beku. Awal suami- istri tersebut berharap mendapat uang tambahan. Disusul semangat mereka mencoba kewirausahaan. Minat bisnis kuat Erna bersama suami menjajal makanan beku.

 

Bisnis Suami Istri


Ia tidak ingin bergantung kepada gaji suaminya. Saat itu, ternyata Amin bekerja menjadi juru masak buat satu hotel ternama di Kota Batu. Ernawati mau merintis usaha. Suaminya ikut membantu dan mereka mulai membuat lumpia. Camilan sederhana yang tidak asing di lidah masyarakat.


Mereka berdua lantas menawarkan itu ke teman- temannya. Camilan berisi potongan sayuran mereka disajikan memakai saus tauco. Penjualan camilan melalui pre- order ke teman. 

 

"Kala itu kami berpikir caranya punya penghasilan tambahan. Gaji suami ngepas. Gak ada cadangan buat menabung," lanjut dia.


Wanita lulusan Sarjana Tata Busana Universitas Negeri Malang. Dia tidak berbisnis fashion malah jualan gorengan. "Karena saya suka lumpia," tuturnya. Maka keduanya membuat lumpia kemudian ditawarkan ke orang.


Bermodal awal Rp.170 ribu langsung menjadi saksi bisu. Modal tersebut digunakan buat memenuhi pesanan 20 potong. Pemilihan lumpia juga karena fakta bahwa mereka awet. Camilan tersebut tidak lekang digerus jaman.


Lumpia bikinan Erni disukai sampai diorder ulang. Ia menawarkan ke sosial media Facebook. Inilah menjadi cikal berkembangnya bisnis mereka. Keputusan tersebut dirasakan tepat. Dari sana datanglah orang menawarkan diri menjadi agen atau reseller.


Kemudian disusul banyak lagi menanyakan bisa reseller. Dari sanalah Erni penasaran mengenai konsep bisnis tersebut. Dia lantas mencari tau di Facebook. Tanya cara menawarkan produk lewat sosial media Facebook.


Usaha lumpia mereka berkembang seiring perjalanan. Amin bertugas menjadi juru masak. Erni yang mengurusi marketing produk. Peran keduanya dilakukan sampai sekarang. Varian lumpia berkembang mulai dari isi tuna, rebuang, ayam, udang hingga tuna.


Tahun 2018, pesanan meningkat, Amin kesulitan mengatur waktu antara pekerjaan dan bisnis. Dia keteteran menjadi juru masak hotel. Pulang malam dilanjutkan membuat pesanan dirasa melelahkan. Ia akhirnya memilih untuk resign dan fokus merintis usaha.


Dia resign. "Buka usaha kok lebih menjanjikan. Kemudian saya resign dari kerja jadi koki di hotel," ia menjelaskan kepada Tribunnews. Pria asli Sumenep, alumni jurusan Tata Boga, Universitas Negeri Malang, yang membuat dua alur distribusi.


Mereka menjadi produsen menjual lewat agen dan reseller. Aturan jelas, agen melakukan pembelian minimal 40 pack, dan reseller sekitar 15 pack produk varian. Lumpianya berukuran 8 cm. Satu pack berisi 12 lumpia.


Di area Malang Raya terdapat 10 agen. Jawa Tengah punya 10 agen. Di Jakarta terdapat 3 agen. Di Surabaya 3 agen dan Bali 3 agen. Mereka memberikan target penjual 1 juta perhari. "Sehari kami bisa menjual 100 pack, Alhamdulillah bisa tercapai," tuturnya.


Agar bisnis mereka terus berkembang maka dibuat varian. Erni mulai memvariasi aneka produk frozen food lain. Tujuannya buat mengikuti selera konsumen. Total lumpia Erni memiliki 40 varian rasa. Buat produk lain meliputi donat kentang, risoles, pisang molen, lemper goreng hingga pempek Palembang.


Harga jual antara Rp.14 ribu sampai Rp.40 ribu perpack. Erna merintis usaha dari nol. Berbekal kulkas biasa dijejali makanan beku. Bertahap mereka melengkapi tempat penyimpanan. Sedikit- demi sedikit mereka membli 2 lemari es ukuran besar dan 1 berukuran kecil.


Lemari es itu khusus yang digunakan penjual es krim dan makanan beku. Mereka menyimpan ratusan produk di dalamnya. Mereka lantas menawarkan melalui Instagram @jurlumfoods.ind, dan tengah menunggu HAKI (Hak Kekayaan Intelektual).


Mereka lantas mendapatkan dukungan Desperindag Kabupaten Malang. Erna tidak cuma berbisnis frozen food. Kini dia dikenal pula menjadi pengrajin daur ulang popok. Pasangan suami istri ini terus berbisnis bareng. Mereka memiliki 5 orang karyawan membantu produksi dan perdagangan.


Karyawan mereka merupakan warga desa sekitar mereka tinggal. Sistem penggajian borong senilai Rp. 288 ribu perminggu. Erna menggunakan sistem penyimpanan beku. Ini dirasa lebih efektif membuat produksi mereka tanah lebih lama.


Kenapa produk mereka unggul dikarenakan buat sendiri. Kulit lumpia mereka tidak alot. Cenderung krispi dirasa. Lumpia praktis tinggal goreng. Karena tidak memakai pengawet, produknya hanya bisa bertahan 10 jam diluar, dan bila sudah dijadikan beku bertahan 2- 3 bulan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba