Mengolah Air Limbah Menjadi Bisnis Biodiesel

Profil Pengusaha Agung Sri Hendarsa 


pengusaha biodisel
 
Bayangkan kita mengolah air limbah menjadi enegeri terbarukan. Bisnis biodisel milik Agung berasal dari passion. Komitmen kewirausahaan yang membawa pria berkacamata ini jauh. Anak dokter ini mengaplikasikan bahwa penemu itu pengusaha.

Dimulai sejak bangku Sekolah Menengah, bapak dua anak asal Pekalongan, Jawa Tengah, yang telah sudah mengikuti aneka lomba penelitian remaja. Lantas itu berlanjut ketika dia masuk ke jenjang universitas.

Pria bernama lengkap Agung Sri Hendarsa, yang melakukan penelitian tentang limbah batik. Dia mengaku banyak belajar dari orang Jepang. Mereka memilik fokus ketika mengerjakan sesuatu. Orang Jepang fokus pada bidang bisnis dijalankan mereka sampai sukses.

Lulus S-1 Teknik Kimia, tidak tanggung tetapi lulusan Universitas Gajah Mada tahun 2000. Ia lantas dapat beasiswa kuliah pendek ke Jepang. Satu tahun dia mendapatkan pendidikan Jepang. Akhirnya Agung jatuh cinta dan memilih kuliah beneran S-2 di Jepang.

Sayangnya, kuliah di Jepang tidak semudah dibayangkan, kalau kuliah beneran Agung merasakan tekanan yang berbeda. Belajar di Jepang butuh fokus tingkat tinggi. Sementara itu Agung bukan lah anak orang kaya.

Jadilah dia bekerja serabutan, tidak ada biaya, dia juga nyambi menjadi dokter puskesmas. Agung pernah bekerja jadi pencuci piring, cuci mobil, karyawan pabrik tofu, menjadi buruh pabrik plastik juga dia pernah, dan bekerja menjadi petugas pembersih salju.

"Saya men-DO-kan diri," tuturnya lanjutkan.

Tahun 2002, ia memilih kembali ke Indonesia, kemudian bekerja di perusahaan kimia. Pengalaman bekerja keras menempa Agung berwirausaha. Pola pikirnya berkembang ketika harus membiayai diri sendiri. Walau gagal, Agung tak pernah menyesal justru bersyukur karena menjadi sosok tangguh.

Bisnis energi


Bekerja di perusahaan kimia, dua tahun berlalu malah mendapatkan beasiswa lagi. Kali ini, Agung dapat beasiswa kuliah penuh S-2 di Jepang. Kesempatan tersebut tidak disia- siakan, dia langsung mendaftar mengajukan diri.

Beda dari sebelumnya kerena bekalnya cukup, Agung bekerja menjadi asisten dosen sekalian kuliah. Hingga suami dari Valleria, berhasil mengantungi gelar S-2, yang kemudian diangkat menjadi general manager sebuah perusahaan Jepang.

Sayangnya karena tidak cocok dengan sistem yang ada; Agung mengundurikan diri. Namun dia sudah memiliki rencana ketika mau keluar tahun 2004. Waktu itu ada kenalan investor asal Surabaya yang mengajak kerja bareng. Mereka mencoba membuka usaha untuk beberapa waktu.

Tetapi tidak berjalan karena perbedaan prinsip mereka. Alhasil Agung resmi menjadi pengangguran bukannya sukses. Ini karena tidak sejalan dengan prinsip rekan bisnisnya tersebut. Ketika dia percaya diri memilih keluar, ternyata Agung malah terjebak jadi pengangguran/

Tidak lama dia menganggur. Agung yang memiliki banyak pengalaman kerja bisa kembali. Dia lalu bekerja mengelola sebuah bisnis biodisel tahun 2009. Sayang krisis keuangan global menghantam, dan perusahaan tempat Agung bekerja tutup; Agung terkena PHK.

"...persis menjelang kelahiran anak saya," imbuhnya, pas juga ketika Agung tengah merenovasi rumah. Sampai dua bulan dia menganggur tidak punya pekerjaan.

Kali ini dia memilih membuka usaha sendiri bukan pegawai. Bermodal kartu nama dan lantai dua rumah. Agung telah menyulap lantai duanya menjadi perusahaan mini. Ia mencoba membuka jasa konsultasi desain engineering.

Pertama dia mendapatkan klien perusahaan lem, dan Agung mendapatkan uang Rp.12 juta. Seorang teman, bernama Henri Prakoso, lantas mengajak Agung untuk mengolah air limbah. Mereka coba membuka bisnis biodisel.

Perusahaan Sendiri


Dalam perjalan Agung menyadari mereka membutuhkan perusahaan sendiri. Butuh naungan agar keduanya dipercaya buat menangani klien. Uang pribadi Rp.20 juta pun dirogohnya, yang kemudian menjadi modal fondasi PT. Aozora Agung Perkasa.

Pada Juli 2009, satu perusahaanya berdiri, dan Agung mencoba untuk memenangkan tender proyek pemerintah. Meski tidak yakin akan menang dia tetap berusaha. Menurut Agung, legalitas saja tidak cukup, perusahaan butuh pengalaman atau CV.

Pengalaman mengikuti tender merupakan awal mula. Gunanya meyakinkan calon klien kelak. Dan mengikuti tender proyek meski tidak menang, akan menuliskan nama perusahaan Agung di list. Dari sana lah sedikit tetapi pasti bisnisnya mulai mendapatkan klien baru.

Bisnis Aozora Agung Perkasa ialah mengolah limbah. Sejak berdiri 2009, mengerjakan pengolahan air limbah jadi air bersih. Bisnis air limbah sendiri mereka mendapatkan Rp.10 miliar untuk 2011 silam. Lantas dua bulan pertama tahun 2012 silam menghasilkan pendapatan Rp.11 miliar.

Pria kelahiran Temanggung, 8 November 1977, meningkatkan kerja kerasnya berlipat ganda. Meski saat itu dia sudah sukses menaikan pendapatan. Salah satu caranya membuka cabang di San Diego, Amerika Serikat, pada pertengahan 2012 silam. Aozora membuka cabang agar meningkatkan nilai jualnya sendiri.

Timingnya tepat ketika global warming menjadi isu. Kerusakan lingkungan mampu mendorong perusahaan air limbah dilirik pemerintah. Agung yang sudah mengantungi S-3 ini juga membantu pengusaha UKM buat mengolah limbah sendiri.

Tidak berhenti mengolah air limbah. Agung juga dikenal sebagai salah satu pelopor energi biodiesel. Ia memanfaatkan minyak sawit. Beberapa tahun belakangan dia memang aktif mengembangkan energi baru. Ia merubah minyak kelapa sawit menjadi pengganti BBM.

Bisnis bernama Ultrasonik Biodiesel ini memanfaatkan suara ultrasonik. Gunanya buat menjadi reaktor biodisel sendiri. Walau bukan hal baru, Agung mencoba menyempurnakan penelitian dan dikomersilkan buat membantu banyak orang. Menggunakan konsep reaktor alir tangki memberikan efisiensi produksi.

Pengusaha Odi Anindito Pemilik Coffee Toffee Putus Asa

Biografi Pengusaha Odi Aninditio


pemilik coffee toffee

Pengusaha Odi Anindito pernah merasa putus asa. Sang pemilik Coffee Toffee Indonesia juga pernah mengalami kegagalan. Suami dari pengusaha cantik Rakhmad Sinserja, yang keduanya rsama- sama mendirikan bisnis sendiri. Mereka bersama tetap semangat walau perasaan putus asa pernah terasa.

Mengambil sudut pandang Odi Aninditio sebagai wirausaha, setelah menulis kisah dari Rakhmad Sinserja. Melalui sudut pandang pria perebut hati wanita cantik berhijab ini. Dia merupakan suami Rakhma Sinseria, pengusaha muda yang punya banyak usaha, dan sukses setelah menikah.

Dia tercatat mendirikan aneka usaha. Odi adalah pemilik Solusi Intermedia, pendiri dan Direktur Manajer Coffee Toffee Indonesia, jadi salah satu pendiri bisnis donat dan kafe kopi bernama Double Dipp, pendiri sekaligus pemilik 8 Grams Technology, dan pendiri dan pemilik POPLine Productivity.

Odi merupakan contoh entrepreneur muda idaman. Kisah suksesnya bukan sekejap dan mau sukses bersama pasangan. Butuh waktu lama hingga Odi sampai di posisi sekarang ini. Ia beruntung karena bertemu sosok istri yang selalu mendukung.

Masa Remaja Pengusaha


Bermodal 5 juta rupiah, Odi dan Rakhma bersama -sama membangun bisnis warung kopi. Modal cuma satu gerobak sederhana, lalu dipelajarinya perilaku konsumen, dan membangun konsep bisnis sembari berjalan.

"Ibarat ABG, waktu itu kami seperti sedang mencari jati diri," ungkap Ria.

Gerainya atau warung kopinya dipenuhi pelajar dan mahasiswa. Bermodal ilmu pengetahuan tentang akutansi ternyata tidak cukup. Mereka terus mencoba walau kegagalan selalu ada. Keduanya lalu memilij fokus menyuguhkan kopi lokal.

Tapi bukan seperti warung kopi kamu bisa temui dijalanan loh. Mereka menawarkan kopi racikan bukan kemasan seperti umum. Ia mengkobinasikan modern dan tradisional. Satu model bisnis kafe jalanan khas Indonesia dengan cita rasa Internasional.

Pengusaha Odi Aninditio, asli Surabaya bernama khas Jawa, yang terlahir dari keluarga biasa saja. Ia memiliki latar pendidikan yang tidak berlebihan; berprestasi tapi wajar. Bukanlah lulusan luar negeri seperti pengusaha- pengusaha sukses atau yang orang pikirkan.

Dia pernah besekolah di salah satu SLTP favorit Surabaya. Odi merupakan alumni SMP 6 Surabaya. Ketika remaja dia selalu masuk tiga besar di kelasnya. Karena prestasi akademis itulah Odi sering dimasukan ke aneka lomba akademis antar sekolah.

Pendidikan baik membuatnya lulus menjadi salah satu dari 10 lulusan terbaik. Tapi menjadi sosok anak pintar ternyata tidak menantangnya. Selepas lulus, ia justru memilih sekolah favorit tapi terkenal badungnya, yakni di SMA 2.

"Saya memang memilih masuk di sini karena saya menghindari disebut anak- anak pintar," terang Odi. Di sanalah nila- nilai akademisnya berangsur menurun. Karena di sepanjang perjalanan, ia menemukan hal- hal baru; lebih menarik dari belajar.

Ia banyak menghabiskan waktu bersama teman, mengikuti aneka ektra- kulikuler, akhirnya menjadi sering bolos sekolah. Semakin jatuhlah nilai- nilai akedemisnya karena mulai jatuh cinta. Ya betul sekali, semenjak dirinya mengenal namanya wanita, Odi justru menjadi malas- malasan.

Fokusnya menjadi terbagi- bagi banyak. "Karena saya sudah pacaran sejak SMA, nilai pelajaran saya anjlok luar biasa," ungkapnya.

Tapi akunya tak begitu jelek- jelek amat sih. Bagi ukuran satu kelas itu bisa dibilang tidak terlalu buruk. Dia cukup berbangga buat pelajaran pokok, seperti Matematika dan Bahasa Inggris yang patut dibanggakan karena sangat menonjol

Jikalau ada ujian dua mata pelajaran tersebut akan berbeda. Jika nantinya teman- temannya sibuk fokus di kertas ujian, ia sudah asyik bersantai, bahkan kertasnya sudah pergi kesana- kemari.

"Jika ada bahasa Inggris hampir dapat dipastikan semua teman- teman satu kelas akan berpusat pada satu lembar kertas ujian saya dan setengah waktu dari ujian tersebut, lembar ujian saya sudah berjalan- jalan dari ujung- ke ujung," pungkasnya, dalam sebuah artikel di Majalahhwk.com.

Memilih Berwirausaha

Pengusaha muda 28 tahun ini ternyata punya jiwa kompetisi. Sayang jiwa entrepeneurship tersebut muncul belakangan hari. Itu baru muncul justru ketika dirinya ingin hidup sesuai keinginan. Kala itu, ia menemukan fakta, bahwa nilai ujiannya itu jelek mungkin tidak sangat jelek.

Tapi cukup membuatnya terhenyak hingga nampak bayangan buruk. Sikapnya menginginkan hidup agar tak mau disebut anak pintar; ternyata beruntut jatuhnya nilai. Keinginan kembali memperbaiki diri pada jalur seharusnya muncul ketika mendapat nilai rata- rata 6, tetapi tidak.

"Saat itu nilai kelulusan saya 46 dari 7 mata pelajaran. Rata- ratanya berarti cuma 6, sementara teman- teman saya memiliki nilai kelulusan diatas 50, atau rata- rata 8," kenangnya.

Dia bertekat memberbaiki diri. Terutama ketika dia menjalankan ujian memasuki jenjang universitas, "Saya benar- benar berkonsentrasi pada ujian penerimaan universitas," pungkas Odi. Dan, memang waktu tak dibuang- buangnya agar bisa masuk ke universitas.

Ingin membuktikan diri akhirnya dipilihlah universitas terbaik. Saat itu, Obi memilih membidik jurusan paling sulit di univeritas bergengsi. Yaitu mencoba masuk Institut 10 November Surabaya atau ITS, atau orang- orang Surabaya menyebutnya kepanjangan dari Institut Teknologi Surabaya.

Jurusan disana yang memiliki rating paling tinggi ialah jurusan Informatika. Dia memperhitungkan pula aspek masa depan. Jadi bukanlah sekedar bertaruh buat omong kosong tetapi direncanakan.

"Saya buktikan, saya bisa masuk di Jurusan Teknik Informatika, ITS," ujar Odi.

Singkat ceritanya dia berhasil, bahkan bisa beradaptasi cepat di lingkungan baru. Dia menjelaskan apa- apa yang dipelajarinya disana adalah tentang logika. Di universitas, ia kembali ke masa- masa SMA, dimana ia tak begitu menonjol kembali dalam hal akademis.

Mungkin faktor kurang ahli menjadi masalahnya. Dan, Odi mengakuinya kepada pewarta masalahnya ada di kuliah seperti programming. Baik dosen dan teman- teman melihat ini kelemahan Odi ketika kuliah.

Namun, Odi santai saja, dianggapnya bukanlah hal prinsipal. Hingga dia sadar bahwa ada sesuatu hal ketika berbicara tentang perlakukan di kelas. Bukan soal sosial ditiap harinya, tapi menyangkut kegiatan di laboratorium, ketika ada kelas praktik; Odi selalu menjadi pilihan terakhir.

Dia bahkan seolah ditolak teman- teman sekelasnya ketika masa praktikum. Tidak ada setupun rela dimasukinya sebagai anggota tim. Inilah hal membuatnya sakit hati; tersurutlah perasaan ketika masa sekolah menengah!

Dia tertantang membuat kelompok sendiri. Akan tetapi tidak ada yang mau lagi- lagi, hingga, akhirnya cuma dia sendiri anggotanya dalam satu tim. Yang terjadi justru dirinya mendapatkan nilai A ketika selesai kelas praktikum baru. Dia sadar bahwa dia suka pembuktian diri lebih baik lagi.

Namun, justru adanya ketika dirinya merasa dia disepelekan. Jikalau hari- hari biasanya, Odi malah menjadi sosok mudah bergaul, dia sendiri tak mau ambil pusing soal "ribetnya" kampus. Itu juga soal bagaimana ia menyelesaikan tugas akhirnya.

Para dosen memandangnya tak mampu soal mengerjakan programming. Merasa tertantang, Odi malah masuk mata kuliah sulit tersebut sebagai utama. Dia bahkan memilih dosen pembimbing pun dipilihnya "yang killer".

Ketika itu, ketika mahasiswa lain membutuhkan waktu 3 tahun untuk lulus, Odi justru membuktikan mampu menyelesaikan itu dalam waktu cuma 1 tahun saja. Ditengah kuliah panjangnya, kurang- lebih lima tahun, Odi menyempatkan diri mengasah ilmu lain. Ia sempat mengajukan satu tahun cuti.

Cuma buat berkuliah pendek di Australia, mengambil jurusan Small Business dan International Business Marketing. Dalam tempo satu tahun tersebut maka pandangannya berubah 180 derajat. Dia melihat sisi lain wirausaha.

Utamanya wawasan tentang menjalankan bisnis serta pandangan masa kini atas kewirausahaan. Menurutnya paling menonjol dimasa itu, ketika mengambil kuliah pendek, adalah Odi mendapatkan apa yang disebut self- confident.

Terutama, selepas dia mereguk gelar Diploma dari Australia, membuatnya lebih percaya diri terutama dalam memulai bisnis.

"Kepercayaan diri saya melambung setelah saya menyelesaikan diploma saya, dan ini dapat dilihat dari orang- orang terdekat saya, mengenai bagaimana saya berbicara dan bagaimana saya mengemukakan pendapat saya," terganya.

Disisi lain, Odi sempatkan belajar mengenai kopi ketika menyelesaikan diploma. Dia mulai belajar tentang nilai eksotisnya -menarik minatnya mendalaminya. Odi benar- benar buta soal kopi. Cumalah hasrat ingin tau mendorongnya masuk lebih dalam.

Berbisnis kopi


Unik jikalau ditanya mau besarnya menjadi apa. Karena orang tuanya sosok pengusaha. Ini membawa sosok Odi menjadi tidak memikirkan "kerja apa" lebih ke apa yang ia bisa kerjakan sekarang. Bahkan ia mengaku tak punya bayangan mau bekerja dimana selepas kuliah.

Dia cuma maunya berusaha mandiri saja.

"Satu hal yang pasti dalam hidup saya, bahwa saya akan berusaha untuk mandiri, dengan membangun dan membesarkan bisnis saya. Sebuah bisnis yang saya mau bangun mulai dari awal dan akan berkembang jadi satu perusahaan (saya harapkan) yang disegani di negeri ini," jelasnya lagi.

Soal bisnis kopi, semuanya dimulai karena kegemarannya menyeduh kopi instan. Dia bahkan bisa membuat kopi racikan bermodal resep bungkusnya loh. Selain itu jikalau kurang mantap, terkadang, Odi akan jalan- jalan ke berbagai kafe.

Setau Odi bahwa kopi- kopi seduhan itu apapapun. Baik di kafe- kafe ataupun tidak semuanya berasal dari kopi sasetan. Awalnya, dia sendiri tak sadar bahwa kopi berasal dari sebuah biji, yang melalui serangkaian proses pemasakan.

Mulainya ia sadar justru ketika masuk kuliah diploma di Australia. Tahun 2004, ketika itu ia mengambil satu program diploma. Dimana ia cuma berkuliah 2 kali dalam seminggu. Itupun cuma berisi kuliah tak lebih dari 4 jam tiap sesi.

Odi lantas berpikir bagaimana kalau mencari tantangan baru. Hingga seorang teman menawari dia pekerjaan di restoran pizza. Gayung bersambut, diterimanya pekerjaan tersebut digunakannya lagi buat belajar kebudayaan barat.

Hingga suatu hari, seorang teman dari teman yang menawarinya pekerjaan datang. Ia menawari pekerjaan sebagai "bar helper", tempat Coffee Shop dimana dirinya bekerja. Bekerja disana sekitar lebih dari 5 bulan, 4 hari dalam seminggu, setidaknya ada 5 jam per- hari.

Sejak disina, pengalaman mengajarinya bahwa kopi tak terbuat dari kopi sesetan. Tapi merupakan pengalaman panjang memproses aneka jenis biji kopi. Dia benar- benar bertanya- tanya bagaimana caranya.

"Saya belajar mengenai bagaimana cara persiapan yang benar sebuah minuman kopi, mulai dari biji kopi, penggilingan sampai dengan penyeduhan," Odi melanjutkan.

Sepulang dari Australia, Odi punya misi khusus, terutama ketika menyadari Indonesia termasuk tiga besar penghasil biji kopi dunia. Sayangnya justru orang belajar yang membuat kopi berasal dari luar negeri. Dia kemudian mengerjakan ide bisnis Coffee Toffee bersama- sama sang istri.

Tahun 2006, Odi bermodal 5 juta rupiah, dimana disaat itu angka tersebut bisa dibilang kecil. Bermodal uang segitu dimulailah bisnis sederhana bermodal gerobak dorong. Tidak cuma belajar dari pengalaman di Negara Kanguru.

Odi bermodal informasi dari teman- teman, saudara, bahkan sampai mencari di Internet. Konsep bisnisnya ialah kopi khas Indonesia bercitarasa kedai modern. Ia menawarkan kopi khas Indonesia. Mulai dari kopi Arabica dan Robusta diraciknya on the spot.

Idenya masih melalang buana lepas. Dia masih melihat model bisnis seperti dirinya masih sepi. Kebanyakan kita ditawari kopi racikan khas kafe. Disaat itu, ia masih merasa adanya pasar bisnis masih terbuka luas bagi mereka.

Pemilik Coffee Toffee Pernah Putus Asa


Masalah pun datang, ternyata ketika dia menjalankan bisnis Coffee Toffee, Odi telah punya aneka usaha "sambilan". Mulai dari bisnis clothing, tambak ikan, kayu, dan lain- lain. Itu dikerjakan benar- benar berbasiskan passion kewirausahaan tanpa embel harus untung.

"Saya langsung buka bisnis baru dan ketika punya dana lalu buka lagi dan buka lagi dan ini berjalan begitu terus. Nah saat itu salah satu usaha saya mengalami yang tidak baik dan ini berpengaruh kepada sembilan perusahaan lain," tuturnya.

Hingg dia teretipu patner bisnis sampai merembet ke bisnis lain. Bukan hal mengejutkan ketika mungkin kamu memasuki fase ini. Ketika bisnis kamu telah berkembang super pesat, dan tiba- tiba semua hilang berturut- turut.

Bahkan ia mulai bertanya eksistensi diri, seorang pengusaha  apakah dirinya layak. Sambil melihat ke cermin,  pikiran- pikiran liar menyeruak di benaknya, "apakah saya ditakdirkan untuk menjadi orang miskin. Apakah wajah saya memperlihatkan sebagai orang miskin?"

Hingga, pikiran positif tumbuh, hingga dalam benarknya berpikir, "tidak, saya tidak dilahirkan sebagai orang miskin. Karena pada dasarnya tidak ada orang miskin selama masih ingin berusaha. Itu bekal jawaban yang dibutuhkan Odi untuk bangkit kembali.

Hingga 2009, seorang investor menghampirinya, dan menawarkan sebuah perjanjian bisnis investasi super besar. Bayangkan uang Rp.1,5 miliar telah ada didepan mata sebagai bentuk investasi. Dana itu rencananya buat mengembangkan Coffee Toffee.

Konsep kedai miliknya harus dirubah 180%, memakai konsep dine- in, atau lebih dikenalnya adalah konsep coffee shop. Fokus bisnis menyasar pasaran anak muda. Odi menyetujui konsep tersebut dan bersama- sama membangun bisnis kembali.

Konsep coffee shop menjadi lebih nyaman. Dimana orang- orang akan bisa masuk bercengkrama didalamnya. Harga jualnnya pun melonjak, itu seiring dengan kualitas kopi dan kepercayaan dari masyarakat, yakni per- gelasnya mencapai Rp.35.000- Rp.50.000.

Coffee Toffee mampu memproduksi biji kopi sendiri. Bermodal hubungan baik dengan suplier biji kopi lokal. Itu sudah juga diperhitungkan biaya produksi. Odi ingin kopinya menyasar kalangan menangah- bawah, tetapi tetap memiliki kesan elegan- berkualitas seperti kedai kopi asal Amerika.

Penjualan Coffee Toffee sendiri menembus angka 700 ribu gelas kopi. Dimana telah tersebar ke 180 gerai berbeda di penjuru Indonesia. Soal pengunjung, Odi menjelaskan, cabang Kalimantan menjadi yang terlaris.

Twitter: @odianindito

Menjadi Pengusaha Bakso Geranat Abdul Anziy

Biografi Pengusaha Abdul Anziy


pengusaha bakso geranat
 
Berikut tips menjadi pengusaha bakso geranat Abdul Anziy. Pria kelahiran 8 Agustus 1991, yang tak bermimpi muluk membuka usaha, hanya menjalankan hidup. Dia berkuliah di Politeknik Universitas Jombang. Pernah ingin masuk Politeknik Universitas Sriwijaya tetapi gagal.

Begitu lulus sekolah dia tak lantas melanjutkan kuliah dulu. Sempat Azis mengikuti kursus komputer setahun di Palkomtek Palembang. Disini dia juga diajarkan bagaimana berdagang komputer. Aziz sempat bekerja sambilan menjualkan komputer milik Palkomtek.

Bulan ke empat selepas kursus dia ditawari bekerja di Palkomtek. Ia lalu mengajar desain grafis yang bertahan delapan bulan. Kemudian Aziz lanjut pelatihan kewirausahaan di YEC Palembang pada Oktober 2010. Ia lanjut masuk kuliah di AMIK Bina Sriwijaya pada akhir 2010 silam.

Usaha Bakso Geranat


Berkuliah selama dua semester datang kesempatan praktik. Dari pengalaman mengikuti pelatihan, dia mencoba ikut perlombaan wirausaha yang diadakah oleh kampus. Ketika itu dia sama sekali belum punya pengalaman. Hanya mengikuti saran dari orang tua Aziz, yang bekerja sebagai tukang becak.

Dia disarankan sang ayah untuk mencoba jualan aksesoris. Ide sederhana yang dia tuangkan dalam bentuk bisnis aksesoris kalung. Bisnis berkonsep kalung custom yang diukir nama khas Jepara. Usaha itu tak bertahan lama hingga akhirnya tutup.

Di Agustus 2010, masih dengan semangat kewirausahaan, Aziz mulai mencari bisnis apa yang bisa dia lakukan. Ayah Aziz kembali memberi ide melalui usaha sambilan keluarga. Ketika tidak menarik becak, ternyata ayahnya juga berjualan bakso buatan sendiri.

Usaha bakso tersebut memang sampingan bukan utama. Ayahnya cuma membantu tukang bakso sesama perantau Jawa.  Maka Aziz berniat untuk mematenkan ide bisnis ini. Siapa sangka sang ayah memiliki resep bakso sendiri. Inilah cikal bakal dari Bakso Geranat yang merupakan resep sang ayah.

Ayah Aziz berjualan bakso sendiri memakai gerobak orang. Tetapi tidak tentu, dia hanya berjualan bila sang pemilik gerobak pulang kampung. Ayah Aziz lalu menyarankan putranya untuk berjualan bakso. Setelah berdiskusi dengan anggota keluarga lain, maka Aziz memutuskan untuk usaha ini.

Diputuskan untuk membuka usaha bakso bersama- sama. Bergotong royong hingga ayahnya tak perlu mengayuh becak, dan ibunya tak perlu jualan jamu. Bermodal uang Rp.38 juta, yang Rp.20 juta hasil pinjam Bank, sedangkan sisanya merupakan hasil perlombaan BDEC 2011.

Sisanya merupakan uang tabungan mengajar dan milik ayah. Pertama Aziz menyewa tempat di Jalan Inspektur Marzuki, di depan SMA 11 seharga Rp.6 juta pertahun. "Saya menyewa tempat itu selama tiga tahun," tuturnya. Dia lalu berinvestasi ke gerobak, peralatan masak, papan menu, neon box.dll.

Dia berjualan bakso buatan sendiri yang masih memakai tangan. Aziz percaya diri berkat latar sales, desain grafis, dan kemampuang sang ayah. Di Pelembang sendiri, banyak pedagang bakso ukuran besar yang berasal dari Wonogiri atau Solo.

"Saya mencoba segala macam bakso yang ada di Palembang, sekalian riset pasar," terangnya.

Aziz berpikir cara menghasilkan bakso tidak biasa. Pada saat itu namanya bakso pedas masih belum seramai sekarang. Ia pun memutuskan membuat bakso pedas. Konsep tersebut masih terbuka luas karena belum ada saingan.

Dia menggabungkan konsep jajanan pedas ke dalam bakso. Kemudian ia mengemas bakso tersebut dalam brand Bakso Mas Aziz. Dia lantas mendaftarkan merek Mas Aziz pada Juli 2012. Ternyata itu sudah dipakai nama orang lain. Dia lalu mendaftarkan dengan nama Bakso Geranat pada Juli 2012.

Ternyata nama Bakso Geranat kembali telah dimiliki orang lain. Ia memutuskan menamakan usaha ini Bakso Geranat Mas Aziz. Uang pendaftaran merupakan hasil perlombaan, uang senilai 1 juta dari Wirausaha Muda Mapan Hatta Rajasa.

Menjadi Pengusaha Bakso Geranat


Pertama kali membuka usaha dia hanya menjual 10 mangkuk. Para pelanggan pun marah lantaran tak tau kalau baksonya pedas. Aziz memang agak jahil jadi kemarahan mereka "disengaja". Yakni ketika mereka memesan, Aziz cuma menawari pilih bakso besar atau kecil- kecil tanpa detail bakso apa.

Mungkin orang cuma paham rasa pedas berasa dari kuah. Ternyata di dalam bakso besar mengandung geranat pedas. "Ketika mereka memesan bakso yang besar, maka saya akan memberikanya bakso pedas," ujarnya. Meskipun komplain berdatangan, tetapi toh mereka kembali lagi karena ketagihan.

Sejak kejadian tersebut maka timbul ide memuat tagline. Bakso Geranat Mas Aziz "Pedasnya Bikin Ketagihan". Tempatnya buka dari jam 08.00- 21.00 dan semakin laris manis. Agar bisa menaikan omzet, Aziz mengakali lewat perlombaan berhadiah Rp.1 juta, lombanya makan bakso geranat.

Agar dia bisa mengajak banyak orang maka dicarilah sponsor. Brand Hydro menjadi sponsor hingga bisa beriklan di surat kabar. Biaya pendaftaran Rp.20.000 dan menarik 120 peserta. Walau nampak cuma lomba makan, ternyata hasil eksposur bisnis ini sangatlah luar biasa.

Dia mengundang dari koran sampai televisi swasta. Sebut saja ada Sriwijaya Pos, Sumatera Express, TVRI,  PAAL TV, dan Sriwijaya TV. Mereka tertarik untuk memberitakan perlombaan makan bakso tersebut. Ini berhasil menaikan nama Bakso Granat Mas Aziz hingga dikenal seantero Palembang.

Soal lain dia mengembangkan aneka menu masakan. Mulai dari bakso geranat, rawit, lombok ulek, ranjau dan basoka. Kesan yang akan diambil memang tegas layaknya tentara. Agar lebih menarik lagi dia menyeratakan sloga. Kalau ada pembeli datang, karyawan akan segera berkata layaknya tentara.

Karyawan akan menyambut, "Lapor Pak! Mau makan apa?", kemudian mereka akan menutup dengan "Siap laksanakan!". Bakso miliknya juga masih mengambil nama Jawa seperti asal- usulnya. Seperti kata "lombok" yang berarti cabai bila di Jawa.

Agar lebih sukses dia mempromosikan ke online dengan kreatif. Aziz membuat akun Twitter yang bernama @aziz_geranat. Untuk Facebook, dia nebeng ke akun group bernama Wisata Kuliner, yang kebetulan milik temannya yang lebih banyak pengikut.

Bisnis Bakso Terus


Dia juga memanfaatkan iklan melalui akun @kicaupalembang. Termasuk menggunakan iklan selama sebulan penuh di Koran Sriwijaya. Mengapa mendaftar di akun Wisata Kuliner terdapat alasan. Itu ternyata hasil analisa, bahwa pemilik fanspage bernama umum lebih banyak pengikut.

Pengusaha muda ini lalu membuat kartu anggota. Banyak kelebihan pemegang kartu, mulai dari yang memiliki nama tertentu dapat diskon. Adapula diskon malam hari pukul 18.00- 21.00 yang masuk jam- jam sepi. Diskon 50% berlaku bagi anggota yang membawa pacar dijam- jam tersebut.

Aziz menawarkan kartu anggota ke anak- anak SMP dan SMA. Dia juga membuat umbul- umbul penunjuk arah. Untuk budget iklan sosmed, ia rela mengeluarkan uang Rp.1 juta. Adapula voucher makan gratis yang rutin dibagikan melalui radio anak muda Palembang.

Pengusaha cerdas ini juga mengelola emosi mereka lewat group chat. Pesan- pesan penyemangat akan dishare ke seluruh chat. Juga termasuk menyebarkan aneka promo melalui pesan berantai. Ada pula program promo makan gratis bagi mereka yang membawa pelanggan baru.

Ia menceritakan banyak halangan datang ketika wirausaha. Suatu hari datang pesaing yang terbuka menunjukan menu baru. Pesaing itu menujukan bakso dengan konsep geranat. Aziz tak minder ketika ditunjukan itu. Bahkan dia berani merasakan sendiri rasa bakso tersebut dan ternyata tak seenak itu.

Dia mengatakan masalah utama ialah tidak konsisten. Penjual bakso lain nampak kurang fokus pada menu bakso geranat. Mereka kurang konsisten pada rasa bakso geranat. Walau mereka juga memakai konsep perlombaan, faktanya bakso geranat miliknya lebih enak dan pelopor.

Menurutnya bisnis harus fokus sebelum memulai ide bisnis lain. Dia mendapatkan saran bisnis dari boss Kebab Baba Rafi, Hendy Setyono. Saran bahwa harus fokus mengerjakan satu bisnis terlebih dahulu. Jangan terburu- buru untuk menerapkan konsep lain dengan harapan menaikan untung.

Soal keuntungan taukah kamu bahwa Aziz cuma untuk Rp.800 ribu di awal. Kemudian itu naik ke Rp.1- 4 juta berkat promosi yang gencar. Dia menambahkan bisnis bakso untungnya tipis. Tetapi itu bisa didukung dengan berjualan minuman dingin.

Gerai pertama ia mengatakan mampu mengolah 13kg perhari, sedangkan yang kedua mengolah 6- 7kg. Saat berita ini dipublish di SWA.co.id, dikatakan dirinya tengah merencanakan sistem franchise sendiri. Dengan investasi Rp.35 juta maka rekan bisnis sudah mendapatkan jalan membuka bisnis ini.

Soal hambatan klise masalah bahan baku mahal. Terutama bahan baku cabai dan bawang. Kalau soal operasional sudah tak masalah. Gerainya sudah punya lahan parkir luas untuk motor dan mobil. Soal bakso pun begitu, dia telah memilik pabrik pengolahan bakso sendiri yang sudah bermesin.

Niat Wirausaha Pengusaha Boss Bebek Udig

Profil Pengusaha Fery Eka Laksamana


pengusaha boss bebek

Menjadi boss Bebek Udig Fery Eka Laksamana berkisah. Niat wirausaha bukan sekali- dua kali, tapi apa mau dikata nasib belum berpihak. Mengingat perjalanan bisnisnya kita dibawah ke tahun 2002. Ia yang masih mahasiswa nekat membuka usaha dibanding berdiam diri.

Tidak mudah menjalankan sebuah usaha tanpa niat betul. Banyak pengusaha muda gagal lantaran itu sebatas niat. Fery tak mau mimpinya menjadi wirausahawan kandas. Jangan menunda- nunda, begitu kuliah Semester 4, dia membuka usaha lagi.

Benar dulu dia pernah membuka usaha tetapi ala kadar, belum serius. Ia mengenang sejak kecil sudah suka jualan. Dulu ketika sekolah, ada keharusan untuk mengganti sepatu setahun sekali, lantas dia mengumpulkan sepatu milik temannya. Dia lalu menjual sepatu- sepatu tersebut ke tempat lain.

"Saya jual ke daerah Kosambi," runut pria kelahiran 5 Februari 1981 ini.

Ia semakin jeli melihat peluang bisnis. Tahun 2002, dia memutuskan membuka usaha meski masih berkuliah. Saat itu dia memutuskan untuk membuka usaha peternakan sapi. Dia mengajak investor dan berhasil mengeluarkan modal Rp.26 juta.

Perjalanan Tidak Selalu Mulus


Niat wirausaha akhirnya terlaksana dengan lebih serius. "Saya terapkan sistem bagi hasil keuntungan untuk investor," terangnya. Dia melanjutkan bahwa semua telah diasah. Pengalaman berjualan dulu, dia terapkan di bisnis sapi dengan lebih serius terencana.

Hasilnya sebuah peternakan sapi yang terletak di kawasan Cimalaya, Karawang. Kemudian ide lain muncul yakni membuka toko pertanian. Dia melihat tanah perkebunan dan pertanian itu luas. Tetapi kok cuma ada satu toko pertanian yang melayani.

Alumni Fakultas Hukum, Universitas Parahiyangan, Bandung ini bergegas. Dia membuka toko buat peralatan tani dan pupuk. Dalam lima bulan pertama saja, dia berhasil mengantongi untung sampai Rp.600 juta, dan lebih. Ini bahkan mengalahkan pendapatan dari berbisnis peternakan sapi.

Padahal dia telah membangun bisnis peternakan sapi tiga tahun. Dalam lima bulan toko peralatan tani untung melonjak. Omzet cepat melejit dijadikan modal untuk diputar kembali. Fery telah membuka beberapa toko di tempat lain. Usia masih 25 tahun tetapi telah menghasilkan keuntungan ratusan juta.

Bayangkan Fery telah memiliki cabang di Majalengka, Brebes, Sumedang, Tegal, dan Brebes. Semua dia dapat hanya pada tahun pertama. Dia bisa membeli rumah, mobil, dan fasilitas lain. Jarih payah dari kesuksesan yang relatif singkat.

Pada tahun 2007, dia mendapatkan pengalaman luas biasa tak terlupakan, yang mana dia mendapat tuduhan serius. Pada suatu hari dia mengirim lima truk tronton ke daerah Brebes, Jawa Tengah. Truk membawa 32 ton pupuk, tetapi diperhentikan oleh pihak tertentu.

Dia dituduh membawa pupuk ilegal. Tuduhan lain truk pupuk tersebut tak punya dokumen. Hasilnya nama Fery terbit di berbagai media lokal. "Saya bingung kenapa ditahan karena saya tidak melakukan kesalahan," jelas Fery. Ternyata ada kesalahan tetapi dia enggan menceritakan detail kesalahan.

Yang pasti dia harus mengurusi dokumen- dokumen tertentu. Fery berhasil mengeluarkan truk yang ditahan polisi. Tetapi dia harus membawa truk kosong tanpa muatan. Bayangkan semua pupuk disita sebagai barang bukti. Total dia kehilangan pupuk senilai Rp.600- 700 juta rupiah seketika itu.

Dia rugi besar hingga bangkrut. Ada kesalahan manajemen dalam pengelolaan keuangan. Alahasil dia harus menanggung hutang. Inilah penyebab kegagalan karena dia belum seperti pengusaha. Dari keuangan sampai ke manajemen, dia ternyata juga menanggung hutang sampai Rp.1,2 miliar.

Pengusaha Boss Bebek Udig


Fery yang tak tahan ditagih debt collector segera menjual aset. Hasil menjual aset berhasil menutup setengah hutang. Hampir stress, dia berhasil bangkit kembali dengan niat wirausaha kembali. Dia lalu berkeliling Bandung, menelusuri berbagai kawasan di Jawa Barat.

Dia tengah mencari peluang bisnis baru. Kala itu kuliner bebek tengah naik daun, dia segera punya pikiran untuk menjadi pemasok bebek. Langkah kakinya sampai ke Pasar Cilamaya, terus membuka los di Pasar Kosambi untuk jualan bebek.

Selain menjual bebek utuha, Fery juga memotong bebek untuk dijual kembali. Dalam pemikirannya dia melakukan apapun. Usaha yang dia tak kuasai pun dilakukan agar bertahan hidup. Berjualan terus sampai Fery mendapatkan kesempatan emas.

Dia menjadi pemasok buat restoran- restoran. Tahun kedua, dia menjual 300 potong perhari, dan ia lantas berpikir ingin punya peternakan sendiri. Februari 2010, dia memutuskan membuka peternakan bebek, dengan menyewa tempat seluas 150 m2 di Cilamaya.

Lahan segitu mampu menampung 1000 ekor bebek. Tak mau berhenti sekedar beternak dan jual- beli bebek. Fery mencoba peruntungan di bisnis restoran bebek. Prinsip pengusaha yang dipercaya ialah membuat nilai tambah. Jangan berhenti cuma menjadi pemasok melainkan harus menjual olahan.

Mulailah pengusaha muda ini melakukan riset racikan bebek enak. Di September 2010, dia membuka restoran bebek sendiri, yang diberi nama Bebek Udig di dekat Universitas Islam Bandung. Usaha itu berkembang pesat tanpa takut kehilangan pemasok.

Bisnis peternakan Fery juga lancar, mampu menghasilkan 2.5000 ekor bebek perminggu. Lahan juga naik luasnya sampai 5000 m2. Restoran Bebek Udig sendiri pindah ke kawasan yang lebih bagus. Dia memindahkan restonya ke Dago di atas lahan 600 m2.

Usaha Bebek Sangrai


Baginya niat wirausaha saja tak cukup buat berjalan. Kisah pengusaha boss Bebek Udig ini memang jempolan. Banyak macam- macam olahan bebek, termasuk digoreng atau dibakar. Tetapi pernahkah kamu mendapati bebek disangrai. Inilah kisah Fery yang mencoba sesuatu mengejutkan dan berhasil.

Dia menjelaskan bebek ini disangrai tidak memakai minyak. Pria asli Bandung ini memakai teknik pengolahan khusus. Penggunaan wajan tanah liat menjadi krusial dalam teknik temuan Fery. Dalam penjelasannya, teknik memasak seperti ini sebenarnya telah dimiliki masyarakat tradisional.

Pengolahan sangrai atau tanpa minyak sudah biasa. Penggunaan tanah liat didapatkan Fery entah dari mana. Namun keunikan inilah yang khas bebek sangrai bernama Bebek Udig. Fery telah memulai berbisnis sejak 2010 silam.

Inspirasinya datang dari ide kerupuk melarat yang digoreng tanpa minyak. Kerupuk yang digoreng memakai pasir panas. Bebek Udig meniru teknik tersebut namun dengan resep tersendiri. Dia lalu melanjutkan, Bebek Udiq cuma bermula dari warung pinggir jalan, dan hanya bermodal Rp.20 juta.

Waktu itu tempat berjualan di jalan masih murah biaya sewanya. Berkat kegigihan, ia mampu bisa menjual 200- 300 potong seharga Rp.25.000. Penjualan naik hingga Fery mampu membuka dua warung sekaligus. Dia memanfaatkan online via Facebook dan Twitter dengan harga Rp.35.000.

Selama pemesanan datang dimanapun akan dilayani Fery. Mau lewat fanspage ataupun Twitter akan dilayani baik. Konsep bebek sangrai ternyata menarik banyak perhatian masyarakat. Karena tak pakai minyak maka dijamin bebek buatannya bebas kolesterol.

Berkat sangrai membuat kulit bebek lebih mudah terurai. Meskipun begitu dia tetap menawarkan bebek goreng atau bakar. Tetapi ya, pembeli lebih memilih memesan bebek sangrai karena terasa lebih enak. Bumbu yang dipakai tradisional, seperti rendang, dan memakai sambal matah.

Berkat kerja keras dia telah memiliki 13 orang karyawan membantu. Inti dari bisnis ini menurut Fery terdapat di dapur. Sudah ada karyawan khusu yang ditaruh di dapur, selain mereka bagian ke depan dan manajemen. Dapur khusus yang didevelop sehingga lengkap mau goreng, bakar, atau disan

Punya Usaha Bengkel Ratusan Juta Kisah Andika

Profil Pengusaha Andika Kairuliawan



Siapa sangka dia punya usaha bengkel ratusan juta. Kisah Andika Kairuliawan yang bukanlah siapa- siapa dulu. Dia putra dari seorang ayah yang bekerja sebagai sopir. Ia menjelaskan ayahnya bekerja sopir travel Yogya- Bali. Sedangkan ibunya hanya wanita ibu rumah tangga biasa tanpa penghasilan.

Andika hidup dalam kesederhanaan tetapi menikmati hidup. Ia tak pernah berangan- angan, apalagi berpikir akan membuka bengkel. Semua berubah ketika bom Bali, selepas pristiwa itu membuat ayah Andika menjadi pengangguran.

Maka ia pun berpikir keras bagaimana memenuhi kebutuhan. Aneka usaha dijalankannya untuk bisa makan. Bermula dari dia yang memodifikasi motornya pada sebuah bengkel. Rasanya kok ada yang kurang, Andika berpikir modifikasi yang dihasilkan tidak sesuai keinginan.

Bermula kejadian tersebut, dia mulai belajar mengenai otomotif sendiri secara otodidak. Kemudian ia nekat mencari modal buat membangun bengkel kecil. Semangat wirausaha sudah timbul semenjak ia berkuliah di Universita Teknologo Yogyakarta (UTY).

Memulai Bisnis Bengkel


Punya usaha bengkel ratusan juta itu seperti mimpi. Layaknya pria pada umumnya, dia menyenangi otomotif, termasuk coba- coba untuk membuat modifikasi. Hanya kali ini, Andika memutuskan untuk membawa motornya ke bengkel, alih- alih memodifikasi sendiri.

Ia merasa tidak puas dengan hasil tangan orang lain. Teman- temannya juga merasa modifikasi di bengkel tidak bagus. Insting bisnisnya bergerak mencari celah dari keluhan teman- teman. Ia pikir mengapa tidak dia sendiri. Andika lantas memperdalam ilmu tentang modifikasi sampai menjadi ahli.

Andika membuat kepala motor berbahan fiber glass berbekal Youtube. Makin percaya diri, Andika nekat membuka bengkel bernama Oto Work pada Mei 2011 di Yogyakarta. Dia mengeluarkan modal Rp.800 ribu. Ia menggunakan uang tersebut untuk membeli mesin kompresor bekas.

Andika menggunakan mesin kompresor untuk mengecat bagian modifikasi. Cetak kepala motor bisa dilakukan memanfaatkan barang sudah ada. Awalan, dia hanya menjual kepala motor yang dimodif ke situs online, yang saat itu masih ramai forum jual beli Kaskus.

Pengusaha muda yang tak puas sebelum sukses menghasilkan. Andika juga memasarkan langsung ke orang- orang. Beruntung dirinya pernah mendapatkan pengalaman bekerja, dia pernah bekerja jadi Audience Marketing Manager untuk Microsoft Innovation Center di Yogyakarta.

Produk buatan tangannya berhasil menuai respon positif. Pesanan modifikasi motor mulai datang ke Balu Oto Work. Maka ia pun menambah jumlah pegawai untuk menangani pesanan. Walau nampak berkembang, nyatanya Balu Oto Work hanya mampu menghasilkan Rp.2 juta perbulan.

Ia lalu memenangi lomba Inovasi Bisnis Pemuda pada November 2011. Penjualan Balu Oto Work naik pesat semenjak perlombaan. Pesanan modifikasi motor dan kepala motor meningkat drastis. Dia lebih memilih memfokuskan ke produksi kepala motor.

Kelebihan Balu Oto Work terdapat pada kepala motor modifikasi. Bentunya unik berbeda dari yang di bengkel lain. Andika dengan imajinasinya membuat kepala bermodel action figure.

"Orang boleh modifikasi motor di bengkel lain, tapi kalau mencari kepala motor, biasanya mereka pesan dari sini," tuturnya.

Andika semakin bekerja keras dan mengikuti aneka lomba. Bahkan dia mendapatkan penghargaan sebagai perwakilan Indonesia. Pengusaha muda ini lalu berangkat untuk International Auto Parts, Accessories and Equip Exhibition (INAPA) di JIEXPO Kemayoran tahun 2012.

Ketia pameran bertemu dengan warga Singapura untuk kerja sama. Dia tertarik untuk memajang hasil karya Balu Oto Work. Semenjak Juli 2012, produk modifikasi Andika telah dipajang di dealer yang ada di Malaysia dan Singapura.

Kompetisi Usaha Tak Sehat

Bisnis Andika berjalan baik hingga bisa diserah tugaskan. Walau begitu, ia meyakinkan bahwa masih memegang penuh kontrol, dan masih aktif merancang modif. Ia selain menjadi pengusaha muda, dia juga bekerja sebagai Dosen. Andika bercerita bahwa kompetisi usaha bengkel bisa sangat tidak sehat.

Banyak orang meniru kepala modifikasi bikinannya. Ia sendiri tak merasa khawatir akan masalah tersebut. Dia justru semakin tertantang untuk berinovasi. Andika memiliki 86 karyawan, hampir 40% pegawainya merupakan mereka yang putus sekolah, dan pengangguran.

Siapa sangka dia berhasil menjadi pengusaha muda bengkel modif. Andika sendiri juga bekerja jadi asisten Dosen di UTY sejak Semester 2. Pihak kampus sendiri tidak bermasalah dirinya aktif dalam wirausaha. Mereka memberi semangat dan menyarankan Andika memberi motivasi ke mahasiswa.

Dia sangat bersyukur bahwa UTY memberikan peluang. Mereka lah yang mendorong dirinya untuk berwirausaha. Semangat makin menggebu walau kompetisi usaha tak sehat. Dia semakin banyak desain kepala motor baru. Tidak hanya kepala motor, aneka aksesoris lain juga diproduksi oleh Bolu Oto Work.

Ia ingin merambah cabang ke daerah lain. Rencana membuka 26 cabang di berbagai provinsi terbuka, juga termasuk membuka cabang di Filipina dan India. Alasan semakin kuat karena pesanan datang dari berbagai daerah. Andika semakin mantab membuka cabang untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Bengkel utama milikinya telah memiliki luas 1000 meter persegi. Pelanggan datang ke bengkel tak hanya pribadi. Mereka tak jarang datang bersama komunitas kendaraan bermotornya. Dia buktikan bahwa kepuasan pelanggan selalu terjaga.

"Kalau ada retakan sedikitpun, apalagi ketika dipasang kami ganti," tutur pengusaha muda ini.

Andika juga tak membedakan pelanggan dari jumlah pesanan. Mau eceran ataupun grosir akan dia layani baik- baik. Semua dilayani maksimal, itulah kunci mengapa Balu Oto Work semakin dicintai, selain fakta usahanya selalu belajar dan berinovasi.

Sejak 2011, dia telah membuat dua divisi, yaitu modifikasi full body dan khusus kepala motor saja berbahan fiber glass. Dia meyakinkan bahwa bisa mofifikasi semua motor. Pelanggan hanya tinggal bawa mesin dan rangka ke Jalan Pramuka, Umbulharjo, Yogyakarta.

Andika mematok tarif Rp.7- 9 juta per- motor untuk modifikasi. Pelanggan datang dari berbagai daerah sampai diluar Jawa. Semua pelanggan akan dilayani karyawan secara ekslusive. Bila semua karyawan sibuk, Andika tidak akan menerima pelanggan lagi daripada mengecewakan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba