Usaha Stik Es Krim Doni Indra Buktikan Jiwa Wirausaha

Profil Pengusaha Doni Indra


usaha stik es krim

Jiwa wirausaha membuat langkah Doni Indra lebih mantab melangkah. Membayangkan usaha stik es krim berapa keuntungan didapat. Doni memang berpikir diluar kotak. Sesuatu sepele seperti stik kayu ternyata mampu hasilkan banyak cuan.

Ia mampu memproduksi 6 juta stik kayu. Tidak cuma es krim yang butuh gagang atau stik kayu. Doni mampu meraup untung berkat stik nuget dan aneka coklat. Bahkan salon kecantikan membutuhkan stik juga. Harga Rp.10- 22 perbatang mampu mengantongi omzet sampai ratusan juta.

Varian mulai dari stik berbentuk pipih sampai memanjang. Biasa dipakai pengusaha kecil menengah berjualan di pinggir jalan. Stik ukuran 9 cm sampai 12 cm ternyata menguntungkan sekali. Usaha stik es krim yang dimulai 2011, mendirikan CV. Elang Manunggal bertempat di Tangerang.

"Produk ini termasuk barang repeat order sehingga pesanan terus datang," tuturnya. Doni membuat aneka stik gagang dan stik sendok.

Produk sekali pakai namun menghiasi kehidupan kita. Tidak cuma terbatas es krim ternyata memiliki multi- fungsi. Termasuk salon- salon buat keperluan mengaduk krim. Pesanan salon- salon memang tidak besar tetapi berkelanjutan.

Pesanan salon kecantikan dipastikan datang setiap bulan. Doni menyebut menjual 6 juta batang setiap bulan. Bahkan, bila permintaan melonjak, dia akan diserbu bahkan sampai- sampai merekrut pegawai tambahan. Dia menggandeng pengrajin lokal untuk memenuhi pesanan.

Doni telah mengantongi delapan pelanggan tetap. Pelanggan tersebut sudah pasti menjual enam juta batang. Omzat didapat sang pengusaha muda tersebut mencapai ratusan juta. Ia membuktikan jiwa wirausaha melampaui pandangan.

Apa laku berjualan stik es krim begitu . Doni menyebutkan Rp.100 juta omzet pasti didapat perbulan. Ia pun membawa pulang untung 15 persen. Tentu stik tidak dijual satuan melainkan satuan karton. Di satu karton berisikan 20.000 batang.

Produksi segitu Doni menggunakan mesin rakitan pribadi. Kapasitas mesin satu juta stik perhari dan dijual online. Doni membuka pasarnya melalui berjualan melalui marketplace. Dia belum berani buat menawarkan ke perusahaan karena kapasitas masih kecil.

"Saya belum berani menawarkan langsung ke perusahaan sebab kapasitas mesin saya masih kecil," ujar dia.

Doni menghindari produksi berlebihan agar minimalkan resiko. Bahan baku kayu albasia dan sangon karena mudah dibentuk dan empuk. Cerita lain datang dari Guntur Yudhihartono asal Banyumas, Jawa Tengah, yang memproduksi tiga juta walau sama- sama home industry.

Bahan baku Guntur memakai bahan kayu lapis sisa industri. Harga lebih murah yakni Rp.10- 15 per- batang. Ia memiliki pelanggan tetap di Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta. Total ia mampu kantongi omzet Rp.30 juta. Guntur memasarkan ke perusahaan- perusahaan es krim langsung.

Demi memperluas pasaran, Guntur tak segan ambi resiko termasuk menjajaki kerja sama supermarket dan minimarket. Walau produk sama, Guntur menyebut bila dijual ke minimarket atau supermarket harga lebih baik.

Masalah utama usaha stik es krim ialah persaingan ketat. Terutama demi mendapatkan bahan baku mahal dan terbatas.

Perjuangan Pengusaha Pempek Palembang Solihin

Kisah Pengusaha Pempek Sederhana


pengusaha pempek palembang

Kisah perjuangan pengusaha pempek Palembang. Namanya Solihin, yang bercerita pernah berpikir kanapa Pak Yos, pemilik warung pempek tempatnya bekerja begitu sukses. Saat itu, dia lalu berpikir kanapa tidak membuka bisnis sama.

Tujuannya tentu agar bisa sesukses tempatnya bekerja dulu. Akhirnya Solihin mulai mengumpulkan uang untuk membuat gerobak sendiri. Ia hanya berbekal pengalaman bekerja di usaha sama. Tetapi tidak mudah perjuangan pengusaha pempek Palembang ini.

Pempek Sederhana


Pria paruh baya ini beralih profesi menjadi penjual pempek keliling. Dia berjualan dari satu tempat ke tempat lain. Hingga di akhir tahun 2000, dia berani memutuskan pindah ke Jakarta; berharap peruntungan lebih baik disana.

Solihin ikut membawa bisnisnya ke Jakarta, hasilnya? Ternyata berusaha di Jakarta tak semudah aoa yang dipikirkannya dulu. Kita tidak bisa berbisnis langsung laris di Jakarta. Harus melewati berbagai fase- fase kesulitan terutama sebagai pendatang.

Ia harus mengadapati kesulitan dari tempat tinggal sampai tempat berbisnisnya. Intinya ketika akan berbisnis selalu saja ada masalah.

Keberuntungan itu mulai terlihat, semua berkat kerja keras dan pantang menyarah. Ketika itu, dia bertemu seorang kerabat dari kampung yang berjualan gorengan. Masalah tempat kos itupun telah terselesaikan, dimana dia kini tinggal di sebuah kosan kecil.

Meski kecil, setidaknya, ia telah mempunyai tempat tetap serta seseorang buat sekedar berbagi cerita. Dia memulai kembali bisnis kecil- kecilan, masih tentang pempek Palembang. Selain itu Solihin masih menyimpan gerobaknya buat berkeliling.

Dia berjalan dari kos- kosan kecilnya berkeliling menjajakan pempek. Solihin masih saja merasa asing akan Jakarta, bahkan berjalan hingga ke tempat antah berantah. Dia sempat- sempatnya kesasar di suatu tempat asing.

Sekali lagi keberuntungan itu hadir lagi ketika dirinya mencari- cari cara bagaimana usahanya laku. Dia punya ide agar menetap. Karena jika berkeliling selalu saja berakhirnya nyasar di tempat asing dan dagangan miliknya masih banyak.

Dia membuka usaha ditempat yang ramai anak- anak komunitas. Mereka itu terkumpul dalam suatu komunitas dan tentunya mereka siap membeli ketika lapar atau sekedar iseng. Setelah pempeknya laku keras di tempat itu, ia pun siap memperluas bisnisnya.

Solihin membuat gerobak baru agar jangkauan pelanggan bertambah. Dia harus galau kembali, ketika berbicara sulitnya mendapat pegawai yang mau bekerja. Mungkin, pelamar sukar karena harus berkeliling memakai gerobak ke penjuru Jakarta.

Tidak sengaja, suatu hari datang seseorang meminta menjadi pegawainya karena kebutuhan. Solihin justru jadi merasa kesulitan sendiri ketika itu; ia malah mulai ragu mempekerjakan. Dia memutuskan menolak jika orang itu tak mau ikut dia tidur dalam satu kos yang sama.

Dan, orang itu menolaknya karena punya tempat tinggal. Solihin pun datang ke rumah orang tersebut. Berpikir sejenak, ia menawarkan rumah itu dijadikan tempat berjualan saja.

Jadilah ia punya dua warung pempek di dua tempat berbeda. Setelah kurun waktu 2 tahun berjualan dan punya dua cabang, dia sudah bisa mempunyai 17 gerobak lain dan sudah mulai memikirkan ingin mempunyai tempat tinggal dan menambah relasi baru seperti menerima pesanan Catering.

Berbagai kendala sudah dia hadapi dan berbagai masalah terselesaikan. Dengan kemauan dan ke gigihan yang tidak akan pudar, Solihin terus berbisnis.

Pengusaha Tempo Doeloe Kedai San Bao Long Semarang

Profil Pengusaha James Santoso


pemilik kedai san bao long
 
Kamu mau menjadi pengusaha tempo doeloe. Kedai San Bao Long Semarang merupakan perwujudan masa lalu. Tempat masyarakat menjelajah masa lalu ketika di kota lama, Semarang. Disini kita akan dimanjakan suasana etnis China tempo dulu.

James Santoso bisa dibilang pengusaha tempo doeloe. Dia serius menggarap kedai tersebut nampak otentik. Kedai San Bao Long sebenarnya perpaduan antara kuliner Jawa dan China. Alhasil cocok- cocok saja dilidah masyarakat siapapun yang berkunjung.

James mengatakan Semarang memang kental etnis Tiong Hoa. Dulu Kota Semarang memang tempat pelabuhan dimana kapal- kapal bersandar. Perpaduan suasana Jawa dan Tiong Hoa sangat harmonis terjaga. Semarang tempo dulu merupakan pelabuhan dan tempat pedagang China berjualan.

Kuliner Tiong Hoa


Budaya China masuk diantara masyarakat Jawa sekitar. Hasilnya adalah rupa- rupa masakan Jawa yang ternyata perpaduan. Olahan mie dan lumpia merupakan perwujudan nyata. Kedai milik James mencoba menggugah sejarah lebih dalam.

Karena faktanya wujud Kota Lama kurang otentitasnya dirasa. James mencoba menggali lebih dalam dari kedai San Bao Long Semarang. Dimana- mana masakan perpaduan tersebut dijajalan. Baik di jalan maupun restoran akan kita temukan.

Namun San Bao Long lebih dalam menciptakan atmosfer. Interior apik otentik mewujudkan suasana dahulu. 

"Dengan menjual masakan Semarang  saya ingin menunjukkan konsep tempo dulu sebab saya merasa banyak kebudayaan dan sejarah yang dimiliki oleh Kota Semarang yang patut ditonjolkan," ujarnya.

Restoran berkonsep kedai lebih menonjolkan kesederhanaan sejarah. Restoran jaman sekarang diisi interior jadul namun modern. Kesan ditampilkan dipaksakan berbeda milik kedai besutannya. Ya, karena James mengumpulkan sendiri pernik- pernik sejarah.

Restoran bagi James merupakan permainan membangun usaha. Ia ingin menciptakan suasana beda cenderung nyeleneh. Restorannya berdiri berbentuk rumah Belanda. Kesan kuno dan kokoh sudah tampak dari depan.

Interior merupakan perpaduan Jawa- China otentik. Dicari sedemikian rupa melalui aneka literaratur James temukan. Bahkan nih, dia rela berkeliling mencari interior, pernak- pernik, dan aneka benda kuno. Bahkan ia rela berburu barang antik sampai ke Jekarta dan bandung.

Itu demi mimpi sang pengusaha tempo doeloe terwujud. Demi mewujudkan mimpinya, James tidak malu bertanya kepada pecinta barang antik mengenai keotentikan. Mereka, para penggemar barang antik pun tidak jarang memberika masukan dan membantu menemukan barangnya.

Masukan penggemar barang anti mewujud melalui pernak- pernik terpajang. Seketika pengunjung masuk ke dalam akan menemukan pernak- pernik etnis. Kesannya kamu nanti akan dibawa masuk ke dalam muesum; seking detailnnya intertior terpajang.

Kenangan nostalgia masa lalu akan mampu terlintar terbayangkan. Buat mereka yang sempat merasa masa- masa tersebut. Maka ia akan serasa makan bersantap malam di rumah orang tua. Mabel di dalam juga merupakan benda tempo dulu. Ketika masuk pengunjung akan disuguhi suasana rumah.

Bukan restoran, melainkan orang akan merasa tengah berkunjung ke rumah kuno. Restoran berkonsep kedai dengan luas tanah 3000 m2, dengan luas bangunannya 600 m2, yang mampu menampung 150 tamu duduk dan 250 buat standing party.

Sisa tanah luas akan dipakai menjadi tempat parkir. Sudu- sudut tanahnya terdapat pepohonan yang rindang menambah keasrian. Menu masakan mereka khas Semarang bercita rasa oriental. Namanya sangat kental Chinese, alhasil banyak pengunjung ragu akan kehalalan menu restoran tersebut.

Dia meyakinkan semua masakan halal. Bahkan tanahnya berdiri di lingkungan mayoritas Islam. Inilah mengapa nama restonya lebih dikenal SBL. James sendiri merasakan betul bahwa restoran miliknya terlalu oriental. Itu dirasakan berjalannya waktu padahal James menjual makanan halal.

Pada Januari 2012, ia pun menggencarkan singkatan SBL biar lebih mengena. Ini upayanya agar masyarakat muslim juga mau datang dan menikmati. Menu andalan SBL Semarang adalah gurame goreng garing disiram saus mangga.

Menu oriental bebek panggang dicampur saos khas oriental. Ini dua menu sangat direkomendasikan bila kamu mampir. James juga menyediakan masakan familiar seperti capcay, fuyunghai dan ayam pandan. Biar lebih mengena di lidah maka dicampur sosis khas Semarang dan Solo.

Jemes lebih senang menyebutnya masakan khas Semarangan. Di sini juga terdapat menu western namun bukan diutamakan, seperti sandwich, french fries, dan camilan khas lain. James menyisipkan jajanan khas Semarang masa kecilnya dulu.

Publik Semarang umumnya antusias tetapi butuh trik penyesuaian. Pokoknya dia harus menyuguhkan sesuai selera orang Semarang. Mereka lebih senang masakan manis. James ke depan akan menambah daftar menu khas Indonesia.

Ingin menambah sop buntut dan iga bakar yang terkenal di manca negara. Tempat ini memiliki satu minuman khas koktail. Namanya triple SBL paling banyak dipesan. Lantas mereka punya dragon ballz berupa jus buah naga, SBL sunrise berisi campuran aneka jeruk, dan teh tarik.

Jemas meyakinkan banyak pilihan jus, cocktail, mocktail, dan aneka kopi. Harga makanan di sini sangat logis, yakni Rp.35 ribu sampai Rp.218 ribu untuk makanan, dan Rp.15 ribu sampai Rp.20 ribu untuk minuman.

Tahu Baxo Bu Pudji Bisnis Oleh- Oleh Khas Semarang

Profil Pengusaha Bu Pudji


tahu baxo bu pudji
 
Bila mampir ke Ungaran, Semarang, jangan lupa membeli Tahu Baxo Bu Pudji. Adalah oleh- oleh khas Semarang terkenal wajib dibeli. Namanya Sri Lestari pemilik usaha tahu bakso namun spesial rasanya. Ia memulai usaha semenjak 1995 dan sudah punya banyak pengalaman.

Dia cuma ibu rumah tangga. Belum pernah pengalaman berjualan. Ibu rumah tangga yang senang memasak. Salah satunya membuat tahu bakso khas orang Semarangan. Inilah kemudian dijadikan usaha dimana memang beda.

Berkat tahu maka Bu Pudji mendapat gelar usahawan inspiratif. Tahu nampak dipotong- potong di rumah. Adonan bakso dimasukan potongan tahu berbentuk persegi panjang. Ini enak dimakan panas- panas bersama cabe rawit pedas.

Menjajal Tahu Bakso


Aroma sedap terbangun ketika tahu bakso selepas ditiriskan dari wajan. Bu Pudji memang belum pernah usaha lain. Tidak mudah lantaran dia harus mengurusi rumah. Ia juga merupakan ibu dari tiga orang anak. Sekarang Bu Pudji mampu membuat ratusan tahu tanpa menyisakan sisa.

Dua tempat berjualan baksonya langsung ramai. Ia bercerita kepada tabloit NOVA, ternyata menjadi usahawan menyenangkan. Apalagi Bu Pudji melakukan apa yang disenangi yakni memasak. Pudji merupakan istri pegawai negeri.

"Saya pernah berjualan mie ayam, bakso, sembako, hingga pakain jadi," ucap Pudji, yang alasan berjualan menambah pemasukan.

Tidak bisa mengandalkan gaji suaminya saja. Pudji menyadari mereka menanggu tiga orang anak. Biaya sekolah terus naik belum keperluan lain. Dia memutuskan berjualan mie ayam, alih- alih ambil hutang bank.

Bukan sekali dua kali dirinya jatuh bangun berusaha. Ia tidak putus asa. "Mungkin saat itu usahanya belum cocok, jadi tidak berhasil," jelasnya. Pandangannya menjadi pengusaha mudah tetapi sangat mengena. "Kalau sudah begitu, saya akan mencoba usaha lain," ujar Bu Pudji.

Pengalaman menjalankan aneka usaha memberikan pelajaran. Bahwa dia harus berkomitmen ketika akan membuka usaha. Bila tidak maka dipastikan bahwa kamu akan gagal. Pudji membulatkan tekat membuka usaha. Bahkan dia berjanji bahwa harus sukses tidak boleh gagal kembali.

Dia mencoba memulai usaha tahu bakso. Bermodal jutaan rupiah hasil menyisihkan gaji suami. Pudji membuka usaha di rumahnya Jalan Kepodang, Ungaran. Usaha rumahan tersebut berukuran sedang merupakan rumah pribadi.

Di rumah pribadi bersama ditempati tiga anak dan suami. Pudji menggunakan dapur rumah dijadikan tempat produksi. Belum manghasilkan maka dia membuat dan berjualan sendiri. Sebelum menjual dibuatlah resep spesial hingga lebih enak.

Dia membuat formula khusus hingga enak. Berkali- kali dirinya menjajal bakso ke banyak pasar. Dia terus memperbaiki sehingga lebih enak lagi. Rupanya, Pudji menemukan bahwa bentuk persegi lebih disenangi. Hobi memasak membuatnya bersemangat tidak merasakan kecapaian.

Kalau kamu melakukan apa disenangi maka akan termotivasi. Sejak awal, produksi sendiri, demi menjaga kualitas maka Pudji tidak mamakai formalin. Menurutnya formalin jutsru akan merubah rasa menjadi berbeda. Dia tidak memakai bahan pengawet sama sekali.

Dia meyakini bahwa usaha tanpa komitmen akan gagal. "Apapun yang terjadi, usaha ini harus selalu maju," tuturnya. Dia memang senang memasak. Di tahun 1995, dia tengah mendatangi suatu acara kulineran. Disinilah Pudji menemukan makanan taksu bakso dan bertekat membuat.

Dia mencoba membuat tahu bakso. Awalnya, Bu Pudji menjual tahu bakso ke kantor- kantor, lantas teman sesama anggota PKK dan Darma Wanita. Pudji agresif setidaknya tiga kali dalam seminggu akan berkeliling. Lama- kelamaan, dia memproduksi tahu bakso setiap hari diikuti pesanan naik.

Menurutnya produksi berkelanjutan sangat penting. Ini langkah kongkrit menunjukan tekat menjadi pengusaha. Karena dia sudah memproduksi setiap hari maka tidak boleh sisa. Pudji bersemangat berjualan walau pesanan tengah sepi.

Ia akan putarkan tahu- tahu bakso tersebut. Nama usaha Tahu Baxo Bu Pudji memproduksi 150- 200 buah perhari. Itu dijualnya Rp.200 perbuah dipasarkan ke banyak tempat. Tidak cuma ke kantor- kantor, ia menjual tahu bakso ke pasar sampai perempatan kampung.

Kesungguhan Pudji membuahkan hasil dimana semua habis. Hampir tiap hari Tahu Baxo habis tidak bersisa. Kalaupun sepi, Tahu Baxo mampu terjual semua menyisakan 10 biji. Saat awal, usahanya masih dikenal Tahu Kepodang lantaran dijual di Jalan Kepodang.

Berkat kerja keras ia mampu membangun dua outlet dan banyak karyawan. Di tahun 1997, muncul kesempatan dari ASA- BRI, yang mempercayakan tambahan modal Rp.5 juta. Dimana uangnya lalu dibelikan perlengkapan, gerobak dan handphone untuk menrima pesanan.

Uang modal dibangunkan outlet termasuk satu dirumahnya. Dia tidak menjual ke outlet lain. Pudji memilih menjaga kualitas produknya begini. "Saya ingin harga dan kualitasnya sama," tuturnya. Dia juga mendapatkan tawaran berjualan titip ke orang lain.

Namun Bu Pudji bergeming tidak menerima tawaran tersebut. Dua outletnya dibuka di dua tempat, yakni di Jl. Letjend Suprapto 24 Ungaran dan Jl. Raya Semarang, Bawen Km 24 Babadan. Rumah Pudji lantas dijadikan pusat produksi sekaligus outlet.

Tahun 2002, pusat produksi alias rumahnya pindah dari Jalan Kepodang ke Jalan Kutilang. Mau beli di pabrik pembuatan maupun outlet harga sama.

Sukses Pedagang Bakso Ayu Kerja Keras dari Nol

Profil Pengusaha Erwin Nalfa



Suskes pedagang bakso ayu ternyat membutuahkan waktu lama. Kerja keras dari nol terkadang menguji keberanian dan kesabaran. Butuh tidak hanya keberanian dan kesabaran namun kemampun agar selalu belajar terus.

Ini kisah Erwin Nalfa, 34 tahun, sukses didapat dari bisnis Bakso Ayu. Berawal dari pekerjaannya di Balai Benih Ikan (BBI) di kampung Simpang Kelaping, kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Berawal dari pekerjaan yang tak memberinya pendapatan cukup.

Dia harus berpikir keras lagi memenuhi kebutuhan sehari- hari. Hingga sangat terpaksa atau kepepet untuk memenuhi kebutuhan sahari- hari. Erwin terpaksa bekerja lagi; memulai usaha sampingannya yakni berjualan bakso. Ia berjualan bakso keliling meski sangatlah menguras tenaga.

Dengan kurangnya keahlian, ini menjadi satu- satunya usaha lain. Dia dibantu oleh istrinya, Nurmala, keduanya saling bahu membahu berbisnis bakso. Meski keduanya tak tau kemana arah menuntunya.

Hidup Susah


Sang istri menjadi tempat kembali dan bercerita tentang getirnya hidup sehari- hari. Kesabaran serta rasa cinta sang istri memapu menggerakan hati Erwin lebih giat lagi bekerja. Dia bertekat kelak nanti bisa membahagiakan istrinya dan anak- anaknya.

Cuma berbekal bakso, tumbuhlah kepercayaan usaha itu akan sukses kelak, menghasilkan lebih banyak pendapatan. Bekerja keras, sosok Erwin yang  bertubuh kurus harus berkeliling mendorong gerobak yang lebih besar dari badannya.

Sang pedagang bakso Ayu harus menyusuri tiap gang- gang dari satu kampung ke kampung. Erwin berkisah bahwa dia terus mendorong gerobak itu selama tiga tahun. Dari 2003 sampai 2006, banyak hal telah didapati dalam mengarungi hidup.

Tiap hari ia harus mengetuk- ngetuk mangkuk bakso lalu berteriak nyaring "bakso, bakso, bakso!" Dia terus berjalan hingga orang memanggilnya membeli bakso.

Di sisi lain, setiap hari terus mengasah kemampuan dan ketrampilannya. Erwin harus semakin cakap mengolah panganan berbentuk bulat itu.

"Kegembiraan yang sangat tak disaat saya dipanggil oleh pembeli," kisah Erwin.

Dia selalu melayani pembeli bermodal senyuman, walau tubuh terasa lelah. Jarak tempuh jualannya tidaklah dekat tapi sampai berkilo- kilo meter.

Rute perjalanan jualan kelilingnya dimulai dari tempat tinggalnya di BBI Simpang Kelaping menuju ke Kampung Pedekok, kemudian kembali lagi ke Simpang Kelaping, kemudian beristrirahat sejenak. Dia akan malanjukannya kembali ke Kampung Kayukul, sampai akhirnya pulang ke rumahnya.

Waktu bekerjanya sangatlah berat kerena mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Tidak, lebih dari itu, ia juga harus membuat bakso sendiri, menjualnya, dan bekerja di BBI. Di pagi hari tepatnya, Erwin berlari untuk bekerja sebagai pegawai di BBI dan siangnya berjualan bakso.

Itupun tak langsung laku terjual semua dagangan yang dibawanya melalui gerobak. Dia bisa bekerja sampai sore, rasa kelelalahan dan kejenuhan itu menghantui. Ia tak mau terbenam dalam persaan itu.

Dia bertahan untuk menghidupi ke-3 anaknya, Ayu Listianalfa, Najwa Alfina Nalfa dan Chairil Nalfa. "Ke-tiga anak sayalah yang menjadi sumber tenaga sehingga tidak merasa kelelahan setiap harinya," kata Erwin dengan mata berbinar.

Dia berbagi cara suksesnya yaitu tidak mematok harga terntu untuk anak- anak. Ia menganggap mereka seperti anaknya sendiri, merasa kasihan. Namun, cara semacam itu ternyata berhasil membuat anak- anak itu pelanggan tetap. Mereka selalu menunggu kedatangan Erwin.

Tiga tahun lamanya bisnis miliknya dijalankan dari satu kampung ke kampung lain. Dia cukuplah bermodal gerobak sebagai tempat dagangan. Pada akhir 2007, dengan keyakinan, Erwin memutuskan untuk menyewa sebuah rumah sebagai tempat berjualan bakso.

Perlahan tapi pasti usahanya telah membuahkan hasil. Erwin bahkan mampu membeli sebidang tanah untuk dijadikan ruko. Di sanalah, ia membuka bisnis bakso kembali dan lebih laris daripada sebelumnya.

Kini Erwin telah menjelma menjadi sosok pengusaha bakso, bukan penjual bakso. Dia tak lagi mendorong gerobak dan mengetuk mangkuk bakso hingga malam. Kebahagiaan itu telah tiba ketika ia, kini, mampu untuk menghasilkan tiga juta rupiah per- harinya.

Dia tak merasa sombong atapun berhenti bergaul dengan warga sekitar. Dia yang warga pendatang asal Kayukul sangat akrab dengan tetangga dan warga lain. Erwin pun tak lupa aktif memberikan zakat apabila telah mencapai hisabnya.

Bakso yang diberninya nama Bakso Ayu terlihat sangat ramai, terutama ketika sore. Bahkan jalan disekitar tempatnya berjualan terlihat macet kala sore menjelang. Dia menjual Bakso Ayu- nya seharga Rp.6.000 per- mangkuk.

Rasanya cukup enak, ditambah dijajakan di kampung Kayukul, kacamatan Pegasing, kabupaten Aceh Tengah. Kesuksesan "Bakso Ayu" bersumber dari keyakinan dan ketekunan berbisnis dari nol hingga sukses menjelma.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba