Rahasia Kek Villa Bisnis Bersama Istri

Profil Pengusaha Deny Deylandri 

 
denydeylandri.png
 
Rahasia Kek Villa, taukah bahwa sebelum ada makanan ini, kota Batam tidak ada camilah khas untuk dibawa pulang. Pemiliknya kemudian bercerita awal bisnis bersama istri ini. Dia mencoba membuat sesuatu simple tetapi selalu dikenang.
 
Batam pun sepertinya harus berterima kasih kepada sosok Denni Delyandri, sang pencipta Kek Pisang Villa. Jika kamu berkunjung ke Kota Batam tidak akan puas tanpa membeli ini. Nama Kek Villa telah dikenal dan terkenal di mata pelancong. 
 
Berawal seorang buruh pabrik yang berani banting stir menjadi pengusaha. Dulu ia harus mencari- cari uang tambahan, sekarang, namanya ada disetiap kemasan produknya.

Buruh jadi pengusaha


Denni hanyalah pekerja pabrik elektronik yang hidupnya pas- pasan. Meski tercukupi ia masih memendam satu perasaan untuk hidup lebih baik. Apalagi disaat itu sang istri tengah hamil dan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk persalinan. 
 
Ia yang melihat anak pertamanya nanti membutuhkan banyak biaya, akhirnya memilih mencari penghasilan tambahan. Bersama sang istri, kedua pasangan muda ini bahu- membahu mencoba berbagai usaha untuk tambahan.

Sebuah kompor minyak tanah, kado pernikahan mereka menjadi modal awal. Mereka membeli kerupuk mentah di pasar, digoreng lalu dikemas sederhana dan kemudian didistribusikan di warung-warung dan rumah makan sekitar tempat tinggalnya. 
 
Meski hasilnya lumayan, tenaga yang dibutuhkan cukup besar jadilah bisnis ini gagal. Bukan karena bisnisnya merugi tapi sepi karena si penjual kecapaian berproduksi. Mereka lalu berbisnis lain tapi sama saja. Masalah mereka tetap sama tenaga yang lebih besar dari hasilnya.

Denny akhirnya berfikir lebih smart. Dalam pencarian bisnisnya, ia menemukan sebuah buku bisnis karangan Robert T. Kiyosaki. Setelah membaca buku itu, semangat wirausahanya kembali berkobar mencari bisnis yang lebih kreatif. 
 
Denny lalu mengambil kredit dari koperasi tempatnya bekerja dan membuka usaha lain lagi, namun usahanya kembali gagal dan uangnya amblas alias hilang seketika. Denny putus asa. Ia kembali membaca- baca artikel bisnis di internet. 
 
Dia belajar lebih banyak melalui CD pelatihan yang dibelinya dari internet. Ia kemudian memiliki ide untuk membuat EO (Event Organizer), yang kemudian mengadakan berbagai acara seminar bisnis. Dia pun tak segan untuk mendatangkan pembicara ternama yaitu Jaya Setiabudi. 
 
Setelah seminar, hubungan Denny dan sang motivator tetap berlanjut, bahkan Denny masuk sebagai anggota dalam asosiasi kewirausahaan yang telah dimotori oleh Jaya Setiabudi. Dari dalam organisasi itulah Denny semakin mendapat pengalaman sangat berharga di bidang wirausaha.

Bisnis Kek Pisang


Disisi lain istrinya, Selvy, juga sudah mempunyai bisnis sendiri yaitu bisnis kek pisang. Ia memasarkan kek pisangnya melalui kemitraan bersama dengan teman- teman kantornya dulu. Awalnya untuk setiap box kek pisang yang terjual mereka memberi komisi 3000 rupiah. 
 
Bila berhasil menjual 100 kotak ada bonus lagi yaitu 100 ribu. Dengan cara ini, kek pisang buatan sang istri yang awalnya hanya laku 30 kotak bisa terjual laris hingga 400 kotak per hari.

Kerja keras itu tak sia- sia, orderan kek pisang itu terus berdatangan. Rumah yang jadi tempat produksi di perumahan Villa Mukakuning, waktu itu tak mampu lagi memfasilitasi produksi kek pisang miliknya. 
 
Karena tempatnya di perumahan Villa Mukakuning inilah akhirnya nama kue produksinya terkenal bernama nama Kek Pisang Villa. Denny tak tinggal diam, ia juga ikut membantu sang istri dalam marketing bisnisnya. Denny dan Selvy akhirnya memberanikan diri untuk menyewa sebuah ruko, yang terletak di kawasan Villa Mukakuning. 
 
Ruko yang dijadikan tempat produksi dan berjualan juga. Agar menarik perhatian, gerai mereka di cat warna kuning dan oranye. Dia tahu bahwa Batam belum memiliki oleh- oleh khas, dengan cerdik Denny mem-brand Kek Pisang Villa sebagai oleh- oleh khas Batam dbertag line Batam. 
 
Ya Kek Pisang Villa. Denny juga memasarkan kek-nya melalui internet dengan membuat situs web. Dari sukses bisnisnya, Denny dan Selvy kemudian membuka cabang di Batam Center, Nagoya, Penuin dan juga Bandara Hang Nadim Batam. 
 
Lokasi cabang tidak terlalu jauh membuat instansi pemerintah dan perkantoran membuat disekitarnya melirik Kek Pisang Villa, baik untuk oleh-oleh atau juga sebagai kue wajib yang disuguhkan saat rapat atau pertemuan. 
 
Hal ini membuat Kek Pisang Villa bertambah terkenal setiap hari. Bahkan Walikota Batam mengaku menjadi langganan setia Kek Pisang Villa.

Dalam waktu satu tahun, bisnisnya bisa berkembang hingga 5 cabang. Modal awal yang hanya sebesar 2 juta berkembang dalam omset 800 juta per bulan. Untuk lebih mempopulerkan produknya, ia kemudian menjalin kerjasama dengan sopir taksi bahkan perusahaan travel. 
 
Pemandu wisata dan supir taksi akan mengarahkan wisatawan untuk mampir ke gerai. Inilah rahasia Kek Villa mampu menjadi ikonik pariwisata. Branding Kek Villa menjadi oleh- oleh khas ternyata sangat berhasil. Denny mengaku senang karena bisnis bersama istri.

Keduanya saling bahu- membahu mewujudkan ide kreatif. Bahkan, untuk semakin mengeratkan kaitan sebagai oleh- oleh khas Batam, konsumen yang membeli kek-nya hingga mencapai 150 ribu akan diberi T-Shirt yang bertuliskan Batam. 
 
Itu guna membangun jejaring dan meluaskan wawasannya, dia ikut rajin mengikuti seminar bisnis. Dan akhirnya berbagai penghargaan juga sempat diraih. Denny menemukan jalan hidupnya dan agar lebih profesional mengelola bisnisnya; Denny resign dari pekerjaannya di perusahaan elektronik.

Resign Kerja Bergaji Tinggi Pengusaha Ikan Petek

Profil Pengusaha Aang Permana

 
ikansipetek.png
 
Mungkin kamu sudah pernah mendengar kisah pengusaha ikan petek ini. Namanya Aang Permana yang resign kerja bergaji tinggi. Alumni Fakultas Perikanan dan Kelautan, Insitut Pertanian Bogor (ITB), yang sudah memiliki pekerjaan mapan.
 
Bayangkan setelah lulus IPB langsung mendapatkan kerja. Dia pernah bekerja menjadi staf Environmental Engineer di PT. Radiant Interinsco (RUIS). Aang bekerja salam dua tahun. Di tahun 2014, sekonyong- konyongnya ia melepaskan pekerjaan mapan tersebut. Gila memang.

Gaji tinggi karena termasuk industri potensial. Gajinya tinggi ditinggalkan demi menjadi petani ikan. Ia kembali ke Cianjur. Aang menjadi peternak. Ternyata uang tidak bisa menutupi sebagian yang katanya hilang. Dia menghasilkan banyak uang tetapi buat diri sendiri.

 

Bisnis Perikanan


Lubuk hati paling dalam merasa, ilmunya sangat dibutuhkan banyak orang. Mengingat dirinya juga dapat beasiswa full. "Selama ini saya dibantu banyak orang terutama dalam hal pendidikan," ujarnya. Dimana dia ingin memberikan kebahagiaan kepada orang lain. 
 
Membantu mereka yang kurang mampu melalui ilmu perikanannya. "Saya ingin mengajak sebanyak- banyaknya anak muda kembali ke daerahnya, untuk sama- sama membangun Indonesia menjadi negara maju dalam sektor pertanian," ujar sang pengusaha muda.

Pemuda kelahiran Subang, Jawa Barat, kelahiran 1990 yang hidup kurang mampu. Bahkan terlunta- lunta ketika mau kuliah. Aang sempat mengajukan surat Keterangan Tidak Mampu. Buat buku kuliah, Aang sempat meminjam kepada pagawai kampus untuk tugas.

Tugasnya sebagai Staf Environmental Engineer, yang membawanya berkeliling ke pantai- pantai seluruh Indonesia. Dia dimintai menganalisa dan mensurvei. Ia menyadari bahwa dalam membangun potensi perikanan berbeda tiap daerah.
 
Termasuk kampungnya Cianjur dimana memiliki waduk Cirata. Kawasan tersebut dikenal hasilkan jenis ikan bernama sipetek. Dimana ikan itu sudah biasa menjadi bahan makan ternak. Ikan peteknya sangat melimpah yang seharusnya memiliki prospek.

Aang melihat peluang dibalik banyaknya ikan tersebut. Ia kemudian bertaruh. Pasalnya ketika diberi ke orang malah ditolak. Mengkonsumsi ikan sipetek tidak dimungkinkan. Lebih baik dijadikan pakan atau dibuang. Aang menyimpulkan terdapat kesalahan dalam pengolahan.

Pertaruhan senilai Rp.500 ribu demi cemilan nikmat. Berhasil cemilan tersebut disenangi orang sampai beli lagi. Aang kemudian mengundurkan diri dari perusahaan. Pengorbanan menjadi pengusaha muda itu setimpal. Ternyata ke depan usahanya meraup omzet Rp.500 juta perbulan di tahun 2016.

Keberhasilan tersebut berkat sistem penjualan melalui reseller. Total 400 agen menjualkan Crispy Ikan Sipetek keseluruh Indonesia. Aneka macam penghargaan diterima termasuk lomba Wirausaha Muda Berprestasi oleh Kemenpora, dan juga Kick Andy Young Hero.

Aang Pramana adalah pendiri Ikanovasi Daya Lokal. Usahanya membangun lapangan pekerjaan buat perempuan tua dan nelayan. Agen reseller tersebar dari Aceh sampai ke Papua. Penjualannya sampai keluar negeri, seperti Arab Saudi, Taiwan, Malaysia, Hong Kong, dan lain- lain.

Aang sendiri tengah mengerjar proyek bernama setengahporsi.com. Dimana dia akan menjual katering kepada orang yang mau berbagi. Harga jualnya Rp.15 ribu, tetapi pembeli akan mendapatkan porsi separuh. Porsi tersebut akan diberikan kepada anak yatim atau kaum duafa buat makan.

Meneruskan Tahta Bisnis Cara Anindya Bakrie

Profil Pengusaha Anindya Bakrie


biografi anindya bakrie
 
Menjadi pengusaha sudah mendarah daging dalam keluarga ini. Meneruskan bisnis Anindya Bakrie punya cara berbeda. Dimana dia lebih tertarik mengembangkan lini bisnis media. Anindya fokus di bisnis PT. Visi Media Asia (VIVA), meliputi media TVONE walaupun tidak terlalu disorot.

Perusahaan keluarga Bakrie didirikan sang kakek, Ahmad Bakrie. Perkembangannya pesat menjadi salah satu perusahaan multi nasional. Bisnisnya meliputi bidang pertambangan, migas, infrastruktur, tambang, media dan telekomunikasi.

Kini, Anindya Novyan Bakrie, menjadi generasi ketika mendukung bisnis keluarga. Anin sekaligus menjadi CEO PT. Bakrie Global Venture. Sejak kecil dikenal memiliki keinginan kuat belajar sampai jenjang tertinggi. Anin lulus Northwestern University, mengambil jurusan Teknik Industri.

Bakat Wirausaha Sejak Dini


Putra dari Aburizal Bakrie dan Tatty Murniarti, melanjutkan pendidikan di Stanford Graduate School of Business, mengambil program Global Management Program (GMP). Anin aktif mengikuti aneka organisasi Himpunan Pengusaha Indonesia, Persatuan Renang Indonesia, Kamar Dagang Indonesia.

Keunggulan Anin begitu terlihat ketika usianya 27 tahun. Waktu tersebut dia mampu mengambil alih stasiun televisi ANTV atau PT. Cakrawala Andalas Televisi. Dia didapuk menjadi Presiden Direktur di sini.

"Bisnis kedepan bukan yang besar mengalahkan yang kecil, tapi yang cepat mengalahkan yang lambat,"tuturnya.

Anin mampu menangani masalah dalam stasiun televisi tersebut. Bayangkan harus membawahi satu perusahaan televisi hampir bangkrut. Mereka memiliki hutang Rp.1,4 triliun untuk menaikan saja sangat sulit. Anin memiliki pandangan tersendiri mengenai televisi swasta diluar acara umum kita.

Anin rela mendekati pemilik obligasi hingga kreditur. Ia menyuguhkan konsep meyakinkan bahwa ini akan berhasil. Bahkan berhasil menyumbangsihkan berdirinya PT. Visi Media Asia (VIVA), dengan jaringan media besar termasuk stasiun televisi swasta.

Tidak mudah bagi Anindya Bakrie tumbuh dalam keluarga ini. Beban berat sudah dirasakan karena harus mewarisi bisnis besar. Ketertarikan akan dunia bisnis bukanlah hal instan didapat. Tentu kita sering dengan anak yang tidak tertarik akan profesi orang tuanya.

Kita pernah mendengar anak penyanyi yang memilih tidak bernyanyi. Meskipun sama- sama dalam bidang seni tetapi beda. Bahkan ada orang yang profesinya melenceng jauh dari orang tuanya. Kisah ini juga menjadi bagian terbesar keluarga Bakrie secara keseluruhan.

"Waktu itu sejak masih kecil sudah diajakin diskusi bisnis," ia menerangkan. Bahkan diskusi ini tiba- tiba muncul ketika makan bubur. Diwaktu senggang tidak jarang Anin kecil mendengar bahasan soal kewirausahaan.

Ada bapak, om- om, dan keluarga besar membahas bisnis. Padahal dia baru berusia 5- 6 tahunan, ya tidak paham sama sekali apa mereka bicarakan. Lama- lama dia timbul konsep mengenai menjadi wirausaha. Ketertarikan tersebut tanpa datang melalui keterpaksaan melainkan ketertarikan.

Lulusan S-1 langsung mendapatkan pekerjaan di Wall Street. Tetapi jangan bayangkan dirinya akan bekerjar enak. Walaupun Wall Street, faktanya ketika dia hitung gajinya dibawah UMR sana, sudah lagi ditambah kerja sampai jam 11 malam.

 "Datangnya sih rapi pakai dasi, tapi gaji sedikit," jelasnya.

Pandangan awam bahwa anak muda tidak mampu menjalankan tugas besar. Sangat sedikit jajaran petinggi perusahaan berusia muda kala itu. Pasalnya senioritas masih dianggap dikalangan eksekutif perusahaan. Dia memiliki pengalaman tetapi tentu tidak sebanyak seniornya.

Menjadi pengusaha muda tidak mudah ketika memulai. Anin mengalami "pandangan" tersebut tetapi tetap berjuang keras. Pada dasarnya ia adalah sosok memiliki rasa keingin tahuan. Alhasil ketika dia harus mengambil alih sebuah stasiun televisi, dipelajarinya perusahaan sampai ke ruang produksi.

Bayangkan kamu mengerjakan bisnis yang hampir bangkrut. Perusahaan televisi swasta yang hanya punya acara seadanya. Mereka hanya mementingkan siaran seadanya tanpa terencana. Apalagi punya hutang mencapai Rp.1,4 triliun; Anin pastilah pusing tujuh keliling.

"Seperti benang kusut," Anin menerangkan pengalamannya. Stasiun televisi swasta tersebut memang diambil alih dalam keadaan buruk. Anin tidak gentar menghadapi masalah. Maret 2002, dirinya lalu diangkat menjadi Presiden Direktur membawahi ANTV milik PT. Cakrawala Andalas Televisi.
 
 
Ia langsung merombak konsep tayangan televisi ini. Anin juga merombak jajaran eksekutif agar lebih berpandangan ke depan. Harus mengubah image ANTV yang memilik acara seadanya. Dia sebagai pemimpin muda punya kelebihan dan kekurangan.

Dia sebagai anak muda tidak punya pengalaman disini. Anin tidak ragu berkonsultasi dengan senior di industri ini, dan juga tidak ragu mengarahkan mereka pegawai senior. Anak muda berarti menjadi lebih kreativitas dan memiliki visi luas.

Anin mengajak semua pemegang kendali berlari kencang. Bersama- sama membangun program baru yang lebih fresh. Hasilnya ANTV mempunyai program unggulan, dan mulai dilirik pemirsa setia. Dia lantas ditunjuk sebagai pemimpin PT. Bakrie Telecom (BTel), melayanai operator jaringan GSM.

Nama Chiat Peng Pengusaha Bidang Konsultasi

Profil Pengusaha Chiat Peng

 
chiatpeng.png
 
Menjadi pengusaha bidang konsultasi masih menjanjikan. Nama Chiat Peng, usianya 34 tahun, memiliki pandangan, "bila dia bisa maka saya bisa!". Pandangan inilah menjadi modal Chiat Peng maju. Dia gigih dan bekerja keras. Ia bahkan tertantang malukan hal sama dengan pengusaha sukses.

Tertantang menjalankan wirausaha walau tanpa pengetahuan. Nama Chiat Peng masih kecil tidak punya pendidikan menonjol. Tetapi dia memiliki tekat ketika memiliki kemaun. Sampai ketika dia masuk kuliah mulai berprestasi.

Dia lantas menjadi staf pengajar Universitas Tarumanegara. "Saya tidak pernah berpikir untuk mengajar. Dari segi prestasi saya biasa- biasa saja, dari pengalaman mengajar, saya tidak punya apa- apa," ujarnya lagi.

Chiat Peng mengaku terinspirasi seorang dosen baik. Dia masih muda. Mendedikasikan hidupnya menjadi pengajar. Terinspirasi hingga kagum sampai mulai belajar lebih tekun. Sang dosen lantas mengajaknya menjadi asisten dosen.

Ia selalu tertantang melakukan sesuatu. Di kiri ke kanan, dirasakan butuh tantangan baru, Chiat Peng mulai melirik orang- orang sukses sekitarnya. Mereka makan nasi. Dia makan nasi. Sama- sama makan nasi kenapada dia tidak bisa sukses mereka.

"Mereka kan makan nasi, saya juga makan nasi. Kenapa dia bisa begitu, kok saya tidak bisa? Saya terinspirasi. Suatu hari, mungkin tidak setahun atau dua tahun, tetapi saya pasti bisa seperti itu," tegas dia.

Chiat Peng bekerja keras hingga menjadi seperti orang disekelilingnya. Maka inilah yang membawa nasibnya sampai ke Negeri Paman Sam. Dia menyandang gelar MBA. Itu berkat kerja keras bahkan sampai menyiapkan diri demi tes TOEFL.

Dia bahkan mengulang tes berkali- kali. Kegigihan mempelajari pelajaran memunculkan kebosanan. Ia tetap belajar dan gigih sampai sukses. Setiba ia di Amerika malah mendapatkan hantaman keras. Krisis moneter mendera dunia termasuk Indonesia.

Kondisi keuangan sulit sampai krisis moneter usai dan masuk reformasi. Ia pun memohon kepada pihak dekan universitas untuk mempercepat studi. Namun disyaratkan harus belajar lebih keras bila dipercepat. Chiat Peng belajar lebih keras dibanding mahasiswa lain.

Ia bekerja paruh waktu menjadi asisten profesor. Juga menjadi staf bekerja di lab. Dia juga mengambil banyak mata pelajaran. Dia sampai bermalam- malam mengerjakan tugas di perpustakaan. Tidurnya beberapa jam saja dan sudah menjadi makanan sehari- hari.

Itu semua dibutuhkan demi menyelesaikan studi cepat. Begitu lulus dia berangkat ke New York buat mencari tantangan lagi. Teman sahabatnya orang Amerika menceritakan impian. Bahwa inilah tanah peluang bila kamu mau berjuang.

"This is land of opportunity. If you say you can work here, you can be successful." Chiat Peng yakin bahwa akan sukses ketika menginjakan kakinya. 

Dalam dua bulan, sesuai ditargetkan, ia menjadi assistant to marketing director di salah satu kantor di New York. Pengalaman menjadi pegawai menempanya bekerja lebih keras. Terutama kendala bahasa harus dapat diatasi berbagai cara.

Inilah batu loncatan karirnya lebih tinggi ketika kembali ke Indonesia. Chiat Peng bijak menyadari ini tidaklah akan mudah. Proses dilaluinya melalui selalu belajar dan bekerja keras. Banyak keluar rumah merupakan cara jitu tetap terinspirasi.

Temuilah sebanyak mungkin pengusaha muda. Balajarlah dari mereka sampai bersemangat kembali dari keterpurukan. Dia tetap menjadi sosok tertantang. Akhirnya Chiat Peng menjadi pengusaha bidang konsultasi. Usaha konsultasi ini yang menspesialkan sales management.

Berbekal pengalaman 10 tahun menjadi modal. Dia menawarkan jasa konsultasi selling skill. Dilihat banyak perusahaan membutuhkan penanganan selling. Pengusaha muda ini kemudian memberikan aneka advice. Ia pun menjadi pembicara sampai menjadi trainer.

Chiat Peng akan membantu perusahaan lain. Inilah sosok trainer sukses yang bernama lengkap, Tjiauw Chiat Peng, trainer sekaligus eksekutif muda aktif.

Toko Roti Igor's Pastry Jejak Wirausaha

Profil Pengusaha Innoco Sjahandi

 
igorpastry.png
 
Jejak wirausaha toko roti  Igor's Pastry. Nyatanya banyak orang berbisnis dari sekedar hobi. Apalagi jika faktor pendidikan menjadi pendukung hobi tersebut, ditambah pengalaman bekerja dengan orang lain. 
 
Inilah yang akan menjadi kombinasi menakjubkan bagi karir anda sebagai pengusaha. Sebut saja Innico Sjahandi dan Ratna Kusumo. Bisnis roti yang mereka rintis sejak 11 tahun silam berhasil menghantarkan mereka jadi salah satu pengusaha ternama di Surabaya, Jawa Timur.

Igo, panggilan akrab Innico Sjahandi, dan istrinya Ratna dipertemukan oleh kegemaran yang sama memasak. Berangkat dari hobi tersebut keduanya berusaha bersama membangun bisnis. 
 

Bisnis Keluarga

 
Dimulai dari berpacaran, dua- duanya bersama- sama bersekolah di Akademi Pariwisata NHI Bandung, fokus pada hobi mereka sebagai landasan. "Selain itu kami ingin cepat menghasilkan," ujar Igo yang lulus dari NHI pada 1989.
 
Selesai kuliah, mereka pun sama- sama merintis karier sebagai chef di sejumlah hotel dan restoran di luar negeri. Tujuh tahun Igo dan Ratna menghabiskan waktunya di Eropa. Keduanya sibuk bekerja dan juga melanjutkan pendidikan diploma perhotelan di Swiss. 
 
Baru di 1996 mereka kembali ke Indonesia tepatnya ke pulau Bali. Booming hotel bintang lima di Surabaya tahun 1997 membawa mereka pindah ke kota pahlawan Surabaya. Igo mendapat pekerjaan sebagai manajer restoran di Hotel Mandarin Oriental, Surabaya.

"Saya ingin lebih mengenal customer karena di Bali saya lebih banyak bertemu dengan tamu turis asing," jelas Igo.

Selama lima tahun menetap di Surabaya, Igo sudah merasa mengenal Surabaya dan juga masyarakatnya. Ia melihat peluang itu. Bisnis bakery, dia dan istrinya mencoba membawa konsep bintang lima itu dengan harga yang tetap terjangkau. 
 
Berbekal pengalaman dan tabungan selama bekerja mulailah bisnisnya ini di sebuah ruang tamu rumahnya, Jalan Biliton, Surabaya, pada 2002.  "Gerai Igor’s pertama kami kecil, ukurannya 7 m x 7 m," kata Igo. Selain Igo dan Ratna, ada 10 orang karyawan membantunya di dapur.

Seperti konsep awal, bakery buatannya haruslah seperti bintang lima tapi berharga terjangkau. Igo sangatlah mengutamakan kualitas produknya. Selain bahan- bahan baku pilihan, dia tak mau menambahkan pengawet, trans fat, dan penyedap dalam produknya. 
 
"Produk kami juga selalu fresh setiap hari," kata ayah dua putri ini. Tak heran. Roti yang mereka tawarkan tetap terasa mahal karena bahan bakunya. Igo menjual rotinya seharga Rp.4000, masih sering mendapat komplain kenangnya.

"Awalnya, kami sempat mendapat klaim soal harga yang mahal. Tapi, mereka puas karena ternyata besoknya kembali lagi berbelanja," kenang Igo.

Usaha yang diberinama Igor's Pastry ini, telah menjadi pelopor toko roti dan kue untuk mereka yang memerlukan perhatian khusus, untuk mereka yang ingin mengurangi gula, telur atau gluten. 
 
"Jadi, ada produk sugar free, egg free, gluten free, dan lainnya," ujar pria kelahiran Bandung 17 Agustus 1968 ini. 
 
Lantaran sudah sangat berpengalaman dalam pengelolaan restoran maupun produk bakery di hotel, Igo dan Ratna tak menemui kesulitan dalam pengembangan usaha mereka.

Kreasi dan inovasi menjadi kunci utama supaya pelanggan tak mudah bosan. "Itu juga yang selalu kami lakukan saat bekerja di hotel," kata Igo menambahkan. Hingga di tahun 2005, Igor’s Pastry telah membuka cabang kedua di Surabaya. 
 
Tak hanya melayani pelanggan ritel yang datang ke gerainya, Igo juga memasok produknya ke sejumlah hotel, kapal pesiar, beberapa perusahaan modal asing, korporasi, dan sejumlah konsulat di Surabaya.

dengan pengalamannya bekerja di hotel, Igo paham benar seluk- beluk dalam dunia bakery. Tak hanya mengandalkan kreasi-kreasi baru, Igo juga melengkapi usahanya dengan sejumlah sertifikasi. Sebut saja, sertifikasi HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) atau sertifikasi sistem keamanan pangan. 
 
"Ini semacam SIM bagi operator food and beverage karena harus mengetahui persyaratan penanganan makanan, dari pendataan, penyimpanan, pengolahan bahan makanan dan lain-lain," jelas Igo.

Selain itu, ada pula sertifikasi Tuv Nord dari Jerman. Setifikasi ini cara Igo mengontrol kualitas produknya apalagi sejak membuka cabang- cabang usaha. Dia juga menggunakan sertifikat tersebut untuk membentangkan sayap usahanya. Ia menjadi pemasok di berbagai hotel berbintang dan kapal pesiar. Kini, Igo menjual rotinya berkisar Rp 15.000 per bungkus. Dua tahun kemudian, pada 2007, Igo telah membuka cabangnya ketiga di Surabaya. Lalu, pada 2010, mereka mulai merambah pasar Bali.

"Untuk memperbesar pasar, kami harus membuka cabang di luar kota karena seluruh Surabaya sudah terkaver," jelas Igo kepada SWA.co.id

Kualitas Produk


Baru pada 2014, Igo memberanikan diri merambah pasar bakery Ibukota. Igor’s Pastry secara resmi memiliki satu gerai pertama di Jakarta. Tak seperti di gerai-gerai sebelumnya, Igo telah melengkapi cabang terbarunya ini dengan kafe. 
 
Langkah ini dia lakukan berdasar survei maupun saran dari teman-temannya. Kini dapur Igor’s Pastry telah menyuplai ribuan potong roti ke sejumlah gerai setiap hari. Ke depan, tak ada rencana muluk dalam pikiran Igo.

Dia hanya ingin menambah gerai baru di Jakarta, supaya lebih dekat dengan konsumen. Innico Sjahandi memang tipe pekerja keras. Sejak masih muda ia telah menghabiskan waktunya di dapur tak seperti teman- teman sebayanya. 
 
Kecintaan akan kuliner bukan lagi tentang hobi tapi bagaimana cara dia hidup. "Bos saya sampai bingung, kenapa enggak pulang-pulang. Yang lain bekerja delapan jam, saya bisa 15 jam," kenangnya.

Tak heran, dalam enam setengah tahun, pria berusia 46 tahun ini naik jabatan lima kali. Begitu pula saat ini, Igo, panggilan akrabnya, juga banyak menghabiskan waktu untuk pengembangan usaha. Kini dia melihat berbedanya bekerja menjadi karyawan dan pemilik usaha. 
 
Ada sentuhan berbeda dari tiap kerja kerasnya. "Lebih pusing punya bakery sendiri," kata dia. Pasalnya, bila jadi pekerja, Igo sudah bisa benar- benar berhenti berpikir ketika off. "Sementara, punya usaha sendiri, harus terus berpikir. Kerja tujuh hari, mikirnya bisa delapan hari," cetus dia.

Dia dibantu sang istri, Ratna Kusumo, memang pengusaha yang patut dicontoh. Igo lebih banyak berperan dalam bisnis dan pengembangannya, sedangkan sang istri fokus mengurusi produksi, karena lebih ahli di pastry dan bakery. 
 
"Enggak bisa, satu dapur dua nakhoda. Berantem terus," tutur ayah dari Chenyl ( 9 tahun) dan Kathleen (11 tahun) ini. Meski menjalankan bisnis pasangan suami istri ini mengaku tak ada hambatan yang berarti. Tapi keduanya sempat merasakan pengalaman bajak- membajak pegawai.

"Bagi kami, pembajakan kurang etis. Ini sedihnya," kata Igo.

Meski punya mimpi besar menjadi gerai pastry dan bakery terbaik di Indonesia,  baik dalam kualitas dan kuantitas, Igo tak ingin memperbaniyak jumlah gerai secara berlebihan. Sebab, menurut Igo, dengan jumlah gerai berlebihan, akan sulit mempertahankan kualitas. 
 
Jejak wirausaha toko roti Igor's Pastry berlanjut. "Kami tidak ingin memiliki gerai dalam jumlah banyak, karena kami lebih mengutamakan kualitas," kata Igo yang melansir sekitar 500 varian per- gerai.
 
Setelah sukses di Surabaya dan Bali, kini Igor’s Pastry telah hadir di Jakarta Jl. Wijaya 2 No. 122, Kebayoran Baru dengan konsep Chalet.

Konsep yang menyerupai tempat peristirahatan di pegunungan Eropa menjadi ciri khas seluruh gerai Igor. Igor mengatakan bahwa gerai Igor’s Pastry juga menyediakan Wi-fi dan memiliki meeting room. 
 
"Bagi mereka yang datang bisa santai sambil menggunakan wi-fi. Kami juga memiliki meeting room," jelasnya kepada Kontan.co.id
 
Untuk harga jual, Igor menjual produknya di kisaran Rp16 ribu sampai Rp20 ribu. "Untuk harga kami coba tekan agar sesuai dengan kemampuan pasar. Saya kira harga ini tidak terlalu mahal," pungkasnya menutup.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba