Kisah Wanita Diphk Tetapi Tetap Bangkit Wirausaha

Profil Pengusaha Yanti Rusdianti 


 
PHK membawa berkah. Tidak jarang banyak orang mengalami hal tersebut. Pasalnya insting kita akan naik ketika terdesak. Kreatifitas kita akan tiba- tiba muncul. Kita akan memilih jalur kewirausahaan. Kenapa begitu karena menjadi wirausaha tidak terikat dengan aturan perusahaan.

Ini kisah Yanti Rusdianti seorang wanita pemilih wirausaha. Dia mengenang kembali tahun 1998, ketika itu pabrik garmen tempat kerjanya memecatnya, rasa gregetan masih berasa.

Berhenti bekerja, dia kembali dari Surabaya ke Bogor, di sana mencoba melamar pekerjaan. Tetapi dia merasa semangat mencari pekerjaan tidak seperti waktu muda. Yanti berpikir kalau jadi karyawati kan udah bisa dihitung. Gaji perbulan sudah pasti setiap bulannya sama.

Ibu dua anak tersebut maka memilih pengusaha. Ia ingin memberi lebih terutama kepada keluarga. Walau ia sudah bertekat membangun usaha. Tidak semudah tersebut. Masalah utama mau berbisnis apa. Semua bermula dari iseng- iseng membuat usaha. Pertama kali Yanti memilih membuka bisnis kredit.

"Saya sudah tidak punya gaji, tetapi keluarga ini tidak boleh berhenti," kisahnya.

Ia berlanjut ke bisnis kredit aneka perlengkapan dapur. Menawarkan perlengkapan dapur pintu ke pintu. Usahanya ternyata berkembang. Tetapi dia mendapatkan masalahs seketika. Dimana usahanya bangkrut karena semua uang ditipu orang.

Bisnis kembali


Begitu gagal, Yanti tidak patah semangat, malah berbisnis kembali dengan uang seadanya. Kali ini memilih membuka kantin. Bisnis kantin kecil di perumahannya Bumi Indraprasta, Bogor. Bisnis ini kecil, tetapi jadi besar, bahkan menjadi lima kantin dia kelola.

Begitu suksesnya bisnis kantin ini. Sang suami bahkan memutuskan keluar pekerjaan. Dia ingin fokus buat mengerjakan bisnis kantin. Diantara itu, Yanti mulai melirik aneka kue, iseng- iseng mulai membuat aneka kue cake, black forest, dan kue cokelat lainnya.

Memang memasak sudah hobi. Dia mengeluarkan uang Rp.500 ribu buat beli bahan. Awalnya dia malu- malu menunjukan hasil karyanya ke masyarakat. Apalagi mau dijual tidak terpikirkan. Suatu hari dia lantas membawa kue tersebut ke acara arisan ibu- ibu. Barulah Yanti berani menjual di tahun 2002 dengan brand sendiri.

Lewat ibu- ibu arisan pesanan terus mengalir. Dia mengolah 6 ton cokelat batangan setahun atau 500 kilo per- bulan. Ia lantas menamai Waroeng Cokelat. Tentu hasilnya puluhan juta rupiah. Ia semakin percaya diri untuk bisnis Waroeng Cokelat. Jika awalnya cuma menerima pesanan momen tertentu sekarang tidak.

Jika sebelumnya, seperti hari Valentine, dia mendapatkan pesanan. Sekarang kapan saja produk cokelat itu bisa dijual. Dengan kemasan menarik dan modern, maka pembelian juga meningkat di hari biasanya, jadi tidak cuma cokelat dikemas hati saja.

Produk harian


Dia memutuskan produksi tiap hari. Dari sekedar kue berkembang ke aneka cokelat. Ia menemukan aneka resep cokelat enak. Agar semakin kreatif,Yanti tidak segan mengikuti aneka seminar tentang cokelat ke luar kota. "Semua itu (seminar) saya lekukan demi bisnis," jelas Yanti.

Mungkin terdengar bisnis rumahan kecil. Namun siapa sangka dia mampu menembus pasar supermarket. Ia menyetok ke beberapa pasar swalayan di Jakarta. Dia sangat berani mempromosikan bisnis cokelat miliknya. Tidak pernah malu lagi untuk menunjukan ke masyrakat.

Menurutnya agar masuk ke pasar ritel, satu- satunya cara adalah meyakinkan masyarakat bahwa produk miliknya berkualitas. Dia punya hobi mengikuti aneka pameran. Pokoknya jika ada suatu badan yang tengah mengadakan ajang kewirausahaan; dia ikut.

Mengikuti pameran dia mendapatkan banyak pengetahuan. Meskipun sudah untung jutaan Yanti tidak mau berhenti belajar. Contohnya ketika ia belajar bahwa cokelat tidak bisa dijajakan di ruang terbuka. Ya nanti kan bisa meleleh pungkasnya. Walaupun sudah dimasuk ke kulkas setelahnya, kualitas cokelat akan rusak.

Dia mencontohkan pengalamannya sendiri. Setelah dijajakan di ruang terbuka dan dimasukan ke kulkas. Cokelat tidak sebagus kondisi awal. Mangkanya dia sekarang tidak sembarangan memajang produk yang dia buat.Sukses Yanti justru baru mulai membangun mimpinya bahkan ketika orang bilang dia sukses.

Dia pernah mengikuti pameran oleh Kementerian Pertanian. Dimana dia menemukan, di China, Chiang Mai membuat cokelat dengan wadah besar. Beruntung ketika berkunjung di Malaysia dia menemukan apa cetakan sesuai besar. Modal awal Rp.500 ribu sekarang setiap tahun bisnisnya naik 10% setiap tahunnya.

"Jangan pernah takut untuk memulai bisnis. Kalau ada kemauan, pasti ada jalannya," tutup Yanti.

Sukses Pengusaha Mutiara Jualan di Kaskus Makin Mulus

Profil Pengusaha Fredy Imansha 


  
Berbisnis butuh ide, dan terkadang ide bisnis datang mendadak di benak kamu. Pengusaha muda satu ini merasakan ide mendadak muncul. Awalnya sepulang liburan di Indonesia Timur, kok, Fredy Imansha tidak mendapat apa- apa. Semua oleh- oleh dibawanya ludeh habis diambil oleh kerabat dan teman.

Fredy berpikir bisnis ini bagus. Waktu itu sih, pemuda 25 tahun ini membawa oleh- oleh berupa perhiasan mutiara, sekitar tahun 2011 silam. Siapa sangka bisnis mutiara air tawar miliknya bernilai Rp.40 juta!

Bisnis internet


Ia membeli beberapa perhiasan mutiara. Dikasihnya kepada keluarga dan beberapa teman di Jakarta. Sisa ia kemudian jual di Kaskus aja. Siapa sangka akan laku keras loh. Fredy semakin yakin akan peluang bisnis mutiara air tawar. Peluang bisnis aksesoris dan perhiasan mutiara buat dijual ke Jakarta.

Sebulan setelah sisa oleh- oleh habis. Fredy kembali memborong mutiara. Tiga bulan dia bolak- balik buat memborong mutiara- mutiara tersebut. Dia beli mutiara ketika jadi oleh- oleh cuma Rp.2 juta. Sekarang Fredy membeli Rp.10 juta bolak- balik dari Indonesia Timur.

Itu sejalan dengan omzetnya yang naik dari Rp.7 juta per- bulan, jadi Rp.40 jutaan. Perbelanja Fredy bisa memborong 100- 150 mutiara yang dijadikan aksesoris. Ia kemudian menyebar mutiaranya kepada para reseller. Tujuh reseller bahkan ada yang mengambil untung lebih banyak dari Fredy.

Pekerjaan sebagai pemasok dan penjual dilakoni. Kunci sukses bisnisnya adalah faktor harga. Apalagi jika kita bandingkan dengan toko- toko perhiasan di Jakarta. Sebagai tambahan dia melapisi mutiaranya dengan aneka perhiasan lain, seperti gelang perak atau chrome yang khas anak muda.

Ia menyebutnya ekslusif tetapi terjangkau. Karena setiap produknya dia bandrol seharga Rp.100 ribu. Ia lebih memilih jualan lewat online. Pasalnya mengurangi biaya- biaya tidak perlu. Alhasil produknya bisa dihargai lebih murah.

Pembeli kebanyakan anak muda. Mereka membeli buat kado pacarnya. Sempat kwalahan dia menghadapi permintaan pas Valentine khususnya.


Kerajinan Kerang Ekspor Bagaimana Caranya

Profil Pengusaha Nur Handiah Jaime Taguba 



Tidak jarang kita menyepelakan bisnis kecil- menengah kita sendiri. Ternyata diantara pesimisme pasar lokal, ada pengusaha- pengusaha hebat, mereka menjual ke luar negeri dan hasilnya mencengangkan. Kita ambil contoh nih pengusaha kulit kerang bernama Nur Handiah Jaime Taguba.

Lewat tangan kreatif dia merubah kulit kerang. Produk etnik karyanya diekspor sampai ke Eropa, Asia, Afrika, hingga ke Amerika. Nur adalah pemilik perusahaan Multi Dimensi Shell Craft yang membawa kulit kerang Pantura ke kancah dunia.

Bisnis karena cinta


Bisnis Nur berawal dari ketertarikan seorang kawan. Suami kawan tersebut ingin mengekspor kerang buat dijadikan kerajinan. Nah, Nur Handiah, menjadi perantara buat mengirim kerang- kerang tersebut. Tidak lama dia memutuskan berkreasi sendiri.

"Saya penasaran buat apa, akhirnya saya enggak mau kirim bahan bakunya," tuturnya. Setelah dia tau kalau setelah diekspor bahan bakunya naik berkali lipat harga!

Ia berkata, "saya buat barangnya."

Usahanya berdiri pada 2000 silam. Di atas lahan 1000 meter persegi, pabrik kecilnya berdiri mengolah si kulit kerang. Dia mempekerjakan sekitar 60 orang, yang mana adalah tetangganya. Harganya murah kok dari Rp.5000, seperti gantungan kunci, bunga, dan kecil- kecil lainnya.

Tetapi tidak juga terbatas. Nur Handiah juga menyiapkan produk premium. Seperti produk berharga Rp.24 juta, berupa satu set furnitur, mulai lampu, kaca cermin, meja.dll. Inovasi juga terus digalangkan hingga produknya benar- benar menarik.

Berjalan waktu pabrikannya seluas 32.000 m2. Dimana kapasitas sampai 8 kontainer per- bulan. Jangan bilang bisnis dijalankan gampang. Dia sudah mengerjakan bisnis ini selama 12 tahun. Jadilah pantas jika dia sudah mempunyai koneksi dari Eropa, Asia, Timur Tengah, Amerika Latin, sampai ke Afrika.

Perusahaan Nur sekarang nilainya tidak kurang 2 miliar. CV. Multi Dimensi beralih dari pengekspor kulit kerang menjadi produsen furnitur kerang. Fokusnya awal menggunakan kerang simping, namun makin ke sini, dia mulai berinovasi dengan aneka kulit kerang lainnya, seperti kerang dara, hijau, dan kerang hitam.

Tidak berhenti kreasi. Suatu hari, Nur ingin mengaplikasikan kerang dengan media lebih luas, maka jadi sebuah rumah bernama Rumah Kerang Cirebon. Dengan kulit kerang ditempelnya menjadi hiasan outdoor. Lalu dia mulai mendekorasi isinya dengan kerang juga.

Dari korden, furnitur, hingga lampu gantung dari kerang!

Tentu tidak langsung sukses. Nur mengaku sempat kelimpungan soal modal. Untungnya dia mendapatkan perhatian dari sebuah BUMN. Pinjaman bunga lunak tidak disia- siakan. Usahanya lalu menjadi salah satu mitra binaan BUMN tersebut. "Inginnya sih pinjaman tanpa pengembalian. Tapi tidak ada," guraunya.

Selain itu dia dimediasi untuk mengikuti aneka pameran. Menurutnya pengusaha harus rajin cari tau. Ia mengatakan pengusaha pemula haru update dari pemerintah. Mereka menyediakan tempat gratis. Namun, ya, akomodasi harus modalin sendiri. Kelebihannya kita bisa mendapatkan koneksi ke luar negeri seperti dia.

Kita diberi booth gratis kok. Kalau startegi pemasaran, selain ikutan pameran tersebut, maka andalkan strategi mulut ke mulut. Dibantu Pemda Cirebon, usahanya makin gampang menyebar ke seluruh pelosok, maka banyak pejabat datang berkunjung termasuk dua presiden kita Pak SBY dan Jokowi datang melihat.

Agar sukses dia tidak lupa mengikuti trend. Mangkanya dia membuka promosi lewat internet. Salah satu caranya adalah lewat toko online www.capizbalishell.com. Tidak lupa membuka outlet di Yogyakarta, Jakarta, dan Bali. Semua pencapaian itu membuat nama Nur Handiah menjadi satu pengusaha yang ternama Indonesia.

Ide Bisnis Makanan Tradisional Langka Kolombeng

Profil Pengusaha Sukses Sumadi


  
Sumadi bukan orang baru dalam pembuatan roti. Dia pernah bekerja menjadi buruh pabrik roti. Bayangkan puluhan tahun pria 42 tahun ini mengabdi. Penghasilan tidak sebanding dengan keringatnya. Namun, dari sana, ternyata menumpuk tumpukan kerak- kerak pengalaman mengurusi pembuatan roti.

Inilah cikal- bakal pengusaha asal Yogya tersebut. Ketika memutuskan keluar dari pekerjaan tidak mudah. Apalagi niat menjadi pengusaha butuh modal. Bagaimana membuka usaha kalau penghasilan pas- pasan. Ia lantas mencari cara: Sumadi menjual perhiasan sang istri untuk membuka usaha roti.

Berkat kerja keras, keuletan, usaha dijalankan oleh Sumadi sukses. Bermodalkan uang Rp.350 ribu, kini, ia mampu mengantungi omzet minimal Rp.6 juta sehari.

Bisnis tradisional


Warga Dusun Jaten, Desa Triharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, yang mana usahanya dimulai sejak 1999. Usaha kue kolombeng bersama istrinya, Nanik (36), adalah bisnis bermodal perhiasan simpanan mereka. Itu merupakan hasil kerja sepuluh tahun dengan seorang pengusaha roti asal Yogya.

Modal usaha awal buat membangun usaha Roti Kholombeng. Awal Sumadi membuat 1.000 bungkus roti sehari. Roti tersebut lantas dijual ke Pasar Bringharjo, dan beberapa pasar tradisional lainnya di wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Jadi roti akan dibuat seharian dari pagi sampai siang hari. Lalu dikumpukan lantas akan dijual pada esok harinya. Sumadi akan mengayuh sepeda ontelnya. "Saya jualan, keliling dari satu pasar ke pasar lain," ujar Sumadi.

Roti buatannya kok laris manis. Ternyata memang rasanya mak nyus. Roti buatan Sumadi diborong oleh pedagang besar. Apalagi dia menerapkan harga yang sangat terjangkau. Cocok buat pedagang besar jual kembali ke masyarakat. Yakni roti buatannya dihargai Rp.350 sebungkus berisi 10 roti kolombeng.

Bagi para pedagang pasar itu sangat murah. Singkat, bisnis Sumadi naik pesat, bahkan sudah sangat dikenal oleh orang pasar. Lantaran menjadi kompetitor tunggal pesanan membludak. Sumadi bahkan sampai khawalahan. Waktu itu Sumadi sendiri bersama istri mengerjakan semua proses pembuatan roti.

Menghadapai pesanan membludak Sumadi mempekerjakan karyawan. Bahkan tenaga kerja bertambah yang mana disesuaikan permintaan yang juga bertambah. Ia selalu merekrut tetangga untuk membuat roti. Dia sudah memiliki 7 orang karyawan.

Dibantu tujuh karyawan untuk berproduksi. Berapa Sumadi berproduksi setiap harinya. Dia mengaku bisa berproduksi 1.500 roti per- hari. Disisi penjualan semakin mudah karena nama. Sudah ada pedagang roti grosiran yang langsung menjemput. Pedagang roti juga tidak segan buat mengambil langsung ke pusat produksi.

Sumadi mampu menghabiskan 7 hingga 8 karung terigu. Jika posisi pasar sepi, maka Sumadi hanya bisa memproduksi sampai 5 karung tepung terigu. Pamornya yang naik membuat kerja sama datang sendiri. Pemilik produk terigu menawarkan kerja sama memasok tepung terigu ke tempatnya.

Tidak cuma untuk berproduksi. Ia juga mendapatkan pelatihan penjualan dan produksi di Semarang. Omzet Rp.6 juta sehari itu belum dipotong buat gaji, bahan baku, sudah termasuk transportasi yang sudah tidak lagi memakai ontel. Untuk keuntungan bersih Sumadi dan Nanik sepakat tidak menyebutkan angka.

Sumadi menggaji Rp.30 ribu sehari, kalau pesanan banyak, yah dia mengeluarkan uang tambahan buat para karyawannya tersebut. Dengan sistem pesanan borong memberi rejeki lebih ke karyawan.

Bisnis tak lekang


Mungkin orang lebih mengenal nama roti bolu, roti tar, donat, dan yang terbaru brownies. Siapa sangka diantara roti populer tersebut. Nama roti tradisional Kolombeng ternyata masih eksis. Ditangan dia lah, pengusaha asal Yogya, roti tradisional yang terkenal pada 1950 -an ini, kembali terkenal dan laris manis.

Persaingan ketat justru datang dari roti modern. Lewat kue tradisional, Sumadi mengaku senang karena namanya juga ikut menjadi sorotan. Ia bangga sekaligus bahagia. Ternyata kue kolembeng buatanya bisa bertahan sampai sekarang.

Sebelum fokus di Kolombeng Sumadi mengaku sempat membuat bakpia dan wingko. Resep kue tersebut ada telur, gula, essen jeruk, dan ovelat dicampur menjadi adonan. Lalu dimasukan cetakan aneka bentuk. Mulai berbentuk kotak dan persegi. Kemudian dimasukan ke oven selama 20 menit hingga matang siap.

"Kami bangga karena masih bisa membuat dan memproduksi kue tempo dulu," tutur dia.

Bahan baku pun mudah sehingga mudah diproduksi. Bahan bisa dicari meskipun produksinya masuk ke pedesaan. Pasarnya selain untuk umum, bisa dijual buat acara tertentu seperti pengantin, supitan, sripah, atau saat orang meninggal.

Zaman dulu Kolombeng dikenal merakyat. Enak disajikan dengan minuman seperti teh buat teman kita mengobrol. Di jaman kemerdekaan, kue tersebut digunakan sebagai pemerat persatuaan masyarakat di daerah Yogya. Enak teksturnya unik dan memiliki perjalanan sejarah panjang membuatnya masih digemari.

Membuka Usaha di Papua Jayapura Kisahnya

Profil Pengusaha Widiyawati 


 
Memilih menjadi wirausahawan bukan pegawai. Bukanlah pilihan mudah bagi kita semua. Jujur itu pula yang pernah dirasakan Widiyawati. Apalagi bisa dibilang pekerjaanya sudah mapan puluhan tahun. Di umur 37 wanita berambut cepak ini akhirnya memilih membuka usaha sendiri.

Bayangkan keputusan gila itu terjadi tahun 2006 silam. Ia memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan tambang emas terbesar, ya PT. Freeport Indonesia. Bekerja di Papua, gaji puluhan juta dikantongi oleh Widi.

Baginya karyawan tetap karyawan. Dia ingin naik kelas menjadi atasan. Bekerja di Freeport tentu  lah dia kesulitan mencapai titik itu. Uang tabungan Rp.70 juta digelontorkan buat mendirikan bisnis. Dimana dia bikin tempat spa di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan. Ternyata berbisnis spa memiliki persaingan sangat ketat loh.

Bisnisnya gagal, uang tabungan puluhan juta hilang. Tetapi tidak sia- sia pengalaman. Meskipun belum merasakan untung sesuai target. Widi tetap semangat mencoba berbisnis kembali. Terbersit penyesalan karena memilih kengkang dari perusahaan Freeport itu.

"Rasa penyesalan kelaur dari pekerjaan mapan itu ada (untuk berwirausaha)," ia berkata.

Namun dirinya harus siap apapun rintangannya. Keputusan telah diambil dan Widi harus bangkit dari rasa keterpurukan itu. Warga Jurangmangu, Tangerang Selatan, ini memilih kembali ke Papua pada 2009. Dia tidak kembali bekerja di Freeport justru memilih berbisnis di sana.

Bermodal tekat dan nekat, dia membuka bisnis serupa, tetapi dengan modal seadanya. Widi memulai dari nol besar. Bermodal sisa jual aset usaha senilai Rp.30 juta. Itupun sebagian sudah dipakai buat biaya hidup keluarga. Di Papua dia mulai lagi membangun bisnis yang pernah bangkrut tetapi dengan perbaikan.

Jika di Jakarta dia menyewa ruko buat bisnis. Di Papu, Widi cuma menenteng proposal bisnis, dengan percaya diri tinggi dia menawarkan bisnisnya ke hotel- hotel. Modalnya hanya niat, keberanian, dan tentu kemampuan dalam hal bisnisnya tersebut.

Tidak mungkin Widi barani kalau belum paham akan bisnisnya. Ternyata membangun bisnis di Jayapura malah lebih susah. Iklimnya ekstrim dimana sering terjadi hujan. Alhasil soal pengiriman barang jadi sangat terganggu. Tidak membuat Widi menyerah. Ia tetap berjuang mengembangkan bisnis barunya itu.

Bisnis bernama Herbal Aroma SPA mulai dibangun. Kegigihan itu membawanya sukses masuk ke hotel- hotel, salah satunya ada Harison Hotel. Sekarang dia memiliki 15 orang karyawan, 10 laki- laki dan 5 perempuan. Sebulan mampu mengantungi Rp.71 juta bayangkan sudah.

Prospek usaha menurut Widi: Menarik jika melongkok Papua dibangun banyak hotel- hotel berkelas. Kita sebut saja Swiss Bell Hotel, Sahid Hotel, dan Yasmin Hotel.

Widi yang memilik kempapuan melobi. Dia mendapatkan tempat bahkan di lantai satu Hotel Horison, yang mana pengunjung begitu masuk bisa langsung spa. Ia juga sudah memegang kontrak dengan Swiss Bell Hotel yang mana sudah mulai beroprasi. Pendapatan tambah begitu juga karyawan bertambah juga pula.

Menjadi pemula berbisnis di Papua, Widi menawarkan keunikan sendiri, memakai rempah dari Yogyakarta dan Bali. Tiap bulan dia berbelanja ke Yogya dan Bali. Karena unik mangkanya pengunjung memburu itu. Pemilihan bahan pasti akan membuat badan segar. Harganya lumayan mahal karena di Papua yakni Rp.199- 999 ribu.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba