Bisnis Software Miliaran Wahono Resign PNS

Profil Pengusaha Sri Wahono


usaha software miliaran

Membayangkan dia resign PNS mungkin menyakitkan. Demi bisnis software miliaran impiannya, Sri Wahono lebih memilih keluar dari pekerjaanya yang mapan. Semenjak dahulu Wahono memang ingin menjadi seorang pengusaha. Merintis bisnis impian tidak mudah baginya berjuang sendirian.

Anak muda yang kedua orang tuanya tak paham teknologi. Bagi mereka, menjadi PNS merupakan satu pencapaian membanggakan. Orang tua Wahono adalah petani transmigrasi asal Jawa. Pindah ke Lampung, orang tua Wahono ingin putranya menjadi ustad untuk mengajar agama.

Alhasil dia kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah agama. Kemudian lulus tes masuk Teknik Sipil Universitas Lampung. Jalan hidupnya berubah terutam pandangan mengenai arti kesuksesan. Ia demi memenuhi kebutuhan, bekerja di persewaan komputer milik teman.

Ide bisnis software muncul ketika dirinya bekerja di sini. Padahal dia tidak memiliki latar pendidikan IT. Maka Wahono belajar otodidak melalui internet bidang teknologi. Hingga suatu ketika, dirinya mendapatkan proyek dari Bank Perkreditan Rakyat, dan software buat Telkom Lampung.

Memilih Keluar dari Kampus


Ia memang unik karena memiliki kenekatan. Wahono begitu asik mengerjakan aneka pemrograman. Karena kesibukan, Wahono memilih untuk keluar dari kampusnya. Ketika menikah dan memiliki istri membuatnya berpikir sedikit rasional. Dia lalu membuka toko kelontong sendiri bermodal Rp.1 juta.

Sembari itu dia masih mengerjakan beberapa pekerjaan freelance. Tidak mudah memang untuk jadi pengusaha. Tetapi ambisi untuk membuka usaha software makin bergema. Ia mengakali semua agar tetap bisa berkreasi. Aneka pekerjaan dilakoni sembari mengumpulkan modal sedikit- demi sedikit.

Dia mendirikan AztectSoft untuk lebih menyeriusi usaha ini. Ia membuat program penggajian, sistem kasir, dan pencatat data ekspor- impor. Berkat kerja kerasnya, perusahaan CB Aztect telah menjual ke 1.587 perusahaan. Tidak ingin sukses sendiri dia aktif menggaet keagenan untuk berjualan.

Ada 23 agen gerai yang menjadi agen pemasaran produk miliknya. Tetapi perjalanan itu bukanlah mudah loh. Namanya perusahaan kecil, maka mereka harus berhadapan perusahaan- perusahaan besar. Ambisi Wahono memang tinggi, termasuk dia berani menggadaikan perhiasan istrinya, Nunik Palupi.

CV. Aztech resmi terdaftar sebagai perusahaan pada 2001 silam. Sudah menjadi hukum alam, bahwa mereka yang bermodal kecil kalah dengan pemodal besar. CV. Aztech pernah merasakan penjualan yang sepi loh. Hanya sedikit dari klien yang percaya dan kenal akan kualitas produk Aztech.

Oleh sebab itu, Wahono harus tetap bekerja disela penjualan yang sepi, dan beberapa kali pindah- pindah perusahaan. Tahun 2004,  Wahono diterima Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Pendapatan Daerah Lampung. Dia lalu menjalankan profesi barunya itu, walau cuma sanggup bertahan 2 minggu.

Wahono serius menghidupi Aztech Software hingga mampu. Dia menyemangati dirinya sendiri agar tetap bertahan. "Malu kalau berani keluar dari PNS tapi bisnis gagal," celetuknya, yang kini telah beromzet miliaran rupiah.

Ia merekrut beberapa pegawai yang ahli sebagai amunisi. Mereka lalu bersama mengerjakan sistem akuntansi perusahaan. Dia pun berani memasarkan program bernama Acosys lebih agresif. Walau dia harus menghadapi perusahaan besar asal Jakarta, mereka yang mendominasi pasaran Lampung.

Pengusaha muda yang cuma berkantor di komplek terpencil. Dia harus cerdik menyusun strategi pemasaran. "Kalaupun pasang iklan, nanti calon klien malah kesulitan cari kantornya di mana," ujarnya. Wahono lalu memilih strategi geriliya, menawarkan software dari satu kantor ke kantor lain.

Dia melakukan serapih mungkin agar tak terdeteksi kompetitor. Ia berstrategi agar perusahaan besar mendengar nama Acosys. Mereka diharapkan mendengar melalui marketing mulut ke mulut. Tiga tahun kemudian, banyak perusahaan besar yang diincar mendengar nama Acosys dari lingkungan.

Maka sejak itu, ada 300 klien pertama yang tertarik dan pindah menggunakan Acosys. Wahono pun pindah ke ruko sebagai kantor. Ia bahkan sudah berani beriklan terang- terangan. Software Acosys sudah memiliki varsi ke empat, dengan empat bahasa asing guna merambah ke pasar internasional.

Pengusaha Pin Makassar Sukses Muda Meski Iseng

Biografi Pengusaha Andi Arham Bunyamin


pengusaha pin makassar

Nama pengusaha pin Makssar itu Andi Arham Bunyamin. Ceritanya dia iseng membuka usaha tetapi menghasilkan. Rahasia sukses Andi ialah prinsip kerja penuh dedikasi, apapun diseriusi meskipun sekedar untuk iseng, jadi jika kamu punya kemampuan apa seriusi mungkin jadi bisnis.

Pemuda asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang mengaku memulai dari sekedar iseng. Bahkan modal bisnisnya cuma Rp.50 ribu ketika memulai usaha percetakan. Pemenang kedua Wirausaha Mandiri 2011 ini, memang sangat beruntung dibanding orang lain yang ngotot tapi tidak menghasilkan.

Mari kita mengikuti jejak suksesnya, yang mana dimulai ketika masih dibangku SMA. Dia mengaku, di tahun 2006 silam, Andi diminta mendesain pin buat keperluan organisasi sekolah. Lalu ketidak sengajaan itu terbawa berlanjut diikuti kesuksesan beruntut.

Waktu itu, memang Andi berhasil membuat satu desain bagus. Eh, dia malah ditambahi tugas baru yaitu membuat sekalian. Andi dengan enteng menyanggupi pesanan tersebut. Selepas membuat satu pin, eh, malah teman sekolah menyarankan Andi untuk membuka usaha percetakan sendiri.

Akhirnya makin banyak orang memasan aneka pin kepadanya. Mulai perorangan hingga organisasi sekolah menjadi langganan Andi. Dia menceritakan awal- awal cuma memesankan. Maka ketika permintaan naik maka terbersit kesempatan, sang pemilik toko memberikan harga khusus buat Andi.

Pesanan berkah


Seorang teman meminta dibuatkan desain pin. Lantas berujung proyek pemesanan  50- 100 pin, yang diberika ke Andir dengan uang muka Rp.30 ribu. Itu disanggupinya tanpa takut kalau gagal. Waktu itu, tahun 2006, Andi tanpa sengaja memerkan keahlian mendesain pin sendiri.

"Saya saat itu belum tahu sama sekali mau mencetak di mana," kenangnya.

Satu minggu disusuri Andi hingga menemukan gerai kecil. Toko itu menawarkan berbagai macam model pin. Ia tertarik berhenti lalu mengajukan desain buat dijadikan pin. Pesanan pin sudah jadi seharga Rp.3.700 per- pin, dimana Andi menjual seharga Rp.4.700 per- pin.

Maka sejak itu pula, pemuda yang hobinya bermain komputer itu makin kebanjiran orderan. Sebulan dia diminta membuat 200- 300 pin khusus. Hebat bisnis percetakan tanpa mesin cetak tersebut malah berjalan positif. Maka sejak 2008 dia serius mendalami bisnis percetakan pin untuk membuka sendiri.

Ia menerima semua orderan untuk mengumpulkan modal. Uang Rp.2,5 juta terkumpul selama dua tahun, lantas itu dibelikannya mesin pin sendiri. Sejak 2009 resmi lah berdiri usaha yang bernama Kretakupa singkatan Kreasi tak kunjung padam.

Semakin ke sini, permintaan semakin banyak, dari organisasi sekolah bahkan diluar sekolah. Andi makin giat berusaha semua berkat dorongan teman pula. Orderan dari sekolah maupun kampus asal Makassar. Ketika untungnya masih di Rp.1000, maka segera diberikan mesin ketika kumpul modal.

Tujuan Andi adalah mendapat margin untung lebih besar. Namun harus sejalan dengan popularitas desain miliknya. Untung naik seketika yakni Rp.3000 per- pin dari Rp.1000 -am, ketika itu ia sudah memiliki mesin sendiri.

Pasar pun diperluas hingga kebanjiran orderan. Tidak cuma menerima pin tetapi cetak lain. Untuk mengatasi kekurangan maka dia menggandeng percetakan. Mereka saling bertukar kemampuan, bila Andi membutuhkan mesin cetak lain, maka pihak percatakan itu dipinjamkan mesin pin punyanya.

Untung makin besar ketika Andi mulai menjual bahan bakuy. Dia menjual bahan pembuatan pin ke percetakan lain. Ia menyebut untung sampai naik 400% hingga dilirik oleh Wirausaha Muda Mandiri 2010. Sungguh dia sama sekali tak menyangkan, dari keisangan berbuah manis bisnis jutaan rupiah.

Pengusaha Tidak Lekas Puas


Sukses tidak membuat Andi berhenti mengejar pendidikan. Pengusaha pin Makassar yang sama sekali baru di dunia bisnis Andi kemudian masuk ke Universitas Hassanudin, Makassar. Ia tidak cuma fokus berbisnis, tetapi juga melanjutkan pendidikan.

Aktifitas kuliah ternyata tidak membendung rasa tidak lekas puas Andi. Di dunia bisnis, dia mulai membuat pecetakan kartu nama, stiker, plakat, sampai bendera kempenya digeluti. Pelanggan datang dari Makassar, bahkan beberapa kali dia mendapatkan pesanan dari Malaysia dan Brunei Darusalam.

Andi dibantu lima karyawan. Orderan sudah meningkat sampai ribuan dengan nilai omzet Rp.60 juta sampai Rp.100 juta -an. Dibantu mentoring oleh Bank Mandiri, tidak terbayang usahanya sampai ke titik mana. Usaha ini tetap berjalan, sembari sang pemilik mengembangkan diri di dunia pendidikan.

Berkat usahanya Andi menang lomba Juara II Kategori Mahasiswa Program Diploma dan Sarjana Bidang Industri & Jasa Wirausaha Muda Mandiri 2011. "Hingga akhir tahun 2011, target omzet saya sekitar Rp.250 juta," ujarnya optimis selalu.

Menjadi pengusaha memang harus selalu siap bersaing. Pesaingnya makin banyak menyesaki pasaran Andi. Menurut Andi setiap satu kilometer pasti ada usaha percetakan. Namun bukan hal tersebut membuat sedikit gamang.

Dia justru gamang karena tidak lagi mendapatkan dukungan teman sekolah maupun kuliah. Ia sangat mengakui memang kesuksesannya tidak jauh dari teman. Sejak sekolah, mereka lah pendukungnya membantu kegiatan promosi, Andi juga tidak lupa kepada mereka meski telah sibuk masing- masing.

Usahanya membesar berkat teman sejawat membantu orderan. Dia tidak perlu mengeluarkan biaya promosi. Nampaknya keberuntungan seperti itu tidak dapat terus berlanjut. Andi harus bersiap untuk mandiri. Ia selalu berterima kasih kepada teman- temannya dulu ketika sekolah.

Masuk perkuliahan, Andi dibilang merasa keteteran menjalankan bisnis sambil kuliah. Maka teman Andi datang memberi dukungan moril. Kretakupa harus jadi mandiri soal bisnis tanpa bantuan. Dari semenjak lulus kuliah, jurusan Hubungan Internasional, dia mulai berpromosi sendiri tanpa tekman.

Selain itu dia juga menggiatkan pembaruan dalam layanan. Memanfaatkan bisnis sosial media, Andi berusaha memberi layanan baru, sekaligus menekan biaya promosi. Dia menawarkan kerja sama dengan percetakan memberi bantuan pemenuhan pemesanan pin.

Ia pun mulai rajin mengunjungi beberapa percetakan di Makassar. Dia menemukan celah bisnis. Ia ikut membantu pemenuhan kebutuhan pesanan pin serta gantungan kunci usaha lain. Tidak masalah jika dia tidak mendapatkan nama, yang terpenting pesanan tetap berjalan.

Asal tidak hanya pin, karena Kretakupa mulai menerima pesanan plakat ataupun lainnya. Pokoknya dia tidak mau menunggu bola jatuh dikakinya duluan. Andi juga rajin untuk menjemput bola dan menawarkan sendiri layanan prima.

"Sekarang, ada puluhan pemilik percetakan yang mempercayakan pembuatan pin di Kretakupa," ujar Andi. Bisnis percetakan sendiri memilik satu musim semi yakni ketika musim kampanye politik di daerah.

Contohnya ketika Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan, dimana Andi memerankan peran penting di kedua belah pihak calon memenuhi pesanan peraga kampanye. Omzet Andi bahkan naik dua kali lipat dibanding hari biasanya.

Namun, kadang usahanya juga bisa sepi oderan, dimasa itu ada perasaan kosong di dalam dirinya.

"...saya jadi lebi sering mengunjungi kios percetakan lain, siapa tau mereka butuh bantuan," paparnya. Sulit dalam pemasaran menjadi kendala serius bisnis Kretakupa. Hal lain seperti SDM, mesin, peralatan sudah ia mampu atasi.

Pengusaha Ambisius


Dia tidak memilik latar belakang pendidikan desain atau bisnis. Andi mengakalinya lewat mengikuti aneka pelatihan bisnis. Sikap tidak lekas puas dijadikan dorongan menjalankan bisnis desain. Dari sekeda iseng, rasa tidak puas mendorongnya ketitik kesuksesan. Ia terjun bisnis percetakan bermodal otodidak.

Pemuda 23 tahun ini mendapatkan pelatihan, coaching, branding, marketing, serta hal teknis lain. Berkat itu bisnis lancar hingga mampu memutar roda keuangan. Andi tidak kesulitan modal. Ada prinsip unik ketika ia menjalankan bisnis yakni menghindari hutang bank.

Kalau terpaksa maka cepat- cepat dilunasinya jika ada uang. Misalnya, ketika banyak orderan, dia terpaksa membeli alat cetak warna. Uang Rp.350 digelontorkan Bank kepadanya sebagai hutang. Dalam tiga bulan sudah dilunasi tenpa basa- basi.

Andi sangat optimis memegang teguh prinsip, bahwa bisnis akan membawanya ke kesuksesan lain. Ia bertekat menekuni usaha ini. Bahkan dia sudah ancang- ancang ekspansi ke bisnis lain. Khususnya sektor percetakan dalam sekala besar ke depan.

Ia mengistilahkan bahkan anak baru lahir pun sudah butuh dicetak. Seperti hal pembuatan undangan Aqiqah.

"Sampai ketika ada orang yang meninggal pun butuh dibikinkan buku yasin," tuturnya. Permintaan akan selalu ada meski kecil hanya dia bisa mengakalinya menyasar pesanan besar.

Pokoknya prospek bisnis percetakan bagi Andi masih terbuka. Ia bahkan bertekat untuk membuka cabang Kretakupa di berbagai wilayah. Jangka pendekanya membuka cabang di penjuru Sulawesi. Menurutnya, dari membuka cabang lebih untung, dibanding menerima pesanan dari percetakan lain.

Target besar ialah memiliki cabang di ibu kota provinsi di Sulawesi. Meski tanpa cabang saja usahanya sudah punya untung besar, apalagi kalau bercabang. Awal 2008 saja, Andi mampu mengumpulkan omzet 50 juta per- tahun, terusa mencapai Rp.60- 100 juta.

Jadi Eksportir Buah Pengusaha Ahmad Abdul Hadi

Profil Pengusaha Ahamad Abdul Hadi


pengusaha eksportir mangga

Membayangkan jadi eksportir buah pasti terlihat susah. Tetapi Ahmad Abdul Hadi berhasil menjadi pengusaha. Ia bisa mengekspor buah padahal pendidikannya cuma Pesantren. Hidup menjadi seorang petani biasa, sungguh tidak ada bayangan untuk mengekspor dari luar negeri.

Kedua orang tuanya hanyalah pemilik kebun mangga. Bayangan untuk mengekspor buah telah ada di benak Hadi. Pengusaha muda kelahiran Cirebon, 7 Oktober 1984, yang menanam buah mangga jenis gedong gincu. Pertanyaannya apakah dia bisa mengekspor buah mangga yang telah ditanam itu.

Pertanyaan yang membutuhkan jawaban melalui pelajaran dan pengalaman. Ia termasuk orang yang suka menantang. Hadi tidak tau sama sekali proses regulasi ekspor. Dia tidak pula tahu apakah ini akan terjual. Belum soal legalitas usaha, dokumen, prosedur pengiriman, dan tetek bengek teknisnya.

Ia membayangkan siapa yang akan membeli. Bagaiman dia bisa mengirim buah- buah tersebut tanpa membusuk. Sembari Hadi mengawasi mangga- mangga yang dikumpulkan. Benaknya terus berpikir untuk bisa ekspor. Dia mantap mengapa buah berkualitas ini tidak cuma dijual lokal.

Transformasi Pengusaha

Pemuda lulusan Gontor tahun 2004, yang pernah bekerja sebagai guru. Saban lulus siswa diwajibkan untuk mengajar adik kelasnya. Begitu pula Hadi yang mengajar tetapi tidak menjadi guru tetap. Dia kemudian kembali ke desa, yang mana ada kebun 1 hektar milik keluarga untuk diurus.

Hadi sempat berkuliah Jurusan Ekonomi di 2005. Selesai pada 2010, dia menikah dan melanjutkan mengelola kebun buah. Pandangannya yang luas membawa tekat untuk mengekspor. Dia mengelola kebun mangga gedong gincu menjadi naik kelas.

Keinginan itu didukung sang ayah, H. Sukaya, tetapi bagaimana car Hadi memulai bisnis ini. Dia mengenang mencari segala sesuatu soal ekspor dari internet. Dia lanta coba- coba menawarkan buah ini ke orang Singapura. Hadi pun mencoba beberapa kali mengirim buah mangga ke luar negeri.

Melalui internet Hadi mengirim beberapa foto lewat email. Dia sendiri yang memotret untuk dijual ke orang- orang. Ada pembeli asal Singapura yang setuju untuk membeli mangga. Hadi lalu berangkat ke Singapura, dibawanya beberapa sampel buah, tetapi terpaksa ditahan di Bandara Changi.

Pengusaha Ahmad Hadi tidak melengkapi berkas- berkas ekspor. Penampilannya juga tak nampak meyakinkan sebagai eksportir. Dari sanalah, dia baru tau bahwa semua produk pertanian harus punya sertifikat. Singkat cerita, Hadi berhasil menemui sang pembeli, hingga kesepakatan mengirim terjadi.

Semenjak itulah maka lahir nama CV. Sumber Buah, dengan produk andalan buang mangga gedong gincu. Hadi melabeli buahnya SAE dan berhasil mengirim pertama kali. Ia tak akan pernah lupa akan hari itu. Selain sebagai hari pertama ekspor, itu juga bertepatan dengan tanggal kelahiran sang ibu.

Hadi mengekspor 17,5 ton buah ke pembeli asal Singapura. Beruntung pembeli tersebut memberikan pembelajaran soal ekspor. Pembeli itu mengajarkan soal mengurus dokumen dan  packing produk. Ini menjadi bekal Hadi untuk mengekspor sampai ke China.

Cita- Cita Ekspor ke Luar Negeri


Bila pengusaha lain memilih untuk menentukan masa depan sendiri. Maka Hadi memilih melanjutkan bisnis keluarga. Tetapi pandanganya tetap luas seluas mereka yang di sana. Bahwa pengusaha muda harus terus berinovasi. Hadi memanfaatkan pengetahuannya di bidang ekonomi untuk berbisnis.

Ada gudang besar melekat denga rumah Sukarya di Desa Kedung Duwo, Kedawung. Ia menyulap tempat itu menjadi pabrik pengemasan kecil- kecilan. Dia juga bekerja sama dengan para peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian Serpong.

Mereka telah mengecek standar mutu dari buah mangga ekspor Hadi. Penelitian dimulai dari pasca- panen sampai dikirim. Hadi sudah tau betul bagaimana mengemas buah yang baik. Walau itu masih tradisional sehingga bertahan cuma seminggu.

Ke depan, dibantu pihak peneliti, Hadi mungkin akan menerapkan teknik sortir dari Australia dan Amerika. Ini akan membuka peluang baginya untuk ekspor lebih jauh. Hadi selalu belajar untuk lebih baik soal bisnis ekspor mangga ini. Ia memastikan kualitas ekspor untuk tiap buah- buah yang telah matang.

Penyortiran sangat teliti dibantu oleh 60 orang karyawan. Tidak boleh ada yang sampai busuk ketika sampai. Untuk masalah permintaan yang meningkat, Hadi merangkul petani binaan yang membantu suplai 90 persen. Alhasil Hadi mampu memenuhi permintaa ekspor walaupun musim kemarau tiba.

Harga mangga di petani dibeli seharag Rp.16 ribu per- kg untuk gincu. Buat mangga haru manis dia membeli Rp.6 ribu per- kg. Ia telah menentukan betul harganya agar cocok diekspor. Hadi membeli dari petani dengan harga wajar, tetapi cukup buat menghasilkan keuntungan.

Ketika pesanan tiba, Hadi akan menerima telephon sendiri, dan mulai membicarakan urusan bisnis. Ia nampak layak sebagai pengusaha muda ekspor nasional. Gaya bicaranya meyakinkan untuk membeli barang dagangan. Hadi juga melengkapi dirinya dengan bahasa Inggris dan Arab yang faseh.

Pengusaha Properti Muda Terinspirasi Ciputra

Profil Pengusaha Msg Syaiful Fadli


pengusaha properti muda

Syaiful Fadli dikenal sebagai sosok pengusaha properti muda. Ia berkata semua karena terinspriasi dari Ciputra. Wajahnya berseri- seri tampak selalu tersenyum dan mudah tertawa. Dia orangnya tuh supel, terlihat ramah dan banyak memiliki kenalan.

Relasi Fadli memang luas dikalangan pebisnis properti. Msg. Syaiful Fadli, usianya baru 31 tahun, tetapi dia telah memiliki usaha properti beromzet Rp.10 miliar per- tahun. Perusahaan bernama CV. Sehati, yang fokus membangun komplek perumahan Kencana Hati yang ke delapan.

Bukan mudah karena dia butuh perjuangan membangun ini. Tidak semudah untuk membalik telapak tangan. Pengusaha almuni pertambangan dari Universitas Srwijaya (Unsri). Mengaku pernah usaha rental komputer bahkan jualan majalah.

Prospek Bisnis Properti


"Sejak kuliah saya sudah mulai usaha. Saya pernah usaha rental komputer dan jualan majalan," tutur pebisnis muda ini.

Unik karena dasarnya dia bahkan tidak punya komputer. Berkat komputer pinjaman teman, dia bisa membuka jasa rental untuk dipinjamkan ke orang lain. Mungkin dari sinilah nampak bakat Syaiful soal properti muncul.

Sosok Ciputra merupakan inspirasi bagi banyak pengusaha muda. Hanya saja, tak banyak yang nekat memilih properti, apalagi orang bilang bisnis ini membutuhkan modal besar. Syaiful tidak takut bila harus memulai dengan modal minimal.

Gemar membaca buku kewirausahaan dan motivasi diri. Ciputra menjadi sosok entrepreneur yang mumpuni dimata Syaiful. Ia makin bersemangat untuk memulai membuka usaha. Nama Robert T. Kiyosaki kemudian melengkapi tekatnya untuk berwirausaha.

Begitu lulus kuliah sembari menunggu kelahiran anaknya yeng ke 2, Syaiful lansung tancap gas membuka perusahaan properti. Dia bersama kawan- kawan yang memang memiliki pengetahuan soal bangunan. Mereka para arsitektur muda dan teknik sipil yang membutuhkan pengalaman kerja nyata.

Mereka menarget bisnis renovasi properti. Tidak ada modal mumpuni buat membuka usaha. Tetapi ia tidak mundur, malah nekat meminjam uang buat modal. Total dia mendapatkan Rp.30 jutaan dari pinjaman teman- teman.

Klien awal Syaiful adalah para dosen Unsri sendiri. Mereka meminta renovasi rumah lewat tangan dingin Syaiful. Dari 2005- 2009, dia mampu bertahan dan bisnisnya berjalan terus. Tentu saja banyak lika- liku yang dihadapi Syaiful sebagai pengusaha properti muda.

Usaha dia berkembang ketika dipercaya pengembang kelas kakap. Berawal dari diminta membuka satu rumah katering. Bahkan demi memenuhi kebutuhan ini, Syaiful berani menggelontorkan uang untuk mendirikan CV. Sehati. Bayangkan proyek senilai Rp.600 juta di tahun 2007 silam.

Syaiful telah membangun sekitar 200 unit rumah dan ruko di seluruh Palembang. Harga per- untinya saja berkisaran Rp.200-700 juta.

Syaiful mengenang pernah berhutang 3 juta untuk membayar tukang. Waktu itu hari Jum'at sementara Sabtu sudah harus bayar. Dia pun pergi mencari- cari pinjaman kemanapun. Padahal istrinya tengah mengandung sembilan bulan dan posisi hujan.

"Alhamdulillah sorenya saya dapat pinjaman," tuturnya.

Mungkin tampak sepele tetapi menjadi pengalaman tak terlupakan. Untuk mencegah hal- hal yang tak terduga, Syaiful memindahkan jadwal pembayaran menjadi Senin. Menurutnya bisnis bukan sekedar modal, tetapi justru kepercayaan dan kejelian sehingga apa dijalankan bekerja.

"Serta, harus memiliki mimpi untuk menjadi orang sukses," tutupnya.

Bisnis Kedai Kopi Javapuccino Pengusaha M. Asmui

Profil Pengusaha M. Asmui Kammuri 



Dia bukan pengusaha sejak usia belia. Juga bukan lah pengusaha karena punya modal besar. Justru keterpaksaan mungkin yang membawanya menjadi pengusaha. Pria kelahiran Semarang, 24 Oktober 1985, yang mulai ketagihan membuka usaha sendiri semenjak satu bisnis kedai kopi.

Bahkan hobi M. Asmui Kammuri sekarang, bisa dibilang hobinya adalah membuka aneka usaha. Bukan perkara mudah memulai usaha mandiri. Pertama kali ia membuka usaha yang paling mudah, waktu itu, ya membuka bimbingan belajar atau bimbel.

Semenjak berkuliah di Universitas Islan Negeri (UIN), otomatis dia membutuhkan lebih banyak uang untuk kebutuhan kuliah. Keluarga Asmui bukanlah keluarga berlebihan uang. Ia yang mengambil jurusan akutansi, dorongan untuk membiaya kebutuhan kuliah sendiri semakin kuat.

Membuka Usaha Sendiri


Asmui kembali mendirikan usaha bimbel kembali. Nama bimbel itu adalah Smart Collage, yang tentor didatangkan dari teman- teman Asmui. Hasil dari bimbel ternyata lumayan cukup untuk membiayai kuliah. Ia terinspirasi  sukses bimbel Bintang Pelajar, tempatnya praktik mengajar dulu.

Cukup bermodal pribadi mereka bergeriliya menjadi guru les privat. Sukses itu ternyata memiliki konsekuensi tersendiri. Bagi Asmui yang sibuk berwirausaha itu berarti tidak fokus berkuliah. Alhasil cuma sebentar, sekitar dua tahun perjalanan, maka bubar lah bimbel miliknya tersebut tidak bersisa.

Padahal hasilnya lumayan bisa menambah buat biaya kuliah kan. Menjalankan usaha membuatnya terbuai dalam kesibukan. Asmui jadi jarang berangkat dan masuk ke kelas. Ditambah lagi nilai- nilai akademisnya malah menurun berarti dia gagal.

Padahal kedua orang tua Asmui bukan lah orang berada. Mereka cuma petani yang secara finansial kerepotan menguliahkan dia. Gagal berbisnis, dan tuntutan kebutuhan, ia tidak mau menyerah untuk mencari kesempatan berbisnis.

Bisnis sebagai tambahan merupakan cara lain untuk melunasi hutang. Itu juga caranya agar dia bisa menyelesaikan kuliah. Pokoknya dia harus bisa berwirausaha jalan, tetapi kuliah juga jalan dengan nilai memuaskan.

Suatu ketika, dia mencoba usaha minuman, yang dirasanya mudah dikerjaka serta murah. Untung pun terhitung besar dibanding usaha lain. Kenapa tidak coba usaha makanan, ternyata ada perhitungan sendiri hingga ia urung. Terutama karena dia merasa ribet tiap kali mengerjakan pesanan makanan.

"Apalagi, makanan juga lebih mudah basi. Kalau tidak laku, malah merugikan," jelasnya.

Minuman Kopi Waralaba


Usaha minuman pertama kali ialah jualan es teh. Sembari dia berkuliah dan juga mengajar anak les privat; dia berjualan minuman es teh. Hingga lahirlah minuman teh spesial bernama Josstea. Tetapi masalah timbul dari nama es teh yang dia jajakan tersebut.

Sayang, Asmui tidak berhasil mendapatkan hak paten atas nama, maka tutuplah usaha itu tanpa tidak lanjut. Yang berhasil justru usaha minuman kopi yang lantas diberi nama Javapuccino. Usaha yang ia serius kemudian sukses besar menghantarkan namanya.

Ia tidak mau sembarangan meracik kopi. Sebelum berbisnis, Asmui sempatkan dulu untuk kursus barista kepada seorang bartender. Pada 2 Februari 2008, pengusaha muda ini memberanikan diri untuk membuka kios kopi di Ciputat, yang mana modalnya Rp.3 juta untuk sewa grobak dan tempat.

Tanpa disangka, ternyata kopi racikannya disukai sampai laris manis. Sembari tetap berkuliah, dia menjalankan bisnisnya tanpa saling menganggu. Ia mengakali ini dengan menggaji karyawan untuk jualan. Jadi Asmui bisa lebih mudah berkuliah tanpa mengurangi nila- nilainya.

Karena berjualan di pinggir jalan, layaknya PKL lain, Asmui menghadapi aneka bentuk premanismen di jalanan. Mereka kerap meminta jatah keamanan kepada Asmui. Selain itu gerobak yang dititipkan juga kena jarah sampai ludes.

Suatu hari bisa kotak penyimpanan es raib, atau blender yang hilang entah kemana, tetapi yang pasti dia tidak pernah berhenti berjuang. Setahun berjalan usahanya makin maju, hingga Asmui merambah aspek lain. Karena sukses dia semakin bergairah membangun bisnis- bisnis lain.

Terbukti lewat inovasi aneka minuman ice blend coffee juga aneka teh. Ia juga menambahkan aneka bubble drink dan smoothies. Bahkan sebelum setahun berdagang kaki lima sudah bisa naik kelas. Ia telah memiliki tempat sendiri.

"Persaingan orang untuk bisa masuk kantin memang luar biasa," jelasnya.

Bertahap namun pasti bisnis kedai kopi bisa menjalar ke beberapa kantin lain, mulai dari kampusnya, lalu kantin Universitas Trisakti, Universitas Tarumanegara, Universitas Padjadjaran, Universitas Sumatra Utara dan sejumlah kampus lain.

Tahun 2009, ia total memiliki 26 kedai berbentuk booth, lalu menjalar ke kantin- kantin. Semuanya itu dijalankan oleh teman, saudara, dan bahkan ada dosen, yang menjadi patner bisnis Asmui. Target dari jualan Asmui adalah para mahasiswa sebagai anak muda.

Lewat lokasi kantin maka masuklah ke sekolah, kampus, dan perkantoran pula. Alasannya merambah kantin lagi, karena bisnis ini murah, sementara menyewa tempat di kantin lebih hemat. Padahal lewat kantin target pasarnya begitu terbentang lebar.

Untuk pegawai tinggal memanfaatkan mahasiswa. Mereka yang mau bisa bekerja setengah hari. Hingga ia menawarkan biar si mahasiswa sendiri yang mencari tempat. "Saya kasih fee sesuai target," jelas pengusaha M. Asmui.

Menyasar aneka instansi digencarkan olehnya. Sampai, di tahun 2009, bisnis miliknya resmi terdaftar atas merek dagang. Juga termasuk pendirian perusahaan bernama PT. Javapuccino Coffee. Selepas itu, ia sendiri masih berhasrat lebih lagi, target berikutnya adalah membangun usaha kafe.

"Belum banyak persaiangan di gedung perkantoran. Biasanya di satu kantor hanya terdapat satu kafe," jelasnya.
 

Merambah Bisnis Lain


Dia menjelaskan padahal di Jakarta masih banyak. Yah, masih banyak gedung perkantoran yang bahkan belom punya kafe. Di tahun 2011, ia telah menyelesaikan kuliah dan siap berbisnis lebih, untuk itulah maka lahir konsep bernama Island Kafe.

Pada pertengahan 2012, Asmui sudah mempunya lima kafe sendiri bukan kantin seperti dulu. Produk kafenya masih tetap sama seperti dulu ditambah aneka makanan. Menu andalah miliknya yaitu aneka makanan dan snack khas Jawa dan Italia.

Asmui juga menawarkan kerja sama berbentuk franchise loh. Berkat kerja kerasnya, dia meraih aneka penghargaan Wirausaha Muda Sukses Terbaik 2011 dari Menteri Koperasi dan UKM, Indonesia Franchise Award 2011 Kategori Fastest Growing Franchise, dan Juara Wirausaha Muda Mandiri 2010.

Ini merupakan pengembangan usaha berbentuk booth alias kaki lima. Nama Javapuccino Coffe berkembang jadi Javapuccion itu sendiri. Sejak 2008 berjualan kaki lima, tahun 2012, usahanya sudah merangkak sampai sekala kedai kopi hingga menjadi bisnis kafe.

Untuk usaha booth masih dipertahankan hingga dijadikannya model franchise. Usaha booth lantas bermetamorfosis di 2011 menjadi Solopuccino. Harapan sang pemilik adalah agar bisa mengembang ke segala arah. Perubahaan nama ini dampaknya tidak mengurangi minat franchisor untuk mendaftar.

Jumlah totalnya ada 200 booth Javapuccino, dan 100 booth milik Solopuccino, yang dipegang para franchisor. Bisnis restoran akhirnya bisa Asmui realiskan lewat Javachicken akhir 2012. Konsep restoran ini seperti milik si Colonel Sanders, yang difokuskan buat pasar Kalimantan dan Sulawesi.

Sampai di 2013 saja sudah mampu menargetkan 5 restoran Javachicken. "Buka pertama di Sampit. Di sana belum ada kompetitor. Lokasi yang memang bagus, kita konsep restorannya ala Jakarta. Pertumbuhannya bagus sekali," bangganya kepada pewarta SWA.

Ia sendiri belum bisa berkata banyak. Masih perlu banyak penyesuaian katanya dan memang butuh waktu. Hal lain, Asmui ikut masuk ke bisnis sepatu, yang mengusung nama Della Luce diproduksi di Bogor. Tak tanggung- tanggung, pasar sepatu milik Asmui ini menyasar kalangan menengah atas loh.

Untuk usaha fashion digandeng lah sang istri, Wiwi Winarti, sebagai ujung tombak dari bisnis PT. Pancaksuji Makmur.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba