Orang Buta Wirausaha Kini Pengusaha Kebun

Profil Pengusaha Muhammad Arif

 

orangbuta.png
 

Kisah orang buta wirausaha perkebunan dan peternakan. Muhammad Arif, usianya 47 tahun, menderita tuna netra. Dia memilih melepaskan stigma orang tidak melihat. Arif memilih berkebun ketimbang jadi tukang pijat. Warga Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dimana menjadi buruh tani lahan seadanya.

 

Keterbatasan tidak menghalangi dirinya bekerja bersama istri. Demi menghidupi keluarga membuatnya tetap semangat. Berkat kerja kerasnya berkebun dan beternak hasilkan sebidang tanah. Disana, berdirilah rumah sederhananya bersama petak sawah dan empat ekor sapi.


Pak Arif menjelma menjadi pengusaha kebun. Ia mengenang ketika membawa tali kekang sapi. Dibawa sapinya sampai ke kebun tetangga. Meski tali kekang kuat, Pak Arif tetap kena amuk sapi yang marah sampai terjungkal. Padahal dia sudah mengenggam erat tali tersebut dengan penuh kekuatan.


Maklum dia bukanlah masih muda dan punya kekurangan. Orang buta wirausaha terdengar konyol ketika di telinga kita. Namun dia tetap sabar dan kuatkan diri demi masa depan. Arif ternyata bukanlah petani melainkan mantan tukang pijat.


Ia sempat merantau ke Watampone, Kabupaten Bone. Dia kalah saing alhasil kembali ke kampung. Ia lantas menjadi buruh tani. Keras kehidupan memaksa Arif menjadi pengusaha kebun. Padahal nih, dia bercerita memiliki bakat memijat, kalau cuma urut rematik sudah menjadi keahlian.


"Saya pintar urut orang, apalagi kalau cuma sakit rematik. Insya Allah saya bisa sembuhkan," lanjut Arif. Sayangnya, sudah banya panti pijat ditambah salon plus- plus, inilah yang merusak pasaran bisnis orang tunanetra seperti dirinya.


Dikisahkan dia mengalami kebutaan karena katarak. Usianya tiga tahun namun sudah dibuang kedua orang tua. Dia tidak pernah tau siapa orang tuanya. Arif kecil ditinggal di panti asuhan. Hidup sebatang kara tinggal sampai besar di panti asuhan.


Ia tidak tau siapa orang tua. Bahkan kata orang- orang dirinya "anak dibuang". Menikah sepuluh tahun dirinya belum diberi keturunan. Arif tetap optimis apalagi keadaan ekonomi telah membaik. Baginya rasa putus asa wajar muncul, namun ingatla selalu; dirinya yang buta tetapi optimis.


Arif tetap optimis dengan memiliki prinsip: Dalam kehidupan jangan pernah berpikir kita kekurangan. Ia meminta kita untuk jalani hidup apa adanya. Jangan terlalu berharap akan bantuan orang. Kalau nanti kamu mengerjakan pekerjaan, pastikan kamu yakin dan kerjakan, Insya Allah akan selesai.

Sukses Batik Margaria Yogyakarta Dyah Suminar

Profil Pengusaha Dyah Suminar

 
batikmargaria.png
 
Dialah dibalik sukses Batik Margaria Yogyakarta. Dia juga sosok dibalik kesuksesan mantan walikota Yogyakarta, Heri Zudianto. Pengusaha Wanita kelahiran Cilacap, 13 November 1956, adalah anak ke enam dari tujuh orang bersaudara. 
 
Dia juga istri dari Heri Zudianto, yang juga dikenal sebagai seorang pengusaha dan aktif diberbagai kegiatan sosial. Orang tuanya hanya seorang pegawai negeri sipil dan guru SD. Tapi satu hal pasti mereka menanamkan nilai yang benar membawa kesuksesan. 
 
Orang tuanya menanamkan kedisiplinan dalam benak tujuh anaknya. Dyah Suminar adalah anak yang disiplin, cerdas dan aktif ketika masih kecil. Baginya kegiatan berorganisasi seperti pramuka dan OSIS menjadi minat tersendiri. 
 

Bisnis Batik

 
Selepas SMA, ia melanjutkan kuliah di fakultas ekonomi di UGM. Di kampus itulah dirinya bertemu Herry yang menjadi suaminya kini. Mereka kemudian menikah pada 3 Mei 1980. Setelah menikah, suami Dyah memberi pilihan pada istrinya antara kerja kantoran atau bisnis. 
 
Dyah memilih yang kedua, berbisnis. Dyah Suminar memiliki prinsip- prinsip dan idealisme yang patut dicontoh bagi para wirausahawan. Khususnya bagi mereka para pebisnis pemula yang ingin terjun secara profesional di dunia bisnis. 
 
Itulah mengapa ia mampu membawa sukses Batik Margaria Yogyakarta. Dyah dulu mengawali usahanya secara profesional sejak 1983 dengan membuka usaha konveksi. Dari bisnis ini, Dyah terjun langsung mempelajari pola dan desain untuk mengembangkan konveksinya sendiri. 
 
Menurut Dyah, dunia kantor terlalu menyita waktunya dan keluarga. Dia mengungkapkan, kunci awal bisnis adalah memulai usaha dengan hal yang kita senangi. 
 
Setelah bisnis yang dirintisnya itu perlahan mulai berkembang, maka harus dilakukan pemisahan catatan dan pembangunan manajemen bisnis yang satu dengan lainnya. Ini agar terlihat perkembangan bisnis yang tengah dijalankan.

"Ada empat hal yang harus dilakukan untuk memulai bisnis. Pertama, kita harus berani memulai, kerja keras, memberi harga lebih pada konsumen berupa pelayanan excellent(layanan prima) dan seorang wirausaha harus memiliki banyak networking (jaringan)," kata Dyah. 
 
Ketika ditemui di salah satu unit usahanya di Jalan Tamansiswa, Kota Yogyakarta, kemarin. Awalnya mertua memiliki toko yang awalnya diperuntukan untuk berjualan sembako. Toko tersebut lantas disulap menjadi pusat penjualan baju batik muslim dari berbagai merek.

Untuk menstok barang ia memilih merek Danar Hadi, sebuah merek batik ternama yang terjamin kualitasnya. Sosoknya adalah seseorang yang jeli dalam melihat peluang usaha. 
 
Dyah lantas mendirikan berbagai usaha seperti gerai busana muslim seperti Al-Fath, Anita dan Karita, Grosir busana muslim Ar-Rahman, Klinik kecantikan kulit, Salon and Spa  Lellidewi, serta toko kado "Kado Kita". Semua usahanya itu kini bernaung dibawah satu atap yaitu Margaria Group.

Margaria Group tumbuh pesat memiliki 32 unit usaha, kini mereka tengah menjajaki bisnis mereka di wilayah Bandung. 
 
"Di Surabaya memang kehadiran Margaria Group sudah cukup lama dan ternyata responnya positif, untuk itu, kami akan memperkuat pasar di Jawa Timur, selain itu kami juga tengah melakukan survei di Bandung," kata Manager HRD Margaria Group, Ananto Prasetyo belum lama ini. 
 
Menurutnya persaingan usaha busana di DIY memang ketat. Tanpa inovasi Margaria Group bisa tertinggal jauh ujarnya lanjut.

Melalui beberapa unit usahanya yakni Margaria, Karita, Griya Muslim Anissa, Al-fath dan juga Nandia batik, Margaria Group pun setiap tahunnya menghadirkan tren busana muslim terbaru. Ananto mengaku, untuk tren tahun depan sudah mulai disiapkan sejak tahun ini. 
 
Bisnis Margaria Group yang bergerak di bidang retail dan jasa saat ini tumbuh sebesar 15 – 20 %, pertumbuhan tersebut didominasi oleh unit usaha fashion.

"Kadang kami bahkan jadi trend setter, misalnya dengan motif rainbow. Busana Muslim dengan segala perlengkapannya bukan sekedar tren mode tapi pilihan hidup yang dilaksanakan seumur hidup, jadi pasarnya akan tetap ada," jelasnya.

Selain berbisnis, wanita yang telah dikaruniai 3 anak yaitu Alfita Ratna Hapsari, Arif Nur Wibawanto, dan Annisa Rahma Herdyana ini, juga senang berorganisasi sosial. 
 
Istri dari Walikota Jogja ini begitu sibuk dengan urusan bisnis dan organisasi seperti  Ketua Tim PKK Yogyakarta, Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Ketua Dewan Kerajinan Nasional dan banyak lagi.

"Saya punya manajemen waktu dan manajemen energi yang strik sekali. Saya selalu punya cita- cita dan idealisme. Saya bangga kalau saya bisa mencari sendiri, warna sendiri, ide sendiri," terangnya mengenai Rumah Gizi yang digagasnya.

Bisnis Butik Online Pengusaha Muda Annisa

Profil Pengusaha Annisa Rahmawati

  
butikannisa.png 
 
Pengusaha muda itu bernama Nur Annisa Rahmawati ST, MM, tergerak hatinya selepas menyasikan bagaimana dahsyatnya gempa 2006. Gempa yang menghancurkan perekonomian banyak keluarga di Yogyakarta; ia membuat bisnis batik online. 
 
Karena gempa ada orang yang kehilangan rumah, kehilangan mata pencarian, bahkan ada yang hilang akal sehat. Beruntung ada wanita kelahiran 29 Mei 1982 ini, yang masih menyimpan optimis, semangat untuk bangkit kembali dan membantu sesama.

Dia tergerak untuk membantu mereka -terutama kaum ibu yang merasa harus ikut membantu dikala bencana ini- Annisa mencoba memberdayakan mereka yang tak pernah terpikir untuk berusaha sendiri. Annisa lantas memutar otak untuk membantu kaum ibu di lingkungannya. 
 
Putri bungsu dari tiga bersaudara ini, berbekal hobi merancang busana muslimah yang ditekuni sejak kuliah, Annisa berbisnis baju muslimah bersama mereka. Ketertarikan Annisa pada dunia wirausaha sudah dimulai sejak masa awal berkuliah di Fakultas Teknik Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. 
 
Keinginan untuk hidup mandiri serta memiliki kebebasan waktu menjadi alasan kuat. Jika bicara tentang dari mana dia memiliki jiwa kewirausahaan, maka jawabannya adalah kedua orang tuanya. Modal awalnya sekitar empat juta, Annisa kemudian menggunakan rumahnya sebagai tempat produksi.

Dua orang tetangga dipekerjakan untuk membantunya dalam proses produksi, satu sebagai penjahit dan satu lagi sebagai pemayet. Batik Annisa begitu produknya disebut, memproduksi berbagai busana muslimah yang terbuat dari berbagai macam bahan seperti, sifon, thai silk, katun, dan rawsilk. 
 
Tidak hanya itu, butik Annisa mulai memproduksi produk lain seperti gaun pesta, selop brokat, serta bando jilbab. Seluruh produk yang dibuat keseluruhannya dikerjakan secara manual sehingga terjamin eksklusivitasnya.

Melalui butik yang didirikan 1 Mei 2007 ini, ia membantu kaum muslimah berbusana sesuai syariah tapi tetap berkelas dang anggun. Konsep busana yang telah disesuaikan untuk mereka wanita yang berusia 25 sampai 40 tahun.  
 
Dari milis (group email), blog dan berbagai pameran dipilih sarana promosi dan pemasaran hasil kreasi perempuan berjilbab sejak 2004 ini. Baginya milis dan blog sangatlah membantu proses bisnisnya.

Bisnis online


Merintis bisnis memang bukan perkara mudah. Tak terkeculi lulusan sarjana teknik dan magister menejamen yang pernah bekerja di Pusat Studi Bencana Universitas Islam Indonesia ini. Annisa menyadari bahwa dalam berbisnis diperlukan keuletan, kesabaran, dan intuisi yang tajam. 
 
Dukungan keluarga membuatnya semakin gigih berbisnis dan tetap bersemangat. Sudah berbagai upaya pemasaran produksi butik yang terletak di jalan Kemasan 71 Kotagedhe Yogyakarta ini, telah dilakoni oleh Annisa satu per- satu. 
 
Dari milis (grup e-mail), blog, dan pameran menjadi sarana promosi dan pemasaran terbaik. Baginya milis dan blog adalah tempat berbisnis sekaligus menujukan kreatifitas. Dari perjalanan Annisa juga mengembangkan produk- produk baru. 
 
Hal terakhir ini ia gunakan untuk menjaga agar produknya tetap bisa diterima.

"Ide untuk membuat rancangan atau model produk bisa diperoleh dari berbagai sumber. Kadang-kadang saya berburu ide produk di internet atau majalah, tetapi tidak jarang mendapat masukan dari para pelanggan yang mengunjungi pameran," ungkap sang pengusaha muda.

Butik Annisa berkembang berkat kerja keras perempuan lulusan S2 UII Yogyakarta ini. Keseriusannya mampu membawa produk- produknya hingga pasar internasional. Wilayah pemasaran koleksi busana kreasi Annisa meluas sampai ke negara tetangga, misalnya Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, dan Australia. 
 
Beberapa negara Eropa seperti Prancis dan Jerman juga telah menjadi target pasarnya. Caranya? Annisa memegang konsep harga tetap terjangkau. Karena banyak menggunakan kain, umumnya busana muslimah tergolong mahal, namun Annisa dapat mematok harga yang cukup realistis.

Kisaran harga untuk atasan berkisar: Rp 100.00-Rp.200.000, setelan Rp 200.000-Rp 300.000, gamis: Rp 300.000- Rp 400.000, kebaya muslimah: Rp 300.000 – Rp 400.000, gaun pesta Rp 400.000 – Rp 500.000, selop brokat: Rp 150.000, dan bando jilbab: Rp 75.000. 
 
Untuk pemasaran melalui online, Annisa kini memilih menggunakan website sendiri. Menggunakan nama butikannisa.com, kini usahnya di tahun 2006 untuk hanya sekedar membantu bisa menjadi bisnis bekelanjutan.

Pada awalnya hanya fokus pada busana muslimah, karena permintaan banyak, Annisa telah mengembangkan produknya. Sebagai tambahan busana muslim Annisa kini punya berbagai aksesoris yang telah disesuaikan. Berpakaian muslimah sesuai syariah tetapi masih tetap modis menjadi ciri khas.
 
Untuk produk busana butik Annisa menggunakan konsep busana melayu. Dimana wanita melayu lebih menyukai pakaian rok, sehingga pasarnya bisa tembus sampai ke Malaysia, Brunai, dan Singapura, yang keturunan melayu.

Usaha Bakso Kepala Sapi Viral Wirausaha Muda

Profil Anggara Kasih Nugroho Jati

 
baksokepalasapi.png
 
Usaha bakso kepala sapi viral menarik banyak pewaralaba. Siapa yang tak suka bakso? makanan yang disukai dari berbagai usia, status sosial, dan juga isi kantong. Wirausaha muda, Anggara Kasih Nugroho Jati berhasil menggebrak peluang yang masih sangat besar ini. 
 
Bakso tak lain adalah salah satu makanan favoritnya jadilah sebuah bisnis miliaran rupiah.  Melihat potensi bakso yang seakan tak pernah mati, pria kelahiran Purwokerto, 23 September 1984, berusaha mendatangkan emas dengan mengemas bakso berkonsep lebih modern.
 
Perjalanan bisnisnya memang penuh kerja keras. Pria yang akrab dipanggil Angga menamai bisnisnya Bakso Kepala Sapi. Berawal dari seringnya menikmati bakso milik H Suharto sewaktu kuliah di Surabaya. Karena baksonya lezat, dia tertarik untuk mengerjakan bisnis serupa. 
 
Idenya bisnisnya ternyata juga didukung sang ayah yang juga seorang pengusaha. Untuk outlet pertamanya dibuka di daerah Klampis, Surabaya, dia kemudian membuka outlet pertama di luar Surabaya yaitu di wilayah Bogor dengan meminjam ruko orang tuanya.

Kini, sang wirausaha muda telah memiliki sejumlah cabang usaha Bakso Kepala Sapi, yang menjadi pundi- pundi pencetak uang.

Ulet berbisnis


Sejak kecil Angga memang senang berjualan, mulai dari mug dan petasan. Saat remaja, ia juga suka berjualan aneka aksesori motor serta berbagai barang seperti baju, topi dan segala hal yang dibutuhkan orang. Pokoknya hidup Angga itu seperti "Loe Mau Gua Ada". 
 
Dirinya semakin jeli mengendus peluang, apalagi ditambah sering mengikuti seminar kewirausahaan. Ia juga ikut aneka komunitas pengusaha. Semua dikerjakannya akhirnya mebuahkan tabungan senilai 50 juta, yang kemudian digunakan untuk outlet Bakso Kepala Sapi.

Penggemar mi ayam itu kemudian menyusun rencana untuk membagi waktu antara kuliah dengan merintis usaha. Tujuannya agar bisnisnya kelak bisa berkembang dan berjalan sesuai harapannya. Ia pun membuat hitung- hitungan modal dan tahapan-tahapan memulainya. 
 
Dengan dorongan sang ayah yang juga seorang wirausaha, tekad Anggara berjualan bakso tercapai. Kunci suksesnya ada diresepnya. Ke-khasan rasa Bakso Kepala Sapi terletak pada bahan dasar bakso dan kuahnya yang mengandung kaldu kepala sapi.

BKS memberikan sentuhan kaldu kepala sapi di dalam racikan kuah menjadi ciri khas yang mendatangkan cita rasa segar dan lezat. Ia memaparkan proses pembuatan kuah BKS sebagai berikut: kepala sapi direbus bersama bumbu lainnya untuk hasilkan cita rasa lebih kuat dan aroma lebih wangi. 
 
Karena memakai kepala sapi dan bukan paha sapi seperti kuah bakso pada lazimnya, kuahnya menjadi rendah kolesterol.

"Biasanya pada kuah bakso yang lain, lemak selalu menumpuk di atas. Kuah BKS lemak hampir tidak ada. Anda bisa lihat sendiri," ujarnya.

Setiap hari setiap outlet bisa menghabiskan 3-5 kg daging kepala sapi saja. Keberhasilan dari Bakso Kepala Sapi atau BKS membuat pengusaha lokal berminat bekerja sama melalui pola kemitraan yang kemudian dibukalah cabang di Cibinong. 
 
Ia pun segera mengembangkan pola waralaba untuk bisnisnya, tujuannya agar bisa tumbuh lebih cepat. Dengan program kemitraan atau waralaba, Angga pun sanggup menghasilkan omzet hingga Rp1,1 miliar per- tahun dengan keuntungan bersih untuk dirinya sendiri di atas Rp100 juta per tahun.

Ia menjelma menjadi pengusaha muda yang berhasil, memiliki segala impian sukses pemuda umumnya, dari menikah, hingga mepunyai rumah dan mobil serta memiliki bisnis yang stabil. 
 
Dan uniknya ternyata keduanya punya satu kesamaan yaitu sama- sama menyukai kewirausahaan. Rizka Wahyu Romadhona, sang istri tenyata punya kisah suksesnya sendiri. Bersama Angga keduanya sukses mendirikan bisnis bernama Lapis Sangkuriang, profilnya akan dibahas di artikel berikutnya.

Jual Sandal Warna Warni Imucu Bisnis Unyu

Profil Pengusaha Fachrur Rozi dan Fadli


jualan sandal imucu

Ada pepatah berbunyi, "Kesuksesan lahir dari keberanian mengalahkan ketakutan." Jual sendal warna warni Imucu memang bisnis unyu. Prinsipnya dua cara manusiawai melawan ketakutan; menghadapi atau menghindari, namun jalan kesuksesan itu hanya ada satu untuk mereka yang berani.

Seperti itulah Fachrur Rozi dan Fadli memiliki kisah mengalahkan ketakutan mereka akan kegagalan. Mereka berani berusaha meski modal awal hasil patungan mentok di Rp.100 ribu. Bukan lah perjalanan singkat keduanya baru sukses setelah dua tahun itu terus menerus berusaha. 

Sukses lahir dari keberanian untuk tetap maju, bukan menghindari kegagalan demi kewgagalan. Kini, Rozi dan Fadli sukses menangguk untuk berlipat seratus. Dari uang modal Rp.100 ribu, dalam satu tahun pertama saja, mereka telah mengantongi untung Rp.1 miliar.

Bahkan, setelah itu, di tahun berikutnya bisnis garapan mereka menghasilkan setidaknya Rp.600 juta per- bulannya. Usaha apa sih mereka? Bisnis macam apa yang bisa sukses dalam satu tahun saja. Mudah mereka cuma berbisnis sandal japit atau sandal santai seperti yang anda pakai sekarang.

Bisnis sandal imut


Rozi dan Fadli memulai usaha membuat sandal- sandal imut dan lucu. Mereka kemudian menyebut produk milik mereka Imucu. Bentuknya sih macam- macam, ada hewan dan buah- buahan warna- warni. Awalnya mereka menggunakan jasa agen untuk promosi emperan.

"Tagline yang menjadi semangat kami sekarang, from emperan to empire. Karena tadinya kami usaha di emperan, sekarang sudah jadi empire," kata Rozi, yang menangani bidang pemasaran.


Kesuksesan mereka bukan langsung dari sandal Imucu saja. Mereka telah menjalani bermacam bisnis yang sekiranya memiliki prospek. Keduanya pernah berbisnis roti bakar hingga mie ayam. Namun justru dari satu hal yang tak terpikirkan malah jadi sukses besar. Apakah mereka pernah bekerja?

Rozi dan Fadli pernah tercatat sebagai pegawai perusahaan, namun tetap berusaha kecil- kecilan. Mereka juga menggunakan gaji pokok untuk menutup hutang jika usaha itu gagal. Menarik.

Dari yang semula hanya berdua, sekarang mereka sudah punya karyawan 50 orang dan punya tim kreatif sendiri.

"Ceritanya, saya dan Fadli lagi sama-sama jatuh, punya utang banyak karena bisnis yang kami coba gagal. Tapi, saat itu masih kerja. Penghasilan bulanan hanya buat nutup utang. Akhirnya, kami menemukan sebuah produk, uang Rp 100.000-lah dipakai untuk buat prototipe sandalnya," kisah Rozi.

Kemudian ada kisah lucu yang menghampiri mereka ketika awal usaha. Rozi mengkisahkan bagaimana usaha mereka menitip barang dagangan di acara tertentu. Mereka pun pernah mengambil celah berpromosi dalam satu acara franchise di Surabaya, Jawa Timur.

Lebih dari 500 brosur mereka bagikan di lokasi parkiran acara tersebut.

"Sampai kami kejar-kejaran sama anggota satpam karena yang ikut pameran aja bayarnya Rp 30 juta. Kami enggak bayar, kok, seenaknya promosi, mungkin dilihat seperti itu. Akhirnya, dari hasil promosi, kami mendapatkan 10 agen," sambungnya.

Setiap agen harus membeli paket seharga Rp 250.000. Uang sebesar Rp 2,5 juta dari 10 agen inilah yang digunakan Rozi dan Fadli untuk memproduksi sandal lucu ini lagi. Dari situ pula, order yang mereka terima semakin tinggi, dan putaran uang itu tetap berjalan dari agen.

Dalam satu tahun pertama, usaha mereka praktis tanpa saingan sehingga bisa mencapai pemasukan Rp1 miliar dalam satu tahun pertama. Ya. Mereka sukses melihat pasar yang kosong untuk dimasuki sekaligus.

"Tapi, dalam tiga bulan pertama kami enggak dapat apa-apa. Semua keuntungan diputar lagi jadi modal. Bulan keempat baru kami berpikir bahwa tenaga yang kami sisakan sepulang kantor untuk mbungkusin produk juga harus dihargai. Akhirnya, ya, kami ambil keuntungan dibagi Rp 600.000 per orang. Berikutnya berlipat ganda," ujar Rozi.

Setelah melihat bisnis mereka semakin besar, akhirnya, mereka berdua memutuskan keluar dari pekerjaan masing- masing. Mereka fokus menekuni bisnis sandal Imucu melalui berbagai ekspansi bisnis.

Salah satu yang jadi andalan mereka yaitu produk baru, produk berupa kaus- kaus lucu anak-anak dan produk sandal jepit unik bagi remaja. Untuk sandal lucu, setiap agen bisa membeli 150 pasang sandal dengan modal Rp 2 juta, sementara untuk paket reseller, 15 pasang dengan modal Rp 250.000.

Dari bisnis offline, kini, sandal Imucu juga dipasarkan secara online melalui beberapa situs web, di antaranya www.rajasendal.com dan www.myjapit.com. Jual sendal warna warni Imucu bisnis unyu.

"Memulai bisnis itu jangan takut, tapi juga jangan ngawur. Sekali dua kali mungkin gagal, tetapi jangan berhenti. Biasanya mereka yang gagal berbisnis karena mereka berhenti untuk mencoba lagi. Memulai usaha itu tidak selalu dengan modal besar," kata Rozi kepada Kompas.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba