Pengusaha Kue Kering dan Basah

Biografi Nazliana Lubis


bisnis kue kering basah

Berkah tak terduga datang selama berusaha. Pengusaha kue kering berikut melihat prospek dalam kuliner. Bisnis kuliner memang tidak pernah ada matinya. Dia lah Nazliana Lubis, wanita asli Medan, Sumatra Utara.

Berkat kerja keras juga ditambah ketekunan jadilah bisnisnya tumbuh. Dia berhasil mengembangkan usaha kecilnya, dari sebuah toko kue kecil menjadi bisnis ratusan juta rupiah. Salah satu andalan dari tokonya yang selalu habis, yaitu cake pisang.

Nazwa kemudian memberinya nama Blondi Pisang Barangan. Toko kue ini milik Nazalina atau kerap dipanggil Nazwa yang di Jl. Kapten Muchtar Basri No. 110, Medan itu cukup kondang di Sumatra Utara.

Diphk Kerja


Beberapa hotel berbintang di Medan sudah menjadi pelanggan tetap, seperti Hotel JW Marriot, Hotel Ina Dharmadeli, Hotel Tiara, Hotel Danau Toba, dan Madani Hotel. Hotel- hotel tersebut memesan sedikitnya 500 potong sekali acara saja.

"Padahal, saban hari, satu hotel bisa menyelenggarakan sampai tiga kali event," jelasnya. 

Bukan hanya hotel, Nazwa juga rutin mendapat pesanan dari beberapa bank, perusahaan swasta, sekolah, dan instansi pemerintah di Sumatra Utara. Ia sekarang bisa menghabiskan  3.000 telur dan 8 karung tepung atau sekitar 200 kilogram (kg) tepung per hari.

Selain kue ternyata tokonya juga melayani pemesanan nasi boks. Perusahaan atau pemda biasanya memesan 1.000 hingga 1.800 nasi boks.

Sebelum sibuk berjualan kue wanita berkerudung lulusan D3 Pariwisata Universitas Sumatra Utara tahun 1989 ini, sempat bekerja di bagian tiketing di sebuah biro perjalanan selama tiga tahun. Tahun 1991, dia lalu pindah ke perusahaan maskapai penerbangan Simpati.

Jabatan terakhirnya lumayan tinggi, menjadi seorang supervisor. "Kerja di perusahaan penerbangan itu memiliki gengsi tersendiri. Saya punya kesempatan untuk jalan-jalan ke berbagai daerah," kata perempuan kelahiran Medan, 23 Januari 1965 ini.

Sayangnya kebanggan ini hilang karena industri penerbangan tempatnya bekerja tak lagi hidup. Nazwa harus menerima kenyataan pemberhentian hubungan kerja (PHK) karena Simpati tak lagi beroperasi sejak tahun 1997.

"Saya sempat stres dan labil, malu sama teman-teman dan lingkungan," ujarnya. Selama enam bulan itu, Nazwa depresi. Akhirnya, dia menemukan semangat setelah menyadari lingkungan rumahnya yang berdekatan dengan kampus Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara

"Saya perhatikan, kok di kawasan kampus tidak ada yang jual jajanan berat semacam kue. Saya pun terpikir untuk buka usaha kue," kenangnya. Nazwa pun mulai mengulak-alik aneka buku resep masakan di depannya untuk mencari dan belajar mengolah aneka kue. Maklum, dia tidak punya keahlian memasak sehingga hanya mengandalkan buku resep.

"Saya pilih jualan donat sebab proses pembuatan lebih mudah ketimbang membuat kue yang lain dan di sekeliling kampus belum ada yang jualan donat," ujar istri dari Fadlin ini. Akhirnya, di Juli 1997, Nazwa berani nekat jualan donat bermodal kurang dari Rp 100.000.

Kala itu, dia menjual sepotong donat seharga Rp 350. "Omzetnya baru Rp 70.000 per hari. Rasa dan bentuk donatnya pun belum konsisten karena saya masih belajar membuatnya," katanya sambil tertawa. Ia pun semakin mengasah kemampuannya mengolah berbagai produk kue.

Dia setia mengikuti aneka kursus pembuatan kue di Medan hingga Bandung. Karena usaha kue itu belum menghasilkan pendapatan besar, Nazwa menerima tawaran mengajar mahasiswa D3 dan D1 Pariwisata di salah satu perguruan tinggi di Medan.

Dia mengajar mata kuliah pelayanan di perusahaan penerbangan. Setengah tahun berjalan barulah Toko Nazwa mengalami peningkatan. Meski begitu jalan itu tak selamanya lancar karena cenderung merugi ketika krisis moneter 1998.

"Saya tidak menghentikan usaha ini meski rugi. Ini demi eksistensi usaha," katanya.

Nazwa mulai berani menawarkan kue- kuenya ke toko- toko kue lain. Dari sini, omzet dan produksinya jadi meningkat. Tahun 2000, ia berhenti mengajar, fokusnya untuk mengelola toko kue miliknya dan mulai dari sana mengajukan proposal ke berbagai hotel.

Pada tahun 2003, Nazwa berhasil mendapatkan pesanan dari sebuah hotel. "Meskipun pesanan hanya bika ambon setengah loyang, 20 potong tahu isi, dan 20 potong kue lumpur, saya menerima pesanan itu," ujarnya.

Ia tetap gigih memasok kuenya ke hotel yang memesan meskipun hanya dalam jumlah kecil. Menurutnya, yang terpenting adalah kepercayaan dari konsumennya, meskipun dia harus menerima bayaran dua bulan sekali dari hotel.

Suatu saat, hotel JW Marriot Medan memiliki acara seminar untuk Ikatan Dokter Indonesia selama seminggu dan mengorder aneka snack ke Nazwa. Ia harus memasok 22 item jajanan pasar dengan jumlah 2.600 pieces per item.

"Dari situ, pesanan besar dari hotel mulai berdatangan. Nazwa Aneka Kue mulai dikenal dan dipercaya konsumen," jelas pengusaha kue kering ini. Dia pun mulai mendapat order katering untuk pesta yang nilainya Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per klien.

Jejak Pengusaha Otomotif Nasional Soebronto Laras

Biografi Pengusaha Soebronto Laras 


biografi soebronto laras
 
Jejak pengusaha otomotif nasional pencetus Suzuki Indonesia. Biografi Soebronto Laras yang dikenal orang menyukai dunia ini. Dia lulusan SD sampai SLA di SD Perguruan Cikini, Jakarta, dari 1958- 1961. Ia lanjut SMA Harapan Kita, Jakarta, pada 1964.

Dia lanjut pendidikan rekayasa mesin di Pasiley Collage for Technology, Scotlandia, 1969. Pendidikan berlanjut jurusan manajemen bisnis ke Hendon Collage for Business Management, London, United Kingdom, pada 1972.

Di London, dia berkenalan dengan Roesmin Noerjadin (Menteri Perhubungan ), dan Benny Moerdani (Pangab). Yonto, begitu sapaan akrabnya, pernah menjabat staf lokal atase Pertahanan KBRI di London. Yang mana perkenalan tersebut membuka koneksi ke beberapa orang.

Yonto berkenalan dengan sosok pengusaha terkenal, Atang Latif. Pertemuan tersebut terjadi ketika kembali ke Inggris pada 1972. Atang Latif sendiri dikenal sebagai pengusaha dan pemilik beberapa kasino.

Menjadi Pengusaha


Anak ke dua dari empat bersaudara, yang diberi kesempatan emas karir bergengsi. Dari kedekatan tersebut membawa Yonto dipercaya. Atang Latief memberia pekerjaan, menjadi Direktur PT. First Chemical Industry, usahanya bergerak dibidang formika, alat- alat plastik, dan perakitan kalkulator.

Belum, Yanto masih berkutat di dunia diluar otomotif kesayangannya. Empat tahun kemudian dia jadi Direktur perusahaan perakitan motor mobil bernama Suzuki.

"Saya berani karena didukung penuh Pak Atang Latief," kenangnya.

Jejak pengusaha otomotif bersebut berlanjut masuk perusahaan Liem Sioe Liong. Dimana pada 1981, yang disusul naik jabatan di 1984, dirinya diangkat menjadi Direktur Utama PT. National Motors. Co dan PT. Unicor Prima Motor.

Kedua perusahaan tersebut merupakan perakit mobil Mazda, Hino, dan sepeda motor Binter. Dasar Yonto yang gemar otomotif bukan sekedar karena karir. Disebutkan dalam biografi Soebronto Laras, telah menyukai dunia ini lewat menjadi pembalap remaja.

Dia menjadi pembalap bersama sosok Tinto Soeprapto. Disaat libur, sang Direktur masih sempatkan buat jalan bersama teman motornya. Ia mengendarai Suzuki 1000 cc sampai keluar kota. Kalau ada rakitan kendaraan baru, Yonto tidak segan turun gunung menjajal kendaraan tersebut di jalanan.

Yonto kemudian menikah dengan Herlia Emmi Yani, putri Almarhum Jendral Ahmad Yani, yang kemudian dikaruniai dua anak. Dia sempatkan waktu buat jogging, tenis, renang, rally, dan bulu tangkis.

Visi Subronto Laras ialah mobil berkualitas terjangkau masyarakat luas. Bagi masyarakat Sulawesi sudah akrab bersama Suzuki. Bermula dari Medan, Sulawesi Utara, dimana mereka menjual mobil pickup untuk kebutuhan panen pada 1978.

Instingnya menjual Suzuki ST 120 terbukti mampu merajai mobil masyarakat. Bertahap, nama brand Suzuki dikenal keluar, tidak cuma di wilayah Sulawesi namun sampai ke daerah lain. Bahkan mampu masuk pasaran Pulau Jawa yang sesak ini.

Taukah kamu, pada 1970 -an, nama Suzuki cuma dikenal sebagai produsen sepeda motor. Bahkan namanya mulai tenggelam karena brand lain. Namun berkat Yonto, masa depan Suzuki bangkit lewat penjualan mobil hingga penjualan moto kembali sejak era 70 -an.

Tak ayal, dia "dihadiahi" saham 90% dari perusahaan Suzuki Motor Corp, Jepang. Dengan nilai saham segitu otomatis dia lebih berkreasi. Jiwa nasionalnya terpanggil sampai merencanakan mobil nasional bersama Suzuki APV.

Dia melalui PT. Indomobil Suzuki Internasional menaikan nama Suzuki SX-4 versi CKD. Akhir tahun 70- an, nama Suzuki disebut menjadi pemain besar dunia otomotif Indonesia. Pengusaha yang membesarkan nama Suzuki telah menguasai pangsa pasar otomotif.

Namanya dikenal pula sebagai seorang nasionalis sejati. Liat saja, dari bajunya minimal logo merah putih berupa pin. Yonto sendiri tidak terlepas dari kontroversi. Termasuk penggunaan mesin 15000 cc pada kendaraan APV nya.

Dikisahkan bahwa angka tersebut merupakan batasan minumun 20% pajak. Penggunaan mesin 16000 hanya akan menambah harga berpuluh juta. Putra sosok pengusaha juga, Almarhum R. Moerdowo, eksportir mobil Citroen, Tempo, dan Combi di tahun 1949.

Baru- baru ini dia telah mengakuisisi KIA mobil. Produsen asal Korea tersebut diambil alih bahkan sampai 100%. Maka usaha apapun dijalankan sekarang melalui Indomobil, dan membentuk usaha patungan PT. Sarimitra Kusuma Ekaja atau PT. Kreta Indo Artha.

Taukah kamu bahwa perusahaan miliknya hampir bangkrut. Berkat usaha dan kerja kerasnya mampu bangkit beromzet Rp.150 miliar dan aset Rp.90 miliar.

Jualan Keripik Sukun Pengusaha Hasnah

Profil Pengusaha Hasnah 


jualan keripik sukun


Pengusaha sukses tersebut bernama Hasnah. Dia memiliki usaha sederhana sekali. Hasnah adalah pembuat keripik sukun asal Manggar, Belitung, yang telah merintis usahanya sejak 1996. Bukan produk revolusioner namun masih menjadi favorit berbagai kalangan.

Gurih, renyah dan rasa gurihnya tak pernah membosankan. Alasan inilah yang membuat Hasnah untuk memilih bisa sederhana ini.

Hasnah bisa mencapai nilai omzet hingga Rp.50 juta perbulan. Menurutnya meski pasokannya tak banyak, tapi jumlah sukun selalu stabil. Ia juga berinovasi sedikit dengan keripik jenis biasa, keripik sukun jenis lebar, dan keripik jenis stik.

Dalam pembuatannya, adapun variasi terletak pada umur buahnya, jadi untuk keripik stik dan biasa menggunakan buah yang tua. Untuk yang jenis lebar, Hasnah menggunakan buah sukun yang masih muda.

"Bagian dalam buahnya dijadikan bahan pembuatan stik sedangkan bagian luar dijadikan bahan pembuatan kripik jenis biasa", jelasnya. Walaupun bisnis sederhana kalau ditekuni menghasilkan angka menakjubkan.
 
Saat ini Hasnah hanya dapat membuat 500 bungkus per- harinya. Produk yang diberinya nama Nuansa Baru dipatok dengan harga Rp.15.000- Rp.20.000 per- bungkus. Sayangnya ia hanya sanggu memasarkan produknya di sekitar daerah Bangka dan Belitung saja.

Karena pasokan buahnya tergantung dengan musim dan tidak rutin. Ia sudah memasarkan produknya di sekitar daerah itu- itu saja. Jika saja masalah bahan utama bisa diatasi Hasnah, yang sangat berniat mengembangkan usahanya.

Apalagi produk olahan buah sukun ini punya daya tahan tinggi yaitu tiga bulan tanpa bahan pengawet. Begitulah hidup Hasnah dan bisnisnya bila saja ada usaha pasti akan ada jalan. Usaha cemilan biasa yang belum diberdayakan betul tapi menghasilkan Rp.50 juta.

Jika kamu lebih kreatif kenapa tidak membuatnya? Membuat berbagai varian, namun pastikan jumlah bahan utama akan selalu ada.

Hasnah tidak akan menyangka rejekinya mengalir dari buah sukun. Yang dikenal memiliki buah tebal mirip daging. Tidak memiliki rasa manis layaknya buah- buahan. Sukun lebih terasa mirip umbi- umbian. Inilah cikal mengapa itu lebih banyak dijadikan bahan keripik.

Jualan keripik sukun memiliki tantangan varian produk. Dia pun mengakali melalui aneka bentuk olahan. Hasnah membuat keripik berbentuk lebar, keripik biasa, dan bentuk stik.

Bagian luar kemudian dijadikan stik jadi semua dimanfaatkan. Keripik sukun rasanya gurih dan unik dibanding keripik singkong. Cocok dimakan sembari menyeruput kopi dan menonton televisi. Dia sendiri sudah membuat sukun sejak tahun 1996.

Buah sukun mungkin tidak banyak dibudidayakan. Namun jumlahnya selalu stabil dibandingkan dari umbi- umbian. Keripik biasa menggunakan bahan buah muda. Yang tua kemudian dijadikan keripik lebar. Daging bagian dalam kemudian dijadikan bahan membuat stik.

Sehari Hasnah menghasilkan 500 bungkus olahan buah sukun ini. Kemudian dia membubuhi nama produknya Nuansa Baru. Perbungkur keripik sukun dijual antara Rp.15.000 sampai Rp.20.000. Dia mampu mendulang omzet sampai Rp.50 juta.

Namun, dia hanya membatasi penjualan di kawasan Belitung dan Bangka. Pasalnya dia belum bisa mendapatkan pasokan bahan stabil. Pasokan suku sangat dipengaruhi musim, dimana ketika musim hujan akan mendapatkan jumlah pasokan lebih banyak dan bagus.

Jualan Ikan Asin Bikin Kaya Damrah

Profil Pengusaha Damrah 


jual ikan asin

Tak disangka usaha begini bisa bikin kaya. Penghasilan jualan ikan asin sampai melebihi gaji UMR. Ia adalah Hajjah Damrah, sosok ibu- ibu yang mampu naik haji berkat berjualan ikan asin. Memang nampak mustahil namun begini apa adanya.

Menelusuri kisah sukses pengusaha memang tak bakal habis. Hal tampak mustahil mampu dicapai berkat kerja keras. H. Damrah membuktikan bahwa ikan asin menjanjikan. Olahan ikannya memang digemari dan telah dikenal.

Tidak semua orang tau cara membuat ikan asin. Inilah kuncinya menjadikan Damrah pemain besar dalam bisnis. Pengusaha ikan asin yang merupakan warga asli Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara. Dia sudah sepuluh tahun bekerja begini melanjutkan usaha keluarga.

Orang tuanya berjualan ikan asin kemudian diturunkan. Wanita 46 tahun yang baru 10 tahun mulai menjalankan usaha. Kedua orang tuanya telah merintis usaha semenjak tahun 1975.

"Orang tua saya mulai usaha dari tahun 1975 -an juga sudah membuat ikan asin. Ya saya mah tinggal ngelanjutin aja," ujarnya.

Tidak memiliki bekal pendidikan alias tidak bersekolah. Damrah lebih memilih bekerja sedari masih kecil. Ibu rumah tangga yang memiliki empat orang anak. Membagi waktu antara mengurus rumah dan usaha keluarga.

Terbukti ia mampu menghasilkan kesuksesan jualan ikan asin. Bahkan berkat ini, Damrah berangkat ke Baitullah memakai dana pribadi. Dia juga sudah berangkat umroh beberapa kali. Meskipun dia tidak sekolah, bukan berarti ia membiarkan anak- anaknya ikutan tidak bersekolah.

Ia mampu menyekolahkan empat anaknya sampai jenjang SMA lanjut. "Kalau saya mah enggak sekolah. TK aja enggak. Tetapi Alhamdulillah, anak empat lulus sekolah semua. Ya sampai lulus SMA dan SMK," celetuknya.

Berkat kerja keras bisnis ikan asing digarap serius. "Saya naik Haji dua kali. Umrohnya juga sudah dua kali. Ya dari hasil ini (ikan asin)," ujarnya. Meskipun terbilang sukses, ada masalah utama yang selalu menghadang yakni tangkapan nelayan.

Ketika tangkapan nelayan menurun tentu produksi ikan asing mengikuti. Bila banjir (banyak ikan) maka sampai 10 ton didapat. Keuntungan didapat berapa ketika jualan ikan asin. H. Damrah sebutkan paling sedikit 5 juta untung bersih.

Bila banyak, Damrah hasilkan keuntungan sampai Rp.20 juta sungguh menjanjikan. Kemampuan turun menurun menjadi rahasia kesuksesan Hajjah Damrah. Dia menempa kemampuan membuat ikan asin langsung. Praktik langsung ditengarai mengapa dirinya mampu sesukses sekarang.

Usaha keluarga yang digeluti sampai turun- temurun. Proses dimulai ketika nelayan turun membawa tangkapan. Damrah langsung membeli dari nelayan kemudian diproses. "Dibeli ikan mentahnya terus ikannya kita bawa ke sini (untuk dikelola)," tuturnya.

Ikan ditampung dalam wadah besar buat direndam air garam. Dibutuhkan waktu sehari semalam biar garam meresap. Daging ikan akan menyerap asin garam dalam semalam. Kemudian, produksi lanjut pembelekan, dikasih garam kembali (garam pasir), abis itu dicuci dan ikan dijemur kembali dua hari.

Damrah begitu selesai langsung dipasarkan. Ia tidak sekedar mengasini ikan. Jenis produknya juga banyak dari ikan tongkol, mayung, remang, dan lain- lain. Tiga sampai empat hari pemrosesan lantas dijual.

Sekali panen membutuhkan empat hari pemrosesan. Hasilnya 15 sampai 20 kardus, dimana sekardus berisi rata- rata 60 kilogram. Perkilogram dijual dengan aneka harga sesuai jenis, mulai dari tongkol seharga Rp.14.000, ikan remang seharga Rp.18.000, dan seterusnya.

Pelanggan tidak cuma datang dari Jakarta, tetapi sampai luar kota seperti Bogor, Parung, Bekasi, dan Bekasi.

Usaha Cemilan Mekarsari Ibu Rumah Tangga

Profil Pengusaha Ida Widyastuti


usaha cemilan mekarsari
 
Ibu rumah tangga ingin punya bisnis sampingan. Coba usaha camilan seperti kisah berikut ini. Usaha cemilan Mekarsari bermula berjualan biasa. Berkat ketekunan ditambah kemampuan beradaptasi, dia mampu melewati masa sulit berjualan opak dan keripik.

Ida Widyastuti berusia 31 tahun mengalami kebosanan hidup. Pasalnya, semenjak menikah, dia cuma ibu rumah tangga biasa dan tinggal di rumah. Kebetulan Ida memiliki kemampuan memasak yang mumpuni. Dia lalu membuat opak dan keripik dengan camilan lain.

Dari produksi sedikit sampai hasilkan ratusan aneka macam camilan. Maka berdirilah Roemah Snack Mekarsari, Sidoarjo, yang punya lebih dari 100 macam camilan. Dia selain memiliki produk utama juga ikut membantu usaha kecil menengah.

Bisnis Sampingan


Dia bantu pengemasan dan promosinya. Produk utama Roemah Snack adalah keripik pisang. Yang sudah laku terjual keseluruh penjuru Indonesia. "Saya bosan, karena sudah terbiasa bekerja sejak kecil," ujarnya, menjelaskan alasan mendirikan usaha Pisang Mekarsari

Usaha cemilan ternyata memiliki penghasilan mengejutkan. Ida awalnya membuat emping melinjo sebagai camilan. Kemudian dia membuat keripik pisang dan ternyata digandrungi. Bermodal Rp.600 ribu sekarang menggurita sampai keseluruh Indonesia.

Produknya sudah masuk ke Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Total 80% jajanan berasal dari usaha cemilan Mekarsari ini. Pengusaha wanita tersebut tidak menjelaskan berapa omzet. Pasalnya banyak hitungan dalam produksi sampai indikator lain.

Perharinya dia mampu memproduksi lima ton pisang, bahkan ketika panen sampai 10 ton pisang. Ibu rumah tangga ini membuktikan semua bisa.

Bermula bisnis sampingan malah mampu menguasai pasar. Ida dulu pernah bekerja menjadi pegawai di perusahaan Jepang. Suaminya, M. Haris Setiawan, berusia 41 tahun yang selalu bekerja pindah- pindah. Jabatan suaminya mapan yakni manajer di sebuah perusahaan otomotif.

Ida rela melepaskan pekerjaan menjadi ibu rumah tangga. Ketika usaha camilan ini dimulai, dirinya tengah menggendong anak pertama mereka. Sehari- hari kegiatannya sibuk mengurusi anak pertama pertama mereka. Dia jenuh karena sampai tiga tahun cuma tinggal di rumah.

Suatu ketika, Ida berkunjung ke rumah saudaranya di Demak, yang ternyata memiliki usaha emping melinjo. "Di sana ia punya usaha rumahan emping melinjo. Tertarik aku pun lantas membuat usaha serupa di rumahku yang ada di bilangan Waru, Sidoardjo," ceritanya kepada Nova.id

Ternyata salah, bayangan mudahnya jualan emping melinjo malah meleset. Setelah disurvei sendiri ternyata harga bahan baku mahal. Beli bahan emping kering ternyata mahal ketika dibeli ke pasar. Ia pun mengakali dengan membeli melalui sumbernya.

Dia membeli emping basah langsung ke Demak. Ida lantas mengeringkan melinjo tersebut sendiri. Di tahun 2001, dijualnya emping buatannya ke Pasar Gedangan, Sidoarjo. Ia berjualan sembari masih menggendong putrinya, Nabil Hilmi Dafa, yang berusia masih enam bulan.

"Aku dijuluki Ida Bakul Emping oleh pedagang toko," kenangnya. Memang sehari -hari kegiatannya berkeliling menjajakan emping. Berangkat dia naik becak, turun kemudian ditawarkan ke toko- toko jajanan.

Ia mengenang, "kalau hari hujan, tak jarang aku akan berbecek ria mendagangkan emping mentah, baik yang manis maupun pedas."

Kualitas rasa enak dan harga terjangkau membawa pertumbuhan. Bahkan hampir seluruh pedagang di pasar Sidoarjo menjadi langganan. "Kalau berangkat aku naik becak, lalu jalan kaki menawarkan ke toko- toko di pasar," jelasnya.

Harga terpaut lumayan, sampai Rp.3 ribu perkg maka laris manislah dagangan Ida dibeli. Dia punya startegi jitu menarik perhatian pelanggan. Kemudian dia membuka usaha lain, seperti berjualan toko sembako namun kurang berkembang sampai berhenti begitu saja.

Suatu hari, sang suami akan ditugaskan kembali ke daerah lain. Namun Ida bersikeras menolak untuk ikut dipindahkan. Dia tidak ingin melepaskan bisnis ini. Tetapi Ida lebih mengutarakan bahwa karena sudah betah. Pasangan sumai tersebut kemudian berdiskusi membahas mengenai nasib mereka.

Mereka sepakat setuju bahwa bisnis melinjo menjanjikan. Karena suami enggan bekerja pisah dengan keluarga. Dia memutuskan ikut membantu Ida berjualan melinjo. Padahal mereka tengah mencoba merencanakan masa depan buah hati.

Sumi setuju menjadi sopir pribadi memakai mobil lama mereka. Berkeliling tanpa lelah, ia menyupiri istrinya memasarkan ke berbagai tempat. Mereka kemudian menyewa sopir buat mengantar keluar daerah. Suami Ida harus rela mengangkut berbal- bal emping ke toko- toko manapun.

Kalau dilihat mereka tengah turun pangkat biasa duduk manis. Mereka layaknya salesman berkeliling menjajakan emping melinjo. Keduanya sepakat kalau gagal, maka keduanya akan bangkit bersama sampai sukses.

Usaha Kawanku


Sebelum memakai nama Mekarsari dipakailah nama usaha Kawanku. Di tahun 2003, Ida menguasai pasaran Malang dan Probolinggo, bahkan permintaan meraja lela sampai Kalimantan. Emping merek Kawanku dikenal murah dan enak.

Alhasil mereka dalam setahun memproduksi lebih dari 500 ton. Entah kenapa timbul perasaan aneh, dia memang merasa senang dan kaget, tetapi sulit mempercayai. Dalam benaknya timbul ketakutan kalau permintaan akan menurun drastis.

Ditambah Ida berpikir apakah melinjo mengandung kolesterol dan asam urat. Kepikiran kalau akan merusak kesehatan pembeli. Tak mau mengambil resiko, karena memang kesadaran akan kesehatan semaki nampak. Ida pun memutuskan mencari produk andalan lain.

Tahun 2004, sudah punya karyawan dan modal bertambah, kemudian suami- istri ini berangkat buat keliling Jakarta dan kota- kota di Jawa Barat. Hasrat mereka menemukan suplier besar untuk diajak kerja sama. Mereka akan membantu mensuplai jajanan khas dari seluruh daerah.

Belum apa- apa, mereka malah ditolak lantaran mereka merupakan pemain lama. Mereka diremehkan sampai kecewa berat. Namun Ida bertekat tidak menyerah sampai terlaksana. Akhirnya, Ida memilih menghubungi produsennya langsung, atau membeli langsung ke sumber.

Selama dua minggu, keduanya rela berkeliling pasar ke pasar di Bandung, Cirebon, Cianjur, Ciamis, Kuningan dan Indramayu. Di Ciamis, mereka langsung ke pasar tradisional terbesar, dan sempat mencicipi aneka camilan sedap.

Begitu mereka menemukan camilan enak, langsung mencari tau sumbernya, dimana mereka dapat bertemu produsennya langsung. Tidak mudah, terkadang mereka tidak menemukan jawaban dari pemilik toko. Terkadang detail merek sampai sumber produknya tidak tertera dalam kemasan.

Alhasil mereka akan berkunjung ke Dinas Kesehatan setempat. Atau pihak terkait manapun, buat mereka langsung mengunjungi dimana sumbernya tersebut. Tidak takut walau menyusuri sampai ke pelosok daerah.

Mereka habiskan masa dua tahun menyusuri produsen camilan seluruh pulau Jawa. Setahun pertama, mereka fokus mencari camilan enak. Berikutnya mereka mencari kesesuaian rasa yang diminati oleh masyarakat.

Ia bahkan mendorong pembuat camilan asal Indonesia Timur. Mendorong mereka berkreasi bahan dan rasa agar diterima pasaran luas. Total sudah 50 UKM berada dalam naungan usahanya sekarang ini. Usaha Roemah Snack berjalan sampai ikut memodali pengembangan produk.

Juragan Camilan


Mereka dimodali biar mampu memproduksi dalam jumlah besar. Ida dan suami bahkan sudah tidak mempedulikan tabungan habis. Berapapun camilan dibuat, maka ia akan beli buat diputar dipasarkan ke seluruh wilayah.

Keduanya menjadi penolong UKM biar produk tidak mengendap. Bila kualitas ternyata tidak sesuai permintaan ditributor Ida. Maka dirinya ikut bertanggung jawab menalangi. Uang terus digelontorkan demi membuat UKM berjaya dan produktif.

Satu UKM membutuhkan setidaknya modal Rp.50 juta sekali produksi. Dimana mereka hasilkan 700 bal dimana sebal beratnya 4- 5 kg. Pemberian modal diberikan berencana bertahap. Pertama Rp.20 juta buat bahan baku, berikutnya Rp.20 juta selepas produksi, dan disusul Rp.10 juta modal akhir.

Ida bahkan menyediakan sebuah gudang di kawasan Sidoarjo. Soal merek, mereka membuat sesuatu unik, mudah diingat seperti nama Kawanku. Namun suatu ketika, keduanya berkunjung ke rumah nenek. Ia mengatakan nama Kawanku kurang memiliki hoki atau mujur.

Nenek menyarankan nama Mekarsari, yang memiliki filosofi selalu tumbuh atau akan mekar walau ada masalah. Logo bunga pun dirancang menyiratkan makna khusus. Ada 9 kelopak bunga yang menyimbolkan angka sempurna atau tertinggi.

Kemudian terdapat gambar panah ke atas menunjukan kenaikan menanjak. Siapa sangka benar, pada 2004, usahanya terus menanjak sampai mempunyai jangkauan ke Bali dan Kalimantan. Masuk ke Pulau Bali, tentu mereka menghadapai masalah dimana sudah terdapat pemain lama bercokol.

Nama Mekarasari masih belum dikenal buat masuk Bali. Usaha cemilan Mekarasari terus berlanjut walau anak baru. Ia pun memiliki strategis khusus melalui pasar pinggiran. Disini Mekarasari masuk ke pasar daerah sekitar tepatnya kawasan Karangasem dan Anyar.

Bertahap mereka mulai memperkenalkan cemilan Mekarsari. Permintaan membludak sampai masuk ke pusatnya, Denpasar. Bahkan distributor lain terkejut melihat pesatnya arus masuk produk. Jumlah produk membludak dikirim melalui armada bus Sidoarjo- Bali.

Saking banyaknya sampai armada tersebut kwalahan. Permintaan barang masuk terlalu tinggi bukan omong kosong. Ahlasil Mekarsari sepakat membangun gudang ditribusi penyimpanan. Bahkan kini separuh nafas Mekarsari datangnya dari Bali.

Di Jakarta, suplier sempat menolak kedatangan produk mereka, kini malah mereka sendiri yang mau didatangkan. Mekarsari pun ikut mendorong UKM berproduksi kecil. Tanpa memaksa memperbesar, Mekarsari lebih ikut membantu memesarkan agar tetap berkualitas.

Produk yang masa kadaluarsa singkat langsung dihabiskan. Tak banyak pengendapan, begitu masuk langsung dilempar didistribusikan langsung ke pelosok daerah. Tak ayal, usaha cemilan Mekarsari mampu menjadi raja di negerinya sendiri.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba