Menjadi Presiden Direktur Perusahaan Sendiri

Profil Pengusaha Wuryanano


wuryanano pengusaha
 
Dia masih mengingat betul mimpinya menjadi Presiden Direktur. Bukan buat perusahaan orang lain tetapi perusahaan sendiri. Wuryanano bukan orang sembarangan, yang jabatannya tinggi di Manager Divisi pada perusahaan nasional sejak 1989.

Kemudian dia menjadi Presiden Direktur, dan punya beberapa perusahaan sendiri. Lini bisnis Pak Wuryanano meliputi usaha peternakan, ayam potong, dan telur. Usahanya berjalan lancar selaras dia bekerja. Ia merupakan pemilik usaha PT. Swastika Prima Internasional.

Pengusaha Peternakan


Begitu datang krisis moneter dirinya kwalahan. Terseok- seok Wuryanano mencoba mengendalikan usaha telur ini. "Saat itu saya terlalu ambisius dalam mengembangkan usaha saya," tuturnya. Total ia mengalami kerugian Rp.5 miliar.

Ia ikhlas menerima kenyataan kehilangan uang. Tidak patah arang dia mencari rekanan berbisnis ini kembali. Ada tiga orang kawan mau bersama membangun bisnis ayam kembali. Dulu, dia sendirian mengerjakan perusahaan, kini punya rekanan cukup membuatnya lebih santai.

Wuryano tak harus nongkrong berlama- lama di peternakan. Maka dia lebih leluasa mengembangkan ide bisnis lain. Peternakan miliknya menempati tanah seluas 50 hektar di Blitar. Kandangnya selalu riuh suara kotek 320.000 ayam petelur dan 400.000 ayam potong.

Peternakan tersebut menjadi sumber rejeki buat 350 karyawan. Mayoritas mereka hanya mengenyam bangku dibawah SMA. Hasil pertenakan salalu habis ketika panen tidak tersisa. Para agen akan mulai mengantri buat memenuhi kebutuhan mereka.

Bahkan agen baru datang ditolaknya karena sudah kehabisan stok. "Banyak membeli produksi ternak saya tolak karena permintaan membludak," tuturnya.

Bisnis Wuryanano ternyata tidak sebatas telur dan daging, tetapi merambat ke bisnis lain termasuk marcendise, souvenir, garmen, butik dan lembaga pendidikan. Dia bahkan membuka usaha camilan kue, yang akan diprospek menjadi pabrikan kue camilan.

Berhasil menjadi pengusaha memunculkan keprihatinan akan pendidikan. Keprihatinan akan lulusan sekolah yang terlalu banyak materi dan teori. Di sekolah menengah dan perguruan tinggi tidak cukup buat praktik. Mereka banyak tidak memiliki kemampuan bekerja ketika lulus.

"Akibatnya, saat lulus kuliah, banyak yang enggak ngerti bagaimana cara kerja," tuturnya.

Ia yang merasa bertanggung jawab sebagai pengusaha. Dia lalu mendirikan lembaga pendidikan yang bernama Profesi Swastika Prima Community Collage. Lembaga pendidikan yang menerima murid sejak 2001 silam, dan telah mewisuda tidak kurang 1000 lulusan.

Keunikan sekolah miliknya memiliki syarat kelulusan khusus. Dia tidak ingin anak didiknya begitu lulus malah menganggur. Para lulusan disyaratkan harus memulai usaha dulu atau berwirausaha. Ia juga mensyaratkan mereka bekerja sebelum lulus, bila belum memiliki pandangan wirausaha.

Baik menjadi pengusaha atau profesional harus tercipta sebelum wisuda. Syarat tersebut mendapat banyak sorotan masyarakat. Termasuk dari pihak- pihak yang peduli akan kewirausahaan. Hasilnya ia diganjar Indonesia Small & Medium Business Award 2008.

Wuryanano dianggap berhasil menggerakan kewirausahaan di sektor rill. Inovasi ini memberikan kita peluang membangun bangsa. Walau sudah hasilkan omzet tinggi, Wuryanano tetap mendapatkan predikat usaha kecil menengah, bukannya kecewa tatapi malah menjadi pengingat buat maju lagi.

"Saya tetap saja menyandang predikat sebagai pengusaha kecil," ujar Wuryanano sambil tertawa, walau begitu dia bangga.

Menjadi pengusaha harus tetap menikmati hidup. Apalagi kini dia telah dibantu orang kepercayaan dalam berbisnis. Ia diwaktu luang akan mengajak anak dan istrinya wisata alam. Prinsipnya dalam berbisnis unik, yaitu:

"Berusahalah untuk bisa memiliki pegawai sebanyak-banyaknya. Dan jangan lupa mengayomi kesejahteraan mereka," ucapnya, yang kini telah memiliki 500 orang pegawai dan terus bertambah, ini sejalan dengan lini bisnisn

Biografi Nurhayati Pemilik Kosmetik Wardah Halal

Profil Pengusaha Kosmetik Indonesia


biografi wardah sukses

Dari dulu memang sudah menjadi pebisnis ulet. Biografi Nurhayati pemilik kosmetik Wardah, nama panjangnya Nurhayati Subakat, asli Minang yang menjual produk- produk kecantikan. Berkeliling Nurhayati menjajakan produk kecantikan ke salon- salon.

Alumni SMAN 1 Padang, lulusan Farmasi ITB, menjajal bisnis karena pernah bekerja di perusahaan asing. Wanita yang produk dagangannya selalu diterima masyarakat. Produk perawatan kecantikan Nurhayati memuaskan. "Alhamdulillah, sebagian salon pakai produk kita," jelasnya.

Tetapi siapa sangka pabrik kecil Nurhayati lenyap. Suatu hari kebakaran meludeskan semua kerja keras dia lakukan. Sempat merasa down, dan akhirnya menutup usaha itu. Namun, hati kecilnya menolak, ia tidak mau bekesedihan terus karena kehidupa karyawan ada pada tangannya.

Berbisnis kembali


Menolak bangkrut ada sesuatu mengganjal dibenaknya. Nurhayati teringat nasib karyawannya. Kalau dia tutup bagaimana nasib karyawan. Dengan apa mereka akan menghidupi keluarganya. Selain itu dia menanggung hutang ke bank.

Sempat berpikir negatif bahwa Allah tidak meridhoi usahanya. Dia lantas berpikir, "Kalau saya tutup, kasihan karyawan saya, nanti mau kerja apa?" hatinya berbicara.

Dia harus bangkit. Nurhayati heran bagaimana dia bisa bangkit, tarus maju bahkan bisa menghasilkan hasil penghasilan berlipat. Dia bangkit dari kebangkrutan bisnis. Nurhayati harus memulai kembali usahanya dari nol. Langkah awalnya ialah meminjam uang dari sang suami.

Untuk modal, memulai usaha kembali selepas kebakaran tersebut. Ia menggunakan uang gaji milik suami untuk membayar gaji karyawan. Setelah normal kembali dan menghasilkan uang, ia sudah bisa membayar gaji karyawan bahkan THR karyawan.

Dia tidak pernah puas berinovasi. Jadi apa yang pernah diusahakan kembali. Dari bermula berjualan kebutuhan, ia ingin menspesifikasikan ke kosmetik wanita muslimah. Mengingat kebutuhan akan itu semakin cerah. Bermula kekhawatiran akan produk yang dijual halal, dia menemukan pasarnya sendiri.

Awal produk bikinannya tidak langsung booming. Namun dia tidak menyerah untuk mengembakan produk. Selain itu dia fokus mengembangkan marketing agar dikenal. Dia mulai kembali dari salon ke salon. Meskipun tertimpa krisis moneter 1997, dia bertahan dan mampu melalui pristiwa tersebut.

Pemasaran tidak lagi dia lakukan sendiri. Selain menggunakan agen- agen, lewat sistem MLM, dia juga berani berspekulasi dengan membuka cabang.

Bisnis kecil


Berawal dari membangun PT. Pusaka Tradisi, menjadi suplier untuk salon- salon, kala itu sistemnya masih door- to- door dibantu sang suami, Subakat Hadi. Barulah lima tahun kemudian dia beride untuk membangun produk Wardah. Pasar tidak cuma nasional tetapi internasional kini dirambahnya.

Kosmetik itu bernama Wardah, artinya sendiri adalah bunga mawar yang indah, menjadi pemberi rasa nyaman bagi wanita muslim. Pasalnya wanita jaman now mulai khawatir tentang bahan haram yang terkandung di dalamnya.

Produk Wardah dengan sagala strategi marketingnya yang jitu. Tidak hanya merebut hati masyarakat Indonesia, tetapi berkembang hingga ke Malaysia. Bisnis Nurhayati mampu bersanding bersaing dengan bisnis kosmetik lokal sana.

Setiap ada event- event besar, Wardah menjadi sponsor utamanya. Lambat laun tetapi pasti bisnisnya berkembang. Beberapa acara televisi, seperti Dangdut Academy, Indonesia Idol, menjadi wadah bagi Wardah unjuk gigi.

PT. Pusaka Tradisi Indonesia (PTI) lalu meluncurkan berbagai merek kosmetik, ada Zahra, Camila, Fadila, dan Muntaz.

"Saya pengen IPO (penawaran saham perdana atau initial public offering). Kami memang menuju ke situ. Kami tengah merapikan semua," tarangnya. Wardah sendiri sudah mampu mengantongi omzet 200 juta per- bulan.

Lantas apa kiat Nurhayati agar sukses, yaitu kualitas bagus, kemasan bagus, dan tempatnya bagus. Ia sendiri mengatakan Wardah berkembang. "...kemudian desainnya dirubah," tuturnya. Ia juga sudah menerapkan 4P: Produk, Price, Promotion dan ada lagi Pertolongan Alla SWT.

Nurhayati mencoba meyakinkan kita tentang bisnis. Ia meyakini kualitas produk lokal bagus. Hanya memang butuh branding dulu. Branding tidak susah dijalankan kok. Yang terpenting harus selalu kita perbaiki terus tampilan produk kita. Jangan mudah puas atas apa yang kita capai , "Perbaiki saja".

Meskipun sudah standar packing nasional. PT. PTI tetang memperbaiki kemasan, tujuannya adalah bagaimana menjadi costumer oriented. "Kami memang sejak awal membuat packing bagus," papar Nurhayati. Tampilan warna dasar hijau, dengan moto tersemat produk Wardah "Inspiring of Beauty."

"Alhamdulillah, walau tamatan teknik, tapi saya bisa menjalankan perusahaan ini," tutupnya.

Pengusaha Ryo Baskoro Desain Kaos Distro Rown

Biografi Pengusaha Ryo Baskoro


ryo baskoro

Pengusaha Kusdarmawan Ryo Baskoro, yang berusia 28 tahun, tetapi usaha memiliki distro miliaran rupiah. Pria asli Solo ini sudah memulai perjalanan bisnisnya sejak sekolah dasar. Tepatnya di kelas 3 SD, Ryo kecil sudah ikut membantu orang tuanya jualan gorengan dan kacang ke sekolah.

Lumayan katanya bisa menabung dari uang yang diberikan ibunya tersebut. Berjualan gorengan terus dilakoninya sampai masuk sekolah menengah pertama. Di SMA, dia yang berbakat seni sudah biasa membuat desain sendiri.

Bakatnya dituangkan lewat seni desain dan sablon di kain sarung pantai. Ryo mulai merintis bisnis distro kecil- kecilan semenjak kuliah. Awalnya sih cuma iseng- iseng saja namun berubah menjadi bisnis menjanjikan. Ketika masuk kuliah di 2008, dia membanguka usaha patungan bersama teman.

Usaha Kaos


Mereka memasarkan berbagai produk fasion bermerek Ankles. Targetnya kala adalah mereka para komunitas skateboard. Sayang, usaha bersama diatas akhirnya malah bubar jalan. Ryo tak mau lantas berhenti; ia masih bisa melihat ada prospek di bisnis tersebut.

Iseng- iseng dia mulai lagi mendesain kembali sebuah t-shirt. Tak disangka, banyak yang meminati desainnya itu. Permintaan terus berdatangan darinya. Pada tahun 2006 Rown resmi lahir bermodal awal Rp 30 juta rupiah.

Pria kelahiran 9 November 1984, menjelaskan nama dari distro Rown memiliki arti Aryo Own.  Di tempat kelahirannya di Solo, bisnis distro miliknya tidak kalah dari pengusaha muda asli Bandung. Awalnya bisnis tersebut hanya dibantu tiga karyawan.

Dia membuka sebuah gerai seluas 3 meter x 10 meter. Lambat laun, dari semula hanya memproduksi puluhan kaos, bisnisnya harus melayani ratusan hingga ribuan potong. Di tahun 2008, Ryo mulai mengembangkan bisnisnya.

Ia kemudian mendapat pinjaman dari sebuah bank.

"Saya meminjam Rp 100 juta untuk pengembangan usaha. Sekarang, aset saya sudah miliaran," ungkapnya tanpa mau menyebut detail berapa besar tepatnya.

Ryo pun menambah pegawai yaitu 3 desainer, kini, ia memiliki lima desainer utama dan total pegawai lainnya mencapai 50 orang. Toko yang semula seukuran kamar, kini sudah meluas menjadi 360 meter persegi.

"Saya sudah membuat jenjang karier bagi para karyawan. Namun, yang langsung melayani pembeli saya bayar secara harian," cerita lulusan Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret ini.

Di dalam pemasaran kala itu, ia memakai satu taktik jitu yaitu menjadi sponsor di berbagai acara anak muda; seperti pentas band. Untuk hal ini, mereknya Rown pernah menjadi sponsor Efek Rumah Kaca, acara MTV Ampuh, MTV 100%, dan juga berbagai film televisi (FTV).

"Saya pantang jualan produk rejected," katanya menimpali.

Dia tak lantas puas masih banyak cita- cita ingin dicapainya. Salah satunya, ia berencana membuat merek Rown untuk produk jam tangan. Bisnis satu ini direncanakan akan dibuatkan semi- waralaba. Bertanya tentang apa hambatan terbesar yaitu infrastruktur.

Dimana, ia mengaku sulit menjual barang keluar negeri. Mereka itu sering membuat pelanggan menunggu lebih lama. Ia tidak menyukai hal semacam itu. Bagi Ryo yang meluncurkan desain baru merupakan kebutuhan bisnisnya.

Ini yang mengejutkan: Rown akan selalu memiliki desain baru tiap harinya, tidak semua tentang kaos. Desain barunya akan meliputi jaket, t- shirt, sepatu, jaket, kemeja atau aneka jins. Agar tetap ekslusip, Ryo memilih membatasi satu desain untuk 30 potong item.

Selain dijual di distro sendiri, ia pun menyasar distro lain untuk memasarkan produknya tersebut. Ini terbukti berhasil ketika anak muda Bandung lebih menyukai produk buatan mereka. Bandung yang dianggap kiblat fasion Indonesia menghasilkan keuntungan cukup besar.

Bagi produsen Rown ini cukup mengejutkan, karena seolah menantang pebisnis distro disana. Ryo sendiri berencana membuka satu cabang disana. Untuk sekarang, Rown masih memiliki dua distro utama yaitu di Solo dan Karanganyar bukan di Bandung.

Selain pasar lokal, ia mengaku hasil produknya juga masuk pasar luar negeri seperti ke Singapura. Setiap produknya dibandrol dari Rp.20 ribu sampai Rp.800 ribu. Mengusung nama Rown Divisions, selain menyasar target anak muda, ternyata juga mulai berani mengambil target lain.

Bisnisnya bahkan berani mencoba masuk ke pasar anak dan dewasa. Ini dirasa cukup sulit, namun inovasi bisnis membawanya tidak hanya fokus pada kaos tetapi produk lain, seperti halnya kemeja yang mencoba eksis.

Dalam sebulan, distro ini mampu memproduksi 3.000 hingga 4.000 kemeja, 2.000 pasang sepatu, 3.000 potong celana jins, dan yang terbanyak adalah sekitar 25.000 potong kaus. Setiap satu desain hanya diproduksi 30 potong.

Bermodal mitra sendiri, Ryo memasarkan produk dari Aceh hingga Papua. Dua tahun terakhir, merek Rown ini bahkan sudah masuk pasar Malaysia dan Singapura. Tak lama lagi, produknya bakal dikirim ke Kanada.

"Kalau soal omzet yang pasti terjual lumayan hingga ribuan pieces dengan rentang harga mulai dari Rp 20.000 sampai Rp 800.000," ujar bungsu dari dua bersaudara ini. Ryo Baskoro memang sosok pengusaha muda Solo yang membanggakan.

Keripik Singkong Resep Sukses Usaha

Profil Pengusaha Sukses: Aceng Kodir


resep sukses pengusaha

Resep sukses usaha pria ini hasilkan jutaan rupiah perharinya. Bahan pangan yang kita kenal sebagai keripik singkong. Singkong atau ubi kayu menjadi alternatif sumber karbonhidrat harian. Olahan ini biasanya cuma dijadikan sekedar hidangan cemila dikala bersantai.

Sangat laris dinikmati ketika berkumpul teman ataupun keluarga. Aceng Kodir, adalah warga Gang Pancatengah I, Batujajar Kebupaten Bandung Barat, melihah ini sebagai potensi bisnis. Dia mengolah bahan baku singkong menjadi keripik, namun jangan salah, produknya lain daripada yang lain karena punya rahasia.

Ia menganggap memang jalan hidupnya menjadi pengusaha. Keripik singkong camilan keluarga yang kemudian diberi nama Singkong Crispy atau Singkong Konghui. Pria 42 tahun itu nyatanya mampu meraup omzet dari menjual keduanya tak kurang dari Rp.3 juta per- hari.

Ide Bisnis


Fokus bisnisnya tidak hanya tentang dirinya pribadi namun tentang petani singkong di kampungnya. Berangkat dari rasa peduli, Aceng melihat bagaimana singkong dari petani dihargai Rp.400 per- kilogram.

Melalui tangannya mencoba merubah paradikma itu.

"Saya berpikir bagaimana agar petani singkong tidak terpuruk, dan yang paling penting adalah agar mereka tetap semangat menanam singkong karena singkongnya terjual dengan harga wajar,” ujar Aceng.

Aceng mulai berinovasi bagaimana merubah singkong menjadi cemilan super. Ia membali beberapa kilogram bahan singkong, minyak goreng, dan bahan- bahan lainnya. Jika ditotalkan Aceng cuma mengeluarkan modal bisnis 200 ribu rupiah awalnya.

Dengan cekatan dirubahnya singkong kemudian diiris tipis- tipis menjadi berasa crispy. Hasilnya tidak langsung dijual, ia memberikan produknya buat dicoba oleh tetangga. Mereka benar- benar menyukai keripik produksinya.

"Setelah digiling halus, bahan diuleni dan dipress sampai benar-benar tipis. Setelah itu dipotong berbentuk segi empat persegi panjang, dan terakhir digoreng," katanya, di sebuah acara UKM di Kampus Unpad Jalan Dipati Ukur

Tak puas dia lantas mengunjungi beberapa pejabat lokal seperti lurah, camat, hingga bupati pernah mencicipi produknya. Sekali lagi produknya mendapatkan pujian oleh mereka. Aceng pun optimis untuk menjualnya ke pasaran.

Sesudah persiapan selesai, ia menemukan ide keripik Konghui yaitu perpaduan singkong dan ubi. Ini memberikan variasi rasa gurih dan manis terutama dari si ubi ungu. Ternyata kedua produknya secara baik bisa diterima oleh masyarakat.

Dengan harga Rp.19.000 untuk produk crispy singkong dan harga Rp.20.000 untuk produk Konghui. Aceng telah mampu maraup omzet kini mencapai Rp.90 juta per- bulan, atau dia mampu menjual 150 bungkus per- harinya.

Bahkan produknya dibeli oleh para wisatawan asing sebagai oleh- oleh khas daerahnya. Dalam sehari, Aceng bisa membuat 250 bungkus crispy singkong dan crispy konghui. Dia menjual keripik singkon ini berkisar Rp 12.500 per bungkus.

Jika dijual melalui sistem reseller, atau dihitung- hitung omzetnya akan Rp 3 juta per- hari. Untuk peralatan produksi, Aceng mengaku tidak kesulitan karena memang cara pembuatanya sangatlah mudah. Demikian pula bahan baku ataupun tenaga perajin.

Perkebunan singkong terhampar luas di daerahnya menjadi sumber bahan baku. Aceng membeli singkong dari petani Rp 1.000 per kilogram atau lebih mahal Rp.600 dari harga biasa. Sementara sejumlah tetangga menjadi pekerja pembuatan crispy singkong dan konghui buatannya.

Mereka bekerja di rumahnya yang disulap menjadi pabrik kecil- kecila bernama Rumah Crispy. Agar para konsumen tidak bosan, produknya tersedia dengan beragam rasa yaitu crispy singkong dan crispy konghui.

Selain rasa original, keripiknya ada rasa barbeque, balado, keju, barbeque pedas, pedas, dan pizza. Sementara produk crispy konghui ada dua original dan pedas. Kedua kudapan itu dikemas di dalam bungkus plastik transparan dengan berat bersih 250 gram untuk masing- masing.

Kudapan itu kemudian dijajakan di toko oleh- oleh Kartikasari dan minimarket Circle K.

Twitter: @yummycrispy

Manfaat Hutang Usaha Bersama Miming Pangarah

Profil Pengusaha Miming Pangarah


motivator miming pangarah
 
Taukah kamu bahwa perusahaan besar pasti memiliki hutang. Miming Pangarah mencoba memberi penjelasan manfaat hutang usaha. Ini terlepas kepercayaan agama mengenai hutang. Menekankan ke hutang produktif demi keberjalanan usaha, bukan buat kosumtif ya apalagi buat gaya hidup.

Cerita berawal dari Miming bekerja menjadi salesman. Dia mendapatkan gaji Rp.300.000 berbulan di tahun 1997. Pemuda perantauan yang terbiasa melakukan sesuatu sendiri. Tidak pernah bergantung dengan uang kiriman orang tua. Miming ingat betul terpaksa berhutang karena tidak mau meminta.

Saban tengah bulan gaji kecil tersebut habis karena kebutuhan. Sisanya dia akan berhutang untuk bisa hidup. Mulai dari membayar kos dan makan, Miming andalkan dari pekerjaan bergaji kecil dengan hutang. Gali lubang tutup lubang menjadi pekerjaan sambilannya ketika kuliah.

Dipaksa Berhutang


"Gaji yang saya terima saat itu setiap akhir bulan akan habis di pertengahan bulan dan selanjutnya saya akan kas bon (hutang) untuk memenuhi hidup saya sehari-hari," kenang Pak Miming.

Lingkaran kehidupannya cuma berputar memenuhi kebutuhan. Serba mepet dia bahkan tidak punya sisa buat menyenangkan diri. Inilah cikal bakalnya berjuang keras bewirausaha. Kesempatan datang ketika dia ditawari cicilan ruko.

Ada relasi menawarkan ruko di kawasan Jl. Ahmad Yani, Kota Bandung. Itu "durian runtuh" karena meski enak tetapi kena kepala sakit berdarah. Cicilannya mencapai Rp.2,3 juta, mau dapat dari mana uang segitu sementara gajinya hanya Rp.300.000 itupun dibantu hutang.

Tetapi kalau dipikir ruko tersebut terletak di tengah kota. Tempatnya strategis dianggapa akan lebih mahal bila disewakan ulang. Beberapa minggu berelalu, nampaknya Miming berhenti memikirkan kesempatan tersebut, kehidupannya kembali berjalan normal hingga sang teman mengkonfirmasi.

Dengan enteng si relasi menawarkan Miming kembali. Dia percaya bahwa dirinya ulet dan memiliki komitmen. Ya dia memang selalu membayar hutang- hutangnya. Teman tersebut merayu, Miming cuma diam, tidak ada pandangan buat membuka usaha di tempat tersebut.

"...lagipula gila apa??? duit dari mana sebesar itu," ia berpikir keras. Kemudian dia menjawab, "nanti aja ya masih mikir- mikir."

Dalam perjalanan dia kepikiran akan ruko strategis tersebut. Temannya memanas- manasi dengan menujukan promo bank. Mereka memberikan uang KPR tanpa uang muka. Tidak ada kesempatan seperti ini dua kali, ucapnya. Ini sangat menganggu benak Miming karena kepikiran terus.

"otak saya sudah terganggu dengan ruko … ruko … ruko. Hingga diperjalanan pun terus pemikiran kepemilikan ruko, semakin mengganggu saya."

Miming mencoba menghubing teman yang paham properti. Kebetulan dia bekerja di properti tentu paham mengenai ini. Ia ingin menanyakan beberapa hal. Pertama, apa konsekuensinya bila dia telat bayar cicilan KPR satu bulan, lalu sang teman menjawab, "ya paling didenda".

Dia bertanya kedua apa konsekuensi bila telat tiga bulan. Temannya menjawab kembali bahwa dia akan mendapat denda lagi. Jawaban ini belum memuaskan karena tidak menyangkut hukum. Apakah dia akan diperkarakan bila telat membayar pada waktu tertentu.

Sang teman berkat kemungkinan paling buruk cuma disita ruko. Mendengar jawaban inilah Miming bertekad. Dia akan mengambil cicilan KPR tanpa bunga tersebut. Bergegas Miming membawa semua ke kantor si relasi. Dia kaget karena melihat Miming cepat memutuskan, dan kembali meyakinkan Miming.

Dia bertanya apakah Miming yakin mengambil ruko tersebut. Ia yakin bahkan langsung meminta kunci tanpa melihat dulu. Bahkan Miming cepat- cepat menandatangi semua dokumen persyarakat administari. Begitu selesai ditunjukanlah tempat dimana ruko tersebut berada.

Ternyata tidak seperti bayangan, karena walau bertempat di kawasan strategis, ternyata ruko yang dia beli dibagian dalam. Posisinya agak kedalam bahkan lahannya berbentu U. Dimana juga deretan ruko lainnya nampak kosong tanpa pembeli.

Ruko tersebut ternyata berderet, alias dia bagian deret berbeda dari depan. Miming bertanya kepada satpam disana. Ternyata jawabannya bahwa deretan belakang memang belum laku. Bahkan sudah 3 tahun kosong tidak laku. "Ada sih 1 atau 2 tetapi mereka cuma bertahan 3 bulan," jawab si satpam.

Karena sudah mantap berwirausaha semua dianggap berlalu. Dia nekat menjalankan usaha dan resiko apapun akan dia hadapi. Awal usaha, Mimingh menjalankan penjualan jual beli cat sablon, padahal dia tidak pernah memiliki pengalaman.

Itupun ternyata barang titipan milik orang tua temannya. Mereka menjual konyasi, jadi bila Miming berhasil menjual barulah mendapatkan uang. Itupun dia harus membayarkan dahulu ke pihak pemilik barang atau suplier. Uniknya Miming masih menjalankan pekerjaan sebagai salesman di perusahaan.

Menjalankan Usaha


Tentu dia tidak akan langsung sukses menjual semuanya. Hari kedua setelah membeli ruko, Miming absen dari perusahaan dan berangkat ke toko buat berjualan. Menunggu dari jam 9 sampai 11 belum satupun pembeli. Jam berganti jam tidak mengerjakan apapun, sampai jam 5 ya masih kosong tidak ada pembeli.

Dia tidak putus asa karena sudah terbiasa hidup susah. Tiga hari kemudian, senjak membelian ruko tersebut dan belum ada pembeli. Pikirannya sekarang adalah membuat promosi penjualan. "Saya lalu membuat brosur fotokopian dengan kata- kata bombastis," ia menjelaskan.

Miming menyebar brosur ke tempat- tempat membuat spanduk, vandel, plang nama. dll, yang tidak jauh dari tempatnya. Selesai dia akan menunggu hasil pembagian brosur tersebut. Kemudian datang seorang anak hendak membeli cat sablon dan pigmen pewarna.

Dia akan membeli pigmen warna biru. Namun Miming tidak paham mengenai dunia percatan dan sablon. Ia pun menyuruh si anak mengambil sendiri ke belakang. Dia ambil sendiri, diberikan ke Miming, ditimbang dan membayar.

Keesokan harinya muncul anak tersebut mengajak dua orang anak sebayanya. Mereka lalu memilih sendiri, ditimbang, dan membayar. Miming tinggal membungkuskan dan urusan selesai. "Wihh enak kan disini bisa ngambil bahan sendiri bahan yang diperlukan," seloroh sang anak.

Maka ramailah tempat jualannta silih berganti pembeli masuk. Anak- anak tersebut ternyata adalah suruhan orang tua. Mereka disuruh pembuat sablon untuk membeli cat pewarna. Anak- anak tersebut akan diberikan imbalan. Tempat ini menjadi rujukan anak- anak lain yang biasa membeli jauh.

Ternyata ada tempat jualan cat sablon lain tetapi jauh. Dulu anak- anak harus naik angkot selama 3 jam buat membeli cat. Bila membeli ke tempat Miming tinggal berjalan 10 menit, jadi anak- anak ini bisa menyimpan uang ongkos angkot mereka.

Lumayan Miming mampu mengantungi kurang lebih 100 ribu perhari. Namun disaat bersamaan, dia telah jatuh tempo pembayaran cicilan sebesar 2,3 juta. Omzet sudah lumayan namun belum mampu mencukupi pembayaran segitu. Dia pun membayar saja sejumlah uang walau kurang.

Dia menerapkan prinsip pembukuan profesional. Neraca jual beli juga berjalan baik, alhasil dirinya berhasil meyakinkan pemberi hutang. Prinsip Miming adalah mengelola hutang tersebut bukan buat konsumsi. Dia mampu mendapatkan hutang lebih besar buat mengembangkan usaha.

"Resiko tidak ada paling- paling ruko saya diambil," jelas Miming. Total ia mampu memgembangkan uang berbasis hutang. Menghasilkan lima ruko dan membangun usaha percetakan mandiri. Miming juga memiliki usaha waralaba salon.

Total aset dimiliknya Rp.7 miliar dengan kredit berjalan Rp.3,5 miliar. Takut menggunakan hutang bank dirinya cuma hasilkan omzet Rp.150 juta. Begitu dia berhutang menghasilkan omzet sampai 10 miliar. Bertahap dia menaikan hutang sejalan kenaikan omzet dan peningkatan aset.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba