Bisnis Kedai Kopi Javapuccino Pengusaha M. Asmui

Profil Pengusaha M. Asmui Kammuri 



Dia bukan pengusaha sejak usia belia. Juga bukan lah pengusaha karena punya modal besar. Justru keterpaksaan mungkin yang membawanya menjadi pengusaha. Pria kelahiran Semarang, 24 Oktober 1985, yang mulai ketagihan membuka usaha sendiri semenjak satu bisnis kedai kopi.

Bahkan hobi M. Asmui Kammuri sekarang, bisa dibilang hobinya adalah membuka aneka usaha. Bukan perkara mudah memulai usaha mandiri. Pertama kali ia membuka usaha yang paling mudah, waktu itu, ya membuka bimbingan belajar atau bimbel.

Semenjak berkuliah di Universitas Islan Negeri (UIN), otomatis dia membutuhkan lebih banyak uang untuk kebutuhan kuliah. Keluarga Asmui bukanlah keluarga berlebihan uang. Ia yang mengambil jurusan akutansi, dorongan untuk membiaya kebutuhan kuliah sendiri semakin kuat.

Membuka Usaha Sendiri


Asmui kembali mendirikan usaha bimbel kembali. Nama bimbel itu adalah Smart Collage, yang tentor didatangkan dari teman- teman Asmui. Hasil dari bimbel ternyata lumayan cukup untuk membiayai kuliah. Ia terinspirasi  sukses bimbel Bintang Pelajar, tempatnya praktik mengajar dulu.

Cukup bermodal pribadi mereka bergeriliya menjadi guru les privat. Sukses itu ternyata memiliki konsekuensi tersendiri. Bagi Asmui yang sibuk berwirausaha itu berarti tidak fokus berkuliah. Alhasil cuma sebentar, sekitar dua tahun perjalanan, maka bubar lah bimbel miliknya tersebut tidak bersisa.

Padahal hasilnya lumayan bisa menambah buat biaya kuliah kan. Menjalankan usaha membuatnya terbuai dalam kesibukan. Asmui jadi jarang berangkat dan masuk ke kelas. Ditambah lagi nilai- nilai akademisnya malah menurun berarti dia gagal.

Padahal kedua orang tua Asmui bukan lah orang berada. Mereka cuma petani yang secara finansial kerepotan menguliahkan dia. Gagal berbisnis, dan tuntutan kebutuhan, ia tidak mau menyerah untuk mencari kesempatan berbisnis.

Bisnis sebagai tambahan merupakan cara lain untuk melunasi hutang. Itu juga caranya agar dia bisa menyelesaikan kuliah. Pokoknya dia harus bisa berwirausaha jalan, tetapi kuliah juga jalan dengan nilai memuaskan.

Suatu ketika, dia mencoba usaha minuman, yang dirasanya mudah dikerjaka serta murah. Untung pun terhitung besar dibanding usaha lain. Kenapa tidak coba usaha makanan, ternyata ada perhitungan sendiri hingga ia urung. Terutama karena dia merasa ribet tiap kali mengerjakan pesanan makanan.

"Apalagi, makanan juga lebih mudah basi. Kalau tidak laku, malah merugikan," jelasnya.

Minuman Kopi Waralaba


Usaha minuman pertama kali ialah jualan es teh. Sembari dia berkuliah dan juga mengajar anak les privat; dia berjualan minuman es teh. Hingga lahirlah minuman teh spesial bernama Josstea. Tetapi masalah timbul dari nama es teh yang dia jajakan tersebut.

Sayang, Asmui tidak berhasil mendapatkan hak paten atas nama, maka tutuplah usaha itu tanpa tidak lanjut. Yang berhasil justru usaha minuman kopi yang lantas diberi nama Javapuccino. Usaha yang ia serius kemudian sukses besar menghantarkan namanya.

Ia tidak mau sembarangan meracik kopi. Sebelum berbisnis, Asmui sempatkan dulu untuk kursus barista kepada seorang bartender. Pada 2 Februari 2008, pengusaha muda ini memberanikan diri untuk membuka kios kopi di Ciputat, yang mana modalnya Rp.3 juta untuk sewa grobak dan tempat.

Tanpa disangka, ternyata kopi racikannya disukai sampai laris manis. Sembari tetap berkuliah, dia menjalankan bisnisnya tanpa saling menganggu. Ia mengakali ini dengan menggaji karyawan untuk jualan. Jadi Asmui bisa lebih mudah berkuliah tanpa mengurangi nila- nilainya.

Karena berjualan di pinggir jalan, layaknya PKL lain, Asmui menghadapi aneka bentuk premanismen di jalanan. Mereka kerap meminta jatah keamanan kepada Asmui. Selain itu gerobak yang dititipkan juga kena jarah sampai ludes.

Suatu hari bisa kotak penyimpanan es raib, atau blender yang hilang entah kemana, tetapi yang pasti dia tidak pernah berhenti berjuang. Setahun berjalan usahanya makin maju, hingga Asmui merambah aspek lain. Karena sukses dia semakin bergairah membangun bisnis- bisnis lain.

Terbukti lewat inovasi aneka minuman ice blend coffee juga aneka teh. Ia juga menambahkan aneka bubble drink dan smoothies. Bahkan sebelum setahun berdagang kaki lima sudah bisa naik kelas. Ia telah memiliki tempat sendiri.

"Persaingan orang untuk bisa masuk kantin memang luar biasa," jelasnya.

Bertahap namun pasti bisnis kedai kopi bisa menjalar ke beberapa kantin lain, mulai dari kampusnya, lalu kantin Universitas Trisakti, Universitas Tarumanegara, Universitas Padjadjaran, Universitas Sumatra Utara dan sejumlah kampus lain.

Tahun 2009, ia total memiliki 26 kedai berbentuk booth, lalu menjalar ke kantin- kantin. Semuanya itu dijalankan oleh teman, saudara, dan bahkan ada dosen, yang menjadi patner bisnis Asmui. Target dari jualan Asmui adalah para mahasiswa sebagai anak muda.

Lewat lokasi kantin maka masuklah ke sekolah, kampus, dan perkantoran pula. Alasannya merambah kantin lagi, karena bisnis ini murah, sementara menyewa tempat di kantin lebih hemat. Padahal lewat kantin target pasarnya begitu terbentang lebar.

Untuk pegawai tinggal memanfaatkan mahasiswa. Mereka yang mau bisa bekerja setengah hari. Hingga ia menawarkan biar si mahasiswa sendiri yang mencari tempat. "Saya kasih fee sesuai target," jelas pengusaha M. Asmui.

Menyasar aneka instansi digencarkan olehnya. Sampai, di tahun 2009, bisnis miliknya resmi terdaftar atas merek dagang. Juga termasuk pendirian perusahaan bernama PT. Javapuccino Coffee. Selepas itu, ia sendiri masih berhasrat lebih lagi, target berikutnya adalah membangun usaha kafe.

"Belum banyak persaiangan di gedung perkantoran. Biasanya di satu kantor hanya terdapat satu kafe," jelasnya.
 

Merambah Bisnis Lain


Dia menjelaskan padahal di Jakarta masih banyak. Yah, masih banyak gedung perkantoran yang bahkan belom punya kafe. Di tahun 2011, ia telah menyelesaikan kuliah dan siap berbisnis lebih, untuk itulah maka lahir konsep bernama Island Kafe.

Pada pertengahan 2012, Asmui sudah mempunya lima kafe sendiri bukan kantin seperti dulu. Produk kafenya masih tetap sama seperti dulu ditambah aneka makanan. Menu andalah miliknya yaitu aneka makanan dan snack khas Jawa dan Italia.

Asmui juga menawarkan kerja sama berbentuk franchise loh. Berkat kerja kerasnya, dia meraih aneka penghargaan Wirausaha Muda Sukses Terbaik 2011 dari Menteri Koperasi dan UKM, Indonesia Franchise Award 2011 Kategori Fastest Growing Franchise, dan Juara Wirausaha Muda Mandiri 2010.

Ini merupakan pengembangan usaha berbentuk booth alias kaki lima. Nama Javapuccino Coffe berkembang jadi Javapuccion itu sendiri. Sejak 2008 berjualan kaki lima, tahun 2012, usahanya sudah merangkak sampai sekala kedai kopi hingga menjadi bisnis kafe.

Untuk usaha booth masih dipertahankan hingga dijadikannya model franchise. Usaha booth lantas bermetamorfosis di 2011 menjadi Solopuccino. Harapan sang pemilik adalah agar bisa mengembang ke segala arah. Perubahaan nama ini dampaknya tidak mengurangi minat franchisor untuk mendaftar.

Jumlah totalnya ada 200 booth Javapuccino, dan 100 booth milik Solopuccino, yang dipegang para franchisor. Bisnis restoran akhirnya bisa Asmui realiskan lewat Javachicken akhir 2012. Konsep restoran ini seperti milik si Colonel Sanders, yang difokuskan buat pasar Kalimantan dan Sulawesi.

Sampai di 2013 saja sudah mampu menargetkan 5 restoran Javachicken. "Buka pertama di Sampit. Di sana belum ada kompetitor. Lokasi yang memang bagus, kita konsep restorannya ala Jakarta. Pertumbuhannya bagus sekali," bangganya kepada pewarta SWA.

Ia sendiri belum bisa berkata banyak. Masih perlu banyak penyesuaian katanya dan memang butuh waktu. Hal lain, Asmui ikut masuk ke bisnis sepatu, yang mengusung nama Della Luce diproduksi di Bogor. Tak tanggung- tanggung, pasar sepatu milik Asmui ini menyasar kalangan menengah atas loh.

Untuk usaha fashion digandeng lah sang istri, Wiwi Winarti, sebagai ujung tombak dari bisnis PT. Pancaksuji Makmur.

Pengusaha Ridwan Abadi Tawarkan Waralaba

Profil Pengusaha Ridwan Abadi


motivator ridwan abadi
 
Brand Cincaupuccino pernah mengalami masa- masa jayanya. Sosok dibalik itu pengusaha Ridwan Abadi tawarkan waralaba. Prinsip minuman ini ialah kemasan segala musim. Bila capucino kurang laku dikala musim panasa. Cincaupuccino dijual dingin- dingin untuk menghilangkan dahaga kita.

Inovasi bisnis yang datangnya dari Kota Malang, Jawa Timur. Ridwan mengambil hati pelanggan lewat iklan yang gencar. Menawarkan advertising menarik yang bikin ngiler aja. Nanti kalau orang lewat depan gerai Cincaupuccino akan langsung tergiur akan rasanya.

Ridwan Abadi merupakan sedikit dari pengusaha yang maju. Usahanya terbilang lancar walau terlihat sering gonta- ganti. Padahal kalau dicermati Ridwa hanya melakukan kebanyakan pengusaha. Ia telah menciptakan beberapa produk, hingga menjadikan banyak cabang passive income.

Pengusaha Serba Waralaba


Membayangkan Cincaupuccino terasa manis dan dingin di mulut. Segar bila diminum ketika musim panas dikala terik matahari. Iklan Ridwan nampak berhasil hingga menarik pelanggan untuk mampir. Berkat iklan outletnya didatangi beberapa masyarakat dan semakin banyak.

Ridwa meyakinkan rasa Cincapuccino enak eksklusif. Komposisi rasa terjamin karena telah memiliki standarisasi. Soal pengemasan pun menarik untuk dipesan segera. Kalau dilihat kemasannya seperti minuman kopi Starbucks. Bermodal sekitar 10 jutaan tetapi omzet Rp.200 juta berkat satu trik.

Ridwan menawarkan konsep waralaba yang terstruktur. Tawaran waralaba meliputi aneka jenis paket investasi. Dari investasi waralaba biasa Rp.7,5 juta, exclusive 15 juta, dan super mitra Rp.35 juta. Dia berhasil membangun 50 cabang berkat franchise.

Bisnis lain Ridwan ialah batagor dengan konsep ala Jepang. Bisnisnya diberi nama Batagor Jepang Takashi Mura (BJTM). 

"Soalnya batagor saya banyak peminat dan menjadi menu favorit," tukas pengusaha Ridwan Abadi.

Tahun 2008, dia mendirikan restoran Dapur Unik, sedangkan Cincapuccino dibawah PT. Era Mulia Abadi Sejahtera. Pokoknya semua bisnis pengusaha ini memiliki citra unik. Bila batagor Bandung itu terbuat dari tahu putih, berisi adonan tengiri, udang, dan tapioka.

Maka batagor Jepang memakai ikan tuna dan tepung katsu. Selanjutnya ia menggunakan saos teriyaki alih- alih sekedar saus kacang. Untuk melengkapi keunikan tersebut, ia menambahkan cireng, siomay, telur rebus, dan kentang. Ridwan punya pendapat sendiri menyikapi makanan ala Jepang.

Dia berpikir kita telah diserbu makanan asing seperti burger, pizza, dan fried chicken. Makanan asli Indonesia nampak diserang hingga terpuruk. Harapannya dengan memanfaatkan booming makanan asing. Bertahap Ridwan akan membalikan serangan itu menjadikan batagor sampai ke luar negeri.

Pengusaha Ridwan Abadi tawarkan waralaba dalam aneka bentuk. Aneka camilan berasa restorang dengan harga kaki lima. Ridwan sendiri memiliki pandangan dalam membangun bisnis. Ia lebih ke arah Timur, seperti Surabaya, Malang, Makassar, dan Balikpapan, yang memiliki cita rasa berbeda.

Kue Bingka Bakar Bisnis Kerja Keras Wisnu

Profil Pengusaha Rosnendya Wisnu Wardhana


bingka bakar batam
 
Tidak mudah baginya mencapai posisi Wisnu sekarang. Kue bingka bakar, ide bisnis kerja keras yang tak terbayangkan. Rosnendya Wisnu Wardhana sempat berpikir bisnis konvensional. Dia pernah jadi penjual pulsa konter. Wisnu juga pernah membuka usaha cuci helm, cuci motor, dan angkirangan.

Itu semua gagal tetapi justru ketemu kue tradisional tersebut. Coba dipikirkan kok bisa kue bingka bakar menghasilkan omzet ratusan juta rupiah. Sukses itu tidak didapat dalam sekejab tetapi butuh perjuangan.

"Karena kelolanya tidak fokus. Alhamdulillah, semua usaha saya akhirnya tutup," ia mengenang dulu sebelum jualan bingka.

Pengusaha yang tidak pernah putus asa. Sampai dia bangkit kembali dan memulai usaha lain. Ia lalu merintis usaha pembuatan kue bingka dan bilis. Jualan aneka kue tradisional yang dimodali Rp.5 juta saja. Ia ingat waktu itu tahun 2009, uang segitu dibelikan mixer, loyang, dan cetakan kue.

Pengusaha Kecil- Kecilan


Begitu sudah membeli bahan baku tinggal mencari tempat. Alih- alih menyewa tempat, Wisnu lebih memilih stan ukuran 2x3 di kawasan Pasar Mega Lagendang, Batam. Begitu menyewa tempat kecil itu sudah habislah modal. Biaya sewa yang dia keluarkan Rp. 390.000 per- bulan yang cukup murah.

Membayangkan berjualan aneka jajanan pasar di Batam. Kota industri itu dirasa cukup besar buat dia berjualan. Dia menjual berbagai camilan yang dijual di pasar. Awalnya dia menjual banyak sekali jenis tidak fokus, seperti kerupuk ikan, keripik talas, hingga keladi pedas.

Hampir dua bulan berjualan tanpa dia paham mau jualan apa. Wisnu akhirnya fokus membuat bingka bakar. Di awal berjualan, kue buatanya tidak begitu laris dan terjual cuma 15 loyang. Padahal ia ingat betul harnya murah cuma Rp.8000 per- loyang.

Berbeda dengan sebelumnya dia malah semakin bertekat. Ia merasa kue bingka bakar bisa menjadi oleh- oleh khas. Ia gencar mempromosikan produk itu ke sejumlah acara, baik kelurahan, kecamatan, dan bahkan provinsi. Bahkan acara khataman Al Quran dan penyuluhan keluarga berencana tak lolos.

Kerja keras Wisnu berbuah hasil dengan mulai datang pesanan. Pada 2009, Pemerintah Kota Batam mengajaknya ikutan acara Asia Food Festival di Singapura. Berkat mengikuti acara tersebut namanya semakin dikenal. Kue bingka bakar bikinan Wisnu pun semakin laris diborong masyarakat Batam.

Wisatawan mulai mengikuti tidak pulang Batam tanpa bingka bakar. Awalnya Wisnu sempat minder bila wartawan mengunjunginya. "Karena kecil- kecilan, seperti konter pulsa gitu," ia melanjutkan. Di tahun 2010, dia memindahkan gerainya ke ruko, yang lebih besar dan bersih dibanding dulu.

Kue tradisional kalah pamor dibanding produk makanan impor. Aneka roti asing sudah menguasai pasar Kota Batam. Tetapi Wisnu meyakinkan diri untuk tetap menjual kue bingka. Selama ini di Kota Batam telah diserang aneka kue coklat, baik dari Singapura atau Malaysia.

Kue Bingka Bakar mampu menjual sampai 11.000 loyang perhari. Harga jual 20.000 per- loyang atau omzetnya mencapai ratusan juta. Cukup buat menghidupi keluarga dan 60 orang karyawan. Semakin lama produknya dikenal, semakin banyak wisatawan yang membawa sebagai oleh- oleh khas.

Popularitas kue ini bahkan sampai ke Negara Singapura. Ia memperkenalkan produk ini ketika aktif mengikuti pameran di Singapura. Produk kue bingkanya telah dimodifikasi sehingga sesuai selera pasar. Pilihan rasa begitu variatif sampai memiliki 12 rasa, termasuk mochacino, durian, hingga buah naga.

"Saya bereksperimen mengembangkan varian rasa kue yang dibantu keluarga," pengusaha muda ini menuturkan.

Selain bingka Wisnu juga berjualan blackforest berbahan pisang. Ia berharap aneka produk kue ini akan menjadi khas Batam. Kue Bingka Bakar Nayadam diharapkan bisa membuka cabang di Jakarta. Wisnu pun menggaet UKM lain untuk bekerja sama dalam pengembangan oleh- oleh.

Jatuh Bangun Pengusaha Kuliner Fajar Handika

Profil Pengusaha Fajar Handika


pengusaha fajar handika

Nama Fajar Handika sudah terbiasa akan kegagalan. Jatuh bangun pengusaha kuliner ini bisa menjadi contoh. Aneka bisnis pernah dilakukan Fajar dan kesemuanya gagal. Dia pernah membangun usaha warnet. Ia pernah pula membuka angkirangan, bahkan kafe anak muda dengan modal besar.

Kesemua bisnis tersebut gagal total tidak tersisa. Namun dia tak menyerah dalam menjadi wirausaha. Ia sangat bergairah ketika membahas kewirausahaan. Meskipun usahanya belum berhasil, dia tak mau menyerah, untung dari hobi makanya keluar ide bisnis baru.

FoodFezt merupakan pengembangan dari bisnis antar makanan. Sistem FoodFest Integrated Kitchen System, mampu menawarkan solusi perhitungan pemesanan. Ini akan mengefisiensi SDM dan juga kertas yang dipakai. Pasalnya penjual akan terhubung melalui jaringan internet bukan manual saja.

Pelanggan akan lebih praktis dan mudah memesan. Selain itu FoodFest juga menawarkan manajerial waktu yang mumpuni. Ada perhitungan real time yang akan dipantau pembeli. Sistem ini menjadi memudahkan proses transaksi pembeli dan penjual.

Mengembangkan Sistem Bisnis


Bisnis kuliner tidak hanya mengenai makan atau minum enak. Jatuh bangun pengusaha kuliner Fajar Handika memberikan pandangan. Bayangkan pesanan kamu terkoneksi dengan internet sampai real time. Tiap hari tidak kurang 400- 500 porsi kuliner dipesan dari restoran miliknya.

Mereka pembeli merupakan kalangan menengah. Rentang usianya diantara 30 -an dan beruang. Dia mampu menggaet mereka. Restoran dengan sistem food court tetapi dengan layanan antar. Food Fezt juga mengajak pengusaha kuliner lain dalam satu tempat.

FoodFezt bertempat di Pandega Karya, Jalan Kaliurang KM 5,5, Yogyakarta. Mereka memiliki tidak kurang 11 dapur atau tentant. Tiap tentant mempekerjakan tidak kurang 3 orang. Konsep yang bisa menampung 80 orang karyawan, benar- benar membuka lapangan pekerjaan.

Tiap tentang milik mitra dirinya mengambil 20 persen untung. Hasilnya Fajar mampu mengantongi omzet Rp.400 juta. Untuk mengembangkan usahanya, Fajar terus mengevaluasi layanan dan tentu menu makanan. FoodFezt mampu menyajikan lebih dari 100 menu dengan variasi makanan.

Varian makanannya mencangkup khas India, Timur Tengah, Eropa, dan Jawa. Pilihan lain meliputi menu vegetarian, mi hitam, nasi kebuli, sate kambing buntel, dan sebagainya. Layanan pesanana, waktu itu, FoodFezt melayani lewat email Yahoo Massager dan GTalk.

Fajar memiliki visi jelas dan segera diterapkan. Ia mengembangkan bisnis dengan terstruktur. Dia juga selalu berinovasi dalam pelayanan dan produksi. Tiap ada pembeli yang datang selalu diberikan layanan maksimal. Inovasi produk meliputi kemasan mudah hancur untuk pembelian.

Fajar memang pengusaha yang memiliki wawasan. Dia kini juga membuka usaha bidang perikanan dari nila dan udang. Spesifikasi bisnis Fajar meliputi aneka pengolahan pasca panen. Tahun 2011, ia juga mengeluarkan brand makanan olahan, dan kenaikan omzet sampai tiga kali lipat.

Andi merambah bisnis minuman bersama Nestle. Dia juga menggaet pakar kuliner Bondan Winarno, yang mengerjakan bisnis Kopi Tiam Oey di Yogyakarta. Kedai kopi ini dijumpai di semua cabang FoodFezt.

Pengusaha Juragan Katering


Dia kemudian membuka bisnis bernama Kulina. Ini untuk menyambut pasar FoodFezt yang mulai menggeser ke platform baru. Sebagai satu penggagas bisnis kuliner berbasis IT, FoodFezt berevolusi menjadi bisnis startup berbasis iOS atau Android, masih dengan tema yang sama.

Alumni Jurusan Ilmu Komputer. Universitas Gajah Mada (UGM), yang juga membuka startup aneka kerajinan. Kulina sendiri masih seperti FoodFezt yang menawarkan katering online. Jadi nanti orang bisa berlangganan makan siang lewat subscribe dari marketplace digital.

Kulina berbeda dengan pendahulunya tidak mengutamakan fisik. Lewat Kulina pembeli dapat cari- cari kuliner macam apa. Pemesanan sampai 5000 boks makan siang sampai ke 2000 tempat diseluruh Jakarta. Fajar menjelaskan boks tersebut merupakan milik lebih dari 12 perusahaan katering mitra.

Untuk bisnis kerajinan Fajar bekerja layaknya makelar. Orang akan melihat gambar di aplikasi, lalu dia yang akan memesankan ke toko mitra. Bisnis lain yakni Kopi Tiam Oey terbilang tidak beruntung karena tutup. Sementara Food Fezt sendiri "ditutup" hingga dintegrasikan melalui Kulina App.

Sejak dulu, hingga 2015, Fajar selalu melihat prospek dalam bisnis kuliner berlayanan antar. Dia lalu melihat polanya lebih luas melalui revolusi digital. Aplikasi seperti Google Maps banyaknya lebih membantu dalam penerapan. Maka pada tahun yang sama dia membangun makandiantar.com sebagai bisnis lain.

"Negara kita sudah memasuki era startup," ujar Fajar bersemangat.

Aplikasi Kulina sendiri merupakan rintitas dua orang. Bila Fajar Hidayat ahli soal sudut pandang dari produsen atau pemilik kuliner. Rekannya, Andy Hidayat, akan membantunya melihat dari sudut pandang konsumen. Dia mengatakan pengguna Kulina tak perlu memiliki tempat berjualan fisik.

Awal 2016, mencatat 45 rekan kongsi dengan Kulina, kebanyakan mitra merupakan mereka yang belum profesional. "Satu dua bulan pertama, pesanan yang masuk hanya satu dua kotak perhari, tidak seperti yang diharapkan," kenang Fajar.

Karena rekanan Kulina kebanyakan masih pemula. Kualitas rasa mereka masih tidak konsisten, sekarang enak, besoknya bisa tidak. Kulina sendiri belum punya standarisasi. Mereka ada yang pakai kardus atau styrofom.

Kulina belum memiliki standarisasi menu. Mereka menyerahkan ke pemilik mitra. Alhasil mitra bisa menawarkan aneka jenis makanan bebas. Akhirnya Fajar pun menstandarisasi menu makan siang yang sama. Walau dapurnya berbeda, makanan disuguhkan sama dengan pengemasan yang sama pula.

Proses berbulan- bulan membuahkan pesanan ratusan perhari. Kulina sendiri memiliki tim ahli gizi yang menentukan menu. Ada algoritma khusus yang membuat orang memilih mitra yang terdekat. Ini akan mengurangi biaya logistik, apalagi menu makan siang telah disamakan walau beda dapur.

Kulina membandrol Rp.20.000 per- boks untuk basik, Rp.30.000 untuk delux, dan sudah termasuk ongkos kirim. Paket makanan dibantu kerja sama dengan suplier ayam, daging, tahu, dan beras. Ini alhasil mengurangi biaya produksi sekaligus meningkatkan untung.

Jatuh Bangun Pengusaha Kuliner


Bisnis Kulina membesar mengakibatkan Fajar semakin sibuk. Alhasil dia pun menjual empat buah restoran milikny. Dia ingin fokus mengerjakan bisnis Kulina. Sebagai pemilik startup, baginya tidak mudah menghasilkan kesuksesan. Ia bahkan harus mendanai dengan menjual 4 restoran tersebut.

Tidak cukup, Fajar pun mendapatkan pendanaan pada awal 2017. Satu tahun mengandalkan kantong sendiri bukan mudah. Suntikan dana dari Monk's Hill Ventures, East Ventures, Coffee Ventures, dan mendapatkan dana $700.000 atau Rp.9,8 miliar.

Tahun 2018, Kulina terpilih mengikuti program Google Launched Accelerator, yang memberikan 6 bulan pelatihan. Bootcamp program ini memberikan pelatihan dengan tim dari Google. Mentornya datang dari Silicon Valley, Amerik Serikat.

Kulina sendiri mulai ekspansi ke daerah- daerah lain seluruh Indonesia. Fajar telah menyebarkan dari Depok, Denpasar, Tangerang dan Bekasi. Mereka belum berencana memasarkan keluar negeri. Agar lebih variatif, Fajar juga merambah ke makanan ringan yang unik.

Mereka tak segan menggandeng pengusaha jajanan ringan. Yang dijual jajanan anti- mainstream yang memiliki citara rasa dan tak mudah ditemukan. Melalui ekspansi menu dan produk, Fajar berani untuk menarget pesanan dua kali lipat, pesanan 100.000 boks perhari siap dipenuhi aplikasi Kulina.

Fajar menjamin makanan yang diterima adalah segar. Sistem algoritma memastikan makana dipesan dari tempat terdekat. Mitra juga sudah diberikan pelatihan hingga standarisasi. Pengantaran pesanan juga dibatasi tidak boleh lebih dari dua jam, sebelum jam 12 siang, atau tidak pelanggan dapat gratis.

Usaha Fotografi Alvin Fauzi Menginspirasi Kita

Profil Pengusaha Alfian Fauzi


usaha fotografi
 
Tahun 2007 tidak banyak orang mencoba berbisnis ini. Usaha fotografi miliknya layak mendapatkan penghargaan. Maka pada 2010, Alfin Fauzi bersama beberapa rekan memenangkan ajang, Wirausaha Muda Mandiri mengakui keberadaan usaha mereka.

Era digital yang mulai menggeliat tahun itu merubah. Bila dulu bisnis fotografi dikuasai oleh hanya sekedar orang. Sekarang kita bisa membuka usaha tersebut bermodal minim. Kamera yang dulunya dianggap mahal, sekarang sudah di layar handphone.

Semua orang bisa menggunakan teknologi kamera. Aneka pelatihan pun tersedia buat mereka yang berminat. Usaha fotografi Alvin Fauzi bermula sebuah studio kecil di Yogyakarta. Akhir tahun 90' an dapat dihitung ada berapa studio foto, sepuluh tahun kemudian bermunculan banyak studio foto baru.

Wirausaha Mengambil Resiko


Studio Alvin Photography (AP) memakai nama sang pendiri sendiri. Sudah membuka usaha sejak 2007, Alvin menyasar pasar kaula muda berbekal cita rasanya sendiri. Maka ia mudah baginya untuk menganalisa pasar. Alvin memiliki strategi bisnis menggunakan internet agar lebih terkenal.

Memanfaatkan teknologi sekaligus memahami pangsa pasar. Alhasil anak muda akan lebih memilih ke AP. Melalui akses internet AP menempati halaman utama di Google. Sebut saja ketika anak muda mencari kata kunci "fotografi pernikahan Yogya", "fotografi prewedding Jogja", dan lain- lain.

Ia juga menggunakan promosi mulut ke mulut. Tetapi AP sangat mengandalkan promosi online, dan juga memulai sosial media. Alvin blak- blakan membuka kunci suksenya pada kekuatan internet. Dia memulai dengan masuk ke komunias fotografi, dan menyerap apa yang dibutuhkan masyarakat kini.

Dia ikut forum fotografer dari forum besar seperti Kaskus. Alvin belajar banyak dari otodidak dan lebih kekinian. Itu yang tidak dimiliki oleh studio foto pada tahun 90' an. Antusias anak muda yang tinggi memberikan peluang usaha. Ia banyak belajar bahkan tak segan untuk mengeluarkan uang.

Alvin menggabungkan teori dengan pengalaman praktik. Pertengahan 2000 -an, dia diajak oleh orang untuk membuka usaha fotografi, Alvin pun antusias menggarap pasar anak muda. Dalam tempo dua tahun saja dia berhasil balik modal dan untung.

Kerjasama antara dirinya dan si pemodal tetap berjalan. Mereka menggunakan sistem sharing untung hingga kini. Bila Alvin tak memiliki passion mungkin tidak akan sama. Pengusaha muda Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, merasa bahwa fotografi merupakan seni bukan sekedar foto.

Dunia seni memang sangat terikat dengan menciptakan rasa. Mereka seniman juga cenderung untuk mengerjakan sesuai mood. Padahal masyarakat membutuhkan ketepatan waktu. Inilah yang coba dia berikan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ia menggabungkan seni dan perusahaan dalam satu wadah. Ini lebih baik dibanding mereka yang hanya menawarkan jasa cuci foto. "Makanya jam kerja kami unik, dari jam 11.00 s/d 19.00," tutur pengusaha ini.

Alvin memulai dengan menempatkan studionya tepat. Ia membangun di Condong Catur, Sleman Yogyakarta. Ini adalah tempat ramai yang merupakan poros penghubung. Studionya menjadi poros penghubung Yogyakarta dan Kota Sleman, disekitaran kampus perguruan tinggi di Yogyakarta.

Alvin menegaskan semua orang bisa saja menjadi fotografi. Semua orang bisa membuka usaha foto, bisa saja studio foto dimana- mana. Orang yang jago memfoto juga banyak tetapi Alvin beda. Ia lebih memberikan apa masyarakat butuhkan, dari estetika sampai produk berkualitas.

Soal pemilihan fotografer saja Alvin sangat pemilih. Tidak hanya sekedar profesional memfoto tetapi juga cita rasa. Ia juga memberikan pelatihan bagi calon fotografer di studio AP. Baginya usaha foto memiliki pasar yang luas, dari foto wisuda, penikahan, ulang tahun, acara kantor, dan lain- lain.

Untuk wedding saja harga yang dibandrol rata- rata 7 juta. Sementara perusahaan baik berupa acara gathering, AP Studio menawarkan harga 20 juta rupiah, dan omzetnya telah mencapai 60% dari target pasar. Dia mengaku mampu mengantongi omzet sampai 100 juta berbulan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba