Jualan Kambing Raja Aqiqah Wirausaha 400 Juta

Biografi Pengusaha Andi Nata 


jualan kambing raja aqiqah
 
Jualan kambing menghasilkan wirausaha 400 juta.  Inilah sosok penambah kasanah dunia usaha kita. Pemuda bernama Andi Nata, yang dikenal sebagai "Raja Aqiqah". Ia sukses berkat beternak kambing dan berbisnis katering akikah. Tidak ada sedikitpun rasa malu berbisnis yang terkadang diremehkan.

Padahal, pemuda kelahiran 7 Januari 1989 ini lulusan Teknik Mesin, yang suatu hari pristiwa penting merubah pola pikirnya. Dia ingin menjadi wirausaha muda. Andi ingin menjadi pengusaha, karena rasa cinta bukan keterpaksaan.

Andi terlahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya, Sumari, seorang pegawai bengkel furnitur dan ibunya , Roaenah, ibu rumah tangga biasa.

"Mayoritas keluarga saya bertani di Plered," jelasnya.

Anak kedua dari enam bersaudara yang penuh tanggung jawab. Dimana setiap hari, hidup Andi selalu dipenuhi sifat tekun di bidang akademis. Tak ayal, nilai akademisnya tidak pernah turun, meskipun setiap hari dia mungkin capek bersepeda dari rumah ke sekolah.

Rajin dan Tekun Belajar


Sampai SMA, berkat ketekunannya mampu mendapat banyak beasiswa pendidikan. Sampai kuliah beasiswa itu mengalir, terus membantunya hingga lulus menjadi sarjana. Dia sampai- sampai bisa berkuliah di Universitas Indonesia berkat beasiswa.

Sembari kuliah kegiatan lain hanyalah memberikan les privat. Andi memang telah melakoni kegiatan ini sejak sekolah menangah atas. Berkat itu pula uang saku buat sekolah tidak perlu dipikirkan. Bisnis sederhana yang mengandalkan kecerdasan Andi sebagai pelajar.

Ia selalu mengingat pesan nenek,"...enggak boleh takut dengan keadaan, karena kami tak punya apa- apa," tuturnya.

"Saya incar beasiswa," jelas Andi. Semenjak berkuliah lebih banyak waktu kosong. Dia mengisinya lagi bukan bersenang- senang, tetapi mengajari anak les privat. Kali ini, Andi juga memberikan kurus matematika dan fisika, tidak cuma sendiri tetapi ikut beberapa lembaga bimbingan di Depok.

Andi selalu berpikir mengisi waktu menambah koceknya. Berkat usahanya dalam tiga bulan saja, ia berhasil mengumpulkan uang 12 juta. Namun, dipertengahan 2007, sang ayah mendapatkan musibah di tempat kerja dan diharuskan operasi.

Inilah titik balik yang penulis ceritakan diatas. Pristiwa ini membuatnya habis- habisan. Biaya operasi mencapai Rp.35 juta. Tentu uang hasil bimbel belum mencukupi. Mata Andi lantas menatap ke saudara- saudaranya yang masih kecil.

Ia harus melakukan sesuatu. Termasuk mau meminjam uang ke salah satu orang tua murid. Bahkan untuk melunasinya, ia rela tidak digaji sebagai guru les privat sampai beberapa tahun ke depan.

Apapun usaha dilakukan bahkan termasuk mengikuti karya ilmiah di Kampus. Pokoknya apapun harus dilakukan selama menghasilkan uang. Hingga, akhirnya, ia berhasil mengumpulkan biaya buat operasi sang ayah senilai Rp.35 juta tersebut.

Titik Balik Wirausaha


Ayah Andi mulai berangsur sembuh pasca operasi. Di titik ini, pemuda 26 tahun ini, mulai kepikiran tentang membuka usaha sendiri. Awalnya ada usaha beternak kambing ditujukan buat sang ayah. Tapi seperti halnya dia, usaha yang dijalankan ayah cuma sampingan.

Tidak ada pikiran menjadi pengusaha hanya mencari nafkah. Andi salama ini juga hanya menambah pemasukan, dan juga mencari kesibukan. Ia sama sekali tidak kepikiran membuka usaha, hanya fokus pendidikan. Sampai dia harus menggantikan peran sang ayah untuk mencari nafkah.

Andi mulai mencari tau segala sesuatunya tentang usaha beternak kambing. Ingin mengangkat usaha keluarga menjadi mumpuni. Dia mencari tau tentang kambing sampai ke Jakarta Utara. Dari informasi teman, Andi lantas bertemu sosok peternak besar.

Orang itu dijadikannya sosok guru masalah kambing  soal prospek ke depan. Begitu sampai disana, tanpa malu ia mengutarakan keinginan untuk beternak kambing. Dalam beberapa bulan selanjutnya, Andi melewati hari- harinya dengan belajar tentang kehidupan peternak kambing.

Dia tinggal disana dan menemukan fakta menarik, "...dalam bisnis, kuncinya tekun dan mau tahu diri. Selama di sana, saya bantu dengan bersih- bersih juga."

Dia selalu bercerita bagiamana niatnya menjadi peternak. Dan, ini lalu ditanggapi teman- temannya dengan mengajak ke komunitas peternak. Ketekunan seorang Andi sampai membuat teman lain ikut merasakan ketertarikan serupa. Ia sama sekali awam hingga kelak pantas disebut "Raja Aqiqah:.

Bermodal Rp.8 juta hasi tabungan dimulai lah peternakan kecil. Ia merintis peternakan kambinya di Plered. Uang tersebut kemudian dibelikan empat kambing betina dan satu kambing jantan. Perawatan kambinya dibantu orang tua dan beberapa sanak saudara.

Tidak mudah karena beberapa kambing akhirnya mati. Tetapi itu tidak menyurutkan semangat Andi. Teman Andi mulai tertarik akan kesuksesannya dan ikut bergabung. Sedikit- demi sedikit usahanya membesar sampai memiliki 258 ekor kambing di tahun 2009.

Total 20 orang teman ikut ambil bagian menjadi investor di peternakan Andi. Sayangnya, usaha itu mengalami puncak penjualan hanya ketika Idul Adha saja, sisanya tidak terlalu menghasilkan. Dia tak mau tinggal diam, jiwa wirausahanya telah terasah dengan aneka buku kewirausahaan.

Jualan Kambing Akikah


Tidak berpuas hati merupakan salah satu sifat pengusaha. Untuk itulah, ia tidak bisa tinggal diam saja, jadi harus memutar otak bagaimana cara agar selalu laku. Penjualan meningkat stabil meski hari besar kurban telah dilewati. Dia ingin membuka usaha dengan prospek panjang bukan musiman.

Andi pun mencari guru lagi, dan mendapatkan masukan untuk berbisnis katering. Disini mulai nama katering akikah Raja Aqiqah terdengar. Memulai bisnis akikah ternyata tidak mudah. Karena Andi tidak bisa memasak katering sendiri.

Jadi usaha katering tersebut dijalankan lewat bekerja sama dengan rekan. Dimana dia mengurusi hal tenaga dan keungan. "...masakan dikirim oleh Pak Haji, pemilik peternakan itu," celetuknya.

Sejalan waktu nama Raja Aqiqah mulai dikenal. Pasti lah, karena Andi memang ulet keluar- masuk gang, dan menempelkan brosur tiap malam. "Biar enggak malu, kalau memasang brosur pakai helm," kelakarnya.

Ia menyadari berbisnis akikah lebih menghasilkan. Jualan kambing akikah untungnya lebih banyak sampai Rp.250.000 -an per- kambing. Kebetulan sekali, tepat di akhir 2012, seorang investor tertarik membeli kambing dari tempat Andi.

Investor itu tengah menjajaki bisnis penggemukan kambing. Tidak berpikir lama, melihat peuang, dia segera baralih fokus pembiakan kambing serta merambah bisnis katering. Untuk yang satu ini, Andi kembali memutar otak karena dia tidak bisa selamanya bergantung.

Dia memutar otak menghasilkan masakan sendiri. Meski tidak bisa memasak Andi tetap nekat. Ia kini fokus mencari juru masak. Berkeliling ke berbagai tempat, lagi- lagi masalah dihadapinya, para tukang masak enggak bekerja untuknya.

"Saya punya niat besar untuk membuka bisnis akikah, namun tidak bisa masak,... maka ide saya tidak lain mencari juru masak handal," jelasnya.

Kalau pun mau diajak bekerja sama rasa masakan tidak cocok dimulut. Berbagai trik dilancarkan sampai si tukang masak mau. Salah satunya ialah menggunakan pendekatan bersilaturahmi ke orang yang diincar. Dia menjelaskan kalau bersilaturahmi maka tidak mungkn diusir, kan?

Sambil berkunjung tidak lupa dibawakan aneka jajanan, seperti coklat, biskuit,dll. Gunanya buat anak si juru masak agar senang. Istilahnya sih "menyogok" tetapi apa mau dikata. Dua minggu sudah dirinya mengadakan pendekatan.

Akhirnya, sang juru masak itu luluh hati, mau mendengar penjelasan dari Andi. Kelebihan Raja Aqiqah terletak di kualitas kambing diternakan. Selain itu, ia menjaga kualitas dari masakan lewat aneka bumbu kualitas.

Mampu Berekspansi Bisnis


Jualan kambing sering dianggap musiman dan tidak bergengsi. Padahal bila ditelusuri banyak hal bisa dikembangkan. Seperti mengembangkan bahan baku berkualitas tinggi seperti ilmuan.. Andi mulai serius mengkawin silangkan kambing Afrikan F-1 dan kambing Jawa Barat.

Hasilnya itu daging terasa empuk, tidak amis, terutama ya tidak mengandung kolestrol tinggi. Lewat kualitas maka lah berita tersebar dari mulut ke mulut. Dalam dua hari saja sudah memotong 2- 5 domba sembelihan. Atau, ia rata- rata bisa memotong 100 ekor kambing.

Tahun 2011, ia makin berani membenamkan uang ke bisnis katering- akikah ini. Uang Rp.150 juta diinvestasi ke bisnis tersebut. Dia dibantu si juru masak membangun bisnis tersebut lebih besar, dengan perhitungan kotornya ia melayani 1000 acara akikah di penjuru Jakarta.

Cukup 2% saja sudah begitu menggiurkan hasilnya dirasa oleh Andi. Sibuk menekuni bisnis barunya, ini membuat kuliah Andi sempat terbengkalai. Maklum lah dia sudah bisa merasakan bagaimana mencari uang dan menghasilkan. Muncul perasaan aneh untuk "malas" menjalankan kuliah dahulu.

Dari mulai memberika les privat, menghasilkan sampai Rp.4 juta per- bulan, kini dia meraup omzet mencapai Rp.400 juta per- bulan. Usaha ini juga sudah berkembang menjadi perusahaan bersekala nasional. Lantas apakah dia melanjutkan kuliah, padahal dia dikenal sebagai mahasiswa berprestasi.

Permintaan meningkat sejak awal dimulai berusaha sendiri. Ia juga membina 10 kelompok peternak domba yang sudah tesebar di Cirebon, Depok, dan daerah lain. Kerja sama itu dibagi 50:50 dari keuntungan dibagi rata olehnya.

Tidak berhenti di bisnis kambing, Andi merambah ke bisnis properti, yang mana membeli rumah seken, diperbaiki, lalu dijualnya kembali. Ia ingat bagaimana dirinya membagi waktu antara bisnis dan kuliah. Awal sekali dia harus membagi waktu antara mengajar lalu dilanjutkan kuliah.

Sampai dia terburu- buru mengejar waktu buat mengajar murid. Saat itu salah seorang orang tua murid mengingatkan akan pentingnya pendidikan. Dia pun harus mengulang 10 mata kuliah. Ada keyakinan pendidikan juga penting, maka dia tetap berusaha membagi waktu.

Oleh karena dia masih kuliah juga, teknik marketing terbilang sederhana, dia memanfaatkan jaringan teman serta promosi lewat mulut ke mulut. Barulah selepas kuliah selesai dirinya bernafas lega. Bila orang lain melamar kerja, Andi malah membuka lapangan kerja selepas kuliah.

Disamping pendidikan formal juga didukung pendidikan lain. Ia memang hobi membaca buku- buku motivasi. Menyelesaikan S- 1 ditambah sukses berbisnis, Andi memilih melanjutkan berbisnis sampai jenjang S- 2 di Teknik Industri, Universitas Indonesia.

Dia bahkan siap mencapai jenjang yang lebih tinggi yakni S- 3 Manajemen. Semua dilakukan sambil menjalankan perusahaan bernama PT. Andinata Sumari, yakni bisnis dibidang perjalanan umroh dan haji.

Berbisnis Ekspor Ikan Sampai Jualan Batik Online

Profil Pengusaha Andri Firmansyah


pemilik batik tusta

Bagi Andri Firmansyah berwirausaha merupakan keharusan. Dari mulai berbisnis ekspor ikan sampai jualan batik online ditekuni. Tren belanja online membuka kesempatan hingga meraup ratusan juta. Nama Batik Tusta layak diperhitungkan sebagai pelopor pasar batik modern.

Semua bermula dari pengamatan Andri akan hidup kedua orang tua. Dia pernah melihat kedua orang tuanya menjual mobil. Mereka adalah pengusaha hotel yang tengah merugi. Uang penjualan lantas dijadikan penutup hutang. Usaha apapun bukan berarti untung terus, tetapi harus siap naik turun.

Maka Andri kecil sudah merasakan naik- turun kehidupan. Sebagai pengusaha terkadang kita merugi sampai menjual aset. Kedua orang tuanya telah mengajarkan mengenai kegagalan. Alhasil dia menjadi sosok yang tangguh, mentalnya telah ditempa dengan pelajaran mengenai kewirausahaan.

Tahun 2005, Andri tengah berkuliah di semester akhir, dan tiba- tiba datang seorang kawan mengajak berbisnis. Dia menawarkan Andri berbisnis ekspor ikan hias. Mengapa Andri berani menerima ajakan tersebut. Telisik ternyata Andri memiliki pengalaman pegawai magang di perusahaan kargo.

Dia sudah paham soal mengurus ekspor- impor barang. Lalu dia mensetujui dan mengajak temannya berkongsi. Alih- alih melanjutkan bisnis keluarga dibidang perhotelan, Andri malah berbisnis sendiri bermodal uang Rp.70 juta.

Pengusaha Muda Mandiri


Beruntung dia memiliki pengalaman ekspor ikan ke luar negeri. Uang modal dari kedua orang tuanya kemudian dibelikan mobil boks. Pihak mitra menggelontorkan uang sampai ratusan juta. Mereka lalu membeli bibit ikan, maka inilah bisnis pertama Andri.

Ekspor ikan ke Singapura dan Malaysia bukan perkara mudah. Bisnis pertama Andri ini mengalami lima kali kerugian. Gagal mengirim barang sudah menjadi hal lumrah setahun penuh. Dia mengalami kegagalan beruntun. Bahkan ketika tahun kedua bisnisnya stagnan atau tidak mengalami perubahan.

Dia banyak mengalami kerugian tanpa perubahan. Dua tahun cukup bagi dirinya untuk melanjutkan hidup. Andri memilih melepaskan bisnis tersebut. Pengusaha muda ini memilih berbisnis yang lebih mudah seperti jualan pulsa.

Tetapi justru dari bisnis pulsa elektrik, Andri meraup omzet sampai ratusan juta rupiah perbulan. Dan dia berhasil membuka empat cabang di empat kota dan puluhan karyawan. Tahun 2012, menjadi titik balik bisnis Andri, ketika perusahaan operator seluler membatasi jumlah distribusi pulsa elektronik.

Omzet bisnis Andri merosot sampai 50% sejak tahun 2013. Maka pada tahun 2014, dia harus rela untuk kembali menutup usahanya.

Bisnis pulsa elektronik biki kaya raya Andri Firmansyah. Lebih menguntungkan dari berbisnis ekspor ikan. Fakta Andri jadi miliarder walaupun bisnis tersebut tutup. Masalah timbul ketika ternyata dia memilik tunggakan. Pihak pajak menyebut Andri memilik kewajiban pajak senilai Rp.19 miliar.

Ia butuh waktu untuk mengurus permasalahan tersebut. Untung dia tidak dituntut sampai masuk ke penjara. Andri pun mampu melunasi semua sembari tetap berbisnis. Di tahun 2012, dia membuka usaha tambal ban bernama VionSeal, yang semua berkat kejelian melihat peluang usaha.

Usaha Kedua Ban Anti Bocor


Ide bisnis kedua datang ketika dia melihat motor- motor berjejer. Dia sadar bahwa kendaraan telah menjadi kebutuhan pokok. Tetapi Andri tak memilih menjadi pengusaha parkira motor loh. Alih- alih dia mengembangkan teknologi ban anti- bocor.

Produk VionSeal sudah terlebih dahulu dikenal di luar negeri. Konsep itu cairan yang menangkal ban agar tak bocor. Dikembangkan sendiri sejak 2013, dia membuat cairan yang mampu menangkal ban bocor sampai 1,5 tahun. Namun uang yang dibutuhkan bukanlah sedikit melainkan ratusan juta.

Dia harus menggelontorkan uang Rp.500 juta untuk penelitian. Ia memproduksi VionSeal melalui Makloon. Begitu jadi Andri mampu menjual 5000 botol dan menang penghargaan. Memenangkan Wirausaha Muda Mandiri membuat namanya melambung.

Semakin menghasilkan keuntungan dari penjualan VionSeal tersebut. Suatu ketika, muncul orang- orang yang komplain, bahwa produk buatan Andri hanya mampu bertahan 6 bulan. Padahal VionSeal memberi jaminan sampai 18 bulan bukan enam bulan.

Ini membuat Andri kalang kabut mengatasi banyak komplain. Bukannya dia memperbaiki produk malah memilih menutup VionSeal. Ekspetasi akan produknya ternyata salah hingga ditutup. Tepat di 2014, dia menjadi pengangguran, sementara sang istri tengah menjajal jualan online.

Istri Andri melihat peluang berbisnis pakaian muslimah. Tepat ketika sang suami merintis VionSeal, dia membuka usaha tersebut. Tren bisnis online terus menanjak memberik kesempatan dia. Untung saja, Andri punya sisa uang berjualan pulsa elektronik, yang lalu digunakan sang istri.

Andri juga membantu membukakan toko baju muslimah sendiri. Brand AMH didirikan dan berhasil membuka empat cabang di Surabaya. Namun ternyata toko tersebut hanya bertahan selama empat tahun. "Saya memutuskan untuk tutup dan fokus online," tuturnya menjelaskan.

Alasan utama karena jualan offline harus bayar sewa tempat. Itupun semakin mahal. Kalau tidak di tempat lama, berarti dia harus mencari tempat lain yang belum tentu strategis. Masalah lain ketika jualan offline adalah soal karyawan.

Disaat yang sama Andri juga masih memiliki tanggunga pajak. Memiliki toko offline dirasa cukup menguras fokus. Sampai Andri membuka usaha bernama Batik Tusta, yang menjadi titik balik bagi bisnis pakain mereka. Bisnis Batik Tusta sendiri bukanlah hal baru tetapi menghasilkan lebih baik.

Membuka Usaha Batik


Sudah memiliki usaha pakain muslimah timbul ide baru. Dia membayangkan usaha batik yang akan berjalan baik. Nama Tusta bukanlah usaha baru melainkan milik seseorang. Batik Tusta telah berjalan lima tahun tetapi mati suri. Andri percaya diri untuk membangkitkan bisnis tersebut sampai laris.

Pengusaha kelahiran Surabaya tahun 1983, yang lalu diajak seorang rekan untuk mengerjakan Batik Tusta. Andri menyanggupi karena punya pengalaman baju muslimah. Bisnis batik ini membidik pasar kelas menengah kebawah. Pemilik Tustas merupakan seorang teman yang tengah berkuliah bisnis.

Dia tengah skripsi mengenai bisnis online. Sedangkan Andri memiliki pengalaman yang nyata soal bisnis ini. Temannya tersebut juga suka berkonsultasi mengenai skripsi kuliah. Nah, sekarang telah selesai, dia mengajak Andri berbisnis batik yang dianggap lebih laris dijual.

Ketimbang jualan pakain muslimah mending membuka usaha batik. Maka Andri menutup jualan baju muslimah dengan brand AHM ini. Andri langsung pergi ke Pekalongan mencari pola. Tujuannya untuk merubah pakem Batik Tusta menjadi lebih baik.

Ia merubah pasar ke arah profesional dan pekerja. Dirubahnya tampilan Instagram lebih eye cacthing dibanding dulu. Mereka lalu menawarkan desain pakaian formal. Harga naik menjadi Rp.150.000- 300.000 perbuah.

Andri memanfaatkan semua fitur beriklan online. Tak segan menggelontorkan Rp.100 juta untuk bisa branding. Ia bahkan rela membayar influencer untuk endorse.

"Kalau orang yang baru berbisnis online, pasti mengeluarkan Rp.5 juta sampai Rp.10 juta untuk sekali iklan. Saya enggak begitu," tuturnya.

Tidak ada kekhawatiran sama sekali. Hasilnya dia mampu menjual tidak hanya satu, tetapi puluhan kain dalam sehari. Pertumbuhan Batik Tusta luar biasa hingga titik balik. Mental bisnis yang tak takut jatuh bangun. Hasilnya dia mengangkat Batik Tusta dari keterbelakangan menjadi sukses besar.

Mengolah Air Limbah Menjadi Bisnis Biodiesel

Profil Pengusaha Agung Sri Hendarsa 


pengusaha biodisel
 
Bayangkan kita mengolah air limbah menjadi enegeri terbarukan. Bisnis biodisel milik Agung berasal dari passion. Komitmen kewirausahaan yang membawa pria berkacamata ini jauh. Anak dokter ini mengaplikasikan bahwa penemu itu pengusaha.

Dimulai sejak bangku Sekolah Menengah, bapak dua anak asal Pekalongan, Jawa Tengah, yang telah sudah mengikuti aneka lomba penelitian remaja. Lantas itu berlanjut ketika dia masuk ke jenjang universitas.

Pria bernama lengkap Agung Sri Hendarsa, yang melakukan penelitian tentang limbah batik. Dia mengaku banyak belajar dari orang Jepang. Mereka memilik fokus ketika mengerjakan sesuatu. Orang Jepang fokus pada bidang bisnis dijalankan mereka sampai sukses.

Lulus S-1 Teknik Kimia, tidak tanggung tetapi lulusan Universitas Gajah Mada tahun 2000. Ia lantas dapat beasiswa kuliah pendek ke Jepang. Satu tahun dia mendapatkan pendidikan Jepang. Akhirnya Agung jatuh cinta dan memilih kuliah beneran S-2 di Jepang.

Sayangnya, kuliah di Jepang tidak semudah dibayangkan, kalau kuliah beneran Agung merasakan tekanan yang berbeda. Belajar di Jepang butuh fokus tingkat tinggi. Sementara itu Agung bukan lah anak orang kaya.

Jadilah dia bekerja serabutan, tidak ada biaya, dia juga nyambi menjadi dokter puskesmas. Agung pernah bekerja jadi pencuci piring, cuci mobil, karyawan pabrik tofu, menjadi buruh pabrik plastik juga dia pernah, dan bekerja menjadi petugas pembersih salju.

"Saya men-DO-kan diri," tuturnya lanjutkan.

Tahun 2002, ia memilih kembali ke Indonesia, kemudian bekerja di perusahaan kimia. Pengalaman bekerja keras menempa Agung berwirausaha. Pola pikirnya berkembang ketika harus membiayai diri sendiri. Walau gagal, Agung tak pernah menyesal justru bersyukur karena menjadi sosok tangguh.

Bisnis energi


Bekerja di perusahaan kimia, dua tahun berlalu malah mendapatkan beasiswa lagi. Kali ini, Agung dapat beasiswa kuliah penuh S-2 di Jepang. Kesempatan tersebut tidak disia- siakan, dia langsung mendaftar mengajukan diri.

Beda dari sebelumnya kerena bekalnya cukup, Agung bekerja menjadi asisten dosen sekalian kuliah. Hingga suami dari Valleria, berhasil mengantungi gelar S-2, yang kemudian diangkat menjadi general manager sebuah perusahaan Jepang.

Sayangnya karena tidak cocok dengan sistem yang ada; Agung mengundurikan diri. Namun dia sudah memiliki rencana ketika mau keluar tahun 2004. Waktu itu ada kenalan investor asal Surabaya yang mengajak kerja bareng. Mereka mencoba membuka usaha untuk beberapa waktu.

Tetapi tidak berjalan karena perbedaan prinsip mereka. Alhasil Agung resmi menjadi pengangguran bukannya sukses. Ini karena tidak sejalan dengan prinsip rekan bisnisnya tersebut. Ketika dia percaya diri memilih keluar, ternyata Agung malah terjebak jadi pengangguran/

Tidak lama dia menganggur. Agung yang memiliki banyak pengalaman kerja bisa kembali. Dia lalu bekerja mengelola sebuah bisnis biodisel tahun 2009. Sayang krisis keuangan global menghantam, dan perusahaan tempat Agung bekerja tutup; Agung terkena PHK.

"...persis menjelang kelahiran anak saya," imbuhnya, pas juga ketika Agung tengah merenovasi rumah. Sampai dua bulan dia menganggur tidak punya pekerjaan.

Kali ini dia memilih membuka usaha sendiri bukan pegawai. Bermodal kartu nama dan lantai dua rumah. Agung telah menyulap lantai duanya menjadi perusahaan mini. Ia mencoba membuka jasa konsultasi desain engineering.

Pertama dia mendapatkan klien perusahaan lem, dan Agung mendapatkan uang Rp.12 juta. Seorang teman, bernama Henri Prakoso, lantas mengajak Agung untuk mengolah air limbah. Mereka coba membuka bisnis biodisel.

Perusahaan Sendiri


Dalam perjalan Agung menyadari mereka membutuhkan perusahaan sendiri. Butuh naungan agar keduanya dipercaya buat menangani klien. Uang pribadi Rp.20 juta pun dirogohnya, yang kemudian menjadi modal fondasi PT. Aozora Agung Perkasa.

Pada Juli 2009, satu perusahaanya berdiri, dan Agung mencoba untuk memenangkan tender proyek pemerintah. Meski tidak yakin akan menang dia tetap berusaha. Menurut Agung, legalitas saja tidak cukup, perusahaan butuh pengalaman atau CV.

Pengalaman mengikuti tender merupakan awal mula. Gunanya meyakinkan calon klien kelak. Dan mengikuti tender proyek meski tidak menang, akan menuliskan nama perusahaan Agung di list. Dari sana lah sedikit tetapi pasti bisnisnya mulai mendapatkan klien baru.

Bisnis Aozora Agung Perkasa ialah mengolah limbah. Sejak berdiri 2009, mengerjakan pengolahan air limbah jadi air bersih. Bisnis air limbah sendiri mereka mendapatkan Rp.10 miliar untuk 2011 silam. Lantas dua bulan pertama tahun 2012 silam menghasilkan pendapatan Rp.11 miliar.

Pria kelahiran Temanggung, 8 November 1977, meningkatkan kerja kerasnya berlipat ganda. Meski saat itu dia sudah sukses menaikan pendapatan. Salah satu caranya membuka cabang di San Diego, Amerika Serikat, pada pertengahan 2012 silam. Aozora membuka cabang agar meningkatkan nilai jualnya sendiri.

Timingnya tepat ketika global warming menjadi isu. Kerusakan lingkungan mampu mendorong perusahaan air limbah dilirik pemerintah. Agung yang sudah mengantungi S-3 ini juga membantu pengusaha UKM buat mengolah limbah sendiri.

Tidak berhenti mengolah air limbah. Agung juga dikenal sebagai salah satu pelopor energi biodiesel. Ia memanfaatkan minyak sawit. Beberapa tahun belakangan dia memang aktif mengembangkan energi baru. Ia merubah minyak kelapa sawit menjadi pengganti BBM.

Bisnis bernama Ultrasonik Biodiesel ini memanfaatkan suara ultrasonik. Gunanya buat menjadi reaktor biodisel sendiri. Walau bukan hal baru, Agung mencoba menyempurnakan penelitian dan dikomersilkan buat membantu banyak orang. Menggunakan konsep reaktor alir tangki memberikan efisiensi produksi.

Pengusaha Odi Anindito Pemilik Coffee Toffee Putus Asa

Biografi Pengusaha Odi Aninditio


pemilik coffee toffee

Pengusaha Odi Anindito pernah merasa putus asa. Sang pemilik Coffee Toffee Indonesia juga pernah mengalami kegagalan. Suami dari pengusaha cantik Rakhmad Sinserja, yang keduanya rsama- sama mendirikan bisnis sendiri. Mereka bersama tetap semangat walau perasaan putus asa pernah terasa.

Mengambil sudut pandang Odi Aninditio sebagai wirausaha, setelah menulis kisah dari Rakhmad Sinserja. Melalui sudut pandang pria perebut hati wanita cantik berhijab ini. Dia merupakan suami Rakhma Sinseria, pengusaha muda yang punya banyak usaha, dan sukses setelah menikah.

Dia tercatat mendirikan aneka usaha. Odi adalah pemilik Solusi Intermedia, pendiri dan Direktur Manajer Coffee Toffee Indonesia, jadi salah satu pendiri bisnis donat dan kafe kopi bernama Double Dipp, pendiri sekaligus pemilik 8 Grams Technology, dan pendiri dan pemilik POPLine Productivity.

Odi merupakan contoh entrepreneur muda idaman. Kisah suksesnya bukan sekejap dan mau sukses bersama pasangan. Butuh waktu lama hingga Odi sampai di posisi sekarang ini. Ia beruntung karena bertemu sosok istri yang selalu mendukung.

Masa Remaja Pengusaha


Bermodal 5 juta rupiah, Odi dan Rakhma bersama -sama membangun bisnis warung kopi. Modal cuma satu gerobak sederhana, lalu dipelajarinya perilaku konsumen, dan membangun konsep bisnis sembari berjalan.

"Ibarat ABG, waktu itu kami seperti sedang mencari jati diri," ungkap Ria.

Gerainya atau warung kopinya dipenuhi pelajar dan mahasiswa. Bermodal ilmu pengetahuan tentang akutansi ternyata tidak cukup. Mereka terus mencoba walau kegagalan selalu ada. Keduanya lalu memilij fokus menyuguhkan kopi lokal.

Tapi bukan seperti warung kopi kamu bisa temui dijalanan loh. Mereka menawarkan kopi racikan bukan kemasan seperti umum. Ia mengkobinasikan modern dan tradisional. Satu model bisnis kafe jalanan khas Indonesia dengan cita rasa Internasional.

Pengusaha Odi Aninditio, asli Surabaya bernama khas Jawa, yang terlahir dari keluarga biasa saja. Ia memiliki latar pendidikan yang tidak berlebihan; berprestasi tapi wajar. Bukanlah lulusan luar negeri seperti pengusaha- pengusaha sukses atau yang orang pikirkan.

Dia pernah besekolah di salah satu SLTP favorit Surabaya. Odi merupakan alumni SMP 6 Surabaya. Ketika remaja dia selalu masuk tiga besar di kelasnya. Karena prestasi akademis itulah Odi sering dimasukan ke aneka lomba akademis antar sekolah.

Pendidikan baik membuatnya lulus menjadi salah satu dari 10 lulusan terbaik. Tapi menjadi sosok anak pintar ternyata tidak menantangnya. Selepas lulus, ia justru memilih sekolah favorit tapi terkenal badungnya, yakni di SMA 2.

"Saya memang memilih masuk di sini karena saya menghindari disebut anak- anak pintar," terang Odi. Di sanalah nila- nilai akademisnya berangsur menurun. Karena di sepanjang perjalanan, ia menemukan hal- hal baru; lebih menarik dari belajar.

Ia banyak menghabiskan waktu bersama teman, mengikuti aneka ektra- kulikuler, akhirnya menjadi sering bolos sekolah. Semakin jatuhlah nilai- nilai akedemisnya karena mulai jatuh cinta. Ya betul sekali, semenjak dirinya mengenal namanya wanita, Odi justru menjadi malas- malasan.

Fokusnya menjadi terbagi- bagi banyak. "Karena saya sudah pacaran sejak SMA, nilai pelajaran saya anjlok luar biasa," ungkapnya.

Tapi akunya tak begitu jelek- jelek amat sih. Bagi ukuran satu kelas itu bisa dibilang tidak terlalu buruk. Dia cukup berbangga buat pelajaran pokok, seperti Matematika dan Bahasa Inggris yang patut dibanggakan karena sangat menonjol

Jikalau ada ujian dua mata pelajaran tersebut akan berbeda. Jika nantinya teman- temannya sibuk fokus di kertas ujian, ia sudah asyik bersantai, bahkan kertasnya sudah pergi kesana- kemari.

"Jika ada bahasa Inggris hampir dapat dipastikan semua teman- teman satu kelas akan berpusat pada satu lembar kertas ujian saya dan setengah waktu dari ujian tersebut, lembar ujian saya sudah berjalan- jalan dari ujung- ke ujung," pungkasnya, dalam sebuah artikel di Majalahhwk.com.

Memilih Berwirausaha

Pengusaha muda 28 tahun ini ternyata punya jiwa kompetisi. Sayang jiwa entrepeneurship tersebut muncul belakangan hari. Itu baru muncul justru ketika dirinya ingin hidup sesuai keinginan. Kala itu, ia menemukan fakta, bahwa nilai ujiannya itu jelek mungkin tidak sangat jelek.

Tapi cukup membuatnya terhenyak hingga nampak bayangan buruk. Sikapnya menginginkan hidup agar tak mau disebut anak pintar; ternyata beruntut jatuhnya nilai. Keinginan kembali memperbaiki diri pada jalur seharusnya muncul ketika mendapat nilai rata- rata 6, tetapi tidak.

"Saat itu nilai kelulusan saya 46 dari 7 mata pelajaran. Rata- ratanya berarti cuma 6, sementara teman- teman saya memiliki nilai kelulusan diatas 50, atau rata- rata 8," kenangnya.

Dia bertekat memberbaiki diri. Terutama ketika dia menjalankan ujian memasuki jenjang universitas, "Saya benar- benar berkonsentrasi pada ujian penerimaan universitas," pungkas Odi. Dan, memang waktu tak dibuang- buangnya agar bisa masuk ke universitas.

Ingin membuktikan diri akhirnya dipilihlah universitas terbaik. Saat itu, Obi memilih membidik jurusan paling sulit di univeritas bergengsi. Yaitu mencoba masuk Institut 10 November Surabaya atau ITS, atau orang- orang Surabaya menyebutnya kepanjangan dari Institut Teknologi Surabaya.

Jurusan disana yang memiliki rating paling tinggi ialah jurusan Informatika. Dia memperhitungkan pula aspek masa depan. Jadi bukanlah sekedar bertaruh buat omong kosong tetapi direncanakan.

"Saya buktikan, saya bisa masuk di Jurusan Teknik Informatika, ITS," ujar Odi.

Singkat ceritanya dia berhasil, bahkan bisa beradaptasi cepat di lingkungan baru. Dia menjelaskan apa- apa yang dipelajarinya disana adalah tentang logika. Di universitas, ia kembali ke masa- masa SMA, dimana ia tak begitu menonjol kembali dalam hal akademis.

Mungkin faktor kurang ahli menjadi masalahnya. Dan, Odi mengakuinya kepada pewarta masalahnya ada di kuliah seperti programming. Baik dosen dan teman- teman melihat ini kelemahan Odi ketika kuliah.

Namun, Odi santai saja, dianggapnya bukanlah hal prinsipal. Hingga dia sadar bahwa ada sesuatu hal ketika berbicara tentang perlakukan di kelas. Bukan soal sosial ditiap harinya, tapi menyangkut kegiatan di laboratorium, ketika ada kelas praktik; Odi selalu menjadi pilihan terakhir.

Dia bahkan seolah ditolak teman- teman sekelasnya ketika masa praktikum. Tidak ada setupun rela dimasukinya sebagai anggota tim. Inilah hal membuatnya sakit hati; tersurutlah perasaan ketika masa sekolah menengah!

Dia tertantang membuat kelompok sendiri. Akan tetapi tidak ada yang mau lagi- lagi, hingga, akhirnya cuma dia sendiri anggotanya dalam satu tim. Yang terjadi justru dirinya mendapatkan nilai A ketika selesai kelas praktikum baru. Dia sadar bahwa dia suka pembuktian diri lebih baik lagi.

Namun, justru adanya ketika dirinya merasa dia disepelekan. Jikalau hari- hari biasanya, Odi malah menjadi sosok mudah bergaul, dia sendiri tak mau ambil pusing soal "ribetnya" kampus. Itu juga soal bagaimana ia menyelesaikan tugas akhirnya.

Para dosen memandangnya tak mampu soal mengerjakan programming. Merasa tertantang, Odi malah masuk mata kuliah sulit tersebut sebagai utama. Dia bahkan memilih dosen pembimbing pun dipilihnya "yang killer".

Ketika itu, ketika mahasiswa lain membutuhkan waktu 3 tahun untuk lulus, Odi justru membuktikan mampu menyelesaikan itu dalam waktu cuma 1 tahun saja. Ditengah kuliah panjangnya, kurang- lebih lima tahun, Odi menyempatkan diri mengasah ilmu lain. Ia sempat mengajukan satu tahun cuti.

Cuma buat berkuliah pendek di Australia, mengambil jurusan Small Business dan International Business Marketing. Dalam tempo satu tahun tersebut maka pandangannya berubah 180 derajat. Dia melihat sisi lain wirausaha.

Utamanya wawasan tentang menjalankan bisnis serta pandangan masa kini atas kewirausahaan. Menurutnya paling menonjol dimasa itu, ketika mengambil kuliah pendek, adalah Odi mendapatkan apa yang disebut self- confident.

Terutama, selepas dia mereguk gelar Diploma dari Australia, membuatnya lebih percaya diri terutama dalam memulai bisnis.

"Kepercayaan diri saya melambung setelah saya menyelesaikan diploma saya, dan ini dapat dilihat dari orang- orang terdekat saya, mengenai bagaimana saya berbicara dan bagaimana saya mengemukakan pendapat saya," terganya.

Disisi lain, Odi sempatkan belajar mengenai kopi ketika menyelesaikan diploma. Dia mulai belajar tentang nilai eksotisnya -menarik minatnya mendalaminya. Odi benar- benar buta soal kopi. Cumalah hasrat ingin tau mendorongnya masuk lebih dalam.

Berbisnis kopi


Unik jikalau ditanya mau besarnya menjadi apa. Karena orang tuanya sosok pengusaha. Ini membawa sosok Odi menjadi tidak memikirkan "kerja apa" lebih ke apa yang ia bisa kerjakan sekarang. Bahkan ia mengaku tak punya bayangan mau bekerja dimana selepas kuliah.

Dia cuma maunya berusaha mandiri saja.

"Satu hal yang pasti dalam hidup saya, bahwa saya akan berusaha untuk mandiri, dengan membangun dan membesarkan bisnis saya. Sebuah bisnis yang saya mau bangun mulai dari awal dan akan berkembang jadi satu perusahaan (saya harapkan) yang disegani di negeri ini," jelasnya lagi.

Soal bisnis kopi, semuanya dimulai karena kegemarannya menyeduh kopi instan. Dia bahkan bisa membuat kopi racikan bermodal resep bungkusnya loh. Selain itu jikalau kurang mantap, terkadang, Odi akan jalan- jalan ke berbagai kafe.

Setau Odi bahwa kopi- kopi seduhan itu apapapun. Baik di kafe- kafe ataupun tidak semuanya berasal dari kopi sasetan. Awalnya, dia sendiri tak sadar bahwa kopi berasal dari sebuah biji, yang melalui serangkaian proses pemasakan.

Mulainya ia sadar justru ketika masuk kuliah diploma di Australia. Tahun 2004, ketika itu ia mengambil satu program diploma. Dimana ia cuma berkuliah 2 kali dalam seminggu. Itupun cuma berisi kuliah tak lebih dari 4 jam tiap sesi.

Odi lantas berpikir bagaimana kalau mencari tantangan baru. Hingga seorang teman menawari dia pekerjaan di restoran pizza. Gayung bersambut, diterimanya pekerjaan tersebut digunakannya lagi buat belajar kebudayaan barat.

Hingga suatu hari, seorang teman dari teman yang menawarinya pekerjaan datang. Ia menawari pekerjaan sebagai "bar helper", tempat Coffee Shop dimana dirinya bekerja. Bekerja disana sekitar lebih dari 5 bulan, 4 hari dalam seminggu, setidaknya ada 5 jam per- hari.

Sejak disina, pengalaman mengajarinya bahwa kopi tak terbuat dari kopi sesetan. Tapi merupakan pengalaman panjang memproses aneka jenis biji kopi. Dia benar- benar bertanya- tanya bagaimana caranya.

"Saya belajar mengenai bagaimana cara persiapan yang benar sebuah minuman kopi, mulai dari biji kopi, penggilingan sampai dengan penyeduhan," Odi melanjutkan.

Sepulang dari Australia, Odi punya misi khusus, terutama ketika menyadari Indonesia termasuk tiga besar penghasil biji kopi dunia. Sayangnya justru orang belajar yang membuat kopi berasal dari luar negeri. Dia kemudian mengerjakan ide bisnis Coffee Toffee bersama- sama sang istri.

Tahun 2006, Odi bermodal 5 juta rupiah, dimana disaat itu angka tersebut bisa dibilang kecil. Bermodal uang segitu dimulailah bisnis sederhana bermodal gerobak dorong. Tidak cuma belajar dari pengalaman di Negara Kanguru.

Odi bermodal informasi dari teman- teman, saudara, bahkan sampai mencari di Internet. Konsep bisnisnya ialah kopi khas Indonesia bercitarasa kedai modern. Ia menawarkan kopi khas Indonesia. Mulai dari kopi Arabica dan Robusta diraciknya on the spot.

Idenya masih melalang buana lepas. Dia masih melihat model bisnis seperti dirinya masih sepi. Kebanyakan kita ditawari kopi racikan khas kafe. Disaat itu, ia masih merasa adanya pasar bisnis masih terbuka luas bagi mereka.

Pemilik Coffee Toffee Pernah Putus Asa


Masalah pun datang, ternyata ketika dia menjalankan bisnis Coffee Toffee, Odi telah punya aneka usaha "sambilan". Mulai dari bisnis clothing, tambak ikan, kayu, dan lain- lain. Itu dikerjakan benar- benar berbasiskan passion kewirausahaan tanpa embel harus untung.

"Saya langsung buka bisnis baru dan ketika punya dana lalu buka lagi dan buka lagi dan ini berjalan begitu terus. Nah saat itu salah satu usaha saya mengalami yang tidak baik dan ini berpengaruh kepada sembilan perusahaan lain," tuturnya.

Hingg dia teretipu patner bisnis sampai merembet ke bisnis lain. Bukan hal mengejutkan ketika mungkin kamu memasuki fase ini. Ketika bisnis kamu telah berkembang super pesat, dan tiba- tiba semua hilang berturut- turut.

Bahkan ia mulai bertanya eksistensi diri, seorang pengusaha  apakah dirinya layak. Sambil melihat ke cermin,  pikiran- pikiran liar menyeruak di benaknya, "apakah saya ditakdirkan untuk menjadi orang miskin. Apakah wajah saya memperlihatkan sebagai orang miskin?"

Hingga, pikiran positif tumbuh, hingga dalam benarknya berpikir, "tidak, saya tidak dilahirkan sebagai orang miskin. Karena pada dasarnya tidak ada orang miskin selama masih ingin berusaha. Itu bekal jawaban yang dibutuhkan Odi untuk bangkit kembali.

Hingga 2009, seorang investor menghampirinya, dan menawarkan sebuah perjanjian bisnis investasi super besar. Bayangkan uang Rp.1,5 miliar telah ada didepan mata sebagai bentuk investasi. Dana itu rencananya buat mengembangkan Coffee Toffee.

Konsep kedai miliknya harus dirubah 180%, memakai konsep dine- in, atau lebih dikenalnya adalah konsep coffee shop. Fokus bisnis menyasar pasaran anak muda. Odi menyetujui konsep tersebut dan bersama- sama membangun bisnis kembali.

Konsep coffee shop menjadi lebih nyaman. Dimana orang- orang akan bisa masuk bercengkrama didalamnya. Harga jualnnya pun melonjak, itu seiring dengan kualitas kopi dan kepercayaan dari masyarakat, yakni per- gelasnya mencapai Rp.35.000- Rp.50.000.

Coffee Toffee mampu memproduksi biji kopi sendiri. Bermodal hubungan baik dengan suplier biji kopi lokal. Itu sudah juga diperhitungkan biaya produksi. Odi ingin kopinya menyasar kalangan menangah- bawah, tetapi tetap memiliki kesan elegan- berkualitas seperti kedai kopi asal Amerika.

Penjualan Coffee Toffee sendiri menembus angka 700 ribu gelas kopi. Dimana telah tersebar ke 180 gerai berbeda di penjuru Indonesia. Soal pengunjung, Odi menjelaskan, cabang Kalimantan menjadi yang terlaris.

Twitter: @odianindito

Menjadi Pengusaha Bakso Geranat Abdul Anziy

Biografi Pengusaha Abdul Anziy


pengusaha bakso geranat
 
Berikut tips menjadi pengusaha bakso geranat Abdul Anziy. Pria kelahiran 8 Agustus 1991, yang tak bermimpi muluk membuka usaha, hanya menjalankan hidup. Dia berkuliah di Politeknik Universitas Jombang. Pernah ingin masuk Politeknik Universitas Sriwijaya tetapi gagal.

Begitu lulus sekolah dia tak lantas melanjutkan kuliah dulu. Sempat Azis mengikuti kursus komputer setahun di Palkomtek Palembang. Disini dia juga diajarkan bagaimana berdagang komputer. Aziz sempat bekerja sambilan menjualkan komputer milik Palkomtek.

Bulan ke empat selepas kursus dia ditawari bekerja di Palkomtek. Ia lalu mengajar desain grafis yang bertahan delapan bulan. Kemudian Aziz lanjut pelatihan kewirausahaan di YEC Palembang pada Oktober 2010. Ia lanjut masuk kuliah di AMIK Bina Sriwijaya pada akhir 2010 silam.

Usaha Bakso Geranat


Berkuliah selama dua semester datang kesempatan praktik. Dari pengalaman mengikuti pelatihan, dia mencoba ikut perlombaan wirausaha yang diadakah oleh kampus. Ketika itu dia sama sekali belum punya pengalaman. Hanya mengikuti saran dari orang tua Aziz, yang bekerja sebagai tukang becak.

Dia disarankan sang ayah untuk mencoba jualan aksesoris. Ide sederhana yang dia tuangkan dalam bentuk bisnis aksesoris kalung. Bisnis berkonsep kalung custom yang diukir nama khas Jepara. Usaha itu tak bertahan lama hingga akhirnya tutup.

Di Agustus 2010, masih dengan semangat kewirausahaan, Aziz mulai mencari bisnis apa yang bisa dia lakukan. Ayah Aziz kembali memberi ide melalui usaha sambilan keluarga. Ketika tidak menarik becak, ternyata ayahnya juga berjualan bakso buatan sendiri.

Usaha bakso tersebut memang sampingan bukan utama. Ayahnya cuma membantu tukang bakso sesama perantau Jawa.  Maka Aziz berniat untuk mematenkan ide bisnis ini. Siapa sangka sang ayah memiliki resep bakso sendiri. Inilah cikal bakal dari Bakso Geranat yang merupakan resep sang ayah.

Ayah Aziz berjualan bakso sendiri memakai gerobak orang. Tetapi tidak tentu, dia hanya berjualan bila sang pemilik gerobak pulang kampung. Ayah Aziz lalu menyarankan putranya untuk berjualan bakso. Setelah berdiskusi dengan anggota keluarga lain, maka Aziz memutuskan untuk usaha ini.

Diputuskan untuk membuka usaha bakso bersama- sama. Bergotong royong hingga ayahnya tak perlu mengayuh becak, dan ibunya tak perlu jualan jamu. Bermodal uang Rp.38 juta, yang Rp.20 juta hasil pinjam Bank, sedangkan sisanya merupakan hasil perlombaan BDEC 2011.

Sisanya merupakan uang tabungan mengajar dan milik ayah. Pertama Aziz menyewa tempat di Jalan Inspektur Marzuki, di depan SMA 11 seharga Rp.6 juta pertahun. "Saya menyewa tempat itu selama tiga tahun," tuturnya. Dia lalu berinvestasi ke gerobak, peralatan masak, papan menu, neon box.dll.

Dia berjualan bakso buatan sendiri yang masih memakai tangan. Aziz percaya diri berkat latar sales, desain grafis, dan kemampuang sang ayah. Di Pelembang sendiri, banyak pedagang bakso ukuran besar yang berasal dari Wonogiri atau Solo.

"Saya mencoba segala macam bakso yang ada di Palembang, sekalian riset pasar," terangnya.

Aziz berpikir cara menghasilkan bakso tidak biasa. Pada saat itu namanya bakso pedas masih belum seramai sekarang. Ia pun memutuskan membuat bakso pedas. Konsep tersebut masih terbuka luas karena belum ada saingan.

Dia menggabungkan konsep jajanan pedas ke dalam bakso. Kemudian ia mengemas bakso tersebut dalam brand Bakso Mas Aziz. Dia lantas mendaftarkan merek Mas Aziz pada Juli 2012. Ternyata itu sudah dipakai nama orang lain. Dia lalu mendaftarkan dengan nama Bakso Geranat pada Juli 2012.

Ternyata nama Bakso Geranat kembali telah dimiliki orang lain. Ia memutuskan menamakan usaha ini Bakso Geranat Mas Aziz. Uang pendaftaran merupakan hasil perlombaan, uang senilai 1 juta dari Wirausaha Muda Mapan Hatta Rajasa.

Menjadi Pengusaha Bakso Geranat


Pertama kali membuka usaha dia hanya menjual 10 mangkuk. Para pelanggan pun marah lantaran tak tau kalau baksonya pedas. Aziz memang agak jahil jadi kemarahan mereka "disengaja". Yakni ketika mereka memesan, Aziz cuma menawari pilih bakso besar atau kecil- kecil tanpa detail bakso apa.

Mungkin orang cuma paham rasa pedas berasa dari kuah. Ternyata di dalam bakso besar mengandung geranat pedas. "Ketika mereka memesan bakso yang besar, maka saya akan memberikanya bakso pedas," ujarnya. Meskipun komplain berdatangan, tetapi toh mereka kembali lagi karena ketagihan.

Sejak kejadian tersebut maka timbul ide memuat tagline. Bakso Geranat Mas Aziz "Pedasnya Bikin Ketagihan". Tempatnya buka dari jam 08.00- 21.00 dan semakin laris manis. Agar bisa menaikan omzet, Aziz mengakali lewat perlombaan berhadiah Rp.1 juta, lombanya makan bakso geranat.

Agar dia bisa mengajak banyak orang maka dicarilah sponsor. Brand Hydro menjadi sponsor hingga bisa beriklan di surat kabar. Biaya pendaftaran Rp.20.000 dan menarik 120 peserta. Walau nampak cuma lomba makan, ternyata hasil eksposur bisnis ini sangatlah luar biasa.

Dia mengundang dari koran sampai televisi swasta. Sebut saja ada Sriwijaya Pos, Sumatera Express, TVRI,  PAAL TV, dan Sriwijaya TV. Mereka tertarik untuk memberitakan perlombaan makan bakso tersebut. Ini berhasil menaikan nama Bakso Granat Mas Aziz hingga dikenal seantero Palembang.

Soal lain dia mengembangkan aneka menu masakan. Mulai dari bakso geranat, rawit, lombok ulek, ranjau dan basoka. Kesan yang akan diambil memang tegas layaknya tentara. Agar lebih menarik lagi dia menyeratakan sloga. Kalau ada pembeli datang, karyawan akan segera berkata layaknya tentara.

Karyawan akan menyambut, "Lapor Pak! Mau makan apa?", kemudian mereka akan menutup dengan "Siap laksanakan!". Bakso miliknya juga masih mengambil nama Jawa seperti asal- usulnya. Seperti kata "lombok" yang berarti cabai bila di Jawa.

Agar lebih sukses dia mempromosikan ke online dengan kreatif. Aziz membuat akun Twitter yang bernama @aziz_geranat. Untuk Facebook, dia nebeng ke akun group bernama Wisata Kuliner, yang kebetulan milik temannya yang lebih banyak pengikut.

Bisnis Bakso Terus


Dia juga memanfaatkan iklan melalui akun @kicaupalembang. Termasuk menggunakan iklan selama sebulan penuh di Koran Sriwijaya. Mengapa mendaftar di akun Wisata Kuliner terdapat alasan. Itu ternyata hasil analisa, bahwa pemilik fanspage bernama umum lebih banyak pengikut.

Pengusaha muda ini lalu membuat kartu anggota. Banyak kelebihan pemegang kartu, mulai dari yang memiliki nama tertentu dapat diskon. Adapula diskon malam hari pukul 18.00- 21.00 yang masuk jam- jam sepi. Diskon 50% berlaku bagi anggota yang membawa pacar dijam- jam tersebut.

Aziz menawarkan kartu anggota ke anak- anak SMP dan SMA. Dia juga membuat umbul- umbul penunjuk arah. Untuk budget iklan sosmed, ia rela mengeluarkan uang Rp.1 juta. Adapula voucher makan gratis yang rutin dibagikan melalui radio anak muda Palembang.

Pengusaha cerdas ini juga mengelola emosi mereka lewat group chat. Pesan- pesan penyemangat akan dishare ke seluruh chat. Juga termasuk menyebarkan aneka promo melalui pesan berantai. Ada pula program promo makan gratis bagi mereka yang membawa pelanggan baru.

Ia menceritakan banyak halangan datang ketika wirausaha. Suatu hari datang pesaing yang terbuka menunjukan menu baru. Pesaing itu menujukan bakso dengan konsep geranat. Aziz tak minder ketika ditunjukan itu. Bahkan dia berani merasakan sendiri rasa bakso tersebut dan ternyata tak seenak itu.

Dia mengatakan masalah utama ialah tidak konsisten. Penjual bakso lain nampak kurang fokus pada menu bakso geranat. Mereka kurang konsisten pada rasa bakso geranat. Walau mereka juga memakai konsep perlombaan, faktanya bakso geranat miliknya lebih enak dan pelopor.

Menurutnya bisnis harus fokus sebelum memulai ide bisnis lain. Dia mendapatkan saran bisnis dari boss Kebab Baba Rafi, Hendy Setyono. Saran bahwa harus fokus mengerjakan satu bisnis terlebih dahulu. Jangan terburu- buru untuk menerapkan konsep lain dengan harapan menaikan untung.

Soal keuntungan taukah kamu bahwa Aziz cuma untuk Rp.800 ribu di awal. Kemudian itu naik ke Rp.1- 4 juta berkat promosi yang gencar. Dia menambahkan bisnis bakso untungnya tipis. Tetapi itu bisa didukung dengan berjualan minuman dingin.

Gerai pertama ia mengatakan mampu mengolah 13kg perhari, sedangkan yang kedua mengolah 6- 7kg. Saat berita ini dipublish di SWA.co.id, dikatakan dirinya tengah merencanakan sistem franchise sendiri. Dengan investasi Rp.35 juta maka rekan bisnis sudah mendapatkan jalan membuka bisnis ini.

Soal hambatan klise masalah bahan baku mahal. Terutama bahan baku cabai dan bawang. Kalau soal operasional sudah tak masalah. Gerainya sudah punya lahan parkir luas untuk motor dan mobil. Soal bakso pun begitu, dia telah memilik pabrik pengolahan bakso sendiri yang sudah bermesin.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba